Showing posts with label Pertanian. Show all posts
Showing posts with label Pertanian. Show all posts

Tuesday, January 16, 2018

Produksi Tanaman Hortikultura Meningkat Gabah Kering Menurun

Ketahanan pangan dan tanaman hortikultura, jagung dan ubi kayu kota Sawahlunto tahun 2017 meningkat di banding tahun 2016 lalu. Produksi jagung dengan lahan 6 ha pada tahun 2016 dengan hasil produksi sebesar 24 ton jagung mengalami peningkatan lahan produksi jagung di tahun 2017 menjadi 29,6 ha dengan hasil produksi jagung sebesar 228 ton tahun 2017. Sementara untuk lahan produksi Singkong (ubi kayu) juga mengalami peningkatan hasil produksi. Lahan produksi ubi kayu di tahun 2016 seluas 97 ha, dengan hasil produksi 3559 ton naik menjadi 109 ha luas lahan produksi Singkong dengan hasil produksi 5424 ton di tahun 2017. 

"Artinya ketahanan pangan kota Sawahlunto tahun 2017 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2016. Sehingga tidak ada lahan yang tidur dan tidak tergarap meskipun Sawahlunto untuk lahan pertanian sawah tadah hujan. Sementara untuk panen gabah padi kering mengalami penurunan produksi diakibatkan pengaruh cuaca. Pada tahun 2016 lalu hasil produksi padi gabah kering mencapai 15.055 ton pertahun, sedangkan di tahun 2017 produk padi gabah kering 13.645 ton," ujar Heni Purwaningsih, Sekretaris Dinas Ketahahan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Sawahlunto, Penulis, Selasa, 16 Januari 2018. 

Ia menyebutkan bahwa meskipun produksi padi untuk capaian kebutuhan di daerah tercukupi, walau produksi padi gabah kering menurun. Kemudian produksi padi gabah kering tahun 2017 masih di atas rata-rata dan harga beras masih stabil Rp16 ribu perkilo gram. Kemudian, penyusutan hasil produksi padi gabah kering tersebut karena curah hujan yang kurang. Sehingga kebutuhan air untuk areal persawahan yang tadah hujan debet airnya terbatas. 

"Meskipun telah diupayakan pengaliran air menggunakan pompa air namun karena debit air yang sedikit sehingga tidak terpenuhi cukupan air di sawah. Selain itu, ada pula menggunakan pompa air dengan tenaga surya yang dianggarkan dengan dana desa. Sehingga dapat dimanfaatkan untuk irigasi dengan varietas benih padi Gadang Rumpun Kumbayau. Benih tersebut memiliki umur 136 hari dengan luas lahan 240 ha dengan hasil panen 7,5 ton per hektare padi gabah kering padi gadang rumpun Kumbayau," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa Kementerian Pertanian RI secara resmi menetapkan padi gadang rumpun Kumbayau sebagai varietas unggul. Penetapan itu secara legal tertera pada surat keputusan (SK) Menteri Pertanian RI nomor: 825/Kpts/TP.010/12/2017 tentang pelepasan galur padi sawah lokal gadang rumpun Kumbayau sebagai varietas unggul dengan nama gadang rumpun Kumbayau. 

"Sebelum ditetapkan oleh Kementerian Pertanian RI, varietas padi gadang rumpun tersebut telah melalui sejumlah pengujian oleh pihak-pihak terkait. Diantaranya lolos uji dari Tim Penilai dan Pelepas Varietas (TP2V) Tanaman Pangan, Badan Benih Nasional Kementerian Pertanian pada Desember 2016 lalu," tuturnya. 

Ia menjelaskan bahwa Varietas padi Gadang Rumpun Kumbayau memiliki kelebihan ketahanan di lahan yang tidak lembab, tahan akan hama, produksi padi yang melebihi rata-rata varietas lain, serta sangat cocok untuk lahan sawah tadah hujan. Lolosnya varietas padi Gadang Rumpun Kumbayau sebagai varietas unggul oleh Kementerian Pertanian RI, merupakan sebuah harapan tersendiri bagi petani Sawahlunto untuk semakin sejahtera. 

"Selain benih varietas Gadang Rumpun Kumbayau bisa digunakan secara nasional, harga beras yang dihasilkan petani pun bisa meningkat. Produksi varietas padi Gadang Rumpun Kumbayau untuk Gabah Kering Panen berkisar antara 6,8 ton hingga 8 ton setiap hektarnya. Sebab padi gadang rumpun Kumbayau tahan dengan blas ras 033 dan blas ras 073 serta blas ras 133," tuturnya. 

Heni mengatakan bahwa kosekuensi benih padi gadang rumpun Kumbayau penangkaran, kemudian penangkaran benih subur di penangkaran di kembangkan tahun 2018. Kosenkuensi varietas padi gadang rumpun Kumbayau dikembangkan ke Kabupaten/kota untuk di sebarkan. Maka, perlunya sosialisasi kepada masyarakat Kabupaten/kota di Sumatera Barat. 

Sementara itu, Syafi'i, penemu varietas Gadang Rumpun Kumbayau, mengatakan bahwa varietas padi Gadang Rumpun Kumbayau yang dikembangkannya, telah menjalani pemurnian sejak 12 tahun lalu, di atas lahan sawah seluas setengah hektar. Pemurnian tersebut mendapat apresiasi pemerintah terutama Ali Yusuf Walikota Sawahlunto, mendorong agar varietas yang dimurnikan, dilegalisasi untuk mendapatkan sertifikat benih nasional.

"Kita sangat bangga dengan ditetapkannya varietas unggul nasional atas varietas Gadang Rumpun Kumbayau. Hal ini merupakan pengabdian terhadap Kota Sawahlunto tanah kelahiran," katanya. 

Monday, October 2, 2017

Surplus Beras Sawahlunto Capai 2600 ton Pertahun

Ketersediaan pangan kota Sawahlunto dengan arel persawahan 1680 ha dengan produksi padi Gabah kering hasil panen mencapao 15.055 ton pertahun. Hasil produksi padi gabah kering rendumen 15 persen menjadi 9500 ton beras pertahun. Sedangkan kebutuhan beras Sawahlunto sebesar 98 kilogram perorang pertahun dengan penduduk 64 531 jiwa. 

"Ketersediaan pangan belas Sawahlunto mencapai 98 kilogram per orang pertahun. Kebutuhan beras Sawahlunto lebih rendah dibandingkan sumbar sebesar 109 kilogram perorangan pertahun," ujar Hilmed, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Sawahlunto kepada Penulis Kamis, 28 September 2017. 

Ia mengatakan bahwa petani dianjurkan menanam varietas Padi Gogo dan Padi Gadang Rumpun di Sawahlunto untuk meningkatkan produksi gabah di 2017. Secara regional pagi gadang rumpun telah dilakukan disertifikasi sebagai varietas unggul lokal. 

"Padi gadang rumpun menjadi acuan dan ekon kota wisata, sehingga setiap restoran yang ada di Sawahlunto akan memperkenalkan padi gadang rumpun. Maka untuk memperluas areal tanam pada dagang rumpun telah ditanam 75 ha sawah dengan 25 kilogram per hektare," katanya. 
Ia menyebutkan bahwa produksi beras Sawahlunto 9500 ton pertahun dan konsumsi masyarakat Sawahlunto sebesar 6900 pertahun. Surplus beras Sawahlunto mencapai 2600 ton pertahun. "Konsumsi beras masyarakat Sawahlunto lebih sedikit dibandingkan dengan kota lain. Sebab, masyarakat Sawahlunto telah banyak mengkonsumsi produk olahan," tuturnya. 

Sementara itu, Petani Dianjurkan Bertanam Padi Gogo dan Gadang Rumpun petani untuk menanam varietas padi gogo (padi ladang) dan Padi Gadang Rumpun yang bisa bertahan dengan kekurangan air. 

"Alternatif akan sulit meningkatkan produksi gabah petani. Curah hujan tinggi sangat diperlukan untuk meningkatkan produktifitas tanam karena sebagian besar sawah tadah hujan. Hanya bagian kecil yang bisa ditanam dengan pengairan sistem irigasi. Itu pun bukan irigasi teknis dan skala kecil," tambahnya.

Heni Purwaningsih Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan menambahkan bahwa curah hujan rendah dan kemarau cukup lama di 2016, produksi padi daerah Sawahlunto turun hingga 5 persen di 2016 lalu. Meski begitu, produktifitas naik 5,042 ton per hektar. Sedangkan di 2017, target tanam padi 3.538 hektar dan target panen 2.549 ton per hektar.

"Kajian rencana menggunakan kincir tenaga surya. Kalau pengairan dengan mesin pompa tidak dapat diandalkan jangka waktu lama, karena semakin besar menyerap biaya untuk bahan bakar. Saat ini saja, kondisi sawah pertanian 918 hektar sawah tadah hujan dan 762 hektar dengan irigasi," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa pada peringatan hari Pangan Se Dunia pada Jumat, 29 September-1 Oktober 2017 dan akan mendatangkan petani 200 orang perhari. Peringatan Hari Pangan Se Dunia akan di ikuti 19 Kabupaten/kota Se Sumatera Barat. 

"Penyelenggaraan peringatan hari pangan se Dunia Sawahlunto sebagai tempat penyenggara. Panitia kegiatan penyelenggara ketahanan pangan Provinsi yang akan di buka oleh gubernur provinsi Sumatera Barat. Kegiatan tersebut akan memberikan penghargaan Adikarya Pangan Nusantara. Kategori Pembina Ketahanan Pangan. Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan yang di terima kelompok wanita tani, Pelaku Pembangunan Ketahanan Pangan, kelompok industri pengolaham pangan," katanya.

Saturday, September 16, 2017

Sawah Tadah Hujan Dibantu 34 Unit Mesin Pompa Air

Pemerintah Kota Sawahlunto memberikan bantuan mesin pompa air untuk menutupi kebutuhan air sawah petani tadah hujan. Ada sebanyak 34 unit mesin pompa air yang diberikan kepada kelompok tani Sawahlunto. Pompa air tersebut dianggarkan 11 unit mesin pompa dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan 23 unit mesin pompa dari dana Anggaran Pendapatan Belanda Daerah (APBD).

"Lahan pertanian Sawahlunto seluas 1680 ha sebagain besar merupakan sawah tadah hujan, dengan jumlah petani sebanyak 4500 lebih petani. Kemudian, kelompok tani ada sebanyak 238 kelompok yang tersebar di emapat kecamatan," ujar Heni purwanengsih Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Perikanan Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Rabu, 13 September 2017. 

Ia menyebutkan bahwa bantuan mesin pompa air untuk memenuhi kebutuhan pasokan air persawahan petani diberikan perkelompok. Bantuan mesin pompa air tersebut diberikan kepada kelompok tani memiliki sawah tadah hujan. Namun bantuan tersebut tidak hanya berupa mesin pompa dan tidak diberikan bantuan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk dioperasionalkan. 

"Diakui mesin pompa tersebut membutuhkan biaya untuk mengaliri air ke sawah petani. Namun pompa air tersebut pemanfaatannya sewaktu waktu tidak ada hujan, barulah pompa air tersebut digunakan. Sehingga tidak terjadi kekeringan terhadap sawah petani yang berujung pada gagal panen," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa bantuan mesin pompa air tersebut agar sesuai dengan mekanisme pemakaian. Sebab, penyerahan bantuan pompa air tersebut diserahkan pada ketua kelompak dan di tandatangani oleh anggota kelompok. Sehingga pemanfaatannya bisa pergunakan dengan sebaik-baik. Pemberian bantuan mesin pompa air tersebut melalui proposal dan ada prosesurnya dan permasalahannya yang mengantisipasi adalah seluruh anggota kelompok tani. 

"tidak ada masalah yang ditemui dilapangan saat pemanfaatan mesian pompa tersebut. Sekaitan adanya kelompok tani yang tidak lagi aktif dimungkinkan hanya oknum orang petani saja. Sebab, selama ini baik-baik saja dan belum ada laporan hingga saat ini dari penyuluh pertanian," tambahnya. 

Kemudian lanjut dia, berkaitan dengan hama padi yang mati atau patah kuduak yang menjadi keluhan petani merupakan hama blas. Maka upaya awal yang dilakukan adalah sosialisasi kepada petani, kemudian pengadaan dan pendistribusian pektisida oleh UPTD. Kemudian mengamati hama yang menyerang padi petani dan dilakukan penyuluhan melalui penyuluh pertanian kepada petani untuk pengendalian hama. 

"Penyuluhan dilakukan tentunya tidak ke seluruh pribadi orang petani. Namun penyuluhan tersebut dilakukan perkelompok tani yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang ada di Kecamatan. Kita telah turun kelapangan memberikan sosialisasi dalam penangan hama," sebutnya. 

Sementara itu, Irwandi, Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Perikanan Kota Sawahlunto, membantah sekaitan dengan petani yang tidak mendapatkan pupuk. Sebab pendistribusian pupuk di kota Sawahlunto sebesar 250 ton pupuk. Sementara serapan pupuk di Sawahlunto baru 50 ton pupuk. 

"Untuk membeli pupuk tersebut tidaklah mudah. Petani harus memiliki kelompok tani dan telah memiliki Rencana Definitif Kelompok (RDK). Jika tidak terdaftar kedalam kelompok dan tidak memiliki RDK maka tidak dapat membeli pupuk subsidi. Jadi, yang tidak memiliki RDK memang tidak bisa membeli pupuk," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa tidak keluhan terhadap pupuk, sebab pengawasan terus dilakukan terhadap kios penjualan pupuk di kota Sawahlunto. Ada delapan kios pupuk yang tersebar di empat kecamatan, yakni satu kios pupuk di Kecematan Silungkang, Satu kios pupuk di Kecematan Lembah Segar, Tiga kios pupuk di kecamatan Barangin dan tiga kios pupuk di Kecamatan Talawi. 

"Pengawasan dilakukan sekali dalam dua minggu dan satu kali salam sebulan dilakukan oleh SK4. Jadi, petani yang tidak bisa mendapatkan pupuk berarti tidak patuh pada aturan. Jika tidak patuh maka dapat dikenakan sanksi," ujarnya. 

Ia mengaku pembelian pupuk subsidi seharga Rp90 ribu per het tanpa membuka karung. Jika karung tersebut telah terbuka maka harga bisa berubah sebab, ada jasa membuka karung. Artinya petani akan membeli pupuk dengan enceran kiloan. 

"Pupuk subsidi Urea mengangdung N, sehingga jika dibuka dengan waktu yang lama sehingga jumlah kiloannya pun bisa berkurang dan bisa cair. Hal ini yang menjadi harga bisa bertambah karena hitungan ekomisnya. Sebab, orang yang berdagang tentunya tidak ingin ambil resiko yang mengakibatkan kerugian," paparnya. 

Masalah Irigasi dan Pupuk Menjadi Kendala Petani

Desa Talawi Hilir Kecamatan Talawi memiliki potensi bidang pertanian sawah seluas 134,5 ha dan memiliki 16 kelompok tani. Desa seluas 452 ha tersebut memiliki penduduk sebanyak 4017 jiwa tersebar di empat dusun yakni dusun Siambalau, dusun Kubang Gajah, dusun Taratak Capo dan Dusun Talago. Areal petani sawah tersebut merupakan sawah tadah hujan akibanya petani harus menggunakan mesin pompa air untuk menanam padi di sawah. 

"16 kelompok tani yang ada hanya tiga kelompok tani yang aktif, yakni dua kelompok tani sawah dan kebun kakao. Kelompok tani tersebut adalah Kelompok Tani Sawah Tongah, Kelompok Tani Saiyo dan Kelompok Kakao," ujar Ferdian Irwan, Kepala Desa Talawi Hilir Kecamatan Talawi Sawahlunto, kepada Penulis, Rabu, 13 September 2017. 

Ia menyebutkan bahwa masing-masing kelompok beranggotakan 15 orang. Kelompok tani yang tidak aktivitas tersebut disebabkan terjadinya kecemburuan sosial antar sesama. Terutama dalam hal pembagian hak pakai bantuan mesin pompa air dari Dinas Pertanian Kota Sawahlunto.

"Mesin pompa air tersebut digunakan untuk mengaliri air ke sawah petani yang pemanfaatannya secara berkelompok. Namun, karena ada yang tidak kebagian memakai pompa air tersebut akhirnya kelompok menjadi pecah dan berpengaruh pada aktivitas kelompok itu sendiri," katanya. 

Selain itu, ungkap Ferdian, petani juga mengelukan sulitnya membeli pupuk, malahan, petani telah mendaftarkan diri dengan melakukan penandatanganan untuk pembelian pupuk. Namun, setelah menandatangani pupuk juga tidak bisa dibeli dari kelompok. Akibatnya, petani menjauh dari kelompok dan tidak lagi aktif. 

"Petani membeli pupuk susah, sehingga petani membeli pupuk ke Padang Ganting Kabupaten Tanah Datar. Harganya pun lebih murah sekarung seharga Rp135 ribu sedangkan di Sawahlunto di jual seharga Rp150 ribu perkarung," katanya.  

Ia mengatakan bahwa sawah petani di Desa Talawi Hilir merupakan sawah tadah hujan. Sebab, belum memiliki irigasi sehingga berisiko kekeringan dan gagal panen. Untuk mengatasi resiko kekeringan air tersebut agar petani tetap turun kesawah menanam padi dengan menggunakan mesin pompa air. 

"Mesin pompa air tersebut merupakan bantuan dari pemerintah kota untuk membantu petani. Namun, masih ditemukan kendala dilapangan atas pemanfaatan mesin pompa air tersebut, pemanfaatan yang belum merata. Kemudian tambah pula tingginya ongkos pemliah bahan bakar yang dikelurkan untuk mengaliri air ke sawah," tambahnya. 

Ia melanjutkan bahwa untuk mengaliri air ke sawah petani menghabiskan uang sebesar Rp7 juta. Sementara biaya yang terkumpul berdasarkan iyuran sebesar Rp8 juta. Sebab, biaya untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak dibantu pemerintah. Sehingga petani banyak kewalahan untuk menutupi biaya yang dikeluarkan mengaliri air ke sawah. 

"Untuk membantu masyarakat petani kita akan memanfaatkan pompa air tepat guna Hidram yang akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Kita akan ajukan anggaran tersebut tahun 2018 untuk membantu masyarakat petani dalam hal kekurangan air. Sebab, pompa air tersebut tidak memakai bahan bakar untuk menyedot air dan mengalirikannya ke sawah petani," katanya. 

Sementara itu, lanjut dia, pompa air tepat guna Hidram tersebut pipa sebesar 6 inci setelah konsultasi melalui studi banding sehsrga Rp17 juta satu unit pompa. Kemudian, alternatif lain untuk mengaliri air, pemerintah desa telah menggarkan teknologi pompa air tenaga surya tanpa memiliki baterai. Pompa tersebut menggunakan dana desa sebesar Rp150 juta. 

"Saat ini sedang dilakukan proses pemasangan peralatan teknologi pompa air tenaga surya akan dioperasikan dalam waktu dekat. Sehingga, sawah petani dapat dialiri air sehingga petani bisa bercocok tanam. Karena biaya terlalu mahal sehingga untuk uji coba dilakukan di sawah Tapian Tonang. Teknologi pompa air tenaga surya tersebut hidup secara otomatis untuk memompa air ke sawah petani pasaat siang hari dan malam pompa air tersebut matu karena tidak memiliki baterai," tuturnya. 

Samsimar Buruh Dusun Siambalau Upah Rp50 Ribu Sehari Untuk Memenuhi Kebutuhan Keluarga

"Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, perempuan di usia senja masih bekerja banting tulang dibawah terik matahari menjemurkan punggungnya demi mencukupi kebutuhan harian mendapatkan upak harian. Samsimar buruh tani, mendapat upah Rp50 ribu sehari,"


Rabu, 13 September 2017 siang langit kota Sawahlunto tampak cerah. Hamparan sawah petani Dusun Siambalau Dasa Talawi Hilir Kecamatan Talawi tampak hijau. Jalan beton yang buntu membedah memdah bidang sawah petani. Jalan beton tersebut terputus karena ada petani yang tidak bersedian memberikan tanahnya untuk membangun jalan. Jalan tersebut merupakan akses transportasi mengangkut padi hasil panen petani. 

Siang itu pula Penulis menghampiri dua orang buruh tani yang berteduh sejenak di bawah pondok tengah sawah. Mereka baru saja selesai menyiangi sawah Munir dan membersihkan kakinya serta tangan pada genangan air di pinggir pematang sawah. Mereka berkemas-kemas untuk pulang kerumah. Suara mengaji di mesjid pun telah terdengan dari kejauah. 

Samsimar, 65, yang telah berusia senja itu masih bekerja ke sawah orang untuk mendapatkan upah. Ia bekerja masuk sawah untuk menyiangi padi pukul 07.00 pagi dan keluar waktu zuhur. Ia mendapatkan upah Rp50 ribu perhari, meskipun upah tersebut terbilang rendah. Namun, karena tidak ada pilihan lain untuk menambah penghasilan keluarga. 

"Jika dibandingkan dengan tahun-tahuh lalu, enak sekarang. Tahun-tahun lalu, masuk dari padi pukul 08.00 keluar dari sawah pukul 17.00 menuju pulang kerumah. Seperti hari ini, saya hanya menyiangi rumput sawah milik Munir untuk mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pukul 12.00 udah keluar dari sawah," ujarnya sembari duduk lesehan di pondok tampa dinding itu. 

Ia menyebutkan bahwa tahun ini dirinya tidak memanam sawah, sebab sawah yang dulu diagarap tidak lagi bisa di garap. Sebab, sawah tersebut merupakan sawah milik keluarnya sehingga untuk menggarap sawah tersebut secara bergantian. "Talun lalu memang saya yang menggarap sawah tersebut. Namun saat ini digarap oleh saudara yang lain secara bergantian," ujar ibu lima orang anak ini. 

Ia menyebutkan bahwa sawah tidak memanfaatkan pompa air melainkam kincir air untuk mengaliri air di sawah. Sebab, pompa air tersebut akan memakan biaya tinggi saat operasionalnya. Sementara kincir air hanya mengandalkan air arus air untuk memompa air untuk di alirkan ke sawah. 

"Kincir air tersebut milik pribadi. Kemudian untuk iyuran air tersebut dibayar usai panen dan dibayar dengan padi atau disebut padi aia. Kalai udah panen kita panggil orang yang kincir untuk menjemput padi aia. Bisanya besaran padi aia itu diberikan berdasarkan jumlah hasil panen padi. Jika hasil panen 10 karung maka satu karung untuk padi aia," ujar perempuan yang jemari tangannya masih basah nan keriput itu. 

Ia mengaku padi yang disiangi di serang penyakit mati muda atau patah kuduak. Padi yang telah berumur 40 hari tersebut juga diserang hama seperti 'kapindiang' pada umbi padi. Belum ada bantuan dari pemerintah untuk menangani hama tersebut. "Disamping menyiangi rumput, saya juga pilih padi yang mati untuk dibersihkan," ujarnya. 

Kemudian lanjut dia, biaya yang dibutubkan sejak awal membajak sawah hingga panen sangat besar. Untuk upah bajak sawah saja dengan luas sawah satu gantang benih seharga Rp35 ribu dan uapahnya pun dibayar setelah selesai membajak sawah. Setelah sawah dibajak barulah 'dilindi' atau sikek padi menggunakan kerbau guna untuk mendatarkan sawah dan juga mengeluarkan biaya. Kalau sawah tidak datar sebelum di taman maka akan padi akan di serang hama 'keong' atau siput. 

"Kalau umur padi masih dibawah 20 hari sesudah tanam akan diserang hama keong. Sehingga padi yang telah ditanam dimakan keong, sehingga perlu disisip ulang untuk menggantikan padi yang telah mati tersebut. Hama keong ini sulit dimusnahkan sehingga harus di pilih. Kalau padi telah besar seperti saat ini tidak bakalan habis di makan keong, seban batang padi sudah mengeras," tambahnya. 

Selanjutnya, kata dia, menyiang sawah juga membutuhkan biaya untuk mengupah orang. Belum lagi mempelian pupuk yang susah meskipun telah menandatangani surat. Sehingga banyak petani yang membeli pupuk di Padanggantiang Kabupaten Tanahdatar. 

"Ukuran sawah seluas satu gantang benih, akan menghabiskan pupuk satu karung untuk tiga kali penyemaian pupuk padi. Saya tidak masuk anggota kelompok tani, sehingga membeli pupuk di Padanggantiang Kabupaten Tanahdatar. Bisaya hasil panen padi dengan enam gantang nenih, mendapat hasil padi sebesar 25 karung," sebutnya. 

Asnida,53, pun membenarkan apanyang disampikan Samsimar bahwa petani banyak membeli pupuk di luar kota Sawahlunto. Sementara untuk upah angkut padi usai panen menggunakan ojek. Untuk satu karung padi dibayar upah ojek sebesar Rp7 ribu untuk sampai ke rumah. 

"Kalau padi saat ini dinamakan padi benih 77 usia lebih pendek dibandingkan jenis padi yang lain. Usia padi ini hanya 95 hari siap di di panen, sementara padi padang rumpun umurnya jauj lebih panjang. Sehingga tidak ada petani yang menam benih padi Gadang Rumpun tersebut," katanya sebari berkemas-kemas pulang.*

Thursday, March 16, 2017

Butuh Lahan Pertanian Baru, Kerupuk Ubi Produksi Rumah Tangga Agrobisnis

Kelurahan Saringan Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, merupakan masyarakat berpenghasilan rendah. Hal itu disebabkan sebagian masyarakat bekerja sebagai buruh dan ojek. Selain itu, masyarakat Kelurahan Saringan juga sebagai pedagang kakilima yang menjual minuman, seperti jus, minuman saset dingin dan kedai kelontong.

"Mata mencarian dan sumber pendapatan masyarakat Kelurahan Saringan kebanyakan buruh bangunan. Kemudian sebagian masyarakat ada yang mengojek dan pedagang penjual munuman saset seperti jus. Ada sebanyak 15 kepala keluarga yang berjualan di Lapangan Segitiga dan kedai kelontong di rumah. Ada pula yang berladang tanaman tuan, seperti kelapa dan pohon karet," ujar Zulkifli, Lurah Saringan, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, kepada Penulis Selasa, 14 Maret 2017.

Ia mengatakan bahwa untuk menambah pendapatan keluarga, ada sebagian masyarakat yang membuat kerupuk ubi menjadi olahan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Kerupuk ubi tersebut diolah di rumah sebagai home industri untuk menambah pendapatan keluarga.

"Ada empat kepala keluarga yang memproduksi kerupuk ubi dusun Gunuang Timbago. Produksi kerupuk ubi tersebut saat menjadi terganggu karena sulitnya mendapatkan ubi kayu tersebut. Kelangkaan ubi kayu tersebut menyebabkan harga ubi kayu menjadi lebih mahal dibandingkan dengan sebelumnya," katanya.

Ia menyebutkan bahwa home industri tersebut masih diolah masyarakat secara manual. Kerupuk tersebut di jual oleh masyarakat kepasa Sawahlunto. Kemudian, ada pula menjual kepada langganan dan pesanan yang membeli kerupuk ubi tersebut. Ada juga pembeli yang datang kerumah untuk membeli kerupuk.

"Untuk memproduksi kerupuk ubi harus membeli ubi dipasar karena warga tidak memiliki lahan untuk berkebun. Karena banyak masyarakat kelurahan Saringan tidak memiliki lahan perkebunan. Lahan di kelurahan ini sangat sempit sehingga tidak bisa berkebun untuk menanam ubi kayu," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Kelurahan Saringan memiliki sebanyak 461 kepala keluarga dengan penduduk sebanyak 1965 jiwa sebagai masyarakat berpenghasilan rendah. Maka, untuk menambah pendapatan keluarga banyak yang berdagang dan pelaku industri seperti usaha kerupuk ubi. Karena kebanyak masyarakat Saringan tidak memiliki banyak lahan untuk bekebun. "Masyarakat kita ada yang berkebun, namun tanaman tua, seperti pohon kelapa dan karet. Kemudian, sebagiannya lagi burun bangunan dan tukang ojek," ujarnya.

Semetara itu, Zainul Anwar, Camat Barangin menyebutkan bahwa masyarakat sejatinya lebih kreatif dan inovatif. Maka, setiap ada kegiatan atau iven kota, masyarakat dapat berperan dalam kegiatan tersebut untuk berdagang. Tidak tertutup kemungkinan pelaku home industri pun dapat berpartisipasi untuk mengais rezki untuk menjual produk olahannya.

"Kita akan sokong pelaku home industri untuk melihat petensi kerupuk ubi tersebut. Kita akan lalukan upaya percepatan untuk mengangkat ekonomi kerakyatan. Maka, pelaku home industri akan diberikan pembinaan. Kita akan lakukan pemantauan terhadap masyarakat berdasarkan keinginan dari masyarat itu sendiri untuk mengembangkan usahanya menambah pendapatan keluarga," ujarnya.

Ia mengatakan, bahwa peluang usaha ini akan diciptakan sesuai dengan keinginan dan sumber daya alam masyarakat. Maka, untuk kebutuhan tanaman ubi akan dibina lansung oleh Penyuluh Pertanial Lapangan (PPL) kecamatan yang akan koordinasi dengan Dinas Pertanian menanan dengan demplot komuditi.

"Karena Kecamatan Barangin merupakan kawasan lahan pertanian tadah hujan. Maka pembinaan dilakukan tiap desa dan kelurahan untuk menam taman komuditi seperti ubi kayu. Sehingga diharapkan nantinya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat di desa dikelurahan lain yang membutuhkan ubi kayu. Hal ini tidak hanya berlaku untuk ubi kayu saja tetapi juga berlaku untuk komuditi lain. Maka, perlu menginfentalisir lahan kosong untuk di garap dan tidak menganggur," tambahnya.

Ia melanjutkan bahwa selama ini yang terjadi adalah masyarakat hanya menunggu, sehingga jika musim kemarau banyak lahan yang menganggur. Akibatnya, tidak pernah terpantau keinginan masyarakat tersebut seperti apa. Kalau masyarakat menginginkan untuk membuat kerupuk sebagai home industri maka upaya yang dilakukan adalah pembinaan, kemudian baru diberikan modal sesuai dengan keinginan masyarakat itu sendiri sesuai dengan keinginannya.

"Kita akan berikan pelatihan bagaimana mengolah ubi kayu untuk dijadikan kerupuk termasuk manajeman pasarnya. Namun hal ini akan terus dalam pantauan kita dan akan diberikan bantuan melalui BazNas. Karena jika mengacu kapada hasnaf delapan maka, masyarakat atau pelaku UMKM yang berekonomi rendah ini dapat diberbantukan," katanya.

Ia menambahkan bahwa selain itu, untuk mendapatkan bahan baku ubi kayu tersebut biasanya didatangkan dari luar kota Sawahlunto. Karena mengikapi keluhan pelaku usaha yang kesulitan bahan baku ubi kayu tersebut pemerintah telah melakukan koordinasi dengan pemasok ubi kayu dari luar kota Sawahlunto.

"Langkah ini diambil mengingat tingginya kebutuhan ubi kayu oleh pelaku UMKM. Kita akan lakukan peninjauan sebelumnya ke palaku usaha kerupuk berapa kebutuhan ubi kayu perharinya. Kemudian, pedagang ubi kayu diluar kota Sawahlunto seperti Batu Sanka bisa menutupi kebutuhan ubi kayu bagi pelaku industri dengan harga yang terjangkau," ungkapnya.

Selanjutnya, terang dia, dalam peningkatan ekonomi kemasyarakatan UMKM merupakan langkah dalam mengurangi angka kemiskinan. Maka, dasa dan kelurahan harus mendengarkan inspirasi masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan inginan masyarakat untuk berwirausaha. 

"Setelah kita mengetahui apa keinginan masyarakat barulah kita mencarikan solusi apa yang pas dan cocok sesuai dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Terutama kita akan lakukan pembinaan dan bantuan modal bisa saja dari CSR bank, perusahaan dan Baznas," paparnya.

Deswanda, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto mengatakan bahwa saat ini pelaku usaha kerupuk ubi kesulitan mendapatkan bahan baku ubi. Hal itu disebabkan karena berkurangnya lahan untuk berkebun menam ubi.

"Kususnya di Kota Lama Talago Gunuang, memang kesulitan mendapatkan bahwa baku ubi. Kerupuk ubi merupakan agro industri, mengolah hasil pertanian. Maka, pembinaan kelompok pertanian agar tersedianya bahan baku lokal. Maka secara keseluruhan pelaku usaha kerupuk ubi kota Sawahlunto ada sebanyak 150 kepala keluarga," katanya.

Afdal, Anggota Komisi II DPRD Kota Sawahlunto, menyebutkan bahwa untuk produksi UMKM kerupuk yang dihadapi oleh pelaku usaha adalah sulitnya mendapatkan bahan baku ubi kayu. Maka perlu adanya penambahan lahan baru dan itensifikasi dan esistensi lahan berbatasan dengan hutan lindung. "Kerupuk ubi merupakan produksi rumah tangga yang bersifat agrobisnis. Maka, untuk menyuplay bahan baku perlu meningkatkan itensitas petani. Tentunya, dengan penambahan lahan baru untuk dijadikan areal kebun bagi petani," katanya

Thursday, March 2, 2017

Ubi Kayu Sulit Didapatkan, Produksi Kerupuk Kubang Terganggu

Desa Pasar Kubang Kecamatan Lembah Segar Kota Sawahlunto, Sumatera Barat memiliki potensi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) home industri kerupuk. Ada sebanyak 80 Kepala Keluarga yang memproduksi kerupuk ubi dikenal Kerupuk Kubang. Namun, saat ini masyarat terkendala dengan bahan baku ubi yang sulit didapatkan.

"Saat ini untuk mendapatkan ubi kayu tersebut sulit, karena tingginya permintaan konsumen terhadap kerupuk kubang. Sebab, selama ini masyarakat yang memproduksi kerupuk kubang, mereka menanam sendiri ubu kayu tersebut di kebun. Kemudian, di panen dan diolah sendiri menjadi kerupuk," ujar Burhanuddin Muhammad Rani, Kepala Desa Pasar Kubang, Kecamatan Lembah Segar, kepada Penulis Rabu, 1 Maret 2017.

Ia menyebutkan kekurangan lahan perkebunan untuk menanam ubi kayu mengakibatkan produksi kerupuk menurun. Sehingga pendapatan masyarakat pun menjadi berkurang. "Saat ini banyak permintaan pasar terhadap kerupuk kubang. Namun, saat ini masyarakat yang memproduksi banyak dikalangan yang memiliki kebun ubi kayu dan bisa di panen sendiri. Sehingga tidak perlu lagi membeli ubi kayu yang menambah biaya produksi," katanya.

Kemudian lanjut dia, bagi masyarakat yang tidak memiliki kebun sendiri harus membeli ubi untuk di oleh menjadi kerupuk. Harga untuk saru karung ubi kayu sebesar Rp150 ribu. Sementara, untuk 50 kilo gram ubi kayu setelah di olah menjadi kerupuk hasilnya menjadi 18 kilogram. 

"Untuk satu kilo kerupuk di jual kepada pengumpul sebesar seharga Rp13 ribu perkilogram. Kemudian, kerupuk yang telah ada kemasannya Rp25 ribu perkilo gram. Jadi tidak seberapa untung penjualan kerupuk jika bahan baku ubi kayu di beli di pasaran. Kebanyakan masyarakat menam ubi kayu dan mengolah sendiri sehingga menambah pendapatan keluarga," ujarnya.

BM Rani menyebutkan bahwa untuk mengolah ubi kayu menjadi kerupuk membutuhkan waktu selama dua hari. Karena proses pembuatan kerupuk tersebut harus ubi kayu baru yang masih segar. Kemudian, di kupas dan diendapkan selama semalam dengan tujuan untuk menghilangkan getah ubi. Selanjutnya, ubi yang kupas tersebut di kukus kemudian digiling dan lalu di buang tulang ubi kayu tersebut dan masuk pada tahap menggilingan dan dicetak.

"Setelah di cetak, maka masuk pada proses pengeringan menggunakan sinar matahari. Kalau cuaca cerah maka untuk penjemuran hingga mengering memakan waktu sehari. Jika cuca mending maka membutuhkan waktu penjemuran memakan waktu selama dua hari. Karena kerupuk yang di jual kiloan ukurannya lebih tebal sehingga keringnya pun lama," katanya.

Kemudian, lanjut dia, untuk mengurangi biaya produksi yang lebih mahal maka berkebun di ladanya sendiri bagi yang memiliki kebun dan lahan. Selanjutnya, jika yang tidak memiliki lahan untuk berkebun ubi, maka masyarakat menyewa kebun nagari sebelah.

"Lahan kita tidak ada lagi untuk bercocok tanam untuk berkebun menam ubi kayu. Kemudian, lahan perkebunan petani telah dibati oleh kawasan hutan lindung. Maka, tidak boleh dijadikan lahan pertania oleh masyarakat," katanya.

Ia mengaku saat ini masyarakat sebagian menyewa tanah perkebunan warga masyarakat Pianggu Kabupaten Solok, karena berbatasan dengan Kabupaten Solok. Sementara itu, desa kubang ini memiliki tiga dusun dengan jumlah Kepala keluarga 281 terdiri dari 1031 jiwa.

"Masyarakat berkebun ke nagari Pianggu untuk bercocok tanam, karena desa pasar kubang tidak memiliki lahan perkebunan yang cukup. Karena kondisi alam yang berbukit dan sehingga tidak banyak lahan untuk berkebun dan sebagian lahan juga telah menjadi sawah," sebutnya.