Showing posts with label Ekonomi Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi Bisnis. Show all posts

Sunday, August 6, 2017

Pacu Jawi Sawahlunto Tingkatkan Ekonomi Kerakyatan

Ismed, Wakil Walikota Sawahlunto mengabarkan berdera star
Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 Sawahlunto gelar Pacu Jawi pertamakali di Desa Batu Tanjuang, Kecamatan Talawi. Kegiatan Pacu Jawi atau pacu sapi tersebut diikuti sebanyak 150 Jawi banyak di buru fotografer luar negeri dan dihadiri 35 fotografi internasional. Pacu Jawi merupakan budaya anak nagari dalam menyambut pesta panen raya. Sehingga Pacu Jawi di laksanakan di areal persawahan petani yang berair. 

Para penonton telah bersiap-siap mengambil posisi duduk untuk menonton dibawah terik matahari. Jarum jam menunjukkan pukul 11.15 WIB. Para tamu undangan luar negeri telah mulai mematok tempat untuk membidik areal pacuan dengan lanskap kamera. Ada yang menggunakan payung berlindung dari terik matahari yang garang dibalik tumpukan awan. Ada pula yang berdesakan berdiri dibawah pohon yang rindang untuk berteduh. Anak-anak berlarian kecil di tengah petak sawah. Ibu-ibu baya berjualan lepat makanan tradisional.

wisatawan luar negeri memburu moment Pacu Jawi 
Pembawa acara telah menyampaikan kata sambutan dan selamat datang kepada tetamu luar negeri dengan logat khas daerah. Kemudian memberitahukan kepada joki untuk menyiapkan Jawi untuk masuk sawah. Para penonton mulai merapat meskipun ke arena untuk melihat lebih dekat. Sehingga pematang sawah sebagai pembatas arel pacu pun dijajaki. Penonton mulai gelisah, menoleh ke kiri dan kanan karena pandangannya di tutupi oleh penonton yang berdiri di depan.

Sarbit Pakiah Kayo, 60, peserta asal Pariangan Tanah Dadar mengaku bahwa dirinya membawa empat ekor jawi untuk ikut serta Pacu Jawi di Sawahlunto. Sebelumnya Pacu Jawi dilakukan para petani dan masyarakat sekitar Tanah Datar untuk mengisi waktu setelah masa panen yang menjadi hiburan. Pacu Jawi biasanya diadakan tiga kali dalam setahun di Tanah Datar.

"Filosofi Pacu Jawi adalah pemimpin dan rakyat bisa berjalan bersama. Pacu Jawi berlansung dua ekor dengan dua cara yakni, pacu bendera dengan mengandalkan kecepatan. Jika bendera sudah di angkat atau di kibarkan maka jawi akan berlari. Bisanya ada tiga pasang jawi yang akan berpacu dari star dengan kode bendera di angkat ke atas hingga sampai finis," ujar pria yang memakai baju kemaja lusuh itu.

Kemudian, cara penilaian Pacu Jawi kedua, kata dia, pemenangnya tidak ditentukan siapa tercepat tetapi joki  harus mengendarai jawi bisa berlari lurus. Artinya Jawi tidak memisah dari kawannya dan jalan lurus hingga sampai finis, maka akan lebih tinggi nilainya poinnya ermasuk harga jual Jawi itu sendiri. 

"Jika lari jawi tidak lurus, maka joki bisa mengulangi pacu hingga tiga kali sampai lurus dan diberikan kesempatan untuk memperbaiki. Jika selama tiga kali gagal maka jawi pacu tersebut tidak menang. Makanya ada Pacu Jawi dilepas sendirian dan tidak dipasang lawan. Cara ini dibuat agar tidak saling berbenturan satu sama lain yang berisiko tinggi," ungkap sembari menunjuk ke areal pacu.

Ia mengatakan bahwa Joki memakai alat bajak pacu terbuat dari bambu sebagai alat berpijak sewaktu perlombaan berlangsung. Bajak tersebut merupakan salah satu peralatan digunakan petani untuk membajak sawah. Kemudian, Joki pada saat mengendalikan Jawi akan menggigit ekor sapi agar lari Jawi semakin kencang larinya. 

"Tidak ada taruhan Pacu Jawi tersebut sejak dilaksanakan dari tahun ketahun. Namun, nilai jual jawi itu sendiri yang akan lebih mahal jika jawi tersebut adalah jawi pacuan yang menyuasai arena. Harga jawi pacuan tersebut hingga mencapai Rp30-40 juta per ekor. Kalau menjadi "mainan" (hobi) berapa pun harganya akan di tari orang. Tetapi jarang orang yang mau menjual jawi yang menjadi mainnya. Saya mulai "masuak sawah" (terjun sebagai joki) sejak duduk Sekolah Dasar. Pacu Jawi menggunakan area sawah yang sudah basah," tambah pria yang mudah tersenyum itu.

Pria berkulit sawo matang berbadan kurus kering itu, mengaku bahwa untuk memilih jawi yang baik dan berkualitas tentu ada perawatan khusus. Tidak bisa sembarangan sama untuk merawat jaw agar menjadi jago di arena. Jawi Pacuan harus dijaga pola makannya dengan baik dan tidak boleh terlalu kenyang. Jika jawi banyak makan dan selalu kenyang maka badannya pun akan bertambah berserta bobotnya.

"Kalau bobotnya bertambah terus tentu saja lari jawi akan lambat. Rumput yang diberikan pun berdasarkan jenis rumput yang paling di sukai. Sebelum pacu jawi tebut diberikan puding yang di racik sendiri, seperti pisang yang dicampur telor. Agar stamina jawi tetap terjaga saat berbapu di arena," tutur pria memakai deta dikapala dengan kain sarung kotak-kotak.

Sementara itu, Marwan, Kepala Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat,mengatakan bahwa Pacu Jawi ini pertama kali berlangsung di Sawahlunto, sehingga dengan ivent Pacu Jawi ini dapat menambah destinasi wisata di kota Sawahlunto. Selain itu, iven ini untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan bagi masyarakat sekitar.

"Masyarakat dapat manfaat moment dengan bardagang menjual aneka makanan khas daerah. Pacu Jawi ini dilaksanakan dalam rangka menyongsong hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72," ujarnya kepada Penulis, Sabtu, 5 Agustus 2017.


Ali Yusuf Walikota Sawahlunto berfoto bersama panitia 
Ia menyebutkan bahwa iven Pacu Jawi tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat yang ada di sekitar. Warga sekitar dapat mengais rezeki dengan berjualan di sekitaran arena Pacu Jawi berbagai aneka makanan khas kota Sawahlunto. 

"Pacu Jawi juga dapat mengundang pengunjung dan wisatawan yang menyaksikan langsung Pacu Jawi. Adanya ivent ini dapat mempromosikan wisata di Sawahlunto karena Pacu Jawi bernilai jual tinggi di masa mendatang. Maka, suatu kebanggaan bagi masyarakat Desa Batu Tanjuang ivent Pacu Jawi dapat dilaksanakan secara rutin usai panen raya," katanya. 

Joki profesional menuggangi Jawi Pacuan
Ismed, Wakil Walikota Sawahlunto menyebutkan bahwa kegiatan Pacu Jawi merupakan Sport tourism sehingga menambah destinasi wisata yang ada di Sawahlunto. Sistem Paju Jawi yang akan dilaksanakan secara teknis akan dipandu langsung oleh Persatuan Olah Raga Pacu Jawi, (Porwi) Tanah Datar. Sebab Pacu Jawi berasal dari Tanah Datar kemudian berkembang ke daerah sekitarnya termasuk Sawahlunto. 

"Ada sebanyak 150 ekor jawi berserta Joki yang akan bertanding di arena sawah Desa Batu Tanjuang. Iven Pacu Jawi ini akan menambah gairah peternak sapi yang ada di Sawahlunto. Sehingga kedepan ada pula atlet Pacu Jawi di kota Sawahlunto dan harga jual jawi akan naik. Kemudian, Pacu Jawi ini menambah wisata yang ada di Sawahlunto sebagai destinasi wisata beru. Pacu Jawi ini akan di selenggarakan menjadi iven tahunan, di Sawahlunto untuk di selenggarakan," ungkapnya.

Sementara itu, Budiman, Chairman of Indonesia Tourist Guide West Sumatera, juga sebagai pengamat Pacu Jawi mengatakan bahwa Pacu Jawi merupakan kegiatan yang positif. Sebab Pacu Jawi adalah pesta anak nagari memperingati pesta panen raya di sawah atas rezeki yang diberikan tuhan. Kemudian Pacu Jawi merupakan bentuk pelestarian budaya dan sebagai promosi wisata di Sawahlunto kepada tamu yang datang dari Cina, Tiongkok, Malaysia dan Australia. 

"Ada sebanyak 35 orang wisatawan lintas negara yang adir menyaksikan Pacu Jawi. Mereka merupakan fotografer profesional untuk memotret moment Pacu Jawi yang berlangsung di Sawahlunto. Karena Pacu Jawi merupakan ivent yang sudah di kenal banyak orang. Sehingga bagaimana cara kita untuk mempromosikan pada wisatawan di dunia tentu dengan promosi dan schedule yang jelas dan terencana," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa Tiongkok Cina merupakan wisatawan banyak keliling dunia dalam setahun mencapai 124 juta. Kemudian wisatawan Tiongkok Cina yang datang ke Indonesia hanya sebagian kecil saja yakni satu persen. Maka, melalui moment Pacu Jawi seperti ini akan membantu promosi wisata yang ada di daerah ke negara lain.  Sehingga dari tahun ke tahun jumlahnya pun terus bertambah. 

"Pacu Jawi ini telah terekspos ke penjuru dunia karena di daerah lain tidak ada Pacu Jawi. Maka tinggal mengemas dengan baik tempat spot pemotretan yang lebih bagus sehingga tamu yang datang nyaman akuntable. Sebagai tuan rumah penyelenggara Pacu Jawi agar kedepan harus lebih teliti dan jelimet terhadap simbol penunjuk arah dan lokasi kegiatan Pacu Jawi berlangsung. Sebab, minimnya simbol penunjuk arah tersebut mengakibatkan tamu atau pengunjung yang datang tersesat hingga 7 KM, sebab tempatnya terpencil," katanya. 

Kemudian, lanjut dia, untuk kegiatan selanjutnya perlu di perhatikan adalah sefetinya areal res Pacu Jawi. Sebab jawi tidak memiliki akal sehingga saat Pacu Jawi menyelonong kemana-mana. Sehingga besar kemungkinan resiko kecelakaan terhadap tamu dan penonton akan terjadi. Maka perlu persiapan dan konsep yang matang untuk mengurangi resiko kecelakaan baik bagi penonton maupun wisatawan saat melakukan pemotretan. 

"Dengan spot pemotretan yang bagus dan strategis untuk mengambil gambar, maka hasilnya lebih terjamin dan pengunjung pun akan puas. Sehingga akan memberikan dampak yang luar biasa untuk promosi wisata kota khususnya Sawahlunto. Mari melestarikan Pacu Jawi yang ada di kota kita dengan terus bersemangat karena kita orang yang bersemangat," ujarnya.

Friday, July 14, 2017

Raih Satya Lencana Pembangunan Koperasi dan UMKM


Walikota Sawahlunto menerima Satya Lencana Koperasi dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Pemerintah kota Sawahlunto dinilai berhasil membangun Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di derahnya.  Anugerah tanda kehormatan dari negara tersebut, langsung disematkan Presiden Joko Widodo ke dada Walikota Ali Yusuf, pada puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-70, di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 12  Juli 2017.

Negara memberikan tanda kehormatan, karena keberhasilan serta kebijakan Walikota Ali Yusuf yang pro pada perkoperasian dan usaha mikro kecil menengah, di Kota Sawahlunto, yang dinilai sangat selaras dengan Nawacita.

Ali Yusuf, pernah diamanahkan menjadi Manajer Koperasi KUD Talawi di tahun 1990-an itu, terus mendorong setiap komunitas masyarakat dan wadah organisasi, untuk mengembangkan diri dan berhimpun dalam koperasi.

Ali Yusuf memberdayakan komunitas kelompok yasinan, remaja mesjid, dalam membangun lembaga keuangan mikro, yang menjadi cikal bakal sebuah koperasi. Awal tahun 2014 lalu, kelompok yasinan dibimbing untuk mempunyai lembaga keuangan mikro.

Setahun berselang, lembaga keuangan yang hadir dari kelompok yasinan, yang didominasi kaum ibu-ibu itu, dapat dibentuk menjadi koperasi. Kelompok yasinan didorong tidak hanya fokus dalam ibadah keagamaan semata, namun juga turut mengembangkan kegiatan yang memiliki dampak terhadap perkembangan ekonomi anggota kelompok yasinan itu sendiri.

Dalam beberapa waktu terakhir, walikota yang pernah mengemban amanah sebagai wakil rakyat di gedung dewan selama tiga periode itu, juga mendorong lahirnya program Gerakan Menabung Seribu (Gemes).

Dengan mengawali pada setiap aparatur sipil negara (ASN), di jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), Gemes kini sudah mulai menyentuh jemaah subuh di setiap mesjid dan mushalla di Kota Sawahlunto.

Mengapa hanya seribu rupiah, menurut Ali Yusuf yang kini memimpin Sawahlunto bersama Wakil Walikota, Ismed, untuk menumbuhkan disiplin diri. Selain itu, Gemes juga tidak akan berpengaruh langsung dengan keuangan masyarakat. “Dalam jangka waktu tertentu, gerakan menabung seribu rupiah ini, akan bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berlebaran, ibadah qurban, umrah, hingga ibadah haji,” yakin Ali Yusuf.

Presiden RI Joko Widodo mengatakan peran koperasi sangat strategis, mengingat semakin ketatnya kompetisi dan persaingan ekonomi yang terjadi saat ini. Tidak hanya persaingan antar daerah, namun juga antar negara dan kawasan.

“Peringatan hari koperasi saat ini, mengingatkan kita semua, agar kita sadar telah berada dan sudah masuk dalam persaingan global yang telah berjalan sejak beberapa waktu lalu,” ungkap Joko Widodo.

Kunci memenangkan pertarungan dan kompetisi itu, kata mantan Gubernur DKI dan Walikota Solo itu, kemampuan beradaptasi kecepatan memahami dan menguasai teknologi informasi yang berkembang dengan sangat cepat. “Orang jualan saat ini, tidak lagi di mall, toko-toko, semuanya sudah online store. Kalau kita tidak bisa beradaptasi, ini akan menjadi malapetaka,” katanya.

Jokowi melihat potensi koperasi di Indonesia terbilang sangat besar. Apalagi, koperasi menyasar kepentingan anggota koperasi itu sendiri, yang mampu menyaingi sistem ekonomi kapitalis.

Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf, sebelumnya di tahun 2016 menerima Anugerah Bakti Koperasi, di Provinsi Jambi. Anugerah berupa lencana yang diterima Ali Yusuf kala itu, disematkan langsung Menteri Koperasi dan UKM RI, Anak Agung Ngurah Puspayoga.

Atas Anugerah Satya Lencana Pembangunan Koperasi dan UMKM, dari Presiden RI Joko Widodo, Ali Yusuf, mengucapkan terima kasih kepada Wakil Walikota Ismed, Pimpinan dan anggota DPRD Sawahlunto, Sekretaris Daerah, seluruh OPD, Camat, Lurah, Kepala Desa, seluruh pengurus dan koperasi, dan pelaku usaha serta masyarakat Sawahlunto yang memberikan dukungan dan support.

Thursday, June 8, 2017

Geliat Kerajinan Bambu Desa Tumpuak Tangah, Promosi Pasar Melalui Ivent Kota

Dusun Batu Kakok, Desa Tumpuak Tangah, Kecamatan Talawi memiliki 125 KK. Dusun Batu Kakok salah satu dusun yang tergabung dalam kampung produktif mempunyai satu kelompok pengrajin anyaman bambu. Dalam kelompok tersebut terdiri dari 10 orang pengrajin bambu untuk membuat anyaman sesuai dengan pesanan. 

"Tahun 2012 lalu di Dusun Batu Kakok memiliki Pusat Pelatihan Anyaman berupa Sanggar Anyaman Bambu. Namun, sanggar tersebut tidal lagi berjalan sebagaimana seharusnya, karena ketua sanggar tidak lagi berada di tempat. Ketua sanggar pindah ke Padang bersama keluarga sehingga Sanggar Anyaman Bambu tidak lagi jalan," ujar Damris Mantari Nyalo, Kepala Dusun Batu Kakok, Desa Tumpuak Tangah, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Selasa, 6 Juni 2017.

Ia melanjutkan bahwa keberadaan sanggar tersebut pada masa kejayaannya telah banyak membina dan melatih kader dengan baik. Berbagai produk anyaman bambu pun dipelajari dan dikembangkan kepada masyarakat. Sampai pada tingkat kesulitan pun bisa dilakoni seperti membuat rantang yang bertingkat. 

"Sanggar tersebut fakum sejak tahun 2014 silam karena ketua sanggar pindah ke Padang. Semenjak itu, tidak ada lagi aktifitas di sanggar tersebut untuk memdapatkan ilmu anyaman baru. Namun, anggota sanggar masih ada dan membuat anyaman bambu di rumah masing-masing. Kemudian, pengrajin membuat rantang bungkusan nasi yang dibuat oleh masyarakat," katanya.

Rantang untuk mengantarkan nasi pun bisa di buat oleh anak sanggar. Semuanya berbahan bambu termasuk bahan penjinjing rantang tersebut dibuat menggunakan bahan yang terbuat dari bambu," sebutnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa saat ini anggota sanggar masih tetap memproduksi produk anyaman bambu di rumah masing-masing. Kemudian didusun Batu Kakok ada sekolompok pengrajin anyaman bambu. Kelompok tersebut ada memproduksi anyaman bambu secara bersama dan ada pula sendiri-sendiri.

"Namun yang menjadi keluhan bagi pengrajin saat ini adalah sulitnya pangsa pasar produk anyaman. Karena tidak ada pangsa pasar tempat bembuangan produk anyaman bambu sehingga produksi berkurang. Hanya saja memproduksi anyaman bambu sesuai dengan permintaan konsumen. Karena sebelumnya dibuat semuanya jenis jerajinan bambu, seperti bakul, niru, sapu lidi warna warni dan sebagainya," akunya.

Syahruni, Sekretaris Desa Tumpuak Tangah Kecamatan Talawi mengatakan bahwa Desa Tumpuak Tangah memiliki 596 KK terdiri dari 6 Dusun. Desa Tumpuak Tangah merupakan kampung produktif anyaman bambu. Ada sebanyak 25 KK terdiri dari dua kelompok pengrajin anyaman bambu. Dalam kelompok tersebut ada 10 orang anggota dan ada yang 15 orang anggota dalam kelompok. 

 "Untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan, sebagai kampung produktif Desa Tumpuak Tangan memprogramkan pelatihan kepada pelaku dan pengrajin anyaman bambu. Pelatihan tersebut guna untuk meningkatkan kualitas produksi anyaman bambu yang siap bersaing di pasar," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa untuk permodalan bagi pelaku usaha dan pengrajin anyaman bambu diberikan bantuan modal dari Baznas. Namun, untuk pangsa pasar penjualan hanya dilakukan pada masyakat sekitar. "Untuk pasar khusus penjualan anyaman bambu yang terencana belum ada karena tidak ada tempat dan lokasi khususnya di Desa Tumpuak Tangah," katanya.

Sementara itu, Badan Usaha Milik Desa (BumDes) juga belum berjalan maksimal karena belum memiliki kantor yang representatif. Sebab, BumDes tersebut diharapkan mampu menjual dan membeli produk kerajinan tangan. Maka, produk tersebut tentu akan disimpan kator BumDes, sedangkan BumDes belum ada kantor. "Ini menjadi suatu kendala bagi kita untuk menjalankan BumDes. Selain hasil kerajinan tangan BumDes juga akan mencanangkan pembelian produk pertanian masyarakat seperti Kakao dan Pinang berkerja sama dengan pihak ke tiga," paparnya.

Kemudia, lanjut dia, selain kerajinan bambu di Desa Tumpuak Tangah juga terdapat home industri (industri rumah tangga) lainnya seperti bertenun songket, Pupuak Kompos, menjahit gorden, Minyak Tanak Kelapa, dan Kue Pesanan. "Sehingga untuk menambah penghasilan keluarga banyak lahir home industri maka diresmikan oleh pemerintah kota sebagai kampung produktif," katanya.

Asril Hasan, Camat Talawi mengatakan bahwa Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto terdiri dari sebelas desa yang memiliki potensi dan keunggulan masing-masing. Ada dua desa yang telah dicanangkan penjadi kampung produktif, yakni Desa Sikalang dan Desa Tumpuak Tangah. Kedua desa ini telah diresmikan menjadi kampung produktif oleh pemerintah kota dan akan mengikuti desa-desa lainnya.

"Pemerintah kota mencanangkan kampung produktif dengan satu desa memiliki satu prodak dan keunggulan. Kampung produktif ini untuk peningkatan ekonomi kerakyatan dan kesejahteraan masyarakat," Ujarnya. 

Ia menyebutkan bahwa potensi yang dimiliki oleh Desa Sikalang adalah kelompok pembuat tempe dan kelompok membuat kerupuk Belinjo (Baguak). Kemudian, kelompok pemuda pembuat sablon dikenal dengan nama kelompok Asika.

"Kalau Desa Tumpuak Tangah potensinya adalah kerajinan Bambu sebagai industri rumah tangga (home industri). Kerajinan "songgen" pembuat berbagai kerajinan berbahan bambu seperti membuat Niru. Membuat pot bunga, renteng tempat meletakan air mimun, membuat tempat tissu dan lain sebagainya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa kerajinan tangan berbahan bambu tersebut terus dilakukan pengembangan dan inovasi agar pangsa pasarnya lebih terarah. Pengrajin tidak hanya sekedar membuat Bakul dan Katidiang saja, namun telah mampu berinovasi. Seperti saat ini, pengrajin telah mulai membuat kotak untuk pembuatan tempat penyimpanan songket.

"Jadi, saat ini jika pembelian songket tersebut telah dibungkus dengan kotak yang terbuat dari anyaman bambu. Kemasan songket tersebut dibuat dengan tujuan agar songket terlihat lebih elegan dan lebih mewah," sebutnya.

Kemudian, lanjut dia, pangsa pasar yang telah disiapkan adalah penjadikan momen dan kegiatan kota untuk ajang promosi prodak unggulan seperti kerajinan "Songgen", Pembuat Tempe Olahan dan Sablon. "Kerajinan bambu ini masih dalam bentuk kelompok tidak berdasarkan individi. Ada empat kelompok pengrajin bambu di Desa Tumpuak Tangah. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang untuk meningkatkan hasil produksi anyaman bambu," paparnya.

Asril mengatakan bahwa selain kerajinan bambu kemasan songket ada pula kejarianan bambu yang untuk membuat Payuang Kote Desa Bukit Gadang Dusun Tobak Jayo. Satu prodak dan satu keunggulan di setiap Desa akan diikuti oleh desa yang lain. Kemudian, untuk pemasarannya akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang ada di masing-masing desa.

"Pencanangan setiap desa memiliki satu prodak dan keunggulan sedang dilakukan terutama dibidang perkebunan seperti Desa Talawi Mudiak, keunggulannya adalah Kelengkeng, Desa Talawi Hilir keunggulannya buah Naga dan Nangka Mini. Maka, pemasarannya masih dalam lingkup kecil, jika ada kegiatan di kantor pemerintahan seperti di Kecamatan Talawi ini," katanya. 

Deswanda, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa pemerintah kota Sawahlunto telah mencangkan kampung produktif. Ada lima kampung produktif yang diresmikan seperti Dusun Luak Badai memiliko kerajinan songket, Dusun Kayu Gadang produksi sepatu, Desa Sikalang memproduksi Konfeksi, Desa Rantiah kerajinan tangan dan Desa Tumpuak Tangah produksi anyaman bambu. Pemerintah Kota Sawahlunto menargetkan 8 Kampung produktif hingga tahun 2018 mendatang.

"Kampung Produktif bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Produksi kerajinan tangan seperti kerajinan bambu yang ada di Desa Tumpuak Tangah sebagai pendapatan tambahan bagi keluarga," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa untuk peningkatan pasar produksi kerajinan bambu terus dilakukan terutama dalam internal kota Sawahlunto. Pengarajin di Desa Tumpuak Tangah Kecamatan Talawi memiliki tiga kelompok pengrajin bambu. Pembuatannya ada dilakukan secara berkelompok dengan ditempatkan pada suatu tempat untuk dipasarkan.

"Upaya pemerintah kota melakukan pembinaan terus dilakukan terutama memberikan pelatihan terharap pengrajin anyaman bambu. Pengrajin tersebut diberikan pelatihan membuat motif berbagai bentuk anyaman bambu yang diberikan kepada masyarakat pengrajin anyaman bambu. Karena selama ini pengrajin hanya membuat bakul, katidiang dan niru saja serta belum ada inovasi. Maka dari itu diperilah pelatihan kepada pengrajin anyam bambu membuat motif yang lebih menarik," katanya.

Selanjutnya, untuk pemasaran anyaman bambu pemerintah kota berusaha melakukan pengembangan dengan mengadakan pameran. Memang saat ini pemasan anyaman bambu tersebut dilakukan tingakat internal dalam kota. Artinya, pemasaran anyaman bambu tersebut hanya dilakukan tingkat kota Sawahlunto. 

"Upaya pemerintah kota melakukan pemasaran dengan cara setiap kegitan formal seperti rapat, telah membeli bungkusan snack yang terbuat dari anyaman bambu. Sehingga produksi anyam bambu berupa kemasan snack tetap terpasarkan dikalangan pemerintahan. Hal ini sebagai langkah awal untuk pangsa pasar produksi anyaman bambu yang ada di kota ini. Namun, untuk jangka panjang tentu promosi terus dilakukan yang berkaitan dengan ivent kota, baik itu berskala nasional maupun internasional," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya masyarakat pengrajin bambu hanya membuat bakul dan niru saja yang di jual kepasaran tradisional. Namun, belum banyak masyarakat, khususnya pengrajin yang berinovasi untuk membuat motif anyaman lainnya seperti tempat, penyimpanan pensil, tempat menyimpan tisu dan lain sebagainya. Maka, dari itu pemerintah kota memberikan pelatihan kepada pengrajin agar bisa membuat anyaman bambu yang lebih kreatif dan menarik.

"Kita tetap menghimbau masyarakat yang sebelumnya membuat kerajinan bambu berupa niru, Ketidiang, Bakul dan terus ditingkatkan. Namun, inovasi terus dilakukan seperti membuat tempat pensil. Kalau tempat pensil pangsa pasarnya di sekolah, memudian tempat tisu di pengsa pasarnya di perkantoran pemerintah. Dekranasda Sawahlunto juga membantu pemasarannya untuk dipromosikan produk kerajinan bambu khususnya kampung produktif Desa Tumpuak Tangah," paparnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah kota juga telah memberikan bantuan kepada kelompok pelaku kerajinan bambu. Dua kelompok pengrajin anyaman bambu tersebut untuk biaya modal usaha telah disalurkan kepada pengrajin. Kelompok pengrajin bantuan permodalan dibantu oleh Baznas Kota Sawahlunto. "Untuk kelompok pengrajin lainnya memang belum mendapatkan bantuan modal usaha. Namun, proposal bantuan modal usaha industri kreatif telah masuk hanya saja tinggal menunggu transfer dana dari Kementerian Industri Ekonomi Kecil Menengah. Jadi, tidak ada kelompok yang tidak dibantu permodalannya. Perbantuan modal dari kementerian sebesar Rp12 juta untuk kelompok," lanjutnya.

Bantuan lainnya dari pemerintah kota berupa stiker pelengkap yang dipasang pada kemasan snack. Stiker tersebut disebarkan sebanyak 100 lembar kepada pengrajin kemasan snack. Kemudian, untuk kemasan songket yang terbuat dari bambu belum menemukan bentuk kemasan yang pas. Sehingga belum bisa dijadikan sebagai bentuk kamasan bisa dikomersilkan. "Kita terus melakukan inovasi untuk kemasan Songket Silungkang sehingga terlihat lebih menarik dan lebih elegan. Kita dorong terus pengrajin agar selalu berkarya lebih kreatif sehingga hasil anyaman bambu tersebut bisa bersaing dan bisa menambah pendapatan keluarga," paparnya.

Saturday, May 6, 2017

Jelang Ramadhan Harga Sembako Naik

Jelang Ramadhan 1438 Hijriah senumlah harga sembako mulai merangkak naik. Kenaikan harga terjadi pada harga cabe merah dan cabe rawit. Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada harga harga bawang putih, kentang dan tomat.

"Harga cabe merah saat ini untuk pengencer di jual seharga Rp35 ribu perkilo gram untuk cabe merah Solok. Kenaikan harga terjadi karena kelangkaan cabe merah karena petani cabe merah tidak lagi panen," Ujar Yayan, 32, pedagang pasar Sawahlunto, blok c, kepada Penulis, Jumat, 5 Mei 2017.

Ia menyebutkan bahwa harga cabe merah sebelum di jual seharga Rp27 ribu perkilo dari agen. Kemudian untuk pengencer di jual seharga Rp30 ribu perkilo. Kenaikan harga jual sebesar Rp2 ribu perkilo. 

"Kenaikan harga ini terjadi mulai sejak seminggu belakangan. Kemudian harga cabe saat ini mencapai Rp35 perkilo gram untuk pengencer. Selanjutnya harga jual dari agen di jual Rp32 perkilo gram," ujarnya.

Hal serupa juga disampaikan oleh Anis, 50, pedagang pasar Sawahlunto blok C mengatakan bahwa sejumlah harga mengalami kenaikan terutama harga cabe merah dan cabe rawit. 

"Harga cabe merah di jual Rp32 ribu perkilogram untuk pengencer. Sedangkan harga dari tingkat agen di jual sebesar Rp31 ribu perkilo gram. Kenaikan harga terjadi Rp1000 perkilogram," katanya.

Ia melanjut bahwa kenaikan tersebut terjadi sejak beberahari hari belakangan karena berkurangnya pasokan cabe merah di pasar. Biasanya cabek merah ini masuk dari batusanka dan Solok, namun pasokannya saat ini berkuruang. 

"Kenaikan harga ini dimungkinkan akan terus berlangsung hingga ramadhan mendatang. Karena harga bahan pokok muda ini harganya tidak pernah stabil terutama harga cabe, karena setiap hari harganya bisa naik turun," tuturnya.

Selain cabe merah, lanjut dia, kenaikan harga juga terjadi pada cabe rawit. Cabe rawit sebeluknya di jual Rp9000 perkilo gram. Namun, harga terus mengalami kenaikan hingga mencapai harga Rp15 ribu perkilogramnya. 

"Kenaikan harga cabe rawit ini terjadi sejak seminggu belakangan. Karena tingginya permintaan terhadap cabe rawit dari konsumen. Sebab, jika cabe merah harganya naik, maka harga cabe rawit juga akan ikut naik. Karena, konsumen akan mencampurkannya dengan care rawit agar sambalnya lebih pedas, makanya harga cabe rawit harganya pun melonjak naik," paparnya.

Kemudian, lanjut dia, cabe hijau juga mengalami kenaikan harga sebesar Rp2000 perkilogram. Sebab, sebelumnya cabe hijau di jual seharga Rp18 ribu, saat ini cabe hijau di jual Rp20 ribu. 

Emi, 52, Pedagang Pasar Sawahlunto blok C menyebutkan bahwa kenaikan harga juga terjadi pada harga bawang putih. Saat ini bawang putih di jual Rp15 perkilogram. Sebelumnya bawang putih di jual Rp13 ribu perkilogram naik Rp2000 perkilo sejak sepekan terakhir. 

"Tomat juga mengalami kenaikan harga Rp1000 perkilogram, sebelumnya tomat di jual Rp8000 perkilogram. Kemudian, kentang juga mengalami kenaikan harga yakni sebelumnya dijual Rp10 ribu. Saat ini kentang di jual Rp12 ribu perkilogram," katanya.

Ia melanjutkan bahwa hargs minyak curah juga mengalami stabil sejak sepekan lalu masih dalam kisaran Rp11 ribu perkilogram. Sedangkan telur ayam buras mengalami kenaikan harga dari biasanya yakni Rp37 ribu perdus. 

"harga encer untuk 10 butir telur ayam buras di jual Rp13 ribu. Kemudian harga sebelumnya untuk satu dus telur ayam buras di jual Rp32. Terjadi kenaikan harga Rp2000 dari harga sebelumnya. Sementara untuk harga beras masih stabil berdasarkan jenis beras. Untuk satu liter beras di jual Rp13 ribu," katanya.

Sunday, April 2, 2017

Home Industri Menggeliat di Kota Sawahlunto

Walikota Sawahlunto Ali Yusuf dan Wakil Walikota Sawahlunto, Ismed
bersama Danramil 01 Sawahlunto May. Inf. Zulfansas
Mengunjungi stan home industri
Payung Kertas dan Gorden
Mencanangan Kampung Produktif dalam mewujudkan visi kota yang tertuang dalam RPJMD 2013-2018 terwujudnya masyarakat kota Sawahlunto yang produktif, mandiri, religius, sejahtera dan pemerintah yang melayani. Maka, pemerintah kota tahun 2017 memprioritaskan pembangunan yang tertuang dalam RKPD yakni pengembangan Ekonomi Kerakyatan yang berbasis pada pengembangan ekonomi kreatif, mandiri dan daya saing.

Ada lima kampung produktif yang diresmikan seperti di Dusun Luak badai memikili kerajinan songket, Dusun Kayu Gadang produksinya sepatu, Desa Sikalang memprodusi Konfeksi, Desa Rantiah kerajinan tangan, dan Desa Tumpuah Tangah kampung produktif yang telah memproduksi ayaman bambu.

Pemerintah kota Sawahlunto menargetkan 8 Kampung Produktif hingga tahun 2018 mendatang sebagai bentuk pengembangan ekonomi kreatif. Maka, semester I tahun ini kembali diresmikan kampung produktif Desa tumpuak tangan yang terletak di Kecamatan Kota Sawahlunto terdiri dari enam dusun dengan 2050 jiwa penduduk dan 590 kepala keluarga. 

Mata pencarian masyarakat dominan adalah sebagai karyawan di perusahaan swasta 160 kepala keluarga karena desa ini dekat dengan perusahaan tambang batu bara. Desa Tumpuah Tangah ini dijadikan sebagai salah satu kampunh produktif kareba mempunyao potensi terutama bidang pertanian seperti karet seluas 260 ha dengan jumlah produksi 5 ton perminggu.

Kerajinan Bambu Home Industri Desa Tumpuak Tangah
Perkebunan kelapa seluas 50 ha dengan jumlah produksi 4000 butir/bula, dengsn daerah pemasaran sumbar dan riau. Kemudian, perkebunan cokelat seluas 5 ha. Selain perkebunan, bidang pariwisata desa ini juga memiliki potensi wisata seperti Bukit Puncak Sula, Kawasan Rumah Pohon dan Kawasan Danau Biru. Kemudian, bidang industri kerajinan anyaman hias dan kerajinan anyaman ketidiang dan niru.

Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto menyebutkan Potensi yang ada dijadikan dasar dalam mengembangkan kampung produktif di desa Tumpuak Tangah, sehingga sangat diharapkan kerjasama dari semua pihak terkait dalam pengembangan potensi yang ada. Kemudian pada pencanangan ini juga sekaligus pemerintah desa tumpuak tangah diresmikan Kampung Produktif.

Kampung produktif bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat terutama dalam hal home idustri. Sehingga hal ini akan bersentuhan langsung dengan perempuan. Maka, 5 kampung produktif yang telah ditetapkan telah berjalan dan telah memproduksi kerajinan seperti songket. Ada 850 penjaring songket dan telah mampu menyelasaikan 2 pis selama seminggu.

Produksi Songket home industri Kota Sawahlunto ada sebanyak 796 pengrajin. Sebanyak 70224 lembar produksi Songket pertahun dengan daya jual sebesar Rp19,9 miliar selama 2016. Sementara biaya produksi yang dikeluarkan menenun songket sebesar Rp8,9 miliar dengan upah atau laba sebesar Rp11 miliar.

Ada sebanyak 23 pengumpul dan Pengusaha songket di kota Sawahlunto dan akan menempati Pasar Songket Silungkang yang ada di Muara Kalaban. Pengumpul ini membeli semua songket yang diproduksi oleh anak songket sebagai tempat penampungan songket.

Adanya pengumpul dan pengusaha yang akan membeli produk songket, masyarakat akan lebih terbantu. Maka dengan adanya home industri songket maka pendapatan masyarakat bertambah dan pertumbuhan ekonomi pun meningkat sehingga kesejahteraan masyarakat mengalami peningkatan.

Maka, songket tersebut akan terus dilakupan pengembangan dan meningkatkan pertumbuhan pengrajin songket dengan melakukan pembinaan kepada masysrakat. Bentuk pembinaan yang diberikan adalah berupa pelatihan untuk menambah generasi penerus dan pengrajin songket dengan mengumpulkan generasi muda yang memiliki kemauan dan bakat untuk menenun.

Pembinaan yang dikakukan ada sebanyak 50 orang pengrajin songket baru setiap tahun. Pembinaan yang diberikan dengan anggaran APBD, maka setelah pelatihan diberikan pelantai songket. Karena bantuan yang diberikan tidak berupa dana segar melainkan dengan memberikan peralatan songket.

Pelatihan tersebut diharapkan akan terus ada sehingga regenerasi penenun songket terus ada. Maka, dengan adanya pembinaan yang dilakukan oleh Penyuluh Industri bertujuan untuk melatih generasi baru dan home industri baru terus bermunculan.

Pemerintah dalam hal ini sangat mensupor untuk dapat memberikan pelatihan dan pembinaan home industri dan pemula. Maka, untuk pembinaan dan pelatihan tersebut tidak hanya mengandalkan APBD saja, melainkan pembinaan dapat dilakukan ditingkat Desa.

Dana Desa diharapkan bisa membantu biaya pelatihan songket kepada masyarakat. Sehingga Dana Desa tersebut peruntukannya tidak hanya berupa bentuk bangunan fisik saja, tetapi juga membantu meningkatan ekonomi kerakyatan seperti pembinaan songket yang dianggarkan melalui APBDes. Hal ini telah disampaikan pada Musrembang Desa dan walikota mendukung upaya peningkatan ekonomi kerakyatan tersebut menggunakan APBDes.

Kemudian, untuk pemasaran songket tersebut pemerintah kota terus melakukan promosi melalui Koperasi Industri Kerajinan Rakyat (Kopinkra). Selain promosi, kopinkra juga menyediakan penjualan peralatan songket. Promosi dilakukan ditingkat Kota dan Nasional melalui pameran-pameran. Kemudia, promosi juga dilakukan melalui ivent kota, seperti Sawahlunto Internasional Songket Carnaval (Sisca) dan Hari Jadi Kota Sawahlunto.

Untuk meningkatkan daya jual songket masyarakat, maka pemerintah kota menjual ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memakai songket dalam kedinasan. Maka, langkah ini diharapkan akan membatu bagi masyarakat menambah pendapatan mereka. Kemudian, pengusaha dan pengumpul juga ikut serta mempromosikan kongket Silungkang melalui relasi dan perantau yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kemudian, disamping meningkatkan ekonomi masyarakat maka didukung dengan masyarakat yang religius. Maka, pemerintah telah dicanangkan maghrib mengaji dan satu jam tanpa menyalakan televisi, kemudian gerakan subuh berjamaah.

Magrib mengaji dan subuh berjamaah ini telah dilakukan serta diminati masyarakat, maka upaya ini terus ditingkatkan sehingga 7,7 persen masyarakat kota sawahlunto yang melaksanakan terdiri dari 48 mesjid dengan jemaah rata-rata sebanyak 50 orang, kemudian, 176 mushalla dengan jemaah rata-rata 10 jemaah yang melaksanakan shalat Subuh.

Untuk menjalankan program shalat subuh berjemaah tersebut di mulai dari pemerintah kota beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Program tersebut bertujuan untuk menyiapkan diri sebagai pribadi memiliki pendirian dan iman yang kuat.

Pemerintah Kota mengajak masyarakat untuk shalat subuh berjemaah di masjid. Maka, pemerintah kota telah menjalankan program ini untuk berkeliling melaksanakan shalat shubuh ke masjid-masjid yang ada di kota Sawahlunto. Hari ini merupakan subuh yang kesembilan kali shalat subuh berjemaah di masjid bersama dengan jemaah masjid. Langkah yang dilakukan Pemerintah kota dengan mendatangi masjid-masjid untuk mengikuti shalat subuh berjamaah, dengan cara menggilirkan masjid yang kunjungi untuk melihat shalat subuh berjamaah.