Showing posts with label Kakao. Show all posts
Showing posts with label Kakao. Show all posts

Thursday, July 20, 2017

Harga Komoditi Kebun dan Rempah Rempah Kembali Membaik

Harga jual komoditi perkebunan dan rempah rempah mengalami kenaikan harga. Saat ini harga jual Pinang seharga Rp13.000 perkilo gram. Sementara harga jual Kakao seharga Rp18.000 perkilo gram. Kenaikan harga terjadi karena berkurangnya produksi hasil perkebunan petani. Selain itu berkurangnya petani yang menjual Pinang dan Kakao di pasaran. 

Salah seorang petani Pinang, Syahrul, 59, warga Jorong Kadang, Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa harga jual Pinang mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga jual pinang berkisar Rp1000 perkilogramnya. 

"Harga ini mengalami kenaikan, meskipun harga Pinang sebelumnya mengalami penurunan setelah lebaran mencapai Rp12.000 perkilo. Penurunan harga tersebut di alami sejak masuk bulan ramadhan. Harga jual pinang sebelum ramadhan mencapai Rp14.000 perkilo gram," ujarnya kepada Penulis, Rabu, 19 Juli 2017.

Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga yang terjadi pada saat ini belum termasuk harga normal. Artinya harga jual Pinang sebelum bulan puasa 1438 H berkisar Rp14-15 ribu perkilo gramnya. Harga tersebut terus turun hingga lebaran mencapai Rp12.000 perkilo gram. Namun saat ini harga jual Pinang mencapai Rp13.000 perkilogram. 

"Harga jual Pinang saat ini naik dibandingkan setelah lebaran hanya Rp12.000 perkilo gram. Saat ini harga jual naik Rp1000 perkilo," tuturnya. 

Ia mengataka  bahwa Pinang yang di jual ke pasar pun tidak banyak. Sebab kebun Pinang miliknya hanya beberapa batang sebagai pembatas kebun. Selanjutnya, harga jual Kakao juga mengalami penuruhan harga dibanndingkan harga sebelumnya. 

"Kakao harganya pun turun dibandingkan harga sebebelum bulan puasa. Sebelumnya Harga Kakao berkisar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu perkilogram. Namun saat ini harga jual Kakao sebesar Rp18.000 perkilo gram. Meskipun setelah lebaran harga jual mencapai Rp15.000 hingga Rp17.000 perkilo gram. Naik Rp1000 dari harga setelah lebaran," ungkapnya. 

Ia mengaku bahwa saat ini dirinya hanya menjual Pinang sebanyak 10 kilo gram dan lumayan untuk tambahan penghasilan serta dirinya berharap harga jual Pinang terus mengalami peningkatan. Kemudian menjual Kakao sebanyak 7 kilo. Sebab, Kakao banyak yang sakit dan buahnya pun menghitam dan membusuk di batang. 

"Saya berharap ada sosuli dari pemerintah terkait untuk kembali menstabilkan harga jual Kakao dan Pinang, kemudian mencarikan solusi untuk mengatasi penyakit Kakao yang menghitam dan membusuk buahnya dibatang," paparnya. 

Rama As, 55, warga Kampung Teleng, Kelurahan Pasar,  Kecamatan Lemah Segar merupakan pengumpul komoditi perkebunan dan rempah-rempah menyebutkan bahwa harga jual Pinang saat ini mengalami kenaikan harga dibandingkan pekan sebelumnya. Saat ini harga beli Pinang di jual Rp13.000 perkilo gram dan harga jual berkisar Rp13.000 hingga Rp14.000 perkilo gram. 

"Harga beli komoditi perkebunan seperti Pinang saat ini mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan pekan sebelumnya hanya Rp17.000 perkilo gram. Naik Rp1000 perkilo gram dari harga biasanya," katanya.

Sementar itu, harga komoditi perkebunan lainnya seperti Kakao dan Kopi berkisar di beli dari petani sebesar Rp18.000 perkilo gram. Sedangkan harga jual Rp18.500 perkilo gramnya. Sedangkan harga Cengkeh juga mengalami kenaikan harga sebesar Rp5000 dari harga sebelumnya sebesar Rp95.000 perkilo gramnya. 

"Saat ini saya membeli Cengkeh dari petani seharga Rp100 ribu perkilo gram. Harga Kakao dan Kopi ini juga mengalami kenaikan dibandingkan dibandingkan Pekan sebelumnya. Kenaikan harga mencapai Rp1000 perkilo gramnya. Kenaikan ini disebabkan oleh berkurangnya produksi hasil kebun petani dan telah menjadi hukum dagang," ujarnya. 

Ia mengaku setiap Pekan hanya mampu mengumpul sebanyak 500 kilo pinang dari petani yang menjual ke pasar. Sedangkan untuk kakao dan kopi berkisar 200 kilo setiap pekannya. "Kalau sedang banyak penen petani, dalam sepekan kita bisa mengumpulkan pinang hingga mencapai 1 ton. Itu pun sangat jarang terjadi dan terpenuhi," katanya.

Tuesday, May 9, 2017

Produksi Kakao Sawahlunto Capai 60 ton Perbulan

Produksi Kakao sejak Januari 2017 mencapai 60 ton tiap bulannya dari 27 Desa dan 10 Kelurahan. 60 ton Kakau perbulan tersebut akan diupayakan me-manage-nya dan meningkatkan hasil produksi, dengan melakukan sambung samping Kakao. Hal ini agar bisa dimanfaatkan sebagai pilot project tiap desa dan kelurahan di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. 

"Produkai tersebut masih jauh dari harapan, karena selama ini adanya penyakit Kakao dan tidak tertutup kemungkinan kesalahan kita yang kurang memperhatikan dan merawat Kakao itu sendiri. Saya telah mencoba sejak tahun 2002 pada 300 batang kakao dengan cara sambung samping. Jika ini berhasil maka dihimbau kepada desa dan kelurahan untuk mengajak masyarakat memakai sambung samping," Ujar Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto, saat pidato pelantikan Kepala Desa Kubang Utara Sikabu, Kecamatan Lembah Segar, Selasa, 9 Mei 2017.

Ia mengatakan bahwa sambung samping Kakau tersebut bisa berhasil maka barulah akan disampaikan pada desa dan kelurahan agar bisa di bantu oleh desa dan kelurahan untuk melakukan penyuluhan terhadap masyarakat agar Kakao dikelola secara baik sehingga produksi kakao bisa ditingkatkan.

"Harga Kakau saat ini bisa berkisar Rp16.000 hingga Rp19.000 perkilo, harga tersebut masih normal. Untuk meningkatkan harga jual, maka karang taruna Lunto Barat dengan Peringkop akan melakukan kerja sama bagaimana memanfaatkan Kakao 60 ton perbulan tersebut dikelola menjadi pasta coklat," katanya.

Maka, lanjut dia, dari itu pemerintah kota di aggaran perubahan anggaran ini akan mencsngkan dana untuk memperbaiki UPTD yang ada di Muara Kalaban yang akan di kelola oleh Karang Taruna untuk membuat pasta yang lebih baik di kota Sawahlunto. "Desa Kubang Utara Sikabu telah pernah mengelola pasta tersebut dan sejatinya digerakan kembali sehingga potensi potensi yang ada bisa dimanfaatkan," paparnya.

Ia menambahkan bahwa untuk percepatan pembangunan dan kemajuan masyarakat sejahtera dengan memanfaatkan potensi yang ada. Hal itu telah dimulai sejak pemerintahan walikota Subari Supardi dengan membentuk pondasi budaya untuk menjadi kota tambang yang berbudaya tahun 2020. Kemudian, dilanjutkan dengan walikota Amran Nur (2008-2013) meletakan pondasi dasar Subari Supardi untuk pembangunan kota Sawahlunto. 

"Amran Nur (Alm) bagaimana ekonomi kerakyatan tersebut bisa dilaksanakan diantaranya dengan menanam kakao dan karet. Maka, tahun 2012 hingga saat ini gonjang ganjing harga karet dan kakao tidak menentu, dan tidak perlu putus asa dengan anjloknya harga karet dan kaku tersebut," tutuknya.

Ali Yusuf menjelaskan bahwa pemerintah kota telah melakukan berbagai kegiatan telah dilaksanakan sebagai langkah antisipasi yang dilakukan. Pada tahun 2013-2015 telah dilaksanakan pembibitan kakao dan karet di kota Sawahlunto. Ada sebanyak 1.250.000 batang bibit Kakao dan 1.500.000 bibit karet. Sementara kota Sawahlunto memiliki luas sebesar 23.345 m persegi, hanya 7 persen untuk lahan pertanian yang bisa di manfaatkan dari luas tanah yang ada.

"Tidak ada lagi lahan untuk menanam karet dan kakau, maka pemerintah kota mengajak dan menghimbau bagaimana mengelola serta memelihara kakao dan karet yang ada dengan baik, guna menambah penghasilan dan pendapatan keluarga dengan terpelihara secara baik," ujarnya.