Showing posts with label Fewanusa. Show all posts
Showing posts with label Fewanusa. Show all posts

Sunday, November 12, 2017

Paguyuban Kridalaras Kabupaten Dharmasraya Tampilkan Wayang Kulit Cerita Pondowo Songo

Melalui Wayang Pertahankan Bhineka Tunggal Ika

"Kita hidup dari latar belakang adat budaya yang berbeda namun tetap membangun semangat kebersamaan dalam Bhineka Tunggal Ika. Kisa ini disampaikan dalam cerita Wayang Kulit Pondowo Songo, seperti apa kisahnya,"



Jumat, 10 November 2017 malam lapangan segitiga Sawahlunto mulai ramai dikunjungi penonton. Ibu-ibu membimbing anaknya menuju kursi duduk yang telah disediakan. Ada pula rombongan yang datang dengan penuh basa basi mencari tempat duduk. Ada pula yang sengaja datang sendiri menyaksikan pertunjukan wayang. 

Seperti biasa, setiap kegiatan dan iven dikota tua ini selalu ramai pengunjung yang menonton. Kegiatan dilaksanakan taman bermain lapangan segitiga selalu menyorot perhatian pengunjung kota, sebab, saban sebentar iven kota dilaksanakan di Lapangan Segitiga, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.  

Paguyuban Kridalaras, Kabupaten Dharmasraya, Alat Blok A, Desa Koto Laweh Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya tampil dalam iven Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) 2017 ke V Kota Sawahlunto. Group yang terbentuk sejak lama ini menampilkan Wayang Kulit dengan cerita 'Pondowo Songo' atau Pandawa Sembilan dengan Dalang Jumari, 67.

Jumari menyebutkan bahwa kisah 'Pondowo Songo' tersebut seharusnya Pondowo itu ada lima. Sementara 'Songo' artinya sembilan. Jadi, dalam lakonnya cerita Pondowo Songo itu dengan ditambah 'Anoman, Molodewa, Semar, dan Kresno. Tambahkan empat tokoh wayang tersebut menjadi sembilan atau dikenal dengan Pondowo Songo. 

Cerita 'Pondowo Songo' lebih memfokuskan pada persatuan dan kesatuan. Jadi, dalam kisah tersebut ada sematam konflik dan perseteruan sehingga berujung pada dendam. Sehingga, Semar dan Molodewa, kemudian antara Anoman dan Molodewa yang berselisih sehingga ancaman bahwa Anoman akan dibunuh. 

Adanya ancaman pembunuhan Anoman terasbut maka Sang Yang Wenang adalah 'Dewa Alang-alang Komiter' datang untuk menyatukan yang berselisih paham dan bermusuhan. Jangan sampai permusuhan terjadi hingga berlarut larut hingga perujung pada peperangan dan pembunuhan. Maka, Perselisihan tersebut didamaikan dan tidak adalagi dendam sehingga tetap menjaga kesatuan dan persatuan. 

Sehingga Lima Pendowo Lima itu ditambah empat (Anoman, Molodewa, Seman dan Kreano) menjadi sembilan tersebut harus menyatu. Jangan sampai berpecah belah. Karena Padowo Songo itu terdiri dari latar belakang adat budaya yang berbeda, artinya lebih menekankan pada Bhineka Tunggal Ika.

Sementara itu, lanjut Jumari, Sejarah Perkembangan Wayang di Kabupaten Dharmasraya telah ada sejak lama meskipun asal muasal Wayang berasal dari pulau Jawa. Wayang sebelumnya berkembang di pulau Jawa kemudian masuk ke Kabupaten Dharmasraya melalui Tran dan penyebarannya ke Sumatera, seperti Padang, Pekanbaru, Palembang, dan Provinsi Jambi, dan sudah dikenal luas oleh masyarakat. 

Kemudian di Dharmasraya sendiri, seni Wayang ditampilkan untuk mengisi acara tahunan pada bulan Suro. Selain itu, Wayang juga ditampilkan pada acara pesta pernikahan. Namun saat ini peminat sudah mulai berkurang untuk mengisi acara pesta pernikahan, karena jemputan yang terlalu besar. Sebab, untuk jemputan Wayang di Dharmasraya sebesar Rp15 hingga Rp20 juta. Meskipun demikian jemput ini relatif murah di bandingkan dengan daerah lain dijemput hingga Rp40 juta. 

Selanjutnya, untuk mempertahankan seni budaya tersebut dukungan dari pemerintah daerah masih kurang dan boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Meskipun tidak ada bantuan pemerintah, Pedalang Wayang itu ada perkumpulan yang dinamakan dengan Pepadi Indonesia, untuk wilayah Sumbar diketua oleh Sriyanto. Pepadi Indonesia sudah berusaha bagaimana Wayang tetap eksis dan dilestarikan serta menyenangkan penonton karena Wayang banyak diminati oleh masyarakat. 

Untuk dukungan pembelian peralatan dan biaya latihan dari pemerintah hampir tidak ada sama sekali. Meskipun demikian dengan tekat kuat tetap menjaga budaya dan melestarikannya. Tetap semangat berlatih seni budaya terutama Wayang. Kemudian peralatan yang dimiliki seperti Wayang sudah ada, namun alat musik yang telah mulai rusak seperti Gamelan. 

Sehingga biaya latihan dan pembelian alat dari dana pribadi serta swadaya, sebab, biaya latihan tidak terlalu mahal. Hanya saja yang membutuhkan biaya besar tersebut seperti mengadakan pagelaran dan pengadaan peralatan musik. Sebab, soal latihan tentu tidak mengeluarkan biaya banyak, hanya sekadar membeli minum dan snack dan tidak terlalu berat. 

Harapan kedepan Wayang merupakan seni budaya peninggalan nenek moyang dan UNESCO pun sudah menetapkan bahwa sebagai warisan budaya dunia. Sebagai budaya leluhur dan tertua, seharusnya dilestarikan. Maka, untuk mengapresiasi penetapan kesenian wayang sebagai warisan dunia oleh UNESCO PBB perlu dilestarikan agar tidak menjadi sejarah. Sehingga Hari Wayang Dunia yang diperingati tanggal 7 November setiap tahunnya. Kemudian, tentu ada wadah untuk pagelaran yang diadakan untuk mempertahankan seni wayang, seperti Festival Wayang Nusantara di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sawahlunto sangat luar biasa dengan adanya Fewanusa ini sehingga orang menjadi tahu dan mengenal Wayang. Hanya saja Wayang masih memakai bahasa Jawa dan hanya dimengerti oleh sebagaian orang saja. Mestinya Pedalang harus membahasakan dengan bahasa Indonesia sebahagian agar mudah dimengerti orang. Tetapi, untuk membahasakan ke bahasa Indonesia tingkat kesulitan sangat tinggi dan susah untuk mengartikannya kedalam bahasa Indonesia. Tetapi orang lain harus tahu bahwa Wayang itu apa dan seharusnya disampaikan meski pun dalam bahasa Jawa.

Selain itu, untuk melestarikan seni budaya tersebut group Wayang Kabupaten Dharmasraya berencana akan membeli Gamelan di Jawa untuk mengembangkan Wayang. Kemudian, menyiapkan generasi muda untuk mencintai budaya melalui Wayang. Sehingga tahun ikut kegiatan ini tampil para pemainnya adalah anak anak. Namun, pada Fewanusa tahun tidak menapilkan anak-anak karena waktu yang mendesak. Jika kegiatan ini tidak mendesak maka anak anak juga yang akan dilibatkan bermain Wayang. Namun, karena waktu yang mendesak, terpaksa pemainnya orang dewasa.

"Malam ini sebagai Perawita (Pemukul) alat perkusi musik Gamelan ada 15 orang dan Sinden dua orang. Saya sendiri menjadi Dalang sejak umur 22 tahun dan masih bujangan. Sekarang umur saya telah 67 tahun," katanya. 





Festival Wayang Nusantara 2017 Bentuk Karakter Anak Bangsa

Wayang semalam suntuk di kota tua Sawahlunto, Sumatera Barat, bersama pewayang Dalang Cilik Perempuan Kanastren Nereswara Darmanasti dari Kota Surakarta, Solo memeriahkan penutupan Festival Wayang Nusantara 2017 ke V di Lapangan Segitiga Sawahlunto ramai pengunjung. 

Dalang Cilik dalam pertunjukan wayang berpesan bahwa untuk menjaga satu kesatuan dan mempertahankan adat budaya, termasuk bahasa daerah asal. Sekalipun bisa berbahasa Inggris sebagai bahasa pemersatu Internasional, namun bahasa ibu atau bahasa daerah masing-masing tetap dipertahankan. Bahasa adalah identitas bangsa harus dipertahankan melalui seni budaya.

Hendri Thalib, Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa dengan hadirnya seluruh peserta yang diundang untuk tampil dipanggung Festival Wayang Nusantara 2017 menambah semarak kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat. 

"Melalui Fewanusa tersebut perlu digali filosofi wayang tersebut mudah-mudahan mampu membentuk kehalusan karakter anak-anak bangsa. Sebab, budaya sebagai alat perekat bangsa itu benar-benar tertanam pada generasi muda anak bangsa. Sehingga, melalui seni budaya hidup menjadi indah melalui seni budaya termasuk wayang, di tumbuh kembangkan karakter anak bangsa Indonesia," kata saat memberikan kata sambutan penutupan Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) 2017 ke V Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Sabtu, 11 November 2017. 

Ia mengungkapkan bahwa saat ini salah satu karakter yang diharapkan tumbuh dan berkembang di daerah masing-masing adalah melalui seni dan budaya. Mudah mudahan Fewanusa memberikan sesuatu yang istimewa bagi masyarakat yang ada, sehingga kedepan akan tampil lebih baik dan lebih meriah lagi. Melalui Fewanusa ini dapat membentuk karakter generasi muda bangsa, sebab pesan dan nilai yang disampaikan dalam pertunjukannya Wayang adalah nesehat, semangat persatuan dan Bhineka Tunggal Ika. 

"Kemudian diharapkan kepada para peserta yang hadir dan pengunjung untuk dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran. Jika selama penyelenggaraan iven ini terdapat kekurangan selama kegiatan Fewanusa berlangsung demi kemajuan kota Sawahlunto terutama dalam Festival Wayang Nusantara 2017 ke V ini. Tak ada Gading yang tak retak dan manusia tidak luput dari kesalahan serta kekurangan, maka ide-ide dan pemikiran positif yang membangun sangat diharapkan," tuturnya.

Sementara itu, Ismed, Wakil Walikota Sawahlunto menyebutkan bahwa Sawahlunto sebagai kota tambang berbudaya yang multi etnik dan muti kultural serta berbagai suku, agama ada di Sawahlunto. Namun tetap dalam satu kesatuan untuk membangun Sawahlunto kedepan yang lebih baik. 

"Festival Wayang Nusantara 2017 menambah semarak dan meriah untuk mengisi malam yang lebih hidup di Sawahlunto. Kemudian, untuk diketahui bersama bahwa Fewanusa ini akan memberikan spirit baru bagi masyarakat Sawahlunto. Maka, kegiatan dan program terbaik bagi pemerintah kota maka dilanjutkan," katanya. 

Kemudian, lanjut dia, penyelenggaraan Fewanusa ini kedepan akan lebih meriah lagi, tentu dengan mengundang ahli dan pakar di bidang perwayangan, termasuk mengundang Dalam Cilik. Sehingga diharapkan akan ada pula Dalang Cilik di kota Sawahlunto yang menjadi pesaing Dalang Cilik Nasional. 

"Maka untuk hal teknis tentu akan di kembalikan kepada pejabat terkait yakni Dinas Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto," sebutnya

Friday, November 10, 2017

Festival Wayang Nusantara 2017 Meningkatkan Wisata dan Sektor Ekonomi

Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) 2017 ke V Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, merupakan kota tujuan utama pariwisata di Provinsi Sumatera Barat sehingga tercapai visi 'Sawahlunto Tahun 2020 menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya'. Salah satu upaya peningkatan kunjungan wisata ke Kota Sawahlunto serta sebagai bentuk pengembangan dan pelestarian warisan budaya Kota Sawahlunto adalah menggelar iven. 

"Pelaksanaan Festival Wayang Nusantara ini dilaksanakan satu kali setahun yang juga bertujuan mengapresiasi penetapan kesenian wayang sebagai warisan  dunia oleh UNESCO PBB serta untuk memeriahkan Hari Wayang Dunia yang diperingati tanggal 7 November setiap tahunnya," ujar Hendri Thalib, Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, pada Penulis usia Pembukaan Festival Wayang Nusantara 2017 ke V dialun-alun taman Lapangan Segitiga Sawahlunto, Kamis, 9 November 2017. 

Ia menyebutkan bahwa Fewanusa ke V bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pada kegiatan tersebut ditampilkan berbagai pertunjukan wayang kulit dan wayang golek dari beberapa daerah diantaranya adalah Wayang Ajen dari Kementerian Pariwisata RI dengan dalangnya Ki DR. 

"Kegiatan ini akan tampil gamelan sri Kandi dari kota Sawahlunto, Paguyuban Tri Laras Irama dari Provinsi Riau, Paguyuban Krida Laras dari Kabupaten Dharmasraya dan Paguyuban Margo Laras dari Kabupaten Pasaman Barat. Wawan Gunawan, Dalang Cilik Perempuan Kanastren Nereswara Darmanasti dari Kota Surakarta (Solo) serta delegasi wayang kulit Paguyuban Sari Budaya dan SMAN Tebo Provinsi Jambi," tuturnya. 

Kemudian, lanjut dia, dari dalam kota Sawahlunto juga akan mempersembahkan pertunjukan wayang kulit khas Kota Sawhlunto dengan dalang Ki Bandung Sriyanto yang didukung oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Paguyuban Bina Laras Kota Sawahlunto. 

"Kegiatan ini juga tampil pertunjukan dan atraksi budaya dari dalam dan luar kota Sawahlunto seperti, Musik Gamelan, Musik Campur Sari, musik Keroncong, Kuda Kepang, dan lain sebagainya. Kegitan ini dilaksankan tiga hari kepepan mulai pada malam ini (Kamis, red)," tambahnya.

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto mengatakan bahwa untuk meningkatkan rasa nasionalisme sebagai alat perekat bangsa, budaya adalah indikator utama semangat nasionalisme itu lahir. Salah satunya budaya dikembangkan serta difasilitasi oleh pemerintah dan banyak dilaksanakan langsung oleh masyarakat. Kegiatan ini bertujuan agar bagaimana budaya yang ada melekat disanubari warga Sawahlunto yang berbagai suku bangsa ada ada Sawahlunto. 

"Maka, pemerintah kota memfasilitasinya diantaranya dilaksanakan Festival Wayang Nusantara 2017 ke V. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat sendi sendi nasionalisme, sehingga rasa memiliki dengan budaya yang ada ini terus menjadikan suatu harapan dimasa mendatang. Maka pelaksanaannya di support oleh Kementrian Pariwisata, sehingga warga Sawahlunto diharapkan termotivasi dan berinovasi dimasa mendatang," katanya. 

Sementara itu, Tri Susanto, Kasubid Promosi Wisata, Sejarah dan Religi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mengatakan bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor produk perekonomian di Indonesia. Untuk itu, pariwisata membutuhkan sinergitas pentohodik pariwisata dengan akademisi, pemerintah, pelaku bisnis media dan membilitas masyarakat. 

"Untuk itu, dibutuhkan sinergitas ini untuk mendukung kepariwisataan pada umumnya di Indonesia. Demikian pula untuk di Sawahlunto ini, potensi wisata yang ada untuk dapat dikembangkan sehingga diharapkan tempat wisata yang ada dapat dijadikan kesejahteraan bagi masyarakat Sawahlunto," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa untuk dalam pengembangan destinasi wisata, pemerintah juga mengembangkan atraksi pariwisata diantaranya Festival Wayang Nusantara 2017 ke V ini sebagai bentuak wisata. Selain itu perlu mempertimbangkan dan memperhatikan ameritas, akomudasi dan lainnya. 

"Perlu aksebilitas untuk ke Sawahlunto ini untuk menikmati semua destinasi wisata yang ada di kota Sawahlunto ini. Sehingga potensi yang ada di Sawahlunto dapat dinikmati secara bersama oleh wisatawan dab masyarakat sekitar," tuturnya.

Tuesday, November 7, 2017

Festival Wayang Nusantara 2017 Diikuti 8 Group Wayang Dari 15 Pewayang

Sebanyak delapan group wayang ikut Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) 2017 dengan 15 pewayang. Festival Wayang Nusantara ke-5 dilaksanakan pada 9, 10, 11 November 2017 mendatang di Lapangan Segitiga (Lapseg) Sawahlunto. Pelaksanaan Festival Wayang Nusantara tersebut dilaksanakan satu kali setahun dan merupakan program tahunan Pemerintah Kota Sawahlunto. 

"Pada kegiatan dimaksud akan ditampilkan berbagai pertunjukan wayang kulit dan wayang golek dari beberapa daerah diantaranya adalah Wayang Ajen dari Kementerian Pariwisata RI dengan dalangnya Ki DR," ujar Yogi Andika H, Event Conceptor Festival Wayang Nusantara 2017 kepada Penulis, Senin, 6 November 2017 

Ia mengatakan bahwa Kota Sawahlunto merupakan kota tujuan utama pariwisata di Provinsi Sumatera Barat dengan visi 'Sawahlunto Tahun 2020 menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya'. 

"Salah satu upaya peningkatan kunjungan wisata ke Kota Sawahlunto serta sebagai bentuk pengembangan dan pelestarian warisan budaya Kota Sawahlunto akan menggelar," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa Festival Wayang Nusantara 2017 tersebut bertujuan untuk mengapresiasi penetapan kesenian wayang sebagai warisan dunia oleh UNESCO PBB. Kemudian, untuk memeriahkan Hari Wayang Dunia yang diperingati tanggal 7 November setiap tahunnya. 

"Festival ini nantinya akan dilaksanakan di Lapangan Segitiga Kota Sawahlunto yang merupakan pelataran kantor PT. BA. UPO sekaligus alun-alun kota Sawahlunto," tuturnya. 

Hendri Thalib, Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto mengatakan bahwa Festival Wayang Nusantara 2017 ini bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Republik Indonesia. 

"Kegiatan ini direncanakan akan dibuka secara resmi oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Republik Indonesia," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa pada Festival Wayang Nusantara 2017 tersebut akan hadir Wawan Gunawan, Dalang Cilik Perempuan Kanastren Nereswara Darmanasti dari Kota Surakarta (Solo). Kemudian Delegasi Wayang Kulit Paguyuban Sari Budaya, SMAN Tebo Provinsi Jambi, Paguyuban Tri Laras Irama dari Provinsi Riau, Paguyuban Krida Laras dari Kabupaten Dharmasraya dan Paguyuban Margo Laras dari Kabupaten Pasaman Barat. 

"Dari dalam kota Sawahlunto juga akan mempersembahkan pertunjukan wayang kulit khas Kota Sawhlunto dengan dalang Ki Bandung Sriyanto yang didukung oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Paguyuban Bina Laras Kota Sawahlunto. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan dan atraksi budaya dari dalam dan luar kota Sawahlunto seperti, Musik Gamelan, Musik Campur Sari, musik Keroncong, Kuda Kepang, dan lain sebagainya," tambahnya.

Tuesday, November 8, 2016

Group Wayang Kulit Krida Laras Darmasraya Padangtengah, Pentaskan 'Wayang kulit lakon Prabu Sumilih'

Malam semakin larut. Angin berhembus terasa dingin menyentuh kulit akibat embun telah menguap. Jalanan kota pun mulai sepi dari lalu lalang kendaraan. Namun Lapangan segitiga ombilin masih banyak warga berkumpul dibawah tenda menyaksikan pertunjukan seni tradisi wayang kulit rangkaian Festival Wayang Nusantara ke IV 2016, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Kelompok Wayang Kridalaras Dharmasraya Padangtengah ini lahir sejak tahun 1983 dan masih eksis hingga saat ini. Kelompok ini dibentuk untuk mempertahankan seni tradisi jawa yang ada di Darmasraya, Padangtengah. Anggota kelompok ini terdiri dari masyarakat sekitar dilingkungan Padangtengah.

Ki Jumari Guno Carita menyebutkan bahwasanya persiapan menjelang keberangkatan untuk tampil ke kota Sawahlunto pada iven Festival Wayang Nusantara ke IV 2016 telah dilakukan sejalah beberapa bulan belakangan. Persiapan dilakukan berupa latihan-latihan untuk seni wayang itu sendiri.

"Karena beberapa ada anggota baru atau anggota pemula yang ikut latihan. Kalau seni tradisi wayang latihan dua kali dalam seminggu. Kemudian bagi anggota lama latihan rutinitas bersama sebulan sekali," ungkap Ki Jumari Guno Carito pimpinan Group Wayang Kulit Kridoraras Darmasraya Padangtengah, kepada Penulis, Jumat, 4 November 2016 malam.

Ia mengaku anggota kelompok Wayang Kulit Kridoraras Darmasraya Padangtengah saat ini berjumlah lebih dari 30 orang. Namun untuk datang ke kota Sawahlunto melibatkan sebanyak 22 orang pemain wayang. "Kalau kesini tidak membawa alat-alat musik seperti gamelan, gong dan segala macamnya, karena telah disediakan oleh panitia. Kita hanya memainkan beberapa alat musik yang dimainkan, karena tersedia di ats panggung," akunya.

Ia menyebutka bahwa seni tradisi wayang kulit yang dimaikan 'Lakon Prabu Sumilih' yang telah berhasil membunuh raksasa yang turun dari kayangan di Negara Atina. Negara Astina merupakan negaranya Prabu Abdioso menjadi kepercayaan turun-temurun dalam cerita wayang.

"Di Negara Astina, Prabu Duryudana sedang mengadakan pertemuan dengan seluruh Punggawa kerajaan untuk membicarakan tentang keamanan negara. Petemuan itu  dikejutkan oleh kedatangan Prabu Naga Tawingnya dari negara Puser Bumi," ungkapnya.

Ia melanjutkan sejak kelahiran Duryudana hingga Duryudana tumbuh dewasa dan menjadi penguasa ketika itu. Seharusnya Pundawa yang berkuasa, namun karena Pundawa masih kecil sehingga kekuasaan diambil alih oleh Duryudana. Karena kekuasaan diambil Duryudana maka terjadilah peperangan dan berkelanjutan dengan Pundawa setelah Pundawa tumbuh dewasa.

"Sebenarnya Pundawa bermaksud untuk membantu Prabu Duryudana menumpas sampai disirnakannya para Pandawa. Atas kekalahan Pandawa tersebut, berarti Prabu Duryadana beserta kurawanya akan semakin jaya," katanya.

Kemudian, setelah peperangan itu usai, bala tentara Astina yang dipimpin Prabu Naga Tawingnya dan dibantu Pandita Sakti yang bernama Begawan Dewa Pratoto dari Puser Bumi melanjutkan perjalanan untuk menambah daerah kekuasaan setelah melakukan kesepakatan bersama Duryadana.

"Didalam perjalannya bertemu dengan prabu baladewa Raja Madura, bersama Anoman yang sedang mencari Gatot Kaca yang sudah lama pergi dari Pringgadani. Gatot Kaca pergi tanpa pamit," ungkapnya.

Singkat cerita, perjalan Prabu Baladewa dan Anoman di hadang oleh para Kurawa yang dipimpin Prabu Naga Tawingnya. Prabu Baladewa merasa dihina maka terjadi pertempuran kedua belak pihak. Banyak prajurit Kurawa yang menderita kelelahan, prabu Naga Tawingnya pun tidak mampu menandingi Prabu Baladewa dan Anoman.

"Akhirnya Bagawan Dewa Pratoto Metek Aji Gelap Sayuta dihantam kepada Prabu Baladewa dan Anoman. Seketika Prabu Paladewa dan Anoman terlempar jauh dari tempat pertempuran dan segera kembali ke Amarta," sebutnya.

Kemudian, disisi lain di Negara Purwacarito, Pramesti Guru dan Para Dewa serta kedatangan Raden Gatotokaca yang sengaja di panggil oleh Batara Guru. Saat itu Batara Guru ingin menempati janji ketika Raden Gatotkaca berhasil membinasakan Prabu Kala Pracomo Raja Pagarwaja. Raden Gatotkaca telah merusak kayangan akibat peperangan karena lamarannya di tolak, sebab yang ingin menikahi Dewi Supraba.

"Atas kemenangan Raden Gatotkaca di kayangan, maka Batara Guru berjanji akan dinobatkan sebagai Raja Purwacarita. Penobatan Raden Gatotkaca menjadi Raja Purwacerita dengan bergelar Prabu Sumilih. Penobatan itu dihadiri dan disaksikan oleh Harjuna. Kedatangan Raden Harjuna meminta bantuan kepada Prabu Sumilih untuk melawan Prabu Naga Tawingnya dan begawan Dewa Pratolo," ungkapnya.

Singkat cerita, bantuan itu diterima oleh Raden Gatotkaca untuk bersikutu dengan Raden Harjuna untuk melawan Prabu Naga Tawingnya. Terjadilah peperangan sengit antara Prabu Naga Tawingnya dengan Prabu Sumilih, akhirnya keduanya bubar. "Dalam cerita wayang ada sebuah negara yang disebut negara Negara Astina. Karena sejarah wayang itu sendiri berasal dari India masuk ke pulau Jawa, maka cerita wayang itu telah diubah dan disesuaikan dengan Indonesia. Maka, dimana persisnya Negara Astina itu tidak diketahui secara persis," akunya.

Saturday, November 5, 2016

Festival Wayang Nusantara 2016 Indahnya Keberagaman di Sawahlunto



Ali Yusuf Walikota Sawahlunto Membuka Festival Wayang Nusantara

Sawahlunto tak pernah sepi dengan iven guna menarik wisatawan. Usai menggelar peringatan 54 tahun wafatnya pahlawan nasional Mohammad Yamin, Kota Sawahlunto Kembali menggelar Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) ke IV. Fewanusa ini merupakan program pemerintah kota Sawahlunto dalam rangka melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya tradisional kota Sawahlunto. Kegiatan ini diamanahkan pada kegiatan Festival Wayang Nusantara ke IV, kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto.

"Maksud dan tujuan kegiatan adalah dalam rangka melestarian adat istiadat dan budaya jawa tetap tumbuh dan berkembang di Kota Sawahlunto. Serta memberikan apresiasi pemerintah kepada pelaku-pelaku dan peguyuban yang giat melestarikan budaya jawa di kota sawahlunto maupun di luar kota Sawahlunto," ungkap Efriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, Kamis, 3 November saat menyampaikan pidato pembukaan Fewanusa ke IV.

Ia melanjutkan bahwa Festival Wayang Nusantara juga untuk mempromosikan kota Sawahlunto sebagai destinasi wisata yang dipadukan dalam berbagai iven seperti Festival Wayang Nusantara ke IV. Adanya keinginan kota Sawahlunto, untuk menjadi simpulnya budaya jawa di luar Jawa sendiri. Artinya, kita menginginkan kota Sawahlunto sebagai pusat pengembangan kebudayaan jawa yang ada di Sumatera ini.

"Kegiatan ini dilaksana pada Kamis, 3-5 November 2016 di lapangan Segitiga (Lapseg) Ombilin. Peserta yang hadir pada Festival Wayang Nusantara ini yang berasal dalam provinsi Sumatera Barat, yakni Kota Sawahlunto akan menampilkan dua Dalang dan Peguyuban Wayang nantinya. Kemudian, Kabupaten Darmasraya, Kabupaten Pasaman Barat. Selanjutnya, diluar kota Sumatera Barat yang akan mengisi acara wayang Nusantara adalah dari Provinsi Kota Jogjakarta akan menampilkan wayang orang. Kemudian dari Provinsi Riau dan Provinsi Jambi. Disamping ini acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan kebolehan dari SMA N 1, MAN, Gemelan ISI Padangpanjang, Orkesra Keronjong Buana Lestari, Gamelan Kalimasada Kota Sawahlunto, Gamelan SMPN 13 Tebo, Provinsi Jambi. Selanjutnya pada sore hari juga akan diisi pertunjukan kuda kepang atau Kuda Lumping selama tiga hari berturut-turut," katanya.

Ki Bandung Sriyanto, Kurator Festival Wayang Nusantara menyebutkan bahwa adanya Festival Wayang Nusantara ke IV 2016 untuk mengingatkan kembali sejarah kota Sawahlunto merupakan kota multi etnis sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1855. Ketika itu Eropa mengalami krisis yang sangat luar biasa.  kemudian pada tahun 1862-1935 maka diutuslah peneliti dari Eropa bernama Wiliam Fande Kri, untuk meneliti alam yang ada di kota Sawahlunto.

"Hasil peneliatian tersebut membuat memyebut koto Sawahlunto menghasilan batu bara yang berkualitas terbaik. Namun, ketika itu belanda membuat cara merekrut batu bara ini di bawa ke negara Eropa (Belanda) untuk menutup krisis yang berkepanjangan terjadi ketika itu," katanya.

Ia melanjutkan bahwa untuk menghimpun pekerja paksa dengan mendatangkan dari pulau-pula di seluruh Indonesia termasuk pulau Jawa dan orang rantai pekerja paksa serta tenaga kerja kontrak. Puluhan ribu lebih pekerja ketika itu hadir di kota Sawahlunto. Singkat cerita, para pekerja tersebut agar tetap bertahan maka Belanda mempunyai strategi seperti melalui Seni budaya untuk dihidupkan.

"Agar masyarakat dari berbagai etnis ini tidak pulang dan merasa betah berada di Sawahlunto, untuk kepentinga kompeni ketika itu. Hal ini menjadi konsep merupakan langkah dan dasar pikiran Festival Wayang Nusantara di mulai pada tahun 2013 lalu kepemimpinan Amran Nur (alm). Akhirnya ivent ini menjadi agenda kota Sawahlunto hingga saat ini," katanya.

Ia menyebutkan ivent tersebut bisa berkembang dan bisa berlanjut menjadi aset di kota Sawahlunto sebagai kota Tambang berbudaya. Jika mengandalkan penjualan batu bara saja telah mengalami penurunan, maka dari itu yang menjadi moment untuk ke kembangkan adalah dari sektor kepariwisataan.

"Mudah-mudaha ivent ini memberikan sentuhan dan rasa nilai bebersamaan antara etnis yang satu dengan yang lain selalu kerjasama dan gotong royong. Meningkatkan kesatuan dan persatuan demi terwujudnya Sawahlunto sebagai kota yang menjadi percontohan bagi kota-kota lain," paparnya.

Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto mengebutkan bahwa tadi sudah dillihat bersama-sama anak-anak SMA, MAN, ISI Padangpanjang, yang memperlihatkan kebolehan untuk bermain gamelan. Hal ini merupakan bentuk kerjasama dan serta menjadi binaan yang dilakukan sehingga perlu di tumbuh kembangkan di masa-masa akan datang.

"Anak muda kota Sawahlunto untuk bermain gamelan ini sudah tidak asing lagi. Karena pemerintah kota telah menfasilitasi dengan fullday. Sehingga apa yang diinginkan oleh anak-anak dari kesemua itu di coba untuk melengkapi sarana dan prasarana termasuk budaya ini," katanya.

Ia menjelaskan bahwa budaya ini merupakan salah satu alat untuk pemersatu bangsa. Maka untuk saat sekarang ini jika tidak memiliki ke hati-hatian agar budaya tersebut tidak tergerus oleh zaman. Maka dari itu, perlu menamankan dan menumbuh kembangkan budaya tersebut dimulai dari usia dini. Hal ini bertujuan untuk membentengi diri generasi muda, agar tidak terjerumus dengan budaya asing (barat) yang akan memecah belah bangsa ini.

"Sawahlunto menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan bekas penjajarah Belanda. Kemudian pemerintah kota bertekat untuk mempromosikan budaya dan menjaga budaya," ungkapnya.

Ia melanjutkan pemerintah kota berkomitmen untuk menjalankan roda pemeritahan dengan menjaga nilai-nilai dan pelestarian budaya. Seperti menghidupkan seni budaya dan promosi budaya melalui ivent-iven yang ada di kota Sawahlunto.

"Pemain gamelan barusan berlangsung, pemainnya tidak hanya dari masyarakat jawa saja, tetapi orang Minang dan Batak juga ikut belajar memainkan gamelan musik tradisi Jawa. Begitu pula sebaliknya, masyarakay jawa juga belajar Seni tradisi Minang dan Batak. Mereka saling berbaur satu sama lain sehingga tercipta suasana harmonis di kota muliti kurtural ini," katanya.

Ali Yusuf melanjutkan bahwa semua jenis alat musik yang ada di kota Sawahlunto telah diminati oleh generasi muda. Hal ini merupakan kekayaan yang dimiliki dan harus pertahankan serta dikembangkan sehingga kota Sawahlunto menjadi destinasinya budaya di Sumatera Barat.

"Destinasi Wisata di Sumatera Barat penuh keaslian, baik adat dan budaya serta nilai-nilai budaya tetap terpelihada dan dijaga dengan baik. Maka, seluruh iven yang ada di kabupaten/kota perlu di dukung untuk mempromosikan Sumatera barat," katanya.

Ia mengebutkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mempertahankan budayanya. Maka, dari itu melalui festival wayang nusantara ini, salah satu langkah untuk mempertahankan budaya dan promosi, keberagaman budaya yang ada di kota Sawahlunto. Keberagaman tersebut tetap harmonis dan saling berdampingan ditengah masyarakat serta saling melengkapi satu sama lainnya.

"Kita bangga menjadi warga kota Sawahlunto, beragam budaya tetap terpelihara dengan baik. Hal ini tetap dijaga dan dipelihara serta sepatutnya pemerintah kota menumbuh kembangkannya. Kemudian, mempererat hubungan antar sesama serta menjaga kesatuan dan persatuan demi terwujudnya cita-cita sesuai dengan visi misi kota mewujudkan kota Wisata tambang berbudaya," ungkapnya