Showing posts with label Artikel Musik. Show all posts
Showing posts with label Artikel Musik. Show all posts

Wednesday, November 1, 2017

SimFes 2017 Dimeriahkan Sisir Tanah Yogyakarta dan Musisi Dunia

Sawahlunto International Musik Festival (SimFes) 2017 pada hari Sabtu-Minggu, 4-5 November 2017 mendatang akan dimeriahkan oleh Sisir Tanah Yogyakarta. Sisir Tanah merupakan proyek musik asal Bantul - Yogyakarta yang didirikan tahun 2010. Sisir Tanah dibuat untuk mewadahi karya-karya Bagus Dwi Danto. Lagu-lagu Sisir Tanah berawal dari catatan-catatan yang ditulis Bagus Dwi Danto sebelum maupun sesudah tahun 2010. 

"Setiap catatan adalah perasaan-perasaan yang tersusun dari berbagai watak. Ada optimisme, sarkasme, humor, kegembiraaan, kekecewaan, dan juga kemarahan. Sejumlah lagu bicara soal-soal personal, beberapa lainnya berisi kritik sosial. Dalam rentang tema yang luas itu, benang merah yang menghubungkan pesan dalam lagu-lagu Sisir Tanah adalah cinta dan damai," ujar Syukri, Kasi Ekonomi Kreatif dan Kegiatan Kepariwisataan, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Selasa, 31 Oktober 2017. 

Ia menyebutkan bahwa nama Sisir Tanah diambil dari nama perkakas pertanian yang biasa dipakai untuk mengolah tanah, yakni garu. Bagi petani, garu berfungsi menghancurkan bongkahan tanah dan menggemburkannya sebelum ditanami. Sisir Tanah adalah padanan bahasa Indonesia untuk garu. 

"Setiap tahun SimFes selalu ditunggu dan dipadati pengunjung, khususnya pecinta musik etnik dalam dan luar negeri. Berbagai pengisi acara dari dalam dan luar negeri juga siap unjuk gigi di even yang sudah kali ke-8 diselenggarakan," katanya. 


"SimFes 2017 bertemakan “Fullmoon Heritage Wonderland” yang akan berikan sensasi lain untuk di nikmati pagelaran musik berlangsung. Sebab, selain sebagai pertunjukan musik etnik dunia, iven ini juga disuguhkan fenomena alam bulan purnama terbesar di tahun 2017," tambahnya. 

Ia mengungkapkan bahwa kegiatan pendukung lain dalam rangkaian SimFes 2017 Transfer Knowledge dengan materi Songket Silungkang. Songket akan mendapat seseion khusus untuk di presentasikan di stage selain juga akan ada both khusus Songket.  

"Workshop perkusi oleh Baood Debu, alat musik khas Turki yaitu Darabuka, juga akan ada workshop musik Flamenco khas Spanyol. Perserta workshop diikuti oleh masyarakat umum termasuk peserta," tuturnya. 

Selain itu, rangkaian SimFes 2017 pada tanggal 4-5 November ini akan ada Aksi Kampanye Bebas sampah "zero waste". Kegiatan ini juga menjadi content unik di SimFes, dengan melibatkan siswa dan siswi SLTP gabungan se sawahlunto sebagai Pilot Project. 

"Kegiatan ini dilatarbelakangi mendukung program piala ADIPURA sekaligus meningkatkan kesadaran pengunjung Pasca event untuk tidak meninggalkan sampah di lokasi acara," katanya. 

Thursday, October 19, 2017

SIMFes 2017 Kembali Digelar Tetap Mempertahankan Etnik Musik Dunia

Sawahlunto International Musik Festival (SIMFes) 2017 kembali di gelar di Sawahlunto. SIMFes merupakan agenda rutin dan agenda ikon untuk ivent tahunan di Sawahlunto. SIMFes tetap mempertahankan etnik musik Dunia sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat di seluruh Dunia. Sawahlunto memiliki cita-cita besar sesungguhnya yakni 'dari Sawahlunto untuk Dunia' dalam mempertahankan musik etnik. SIMFes 2017 merupakan ke 8 yang akan di gelar pada tanggal 4 dan 5 November yang berlokasi di taman lapangan Segitiga Sawahlunto. 

"SIMFes 2017 ini dengan tema "Fullmoon Heritage Wonderland". Kenapa diambil tema fullmoon sebab, berdasarkan ilmu astronomi dari tanggal 3 November merupakan bulan purnama terbesar dan terpenuh sepanjang tahun 2017, makanya mengambil tema berdasarkan nilai keunikannya heritage Wonderland, yakni kota Pusaka peninggalan sejarah yang menjadi tema tahun ini," ujar Efriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, kepada Penulis Selasa, 17 Oktober 2017. 

Ia menyebutkan bahwa kegiatan SIMFes akan dimeriahkan oleh musisi International, Musisi Nasional dan musisi lokal. Kemudian negara yang akan berpartisipasi dan telah konfirmasi sampai dengan kondisi saat ini ada tiga negara, yaitu musisi asal Zimbabwe musisi asal Turki dan musisi asal Spanyol. 

"Konfirmasi jumlah personil belum ada karena konfirmasi group masih dengan ivent organizer (IO), khusus untuk kegiatan SIMFes," katanya. 

Ia menjelaskan bahwa SIMFes 2017 merupakan ke 8 dan menjadi pembeda dari tahun sebelumnya terutama dari segi tema yang dipilih. Kemudian jenis jendre musik yang ditampilkan adalah jendre musik "Folk Etnik" (lebih kepada jez). Kemudian yang ditawarkan tahun ini adalah dalam konsep penyajian acara SIMFes 2017. 

"Sesungguhnya kita menginginkan SIMFes ini untuk pasar Internasional tanpa mengabaikan warga Sawahlunto agar dapat menikmati. Artinya SIMFes dikemas dalam konsep "Ol Indi One Destination", kemudian dengan tempat kuliner yang lebih nyaman sehingga acara dilaksanakan pada siang hingga malam hari," sebutnya. 

Kemudian lanjut Efriyanto, pada siang hari di isi dengan kegiatan pembekalan dan sarasehan musik bagi masing-masing musisi. Sehingga ada nilai edukasi yang dapat diambil dari kegiatan SIMFes, tidak hanya semata hiburan. Kemudian konsep SIMFes 2017 bukan hanya ivent intertain saja tetapi adalah ivent yang mempunyai muatan khusus. 

"Semenjak SIMFes pertamakali diadakan hingga SIMFes ke 8 adalah muatan bagaimana kita memberikan apresiasi terhadap musik-musik etnik yang ada di Dunia. Salah satu bentuk apresiasi itu adalah digelar festival dan ivent. Sehingga etnik musik Dunia ini tetap di nikmati oleh masyarakat di seluruh Dunia. Jadi, kita memiliki cita-cita besar sesungguhnya yakni 'dari Sawahlunto untuk Dunia'," lanjutnya. 

Ia mengaku bahwa hal inilah yang di usung SIMFes sesungguhnya sejak awal SIMFes itu ada. Maka penyelenggaraan SIMFes tetap bertahan dengan konsep Internasional, tidak hanya mempertahankan musik etnik lokal saja, tetapi ada tiga kelompok musik yakni Internasional, Nasional dan Lokal. 

"SIMFes 2017 ini penyelenggaraannya dari APBD kota Sawahlunto sekitar Rp300 juta, kemudian pihak sponsor bantuan dari luar yang dikelola oleh Ivent Organizer," katanya

Monday, October 10, 2016

Teater Jengkal Bengkulu tampil di Panggung SimFes 2016




Musik JE Ensamble : Teater Jengkal Bengkulu
Musik dol merupakan alat musik tradisi Bengkulu yang dimainkan saat kegiatan Tabot peringatan 1 Muharram tahun Hijriyah. Alat musik dol merupakan alat musik perkusi yang kemudian dipadukan dengan melodi-melodi daerah lain digarap oleh Teater Tengkal Bengkulu. Kelompok teater ini lahir pada tahun 2011 dengan jumlah anggota lebih dari 40 orang. 

Kelompok teater ini pun membidangi sastra, Musik Je Ensamble, Teater dan Sinematografi. Pemainan musik Je Ensamble yang terdiri dari sembilan orang menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Kemudian membidangi musik tersebut yang di beri nama Je Ensambel yang didirikan pada tahun 2015 lalu. Sehingga Teater Jengkal Bengkulu pun akhirnya punya kiprah dalam bidang musik etnik yang kemudian di perkanalkan kepada masyarakat luas.
 
Persiapan mengkuti Sawahlunto International Musik Festival (SimFes) 2016 tersebut untuk pentas ke Kota Sawahlunto di lakukan persiapan latihan selama dua bulan. Konsep musik dengan mambawakan ensamble etnik dan musik modern. Menggabungkan dua jenis musik, yakni etnik tradisi Bengkulu dan modern. Penggabungan tersebut di coba untuk digali agar, sehingga hasilnya menjadi sebuah kemasan baru terhadap musik etnik Bengkulu. Tetapi tetap berakar dari musik etnik Bengkulu ditonjolkan.

Jenis musik yang ditampilkan dari unsur etnik alat musik yang digunakan adalah Dol, Poya, Gandai, Kjai dai sumberjang. Kemudian, ada melodi-melodi musik tradisi dari daerah selatan Bengkulu. Semua jenis melodi etnik dari sembilan kabupaten kota di provinsi Bengkulu digabungkan.

"Aransemen musik yang mencoba menggabungkan bebagai instrumen musik yang ada di provinsi Bengkulu. Sebuah karya yang didasari oleh unsur melayu menjadikan instrumen musik yang lebih fresh, variatif serta kekinian. Sehingga menjadikan aransemen musik dengan kemasan baru, tanpa menghilangkan unsur etnik itu sendiri," ungkap Andika Eri Putra Ketua Umum Teater Jengkal Bengkulu, Padang Harapan, Kapuas IV Kota Bengkulu, kepada penulis, Sabtu, 8 Oktober 2016.

Ia menyebutkan bahwa penggaran musik je ensambel tersebut pesan yang ingin disampaikan dalam penggarapan musik tersebut adalah Bengkulu mempunyai unsur dan instrumen musik yang kaya. Tetapi belum digali dan belum tergarap dengan baik musik etnik atau tradisional tersebut.

Group Je Ensamble yang lahir pada tahun 2015 mencoba menggali kembali jenis musik etnik yang dimiliki untuk diperkenalkan kepada masyarakat. Sehingga instrumen-instrumen musik tradisi yang ada di Bengkulu di cemas secara modern.

Komunitas ini sendiri pernah tampil memenuhi undangan, Bulungan membawa pertunjukan teater. Kemudian, pada malam ini tampil di SinFes dan saat ini sedang melakukan persiapan pada bulan november mentas di Jambi. Hingga saat ini persiapan yang telah dilakukan adalah selalu latihan rutin sekali dalam seminggu. Kemudian, latihan perhari masing-masing untuk melakukan penggalian seni budaya dan etni. Kemudian latihan kolektif dilakukan sekali dalam seminggu.

Sementara itu, Ali Yusuf Walikota Sawahlunto menhimbau kepada warga kota sawahlunto serta peserta SimFes yang hadir malam ini berpartisipasi dalam menyukseskan acara ini. Melalui SimFes 2016 ini jika ada terdapat kekurang dalam penyelanggaraannya diharap masukan dan kritikannya, sehingga menjadi bahan efaluasi. Maka pada tahun mendatang, penyelenggaraan SimFes akan menjadi lebih baik dari sekarang.

"SimFes sebelumnya diselenggarakan tidak memakai tema. Namun tetap fokus pada bagaimana musik tradisional yang ada di manca negara berkumpul di kota Sawahlunto ini. Maka, banyak komunitas dan sanggar serta musisi lokal bermunculan di kota ini, sebagai dampak dari penyelanggaraan SimFes tersebut," ungkap Ali Yusuf Walikota Sawahlunto pada penutupakan acara tersebut.

Ia melanjutkan selain bermunculan komunitas di kota Sawahlunto namun budaya juga memiliki perkembangan di kota ini. Kemudian, efek yang muncul selama penyelenggaraan SimFes 1-6 tersebut banyak bermunculan eksistensi budaya lokal yang selama belum tergubris. "Sehingga musik-musik tradisi pun banyak lahir di sawahlunto, seperti kuda lumping, ok buana lestari, dan sebagainya. Maka pemerintah kota, sangat mendukung kegiatan-tersebut sehingga menjadi momentum untuk promosi daerah," katanya.

Sawahlunto International Music Festival (SimFes) Perlihatkan Musik Etnik Dunia



Bunyi serine voojrider patwal petugas mengiringi mobil RI 31, Jumat, 7 Oktober 2016 pukul 20.00 menuju Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) meresmikan pameran hasil industri Ekonomi kreatif Sawahlunto. Pameran tersebut merupakan rangkaian agenda Sawahlunto Internasional Music Festival (SimFes) ke 7.

Oleh : Julnadi Inderapura

Tantowi Yahya : Musik Countrye
Berbagai jenis keranjikan tangan dihadirkan dalam pameran tersebut, seperti pot bunga dari anyaman bambu, payung kertas dan bahan baku bambu. Tempat bingkisan tersebut dari bambu serta Songket Batubara, sofa, aneka sarung bantal. Pameran tersebut dibuka dengan pemotongan pita oleh Menteri Ketenaga kerja, Hanif Dhakiri, didampingi oleh Ali Yusuf walikota Sawahlunto serta Tantowi Yahya Anggota DPR RI.

Usai memperkenalkan pameran serta meresmikan, rombongan langsung menuju panggung utama SimFes, disambut dengan musik kota Arang. Musik yang ditampilkan tersebut kolaborasi etnis Jawa, Batak dan Minang sembari rombongang RI 31 duduk dikursi tamu yang disediakan. Musik tersebut berdurasi kurang lebih 15 menit, lalu diambil alih oleh pembawa acara, sehingga acara pembukaan secara resmi akan dimulai.

Sawahlunto International Music Festival (SimFes) merupakan festival musik komposisi etnik, modern dan kontemporer di kota Sawahlunto. Sebuah garapan event kesenian yang dijadikan wadah untuk menuangkan ide-ide kreasi tanpa batas dalam dunia musik bagi seniman dan musisi itu sendiri. Festival ini mampu memperlihatkan keragaman musik dari berbagai etnik dunia, sehingga dapat mengembangkan dialog budaya antar bangsa berdasarkan semangat bhineka.

Edi Utama, Kurator Sawahlunto International Musik Festival (SimFes) menyebutkan bahwa SimFes ke 7 ini akan berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu, 7-8 Oktober 2016 di Lapangan Segi Tiga (Lapseg) PT Bukit Asam Kota Sawahlunto.

"SimFes kali ini menghadirkan Kingdom of Daykanyama, asal Jepang Group Alena Murang Art asal Malaysia Group Mariama dan Vieux asal Africa, dan Group duo Decker_Malempre asal Belgia merupakan menampilkan seni tradisi yang hidup di masyarakat Belgia. Sebagai sebuah tradisi faktual yang begitu banyak memberikan pengaruh. Mestinya memang kemungkinan-kemungkinan akan bisa dilahirkan membawa pengaruh dalam ajang SimFes untuk mengekpresikan tentang keragaman itu sebagai loyalitas masa kini," ungkapnya saat memberikan sambutan waktu pembukaan SimFes ke 7.

Selain itu, lanjut dia, Simfes tahun ini juga ada teman-teman dari Bengkulu yang juga mengisi panggung SimFes ini. Group Je Ensamble dari Bengkulu, akan membawakan musik tradisi Dol, musik perkusi yang biasa dimainkan pada saat Tabot. "Kemudian, malam ini sebetulnya ada seorang tokoh dan musisi dari Jakarta tokoh countrye dan seorang sonator juga yang akan menjadikan malam lebih istimewa yakni Tantowi Yahya. Beliau juga berimigrasi dari sebuah seni tradisi yang besar dan mengembangkan musik tersebut di Indonesia," katanya.

Ia menyampaikan rasa terimakasih, kepada pemerintah kota telah mendukung SimFes sebagai sebuah ivent yang penting di kota ini. Sehingga hingga saat ini SimFes masih berlanjut sebagai perayaan budaya dan keberagaman dalam konteks loyalitas terhadap keberagaman di dunia ini.

Hanif Dhakiri, Menteri Ketenagakerjaan mengatakan bahwa Sawahlunto Internasional Musik Festival (SimFes) merupakan suatu terobosan yang sangat baik untuk mempromosikan potensi terbesar yang ada di Sawahlunto terutama industri kreatif dan pariwisata. 

"Saya kira daerah-daerah mengembangkan potensi sesuai dengan potensi yang ada di daerah tersebut tentu hal ini akan memudahkan promosi dan branding dari pada daerah yang bersangkutan. Tentu saja dalam konteks ini, kementerian ketenaga kerjaan akan mesuport sesuai bidang tugasnya, yaitu misalnya membantu memberikan pelatihan-pelatihan kerja agar masyarakat ini terus bisa mengembangkan kewisausahaan maupun masuk pada industri kepariwisataan," katanya.

Ia melanjutkan bahwa SimFes ini kedepan diharapkan seluruh warga bangsa indonesia untuk datang ke Sawahlunto, menikmati keindahan sawahlunto dan industri kreatif, kuliner dan pariwisata Sawahlunto. SimFes pada tahun ini telah di propokatif oleh walikota ketika datang ke kantor dikatakan bahwa SimFes ini merupakan ajang promosi karya industri kreatif yang ada di Sawahlunto.

"SimFes ini dan seluruh industri kreatif di sawahlunto ini akan berdampak positif terhadap perluasan kesempatan tenaga kerja. Sehingga industri kreatif ini banyak orang yang akan terserap dalam industri kreatif yang akan di promosikan tentunya dalam ajang SimFes ini. Maka, malam ini menjadi luar biasa dan banyak promosi industri kreatifnya," ungkapnya.

Meskipun, SimFes malam ini tidak mengankat tema musik country, tetapi lebih pada industri musik di indonesia berkembang pesat. Talenta anak muda indonesia juga berkembang luar biasa. Namun, menjadi kendala adalah bagaimana memberi ruang kepada talen-talen yang ada di indonesia ini. Maka, forum-forum dan festival musik semacam ini akan sangat penting untuk memberi ruang kepada generasi muda yang bergerak di bidang kreatif termasuk musik.

"Kedepan diharapkan SimFes ini tetap dilaksanakan setiap tahun dengan kualitas yang lebih baik. Kemudian saya berpesan kepada peserta untuk mengajak dan mempromosikan kegiatan ini di daerah dan negara mereka masing-masing," tuturnya.

Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto mengatakan SimFes ini tentu perlu ada kerja sama dengan siapapun yang dibuat. Contohnya pada hari ini dengan datangnya meteri ke sawahlunto, pasti menteri tersebut memiliki jaringan yang banyak. Sehingga hal ini akan menjadi wadah promosi bagi sawahlunto, baik itu melalui akun media sosial (sosmed) yang bersangkutan. Kehadiran pejabat negara ini akan menjadi wadah promosi yang lebih berbeda.

"Selama dua bulan ini, kita bersykur ke pada tuhan yang maha esa dua menteri hadir di kota ini. Pada tanggal 24 Agustus lalu, Khofifah Indar Parawansa menteri Sosial datang ke kota ini dan hari ini, kmudian menteri Ketenaga Kerjaan, Hanif Dhakiri hadir ke kota Sawahlunto. Hal ini menandakan merakyatnya pemerintah kepada masyarakat. Kemudian, seorang musisi dan juga senator anggota DPR RI, Tontowi Yahya merupakan salah satu partai golkar yang sama-sama terus mengakomodir inspirasi dari masyarakat. Hal inilah, kota tambang yang berbudaya menghendaki terus ada uluran tangan dan campur tangan pemerintah pusat," katanya.

Kalau sudah dua lembaga negara ini, eksekutor, eksekutif, ornamen, legislasinya maka kita yakin dan optimis apa yang dibuat dikota ini akan menjadi sesuatu yang berdampak positif serta multi efek dan berdampak kepada masyarakat kota sawahlunto dalam rangka ekonomi kerakyatan. perjanjian dan yel-yel setiap pertemuan yang kita lakukan di kota ini.

"SimFes merupakan salah satu wadah untuk promosi daerah, maka dapat kami sampaikan dan dilaporkan kepada menteri kota sawahlunto adalah sebuah kota kecil yang berada di sebelah utara provinsi sumbar. Peninggalan belanda tambang batu bara sudah tidak lagi berfungsi dan tidak eksis lagi untuk ditambang oleh perusahaan BUMN yang selama ini oleh PT Bukit Asam. Maka, sudah barang tentu peralihannya kepada pariwisata. Untuk itu, wisata sendiri butuh marketing dan promosi. Salah satunya adalah ivent yang dibuat di kota Sawahlunto ini sehingga apa yang menjadi tujuan utama dan bisa hidup sejajar dengan kota-kota lain," jelasnya.

Maka destinasi wisata Sumatera Barat menjadi dinesti wisata yang ada di nusantara ini adalah bentuk ivent yang dilaksanakan. Berbagai ivent dalam berbagai bidang telah dilaknakan untuk menunjang dan bagian promosi wisata daerah. Pemerintah meyadari bahwa promosi wisata daerah tidak hanya didalam, perlu datang dari luar. Karena Bali saja butuh waktu 50 tahun untuk bisa dikenal, apalagi kota sawahlunto yang sangat terbatas ini.

Kemudian, dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan badan industri ekonomi kreatif telah mengajak dan menghimbau memberikan pelajaran kepada Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di Sawahlunto, khususnya songket Silungkang, bagaimana pengusaha muda ikut berpartisipasi dalam ivent yang dilaksanakan.

Kemudian SimFes ini juga disupor oleh Garuda dengan penerbangan yang telah mendunia dan dikenal. Maka SimFes merupakan salah satu wadah dan momentum untuk mempromosikan kota ini. Upaya yang telah dilakukan dalam mempromosikan kota sawahlunto terus berkelanjutan secara teroganisir. Kemudian, terus dilakukan pembenahan sehingga tamu yang datang ke Sawahlunto, mereka akan memberikan masukan kepada pemerintah, sehingga dapat di ketahui apa saja yang menjadi kebutuhan bagi pengunjung di sawahlunto.

Sebab, kota sawahlunto merupakan cakar budaya dan suasana alam yang dimiliki seperti Puncak Cemara, Puncak Polan dan Wisata Kandih. Sehingga hal itu akan menjadi brand sebagai wisata tambang yang berbudaya. Kemudian, Sawahlunto mempunyai pahlawan Nasional yakni Muhammad Yamin, merupakan bapak demokrasi bangsa ini yang cukup bermanfaat. "Dengan demikian kota ini akan menjadi salah satu kota wisata Sumatera barat dan bahkan nasional. Target tahun sebelum tahun 2020 kota ini telah menjadi kota wisata," ungkap Ali Yusuf.

Wednesday, October 5, 2016

Sawahlunto Internasional Music Festival, H-3 Hunian Hotel Masih Sepi

Sawahlunto Internasional Musik Festival
Sawahlunto Internasional Music Festival (SimFes) merupakan festival musik komposisi etnik, modern dan kontemporer di kota Sawahlunto. Sebuah garapan event kesenian yang dijadikan wadah untuk menuangkan ide-ide kreasi tanpa batas dalam dunia musik bagi seniman dan musisi itu sendiri. Festival tersebut mampu memperlihatkan keragaman musik dari berbagai etnik dunia, sehingga dapat mengembangkan dialog budaya antar bangsa berdasarkan semangat bhineka.

SimFes ke 7 akan berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu, 7-8 Oktober 2016 di Lapangan Segi Tiga (Lapseg) PT Bukit Asam Kota Sawahlunto pada H-3 belum diminati pengunjung. Hal itu disebabkan masih kurangnya daya minat pengunjung dan promosi meskipun kegiatan itu bertaraf Internasional lintas lima Benua. Hingga kini penghuni hotel masih sepi dari pesanan baik lokal maupun manca negara.

Defrizal Manajer Ombilin Hotel menyebutkan hingga saat ini belum ada penasanan kamar hotel untuk iven SimFes ke 7. "Sampai siang ini belum ada pesanan kamar hotel dan masih dingin saja. Belum ada bokingan kamar hotel kususnya untuk kegiatan SimFes pada tanggal 7-8 mendatang. Biasanya pada iven-iven seperti ini semua kamar telah diboking seluruhnya. Tetapi untuk SimFes diam-diam saja," ungkapnya kepada penulis Selasa, 4 Oktober 2016.

Ia melanjutkan bahwa meskipun ada bokingan terhadap dua kamar, namun menanyakan kamar saja dan belum di blok. "Jika ada pesanan kamar hotel tentu harus jelas instansinya apa. Kalau penanan kamar hotel secara individi tentu kita mintakan deposit atau uang mukanya. Sampai hari ini tanggal 4 Oktober belum ada bokingan," katanya.

Ia menyebutkan bahwa pesanan melalui resepsion juga belum ada. Ada erektur yang berencana untuk melakukan pesanan kamar, namun belum ada pengembalian. Jika dibandingkan dengan tahun lalu untuk hunian kamar hotel pada iven yang sama, lebih banyak di homesty. Sementara tamu kita hanya individu saja.

"Mestinya untuk sebuah iven katakanlah ulang tahun kota, tourde Singkarak misalanya. 15 hari sebelum acara berlangsung semua hotel kamar hotel telah penuh. Tapi hingga saat ini tamu hotel yang memboking kamar pada tanggal 7-8 tersebut belum ada sama sekali," ungkapnya.

Kemudian lanjut dia, ada tamu dari padang yang memesan kamar beberapa hari lalu, telah diupayakan untuk konfirmasi namun belum juga bisa tamu tersebut memastikan. "Pada iven SimFes kali ini kita hanya menunggu tamu datang untuk memesan hingga siang kini belum ada tanda-tanda. Bebeda dengan iven-iven yang lain, biasya jika berdekatan dengan hari acara semua kamar hotel telah penuh," akunya.

Ia menjelaskan bahwa andai kata pembokingan kamar hotel lebih dari kamar, baik itu individu maupun instansi, pada Oktober ini akan ada harga khusus. Tetapi bulan depan full red tidak ada diskon, namun bisa dilihat berdasarkan situasi. "Kalau pengunjung SimpFes tersebut dilihat berdasarkan klasnya. Jika tingkat huniannya biasa-biasa saja maka akan ada harga khusus," ungkapnya.

Semetara itu, ombilin memiliki 21 kamar dengan lima tipe, Sweet dua kamar, junior dua kamar, standar 13 kamar. Harga kamar Rp250 ribu hingga Rp600 permalam. Kemudian untuk kamar hotel telah inklut dengan sarapan, bubur, nasi goreng, lontong, roti dan makan. Harga hamar hotel untuk inklut ini sudah termasuk sarapan pagi di restoran.

"Kalau tamu itu, meminta menu yang beda dari yang tersedia, tetap disediakan, namun tamu itu kena cas. Kalau makan malam kita tidak menyediakan tetapi menu tersedia di restoran. Menu yang disediakan spesial masakan padang menyediakan gulai tunjang dan samba lado ijau ayam kampung," tambah Defrizal.

Senada disampaikan Dedy Mardius, Manager Parai City Garden Hotel Sawahlunto menyebutkan bahwa hingga saat ini tingkat pesanan kamar hotel baru mencapai 70 persen dari jumlah kamar yang ada. "Hingga kini tamu yang memboking via online dari peserta, namun pada umumnya dari pengunjung. Cek in satu hari sebelum hari H atau H-1," ungkapnya.

Ia melanjutkan bahwa dibandingkan tahun lalu memang ada pergeseran hunian hotel lebih banyak yang memesan melalui via online dari peserta, termasuk dari penonton itu sendiri. Sebab pada iven SimFes itu sendiri dlibatkan dari foto grafer. "Kita memiliki 40 kamar dengan kisar harga kamar biasa Rp471 ribu perkamar," katanya.

Kalau untuk kunjungan wisatawan ke Sawahlunto yang menjadi daya tarik dan menjadi sebuah kelebihan cukup baik dalam artikata mempromosikan Sawahlunto keluar. Karena kegiatannya tidak hanya dibungkus dengan iven musik namun juga diperankan poto grafer dalam membantu publikasi. "Efeknya sangat berpengaruh untuk promosi keluar, sebab hasil karya poto grafer tersebut di publikasikan keluar terutama media sosial (medsos)," ungkapnya.

Ia melanjutkan untuk iven Simfes ini bentuk dukungan Parai adalah publikasi dan harga khusus dengan harga korporet. Tetapi untuk pembokingan melalui via online juga telah ada kerjasama. "Harga perjanjian kerja sama dengan pemerintah dan pihak penyelenggara untuk peserta. Kemudian, penikmat SimFes akan diberikan harga khusus. Ini merupakan bentuk wujud kepedulian kita dalam mendukung Simfes tersebut. Kita akan memberikan diskon mencapai 20 persen," katanya.

Ia menjelaskan bahwa disamping itu, Parai juga menyediakan menu khusus seperti menu westron atau masakan Eropa serta makanan cines food kemudian menu lokal. "Masakan lokal rata-rata pendatang itu lebih banyak berminat pada menu-menu lokal dibandingkan masakan luar. Kalau pengunjung dari luar negeri ada beberapa yang telah memboking kamar. Pada bule tersebut kita juga akan memperkenalkan masakan lokal karena Parai lebih spesifik masakan lokal. Namun, untuk perhotelan terpenting adalah keamanan dan kenyamanan sebagai wilayah prifasi," katanya.

Sementara itu, Erman Kepala Kantor Perhubungan menyebutkan bahwa untuk persiapan menjelang SimFes telah dilakukan penataan parkir kendaraan roda dua dan empat. "Parkir kendaraan VIP di depan PT Bukit Asam, kemudian diikuti oleh penjunjung lain dibelakangnya mampu menampung sekitar 30 kendaraan roda empat. Selanjutnya, sebelah barat PT BA, kemudian Gedung Pusat Kebudayaan (GPK), kampung Teleng sampai Arah Pasar. Selanjutnya, lubang tembok sampai ke Kantor Dinas Pariwisata," katanya.

Ia melanjutkan bahwa pada acara SimFes tersebut tidak ada pengalihan arus lalu lintas dan masih normal seperti biasa. Namun, tentu ada pengawasan dari petugas. "Untuk retribusi secara hukum atau perda belum ada dan tidak ada pemungutan parkir pada iven SimFes tersebut," ungkapnya.

Monday, September 5, 2016

Adril Janggara, akrab disapa Mbah Bud Weiser (BW), ajarkan Musik Keroncong pada generasi muda (1)



Mbah BW pencinta seni dan budaya bertekat untuk tetap mempertahankan musik keroncong agar tidak mati di telan zaman. Meskipun musik keroncong kurang di minati generasi muda, namun tetap mengajarkan pada generasi muda. Bagaimana kisahnya?
 
Sawahlunto : Julnadi Inderapura

Adril Janggara abrab disapa Mbah Bud Weiser
Malam mulai sepi. Lampu jalan tampak redup dari kejauhan. Sayup-sayup mata memandang di ujung jalan Kota Sawahlunto. Sementara lampu-lampu teras rumah penduduk tampak kerlap-kerlip dibalik dedauanan ditiup angin sepoi-sepoi. Sebab, kota nan hijau oleh pepohonan itu yang menutup cahaya lampu. Malam nan dingin itu, hanya sesekali kendaraan melintasi jalan.

Ada banyak nama yang diberikan oleh masyarakat untuk kota bersejarah ini. Kota Sawahlunto ini disebut juga kota Tambang peninggalan Belanda. Kota ini pun dinamakan pula Kota Arang, karena banyak mem- produksi batu bara dari tahun 1809 hingga saat ini. Selanjutnya, kota ini pun disebut kota Kuali karena berbentuk kuali yang di kelilingi bukit, terutama dikelilingi puncak Polan dan Puncak Cemara yang menjadi objek wisata banyak diperbincangkan karena keindahan pemandangan serta dapat melihat seluruh kota Sawahlunto yang mungil dan unik serta multi etnis itu.

Kota Wisata Tambang Berbudaya tersebut terdiri dari empat Kecamatan, 27 Desa dan 10 kelurahan dengan luas 275 Km2 persegi dengan ketinggian 362 dari permukaan air laut. Di kota ini pula, ada seorang tokoh pengembang musik keroncong yang masih eksis hingga saat ini. Adril Janggara, akrab disapa Mbah Bud Weiser (BW) kelahiran tahun 1961, istrinya bernama Yusnita dan dikaruniai dua orang anak.

Mbah BW pencinta seni dan budaya bertekat untuk tetap mempertahankan musik keroncong agar tidak mati di telan zaman. Musik keroncong yang memadukan berbagai jenis alat musik seperti alat musik Selo, Kontra Bass, Flute, biola, gitar, ukulele dan cak. Untuk mendapatkan alat musik tersebut baginya tidaklah mudah dan harus dibuat sendiri seperti ukulele, kontrabass dan celo. Meskipun alat musik kontrabas dan celo tersebut merupakan peninggalan masa penjajahan Belanda, seperti kontrabas dan celo. Namun, alat musik kortabas dan celo yang tersisa hanya tangkainya saja karena tak terawat dan dimakan usia karena umurnya telah puluhan tahun. Kemudian dari tangkai tersebut baru dibuatkan body kontrabas agar bisa dimainkan.

Pembuatan alat musik kontra bass itu hanya meniru yang telah ada, sebab contoh kontra bass dari luar telah ada berdasarkan gambar, tatapi bukan dengan diameter yang pas, karena ukurannya memperkirakan saja. Makanya, kontra bass yang di pakai pun tidak sama besar dengan ukuran alat musik kontrabass yang aslinya. Alat musik kontra bass itu sendiri, berbeda-beda jenis dan ukuran bergantung pada steman alat musik untuk memainkannya.

Meskipun demikian, untuk pembuatan body kontrabas dan cello tersebut tetap memakai rumus, seperti ukuran lebar, ketebalan body, sebab ruang resonansinya harus di pertimbangkan untuk menentukan kualias bunyi. Sementara itu, steman alat musik cello saat memainkan musik keroncong dengan senar I- D, senar II-G senar III-D. Kemudian kontra bassnya juga demikian, D-G-D.

Ia menceritakan alat musik Kontra bass yang dimainkan dimasa penjajahan Belanda ada benang khususnya, yakni tali (senar) aslinya terbuat dari kulit sapi. Cara pembuatannya kulit tersebut direndam atau direbus terlebih dahulu kemudian di jalin. Namun, saat ini senar alat musik kontra bass yang dimainkan terbuat dari benang. Sebab, senar alat musik kontra Bass yang asli peninggalan zaman Belanda dulu terbuat dari kulit tersebut telah habis dimakan tikus, karena alat tersebut tidak terawat dengan baik. Makanya ia bertekat untuk melestarikan alat musik keconcong tersebut agar musik keroncong tetap tumbuh dan berkembang di kota tua itu.

Ia mengaku belajar musik keroncong secara otodidak dengan melihat secara langsung orang memainkan musik keroncong lalu mencoba. kemudian mendengar musik lalu mempraktekkannya dengan menyamakan bunyi tersebut. Karena rasa ingin tahu yang tinggi akhirnya sehingga ia banyak bertanya pada orang yang memainkan musik keroncong lalu mencobanya.

Meskipun belajar musik keroncong secara otodidak, namum banyak komunitas keroncong yang telah dibuat agar di kota Tua musik keroncong tetap ada dan tidak mati. Ada beberapa kolompok telah dirintisnya, seperti keroncong Pak Mo dari Tansi, 2015, keroncong Tanjung Sari 2013, Keroncong Oka Lapangan Segi Tiga (Lapseg) 2012, kemudian Keroncong Sapu Jagat, 2015. Ia mengaku setelah keroncong didirikan, lalu ditinggalkan dengan tujuan agar keroncong tersebut lebih mandiri dan berkembang, sehingga musik keroncong ini tetap tumbuh dan berkembang.

Setelah itu, Mbah BW mendirikan kembali group Keroncong Buana Lestari 24 November 2014 dan telah berbadan hukum. Sejak berdiri group tersebut banyak diminati generasi muda. Sementara, ketika musik keroncong tersebut telah berdiri lalu ditinggalkan, namun keroncong tersebut mati. Sangat disayangkan bahwa musik kerongcong yang telah dibangun tersebut harus di monitoring terus. Jika tidak demikian, maka koroncong tersebut akan mati sama halnya dengan sebelumnya. Terpenting mereka mau bermain saja dan mempertahankan musik keroncong itu lebih baik.

Kalau group Buana Lestari yang dipimpinya itu tidak memakai alat musik gendang, karena mempertahankan keaslian musik keroncong itu sendiri. Berangkat dari asal-muasal musik keroncong itu berasal dari Fortugis yang dibawa ke Indonesia dimasa penjajahan dan semula musik keroncong berkembang di Ambon. Kemudian musik keroncong tersebut berkembang di pulau Jawa, lalu menyebar di seluruh Indonesia termasuk Kota Tambang ini.

"Makanya musik keroncong ini tetap dihidupkan kembali dan dipertahankan dengan cara mengajarkan musik keroncong ke generasi muda untuk bermain musik keroncong. Ada beberapa generasi muda yang telah bisa bermain musik keroncong, terutama anak Komunitas Kuali, namun belum begitu menjiwai musik keroncong tersebut. Sebab, anak muda saat ini terpengaruh sengan band, sehingga belum menjiwai musik keroncong tersebut," ungkapnya saat ditemui di kedai kopi miliknya Jumat, 5 Agustus 2016 di depan kantor Dinas Pariwisata.

Ia menyebutkan bahwa musik keroncong itu sendiri telah ada di Kota Sawahlunto sejak tahun 1930-an pada masa penjajahan Belanda, meskupun telah pernah hilang dan fakum kemudian dihidupkan kembali. Kemudian di era tahun 1960-an ada satu group musik keroncong Kenari. Musik kerencong ini merupakan musik keroncong tertua yang pernah ada di kota Arang ini. Selanjutnya, pada tahun 1970-an muncul musik keroncong Peta dan musik Keroncong Anak Desa Sikalang.

"Saat ini generasi mudah hanya beberapa orang saja yang telah menjiwai musik keroncong seperti Riano Firaniko, Jesi Prima, dan Bara.  Sedangkan yang lain masih meraba-raba. Musik keroncong ini hingga kini digemari dari semua kalangan untuk melestarikan budaya lama sejak masa penjajahan. Maksudnya budaya peninggalan, sebab musik keroncong ini dibawa pada masa penjajahan Belanda," sebut lekali berkumis tebar ini.

Ia juga mengajarkan pakem-pakem musik keroncong ke pada generasi muda. Sebab, musik keroncong tersebut terdiri dari beberapa pakem (bagan) seperti part atau bagian yang harus dilalui dalam bermain musik keroncong. Seperti memperkenalkan bermain keroncong setelah intro lute dengan memaikan musik dengan tempo cepat. Sebagai pembeda pekem keroncong tersebut misalnya, satu bait harus ada intro putar. Kemudian untuk bait kedua mutar dan habis intro putar kembali ke musik awal. Seperti masuk dengan diawali alat musik Flute, viol, gitar, semuanya bergantian.

Ada beberapa jenis musik keroncong, seperti langgam, stambul, dan keroncong dolanan jenis musik keroncong hiburan atau musik keroncong jenaka dengan artian lebih banyak menyanyikan lagu-lagu gembira. Hanya saja, masuk musik tersebut bisa diawali dengan ukulele. Namum pakem-pakem musik tersebut banyak yang tidak dikuasai oleh kelompok musik keroncong tersebut.

"Kalau langgam, intro musik diberengi langsung dengan lagu sepenggal perbait. Langgam keroncong ini hampir sama dengan dengan musik pop. Berbeda dengan stambul di dahului dengan suara kemudian masuk lagu kemudian disambut musik. Artinya lagu dulu baru musik," akunya.