Showing posts with label Sawah tadah hujan. Show all posts
Showing posts with label Sawah tadah hujan. Show all posts

Saturday, September 16, 2017

Sawah Tadah Hujan Dibantu 34 Unit Mesin Pompa Air

Pemerintah Kota Sawahlunto memberikan bantuan mesin pompa air untuk menutupi kebutuhan air sawah petani tadah hujan. Ada sebanyak 34 unit mesin pompa air yang diberikan kepada kelompok tani Sawahlunto. Pompa air tersebut dianggarkan 11 unit mesin pompa dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan 23 unit mesin pompa dari dana Anggaran Pendapatan Belanda Daerah (APBD).

"Lahan pertanian Sawahlunto seluas 1680 ha sebagain besar merupakan sawah tadah hujan, dengan jumlah petani sebanyak 4500 lebih petani. Kemudian, kelompok tani ada sebanyak 238 kelompok yang tersebar di emapat kecamatan," ujar Heni purwanengsih Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Perikanan Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Rabu, 13 September 2017. 

Ia menyebutkan bahwa bantuan mesin pompa air untuk memenuhi kebutuhan pasokan air persawahan petani diberikan perkelompok. Bantuan mesin pompa air tersebut diberikan kepada kelompok tani memiliki sawah tadah hujan. Namun bantuan tersebut tidak hanya berupa mesin pompa dan tidak diberikan bantuan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk dioperasionalkan. 

"Diakui mesin pompa tersebut membutuhkan biaya untuk mengaliri air ke sawah petani. Namun pompa air tersebut pemanfaatannya sewaktu waktu tidak ada hujan, barulah pompa air tersebut digunakan. Sehingga tidak terjadi kekeringan terhadap sawah petani yang berujung pada gagal panen," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa bantuan mesin pompa air tersebut agar sesuai dengan mekanisme pemakaian. Sebab, penyerahan bantuan pompa air tersebut diserahkan pada ketua kelompak dan di tandatangani oleh anggota kelompok. Sehingga pemanfaatannya bisa pergunakan dengan sebaik-baik. Pemberian bantuan mesin pompa air tersebut melalui proposal dan ada prosesurnya dan permasalahannya yang mengantisipasi adalah seluruh anggota kelompok tani. 

"tidak ada masalah yang ditemui dilapangan saat pemanfaatan mesian pompa tersebut. Sekaitan adanya kelompok tani yang tidak lagi aktif dimungkinkan hanya oknum orang petani saja. Sebab, selama ini baik-baik saja dan belum ada laporan hingga saat ini dari penyuluh pertanian," tambahnya. 

Kemudian lanjut dia, berkaitan dengan hama padi yang mati atau patah kuduak yang menjadi keluhan petani merupakan hama blas. Maka upaya awal yang dilakukan adalah sosialisasi kepada petani, kemudian pengadaan dan pendistribusian pektisida oleh UPTD. Kemudian mengamati hama yang menyerang padi petani dan dilakukan penyuluhan melalui penyuluh pertanian kepada petani untuk pengendalian hama. 

"Penyuluhan dilakukan tentunya tidak ke seluruh pribadi orang petani. Namun penyuluhan tersebut dilakukan perkelompok tani yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang ada di Kecamatan. Kita telah turun kelapangan memberikan sosialisasi dalam penangan hama," sebutnya. 

Sementara itu, Irwandi, Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Perikanan Kota Sawahlunto, membantah sekaitan dengan petani yang tidak mendapatkan pupuk. Sebab pendistribusian pupuk di kota Sawahlunto sebesar 250 ton pupuk. Sementara serapan pupuk di Sawahlunto baru 50 ton pupuk. 

"Untuk membeli pupuk tersebut tidaklah mudah. Petani harus memiliki kelompok tani dan telah memiliki Rencana Definitif Kelompok (RDK). Jika tidak terdaftar kedalam kelompok dan tidak memiliki RDK maka tidak dapat membeli pupuk subsidi. Jadi, yang tidak memiliki RDK memang tidak bisa membeli pupuk," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa tidak keluhan terhadap pupuk, sebab pengawasan terus dilakukan terhadap kios penjualan pupuk di kota Sawahlunto. Ada delapan kios pupuk yang tersebar di empat kecamatan, yakni satu kios pupuk di Kecematan Silungkang, Satu kios pupuk di Kecematan Lembah Segar, Tiga kios pupuk di kecamatan Barangin dan tiga kios pupuk di Kecamatan Talawi. 

"Pengawasan dilakukan sekali dalam dua minggu dan satu kali salam sebulan dilakukan oleh SK4. Jadi, petani yang tidak bisa mendapatkan pupuk berarti tidak patuh pada aturan. Jika tidak patuh maka dapat dikenakan sanksi," ujarnya. 

Ia mengaku pembelian pupuk subsidi seharga Rp90 ribu per het tanpa membuka karung. Jika karung tersebut telah terbuka maka harga bisa berubah sebab, ada jasa membuka karung. Artinya petani akan membeli pupuk dengan enceran kiloan. 

"Pupuk subsidi Urea mengangdung N, sehingga jika dibuka dengan waktu yang lama sehingga jumlah kiloannya pun bisa berkurang dan bisa cair. Hal ini yang menjadi harga bisa bertambah karena hitungan ekomisnya. Sebab, orang yang berdagang tentunya tidak ingin ambil resiko yang mengakibatkan kerugian," paparnya. 

Masalah Irigasi dan Pupuk Menjadi Kendala Petani

Desa Talawi Hilir Kecamatan Talawi memiliki potensi bidang pertanian sawah seluas 134,5 ha dan memiliki 16 kelompok tani. Desa seluas 452 ha tersebut memiliki penduduk sebanyak 4017 jiwa tersebar di empat dusun yakni dusun Siambalau, dusun Kubang Gajah, dusun Taratak Capo dan Dusun Talago. Areal petani sawah tersebut merupakan sawah tadah hujan akibanya petani harus menggunakan mesin pompa air untuk menanam padi di sawah. 

"16 kelompok tani yang ada hanya tiga kelompok tani yang aktif, yakni dua kelompok tani sawah dan kebun kakao. Kelompok tani tersebut adalah Kelompok Tani Sawah Tongah, Kelompok Tani Saiyo dan Kelompok Kakao," ujar Ferdian Irwan, Kepala Desa Talawi Hilir Kecamatan Talawi Sawahlunto, kepada Penulis, Rabu, 13 September 2017. 

Ia menyebutkan bahwa masing-masing kelompok beranggotakan 15 orang. Kelompok tani yang tidak aktivitas tersebut disebabkan terjadinya kecemburuan sosial antar sesama. Terutama dalam hal pembagian hak pakai bantuan mesin pompa air dari Dinas Pertanian Kota Sawahlunto.

"Mesin pompa air tersebut digunakan untuk mengaliri air ke sawah petani yang pemanfaatannya secara berkelompok. Namun, karena ada yang tidak kebagian memakai pompa air tersebut akhirnya kelompok menjadi pecah dan berpengaruh pada aktivitas kelompok itu sendiri," katanya. 

Selain itu, ungkap Ferdian, petani juga mengelukan sulitnya membeli pupuk, malahan, petani telah mendaftarkan diri dengan melakukan penandatanganan untuk pembelian pupuk. Namun, setelah menandatangani pupuk juga tidak bisa dibeli dari kelompok. Akibatnya, petani menjauh dari kelompok dan tidak lagi aktif. 

"Petani membeli pupuk susah, sehingga petani membeli pupuk ke Padang Ganting Kabupaten Tanah Datar. Harganya pun lebih murah sekarung seharga Rp135 ribu sedangkan di Sawahlunto di jual seharga Rp150 ribu perkarung," katanya.  

Ia mengatakan bahwa sawah petani di Desa Talawi Hilir merupakan sawah tadah hujan. Sebab, belum memiliki irigasi sehingga berisiko kekeringan dan gagal panen. Untuk mengatasi resiko kekeringan air tersebut agar petani tetap turun kesawah menanam padi dengan menggunakan mesin pompa air. 

"Mesin pompa air tersebut merupakan bantuan dari pemerintah kota untuk membantu petani. Namun, masih ditemukan kendala dilapangan atas pemanfaatan mesin pompa air tersebut, pemanfaatan yang belum merata. Kemudian tambah pula tingginya ongkos pemliah bahan bakar yang dikelurkan untuk mengaliri air ke sawah," tambahnya. 

Ia melanjutkan bahwa untuk mengaliri air ke sawah petani menghabiskan uang sebesar Rp7 juta. Sementara biaya yang terkumpul berdasarkan iyuran sebesar Rp8 juta. Sebab, biaya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak dibantu pemerintah. Sehingga petani banyak kewalahan untuk menutupi biaya yang dikeluarkan mengaliri air ke sawah. 

"Untuk membantu masyarakat petani kita akan memanfaatkan pompa air tepat guna Hidram yang akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kita akan ajukan anggaran tersebut tahun 2018 untuk membantu masyarakat petani dalam hal kekurangan air. Sebab, pompa air tersebut tidak memakai bahan bakar untuk menyedot air dan mengalirikannya ke sawah petani," katanya. 

Sementara itu, lanjut dia, pompa air tepat guna Hidram tersebut pipa sebesar 6 inci setelah konsultasi melalui studi banding sehsrga Rp17 juta satu unit pompa. Kemudian, alternatif lain untuk mengaliri air, pemerintah desa telah menggarkan teknologi pompa air tenaga surya tanpa memiliki baterai. Pompa tersebut menggunakan dana desa sebesar Rp150 juta. 

"Saat ini sedang dilakukan proses pemasangan peralatan teknologi pompa air tenaga surya akan dioperasikan dalam waktu dekat. Sehingga, sawah petani dapat dialiri air sehingga petani bisa bercocok tanam. Karena biaya terlalu mahal sehingga untuk uji coba dilakukan di sawah Tapian Tonang. Teknologi pompa air tenaga surya tersebut hidup secara otomatis untuk memompa air ke sawah petani pasaat siang hari dan malam pompa air tersebut matu karena tidak memiliki baterai," tuturnya.