Tuesday, September 20, 2016

Melibatkan Penonton Sebagai Pemain



Pertunjukan Komunitas Seni nan Tumpah berjudul Lomba Keharmonisan Rumah Tangga Naskah Karta Kusumah Sutradara Andre Pratama mentas Gedung Teater Utama UPTD Taman Budaya Sumbar pada Rabu, 23 Desember 2015 malam.

Pertunjukan yang melibatkan penonton secara langsung dan tak langsung untuk menjadi pemain dalam pertunjukan tersebut. Tata cahaya mengarah pada penonton sehingga penonton terlibat sebagai pemain tak langsung di atas pentas. Tata cahaya yang dikonsep ini memberikan ruang imajinasi bagi penonton untuk berlibat secara langsung dalam ruang pertunjukan.

Ketika cahaya lampu pentas diarahkan pada penonton yang menyilaukan mata. Dalam kesempatan tersebut pertunjukan yang dibagi dalam beberapa babak. Pemisahan babak satu ke babak selanjutnya pada pertunjukan itu disisipkan dengan tanda lampu penonton dinyalakan. Hal ini menjadi tata konsep cahaya baru bagi pertunjukan bagi Komunitas Seni nan Tumpah sepanjang perjalananya.

Sesuatu yang menarik dalam pertunjukan dipentaskan Komunitas Seni nan Tumpah. Sebab tidak ada pembatasan ruang pemisah antara pemain dan penonton pertunjukan. Penonton secara sadar menjadi pemain yang dibutuhkan dalam pertunjukan. Penonton menjadi lingkungan sosial yang ikut serta mendukung pertunjukan. Keberadaan penonton tidak hanya menjadi penonton masif, namun keterlibatan dari tata cahaya yang dihadapkan pada penonton, sehingga penonton menjadi pemain tak langsung dalam pertunjukan tersebut.

Penonton secara sadar datang menyaksikan pertunjukan, sehingga penonton berupaya mencari tempat duduk yang ideal menurut perspektif ruang diinginkan untuk menyaksikan pertunjukan. Namun situasi menjadi berubah saat peralihan adegan bagi pertunjukan oleh pemain (aktor) di pentas. Penonton pun keterlibatannya menjadi sesuatu hal yang diperhitungkan. 

Penonton pada dasarnya menjadi kebutuhan bagi sebuah pertunjukan. Sebab, adanya penonton dipastikan saat itu sedang perlangsung peristiwa pertunjukan. Kadangkala, jika pertunjukan sedang berlangsung tanpa adanya penonton maka, hal itu masih dalam tatanan konsep proses kreatif. Artinya peristiwa pertunjukan tersebut masih dalam jenjang latihan, untuk menuju peristiwa pertunjukan lebih utuh yang dilengkapi oleh penonton.

Penonton menjadi pemain saat pertunjukan berlangsung. Penonton menjadi aktor sembari duduk di kursi penonton yang telah tersedia. Penonton menjadi pelaku pada arahan lampu panggung yang menyala mengarah pada penonton. Penonton menjadi aktor aktif saat lampu penggung menyala dan diarahkan pada penonton. Keterlibatan penonton sebagai pemain menghadirkan suasana seperti berada ditengah pasar. Bisikan serta suara-suara pun bermunculan pada penonton.

Kemudian, settingpanggung minimalis fungsional itu, terus mengalami perkembangan. Proporti yang ada di atas penggung hadir lebih sederhana. Berbeda dengan pertunjukan Komunitas Seni nan Tumpah sebelumnya dalam penggarapan naskah-naskah Arifin C Noer. Pertunjukan realis itu, dilengkapi dengan setting panggung yang realis pula.

Namun, pertunjukan Komunitas Seni nan Tumpah berjudul Lomba Keharmonisan Rumah Tangga Naskah Karta Kusumah Sutradara Andre Pratama, telah 'keluar' dari konsep yang di bangun Komunitas Seni nan Tumpah sebelumnya. Komonitas Nan Tumpah telah baju dan berkembang konsep setting panggungnya.

Komunitas Seni Nan Tumpah ini terus mengalami pergeseran konsep dalam setting panggung. Pertunjukan yang berlangsung dengan setting panggung minimalis. Setting penggung multi fungsi yang beberapa boks berbahan kayu. Boks menjadi identitas lokalitas kehidupan yang keras.

Penjabaran dari boks tersebut telah difisualkan dalam pertunjukan. Boks tersebut berubah-rubah dari fungsi sesungguhnya. Boks itu diinterpretasikan menjadi susuatu yang lebih hidup diatas pentas. Boks tersebut penggunaan lebih kreatif oleh para aktor. Boks tersebut dipragakan berupa permainan puzzle. Penyusunan boks itu menjadi setting panggung yang selalu berubah-rubah. Sehingga boks tersebut menjadi lebih multi fungsi.

Penyusunan boks tersebut terkadang menjadi perabotan rumah tangga. Menjadi dipan (tempat tidur), televisi, meja kerja, pustaka dan segala macam jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan. Kesederhaan itu menjadi konflik bagi keluarga demi pekerjaan. Konflik mendasar suami yang sibuk dengan pekerjaan, sementara istri sibuk pula dengan karir. Kesibukan pekerjaan masing-masing menjadi pemicu konflik rumah tangga itu terjadi. Tambah pula tidak didukung dengan pendapatan yang tidak berimbang. Hal itu sepertinya menjadi perseteruan jender.

Karena sibuk bekerja, sehingga ada yang telupakan. Pekerjaan itu tentu telah disesuaikan dengan hasil. Namun hasil dari sebuah pernikahan adalah keturuanan. Karena suami pekerja keras, istri menjadi wanita karir sehingga belum sempat memikirkan keturunan, sebagai hasil dari sebuah pernikahan. Konflik yang tak berujung itu danpa ada penyelsaian. Sutradara pun tidak menghadirkan spektakel dari konflik yang dibangun dalam pertunjukannya.

Sutradara belum memaksimalkan pertunjukan dalam menata konflik dalam alur naskah digarap. Pertunjukan menjadi anti klimaks dan terkesan hambar, sehingga pertunjukan yang dipentaskan tanpa menyelipkan lakudramatik kongkrit di atas pentas. Puncak konflik yang ingin dihadirkan tenggelam oleh permanian para aktor membahas keluarga masing-masing.

Kemudian, menggabaran tokoh dalam naskah "Lomba Keharmonisan Rumah Tangga" Naskah Karta Kusumah. Setiap hari disibukan dengan pekerjaan. Dunia yang semakin kapitalis yang hedonis. Sehingga untuk peluang memikirkan keluarga pun terabaikan. Dunia pekerjaan yang semakin sibuk sehingga keharmonisan rumah tangga perlahan di kuras oleh pekerjaan. Waktu bersama yang seharus dengan keluarga telah diambil oleh dunia kerja. Konflik pun terjadi antara istri dan suami, karena kesibukan bekerja sehingga perasaan cinta pun harus terbagi dengan pekerjaan.

Konsep pertunjukan realis itu dengan setting peristiwa tahun 1990-an. Sutradara Andre Pratama menginginkan gambaran terhadap apa yang di amati dan dicermati. Sehingga pendekatan sosial kemasyaratan kekinian diangkat ke atas pentas. Dunia pekerjaan yang semakin pelik telah mulai menghukum ruang kebersamaan.

Kesibukan dunia pekerjaan telah memberikan jarak yang teramat jauh antara keluarga dan pekerjaan demi terjalinnya kasih sayang antar sesama. Terutama istri pada suami atau sebaliknya, suami kepada istri. Sehingga kedua keluarga pelakon dalam pertunjukan tersebut, cinta-kasih sayang hanya sebuah permainan. Sehingga untuk melengkapai hari bahagia mereka menghabiskannya dengan cara bermai-main serta candaan. Dalam kepura-puraan cinta kasih sayang itu seakan ciptakan masing-masing keluarga. Namun sesungguhnya cinta dan kasih sayang itu lebih tinggi pada dunia pekerjaan

No comments:

Post a Comment