Wednesday, October 21, 2015

Teater Tanpa Kata dan Minim Kata Sumatera Barat

Wacana Eksperimen dalam pertunjukan seni Sumatera Barat. Teater tanpakata dan minim kata Sumatera Barat berangkat dari pemahaman kepada dua seni pertunjukan 'Lini' karya/sutradara Zurmailis Kelompok Studi Sastra dan Teater (KSST) Noktah dan 'Menunggu' Karya/sutradari Yusril Teater Hitam-Putih. Dua pertunjukan ini sebagai sampel pembanding untuk dilihat secara lokus oleh Pandu,M.Sn sebagai pembicawa diskusi di Ladang Tari Nan Jombang Senin, 31 Agustus 2015 malam.

Laporan: Julnadi Inderapura, Padang, 
 
Beranjak dari sejarah seni pertunjukan tanpa kata di Sumatera Barat yang berkembang pada tahun 1990-an. Kemudian, sejarah seni merupakan sejarah pertarungan konsep-konsep dan kledo seni pertunjukan bagi pengkarya. Sehingga seni pertunjukan melibatkan struktur dramaturgi serta memfungsikannya menjadi sebuah kerangka teater arena.

Pembacaan terhadap teater arena di Sumatera Barat itu sendiri ada banyak antologi sebagai bahan baku kultur Minangkabau untuk sebuah kajian. Banyak kritikus yang mambahas tentang teater arena Sumbar di era 90-an tersebut. Hal itu bermula dari 'Eksperimen' pertunjukan Bumi Teater Wisran Hadi.

Selanjutnya dalam pembacaan teater arena di Sumbar tek terlepas dari pengaruh 'Habitus' (kelompok komedi Stambul) bahwasanya tidak boleh kalah dengan konsep-konsep dari luar Sumbar. Sehingga dalam pertunjukan teater arena sebagai wadah pertarungan konsep-konsep dari masing-masing sutradara. Sebab, sutradara tidak ingin bodoh dari sutradara yang lain dan tidak ingin terkalah saat pertunjukannya mengenai konsep yang ditawarkan.

Sementara itu, Pandangan Pandu dari Leskep pertunjukan teater arena 'minim kata' adalah untuk menggugat 'kata' itu sendiri di wilayah Sumatera Barat. Sementara tekstual analitis sebagai konstruksi drama turgi sebagai bentuk kajian. Maka dalam seni pertunjukan teater arena, tekstual analitis itu terlihat dalam 'lakon' yang tertuang dalam pertunjukan Bumi Teater Wisran Hadi.

Kemudia dua pertunjukan 'Lini' dan 'Menunggu' tersebut dramaturgi-nya tidak tertuang dalam 'lakon' drama. Namun, kedua pertunjukan tersebut dramaturgi-nya terlahir dari diskusi-diskusi secara tematik pada saat latihan.

Sementara itu, tokoh dalam pertunjukan Wisran Hadi terdapat tokoh-tokoh yang 'berdarah daging'. Artinya tokoh yang di ambil dari kultur Minangkabau seperti Imam Bonjol, atau tokoh fiksi sekalipun. Simbol-simbol yang lebih pasif menerimanya dalam pertunjukan Wisran Hadi karena tokohnya yang 'mendarah gading'. Sedangkan tokoh-tokoh 'Lini dan Menunggu' merupakan tokoh yang 'bukan' mendarah gading.

Kemudian dalam diskusi tersebut Pandu menjelaskan Eksperimen adalah upaya menembus kledo yang terlahir dari tokoh-tokoh yang sangat simbolik kedua Sutradara 'Lini dan Menunggu'. Kemudian teater berpolitik dengan perkembangan era pemerintahan. Sehingga teater Sumatera Barat kaya dengan teater Eksperimen.

Teater tradisi menuju teater modern atau 'Auto ship art'. Eksperimentasi pertunjukan dalam kelompok komedi stambul telah mempengaruhi teater tradisi Minangkabau. Misalnya pada tahun 1889 teater arena kelompok komedi stambul masuk ke Indonesia melalui pulai Jawa kemudian berkembang Sumatera barat. Sesampai di Sumatera Barat pada tahun 1901 kelompok komedi stambul bubar. Komedian stambul yang dibawa oleh Habitus ini hanya bertahan selam tiga tahun di Indonesia.

Kemudian, berawal pada tahun 1889 itu sesungguhnya teater tradisi arena yang disebut juga Randai belum memakai kata-kata. Randai waktu itu, masih memakai gumam dan tidak berkata-kata. Namun, setelah 1901 tersebut Randai mengadopsi cerita kaba dan berkata-kata sehingga Eksperimentasi dapat terlahir dalam perjuntujan randai atau teater arena di Sumbar. Terlahirkan eksperimental dengan adanya tokoh dalam cerita yang ada dalam pertunjukan.

Pandu kemudian memberikan argumenya terhadap disiplin ilmu yang masih dalam perdebatan untuk membahas perbedaan tari dan teater minim kata tersebut. Sebab, tari memiliki alur dan tokoh dalam pertunjukannya. kemudian muncul anggapan baru apakah bisa dikatakan 'tari' sebagai 'teater minim kata'. Dalam hal ini, Pandu menyebutkan 'performance studies' tidak membedakan antara tari, teater dan musik. Namun terlebih pada pertunjukan (performa): kajiannya tidak lagi membahas tentang pisiologis tokoh melainkan hasil dari sebuah pertunjukan.

Sementara itu, S. Metron sutradara Ranah Teater menyanggah tentang eksperimen yang dipaparkan Pandu. Dalam hal ini Metron berpendapat bawa eksperimen itu jika mengacu pada bahasa artinya strategi dalam seni pertunjukan secara sistematis dalam sebuah pertunjukan. Maka, sistematis dalam pertunjukan tersebut dicurigai oleh politikus karena berangkat pada pengertian eksperimen itu sendiri.

Eri Mefri seorang Koreografer tari mengartikan eksperimen merupakan sebuah pertunjukan yang belum pernah selesai dan selalu berkelanjutan sampai pada sebuah titik temu. Maka, sebuah seni akan terus berlanjut tanpa melihat sebuah pertunjukan. Randai pada awalnya ber-ilau, dalam dendangnya banyak bercerita. Sehingga siapa saja yang melakukan eksperimen pertunjukan hendaklah jangan menolaknya.

Menurut Ery Mefri, dua hal yang patut di telusuri bahwa eksperimen dimulai dari karya sendiri, kemudian eksperimen dari bahan sendiri. Sutradara tidak akan bisa mencapai keinginannya tampa mecoba. Sutradara akan medapatkan apa yang diinginkan sesuai dengan bahan yang dimiliki sesuai latar belakang aktornya.

Kemudian pertanyaan pun muncul, kapan puncuk eksperimen yang dilakukan Wisran Hadi menghilangkan dunia nyata. Eksperimen apa yang hendak dicapai seorang pengonsep. Maka, akibat dari eksperimen tersebut hendaklah jelas hasilnya dalam pertunjukan. Namun sampai kapan bereksperimen dan mencoba-coba sebuah pertunjukan belum jelas konsepnya. Menurut Ery Mefri bahwa Bumi Teater Wisran Hadi memiliki bahasa dan bereksperimen dengan bahasanya.

Sementara itu, budayawan Sumatera Barat Darmawan menyebutkan teater tanpa kata itu terlahir pada tahun 1970-an di Sumatera Barat. Kemudian teater minim kata itu telah ada mensejak Wisran Hadi. Penokohan dalam pertunjukan Wisran Hadi telah mempungsikan dramatuginya. Karena Wisran Hadi menghadirkan pohon di pentas atau teater arena melalui aktornya. Wisran Hadi saat itu tidak menghadirkan pohon sesungguhan di atas pentas. Selanjutnya tokoh yang diperankan oleh lakon Wisran Hadi tiba-tiba berobah menjadi meja makan. Hal ini merupakan suatu eksperimen juga dari sebuah teater minim kata tersebut. Maka pertanyaannya sistematis dua pertunjukan 'Lini dan Menunggu' tersebut belum sebagai eksperimen. Dua pertunjukan tersebut lebih kekinian dan kontemporer untuk memberikan alternatif terhadap seni pertunjukan.

Pengalaman menarik diuraikan oleh Pandu mengenai pertunjukan 'Menunggu' karya/sutradara Yusril. Pertunjukan ini bagi Yusril terhadap aktornya adalah 'Pembongkaran' yang mendalam atas tubuh. Dalam arti kata tubuh tidak lagi menjadi tubuh sehari-hari. Dimulai dari mengikuti harmoni alam dan tubuh yang bergerak tanpa giesture.

Dalam hal ini Pandu kemudian menyebutkan bahwa 'diskusi tematik' sebagai sebuah kajian dramaturgi. Merobah tubuh dari tubuh tradisi dan keluar dari tubuh yang lebih sistematis. Namun dalam capaiannya metode Yusril termasuk gagal membawa tubuh aktornya di pentas.

Kemudian muncul anggapan baru apa yang menjadi pembeda antara  eksperimen dan eksplorasi. Pandu menyebutkan pembeda eksperimen dan eskplorasi tersebut lebih dekat pada teater post-dramatik sebagai sebuah teori. Eksperimen artinya mencoba dan menggali lebih dalam---pendalaman tentang sejarah. Ekplorasi artinya lebih eksperimen dan mencari makna yang mendalam. Selanjutnya, eksperimen dan ekplorasi menjadi kasus dalam 'performer studies' atara sutradara dan aktor.

Koreografer Inpessa Dance Company Jhoni Andra menyebutkan performer studies adalah sebuah keinginan yang menentang dengan memaksakan kehendak sutradara kepada aktor berarti sutradara telah gagal bereksperimen. Sulit membedakan taater eksperimen minim kata dengan pertunjukan tari yang memiliki alur dan tokoh. Apakah boleh disebutkan sebagai teater minim kata.

Identitas teater kata tidak eksperimen lagi dan lebih pada post-dramatik. Pembauran antara teater-tari bermula dari performace Studies tahun 1980-an telah berkembang. Meskipun Pandu tidak sepakat antara tari dan teater yang terdiri dari kajian-kajian disiplin ilmu bahwa sesungguhnya antara tari dan teater terpisah. Kemudian bagi performace studies telas meleburkan Teater dan tari tidak ada pembeda dan batas keduanya. Selanjutnya Pandu menyatakan dirinya lebih sepakat dengan keduanya (teater-tari) merupakan seni pertunjukan

Batombe Kesenian Tradisi Langka Yang Sakral


                       

 
Batombe Kesenian Langka
Kesenian Batombe adalah kesenian berbalas pantun merupakan kesenian langka. Kesenian tersebut perheltannya dimainkan pada saat pengangkatan gelar adat. Batombe tidak bisa dimainkan ditempat terbukan karena memiliki mistik tersendiri. Batombe hanya diperbolehkan di rumah gadang. Seperti apa ceritanya?

Laporan: Julnadi Inderapura, Padang


Cahaya bulan yang merah karena tertutup kabut asap. Orang-orang sibuk dengan aktivitas masing-masing dengan gerobolannya. Ada yang sembari berdiri bercengkrama di pelataran sembari memakan gorengan. Ada pula yang sibuk dengan gadgat seraya tesenyum. Tak lama kemudian terdengar sumber suara mengajak masuk para penonton ke gedung pertunjukan Manti Manuik.


Jam menunjukan pukul 20.00 malam pada Kamis, 3 September 2015 lalu, Orang-orang tampak berdesakan masuk ke gedung pertunjukan, Mantin Manuik Festifal Ladang Tari Nan Jombang Tanggal 3. Sembari membuka alas kaki mereka masing-masing, kemudian penonton menuju tempat duduk masing-masing. Ada dua pertunjukan yang berlangsung pada malam itu Randai dan Batombe.

Randai yang ditampilkan pun mempunyai khas tersendiri dalam penampilannya. Anak randai tidak memakai galembong seperti randai pada umumnya. Namun, randai yang dimainkan Anak Nagari Sangir Batanghari ini anak randainya mengenakan kain sarung Palakaik atau Palakat. Kemudian tapuak (galembong) yang dipakaipun lebih keras dibandingkan galembong. Kesenian tradisi randai dan Batombe yang berada di Nagari Stampus yang merupakan kebiasaan rantau surambi dan rantau balai koto. keberadaan nagari yang berada di empat koto itu, telah melahirkan kesenian randai tuo dan batombe.

Selain itu, Keseni tradisi--Batombe--adanya hanya di nagari Stapus Kecamatan Sangir Batanghari Kabupaten Solok Selatan tampil di Ladang Tari Nan Jobang Tanggal 3. Kesenian Batombe  merupakan kesenian langka yang sakral berkembang di daerah Sangir perbatasan Solok Selatan dengan Darmasraya. Batombe ini sediri keluar pada acara pengangkatan gelar mamak kegiatan adat alek nagari dan acara pernikahan. Berbain Batombe tidak dibenarkan bermain sembarang dan ditempat-tempat terbuka. Melainkan bermain batombe hanya dibolehkan pada acara tertentu dan bertempat di rumah gadang. Sementara alat musik yang digunakan pada saat batombe adalah biola (viol) atau rabab bagi orang Pesisir.

Syafruddin Pendendang dan Pelaku seni tradisi batombe mengatakan Batombe merupakan bahasa asli dan bahasa tua di daerah Sangir. Batombe artinya 'berbalas'. Dalam kesenian tradisi dengan cara berbalas pantun. Pantun yang dimainkan dengan bersajak AB-AB. Kesenia Batombe tersebut lahir sejak turun-temurun dari leluhur. Meskipun kesenian batombe sempat fakum, namun kesenian batombe ini kembali  hadir ditengah masyarakat dengan pengelolaan oleh nagari.

"Kesenian batombe ini dimainkan oleh pedendang dengan berbalas pantun. Tidak ada pembatasan terhadap pemain dan pedendang batombe. Pemain boleh atau pedendang boleh dilakukan dua orang pedendang dengan berpasangan. Artinya pedendang lelaki dan pedendang perempuan. Berdendang batombe ini boleh lebih dari dua orang, boleh empat orang dan boleh pula enam orang. Tidak batasan pada pendendang, hanya saja di batasi dengan pola duduk pemain saat berdendang. Kelompok perempuan dan kelompok laki-laki, karena pantun yang disampaikan dalam bermain batombe cenderung tanya jawab. Kemudian penyampaiannya yang didendangkan," katanya.

Kesenian batombe idealnya dimainkan oleh umur di atas 40 tahun. Pemain atau pedendang batombe banyak didendang oleh janda dan duda. Sebab, jika pedendangnya adalah seorang janda atau duda, maka tidak ada rasa cemburu dari pihak keluarga. Kemudian jika pemain masih berstatus suami istri makan hal tidak diinginkan pun dapat terjadi. Atau sang istri bisa cemburu kepada sang suami jika memainkan batombe dan begitu sebaliknya, sang muami juga akan cemburu pada istrinya yang memaikan batombe. Maka, alasan-alasan inilah yang kemudian membuat kesenian tradisi batombe ini hilang karena ada pelarangan dari tokoh-tokoh adat dan pemerintahan nagari untuk dimainkan.

"Jika yang muda memiliki suami atau istri memainkan batombe, pantun yang dimainkan pun berupa sindiran dan bersifat tanya jawab. Apalagi  penyampaian pantun secara 'mendalam' oleh pedendang batombe maka pemaknaan dari pantun tersebut akan tergambar bahwa maksud dan tujuan dari seseorang pemain batombe. Kepada siapa arah sasaran pantun yang di tuju, kemudian seperti apa respon dari lawan pantun. Maka, dampak buruk pun bisa terjadi kepada pemain batombe itu sendiri. Misakan pengungkapan sayang, cinta dan sebagainya kepada lawan main batombe. Maka, jika suami atau istri dari pemain batombe yang menyaksikan dan mendengarkan secara langsung akan merasa cemburu. Merusak pada hubungan keluraga dan rumah tangga seseorang dari pemain batombe. Akibatnya dari batombe tersebut retaknya rumah tangga seseorang dan berujung pada perceraian," lanjutnya.

Selain itu, kesenian tradisi batombe pun tidak dapat dimainkan di galanggang dan tempat terbuka. Kesenian batombe dimaikan pada acara pernikahan (alek). Kemudian acara persepsi pernikan itu dilaksanakan dirumah gadang, tidak dibenarkan melaksanakan persepsi dirumah masing-masing. Persepsi pernikahan itu dilaksanakan dirumah gadang kaum.

Kemudian persepsi pernikahan itu, dengan menyembelih seekor kambing. Untuk masakan adat, baru kemudian batombe boleh dikeluarkan pada acara persepsi pernikan itu. Fasalnya, batombe dimainkan mulai senja hari (usai isya) sampai parak siang (waktu subuh). Selama pertunjukan batombe tersebut maka, banyak yang meninggalkan istri mereka dirumah, meninggalkan ladangnnya di malam hari sehingga dimakan musuh. Alasan-alasan itulah kemudian batombe mulai hilang dari generasi. Namun saat ini batombe muncul dengan sebuah proses kreatif kesenian anak nagari. Sehingga dapat ditampilkan di Ladang Tari Nan Jombang Tanggal 3 ini. Meskipun para pedendang yang memainkan masih belum percaya diri dan malau-malu. Karena mengingat latar belakang akibat yang dihadirkan oleh batombe.

10 Oktober Hari Kesehatan Jiwa se- Dunia, Siapa Peduli Terhadap Ganggua Jiwa?

10 Oktober Hari Kesehatan Jiwa Se Dunia
"Dengan rumput liar, jemari tangan kita melekat jadi satu, Pipiku merengkah jadi apa, Pimpi hitam rembulan hidupku, Sayang, bila hanya angin yang mengerti, lama, aku pelajari satu puisi, bila hanya anging yang mengerti, Demi terjalin cinta kita, Sayang bila hanya angin yang mengerti, lama aku pelajari satu puisi, Oh burung yang bernyanyi demi cinta Kenapa kau meski ragukan kasih kita,"

Begitulah penggalan syair lagu yang dinyanyikan lelaki paruh baya itu, saat penulis menghampirinya. Saat itu sekira pukul 13.00 hari Kamis, 8 Oktober 2015, lalu. Kendaraan lalu lalang dengan kepulan asap mobil tua dari knalpot semi resing itu. Matahari pun enggan tersenyum dan masih bersembunyi dari kabut asap yang menyelimuti kota. Beberapa penumpang angkot dan pengendara mengenakan masker untuk menjaga kesehatan.

Siang itu, di Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur, Padang Sumatera Barat persis didepan kantor Dinas kesehatan, seorang lelaki tua duduk 'malepok' (duduk bersila) di tanah tanpa peduli semut-semut di sekitar akan menggigit. Lelaki tua itu melipat kakinya sebelah kanan, sementara ditumpukan lututnya sebelah kiri sembari bersandar dibatang pohon di kawasan kelurahan Jati.

Lelaki tua itu duduk bersendiri bersandar dibawah pohon yang rindang. Lelaki tua yang memutih uban dirambutnya kusut, serta terlihat tidak rapi. Telapak kaki telah tebal dan tumit kakinya yang merengkah seperti tanah sawah kekeringan dilanda kemarau. Kaki lelaki itu tampak kumal karena debu jalanan, kemudian kuku kaki dan tangannya yang panjang serta hitam tanpa ada perhatian sedikitpun dari orang disekitarnya.

Lelaki tua itu, sebut saja Mr X berumur sekira 50. Ia tampa makai baju sehingga tulang dadanya tampak timbul dan dapat dihitung. Kulitnya yang telah keriput serta terlihat kurus kering. Setiap persendian badannya meruncing seperti 'tengkorak' karena hanya kulit pembalut tulang.

Tatapan matanya yang sayu dan kosong, air mukanya yang basah, kumis dan jenggot telah memanjang serta menyatu menutupi mulutnya. Kepalanya yang teleng ke arah kanan seperti orang kelelahan bekerja keras. Bahunya tampak turun naik saat menghela nafas. Sementara baju warna putih yang telah lusuh itu ditelakkan pada tas dengan posisi mengembang disamping kiri tempat duduknya. Lelaki tua itu, duduk ditanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya. badannya yang bersih meskipun ada bekas-bekas goresan di punggungnya.

Meski tanpa berbaju, namun tidak ada sedikit pun penyakit kulit yang tampak melekatnya dibadannya. Memang diakui badannya agak berbau amis. Serta bercampur dengan baun limbah sungai yang ada disekitar, ditambah pula bau sisa sampah yang telah mengering tidak berada jauh disampingnya.

Ia kemudian sesekali menyanyikan untuk menghibur dirinya. Dia asyik dengan dirinya sendiri meskipun telah ada usaha penulis menghampiri dan mengajak komunikasi. Namun dirinya tetap saja asyik sendiri dan terus bernyanyi. Suaranya yang merdu. Ia memang pintar menyanyi dengan lantunan irama serta nada yang pas, serta syairnya pun tidak tertinggal satu baris pun.

Fireter yang digenggam di tangan kanannya yang digunakan sebagai mikrofon. Kemudian mesin penghitung yang terletak di hadapannya dianggap sebagai ekualizer mesin pengeras suara. Hal itu terlihat dari caranya berimajinasi dengan mengotak-atik mesin penghitung tersebut. Tali andytaky yang melintang dan speaker aktif ukuran mini rongrokan sebagai pengeras suara, sebuah hanphond nokia 8210 layarnya telah pecah sehingga tampak biru tampilannya di genggaman tangan kirinya. Selanjutnya, dihadapannya ada botol aqua yang berisi air putih. Botor dengan tutup yang terbuka di kerumuni lalat warna-warni.

Sesekali ia menghalau lalat tersebut dan berulang-ulang dengan mengibaskan tangannya. Kemudian ia merapikan celana panjangnya warna abu-abu pada bagian tutut. Itu pun dilakukan secara berulang-ulang pula hanya selang beberapa menit setelah lagunya jeda, perbuatan yang sama dilakukan kembali secara berulang-ulang.

Selanjutnya dirinya menyangikan lagu Ebit G Ade yang berjudul 'Berita Pada Kawan'. Dirinya menyanyikan secara merdu. Waktu-waktunya dihabiskan dengan bernya sendiri dengan lantunan yang sangat merdu. Meskipun diajak komunikasi, lelaki itu tetap diam dan tampa merasa terganggu. Ia tetap bernyanyi dengan lilik lagu yang melekat dalam ingatannya.

Fitria,30, warga yang berdiri menggu angkot trotoar menuju pasarraya mengatakan bahwa dirinya melihat pak tua (Mr X) di jalan perintis tersebut sejak sepekan lalu. "Saya melihat pak tua itu sejak seminggu yang lalu. Lelaki itu selalu duduk bawah pohon tersebut. Saya tidak pernah melihat keluarganya untuk menjempaut. Kemudian dinas sosial pun sepertinya tidak bergerak menangani orang sepertinya," katanya.

Dia mengaku tidak mengatahui penyebab gangguan jiwa. "Saya tidak mengetahui asal dan kampung halaman pak tua tersebut, karena saya tidak kenal. Saya melihat baru seminggu yang lalu. Ia tetap saja di situ. Namun tidak pernah mengganggu orang. Pak tua tersebut setiap hari selalu berada bawah pohon rindang itu. Pohon yang sama," akunya sembari pamit menaiki angkot.

Ditempat terpisah, diteras ruko di jalan simpang Hiligoo Kelurahan Pondok Kacamatan Padang Selatan juga tampak dua orang lelaki sedang duduk saling berjauhan. Seorang lelaki tua yang kurus asik bicara sendiri sembari membongkar semua isi yang ada dalam kantong plastik berwarna biru yang dibawanya. Setelah membongkar semua isi kantong yang ada dalam kantong kresek tersebut lelaki paruh baya itu kemudian memasukkan kembali dalam kantong asoi. Semua isi dalam kantong asoi tersebut adalah koran-koran bekas.

Saat Panulis mencoba mendekati lelaki paruh baya tersebut, lelaki itu mulai menjaga sikap dan was-was. Barangkali saja lelaki itu merasa terganggu, atau takut di curi barang yang dibawanya. Dengan lagak yang serius, lelaki tersebut berpura-pura membaca koran bekas yang ada digenggamannya. Lelaki itu tampak termenung saat melihat tulisan-tulisan yang ada di koras bekas tersebut. Entah apa yang difikirkannya. Hanya selang beberapa menit saja lelaki tersebut menyudahi waktu bermenungnya.

Selanjutnya lelaki itupun kembali kasak kusuk dengan mengecek seluruh isi kantong kresek miliknya. Usai membolak baliknya semua isi yang ada lelaki itupun kembali memasukkan koran kedalam kantong kresek yang masih tersisa.

Lelaki tua yang mengenakan baju biru laut yang telah memudar. Sementara pada bagian bahu serta pundak baju yang dipakai lelaki tua tersebut sangatlah kotor. Karena kantong kresek tersebut saat berjalan selalu berada dipundaknya. Lelaku tua tersebut mengenakan celana hitam dan memakai sendal jepit belang. Lelaki itu tampak rapi, namun tetap saja kumal. Kakinya yang kotor dan berdebu, kemudian disela-sela jemarinya tampak menghitam. Entah berapa hari lelaki itu tidak pernah mandi, sehingga kaki dan kuku jari kakinya pun menghitam.

Wajah lelaki tua itu tampak memerah, karena kabut jalanan. Sementara rambutnya jarang sehingga tampak seluruh kulit kepala mulai dari ubun-ubun hingga pada pusar belakang bagian atasnya kepalanya. Lelaki tua itu, mengenakan baju berkerah yang menutupi kuduknya. Sementara gewang baju yang tak lengkap pada bagian dada selalu menganga. Sehingga terlihat ulu hatinya yang mencekung saat duduk.

Sementara lelaki tua yang berlagak seperti preman itu, tampak duduk termenung. Lelaki yang bergenggot dan berkumit menutupi kedua bibirnya memperhatikan lalu-lalang kendaraan. Selali yang menjuntaikan kakinya ketanah, sementara tangan bagian kanan di tumpu pada lutut bagian kanan. Lalaki yang mengenakan jam tangan yang telah mati pada tangan kiri. Kemudian dijemarinya di lengkapi asesoris cincin batu akik. Dua buah batu akik di jemari kanan, kemudian tiga buah batu akik pada bagian kiri. Kemudian pergelangan tangan kanan dilengkapi dengan gelang yang berbuat dari tali dan akar kayu.

Lelaki itu mengenakan baju kaos berwarna cokelat, kengenakan topi santai berwarna biru. Lelaki tersebu mengenakan celana trening dengan bergaris merah pada bis pinggir. Lelaki itu membawa tas baju diletakkan disebelah pantat kirinya. Sementara dihadapannya ada kantorng kresek warna kuning dibiarkan tergolok di ujung jemarikakinya. Tidak hanya itu saja, lelaki itu pun menduduki pipa besi yang dibalut dengan karet. Sementara pada ujung pipa tersebut ditambak pula dengan besi bagunan yang telah dipipih ujungnya dan tampak tajam.

Paras wajahnya yang keras dan sangar itu selalu bermenung seraya berfikir. Ia sepertinya menatap kendaraan lalu lalang, serta diselingi pluit polantas yang mengurai kemacetan. Tidak ada sedikit senyum yang terpancar dari wajah Mr Y ini, dengan tampilan serta bawaannya sedikit keras. Namun lelaki itu tidak pernah mengganggu dan menggertak siapa saja yang berjalan dihadapannya.