Showing posts with label Feature. Show all posts
Showing posts with label Feature. Show all posts

Monday, March 19, 2018

Kiat Hafiz dan Hafizah Perlancar Hafalan Quran Rajin Mengulangi Hafalan dan Pilih Waktu Terbaik

Bagi Afif Mubaraq Rabbani Chalid Althaf bersama Annisa Salsabilany Yusuf menghafal Quran jauh lebih mudah dibandingkan mempertahankan hafalan. Mereka harus mengulangi kembali hafalan dari juz 1 sampai juz 3 dengan memilih waktu terbaik yakni Maghrib, Isya dan Subuh. 

Laporan : Julnadi Inderapura, Sawahlunto 

Kamis, 15 Maret 2018 pagi menjelang siang, langit kota Sawahlunto tampak mendung berawan. Jalanan menuju SMPN2 Sawahlunto masih lembab karena diguyur hujan tadi malam.  Penulis menjambangi siswa SMPN2 Sawahlunto merupakan sekolah unggul dibidang tahfiz quran. 

Penulis bertemu siswa kelas VII SMPN2 Sawahlunto Afif Mubaraq Rabbani Chalid Althaf bersama Annisa Salsabilany Yusuf di ruangan Kepala Sekolah. Afif dan Annisa merupakan siswa kelas unggul SMPN2 Sawahlunto yang telah hafal quran sebanyak 3 juz. 

Afif mengaku untuk menghafal quran tidaklah sulit, apalagi menghafal sebanyak 6 ayat dalam sehari. Waktu yang baik untuk menghafal quran usai shalat maghrib dan usai shalat subuh. Selanjutnya, jika sudah hafal maka hafalan tersebut di setorkan pada ustaz. 

Namun yang sulit adalah setelah menyetor ayat kepada ustaz kemudian hafalan tersebut banyak yang hilang serta banyak salah pembacaannya karena lupa. Maka untuk mengingat kembali hafalan maka dilakukan Murajaah dengan baca seluruh hafalan. Murajaah merupakan pengulangan kembali seluruh hafalan quran mulai dari juz 1 sampai juz 3 untuk mengingat kembali hafalan quran. 

"Menghafal ayat sebanyak 6 ayat sehari itu mudah. Namun untuk mempertahankan hafalan tersebut sulit. Sehingga banyak yang masih salah bacaannya dan ada pula yang lupa," ujar Afif. 

Ia menyebutkan bahwa untuk mempertahankan hafalan tersebut maka lebih sering di ulang hafalan tersebut sehingga tetep ingat. Selanjutnya lebih sering membaca membaca tersebut maka lebih mudah mengingat. Selain itu, untuk fasih dalam bacaan ayat yang telah hafal, maka dilakukan murajaah. 

"Murajaah ini, mengulangi kembali seluruh hafalan secara bersama sama teman-teman yang lain dengan pendampingan oleh ustazd. Selain itu, untuk lebih mudah mengingat maka lebih sering dibaca dan pengulangan. Apabila ada waktu senggang maka dibaca kembali hafalan tersebut sehingga tetap ingat hafalannya," katanya. 

Senada disampaikan Annisa, bahwa menghafal quran itu mudah. Namun untuk mempertahankan hafalan tersebut lebih sulit dibandingkan dengan menghafal. Saat ini semester II kelas VII dan tinggal di asrama untuk pemondokan. 

"Tahfiz dilakukan usai shalat maghrib hingga Shalat Isya, kemudian usai shalat Subuh sampai pukul 6.30. Selanjutnya, sudah maghrib setor hafalan," katanya. 

Endang Sri Herna Yenti, Wakil Kurikulum Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Sawahlunto menyebutkan bahwa program unggulan asrama Tahfiz Al quran bertujuan untuk mewujudkan peserta didik yang beriman, berilmu pengetahuan, mandiri dan berakhlak mulia. Sehingga penanaman dan mengimplementasikan nilai-nilai akhlakul karimah pada peserta didik. Selanjutnya membiasakan pelaksanaan ibadah yang tepat dan benar, mengamalkan sikap sungguh-sungguh dalam belajar. 

"Awalnya siswa yang bording sebanyak 58 orang siswa. Namun ada yang menyatakan mundur dan tidak siap menghafal 9 juz quran hingga tamat. Karena ada yang tidak terbiasa bangun pagi, kemudian ada pula orang tua yang kasihan melihat anaknya yang kurus karena kurang tidur. Sebab, pukul 03.00 anak-anak sudah bagun pagi," katanya 

Ia mengatakan bahwa dari 58 orang siswa tinggal 37 orang siswa. Artinya ada sebanyak empat orang siswa laki-laki dan dua orang perempuan. Siswa bording tersebut tinggal di Asrama di lingkungan sekolah dengan pembina asrama putra dan putri. Kemudian guru bimbel dan OSN sebanyak 5 orang dan Spikolog. Selanjutnya medis tiga orang, ahli gizi dan security tiga orang.

"Terkadang anak-anak ada yang sakit mag dan anak perempuan fisiknya lemah. Kadang-kadang anak ini banyak yang sakit mag, sebab disini makan teratur. Sementara anak-anak tidak terbiasa makan pagi, sebab mereka terbiasa jajan di sekolah sewaktu SD. Kemudian saat malam hari ada yang menangis ingin pulang kerumah. Sehingga ada yang sakit dan menyatakan tidak sanggup kelas bording," tuturnya. 

Nuriadi, Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Sawahlunto menyebutkan bahwa hingga saat ini sudah ada lima orang yang hafal quran Tiga Juz, kemudian ada yang hafal dua juz hingga 1,5 juz al quran paling sedikit. Kita masih ada waktu untuk menyemangati anak-anak hafal quran. Kemudian untuk menyemangati anak-anak agar bisa menghafal quran maka diberikan reword oleh ustaz dengan memberikan Quran. 

"Untuk menyemangati siswa maka ada program ke unggulan asrama tahfiz camp. Kegiatan tersebut anak-anak di campkan untuk menyemangati dalam menghafal quran. Selain itu, anak-anak lebih semangat dan lebih aman serta nyaman untuk menghafal quran. Program boarding school SMPN2 Sawahlunto sebagi sekolah unggul kota Sawahlunto, Sekolah rujukan nasional dan piloting karakter," katanya.

SMPN2 Sawahlunto merupakan sekolah unggul tahun ajaran 2017-2018. Baru tahun pertama siswa telah mempu hafal 3 juz quran untuk program boarding. Untuk menghafal quran lebih mudah ketimbang mempertahankan hafalan. Untuk mengingat kembali hafalan maka dilakukan Murajaah dengan baca seluruh hafalan. Murajaah merupakan pengulangan kembali seluruh hafalan quran mulai dari juz 1 sampai juz 3 untuk mengingat kembali hafalan quran. 

Monday, September 18, 2017

Melirik Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto

Grebek Suro Menjadi Tontonan dan Tuntunan Masyarakat Sawahlunto


Kelompok Seni Sapu Jagat multi etnik tergabung masyarakat Jawa, Minangkabau, Batak dan menganut kepercayaan yang berbeda-beda namun saling berbaur. Sebab, kelompok seni Ki Sapu Jagat memiliki motto "membina akhlak melalui seni dan budaya" dengan tidak membedakan suku, agama dan ras seseorang tetap bersatu dalam satu paguyuban kesenian Sapu Jagat.




Selasa, 12 September 2017 sore langit kota Sawahlunto terlihat mendung. Sore itu pula di kaki bukit puncak Polan, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Penulis, menjambangi sekret Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto. Dilaman sekret tampak berselempangan sisa-sisa potongan kayu dan rautan bambu pembuatan tandu yang digunakan untuk gunungan buah-buahan. 

Gunungan buah-buahan tersebut dirakit untuk persiapan kegiatan Grebek Suro peringatan tahun baru Islam yang jatuh pada 21 September bertepatan 1 Muharram 1439 Hijriyah. Anggota Paguyuban tampak sibuk mempersiapan tandu gunungan buah-buahan dan Apam. 

Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto, berdiri sejak 1 Juli 2010 terus rutin melaksanakan kegiatan Grebek Suro yang menjadi agenda tahunan. Sapu Jagat beranggotakan 71 orang dengan penasehat, Ismed, Tukino, Zainal, Saiman, dan Zainal Arifin Dt Bandaro Putiah. Paguyuban tersebut fokus pada kegiatan yang dilaksanakan berupa kegiatan pesta ramadhan, Grebek Suro, Band, Keroncong, Kuda Kepang, Teater dan Film.

Kelompok Seni Sapu Jagat multi etnik tergabung masyarakat Jawa, Minangkabau, Batak dan menganut kepercayaan yang berbeda-beda namun saling berbaur. Sebab, kelompok seni Ki Sapu Jagat memiliki motto "membina akhlak melalui seni dan budaya" dengan tidak membedakan suku, agama dan ras seseorang tetap bersatu dalam satu paguyuban kesenian Sapu Jagat.

Agus Iwan Darmawan, Ketua Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Sawahlunto menyebutkan bahwa proses pembuatan gunungan buah terbuat dari bahan bambu dengan ketinggian 2,5 meter hingga 3 meter. Tahapan yang dilalui saat pembuatan gaunungan buah tersebut dimuai dengan penebangan bambu. Bambu tersebut telah dikebat atau diikat dengan kain merah dan telah dijaga selama 90 hari sebelum ditebang. Kemudian, tandu tersebut dilengkapi bambu kuning untuk ditengah gunungan sebagai poros. Bambu yang dikebat dengan kain merah tersebut di dzikirkan dan didoakan agar ada berkatnya, artinya sebatang bambu tersebut telah "dijaga" atau disakralkan. 



Proses pembuatan tandu gunungan buah-buahan akan menghabiskan waktu selama satu minggu. Jadi, ada dua buah gunungan yang akan akan disiapka pada peringatan 1 Muharam yang ditandai dengan Grebek Suro, yakni Gunungan Buah-buahan dan Gunungan Apam. Gunungan buah tersebut syarat dengan makna pengucapan rasa syukur dan saling berbagi. Berbagi orang yang "berlebih" atau orang kaya kepada orang yang tidak "punya" atau miskin. Sehingga gunungan tersebut menjadi rebutan oleh masyarakat. 

Ada 40 jenis buah-buahan dengan berat 150 kilogram untuk gunungan buah. Gunungan tersebut akan diangkat oleh sepuluh orang sanggar. Untuk satu gunungan menhabiskan biaya sebesar Rp8 juta. Selanjutnya, prosesi berikutnya adalah pencucian buah-buahan dengan air terjun masjid. Kemudian di dzikirkan bersama dengan tokoh agama dan masyarakat, setelah itu barulah di pasang buah-buahan tersebut ketandu yang telah disiapkan berdasarkan urutan tertinggi buah-buahan. 

Artinya buah tersebut ada pengelompokannya, seperti buah Nanas, Tomat, Apel. Buah Nanas melambangkan kejayaan, sedangkan Tomat disimbolkan darah, terong dan Timun melambangkan tulang manusia. Artinya, gunungan buah-buahan tersebut jadi kekuatan yang akan disumbangkan kepada masyarakat yang kurang mampu. 

Pencucian buah-buahan bersamaan dengan pencucian benda pusaka dengan mandi kembang dari air terjun masjid. Pencucian buah-buahan Apam dan benda Pusaka dilakukan pada malam pergantian tahun dengan air terjun masjid dengan prosesi ritual. Kemudian di sakralkan dengan membaca dzikir dan doa-doa malam hari di halaman sekret Paguyuban. 

Buah-buahan tersebut seluruhnya sudah di sakralkan, sehingga memiliki karomah tersendiri karena di dzikirkan. Grebek Suro di Sawahlunto tidak ada kaitannya, hanya saja sejarah budaya yang dibawakan oleh nenek moyang dulu. Karena Sawahlunto multi etnik, maka kita mengadopsi apa yang menjadi kebiasaan dan budaya nenek moyang dari Klaten tanah Jawa.

Berbeda dengan proses Apam, yang merupakan perjalanan Ki Ajeng Gribik melakukan perjalanan ke Makkah pulang dan pergi mamakan waktu selama 1000 hari dan membawa bekal satu hari satu Apam. Untuk 1000 apam, karena mengikuti perjalanan Ki Ajeng Gribik yang melakukan perjalanan haji selama 1000 hari untuk menjemput kebaikan di Makkah. 

Sesampai di Makkah diberikan makan Affan (Apam), oleh seorang syeh berjumlah seribu buah hingga menuju pulang Apam tersebut tidak berkurang jumlahnya meskipun telah dimakan. Orang Makkah menyebutkan Affan orang Jawa menyebut Apam atau kue Panukuik. Apam itu sendiri terbuat dari beras dan kelapa. Beras tersebut dicuci dengan air pancuran tujuh masjid dan didzikirkan.

Ada lima warna Apam, warna tersebut terkolaborasi membentuk kalimat Allah dan Muhammad. Warna tersebut mengijuti jadwal waktu shalat sebanyak 17 rakaat di mulai dari Isya emapat rakaat shalat ditandai dengan warna Merah, Subuh dua rakaat diwarnai dengan warna hijau, Dzuhur empat rakaat ditandai dengan warna cokelat, Ashar empat rakaat shalat ditandai dengan warna putih dan Maghrib ditandai dengan warna hitam.

Grebek Suro ada sejak jaman kerajaan Maja Pahit dibawah kekuasaan Protu Wijaya V diadakannya Grebek Suro. Karena suatu daerah kekeringan sehingga gagal panen, ada suatu kampung yang di naungi oleh Ki Ajeng Gribik yang merupakan tokoh ulama di Maja Pahit,tidak mengalami kekeringan, justru hasil panen mereka sangat berlimpah ruah. 

Ki Ajeng Gribik memerintahkan kepada masyarakat untuk saling berbagi kepada yang tidak "memiliki" (kampung sebelah yang gagal panen) sehingga tradisi Grebek Suro di tanah Jawa tetap dilaksanakan, saling berbagi dan rebutan bagi masyarakat terhadap gunungan buah-buahan. Jadi yang memiliki (kaya) dibagi kepada masyarakat yang tidak memiliki (miskin). Jadi, Grebek Suro merupakan bentuk mengenang Ki Ajeng Gribik pada tahun suro. 

Saling berbagi tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al quran surat Alkahfi ayat 30-47 tentang kemakmuran masyarakat yang saling berbagi antar sesama. 

Tradisi Grebek Suro hanya diadakan pada tahun baru Islam tidak dilakukan pada hari lain. Kecuali Grebek Sawal diisi dengan ketupat, Grebek Maulid isi dengan sayur-sayuran dari hasil panen, artinya Grebek Suro hanya diadakan pada peringatan hari besar Islam. 

Acara puncak Grebek Suro pada tangga 1 Muharram, gunungan buah-buahan dan Apam akan diarak ke sekeliling kota diawali dengan pembacaan doa dan pemotongan Tumpeng. Selanjutnya, gunungan buah-buahan dan Apam di rebut oleh masyarakat di alun-alun kota dan berakhir di Goedang Ransoem. 

Kemudian di Sawahlunto sendiri Grebek Suro menjadi destinasi wisata religius sebagai contoh bagi masyarakat. Grebek Suro tersebut pada prosesinya sama dengan yang diadakan di Jawa, sehingga berbagi bersama memperebutkan gunungan buah-buahan dan Apam. Grebek Suro tersebut merupakan tahun ke 7 dilaksanakan di kota Sawahlunto oleh Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto.

Untuk pelaksanaan kegiatan Grebek Suro, Agus Iwan Darmawan mengaku mencari sponsor keluar, sebab tidak ada bantuan dari pemerintah kota terutama dalam hal pembinaan. Kegiatan yang lakukan hanya bersifat swudaya dan hanya hargai dengan tepuk tangan penonton. Sebab, Paguyuban Ki Sapu Jagat berbuat tidak hanya sebagai tontonan namun juga menjadi tuntunan bagi masyarakat khususnya di Kota Sawahlunto.*

Saturday, September 16, 2017

Samsimar Buruh Dusun Siambalau Upah Rp50 Ribu Sehari Untuk Memenuhi Kebutuhan Keluarga

"Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, perempuan di usia senja masih bekerja banting tulang dibawah terik matahari menjemurkan punggungnya demi mencukupi kebutuhan harian mendapatkan upak harian. Samsimar buruh tani, mendapat upah Rp50 ribu sehari,"


Rabu, 13 September 2017 siang langit kota Sawahlunto tampak cerah. Hamparan sawah petani Dusun Siambalau Dasa Talawi Hilir Kecamatan Talawi tampak hijau. Jalan beton yang buntu membedah memdah bidang sawah petani. Jalan beton tersebut terputus karena ada petani yang tidak bersedian memberikan tanahnya untuk membangun jalan. Jalan tersebut merupakan akses transportasi mengangkut padi hasil panen petani. 

Siang itu pula Penulis menghampiri dua orang buruh tani yang berteduh sejenak di bawah pondok tengah sawah. Mereka baru saja selesai menyiangi sawah Munir dan membersihkan kakinya serta tangan pada genangan air di pinggir pematang sawah. Mereka berkemas-kemas untuk pulang kerumah. Suara mengaji di mesjid pun telah terdengan dari kejauah. 

Samsimar, 65, yang telah berusia senja itu masih bekerja ke sawah orang untuk mendapatkan upah. Ia bekerja masuk sawah untuk menyiangi padi pukul 07.00 pagi dan keluar waktu zuhur. Ia mendapatkan upah Rp50 ribu perhari, meskipun upah tersebut terbilang rendah. Namun, karena tidak ada pilihan lain untuk menambah penghasilan keluarga. 

"Jika dibandingkan dengan tahun-tahuh lalu, enak sekarang. Tahun-tahun lalu, masuk dari padi pukul 08.00 keluar dari sawah pukul 17.00 menuju pulang kerumah. Seperti hari ini, saya hanya menyiangi rumput sawah milik Munir untuk mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pukul 12.00 udah keluar dari sawah," ujarnya sembari duduk lesehan di pondok tampa dinding itu. 

Ia menyebutkan bahwa tahun ini dirinya tidak memanam sawah, sebab sawah yang dulu diagarap tidak lagi bisa di garap. Sebab, sawah tersebut merupakan sawah milik keluarnya sehingga untuk menggarap sawah tersebut secara bergantian. "Talun lalu memang saya yang menggarap sawah tersebut. Namun saat ini digarap oleh saudara yang lain secara bergantian," ujar ibu lima orang anak ini. 

Ia menyebutkan bahwa sawah tidak memanfaatkan pompa air melainkam kincir air untuk mengaliri air di sawah. Sebab, pompa air tersebut akan memakan biaya tinggi saat operasionalnya. Sementara kincir air hanya mengandalkan air arus air untuk memompa air untuk di alirkan ke sawah. 

"Kincir air tersebut milik pribadi. Kemudian untuk iyuran air tersebut dibayar usai panen dan dibayar dengan padi atau disebut padi aia. Kalai udah panen kita panggil orang yang kincir untuk menjemput padi aia. Bisanya besaran padi aia itu diberikan berdasarkan jumlah hasil panen padi. Jika hasil panen 10 karung maka satu karung untuk padi aia," ujar perempuan yang jemari tangannya masih basah nan keriput itu. 

Ia mengaku padi yang disiangi di serang penyakit mati muda atau patah kuduak. Padi yang telah berumur 40 hari tersebut juga diserang hama seperti 'kapindiang' pada umbi padi. Belum ada bantuan dari pemerintah untuk menangani hama tersebut. "Disamping menyiangi rumput, saya juga pilih padi yang mati untuk dibersihkan," ujarnya. 

Kemudian lanjut dia, biaya yang dibutubkan sejak awal membajak sawah hingga panen sangat besar. Untuk upah bajak sawah saja dengan luas sawah satu gantang benih seharga Rp35 ribu dan uapahnya pun dibayar setelah selesai membajak sawah. Setelah sawah dibajak barulah 'dilindi' atau sikek padi menggunakan kerbau guna untuk mendatarkan sawah dan juga mengeluarkan biaya. Kalau sawah tidak datar sebelum di taman maka akan padi akan di serang hama 'keong' atau siput. 

"Kalau umur padi masih dibawah 20 hari sesudah tanam akan diserang hama keong. Sehingga padi yang telah ditanam dimakan keong, sehingga perlu disisip ulang untuk menggantikan padi yang telah mati tersebut. Hama keong ini sulit dimusnahkan sehingga harus di pilih. Kalau padi telah besar seperti saat ini tidak bakalan habis di makan keong, seban batang padi sudah mengeras," tambahnya. 

Selanjutnya, kata dia, menyiang sawah juga membutuhkan biaya untuk mengupah orang. Belum lagi mempelian pupuk yang susah meskipun telah menandatangani surat. Sehingga banyak petani yang membeli pupuk di Padanggantiang Kabupaten Tanahdatar. 

"Ukuran sawah seluas satu gantang benih, akan menghabiskan pupuk satu karung untuk tiga kali penyemaian pupuk padi. Saya tidak masuk anggota kelompok tani, sehingga membeli pupuk di Padanggantiang Kabupaten Tanahdatar. Bisaya hasil panen padi dengan enam gantang nenih, mendapat hasil padi sebesar 25 karung," sebutnya. 

Asnida,53, pun membenarkan apanyang disampikan Samsimar bahwa petani banyak membeli pupuk di luar kota Sawahlunto. Sementara untuk upah angkut padi usai panen menggunakan ojek. Untuk satu karung padi dibayar upah ojek sebesar Rp7 ribu untuk sampai ke rumah. 

"Kalau padi saat ini dinamakan padi benih 77 usia lebih pendek dibandingkan jenis padi yang lain. Usia padi ini hanya 95 hari siap di di panen, sementara padi padang rumpun umurnya jauj lebih panjang. Sehingga tidak ada petani yang menam benih padi Gadang Rumpun tersebut," katanya sebari berkemas-kemas pulang.*

Thursday, June 8, 2017

Melirik Aktifitas Pengrajin Anyaman Bambu Dusun Batu Kakok

Penjualan Hasil Produksi Kerajinan Bambu Sulit

Anyaman bambu tidak dapat dipandang sebelah mata, karena bisa membantu tambahan pendapatan keluarga dan biaya sekolah anak. Seperti apa ceritanya.


Selasa, 6 Juni 2017 siang langit kota Sawahlunto cerah. Siang itu Penulis menelusuri Desa Tumpuak Tangan Kecamatan Talawi sebagai kampung produktif. Jalanan yang berliku dan menurun dilereng perbukitan. Pemandagan yang indah dengan sawah berjenjang di lereng perbukitan. Hingga sampai di kantor Desa Tumpuak Tangah berjumpa dengan kepala Dusun Batu Kakok.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju kediaman Yanti Murtiningsih, 43, Warga Luak Andengin, Dusun Batu Kakok, Desa Tumpuak Tangah, Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto pengrajin anyaman bambu. Terlihat ibu paruh baya sedang duduk lesehan di pintu masuk rumah. Ibu yang memakai baju kaos hijau tersebut duduk di lantai teras rumah yang belum diplaster. 

Ibu lima orang anak ini sedang meraut bambu sampai menjadi bilah sebagai bahan baku pembuat ayaman. Pisau sirauik ditangan kanannya sedakan tangan sebelah kiri memegang sebilah bambu untuk di iris menjadi "bilah". Sementara sisa-sisa limbah raut berseleweran di sekitar tempat duduknya. Sebab, pekerjaan meraut bambu sedang berlangsung dan belum sempat dibersihkan.

Ibu baya mengenakan kaca mata tersebut sedang menyiapkan pesanan kemasan untuk snack sebanyak 300 buah. Kemasan snack yang dipesan untuk kegiatan Sawahlunto Internasional Songket Carnival (Sisca) mendatang. Pesan ini dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto tempat snack tamu undangan yang hadir.

Ia mengaku mulai belajar menyanyam anyaman bambu pertamakali membuat niru pada tahun 1993. Pada tahun tersebut ia mulai ikut-ikutan menganyam bambu karena orang tua bisa menyanyam bambu tersebut. Pada masa itu, ia telah bisa membuat anyaman bambu untuk membuat niru. Namun, hasil anyaman tersebut tidak untuk di jual karena hanya kepuasan tersendiri bisa menganyam.

Kemudian, pada tahun 2015 barulah mulai aktif membuat anyaman bambu yang siap dipasarkan. Selanjutnya untuk menambah ilmu pengetahuan menganyam bambu ia masuk Sanggar Anyamam Bambu. Disanggar tersebut ia banyak mendapat pengetahuan dan ivovasi baru menganyam bambu. Lebih dari 20 orang anggota sanggar belajar membuat berbagai jenis motif anyaman bambu dipelajari termasuk dirinya sendiri.

Namun pada akhir tahun 2015 lalu sanggar tersebut tidak ada aktif lagi. Sanggar tidak lagi berjalan seperti biasa karena ketua sanggar pindah ke Padang bersama keluarganya. Meskipun demikian anggota sanggar tetap menyanyam di rumah masing-masing hingga pada akhirnya dibentuk kembali kelompok pengrajin bambu. 

"Semenjak tidak ada lagi tempat berlajar di sanggar dan mengandalkan pelatihan dari Desperindag Kota Sawahlunto. Hal itu tidak memungkinkan hanya menunggu momen dan pelatihan saja. Untuk membuat kreasinya dan inovasi lainnya harus berani mencoba-coba yang mendapatkan hasil yang lebih baik," ujarnya seraya meyakinkan dan berhenti sejenak meraut.

Ia mengaku bahwa ketekunan dan keseriusan untuk menganyam bambu serta harus berani mencoba untuk bisa mendapatkan hasil kreasi baru, tanpa harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Harus berani mencoba membuat kreasi baru, karena langkah awal menyanyam sudah bisa seperti membuat dasar jalinan bambu. Jadi tidak sulit untuk lebih kreatif untuk mengembangnya menjadi motif apapun yang diingikan sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran. 

"Baru-baru ini saya sedang membuat tas terbuat dari bambu dan tas tersebut bisa dibawa untuk kondangan, karena tas berukuran mini dan terlihat lebih elegan. Untuk membuat anyaman tersebut terasa agak sulit adalah saat melakukan patahan anyaman. Patahan itulah yang akan menjadi motiv sesuai pada gambar yang diinginkan, seperti membuat kemasan snack dan lain sebagainya," sebutnya sembari memperlihatkan produksi aman yang telah dibuatnya dengan berbagai jenis.

Kemudian membuat kemasan songket, sesuai dengan instruksi walikota bahwa setiap pembelian songket diharuskan menggunkan anyaman bambu. Sehingga bisa membantu penjualan pangsa pasar anyaman bambu. Kemudian, kemasan songket terkesan lebih mewah dan lebih elegan. 

Kemudian, produksi anyaman bambu yang telah dibuat dijualan berdasarkan pesanan dan dipasarkan Jawa, Pekanbaru, dan Bukittinggi. Namun karena pesanan tersebut sifatnya tidak berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dari si pemesan barang. Pesanan anyaman bambu ada sebanyak 400 buah, namun pesanan tidak berkelanjutan karena bersifat musiman.

Selanjutnya, terang dia, anyaman bambu tersebut tidak bisa dikatan sebagai sumber pendapatan utama bagi keluarga. Namun, tidak pula bisa dikatakan tidak bisa membantu menambah pendapatan keluarga. Sebab, anyaman bambu tidak bisa dipandang sebelah mata, karena jika ada pesanan dari pembeli maka akan sangat membantu tambahan pendapatan keluarga. 

"Ayaman bambu ini dapat menambah pendapatan suami, karena suami bekerja sebagai buruh tambang. Saya punya 5 orang anak dua orang telah bekerja sebagai sopir, kemudian 3 orang lagi masih sekolah. Hasil penjualan anyaman ini dapat membantu biaya anak sekolah," sebutnya.

Ia menyadari bahwa membuat anyaman bambu tidak membutuhkan banyak modal. Namun, proses pembuatannya memakan waktu lebih lama, di mulai dari penebagan bambu sampai meraut dan mewarnai. Kalaulah untuk menyanyam tidak terlalu lama, karena ada pesanan untuk kemasan snack sebanyak 50 buah bisa di kerjakan selama tiga hari.

"Bahan utama membuat anyaman adalah bambu jenis bambu dikenal dengan bambu Tali. Karena bambu Tali tersebut memiliki ruas yang panjang. Kemudian, tidak mudah patah dan seratnya pun baik dan bagus sehingga mudah menganyamnya. Selanjutnya, membentukannya pun lebih mudah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kemudian bahan pendukung lainnya yakni Lem kayu untuk perekat dan pewarnaan," sebut ibu yang mudah tersenyum ini.

Sembari bolak balik ruangan untuk mempragakan hasil inovasi anyaman bambu yang dibuatnya, ia menjelaskan tahapan yang dilakukan dalam pembuatan hingga menjadi tempat bungkusan snack. Tahapan pertama di mulai dengan penebangan bambu, dibersihkan dan potong. Kemudian, masuk pada tahap pengolahan seperti meraut bambu hingga halus. Meraut bambu tersebut bertujuan agar sembilu bambu yang tajam dapat dibuang. 

Kemudian bambu tersebut dibelah hingga berikuran 0,5 cm hingga lebih sesuai kebutuhan dan ketebalan hingga 2 mm. Dalam satu batang pohon bambu bisa menghasilkan 3 kilogram bilah bambu. Selanjutnya, usai dibelah maka dilanjutkan dengan proses berikutnya yakni pewarnaan. Bambu yang sudah dibelah-belah atau di sebut juga dengan "Bilah" direbus agar warna tidak mudah luntur. Untuk mendapatkan kualitas warna yang bagus dan menyerap hingga kepori-pori bilah bambu dengan merebus selama 3 jam.

"Ada pewarna khusus tergantung pada pengolahan produk. Proses pembuatan anyaman bambu tersebut tidak banyak memakan waktu. Kemudian, jenis anyama yang dibuat berdasarkan jenias dijual berkisar Rp7000 sampai Rp35.000. Seperti tempat penyimpanan pena di jual seharga Rp7000 perunit. Kemudian, tempat snack di jual Rp10.000 perunit dan pot bunga di jual Rp15.000. Kemudian songkok lampu gantung di jual Rp35.000 perunit. Kemudian, sapu lidi warna warni di jual Rp12.500," lanjutnya.

Ia menyebutkan bahwa bantuan dan pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah belum ada terutama dalam permodahan usaha. Kemudian bantuan modal usaha dari pemerintah belum ada, namun pengajuan proposal sudah pernah dilakukan hingga saat ini belum ada realisasinya. "Kalau mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Disperingkop pernah dua kali. Pelatihan berupa pengolahan bahan baku, penganyaman dan finising anyaman bambu tersebut," akunya.*

Thursday, March 16, 2017

Pengrajin Kerupuk Singkong Kesulitan Mendapatkan Bahan Baku

Sugini, Pengrajin 'Opak Mak Nik'
Selasa, 14 Maret 2017 langit kota Sawahlunto, Sumatera Barat cerah. Siang itu, Penulis, berjalan menuju Gunuang Timbago, Kelurahan Saringan Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menemui pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pengrajn Kerupuk Ubi Kayu 'Opak Mak Nik'. Jalan berliku dan padatnya rumah menduduk dilereng bukit butuh kehati-hatian melewati gang sempit rumah warga.

Siang itu, kediaman Sugini, 55, Warga Gunuang Timbago, RT 01 RW II, Kelurahan Saringan Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat tampak duduk lesehan di ruang tamu rumah. Sembari memandang kerupuk ubi (Singkong) yang masih basah terjemur di atas 'rigen' terbuat dari bambu. Ibu paruh baya ini tampak lesu duduk lesehan beralaskan tikar di dalam rumah.

Ibu dua orang anak ini baru saja selesai membuat 50 kilo ubi kayu untuk dijadikan kerupuk. Ia mulai star membuat kerupuk sepulang dari pasar Sawahlunto membeli bahan baku ubi kayu. Sesampai di rumah ubi kayu dikupas lalu dicucu dan dibarut. Sampai pada proses mengukusan dan penggilingan hingga di cetak lalu dijemur diatas rigen terbuat dari ayaman bambu. 

Pekerjaan rutin ini dilakoninya setiap hari untun menambah penghasilan keluarga. Ia tampak lelah setelah bekerja sejak pukul 08 pagi hingga waktu zduhur tiba. Ia mampu menyelesaikan kerupuk ubi sebanyak 600-700 biji perhari. Kalau ia tenaga masih kuat dan bekerja seharian bisa selesai 1000 biji ubi sehari. Meskipun keuntungan yang didapatkan pun tidak seberapa, karena harga bahan baku terus naik.

Ia menyebutkan bahwa mengolah ubi kayu menjadi keruouk harus dengan ubi kayu baru yang masih segar. Selanjutnya, ubi yang kupas tersebut di kukus kemudian digiling dan lalu di buang tulang ubi kayu tersebut. Selanjutnya dicampuri bumbu dan dikukus, kemudian masuk pada tahap penggilingan dan dicetak.

"Setelah di cetak, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan menggunakan sinar matahari. Kalau cuaca cerah maka untuk penjemuran hingga mengering memakan selama dua atau tiga jam. Jika cuca mendung maka memakan waktu selama sehari," ujar nenek enam orang cucu ini.

Ia menyebutkan bahwa membuat kerupuk dibantu oleh suaminya, Partam, 60. Karena ia tidak lagi bekerja sebagai K3 Kota Sawahlunto karena tersangkut umur. Tenaga Partam semakin dimakan usia tidak lagi diperbolehkan bekerja. Sehingga ia membantu istri untuk membuat kerupuk. Jika membuat kerupuk bekerja berdua, maka pekerjaan akan lebih ringan. Kemudian produksinya pun akan bertambah. Jika dikerjakan sendiri, kerupuk bisa dikerjakan 700 biji, namum jika dikerjakan berdua maka dalam sehari bisa diselesaikan 1000 biji lebih kerupuk. Hal itu pun jika dikerjakan sejak pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore.

"Tapi karena bahan baku ubi sulit dan harganya mahal, maka kerjaannya pun menjadi berkurang. Karena tidak dapat membeli ubi banyak karena harganya mahal," ujarnya.

Sembari bersandar didinding rumah, perempuan yang mengenakan baju lengan pendek ini pun melanjutkan ceritanya. Ia mengaku, keberadaan ubi kayu saat ini sangat langka sehingga harga ubi kayu menjadi mahal. Harga ubi kayu saat ini sebesar Rp225 ribu perkarung. Artinya harga ubi kayu Rp5 ribu perkilogram kalau membeli banyak bisa Rp4 ribu perkilogram. Dalam satu karung ubi kayu tersebut bisa memperoleh hingga 1000 biji kerupuk ubi.

Menurutnya, membuat kerupuh ubi tidak lah sulit dan bisa dikerjakan di rumah. Namun yang menjadi kendala saat ini adalah kesulitan mendapatkan ubi kayu. Biasanya pembelian ubi kayu tersebut langsung dari penjual yang menjadi langganannya dari Batu Sanka. Ubi kayu tersebut diantar sampai kerumah. Karena, sulitnya ubi kayu tersebut, saat ini langganannya tidak lagi berjualan. Akibatnya, ia harus kepasar membeli ubi kayu setiap harinya.

"Kalau kita membeli ubi berkarung dipasar dikhawatirkan ubinya kecil-kecil. Kemudian ada pula ubi yang keras dan pahit. Maka, harus datang ke pasar untuk membeli ubi dan memilih ubi yang besar. Kalau ubinya kecil, tentu setelah diparus dan dijadikan kerupuh hasilnya pun sedikit. Akibatnya, yang ditemukan setelah penjualannya hanya balik modal dan tidak ada untungnya kecuali lelahnya saja," tutur ibu yang suka bercanda ini.

Ia menyebutkan bahwa usaha kerupuk ubi "Opak Mak Nik" telah ditekuninya sejak tahun 1992. Usaha kerupuk ini telah mengantsr kedua orang anaknya sampai tamat SMA. Karena suaminya bekerja sebagai K3 dengan gaji yang diterima paspasan. Sehingga ia melajar membuat Kerupuk diberinama Opak Mak Nik. Kerupuk ini telah memiliki sertifikat hal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan BPOM. 

Satu kotak ubi dalam kemasan berisi 50 biji kerupuk dijual Rp20 ribu. Namun, pelanggan banyak yang membeli dengan kemasan plastik. Pelanggan beranggapan dengan kemasan plastik tidak banyak memakai tempat saat membawa. Kemudian, untuk kemasan plastik yang berisi 100 biji kerupuk dijual Rp35 ribu.

"Kalau Opak Mak Nik telah sampai ke Singapura, Sulawesi, Kalimantan pangsa pasarnya. Karena setiap perantau yang pulang kampung kemudia balik lagi, mereka memesan Opak Mak Nik sebagai oleh-oleh," ujarnya.

Meskipun belum ia beluk banyak bekerja sama dengan mini market untuk menitipkan Opak Mak Nik. Pesanan kerupuk ubi dari pelanggannya banyak langsung kerumahnya. Karena kerupuk Opak Mak Nik ini telah banyak dikenal masyarakat. Kemudian pembeli juga ada yang memesan kerupuk secara langsung datang kerumah.

"Setiap hari ada pembeli yang datang untuk membeli kerupuk ubi. Berapa biji pun kerupuk bisa bibuatkan setelah kering pembelinya sudah ada. Kalau, dalam seminggu bisa menyelesaikan 7000 biji kerupuk, semua telah habis terjual. Saat ini produksi ubi kayu berkurang karena kesulitan mendapatkan bahwa baku," katanya.

Selanjutnya, upaya yang dilakukan oleh pemerintah berupa pembinaan dengan memberikan pelatihan, termasuk manajemen pasar dan pembukuan. Namun, setelah pelatihan tersebut diberikan bantuan berupa mesin barut ubi kayu, kukus, bungkus kemasan dan kompor gas. 

"Kemasan yang diberikan oleh pemerintah agar tampilannya menarik dan lebih elegan. Namun, banyak pula pembeli yang memesan kerupuk dengan kemasan plastik karena lebih ringan," ujarnya.