Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts

Saturday, March 3, 2018

Pemerintah Sawahlunto Usulkan 89,7 Hektare Kawasan Cagar Budaya UNESCO

Pemerintah Kota Sawahlunto usulkan 89,7 hektare kawasan cagar budaya UNESCO. Pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO mencangkup peristiwa sejarah yang universal bernilai tinggi. Kemudian 89,7 hektare cagar budaya oleh UNESCO dikenal dengan Deliniasi pemetaan kawasan inti, kawasan penyangga dan kawasan pengembangan. Penyusunan pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO tersebut telah dimulai sejak tahun 2015 lalu. 

"Pada 26 Januari 2018 lalu sudah di finalkan bahawa dokumen pengusulan kawasan cagar budaya tersebut telah diterima oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian pada tanggal 29 Januari 2018 lalu dokumen kawasan cagar budaya sudah final sesuai hasil koreksi oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan," ujar Hendri Thalib Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Penulis Kamis 1 Maret 2018. 

Ia menyebutkan bahwa dokumen tersebut sudah diterima akan dilakukan evaluasi dan pada bulan Maret-April 2018 akan dikabarkan kembali. Usulan kawasan cagar budaya masuk tersebut sudah masuk daftar list sebagai warisan Dunia yang diajukan oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan ke UNESCO. Penyusunan pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO tersebut telah dimulai sejak tahun 2015 lalu

"Selama kurun waktu tiga tahun tersebut dilakukan evaluasi dan perbaikan sesuai dengan permintaan dokumen yang harus dilengkapi. Kemudian didukung dengan kemampuan untuk melengkapi data dan dokumen sesuai dengan kebutuhan. Semua dokumen yang diperlukan telah dikirim kemudian dilakukan evaluasi oleh Pusat. Hasil evaluasi ada dokumen yang dibutuhkan tersebut menjadi acuan yang sudah ditetapkan," katanya. 

Kemudian lanjutkan dia, Jika dokumen tersebut lengkap maka akan dilanjutkan dan apabila dokumen yang kurang maka akan dilengkapi. Selanjutnya jika ada pikiran-pikiran baru dan analisa yang ada pada dokumen tersebut dianggap kurang lengkap maka akan dikembalikan untuk dilengkapi. Selanjutnya pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO seluas 89,7 hektare mencangkup peristiwa sejarah yang universal bernilai tinggi. Kemudian 89,7 hektare cagar budaya ada Deliniasi pemetaan kawasan inti, kawasan penyangga dan kawasan pengembangan.

"Kawasan Desa Salak merupakan kawasan inti karena memiliki makna yang universal dan bernilai tinggi karena produksi batu bara di Sawahlunto. Pada September 2017 lalu diminta kembali untuk melengkapi data dan dokumen yang dibutuhkan. Kemudian pada November 2017 keluar hasil evaluasi untuk melengkapi data dan dokumen yang diperlukan. Untuk melengkapi data rel kereta api dalam gambar foto hingga Teluk Bayur," paparnya. 

Ia mengungkapkan bahwa bambar peta tersebut harus dilengkapi dengan ada tanda atau simbol yang dibutuhkan serta penjabarannya. Seperti tanda kuning menunjukkan perbukitan atau gunung dan tanda hijau adalah daratan pinggir pantai. Tetapi dalam pewarna kurang pas sehingga dikembalikan lagi untuk disempurnakan. Karena peta yang telah dibuat pewarnaanya kurang pas dan tidak bisa di baca untuk memaknai kawasan. Selanjutnya jika ada 10 buah jembatan kereta api tersebut harus terlihat pada gambar dan peta. Jika ada sembilan buah jembatan yang ada maka peta tersebut tidak benar dan harus diperbaiki.

"UNESCO tersebut apa peristiwa sejarah yang universal harus ada dan harus lengkap serta sejelas dokumennya. Kemudian jika peristiwa tersebut bernilai sejarah maka harus dijaga dan dipelihara. Kemudian jika dimungkinkan untuk bisa dikembangkan maka dibolehkan untuk dikembangkan," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa rancangan program yang diusulkan pun sudah disiapkan jika UNESCO menetapkan kota Sawahlunto menjadi cagar budaya. Kemudian setelah ditetapkan siapa yang akan mengelola, sehingga jika telah ditetapkan oleh UNESCO benda bernilai sejarah tetap terpelihara dengan baik. Karena benda tersebut sudah menjadi milik dunia, siapa yang akan melakukan apa dan bagaimana. 

"Maka perencanaan kedepan tetap melakukan koordinasi bangunan dan akan di konservasi sehingga lebih terawat, kemudian bisa menjadi objek wisata, sehingga menjadi nilai tambah. Misalnya lubang tambang Lunto Tuo bahwa ini merupakan bekas penambangan batubara dan akan memperkenalkan ke dunia penambangan batubara serta sejarahnya. Makanya adanya konservasi dan pembenahan dalam aturan cagar budaya merupakan nilai tambah," tambahnya. 

Saturday, December 30, 2017

Perkenalkan Karya Seni Rupa Kepada Masyarakat 60 Karya Lukisan Seniman Se Sumatera Barat Dipamerkan

Sebanyak 60 karya seni rupa, seniman perupa Sumatera Barat pamerkan karya seni rupa, mural, tiga dimensi, disain, video art, di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Sawahlunto, Sumatera Barat. Karya seni rupa tersebut terdiri dari karya kelompok seniman rupa yang ada di Sumatera Barat. Pameran seni rupa tersebut sebagai wujud kreatifitas penggiat seni rupa kelompok seni rupa di Kabupaten/kota se Sumatera Barat. Karya seni rupa yang dipamerkan merupakan karya seni mengeksplorasi dan mengekspresikan ide melalui media visual art.

"Kegiatan pameran seni rupa yang mengangkat tema Berantai diselenggarakan oleh Kelompok Seni Rantai Sawahlunto. Pameran karya seni rupa tersebut bertujuan untuk memperkenalkan seni rupa ke pada masyarakat luas, khususnya Kota Sawahlunto. Pemikiran untuk mengelenggaraan event pameran di daerah yang notabene masyarakatnya belum mengerti apa itu seni rupa atau masyarakatnya belum mempu mengapresiasi dan menafsirkank karya-karya seni rupa dengan baik," ujar Fadlan Fahrozi, Kurator Pameran Serupa Berantai, kepada Penulis, Jumat, 29 Desember 2017 di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Kota Sawahlunto. 

Ia mengatakan bahwa Kreatifitas merupakan sebuah upaya untuk melahirkan hal-hal baru berupa pemikiran untuk menciptakan karya-karya segar melalui kemahiran yang kemudian disepakati oleh kelompoknya. Seorang yang kreatif biasanya mampu melakukan inovasi dan terobosan-terobosan untuk menciptakan haI-hal baru di lingkungannya berupa karya seni. Desain terlahir dari kolaborasi pemikiran dan ide, maka hal ini dapat dikatakan saling berkaitan satu sama lain seperti halnya antara komukator dan komunitas juga media yang akan menyampaikan. 

Menurutnya, semua unsur yang terdapat dalam dunia desain saling berantai satu sama lain. Semua elemen dalam seni rupa pada pameran yang berlangsung sejak Jumat-Sabtu, 29-30 Desember 2017 dapat dikatakan karya yang masuk dalam pameran berantai ini telah mengalami berbagai kolaborasi ide dan pemikiran. Sebab, desain tidak terjadi begitu saja namun ada berbagai tahapan yang berantai. 

Ia mengungkapkan bahwa dari pengamatan sosial dan budaya hingga masuk pada tahapan riset untuk melahirkan suatu komunikasi yang akan disampaikan oleh seorang desainer yang merupakan solusi dari suatu permasalahan. Sawahlunto merupakan kota yang aktif dalam menyelenggarakan event secara nasional maupun internasional. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah terhadap kreatifitas masyarakatnya. 

Maka dari itu, kelompok seni Rantai juga tidak mau melepaskan perannya untuk ikut serta dalam melengkapi kebutuhan kota Wisata Tambang Berbudaya. Sehingga terbentuklah ide untuk menyelenggarakan event pameran seni rupa sebagai catatan akhir tahun. Sebagai kelompok yang masih segar tumbuh dengan pemikiran cemerlang dan berpijak pada filosofi rantai. 

Maka kelompok seni rantai yang berdomisili di kota Sawahlunto kembali memainkan perannya sebagai kelompok yang aktif dan ikut membangun apresiasi seni didaerahnya seperti seni rupa. Sehingga, nama "Rantai" diambil dari karakter dan kultur masyarakat yang berkembang di daerah sema penjajahan Kolonial Belanda. 

Menurutnya, cerita orang rantai yang menjadi history daerah Sawahlunto, meskipun demikian nama rantai tersebut tidak semata-mata mengembangkan cerita tersebut melainkan mengambil filosofi 'Rantai' itu sendiri. Persatuan yang kokoh antara mata rantai satu dengan mata rantai yang saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan. 

Ia berharap bahwa dengan diselenggarakannya event pameran seni rupa di Sawahlunto dapat menambah dan menumbuh kembangkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni rupa. Kemudian dapat menimbulkan berbagai kolaborasi ide lainnya diantara berbagai pemikiran dan profesi dan desainer. Selanjutnya, terjalin hubungan yang baik antara elemen masyarakat yang membangun kearifan kota Sawahlunto sehingga seni rupa tidak lagi menjadi ambigu di tengah masyarakat, khususnya di kota Sawahlunto. 

Sementara itu, Hendri Thalib Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa pemaren seni rupa rantai merupakan bentuk apresiasi pemerintah mendukung komunitas seni yang ada di Sawahlunto. Untuk mendukung seni rupa tersebut maka pemerintah kota menyiapkan museum lukisan. Lukisan yang di Pajang diantaranya adalah hasil karya pelukis maistro terkenal, Baisuki Abdullah dan Marya Cui. 

"Museum ini berisikan benda-benda yang sangat jarang kita temukan sehari-hari, bahkan di Indonesia sendiri, diyakini tempat ini akan menambah pengalaman dan pengetahuan wisatawan. Seperti berbagai alat musik tradisional. Mulai dari Australia, Afrika, Prancis hingga ke China. Benda benda unik bersejarah beserta lukisan oleh pelukis terkenalpun akan segera disajikan," katanya.

Irzam, Asisten III Administrasi Umum Pemerintah Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa generasi muda yang di tepong oleh sesepuh seniman kota Sawahlunto dan bentuk inovasi positif untuk pembangunan serta perkembangan kota Sawahlunto sehingga terwujudnya kota wisata tambang Berbudaya. Maka, kegiatan pameran seni rupa didukung dan disupport pemerintah kota Sawahlunto. 

Seblumnya, kata dia, pemerintah kota Sawahlunto menggabungkan kebudayaan di gabung dengan pendidikan, kemudian kebudayaan bergabung dengan pariwisata. Namun sejak awal tahun 2017 maka kebudayaan berdiri sendiri untuk lebih serius menata dan mewujudkan kota wisata tambang berbudaya. 

"jika ada persoalan yang bersentuhan dengan kebudayaan maka bisa secara langsung untuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait demi mewujudkan visi kota wisata tambang berbudaya ditahun 2020. Artinya keseriusan pemerintah kota Sawahlunto untuk memperhatikan seni budaya sehingga ada perpanjangan tangan dari pemerintah untuk melalui OPD terkait dinas Permuseuman," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa Sawahlunto multi etnis yang berdiri dari berbagai etnis suku bangsa. jika berbicara tentang Sawahlunto maka tidak asing lagi mendengar seni budaya Batak, Jawa, Sunda, cina dan Minangkabau. Sebab, di kota Sawahlunto yang multi etnis yang hidup berdampingan. 

"Pameran seni rupa ini merupakan bentuk memberikan ruang kepada pelaku seni terutama Kelompok Seni Rantai. Memberikan ruang untuk berkreasi dan beraktivitas mengembangkan ide dan gagasan terhadap pembangunan kota melalui seni rupa," katanya. 

Monday, December 18, 2017

Marsada Band Asal Pulau Samosir Sumatera Utara Perkenalkan Alat Musik Sambo Di Dunia

Marsada Band menciptakan alat musik yang diberi nama 'Sambo' terinspirasi karena bergendang dengan memukul meja di warung Tuak sebagai pengganti Kick Drum. Alat musik yang terbuat dari Kuali peralatan rumah tangga diberi nama 'Samosir Bongko' yang mengantarkannya keliling Dunia


Sabtu, 17 Desember 2017 malam rinai hujan masih turun dilangit kota Sawahlunto. Para pengunjung berduyun-duyun menghampiri panggung Pentas Seni Budaya Paguyuban Batak 'Dos Ni Roha' dilapangan Segitiga Sawahlunto. Kegiatan yang bertajuk Semalam di Bonapasogit atau semalam dikampung halaman menghadirkan group kesenian 'Marsada Band' Pulau Samosir Sumatera Utara. 

Meskipun hujan mengguyur penonton pentas seni budaya Baguyuban Batak masih bertahan menyaksikan pertunjukan musik, tari tor-tor remaja dan dewasa, trio Bhayangkara, solo song. Kemudian pentas seni budaya Paguyuban Batak dimeriahkan oleh Marsada Band yang memukau penonton. Sebab, keberagaman budaya sebagai alat perekat bangsa terpelihara dengan baik di Sawahlunto. Sehingga, setiap pentas seni budaya Paguyuban yang ada di Sawahlunto selalu mendapatkan tempat dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat.

Sebagai lagu pembuka Marsada Band, membawa lagu Minang 'Mudiak Arau' dengan instrumen musik etnik Batak. Lagu Minang dimainkan dengan gendang etnik khas Batak dan dipadukan seruling dan Sambo sebagai Kick Drum. Riuh tepuk tangan penonton mengapresiasi jendere musik akustik Marsada Band yang menghidupkan suasan panggung hiburan paguyuban Batak di Sawahlunto. 

Kemudian, bunyi seruling dengan langgam Batak, mengiringi lagu Minang telah memukau penonton, hingga bertahan didalam hujan. Selanjutnya, Marsada Band, mendengakan lagu Minang 'Pulang lah Uda' dimainkan dengan etnik Batak dengan nada vokal satu, vokal dua, vokal tiga. Lokalitas musik etnik Batak sangat padu dan menyatu dalam syair lagu Minang yang dibawakan.

Monang Sidabutar, Ketua Manajemen Marsada Band menyebutkan bahwa awal terbentuk Marsada Band terdiri dari beberapa orang dengan intensitas berkumpul serta sering bertemu di kedai Tuak. Kebiasaan masyarakat di Pulau Samosir Sumatera Utara duduk di kedai Tuak sering nyanyi bersama dengan teman serta siap saja yang duduk di warung tuak tersebut. 

Kemudian, Pulau Samosir pada umumnya kedai tuak untuk menambah daya tarik pengunjung agar betah, pemilik warung Tuak menyediakan peralatan musik etnik yang lengkap di warungnya. Sehingga sembari duduk minum Tuak juga nyanyi bersama sama di warung tuak tersebut. Maka, disitulah dasar group Marsada Band terbentuk dan berproses hingga sekarang. 

Marsada Band terbentuk sejak tahun 2003 dengan personil 7 orang. Marsada Band mengangkat musik etnis batak dengan alat musik yang dimainkan berupa gitar akustik 2 buah, seruling, gendang dan gitar bass. Kemudian pada tahun 2004 Marsada Band di undang ke Inggris United Kingdom (UK) untuk meramaikan dan memeriahkan perhelatan Summer Party Day oleh World Organisation Music Art and Danc (Womad) yang diundang oleh organisasi musik etnik Dunia yang disebut dengan womad tersebut Marsada Band dipercaya untuk mengisi acara tersebut.

Tahun 2004 Marsada Band resmi diundang Meramaikan perhelatan Summer Party  bulan Mei oleh  World Organisation Music Art and Dance dan telah terdaftar sebagai anggota organisasi. Selama 40 hari Marsada Band tour keliling United Kingdom (UK) Wells and Scohtland mengikuti pestival musik dunia. Kemudian tahun 2005 di undang lagi oleh Womad kolaborasi dengan musisi Senegal (Afrika) dan musisi Madagaskar pada musim gugur bulan November selama 30 hari tour UK

Selanjutnya pada tahun 2005, Marsada Band kembali di undang word art untuk berkolaborasi dengan tiga etnis musik dunia yakni Sinegal, Magaskar dan Indonesia (Marsada Band). Kemudian tahun 2014 Marsada Band tour ke Eropa, Belanda, Jerman, Swiss, dan mengunjungi teman kolaborasi musik etnik dunia sewaktu 2005 dengan musisi Sinegal dan Magaskar. Marsada Band tampil keliling Eropa tersebut tetap membawa komposisi musik etnik Batak untuk diperkenalkan di panggung Internasional.

Penampilan yang disuguhkan iven panggung tetap membawakan musik etnik batak dengan Gendang. Kemudian, di Pulau Samosir Gendang Batak Toba terdiri dari enam biji. Selanjutnya Marsada Band juga membawakan dan memperkenalkan alat musik 'Sambo' yang merupakan ciptaan dan karya sendiri. Alat musik yang diberi nama 'Samosir Bongko' disingkat menjadi 'Sambo'. Alat musik Sambo terbilang unik dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Alat musik Sambo terbuat dari Kuali merupakan peralatan dapur dengan menggunting kupingnya. Kemudian dibuat kotak untuk peredam bunyi. Alat musik 'Sambo' tersebut dimainkan sebagai pengganti Kick Drum. 

Ide awal pembuatan alat musik 'Sambo' tersebut didasari dengan kebiasaan orang-orang yang duduk warung Tuak. Karena di warung Tuak adalah tempat berkumpul dan sering nyanyi bersama dengan peralatan musik etnik yang ada. Maka sembari bernyanyi bersama-sama dan terbawa asyik sehingga secara spontanitas selalu memukul meja ketika mengikuti ritme musik yang dimainkan. Alunan musik yang dimainkan diwarung tuak tersebut sering memukul meja sebagai pengganti Kick Drum dengan bunyi dum, dum, dum, dum. 

Maka, berdasarkan spontanitas bergendang dimeja atau menciptakan irama ritmix pada meja terjadi irama. Sehingga melalui ritme musik tersebut maka terinspirasi menciptakan alat musik yang diberi nama 'Sambo'. Alat musik 'Sambo' terinspirasi karena bergendang dengan memukul meja sebagai pengganti Kick Drum. Sehingga menjadi inspirasi dibuatlah jenis alat musik yang disebut dengan 'Samosir Bongko'. 

Sebab, kecenderungan jendre musik Marsada Bend adalah full akustik yang menjadi aspirasi dari berkumpul di warung tuak. Sejak jaman dulu akustik sangat identik dengan Batak. Jadi setiap warung tuak yang ada di Pulau Samosir Sumatera Utara selalu ada gitar dan peralatan musik akustik. Kemudian di sekolah yang ada pelajaran seni serta di rumah rumah pasti ada gitarnya. Jadi gitar akustik identik dengan musik etnis Batak yang telah ada sejak zaman dulu kala. 

H Sihotang Ketua Paguyuban Batak Sawahlunto menyatakan bahwa pentas seni budaya batak diisi dengan penampilan tarian atau tor-tor dari sanggar Dos Ni Roha baik dari anak-anak, remaja dan ibu-ibu atau orang dewasa. Untuk group dan solo song dari anggota Sanggar Dos Ni Roha, juga akan menampilkan Trio Bhayangkara dan Trio Resima serta penampilan budaya batak baik Simalungun, batak Karo, Pak-pak, batak toba dan lainnya.

Pentas seni budaya tersebut sebagai wujud untuk melestarikan budaya nusantara serta mempromosikan keberagaman suku dan adat istiadat yang ada dikota ini. Dengan potensi keanekaragaman ini sebagai suatu kekuatan dalam mewujudkan kota ini sebagai salah satu tujuan wisata terkemuka di Sumatera Barat. Kemudian, Paguyuban Batak dapat bersanding bersama dengan etnik lain untuk melestarikan keberagaman ini etnik tersebut. 

disamping Marsada Band dapat interantif menghibur, Ia sangat mengapresiasi penampilan sanggar Dos Ni Roha dengan tor-tor anak-anak, remaja, ibu-ibu serta dimeriahkan penampilan Trio Bhayangkara dan Resima Trio. Sangat terasa sekali apa yang jadi tema Semalam di Bonapasogit yang ada mala mini, karna semua yang hadir ikut bergembira manortor bersama-sama. Meski etnik batak sangatlah minoritas dikota ini. Terlebih sudah mulai bergairahnya group dan solo song dari anggota Sanggar Dos Ni Roha menampilkan budaya batak baik Simalungun, batak Karo, Pak-pak, batak toba dan lainnya.

J Simanjutak, Dewan Penasehat Paguyuban Batak Sawahlunto J Simanjuntak mengatakan bahwa pentas seni budaya ini sebagai wujud untuk melestarikan budaya nusantara serta mempromosikan keberagaman suku dan adat istiadat yang ada dikota ini. Keanekaragaman sebagai suatu kekuatan dalam mewujudkan kota ini sebagai salah satu tujuan wisata terkemuka di Sumatera Barat. Sehingga dapat bersanding bersama dengan etnik lain untuk melestarikan keberagaman baudaya.

"Kami sangat berterima kasih kepada pemko Sawahlunto dan warga kota ini yang memberikan kesempatan dan ruang yang sama dengan etnik lainnya di kota ini," katanya.

Walikota Ali Yusuf berharap potensi yang mulai menampakkan perkembangan baik dari paguyuban batak dos ni roha dikota ini dengan tampilan seni budaya yang juga berlatar belakang berbagai profesi dari anggota paguyuban. “Mari tingkatkan lagi potensi keberagaman yang menjadi kekuatan dalam membangun kota ini, karna etnik dan latar belakang suku apapun pasti menginginkan kotanya membangun dan lebih sejahtera," harapnya. 






Sunday, December 3, 2017

Pacu Jawi Kekayaan Budaya Ajang Mendapatkan Keuntungan dan Memperbanyak Saudara

"Pacu Jawi, merupakan kekayaan budaya yang dipertontonkan, tetapi pacuan Jawi juga wadah untuk saling mengenal satu sama lain. Pacu Jawi memperbanyak saudara dikenal dengan istilah "Mampagadang pariuak, mampabanyak dunsanak, Kamudian harogo Jawi labiah kandua dari ukuran data,"




dok. Humas Sawahlunto
Jalan menuju Desa Sijantang Koto, Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto yang sempit. Para pengunjung berduyun-duyun masuk ke areal sawah tempat pacuan Jawi. Ribuan penonton telah memadati jalan bandes membedah sawah sebagai jalan penghubung rumah warga. Penonton berdasarkan berdiri di sepanjang jalan beton yang dipagari dengan bilah bambu agar penonton lebih aman dari amukan Jawi saat balapan. 

Sorak-sorai serta tepuk tangan penonton riuh seketikan melihat Joki terhenyak jatuh ke lumpur sawah. Sementara Jawi tetap melaju kencang bersama pasangannya yang telah di pasang 'Tali Bajak' yang terbuat dari bambu. Pada tali bajak tersebut Joki berdiri sembari memegang ekor Jawi kemudian menggigitnya agar lari Jawi bertambah kencang. Hingga bercak lumpur pun melumuri seluruh tubuh Joki akibat percikan lumpur terjangan kaki Jawi. 

dok. Humas Sawahlunto
Rabu, 29 November 2017 siang lagit kota Sawahlunto cerah. Penonton masih setia berkerumun berdesakan disepanjang pagar arena pacu jawi dibawah terik matahari. Penjual jajanan asongan menyelip-nyelip ditengah desakan penonton meskipun telah disediakan tempat untuk berjualan. Pedagang asongan tersebut sesekali perhatiannya mengarah ke arena melihat pacu Jawi. Belum lagi para pejalan kaki yang mondar mandir ditengah keruman penonton mencari posisi yang pas untuk menonton. 

Ali Amran, 63, Joki asal Kabupaten Tanah Datar menyebutkan bahwa Pacu Jawi (Balapan Sapi) sebelumnya dimulai dari cara petani menjalin hubungan silaturrahmi antar sesama teman di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar. Setiap tahun, Pacu Jawi diselenggarakan secara bergiliran selama empat minggu di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum, dan Kecamatan Sungai Tarab.

dok. Humas Sawahlunto
Pacuan Jawi sebagai wadah saling mengenal satu sama lain atau memperbanyak saudara dikenal dengan istilah "Mampagadang pariuak, mampabanyak dunsanak, Kamudian harogo Jawi labiah kandua dari ukuran data,". Artinya pacu Jawi tidak hanya hiburan semata tetapi juga mendapatkan keuntungan karena harga Jawi menjadi lebih tinggi. Kemudian melalui pacu jawi juga akan memperbanyak saudara karena terjalin silaturahmi, baik sesama hobi, dengan masyarakat dan pemerintah. 

Maksudnya, kalau 'Jawi Aduan' (pacuan) tersebut di pasar harganya akan lebih mahal dibandingkan dengan Jawi biasa yang bukan Jawi aduan. Artinya harga satu ekor Jawi Aduan bisa mencapai Rp60 juta perekornya. Kalau harga pasaran Jawi jika dilihat dari jumlah daging berkisar Rp10 juta hingga Rp20 juta untuk Jawi potong. Tetapi kalau Jawi tersebut sudah masuk sawah atau Jawi Aduan maka harganya akan lebih mahal dari harga umumnya.

Ali Amran mengatakan ada sebanyak 500 ekor Jawi Aduan yang sudah menjadi atau sudah siap untuk berpacu. Ada pula yang baru belajar artinya belum menjadi masih belajar arena pacua karena baru berumur satu hingga tiga tahun pacuan. Kemudian, dia sendiri membawa delapan ekor Jawi (empat pasang) yang diikutkan pada pacuan Jawi di sawah Sijantang, Kecamatan Talawi Sawahlunto. Sepasang Jawi Aduan miliknya telah bertanding selama 12 tahun dan belum 'Suak' atau masih bisa dipakai dan ikut bertanding di arena. 

Ali Amran sejak umur 13 tahun telah masuk ke sawah menjadi Joki pacu Jawi hingga saat ini meskipun diusianya yang telah tua, masih pawai dan kuat menjadi Joki. Sejak menjadi Joki tidak terhitung berapa kali memenangkan pacuan Jawi. Kemudian telah banyak pula, jawi aduan miliknya dijual kepada Joki lainnya dengan harga mahal. Artinya, Jawi pacuan tersebut didapatkan dari perpindahan tangan Joki yang satu ke yang lainnya. Jawi pacuan tersebut dibeli dari kawan (Joki) malampaui (lebih mahal) dari harga sebelumnya. 


Ali Amran menjelaskan bahwa Pacu Jawi berasal dari Kabupaten Tanah Datar yang sudah ada sejak dulu, namun di Sawahlunto merupakan pacu yang kedua kalinya sejak tiga bulan belakangan. Karena pacu Jawi merupakan pacuan yang baik, unik serta tradisi yang kuat dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Maka pemerintah kota Sawahlunto meminta agar pacu Jawi diadakan di Kota Sawahlunto agar menjadi destinasi wisata baru bagi Sawahlunto dan pemerintah kota menyediakan tempat pacuan Jawi. 

Senada disampaikan, Khairul Fahmi, 67, Ketua Persatuan Pacu Jawi Kabupaten Tanah Datar menyebutkan bahwa asal mula Pacu Jawi (Balapan Sapi) terjadi adalah dari petani di sawah. Petani mengadu atau berpacu antara Jawi yang satu dengan lainnya sehingga menjadi satu pasang. Maka petani memasang tali bajak (bajak sawah terbuat dari bambu) terhadap kedua Jawi (berpasangan) untuk berpacu di sawah.

Ada lima cara penilaian Pacu Jawi, yakni pertama ditentukan oleh kencangnya lari Jawi berpacu yang telah dipasang 'Tali Bajak' hingga memutus pita finish. Kedua, saat Jawi pacuan berpasangan yang sudah di pasang tali bajak tersebut lari Jawi harus lurus atau 'Dahulu Sakapalo. cara ke tiga kepala Jawi harus tegak atau mendongak ke atas saat berlari pacuan hingga finish. 

Keempat, Jawi tidak 'mendek' ke kiri dan kanan atau Jawi tersebut tidak menoleh kekiri dan kekanan, (berpisah dengan pasangannya) sehingga lari lurus sampai ke finish. Kelima, meskipun Jawi tersebut berdirinya di pinggir arena pacuan atau ditengah arena tetapi penilaian tetap berdasarkan lurusnya lari Jawi yang ditunggangi Joki.

Selanjutnya, ada dua kategori 'Aduan' atau pacu Jawi. Pertama, pacu Jawi dilakukan secara bersama-sama artinya lebih dari satu pasangan yang 'beradu' (berpacu) di arena. Namun sistem penilaiannya tetap melihat siapa yang duluan memutus pita. Kemudian, pacu Jawi dilakukan secara sendiri (hanya sepasang) tetapi tetap mengacu pada kategori penilaian. Joki yang menunggangi Pacu Jawi di arena boleh dilakukan berulang-ulang sampai pada sempurna atau sesuai dengan kategori penilaian yang telah ditetapkan.

Sementara, filosofi Jawi 'Aduan' (Pacu Jawi) adalah diharapkan pemimpin itu seperti Jawi pacuan yang berlari lurus demi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Pemimpin yang tidak memandang sebelah mata masyarakat kecil dan berkeadilan. Pemimpin yang bisa membimbing kawan atau masyarakat, itulah yang dikatakan Joki. Kemudian, meskipun badannya kotor dan berlumpur namun hatinya tetap bersih karena silaturrahmi. 

Artinya seluruh peserta yang datang berasal dari empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, namun tetap kompak. Karena pacu Jawi adalah mempererat silaturrahmi antar sesama tetap terjaga dengan baik. Meskipun pacuan berada di Desa Batu Tanjuang Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto namun bisa bersilaturrahmi dengan masyarakat sekitar. Ada sebanyak 180 peserta pacu Jawi yang hadir untuk bertanding di Desa Batu Tanjuang, Sawahlunto. Semua peserta pacu Jawi berasal dari empat kecamatan yang ada di Kabupaten Tanah Datar.

Kemudian alasan tradisi pacu Jawi berasal dari Kabupaten Tanah Datar dibawakan ke Kota Sawahlunto adalah untuk bersilaturrahmi. Artinya datang untuk bersilaturrahmi memperbanyak dunsanak (Saudara). Sebab, di Kabupaten Tanah Datar sendiri hanya ada empat kecamatan yang memiliki iven pacu Jawi. Meskipun demikian, pacuan Jawi tersebut pesertanya tetap berasal dari empat kecematan di Kabupaten Tanah Datar namun berpacu di Sawahlunto. Karena di Kota Sawahlunto belum ada joki untuk berpacu melainkan hanya sebagai menyediakan erena berpacu Jawi. 

Selanjutnya alasan membawakan pacuan Jawi di Sawahlunto adalah dilihat dari dasar air sawah apakah mencukupi. Kemudian, areal sawah apakah memadai untuk dijadikan arena pacu sesuai dengan yang diharapkan. Kemudian dilihat pula kedalaman lumpur Sawah terset, karena kalau lumpurnya dalam tidak bisa dijadikan arena pacuan Jawi.

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto mengatakan bahwa Pacu Jawi Sawahlunto merupakan rangkaian kegiatan hari jadi kota Sawahlunto ke 129 tahun. Pacu Jawi diharapkan akan menambah detinasi wisata baru bagi kota Sawahlunto. Kemudian melalui kegiatan Pacu Jawi akan memberikan multiplayer effect terhadap masyarakat sekitar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. 

Melalui iven pacu jawi pengunjung akan ramai menyaksikan menonton langsung pacu jawi. Maka, pengunjung yang datang tersebut pasti akan berbelanja sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan. Kemudian, persatuan pacu jawi Kabupaten Tanah Datar pun bersedia untuk berpacu di Desa Sijantang Koto Kecamatan Talawi memeriahkan hari jadi kota ke 129 tahun 2017.

Pacu jawi bukanlah tradisi permainan anak nagari Kota Sawahlunto. Permainan tersebut merupakan tradisi anak nagari Luhak Nan Tuo Kabupaten Tanah Datar. Pacu Jawi dilaksanakan berkat komunikasi yang baik Pemko Sawahlunto dengan pihak komunitas dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar maka Pacu Jawi menjadi kalender kepariwisataan Kota Sawahlunto. *

Friday, December 1, 2017

Paguyuban Warga Sunda Tampilkan Singa Depok Pada Multikultural Festival

"Orang saling mengenal dan saling mencintai melalui budaya. Meskipun tumbuh dan berkembang di perantauan identitas budaya tetap dipertahankan serta dilestarikan. Agar budaya tidak hilang dan harus dilestarikan, terkadang dikampung sendiri budaya tersebut sudah hilang, justru berkembangnya di daerah perantauan"


Bunyi musik Calung tradisional Sunda mengiringi tarian Singa Depok pada Selasa, 28 November 2017 malam mengugah para penonton yang menyaksikan. Calung merupakan alat musik yang terbuat dari bambu dimainkan dengan cara dipukul mengiringi tarian Singa Depok yang di tampilkan Paguyuban Warga Sunda. Serta diiringi sorak sorai penari di pentas mengangkat tandu beserta singa yang disebut Singa Depok. Ada dua ekor singa yang di pragakan sembari menari di Panggung Multikultural Festival Sawahlunto. 

Kemudian Singa Depok merupakan seni tradisi khas Subang Jawa Barat diiringi musik Calung, Gong, Gendang Sunda serta ada pula disi dengan musik angklung. Angklung merupakan alat alat musik yang berbahan bambu, namun dimainkan dengan digoyangkan. Seni tradisi Singa Depok kerap dimainkan untuk penyambutan tamu kebesaran seperti bupati/walikota untuk acara besar. Kemudian tamu tersebut di silakan duduk di punggung Singa Depok untuk di arak keliling sebagai penghormatan pada tamu. 

Selanjutnya, seni tradisi Singa Depok juga di gunakan untuk acara pesta sunatan. Biasanya anak yang akan sunatan tersebut disilakan naik punggung Singa diarak keliling kampung. Paguyuban Warga Sunda yang ada di Sumatera Barat sudah memiliki bermacam-macam kesenian tradisi seperti kesenian Singa Depok, Calung, Angklung, Mapag Kendang, Mapag Penganten dengan menjemput penganten dengan musik dan tarian, kemudian ada Saweran. 

Kemudian, untuk bisa memainkan seni tradisi musik, tari serta Singa Depok tersebut dibutuhkan latihan dan keahlian. Latihan dan keahlian didukung oleh peralatan musik. Ada keahlian tetapi tidak ada alat musik juga tidak bisa latihan untuk melatih seni Tradkak Depok. Sehingga, keinginan bersama agar kesenian tradisional tetap dilestarikan. Kemudian, keinginan untuk melestarikan seni tradisi tersebut bermula dari perkumpulan yang kerap bernyanyi bersama. 

Lalu ada keinginan untuk membuat Calung alat musik dari bambu dan latihan secara bersama sehingga bisa tampil di panggung Multikultural Festival. Kesenian yang ditampilka dari PWS Alahan Panjang Kabupaten Solok dan bergabung dengan Kota Sawahlunto untuk memeriahkan ulang tahun kota Sawahlunto ke 129. PWS pada tahun depan jika ada kesempatan lagi untuk tampil akan ditampilkan bentuk kesenian tradisional lainnya yang ada di Jawa Barat. 

Sebab, kesenian tradisional asal Jawa Barat tidak hanya Calung dan Singa Depok saja, namun masih banyak lagi kesenian tradisi yang perlu diketahui orang banyak. Kemudian melalui Multikultural Festival menjadi momen untuk silaturrahmi antar sesama warga Sunda dan masyarakat Minang. Selanjutnya Multikultural Festival sekaligus wadah untuk membudayakan seni tradisi Sunda setelah dilakukan pembinaan. Sehingga budaya kesenian Sunda tidak hilang meskipun di perantauan. 

Selain itu, budaya agar tidak hilang dan tergerua oleh perkembangan zaman, maka perlu ada perhatian untuk terus menjaga dan dilestarikan. Terkadang dikampung daerah asal sendiri budaya itu lahir justru sudah mulai menghilang. Masahan sebaliknya, justru seni tradisi itu berkembangnya di daerah perantauan. Makanya orang saling mengenal dan saling cinta melalui budaya yang saling mengikat. Sebab, budaya adalah alat perekat bangsa. 

Biasanya di daerah perantauan untuk mempertahankan budaya biasanya lebih gigih meskipun ada anggapan keseniannya kurang menarik. Namun, tetap yakin dan semangat meskipun ada anggapan bahwa kirang menarik tetap dengan tujuan utamanya adalah melestarikan budaya Sunda. Meskipun demikian kesenian tradisi Sunda mendapatkan tempat di Sumatera Barat sehingga Paguyuban Warga Sunda beserta seni budaya di undang tampil pada Ivent peringatan hari jadi kota.

Kesenian Sunda di undang tampil pada peringatan ulang tahun kota, seperti di Solok, Bukittinggi, Padang dan Darmasraya. Kabupaten Dharmasraya sendiri sudah ada Paguyuban dan sudah sering tampil. Artinya setiap ulang tahun kota Paguyuban Warga Sunda ikut andil memeriahkan ulang tahun kota domisili termasuk Sawahlunto yang diundang oleh Dinas Pariwisata. Artinya dimana bumi di pijak di situ langit di junjung dan ikut memeriahkan iven tersebut.

Aji Lukmana, akrab di sapa Kang Aji Lengser, Ketua DPW Paguyuban Warga Sunda Sumatera Barat menyebutkan bahwa Paguyuban Warga Sunda (PWS) sudah ada di 17 Kabupaten/kota se Sumatera Barat dan telah melantik Bupati/walikota sebagai 'Mang' atau orang yang dituakan. 'Mang' tersebut perumpamaannya sama dengan Mamak bagi masyarakat Minang. 

"Sebelumnya Paguyuban Sunda bernama Ikatan Keluarga Jawa Barat, pada tahun 2006 Banten berpisah dengan Jawa Barat. Sehingga di ubah namanya menjadi Paguyuban Warga Sunda (PWS) yang belamat di Jalan Wahidin II nomor 5A Padang," katanya.  

Ia melanjutkan bahwa warga Sunda untuk di Sumatera Barat ada sebanyak 40 ribu Kepala Keluarga (KK) warga Sunda yang tersebar di setiap kabupaten/kota yang masuk pada data bes PWS. Penyebarannya paling banyah berada di Kabupaten Dharmasraya karena kebanyakan transmigrasi sebagai pendatang sebanyak 13 ribu KK.

"Sementara warga Sunda di kota Sawahlunto ada sebanyak 50 KK lebih di Ketua DPD Paguyuban Warga Sunda Sawahlunto, Alit Mardianti. Belum lagi masuk warga Sunda yang musiman ke Sumatera Barat, karena selain bekerja di instansi pemerintahan juga ada sebagai pedagan dan buruh bangunan," tuturnya.*