Showing posts with label Artikel Teater. Show all posts
Showing posts with label Artikel Teater. Show all posts

Tuesday, September 20, 2016

Melibatkan Penonton Sebagai Pemain



Pertunjukan Komunitas Seni nan Tumpah berjudul Lomba Keharmonisan Rumah Tangga Naskah Karta Kusumah Sutradara Andre Pratama mentas Gedung Teater Utama UPTD Taman Budaya Sumbar pada Rabu, 23 Desember 2015 malam.

Pertunjukan yang melibatkan penonton secara langsung dan tak langsung untuk menjadi pemain dalam pertunjukan tersebut. Tata cahaya mengarah pada penonton sehingga penonton terlibat sebagai pemain tak langsung di atas pentas. Tata cahaya yang dikonsep ini memberikan ruang imajinasi bagi penonton untuk berlibat secara langsung dalam ruang pertunjukan.

Ketika cahaya lampu pentas diarahkan pada penonton yang menyilaukan mata. Dalam kesempatan tersebut pertunjukan yang dibagi dalam beberapa babak. Pemisahan babak satu ke babak selanjutnya pada pertunjukan itu disisipkan dengan tanda lampu penonton dinyalakan. Hal ini menjadi tata konsep cahaya baru bagi pertunjukan bagi Komunitas Seni nan Tumpah sepanjang perjalananya.

Sesuatu yang menarik dalam pertunjukan dipentaskan Komunitas Seni nan Tumpah. Sebab tidak ada pembatasan ruang pemisah antara pemain dan penonton pertunjukan. Penonton secara sadar menjadi pemain yang dibutuhkan dalam pertunjukan. Penonton menjadi lingkungan sosial yang ikut serta mendukung pertunjukan. Keberadaan penonton tidak hanya menjadi penonton masif, namun keterlibatan dari tata cahaya yang dihadapkan pada penonton, sehingga penonton menjadi pemain tak langsung dalam pertunjukan tersebut.

Penonton secara sadar datang menyaksikan pertunjukan, sehingga penonton berupaya mencari tempat duduk yang ideal menurut perspektif ruang diinginkan untuk menyaksikan pertunjukan. Namun situasi menjadi berubah saat peralihan adegan bagi pertunjukan oleh pemain (aktor) di pentas. Penonton pun keterlibatannya menjadi sesuatu hal yang diperhitungkan. 

Penonton pada dasarnya menjadi kebutuhan bagi sebuah pertunjukan. Sebab, adanya penonton dipastikan saat itu sedang perlangsung peristiwa pertunjukan. Kadangkala, jika pertunjukan sedang berlangsung tanpa adanya penonton maka, hal itu masih dalam tatanan konsep proses kreatif. Artinya peristiwa pertunjukan tersebut masih dalam jenjang latihan, untuk menuju peristiwa pertunjukan lebih utuh yang dilengkapi oleh penonton.

Penonton menjadi pemain saat pertunjukan berlangsung. Penonton menjadi aktor sembari duduk di kursi penonton yang telah tersedia. Penonton menjadi pelaku pada arahan lampu panggung yang menyala mengarah pada penonton. Penonton menjadi aktor aktif saat lampu penggung menyala dan diarahkan pada penonton. Keterlibatan penonton sebagai pemain menghadirkan suasana seperti berada ditengah pasar. Bisikan serta suara-suara pun bermunculan pada penonton.

Kemudian, settingpanggung minimalis fungsional itu, terus mengalami perkembangan. Proporti yang ada di atas penggung hadir lebih sederhana. Berbeda dengan pertunjukan Komunitas Seni nan Tumpah sebelumnya dalam penggarapan naskah-naskah Arifin C Noer. Pertunjukan realis itu, dilengkapi dengan setting panggung yang realis pula.

Namun, pertunjukan Komunitas Seni nan Tumpah berjudul Lomba Keharmonisan Rumah Tangga Naskah Karta Kusumah Sutradara Andre Pratama, telah 'keluar' dari konsep yang di bangun Komunitas Seni nan Tumpah sebelumnya. Komonitas Nan Tumpah telah baju dan berkembang konsep setting panggungnya.

Komunitas Seni Nan Tumpah ini terus mengalami pergeseran konsep dalam setting panggung. Pertunjukan yang berlangsung dengan setting panggung minimalis. Setting penggung multi fungsi yang beberapa boks berbahan kayu. Boks menjadi identitas lokalitas kehidupan yang keras.

Penjabaran dari boks tersebut telah difisualkan dalam pertunjukan. Boks tersebut berubah-rubah dari fungsi sesungguhnya. Boks itu diinterpretasikan menjadi susuatu yang lebih hidup diatas pentas. Boks tersebut penggunaan lebih kreatif oleh para aktor. Boks tersebut dipragakan berupa permainan puzzle. Penyusunan boks itu menjadi setting panggung yang selalu berubah-rubah. Sehingga boks tersebut menjadi lebih multi fungsi.

Penyusunan boks tersebut terkadang menjadi perabotan rumah tangga. Menjadi dipan (tempat tidur), televisi, meja kerja, pustaka dan segala macam jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan. Kesederhaan itu menjadi konflik bagi keluarga demi pekerjaan. Konflik mendasar suami yang sibuk dengan pekerjaan, sementara istri sibuk pula dengan karir. Kesibukan pekerjaan masing-masing menjadi pemicu konflik rumah tangga itu terjadi. Tambah pula tidak didukung dengan pendapatan yang tidak berimbang. Hal itu sepertinya menjadi perseteruan jender.

Karena sibuk bekerja, sehingga ada yang telupakan. Pekerjaan itu tentu telah disesuaikan dengan hasil. Namun hasil dari sebuah pernikahan adalah keturuanan. Karena suami pekerja keras, istri menjadi wanita karir sehingga belum sempat memikirkan keturunan, sebagai hasil dari sebuah pernikahan. Konflik yang tak berujung itu danpa ada penyelsaian. Sutradara pun tidak menghadirkan spektakel dari konflik yang dibangun dalam pertunjukannya.

Sutradara belum memaksimalkan pertunjukan dalam menata konflik dalam alur naskah digarap. Pertunjukan menjadi anti klimaks dan terkesan hambar, sehingga pertunjukan yang dipentaskan tanpa menyelipkan lakudramatik kongkrit di atas pentas. Puncak konflik yang ingin dihadirkan tenggelam oleh permanian para aktor membahas keluarga masing-masing.

Kemudian, menggabaran tokoh dalam naskah "Lomba Keharmonisan Rumah Tangga" Naskah Karta Kusumah. Setiap hari disibukan dengan pekerjaan. Dunia yang semakin kapitalis yang hedonis. Sehingga untuk peluang memikirkan keluarga pun terabaikan. Dunia pekerjaan yang semakin sibuk sehingga keharmonisan rumah tangga perlahan di kuras oleh pekerjaan. Waktu bersama yang seharus dengan keluarga telah diambil oleh dunia kerja. Konflik pun terjadi antara istri dan suami, karena kesibukan bekerja sehingga perasaan cinta pun harus terbagi dengan pekerjaan.

Konsep pertunjukan realis itu dengan setting peristiwa tahun 1990-an. Sutradara Andre Pratama menginginkan gambaran terhadap apa yang di amati dan dicermati. Sehingga pendekatan sosial kemasyaratan kekinian diangkat ke atas pentas. Dunia pekerjaan yang semakin pelik telah mulai menghukum ruang kebersamaan.

Kesibukan dunia pekerjaan telah memberikan jarak yang teramat jauh antara keluarga dan pekerjaan demi terjalinnya kasih sayang antar sesama. Terutama istri pada suami atau sebaliknya, suami kepada istri. Sehingga kedua keluarga pelakon dalam pertunjukan tersebut, cinta-kasih sayang hanya sebuah permainan. Sehingga untuk melengkapai hari bahagia mereka menghabiskannya dengan cara bermai-main serta candaan. Dalam kepura-puraan cinta kasih sayang itu seakan ciptakan masing-masing keluarga. Namun sesungguhnya cinta dan kasih sayang itu lebih tinggi pada dunia pekerjaan

Tuesday, June 21, 2016

Penyutradaraan Teater : Fungsi dan Ruang Lingkup Kerja Sutradara



Pementasan drama suatu kegiatan berkesenian yang melibatkan banyak orang. Para pemain, petugas-petugas panggung dan mungkin juga sponsor dan penyandang dana. Di samping itu, dalam kegiatan ini ditemui pula berbagai jenis seni seperti, seni sastra, seni peran, seni rupa, seni musik, tari dan sebagainya. Semudia tenaga yang terdapat di arahkan pada suatu tujuan, yaitu suksesnya pementasan. Begitu pula unsur seni yang ada, semua itu di pandu menjadi suatu bentu penampilan yang serasi di pentas.

Kemudian, orang yang bertanggungjawab atas kelancaran kerja kolektif ini adalah sutradara. Pada kemampuannya terdapat kunci kesuksesan kelompok ini, karena ua adalah pemimpin dalam kelompok kerja ini.

Dalam lingkup sutradara disebutkan bahwa, setelah sutradara memiliki naskah (memahami dan menafsirkan ) langkah selanjutnya yang harus dikerjakan oleh sutradara adalah membuat rancngan pementasan yang biasa disebut konsep atau buku kerja sutradara. Konsep ini berisi semua hasil pemikiran sutradara tentang pementasan yang akan dilakukan.

Konsep ini merupakan pegangan utama bagi sutradara untuk kelancaran kerjanya. Perubahan dapat saja terjadi selama proses kerja berlangsung, tetapi kemungkinan itu hanya terjadi pada bagian yang tidak merusak konsep secara keseluruhan. Perubahan ini terjadi disebabkan sutradara menginginkan kesempurnaan. Datangnya ide tambahan itu, biasa saja dari sutradara itu sendiri maupun pemain atau penanta pentas teknis. Siapa yang dimaksud sutradara? Apa fungsi sutradara tersebut, apa ruang lingkup kerja dan mitra sutradara?

Sutradara adalah seorang seniman teater yang mewujudkan naskah secara menyeluruh di pentas" dan karyanya adalah sebuah pementasan, bersarakan kutipan konsep yang dilahirkan oleh orang-orang teater dalam Lokakarya Terater tahun 1977 di Ambarawa (Arifin, 1980 : 31).

Oleh sebab itu, seorang sutradara dituntut untuk melangkapi dirinya dengan barbagai ilmu, meliputi pengetahui masalah kebudayaan (aspek cultuwal), masalah seni (aspek artistik), masalah pentas (aspek teatral) dalam maslah kesusastraan (aspek literer).

Masalah kemudayaan yang harus dikuasai adalah berkaitan dengan adat istiadat suatu daerah atau suatu bangsa. Keseiannya maupun nilai-nilai norma yang berlaku pada kelompok budaya tertentu. Disamping itu perlu juga melengkapi diri dengan pengetahuan tentang jiwa, berkaitan dengan masalah perwatakan suatu kelompok budaya tertentu.

Pengetahuan tentang aspek artistik diperlukan untuk membuat kemasan yang tepat. Musik misalnya dikaitkan dengan penggunaannya sebagai selingan atau bangunan suasana. Bagitu pula seni rupa, tata rias, tata busana atau pemunculan perwatakan. Kemudian, pengetahuan seni rupa berguna untuk membentuk komposisi dan latau atau setting.

Selanjutnya, pengetahuan tentang aspek teatral dikaitkan dengan masalah pentas, dekorasi, hukum pementasan dan akting. Sedangkan aspek literer dikaitkan dengan pengetahuan tentang naskah drama sebagai hasil sastra.

Sementara itu, naskah bagi sutradara adalah sumbar karyanya. Oleh sebab itu, seorang sutradara harus mengenal satra dengan benar, baik masalah intrinsik maupun ekstrinsik atau berasal dari luar, bukan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sesuatu. Begitu pula mengenai jenis sastra seperti novel, cerpen, puisi dan naskah sebagai satra drama. Seperti ilmu pendidikan, sejarah, filsafat, sosiologi, atropologi, psikologis dan sebagainya.

Selanjutnya, sutradara adalah seniman yang mengkoordisir segala anasir teater dengan paham, kecakapan, sastra daya khayal yang intelegen sehingga mencapai suatu pertunjukan yang berhasil. Maka, dengan demikian, Haryawan (1976 : 44 ) mengatakan bahwa sutradara adalah seorang seniman dan juga koordinator. Sementara itu, kaitan kegiatan sutradara itu dapat dilihat dalam hubungan segi tiga antara pengarang (sastrawan), pemeran (aktor/pemain/lakon) dan penonton. Untuk menjelaskan hal tersebut, maka perlu di ingat kembali tentang apa yang disebut seni drama (teater) tersebut.

Drama (teater) adalah suatu bentuk kesenian yang menyampaikan cerita dalam bentuk dialog dan laku di depan penonton. Defenisi memperlihatkan bahwa seni drama melibatkan beberapa unsur seni sastra (cerita) ada pemeran (unsur peraga) yang menyampaikan dan ada unsur penonton yang menyaksikan.

Sutradara menjadikan naskah karya pengarang sebagai media pementasannya. Naskah ditafsirkan untuk sebuah rancangan pementasan. Sutradara memilih dan mengarahkan pemain. Sutradara pulalah yang mempersembahkan karyannya untuk penonton. Hungan di jalin dengan memperhatikan norma tertentu yang telah dijadikan hukum di kalangan seniman. Intinya saling menghormati keberadaan masing-masing.

Sutradara menghormati pengarang dengan cara tidak mengobrak-abrik naskahnya, sehingga tidak dapat lagi dikenal siapa pemilik cerita. Setradara menghormati pemain dengan cara memberi peluang bagi pemain untuk mengekpresikan kemampuan pribadinya, idenya, tidak hanya sekedar alat bagi sutradara. Sutradara menghormati penonton, dengan menganggap penonton bodoh dengan menggurui yang berlebihan. Sebaliknya pengarang, pemain dan penonton menghargai sutradara dengan menjaga posisi masing-masing.

Fungsi sutradara sebagaimana dijelaskan Arifin (1980 : 32) dikatakan bahwa sutradara adalah mengkoordinasikan kerja ensambel dan pencita kondiri kerja. Sedangkan ruang lingkup kerja adalah memilih naskah, memilih dan menentukan pemeran (lakon/aktor), merancang dan melaksanakan latihan dan pementasan.

Kemudian, fungsi sebagai koordinator kerja ensambel terlihat daru cara sutradara menghimpun dan menyatukan keinginan anggota kelompok untuk mencapai tujuan. Menugkin saja terjadi dalam proses kerja tersebut ada pribadi-pribadi yang membuat resah kawan-kawannya, bisa juga kurang disiplin, atau terlalu memaksakan kehendak dan mungkin juga mengada-ada sehingga merusak nuansa kerja. Pada kondisi seperti inilah pesan sutradara sangat dibutuhkan.

Selain itu, fungsi sutradara adalah melayani dan sekaligus memimpin pertunjukan atau pementasan di bidang artistik. Namun, jika dilihat dari persoalan manajemen, seorang pimpinan produksi atau production managerlah yang melaksanakan fungsinya ini. Secara ideal, fungsi seorang sutradara adalah merencanakan, memutuskan, mengarahkan, mewujudkan dan bertanggungjawab secara artistik dari pertunjukan atau pementasan yang dilaksanakan. Fungsi ini diembangkan dan dijalanan serempak dalam suatu ketika (bersama-sama) atau kolektif. Tetapi seorang sutradara tidak dapat berjalan sendiri, ia harus sadar akan kemampuan yang dimilikinya dan serba memiliki kekurangan. Oleh karena itu, ia membutuhkan orang lain yang dipilih dan diputuskannya (otoritas penuh) untuk bekerja sama dalam menjalankan kedua fungsi tersebut.

Mereka dipilih berdasarkan kebutuhan akan bidang-bidang khusus. Mereka terdiri dari dua kelompok besar yakni, pertama, kelompok pemain atau penari. Kelompok ini sudah jelas adalah orang-orang yang memiliki bakat atau keahlian berbain atau menari. Kedua kelompok artistik adalam orang-orang yang memiliki keahlian atau bakat dibidang perencanaan dan pelaksanaan untuk set/dekor/proprerti, desain tata cahaya ( lampu ), komposisi musik dan gerak, busa ( kostum ), rias wajah/rambut, aturan teta cara peralatan pentas (disebut : pemimpin panggung atau stage manager), dan pendamping penyutradaraan ( disebut : asisten sutradara ).

Sementara itu, penjabaran dari kedua fungsi sutradara tersebut adalah memilih naskah atau memilih naskan sesuai dengan tema yang diberikan. Manfsirkan naskah yang di pilih, jika sutradara sendiri yang menulis naskahnya, maka tingkat kesulitannya akan lebih kecil. Menentukan batang pokok penafsiran dari naskah. Memilih dan menentukan pemain dengan peran (casting) dan pekerja artistik yang dibutuhkan. Memberikan batang pokok penafsiran naskah kepada seluruh personil yang telah terpilih untuk terlibat.


Kemudian membicarakan dan menyetujui rencana atau desain set, dekor, cahaya, busana, rias wajah dan rambut, komposisi musik dan gerak (tari). Membuat rencana pembiayaan yang dibutuhkan, melatih pemain dengan baik dan jujur sesuai dengan batang pokok penafsiran naskah yang sudah di pilih. Mengembangkan gagasannya dan mengacu pada batang pokok penafsiran naskah yang sudah di pilih. Mengamati pertunjukan atau pementasan dan memberikan dorongan moril kepada pemainnya.

Ruang Lingkup Kerja Sutradara itu sendiri memilih, mendalami, menghayati dan menafsirkan naskah. Memilih dan menentukan peran (casting) kerja sama dengan menulis naskah, penata pentas serta kerja pekerja teater lainnya. Merencanakan dan melaksanakan latihan serta persiapan kerja pentas.

Sementara itu, mitra kerja sutradara bekerja sama dengan kelompok, pelaku, pekerja teater dan pelaksana. Para pelaku ( aktor/pemeran ) adalah kelompok orang ( artis ) yang telah dipilih ( casting ) untuk memainkan peran tertentu dalam cerita. Mereka dapat digolongkan menjadi pemeran utama, seperti protagonis dan natagonis. Dapat pula digolongkan sebagai peran pembantu dan figuran. Kelompok ini disebut pemeran tambahan.

Para pekerja teater adalah sekelompok orang ( ahli ) yang membantu melancarkan tugas sutradara mereka adalah : pemimpin panggung ( stage manage, koordinator waktu pementasan ) penata pentas, busana, rias, cahaya, musik, bidang dekorasi, pelengkapan dan petugas-petugas pentas. Kelompok pelaksan antara lain adalah produser, biasanya disebut penyandang dana. Pimpinan produksi ( manager ). Humas yang mempublikasikan pementasan dan seksi tamu yang mengatur tamu-tamu dan tempat.

Penyutradaraan, ada dua tipe kepemimpinan diterapkan oleh sutradara, tipe diktator dan tipe bebas. Tipe diktator berciri sutradara yang mengatur semmuanya, tidak ada masukan dari yang lain. Tipe bebas, sutradara memberikan kepada pemerannya untuk berkreasi. Tetapi tidak ada tipe ideal, lalu muncul tipe gabungan. Muncul-lah tipe yang mengatur, tetapi memberi kebebasan yang terbatas. Kelebihan tipe gabungan ini adalah menculnya iklim kerja yang kondusif.

Harymawan mengemukanan bahwa beberapa hal tentang pembinaan kerja sutradara, seperti bagaimana menemukan nada dasar, merencanakan tata teknik pentas, menentukan casting, menyusun mese en scene, menguatkan atau melemahkan scene, menciptakan aspek laku dan mempengarusi jika (psike) pemain.

Kemudian, Kerja sutradara dapat dikelompokan menjadi, memilih memahami dan menafsirkan naskah. Sutradara perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengambil keputusan, antara lain yang menjadi bahan pertimbangan adalah kondisi internal kelompok, faktor eksternal dan kemampuan sutradara sendiri. Faktor internal yang perlu diperhatikan adalah sumber daya masuian. Bagaimana kondisi kelompok yang akan dimainkan drama tersebut. Setelah semua kemungkinan itu dipertimbangkan berulah sutradara mengambil keputusan untuk memilih naskah. Kemudian, faktor eksternal yang perlu diperhatikan sutradara adalah faktor kondisi dan situasi sarana penunjung.

Merancang konsep pementasan. Konsep ini adalah hasil tafsiran sutradara terhadap naskah yang dipilihnya. Memilih pemain, disebut juga melakukan casting, serta memilih mitra kerja, seperti para penata pentas dan sebagainya. Melatih para pemain, kemudian mementaskan.

Selanjutnya, dasar-dasar penyusunan konsep sutradara dengan memperhatikan berbagai faktor keserasian penataan unsur teater. Serasi berarti adanya kesearasan ( keharmonisan ) antara unsur yang tampak di pentas dengan tuntutan naskah. Kemudian, apa yang dikehendaki naskah dapat diperoleh dengan menghayati naskah.

Sementara itu, penghayatan itu bertujuan menemukan ide, bagaimana mendukung unsur-unsur teater secara baik sehingga tampak di pentas betul-betul bisa menyampaikan makna naskah kepada penonton. Kemudian, langkah kerja yang dilakukan adalah membaca naskah, menafsirkan naskah, menghayati dan mengekpresikan konsep pentas.

Konsep selanjutnya adalah analisa berdasarkan berdasarkan langkah kerja dengan cara kutipan naskah ini menceritakan tentang keadaan hati memelalui pembicaraan beberapa orang. Kemudian Interpretasi terhadap naskah berdasarkan susana dalam cerita tersebut. Selanjutnya, menata pentas berarti menampakan atau menampilkan suatu suasana tertentu yang ada dalam naskah pentas. Artinya apa yang terlihat dipentas ( bentuk visual ) selalu ada kaitannya dengan cerita ( naskah ). Tentu saja konsep yang dipakai adalah konsep sutradara, karena sutradaralah yang menafsirkan naskah.

Tafsiran tersebut meliputi usaha-usaha seperti merencanakan dekorasi atau riset. Apakah yang diperhatikan itu sebuah taman, ruang tunggu di stasiun kereta api, ruang tempat raja menerima menteri-menterinya menghadap, atau daerah perbukitan, kemudian bagaimana mengatur peralatan tersebut. Menentukan make-up ( tata rias ) dengan cara melukis wajah pemain sesuai dengan perannya. Seroang tua, seorang pelacur, orang berwatak keras, wajah cina atau melayu, semua itu dilakukan dengan konsep. Kemudian menata pakaian menentukan apakaian yang akan akan di pakai dalam pementsan, baik pemain utama atau pemain pembantu. Perlu di ingat bahwa dalam pementasan pakaian ini harus terkoordinir, baik kenisnya ( modelnya ) maupun warnanya.

Tata cahaya ( lighting ) pun agaknya diperlakukan sama bahwa penataan cahaya itu perlu diperhatikan adalah bagaimana pemanfaatan cahaya itu sesuai dengan cerita. Bagaimana di pentas yang perlu terang atau gelap, kemudian kapan seluruh pentas harus jelas oleh penonton. Warna apa yang harus dipakai untuk menjukan waktu sore hari dan seterusnya.

Selanjutnya, penempatan pemain di atas penaggung berfungsi untuk menghidupkan suasana di pentas. Oelh sebab itu, bagaimana dan dimana posisi pemain harus diatur sedemikian rupa sesuai dengan teori pemain, teori komposisi. Kemudian, perencanaan semua komponen penataan pentas ini harus disesuaikan dengan nada dasar cerita. Misalnya, kalau tragedi didominir oleh warga gelap, sedangkan komedi lebih menonjolkan warna cerah baik dalam pilihan warna setting pakaian meupun tata rias dan tata cahaya.

Wednesday, October 21, 2015

Teater Tanpa Kata dan Minim Kata Sumatera Barat

Wacana Eksperimen dalam pertunjukan seni Sumatera Barat. Teater tanpakata dan minim kata Sumatera Barat berangkat dari pemahaman kepada dua seni pertunjukan 'Lini' karya/sutradara Zurmailis Kelompok Studi Sastra dan Teater (KSST) Noktah dan 'Menunggu' Karya/sutradari Yusril Teater Hitam-Putih. Dua pertunjukan ini sebagai sampel pembanding untuk dilihat secara lokus oleh Pandu,M.Sn sebagai pembicawa diskusi di Ladang Tari Nan Jombang Senin, 31 Agustus 2015 malam.

Laporan: Julnadi Inderapura, Padang, 
 
Beranjak dari sejarah seni pertunjukan tanpa kata di Sumatera Barat yang berkembang pada tahun 1990-an. Kemudian, sejarah seni merupakan sejarah pertarungan konsep-konsep dan kledo seni pertunjukan bagi pengkarya. Sehingga seni pertunjukan melibatkan struktur dramaturgi serta memfungsikannya menjadi sebuah kerangka teater arena.

Pembacaan terhadap teater arena di Sumatera Barat itu sendiri ada banyak antologi sebagai bahan baku kultur Minangkabau untuk sebuah kajian. Banyak kritikus yang mambahas tentang teater arena Sumbar di era 90-an tersebut. Hal itu bermula dari 'Eksperimen' pertunjukan Bumi Teater Wisran Hadi.

Selanjutnya dalam pembacaan teater arena di Sumbar tek terlepas dari pengaruh 'Habitus' (kelompok komedi Stambul) bahwasanya tidak boleh kalah dengan konsep-konsep dari luar Sumbar. Sehingga dalam pertunjukan teater arena sebagai wadah pertarungan konsep-konsep dari masing-masing sutradara. Sebab, sutradara tidak ingin bodoh dari sutradara yang lain dan tidak ingin terkalah saat pertunjukannya mengenai konsep yang ditawarkan.

Sementara itu, Pandangan Pandu dari Leskep pertunjukan teater arena 'minim kata' adalah untuk menggugat 'kata' itu sendiri di wilayah Sumatera Barat. Sementara tekstual analitis sebagai konstruksi drama turgi sebagai bentuk kajian. Maka dalam seni pertunjukan teater arena, tekstual analitis itu terlihat dalam 'lakon' yang tertuang dalam pertunjukan Bumi Teater Wisran Hadi.

Kemudia dua pertunjukan 'Lini' dan 'Menunggu' tersebut dramaturgi-nya tidak tertuang dalam 'lakon' drama. Namun, kedua pertunjukan tersebut dramaturgi-nya terlahir dari diskusi-diskusi secara tematik pada saat latihan.

Sementara itu, tokoh dalam pertunjukan Wisran Hadi terdapat tokoh-tokoh yang 'berdarah daging'. Artinya tokoh yang di ambil dari kultur Minangkabau seperti Imam Bonjol, atau tokoh fiksi sekalipun. Simbol-simbol yang lebih pasif menerimanya dalam pertunjukan Wisran Hadi karena tokohnya yang 'mendarah gading'. Sedangkan tokoh-tokoh 'Lini dan Menunggu' merupakan tokoh yang 'bukan' mendarah gading.

Kemudian dalam diskusi tersebut Pandu menjelaskan Eksperimen adalah upaya menembus kledo yang terlahir dari tokoh-tokoh yang sangat simbolik kedua Sutradara 'Lini dan Menunggu'. Kemudian teater berpolitik dengan perkembangan era pemerintahan. Sehingga teater Sumatera Barat kaya dengan teater Eksperimen.

Teater tradisi menuju teater modern atau 'Auto ship art'. Eksperimentasi pertunjukan dalam kelompok komedi stambul telah mempengaruhi teater tradisi Minangkabau. Misalnya pada tahun 1889 teater arena kelompok komedi stambul masuk ke Indonesia melalui pulai Jawa kemudian berkembang Sumatera barat. Sesampai di Sumatera Barat pada tahun 1901 kelompok komedi stambul bubar. Komedian stambul yang dibawa oleh Habitus ini hanya bertahan selam tiga tahun di Indonesia.

Kemudian, berawal pada tahun 1889 itu sesungguhnya teater tradisi arena yang disebut juga Randai belum memakai kata-kata. Randai waktu itu, masih memakai gumam dan tidak berkata-kata. Namun, setelah 1901 tersebut Randai mengadopsi cerita kaba dan berkata-kata sehingga Eksperimentasi dapat terlahir dalam perjuntujan randai atau teater arena di Sumbar. Terlahirkan eksperimental dengan adanya tokoh dalam cerita yang ada dalam pertunjukan.

Pandu kemudian memberikan argumenya terhadap disiplin ilmu yang masih dalam perdebatan untuk membahas perbedaan tari dan teater minim kata tersebut. Sebab, tari memiliki alur dan tokoh dalam pertunjukannya. kemudian muncul anggapan baru apakah bisa dikatakan 'tari' sebagai 'teater minim kata'. Dalam hal ini, Pandu menyebutkan 'performance studies' tidak membedakan antara tari, teater dan musik. Namun terlebih pada pertunjukan (performa): kajiannya tidak lagi membahas tentang pisiologis tokoh melainkan hasil dari sebuah pertunjukan.

Sementara itu, S. Metron sutradara Ranah Teater menyanggah tentang eksperimen yang dipaparkan Pandu. Dalam hal ini Metron berpendapat bawa eksperimen itu jika mengacu pada bahasa artinya strategi dalam seni pertunjukan secara sistematis dalam sebuah pertunjukan. Maka, sistematis dalam pertunjukan tersebut dicurigai oleh politikus karena berangkat pada pengertian eksperimen itu sendiri.

Eri Mefri seorang Koreografer tari mengartikan eksperimen merupakan sebuah pertunjukan yang belum pernah selesai dan selalu berkelanjutan sampai pada sebuah titik temu. Maka, sebuah seni akan terus berlanjut tanpa melihat sebuah pertunjukan. Randai pada awalnya ber-ilau, dalam dendangnya banyak bercerita. Sehingga siapa saja yang melakukan eksperimen pertunjukan hendaklah jangan menolaknya.

Menurut Ery Mefri, dua hal yang patut di telusuri bahwa eksperimen dimulai dari karya sendiri, kemudian eksperimen dari bahan sendiri. Sutradara tidak akan bisa mencapai keinginannya tampa mecoba. Sutradara akan medapatkan apa yang diinginkan sesuai dengan bahan yang dimiliki sesuai latar belakang aktornya.

Kemudian pertanyaan pun muncul, kapan puncuk eksperimen yang dilakukan Wisran Hadi menghilangkan dunia nyata. Eksperimen apa yang hendak dicapai seorang pengonsep. Maka, akibat dari eksperimen tersebut hendaklah jelas hasilnya dalam pertunjukan. Namun sampai kapan bereksperimen dan mencoba-coba sebuah pertunjukan belum jelas konsepnya. Menurut Ery Mefri bahwa Bumi Teater Wisran Hadi memiliki bahasa dan bereksperimen dengan bahasanya.

Sementara itu, budayawan Sumatera Barat Darmawan menyebutkan teater tanpa kata itu terlahir pada tahun 1970-an di Sumatera Barat. Kemudian teater minim kata itu telah ada mensejak Wisran Hadi. Penokohan dalam pertunjukan Wisran Hadi telah mempungsikan dramatuginya. Karena Wisran Hadi menghadirkan pohon di pentas atau teater arena melalui aktornya. Wisran Hadi saat itu tidak menghadirkan pohon sesungguhan di atas pentas. Selanjutnya tokoh yang diperankan oleh lakon Wisran Hadi tiba-tiba berobah menjadi meja makan. Hal ini merupakan suatu eksperimen juga dari sebuah teater minim kata tersebut. Maka pertanyaannya sistematis dua pertunjukan 'Lini dan Menunggu' tersebut belum sebagai eksperimen. Dua pertunjukan tersebut lebih kekinian dan kontemporer untuk memberikan alternatif terhadap seni pertunjukan.

Pengalaman menarik diuraikan oleh Pandu mengenai pertunjukan 'Menunggu' karya/sutradara Yusril. Pertunjukan ini bagi Yusril terhadap aktornya adalah 'Pembongkaran' yang mendalam atas tubuh. Dalam arti kata tubuh tidak lagi menjadi tubuh sehari-hari. Dimulai dari mengikuti harmoni alam dan tubuh yang bergerak tanpa giesture.

Dalam hal ini Pandu kemudian menyebutkan bahwa 'diskusi tematik' sebagai sebuah kajian dramaturgi. Merobah tubuh dari tubuh tradisi dan keluar dari tubuh yang lebih sistematis. Namun dalam capaiannya metode Yusril termasuk gagal membawa tubuh aktornya di pentas.

Kemudian muncul anggapan baru apa yang menjadi pembeda antara  eksperimen dan eksplorasi. Pandu menyebutkan pembeda eksperimen dan eskplorasi tersebut lebih dekat pada teater post-dramatik sebagai sebuah teori. Eksperimen artinya mencoba dan menggali lebih dalam---pendalaman tentang sejarah. Ekplorasi artinya lebih eksperimen dan mencari makna yang mendalam. Selanjutnya, eksperimen dan ekplorasi menjadi kasus dalam 'performer studies' atara sutradara dan aktor.

Koreografer Inpessa Dance Company Jhoni Andra menyebutkan performer studies adalah sebuah keinginan yang menentang dengan memaksakan kehendak sutradara kepada aktor berarti sutradara telah gagal bereksperimen. Sulit membedakan taater eksperimen minim kata dengan pertunjukan tari yang memiliki alur dan tokoh. Apakah boleh disebutkan sebagai teater minim kata.

Identitas teater kata tidak eksperimen lagi dan lebih pada post-dramatik. Pembauran antara teater-tari bermula dari performace Studies tahun 1980-an telah berkembang. Meskipun Pandu tidak sepakat antara tari dan teater yang terdiri dari kajian-kajian disiplin ilmu bahwa sesungguhnya antara tari dan teater terpisah. Kemudian bagi performace studies telas meleburkan Teater dan tari tidak ada pembeda dan batas keduanya. Selanjutnya Pandu menyatakan dirinya lebih sepakat dengan keduanya (teater-tari) merupakan seni pertunjukan