Showing posts with label Komunitas. Show all posts
Showing posts with label Komunitas. Show all posts

Tuesday, November 28, 2017

The Pakwa Kustik Aceh Latihan Melalui Vidio Call Mentas di Panggung Multikultural Festival

"Jarak tidak menjadi kendala untuk bisa latihan menyamai ide dalam bermain musik. Karena kecanggihan teknologi saat ini dapat mempermudah proses latihan bermain musik. Seperti yang dilakukan Group The Pakwa Kustik untuk latihan komposisi musik melalui video call. Sehingga latihan kolektif hanya untuk penghalusan dan penyempurnaan dengan beberapakali pertemuan.


Bunyi musik alat tiup 'Sarune Kale' alat musik asal Aceh memecah kesunyian sebagai cun pembuka pertunjukan musik group The Pakwa Kustik Aceh. Komposisi ruang pemain musik diatas pentas panggung Multikultural Festival 2017 Sawahlunto telah bersiap memainkan alat musik. Posisi siap memainkan alat musik untuk menghibur pengunjung dan penonton yang hadir. 

Senin, 27 November 2017 malam jarum jam menunjukan pukul 20.15 WIB. Penonton masih lengang. Meskipun demikian kegiatan tetap berlangsung sesui dengan jadwal yang telah dirancang. Meskipun tanpa penonton masih lengang pertunjukan musik The Pakwa Kustik Aceh tertap tampil maksimal. The Pakwa Kustik mengonsep 12 lagu yang berangkat dari idegarapan musik etnik. Kemudian, lagu tersebut bercerita tentang peperangan yakni Perang Sabi yang ada di Aceh pada zaman dulukala. Selanjutnya lagu tersebut juga bercerita tentang keindahan budaya dan cerita tentang percintaan. 

The Pakwa Kustik Aceh terbentuk berawal dari beberapa orang anak muda yang bertemu dan berbicara panjang. Kemudian perbincangan tersebut timbul sebuah keinginan agar ada suatu wadah komunitas yang menjaga (Menjadi Benteng) budaya Indonesia khususnya etnik Aceh. Artinya keinginan adanya benteng budaya Nusantara untuk menjaga budaya nusantara akhirnya terwujud. Sehingga atas dasar keinginan menjaga dan mempertahankan budaya tersebut maka terbentuklah The Pakwa Kustik pada 19 Desember 2009 dan lebih terfokus pada musik. 

The Pakwa Kustik saat memainkan musik  beranggotakan tiga orang dan dibantu oleh teman-teman dari Bukittinggi dan Padangpanjang yang berasal dari Aceh. Antara personil berada di Sumatera Barat sebagian personel berada di Jakarta karena Sekretariat The Pakwa Kustik berada di Jakarta berdekatan dengan TMII. Sehingga tidak dimungkinkan untuk latihan kolektif setiap hari. Personil The Pakwa Kustik Muhammad Rizki Dwi Saputra pemain Bass, Teku Mirja alat musik gitar, Rezeki Pinte sebagai Vokal. Sementara itu dibantu oleh teman yang lain, Munir Siron memainkan alat musik perkusi yakni Gendang Rapa'i, Fadlun memainkan alat tiup Sarune Kale dan Angga pemein Gitar Ukulele.

Muhammad Rizki Dwi Saputra, Ketua Group The Pakwa Kustik Aceh menyebutkan bahwa persiapan untuk tampil di panggung Multikultural Festival telah berjalan sejak sebulan belakangan. Meskipun personil group yang bermain secara terpisah, namun latihan tetap berjalan dengan latihan melalui jarak jauh. Pada dasarnya, 12 lagu tersebut telah sering didengar di Aceh sehingga tidak menyulitkan bagi personil untuk berlatih. Apalagi berasal dari Aceh telah mengenal komposisi musiknya. Sehingga tidak terlalu sulit untuk memainkan komposisi tersebut meskipun jarak yang berjauahan latihan tetap berjalan. 

Untuk mensiasati jarak yang berjauahan, maka The Pakwa Kustik metulis partiturnya lagu yang akan pertunjukan. Kemudian, partitur tersebut dikirim agar langsung bisa di baca lalu latihan sendiri-sendiri melodinya dikediaman masing-masing. Jika ada yang kurang serta ada keraguan dalam memainkan melodinya, Maka dapat dilakukan latihan melalui vidio call. Persiapan komposisi musik tersebut telah berlangsung sejak sebulan belakangan. Namun, untuk latihan secara kolektif dan benar benar matang dan klop pada hari minggu. 

Selanjutnya, The Pakwa Kustik sejak perjalanan panjangnya pernah mementaskan karyanya di Bukittinggi, Padangpanjang, Riau, Medan, Mataram, Jakarta. Kemudian, The Pakwa Kustik juga pernah mentas ke Hawai, Korea Selatan, Philipina, Malaysia dan Thailand. Kenegara tersebut The Pakwa Kustik juga membawakan Musik komposisi Etnik atau bisa dikatakan musik yang berjende etnik. Artinya bukan dalam bentuk komposisi musik yang ditampilkan The Pakwa Kustik di Sawahlunto. Meskipun musik pop, tetapi jendre musiknya tetap etnik, bergantung pada keinginan untuk menyanyikan dan membawa lagu tersebut. 

Kemudian alat musik yang dimainkan pun tidak terlepas dari alat musik etnik seperti Gendang Rapa'i dan Sarune Kale dengan musik saman serta tarian. Maka, tepuk tarian tersebutlah yang menjadi ritem dan berkolaborasi dengan komposisi musik (Rapa'i dan Serune Kale) sehingga menjadi komposisi musik yang utuh serta dapat dinikmati oleh penikmat atau masyarakat penonton. 

The Pakwa Kustik tidak membawaka komposisi musik yang pernah di pentaskan di luar negeri tersebut pada penampilan Multikultural Festival Sawahlunto, karena konsep The Pakwa Kustik datang ke Sawahlunto adalah minimalis. Disamping itu pula anggota memiliki kesibukan masing-masing sehingga ada yang aktif dan adapula yang tidak. 

"Makanya pada malam hari ini kita tampil hanya tiga orang dan itu pun anggota baru bergabung di The Pakwa Kustik. Kemudian melihat kondisi teman-teman yang tidak mengganggu kerja dan kegiatannya, barulah kita bisa membuat komposisi musik sehingga bisa tampil di panggung Multikultural Festival," ujar Muhammad Rizki Dwi Saputra. 

Selanjutnya, kata dia, pada bulan Maret 2018 mendatang The Pakwa Kustik akan mentas musik di Jerman dengan konsep eksperimental. Musik eksperimental tersebut ide pengharapannya masih berakar dari seni tradisi. Komposisi musik eksperimental yang akan dipentaskan tersebut 70 persen adalah musik tradisi yang berasal dari budaya lokal yang ada di Aceh. 

"Kita sampai ke Sawahlunto hari Minggu (26/11). Besok (Selasa, red) kita akan berangkat ke Sabang juga menampilkan komposisi musik. Kemudian, hari besoknya kembali lagi ke Jakarta," katanya. 


Menurutnya, The Pakwa Kustik pada saat penampilan, tetap tampil maksimal meskipun penonton lengang tidak mematahkan semangat untuk tampil. Karena disamping jendre musiknya yang berbeda serta berbentuk etnik dan penikmatnya pun akan berbeda cara eforiannya. Mulai dari yang tua sampai anak muda cara mereka menikmati musik juga akan berbeda pula. 

"Meskipun penonton tidak ada kita tetap semangat dan berusaha menyemangati diri sendiri serta teman-teman yang lain. Karena kondisi seperti ini juga pernah mengalami, seperti di Riau, karena dalam jadwal The Pakwa Kustik sebagi penampil terakhir. Sehingga penonton telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Kemudian pada akhirnya tetap menyemangati teman-teman, tetap semangat tampil meskipun tidak ada penonto. Meskipun demikian The Pakwa Kustik meyakini bahwa penonton adalah dalam hati masing-masing," tuturnya.*




Monday, September 18, 2017

Melirik Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto

Grebek Suro Menjadi Tontonan dan Tuntunan Masyarakat Sawahlunto


Kelompok Seni Sapu Jagat multi etnik tergabung masyarakat Jawa, Minangkabau, Batak dan menganut kepercayaan yang berbeda-beda namun saling berbaur. Sebab, kelompok seni Ki Sapu Jagat memiliki motto "membina akhlak melalui seni dan budaya" dengan tidak membedakan suku, agama dan ras seseorang tetap bersatu dalam satu paguyuban kesenian Sapu Jagat.




Selasa, 12 September 2017 sore langit kota Sawahlunto terlihat mendung. Sore itu pula di kaki bukit puncak Polan, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Penulis, menjambangi sekret Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto. Dilaman sekret tampak berselempangan sisa-sisa potongan kayu dan rautan bambu pembuatan tandu yang digunakan untuk gunungan buah-buahan. 

Gunungan buah-buahan tersebut dirakit untuk persiapan kegiatan Grebek Suro peringatan tahun baru Islam yang jatuh pada 21 September bertepatan 1 Muharram 1439 Hijriyah. Anggota Paguyuban tampak sibuk mempersiapan tandu gunungan buah-buahan dan Apam. 

Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto, berdiri sejak 1 Juli 2010 terus rutin melaksanakan kegiatan Grebek Suro yang menjadi agenda tahunan. Sapu Jagat beranggotakan 71 orang dengan penasehat, Ismed, Tukino, Zainal, Saiman, dan Zainal Arifin Dt Bandaro Putiah. Paguyuban tersebut fokus pada kegiatan yang dilaksanakan berupa kegiatan pesta ramadhan, Grebek Suro, Band, Keroncong, Kuda Kepang, Teater dan Film.

Kelompok Seni Sapu Jagat multi etnik tergabung masyarakat Jawa, Minangkabau, Batak dan menganut kepercayaan yang berbeda-beda namun saling berbaur. Sebab, kelompok seni Ki Sapu Jagat memiliki motto "membina akhlak melalui seni dan budaya" dengan tidak membedakan suku, agama dan ras seseorang tetap bersatu dalam satu paguyuban kesenian Sapu Jagat.

Agus Iwan Darmawan, Ketua Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Sawahlunto menyebutkan bahwa proses pembuatan gunungan buah terbuat dari bahan bambu dengan ketinggian 2,5 meter hingga 3 meter. Tahapan yang dilalui saat pembuatan gaunungan buah tersebut dimuai dengan penebangan bambu. Bambu tersebut telah dikebat atau diikat dengan kain merah dan telah dijaga selama 90 hari sebelum ditebang. Kemudian, tandu tersebut dilengkapi bambu kuning untuk ditengah gunungan sebagai poros. Bambu yang dikebat dengan kain merah tersebut di dzikirkan dan didoakan agar ada berkatnya, artinya sebatang bambu tersebut telah "dijaga" atau disakralkan. 



Proses pembuatan tandu gunungan buah-buahan akan menghabiskan waktu selama satu minggu. Jadi, ada dua buah gunungan yang akan akan disiapka pada peringatan 1 Muharam yang ditandai dengan Grebek Suro, yakni Gunungan Buah-buahan dan Gunungan Apam. Gunungan buah tersebut syarat dengan makna pengucapan rasa syukur dan saling berbagi. Berbagi orang yang "berlebih" atau orang kaya kepada orang yang tidak "punya" atau miskin. Sehingga gunungan tersebut menjadi rebutan oleh masyarakat. 

Ada 40 jenis buah-buahan dengan berat 150 kilogram untuk gunungan buah. Gunungan tersebut akan diangkat oleh sepuluh orang sanggar. Untuk satu gunungan menhabiskan biaya sebesar Rp8 juta. Selanjutnya, prosesi berikutnya adalah pencucian buah-buahan dengan air terjun masjid. Kemudian di dzikirkan bersama dengan tokoh agama dan masyarakat, setelah itu barulah di pasang buah-buahan tersebut ketandu yang telah disiapkan berdasarkan urutan tertinggi buah-buahan. 

Artinya buah tersebut ada pengelompokannya, seperti buah Nanas, Tomat, Apel. Buah Nanas melambangkan kejayaan, sedangkan Tomat disimbolkan darah, terong dan Timun melambangkan tulang manusia. Artinya, gunungan buah-buahan tersebut jadi kekuatan yang akan disumbangkan kepada masyarakat yang kurang mampu. 

Pencucian buah-buahan bersamaan dengan pencucian benda pusaka dengan mandi kembang dari air terjun masjid. Pencucian buah-buahan Apam dan benda Pusaka dilakukan pada malam pergantian tahun dengan air terjun masjid dengan prosesi ritual. Kemudian di sakralkan dengan membaca dzikir dan doa-doa malam hari di halaman sekret Paguyuban. 

Buah-buahan tersebut seluruhnya sudah di sakralkan, sehingga memiliki karomah tersendiri karena di dzikirkan. Grebek Suro di Sawahlunto tidak ada kaitannya, hanya saja sejarah budaya yang dibawakan oleh nenek moyang dulu. Karena Sawahlunto multi etnik, maka kita mengadopsi apa yang menjadi kebiasaan dan budaya nenek moyang dari Klaten tanah Jawa.

Berbeda dengan proses Apam, yang merupakan perjalanan Ki Ajeng Gribik melakukan perjalanan ke Makkah pulang dan pergi mamakan waktu selama 1000 hari dan membawa bekal satu hari satu Apam. Untuk 1000 apam, karena mengikuti perjalanan Ki Ajeng Gribik yang melakukan perjalanan haji selama 1000 hari untuk menjemput kebaikan di Makkah. 

Sesampai di Makkah diberikan makan Affan (Apam), oleh seorang syeh berjumlah seribu buah hingga menuju pulang Apam tersebut tidak berkurang jumlahnya meskipun telah dimakan. Orang Makkah menyebutkan Affan orang Jawa menyebut Apam atau kue Panukuik. Apam itu sendiri terbuat dari beras dan kelapa. Beras tersebut dicuci dengan air pancuran tujuh masjid dan didzikirkan.

Ada lima warna Apam, warna tersebut terkolaborasi membentuk kalimat Allah dan Muhammad. Warna tersebut mengijuti jadwal waktu shalat sebanyak 17 rakaat di mulai dari Isya emapat rakaat shalat ditandai dengan warna Merah, Subuh dua rakaat diwarnai dengan warna hijau, Dzuhur empat rakaat ditandai dengan warna cokelat, Ashar empat rakaat shalat ditandai dengan warna putih dan Maghrib ditandai dengan warna hitam.

Grebek Suro ada sejak jaman kerajaan Maja Pahit dibawah kekuasaan Protu Wijaya V diadakannya Grebek Suro. Karena suatu daerah kekeringan sehingga gagal panen, ada suatu kampung yang di naungi oleh Ki Ajeng Gribik yang merupakan tokoh ulama di Maja Pahit,tidak mengalami kekeringan, justru hasil panen mereka sangat berlimpah ruah. 

Ki Ajeng Gribik memerintahkan kepada masyarakat untuk saling berbagi kepada yang tidak "memiliki" (kampung sebelah yang gagal panen) sehingga tradisi Grebek Suro di tanah Jawa tetap dilaksanakan, saling berbagi dan rebutan bagi masyarakat terhadap gunungan buah-buahan. Jadi yang memiliki (kaya) dibagi kepada masyarakat yang tidak memiliki (miskin). Jadi, Grebek Suro merupakan bentuk mengenang Ki Ajeng Gribik pada tahun suro. 

Saling berbagi tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al quran surat Alkahfi ayat 30-47 tentang kemakmuran masyarakat yang saling berbagi antar sesama. 

Tradisi Grebek Suro hanya diadakan pada tahun baru Islam tidak dilakukan pada hari lain. Kecuali Grebek Sawal diisi dengan ketupat, Grebek Maulid isi dengan sayur-sayuran dari hasil panen, artinya Grebek Suro hanya diadakan pada peringatan hari besar Islam. 

Acara puncak Grebek Suro pada tangga 1 Muharram, gunungan buah-buahan dan Apam akan diarak ke sekeliling kota diawali dengan pembacaan doa dan pemotongan Tumpeng. Selanjutnya, gunungan buah-buahan dan Apam di rebut oleh masyarakat di alun-alun kota dan berakhir di Goedang Ransoem. 

Kemudian di Sawahlunto sendiri Grebek Suro menjadi destinasi wisata religius sebagai contoh bagi masyarakat. Grebek Suro tersebut pada prosesinya sama dengan yang diadakan di Jawa, sehingga berbagi bersama memperebutkan gunungan buah-buahan dan Apam. Grebek Suro tersebut merupakan tahun ke 7 dilaksanakan di kota Sawahlunto oleh Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto.

Untuk pelaksanaan kegiatan Grebek Suro, Agus Iwan Darmawan mengaku mencari sponsor keluar, sebab tidak ada bantuan dari pemerintah kota terutama dalam hal pembinaan. Kegiatan yang lakukan hanya bersifat swudaya dan hanya hargai dengan tepuk tangan penonton. Sebab, Paguyuban Ki Sapu Jagat berbuat tidak hanya sebagai tontonan namun juga menjadi tuntunan bagi masyarakat khususnya di Kota Sawahlunto.*

Sunday, September 17, 2017

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi Desa Lumindai Kerjasama dengan Mahasiswa Eropa

Membaca merupakan jendela dunia dan membentuk karakter diri serta mampu merubah pola pikir ke arah yang lebih maju dan positif. Zulhijani merupakan sosok perempuan inspitatif bermula dari buku koleksi pribadi hingga bekerja sama dengan mahasiswa Eropa. Seperti apa kisahnya

Laporan : Julnadi Inderapura, Sawahlunto 

Minggu, 10 September 2017 sore cuaca di Sawahlunto mendung sebagian titik dilereng perbukitan telah diguyur hujan. Dedaunan tampak basah dan jalanan pun lembab akibat diguyur hujan. Sementara kabut awan menyelimuti lereng bukit menyapu sisa hujan sadarok dilangit kota. 

Sore itu, Penulis berkunjung ke Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi jalan Khatib Syawal Dusun Hilir Desa Lumindai, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto menempuh jalan yang berliku dan turunan yang tajam dilereng bukit. Taman bacaan yang jauh dari pusat kota Sawahlunto dengan jarak tempuh 30 menit untuk sampai ke tujuan dengan kendaraan roda dua. 

Transportasi satu-satunya untuk sampai ke TBM Pelangi pengunjung dengan menaiki ojek seharga Rp25 ribu. Sebab, tidak ada transportasi umum untuk sampai ke daerah tertinggi Sawahlunto dengan ketinggian 800 hingga 1200 diatas permukaan laut. 

Zulhijani, Alumni Antropologi Universitas Andalas pendiri bertekat membuat TBM Pelangi, karena kekhawatirannya terhadap acuh tak acuhnya lingkungan terhadap pendidikan anak usia dini. Selain itu, sulitnya mendapatkan akases bancaan seperti koran dan majalah. Sebab, akses kepusat kota yang jauh dan memakan buaya tinggi, maka ada niat untuk membuat taman bacaan. 

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi tersebut didirikan pada Maret 2007. TBM Pelangi tersebut sebelumnya berada di pasar tradisional Lumindai dengan mengontrak rumah. Namun, kontrakan rumah habis dan tidak lagi memiliki biaya untuk memperpanjang kontrak akhirnya TBM Pelangi dibawa kerumah dengan memanfaatkan ruang tamu rumah sebagai ruang baca. 

Diruangan yang berukuran sekitar 4X4 meter itu, hanya mampu menampung pengunjung sekitar 10 orang anak-anak yang membaca. Tambah pula dipersempit dengan bersandarnya rak-rak buku pada tiap sisi dinding. 

"Kita hanya mampu menampung pengunjung sebanyak 10 orang tersiri dari anak-anak. Kalau berlebih dari sepuluh orang maka anak-anak yang membaca sampai ke luar ruangan di teras rumah. Karena ruangan yang tidak memadai untuk menampung banyak pengunjung," perempuan yang berhijam syari ini. 

Ia melanjutkan bahwa ruang baca tersebut disiapkan untuk anak-anak guna mencerdaskan anak bangsa. Membaca merupakan jendela dunia dan membentuk karakter diri serta mampu merubah pola pukir ke arah yang lebih maju dan positif. Meskipun banyak dari kalangan anak-anak tidak tertutup kemungkinan untuk para ibu-ibu. 

"Tidak hanya anak-anak saja yang sebagai pengunjung, namun juga asa ibu-ibu yang mambaca buku disini. Selain itu, prakarya memasak juga dilakukan pedah buku cara mendidik anak yang baik. Mereka berjumlah 15 orang yang terhimpun dari ibu majlis taklim," ungkap ibu baya tiga orang anak ini. 

Ia mengungkapkan bahwa buku bacaan tersebut sebelumnya merupakan buku koleksi pribadi. Saat ini telah mengoleksi sebanyak 907 judul buku terdiri dari buku Agama, Sastra, Pertanian, Keterampilan buku umum serta buku pelajaran. Meskipun demikian buku tersebut masih belum tercukupi dan belum lengkap karena belum adanya buku cerita anak. 

"TBM Pelangi belum ini terdiri dari kelas bacaan yakni kelas 1,2 dan 3, kemudian, kelas 4,5 dan 6. Kemudian, untuk menyemangati anak-anak akan diberikan hadiah sekali dalam tiga bulan berupa alat tulis bagi pengunjung yang rajin," ujarnya. 

Zulhijani menjelaskan bahwa agenda rutin untuk kunjungan dan kelompok belajar pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Kari hari biasa pun masih tetap buka, namun melihat kondisi anak-anak dengan jadwal mereka yang padat di sekolah maka pada hari Jumat, sabtu dan minggu adalah waktu yang pas. 

"Hari biasa anak-anak sekolah hingga pukul 14.00 siang. Sepulang sekolah mereka mengaji hingga pukul 18.00. Jadi, aktifitas membaca dan mengisi PR mereka dilakukan di TBM Pelangi hingga pukul 21.00. Akibatnya, secsra tidak langsung orang tua pun ikut mengantar dan menjemput anaknya," katanya. 

Selain itu, untuk menyemangati anak tersebut juga di adakan lomba mewarnai, lomba membaca cerita dan lomba menggambar untuk tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. 

Menurutnya, sebelum TBM Pelangi berdiri, ada orang tua masih banyak tak acuh terhadap anaknya. Karena orang tua belum gigih untuk menyemangati anak mereka sekolah, sehingga ada anak mereka yang putus sekolah dan orang tuanya pun terkesan cuek karena anaknya malas sekolah. 

"Sekarang tidak ada anak meraka yang tidak sekolah justru orang tua mereka siap mengantar untuk belajar dan membac di TBM Pelangi. Kita bersyukur adanya kemauan seperti itu yang tumbauh di tengah masyarakat. Maka dari itu, kita pun harus siap untuk menerima anak mereka meskipun tempat kita terbatas dan serba kekurangan, termasuk guru polunter yang bersifat swadaya," katanya. 

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelangi jalan Khatib Syawal Dusun Hilir Desa Lumindai, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto bekerja sama dengan Yayasan Sumatra Folunter merupakan tempat kunjungan dan magang mahasiswa Eropa. 

TBM Pelangi telah menerima mahasiswa Belgia, Belanda untuk melakukan magang sebanyak tiga orang semester lalu. Kemudian, akan ada lagi kunjungan dan magang mahasiswa dari Eropa pada 27 September mendatang. Mahasiswa yang magang tersebut selama sebulan dan bergantian selama seminggu. Selama seminggu ada tiga orang, kemudian digantikan lagi tiga orang lami mahasiswa. 

"Untuk menyiapkan mental anak berhadapan dengan mahasiswa Eropa tersebut maka, akan diberikam pengetahuan dasar belajar berbahasa Inggris. Sebab, bahasa Inggris merupaka internasional, maka anak diajarkan berbahasa. Kedatangan mahasiswa Eropa sebelumnya, anak-anak masih kaku dan belum bisa berbahasa. Namun, sekarang untuk kesatangan mereka akan satang anak-anak kita sudah bisa berkenalan dengan bahasa inggris, dengan harapan kedepan akan ada pertukaran pelajar dari anak TBM Pelangi," sebutnya. 

Selain belajar bahasa inggris, kegiatan lain seperti tahfiz quran juz 30, catur dan panjat tebing juga ada kelas latihannya. Sehingga anak-anak mendapatkan pengetahuan untuk pengembangan diri serta bakat dan minat yang dimiliki. Sebab, anak-anak memiliki bakat dan skil sehingga butuh arahan saja. 

"Disini juga ada klas media membelajaran seperti menonton film pendidikan. Seperti film kepribadian dan sejarah Islam. Kita akan buka lagi klas menulis dan konseling dan sudah ada dokternya tinggal lagi mencocokan waktunya saja," sebutnya. 

Ia mengaku sejak berdirinya TBM Pelangi banyak bantuan diberikan berupa buku dari Pustaka Daerah Sawahlunto dan Pustaka Daerah Sumatera Barat. Namun, menjadi kendala adalah belum adanya biaya poluntir untuk membiayai jasa mereka. Sebab, untuk datang ke TBM Pelangi butuh biaya, sementara belum memiliki sponsor. 

"Kita masih terima bentuan berupa buku dan donatur untuk berbagi dan mencerdaskan anak bangsa. Kemudian, sejak berdiri TBM Pelangi telah diakui dengan perolehan prestasi, juara II tingkat Provinsi Sumatera Barat, juara I tingkat Kota Sawahlunto," katanya*




Sunday, April 16, 2017

Target 1 Juta Pengunjung ke Objek Wisata Sawahlunto

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto foto bersama Asita Sumbar
Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat menargetkan kunjungan wisata kota Sawahlunto tahun 2017 mencapai 1 juta pengunjung. Tingkat kunjungan wisata kota Sawahlunto terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pemerintah kota komit untuk melakukan perkembangan wisata bersama travel agent dan saling berkomunikasi meningkatkan kunjungan wisata melibatkan Association of indonesia tours and travel agencies (Asita), Association of sales travel Indonesia (Asati) dan Asosiasi perencanaan indonesia (Aspi).

Sumatera Barat memiliki potensi wisata alam yang masih alami dan memiliki ciri khas kedaerahan masing-masing. Sawahlunto merupakan kota tua yang banyak menyimpan sejarah peninggalan Kolonial Belanda. Sawahlunto dengan jarak tempuh 90 km dari pusat kota Sumatera Barat terdiri dari empat Kecamatan, 27 Desa dan 10 Lurah serta 107 dusun banyak potensi Wisata yang dikembangkan seperti waterbom berkas pemandian noni-noni zaman Belanda. Waterbom yang pertama di Sumatera Barat yang pernah ada dan mempunyai sejarah.

Kemudian, objek wisata Puncak Cemara, Gudang Ransum, Museum Kereta Api, Taman Buah Kandih, Keping Ground, Taman Satwa Kandih dan Lubang Tambang Mbah Soero, yang tidak dimikili daerah lain. Maka, sarang dan masukan dari Asita, Asati dan Aspi menyebutkan perlunya sarana pendukung terutama dalam hal kuliner. Kuliner tersebut yang mengutamakan kebersihan dan kualitas rasa dengan makan enak, bersih dan kakulator tidak rusak. Karena perkembangan wisata Sawahlunto sangat pesat maka sinergitas antara pemerintah kota sangat dibutuhkan dalam hal promosi wiasata.

Ali Yusuf Walikota  Sawahlunto paparkan potensi wisata
dan objek wisata Sawahlunto beserta sarana pendukungnya
dihadapan travel agent, Axana Hotel, Rabu 12/4/2017
"Ajakan gathering bersama dengan gathering yang ada di kota Sawahlunto walau pun restouran yang besar yang representatif belum ada di kota Sawahlunto. Tetapi, travel egend bisa membawa karering bisa di bawa ke Kota Sawahlunto untuk bisa di bawa ke Puncak Cemara, Gudang Ransum, Museum Kereta Api, Taman Buah Kandih, Waterbom, ajakan tersebut bisa dilakukan," ujar Ali Yusuf Walikota Sawahlunto kepada Penulis, Rabu, 12 April 2017 usai "Shering Informasi dan Promosi Pariwisata Kota Sawahlunto Bersama Pelaku Aktif se-Sumatera Barat di Axana Hotel.

Ia menyebutkan bahwa hal ini merupakan hikmah yang dapat di ambil dalam pertemuan tersebut dan pelajaran yang diambil berkaitan dengan kuliner. Kemudian, Infrastruktur pendukung yang akan diperbaiki pada tahun ini telah dibangun seperti pembanguan gerbang atau gapura daerah selatan, Kecamatan Silungkang pembangunannya sedang berlangsung.

"Wisata Puncak Cemara yang dipersiapkan, menyelesaikan arela parkir dan belebaran jalan dikerjakan tahun ini dan sedang berjalan. Maka, semua saran dan masukan dari travel egen yang disampaikan ASITA, ASATI dan ASPI sudah diakomodir, kemudian menjadi nyaman berkunjung di kota Sawahlunto," katanya.

Maka, lanjut dia,  malalui OPD terkait secara inten agar melakukan pertemuan dengan travel agen di Sumatera Barat. Agar target gubernur ke Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, maka target 1 juta pengunjung terealisasi 2017. Karena target 1 juta pengunjung tersebut dikatakan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Juli 2016 lalu di Jambi saat berjabat tangan dengan presiden. 

"Kunjungan wisata sawahlunto tahun 2016 mencapai 858 ribu pengunjung, 810 ribu pengunjung 2015 dan 787 ribu pengunjung 2014. Maka, dengan keterbatasan anggaran yang ada tercukupi dengan cara melibatkan OPD terkait dianggarkan 13,9 persen," paparnya.

Kemudian, untuk mendukung Sumatera Barat sebagai wisata halal, maka Pemerintah kota Sawahlunto melibatkan 10 nagari yang ada untuk ikut serta berpartisipasi memberkenalkan produk makanan khas yabg ada di setiap nagari masing masing untuk diperkenalkan sebagai produk makanan halal di kota Sawahlunto.

"Maka, tahun 2016 lalu kita telah melaksanakan Makan Bajamba sebagai ikon kota dan telah melaunching sebagai salah satu produk wisata halal, karena Sawahlunto bagian dari Sumatera Barat yang akan menjadi kebanggaan bersama," ungkapnya.

Monday, January 23, 2017

Budidaya Jamur Tiram Peluang Bisnis Menjanjikan

Sri Enteti, Bendahara Kelompok Jamur Tiram Kejora
Rabu, 18 Januari 2017 siang cuaca cerah. Siang itu, Penulis menjambangi Kelompok Jamur Tiram Kejora, Desa Kolok Nantuo, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Siang itu, Penulis bertemu ketua dan bendahara kelompok juga sebagai pelaku budaya jamur tiram. Sisa sisa serbuk gergaji di Ruang Pengadukan masih terlihat di sekitaran tempat pengelolaan budidaya jamur tiram menumpuk. Serbuk gergaji tersebut merupakan bahan bagi untuk pembudidayaan jamur tiram.

Bahan baku yang digunakan untuk budidaya jamur tiram tersebut Serbuk Gergaji, Dedak, Kapur Pertanian. Bahan baku tersebut diaduk rata sebelum masuk pada tahapan selanjutnya. Maka, untuk proses pembuatan beglog untuk 100 kg sebuk gergaji dibutuhkan 15 kg dedak dan 2 kg kapur pertanian lalu dicampur dengan air secukupnya. 

Untuk menguji kecukupan air pada saat pengadukan bahan baku tersebut sangat mudah dan sederhana, dengan pengembaraan bahan baku tersebut dengan tangan. Apabila bahan baku itu telah menyatu maka, kecukupan air pada bahan baku baglog telah tercukupi. Maka, perlu dihindari kelembaban air bahan beglog tersebut dengan mengujinya, seperti apabila diremas dengan cara menggenggamnya tidak menetes air. Maka, beglog tersebut kelembabannya bisa dikatakan sempurna.

Setelah beglog diaduk rata maka, masuk pada tahapan selanjutnya. Ada tiga tahapan proses pembuatan beglog tersebut, pertama tahapan permentasi selama sehari semalam atau selama 24 jam. Kemudian, setelah permentasi dilakukan penguapan dengan cara di rebus selama 10 jam. 

Perebusan dengan menggunakan wadah berukuran besar mampu menampung 500 buah beglog. Untuk tiga kali perebusan beglog tersebut bisa menghabiskan 2,5 tabung gas 12 kg. 

Maka, setelah direbus disimpan pada ruang sterilisasi untuk dilakukan pendinginan selama sehari semalam. Setelah pendinginan dan pengisian bibit. Saat ini ada sebanyak 180 pembibitan setelah masa sterilisasi. Setelah dingin maka dipindahkan ke ruang Kubung untuk mengunggu proses. Saat ini ada sebanyak 480 beglog di ruangan Kubung, meskipun ruangan Kubung tersebut mampu menampung 3000 beglog.

"Butuh waktu 45 hari beglog yang telah diisi bibit untuk bisa tumbuh dan dipanen," ungkap Afrimayeni, Ketua Kelompok Jamur Tiram Kejora, Desa Kolok Nantuo, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sembari memperlihatkan ruangan sterilisasi dan pengasaman jamur tiram sebelum memasukan bibit, perempuan baya itu menyebutkan bahwa pembudidayaan jamur tiram tersebut diberbantukan dengan anggaran APBDes tahun 2016 Desa Kolok Nantuo. "Kita dibantukan modal sebesar Rp20 juta. Anggaran tersebut di pergunakan untuk membangun ruang Kubung, pembelian bejana perebusan, beglog, serta kompor gas, dan bahan baku lainnya," terangnya.

Ia melanjutkan bahwa Kolompok Jamur Tiram Kejora beranggota tujuh orang anggota kelompok. Pembudidayaan Jamur tiram sebetulnya pernah ada di Desa Kolok Nantuo ini, namun sekarang telah mati, karena kendala modal dan pangsa pasar. "Kelompok Jamur Tiram Kejora ini merupakan yang ketiga dari keberadaan jamur tiram di Desa Kolok Nantuo," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa pengelolaan jamur tiram sebenarnya tidaklah sulit. Setelah menyelesaikan tahapan tahapannya, maka tinggal menunggu waktu panen. Untuk masa panen bergantung pada jumlah bibit. yang ada dalam beglog, sampai beglog menjadi ringan, artinya masa panen telah mulai habis. 

"Tingginya permintaan masyarakat terhadap jamur tiram, dengan jumlah tenaga yang sedikit, maka kita akan butuh orang lain. Maka, otomatis kita akan menambah anggota untuk memenuhi permintaan pangsa pasar tersebut sehingga mampu mempekerjakan orang lain. Artinya terciptalah lapangan pekerjaan baru, sehingga ekonomi masyarakat pun terbantu, karena pendapatannya bertambah," jelasnya.

Ia mengaku sebagai tahap awal jamur tiram ini akan dipasarkan terutama pasar tradisional. Kemudian untuk tahap lanjutan pengembangan pangsa pasar akan dilakukan pengolahan prodak makanan dengan kemasan. 

"Kedepan kita akan bekerja sama dengan pemerintah, karena setiap kegiatan pemerintah tentu ada snack. Maka, kita akan tawarkan snack tersebut olahan dari kelompok sembari memperkenalkan atau mempromosikan makanan dari jamur tiram olahan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pasar yang akan diterapkan kedepannya dengan menyiapkan antar jemput, dengan produk olahan dan ada pula bahan mentah, artinya belum dimasak. "Kalau produk olahan, nanti kita akan siapkan sebagai makanan langsung bisa dimakan. Sekaligus ini akan menjadi ciri khas desa kolok nantuo, sebagai home industri dan menjadi contoh bagi desa lainnya di kota Sawahlunto," ujarnya.

Senada disampaikan Sri Enteti, Bendahara Kelompok Jamur Tiram Kejora Desa Kolok Nantuo menyebutkan bahwa, disamping menjual jamur baik olahan maupun mentah. Kelompok Jamur Tiram Kejora juga menjual beglog untuk masyarakat yang ingin memanen sendiri jamur dirumahnya masing masing. 

"Untuk satu buah beglog di jual Rp6 ribu. Maka, akan kata Setiap rumah ada 3 buah beglog saja maka Desa Kolok Nantuo akan menjadi daerah penghasil jamur tiram. Paling tidak, untuk kebutuhan masing-masing mereka terpenuhi dan tidak perlu membeli jamur tiram lagi. Karena jamur tiram telah ada di rumah mereka masing-masing," ungkapnya.

Selain itu, juga menyediakan tempat pelatihan bagi ibu rumah tanggal yang ingin belajar mengolah sendiri pembuatan beglog. Kalau misalnya setiap rumah tangga bisa membuat beglog sendiri dirumah maka mereka tidak perlu membeli sayuran lagi dan bisa memanen sendiri. 

"Jika setiap rumah memiliki tiga beglog saja dirumah masing masing, berapa produksi jamur tiram setiap kali panen. Kalau misalnya berlebih dan bisa dijual di pasaran dan bisa menambah penghasilan tabahan. Kita bertekat bahwa Kelompok Jamur Tiram Kejoran, akan menjadi contoh bagi daerah lain untuk pengolahan dan budidaya jamur serta bisnis yang menjanjikan," katanya.SawahluntoJamur Tiram