Wednesday, April 20, 2016

Transportasi Darat Terancam Gulung Tikar

Maraknya mengguna saja transportasi massa dan perkembangan teknologi, para pengguna transprotasi massa darat terancam gulung tikar akibat pertumbuhan jasa transportasi udara. Sehingga transportasi darat kalah saing akibat ongkos transportasi udara relatif murah dan ongkosnya cenderung sama dengan transportasi darat.


Kamis, 31 Maret 2016 siang pool PT NPM jalan S Parman Kota Padang Sumatera Barat yang merupakan pul bus tampak sepi dari pengunjung. Sementara bus NPM hanya satu unit saja yang terlihat parkir di pul. Siang itu, Penulis berkunjung ke kantor menemui agen pol NPM. Semula Penulis menemui seorang petugas duduk di meja kasir. Namun, petugas tersebut mengatakan dirinya baru dan tidak bersedia di wancara. Ia justru menyarankan Penulis menemui seorang pria berbadan kekar.

AN, 42, agen PT NPM jalan S Parman menyebutkan bahwa dirinya telah bekerja sejak 22 tahun lalu. Awalnya bekerja agen di terminal Pasarraya yang saat ini dijadikan Mall Plaza Andalas. Semenjak terminal tidak lagi ada, penurunan minat penumpang bus NPM pun telah mulai dirasakan. Hal itu merupakan dampak yang dimunculkan akibat tidak adanya terminal di Kota Padang.

Ia menyebutkan pada dasarnya dimasa kejayaan bus PT NPM di era tahun 1990-an. Dalam sehari bus beroperasi tujuan Padang-Jakarta sebanyak 10 unit bus. Jika dibandingkan hari ini, bus hanya bisa jalan satu unit bus tujuan Padang-Jakarta.

Namun, pada tahun 2001 semenjak terminal tidak ada dampak yang dirasakan oleh PT NPM mulai terasa di tandai dengan berkurangnya peminat konsumen terhadap transportasi darat. Sementara itu, penumpang telah merduyun beralih pada transportasi udara.

Kemerosotan jumlah penumpang terus dirasakan, sehingga pada tahun 2004 armada bus telah mulai tidak lagi berjalan karena tidak adanya penumpang. Bus banyak yang markir dan menjadi barang songsokan di pul karena tidak adanya penumpang.

Sementara itu, sambung dia, pemerintah dalam hal ini tidak mempertimbangkan nasib transportasi darat. Sebab, sejak tahun 2004 hingga saat ini telah banyak pul bus yang mati di kota Padang. Hal itu tidak terlepas pada kurangnya minat penumpang yang menaiki transportasi darat. 

Calon penumpang bayak yang berpindah pada transportasi udara dengan harga tiket yang lebih murah. Disamping tiketnya yang lebih murah, kemudian melalui transportasi udara juga tidak memakan waktu lama dan cepat sampai ke tujuan. Namun, hal ini sejatinya pemerintah seharusnya mempertimbangkan nasih bus yang merupakan akutan massal darat.

Selain itu, pada saat lebaran ketika bus melakukan kenaikan harga tarif angkutan pemerintah selalu menekan harga tarif angkutan. Pada hal kenaikan tarif angkutan hanya berkisar 5 sampai 10 parsen dari harga biasanya. Namun, pada angkutan transportasi udara, kenaikan harga mencapai 90 persen dari harga biasa seolah-olah pemerintah diam.

Sejatinya pemerintah harus mengatur secara adil dan berimbang. Setiap transportasi angkutan masal laut, udara dan daratan semestinya harus berimbang. Masing-masing kebijakan yang dibuat harus dijalankan secara teratur dan maksimal. Sehingga pemerintah terkesan hanya menekan transportasi darat saja.

"Tiba-tiba harga tiket di jual Rp300 ribu, kemudian pada hari tertentu seperti lebaran harga tiket mencapai Rp2 juta. Pemerintah dalam hal ini terkesan berpangku tangan tidak merespon," katanya.

Sementara itu, rute yang dilewati bus NPM lintas provinsi dan pulau. Ia menjelaskan harga jual tiket tujuan Padang-Bandung di jual Rp325.000. Kemudian, harga jual tiket Padang-Bogor Rp325.000. Padang-Depok harga tiket jual Rp325.000. Padang-Jakarta harga jual tiket Rp300.000. Padang-Lampung harga tiket di jual Rp225.000. Padang-Batu Raja harga tiket di jual Rp225.000. Padang-Muara Enim harga tiket di jual Rp230.000. Padang-Lahat di jual seharga Rp230.000.

Padang-Medan harga jual tiket sebesar Rp230.000. Padang-Kiram harga jual tiket di jual Rp210.000. Padang-Kota Pinang harga jual tiket Rp200.000. Padang-Bagan Batu harga jual tiket Rp180.000. Padang-Jambi harga tiket di jual Rp155.000 dan Padang-Muaro Bungo 125.000.

Saat ini bus hanya beroperasi satu unit armada dalam satu hari. Artinya penurunan peminat transportasi angkutan darat bus NPM mencapai 90 persen penuruanan.

Terpisah, Sabtu, 2 April 2016 pagi itu terlihat satu unit bus bertulisan ANS Executive Class parkir di halaman kantor Jalan Khatib Sulaiman Padang Sumatera Barat. Pagi itu pula penulis menjambangi kantor ANS dan bertemu dengan karyawan PO ANS bernama Annas Las, 60. Ia telah bekerja 36 tahun yang lalu di PO ANS.

Ia menyebutkan masa kejayaan ANS dirasakannya pada tahun 1990-an. Ketika itu calon penumpang memadati semua ruang tunggu di kantor dan juga menyediakan bar untuk memanjakan calon penumpang sebelum bus merangkat. Dalam sehari olak-alik ANS berangkat dari Jakarta-Padang dan Padang-Jakarta sebanyak 28 unit sehari.

Sementara itu, lanjutnya, saat ini sebanyak 50 unit kendaraan udah di belah-belah dan menjadi besi tua. Sementara itu, dari keseluruh jumlah kendaraan ada sebanyak 300 unit. Namun saat ini kendaraan tersebut tinggal 30 unit yang beroperasi. Kemudian, jadwal keberangkatan Padang-Jakarta pukul 09.00 pagi. Sehari berangkat satu unit bus dan terkadang ada yang tidak berangkat, seperti Sabtu dan Minggu. Artinya dalam seminggu bus di berangkatkan 5 unit.

Saat ini, kata dia, dalam sehari bus membawa penumpang Padang-Jakarta sebanyak 19 orang. Sementara kapasitas penumpang sebanyak 36 orang penumpang. Kemudian, rute Padang-Pekanbaru tidak lagi ada penumpang.

Selanjutnya, penumpang rute bus perjalan bus ANS, Padang-Medan, Padang-Jakarta, Padang-Denpasar, Padang-Surabaya, Padang-Malang dan Pelambang, Jambi. Namun, saat ini rute Padang-Medan tidak lagi jalan karena tidak adanya penumpang.

Hal itu, disebabkan karena banyaknya transportasi angkutan komersil seperti travel telah menjamur di kota Padang. Selain itu, nimumnya penumpang juga diakibatkan murahnya harga tiket angkutan uadara. "Harga tiket kita tujuan Padang-Jakarta seharga Rp395 ribu. Sedangkan harga tiket transportasi udara seharga Rp400 ribu,” katanya.

Kemudian dari segi hemat biaya dan waktu jauh lebih hemat adalah menaiki transportasi udara. Sebab, disamping harganya murah dan perjalanan tempuh tidak memakan waktu lama. Sedangkan untuk menaiki transportasi darat memakan waktu selama dua hari tujuan Padang-Jakarta. Selum lagi makan di jalan dan capeknya duduk di dalam mobil dengan waktu lama. Maka, dalam hal ini transportasi darat banyak memakan waktu dan sementara trasportasi udara lebih singkat.

Maka, pemerintah seharusnya juga mempertimbangkan nasib jasa transportasi darat. Karena murahnya harga transportasi udara menyebabkan udasa transportasi darat yang gulung tikar.

Selanjutnya, jelas dia, perubahan penurunan peminat pengguna jasa transportasi darat telah terasi sejak tahun 2000-an. Akibatnya, kendaraan bus ANS banyak markir di gudang. Selain itu, terjadi pengurangan karyawan ANS yang sebelumnya 15 orang karyawan kantor, belum termasuk sopir dan knek.

"Untuk satu unit bus ada dua orang supor, dengan ketentuan sopir malam satu orang dan sopir siang satu orang serta knek. Jadi dalam satu unit bus diawasi tiga orang karyawan," pria yang berbaju kaos berkerah itu menyakinkan penulis.

Bisa dibayangkan, pada masa kejayaannya itu, 300 unit bus dengan diawasi 3 orang karyawan sehingga berjulmah 900 orang karyawan. "Saat ini karyawan berjumlah 9 orang, berapa orang karyawan yang tidak lagi mendapatkan pekerjaan," katanya.

Sementara dalam satu trib tujuan Padang-Jakarta biaya operasionalnya sebanyak Rp6 juta. Sedangkan upah sopir dalam satu trib tersebut sebanyak Rp125 ribu dan upah knek Rp30 ribu. Para sopir dan knek tersebut mengharapkan uang samping (pitih salek). Kemudian, lonjakan penumpang terjadi pada saat lebaran dan libur panjang. "Hanya tiga unit bus yang sehari Jakarta-Padang. Ramainya penumpang tersebut hanya seberapa hari saja. Kemudian, menunggu momen libur panjang berikutnya," akunya.

No comments:

Post a Comment