Showing posts with label Multikultural Festival. Show all posts
Showing posts with label Multikultural Festival. Show all posts

Friday, December 1, 2017

Paguyuban Warga Sunda Tampilkan Singa Depok Pada Multikultural Festival

"Orang saling mengenal dan saling mencintai melalui budaya. Meskipun tumbuh dan berkembang di perantauan identitas budaya tetap dipertahankan serta dilestarikan. Agar budaya tidak hilang dan harus dilestarikan, terkadang dikampung sendiri budaya tersebut sudah hilang, justru berkembangnya di daerah perantauan"


Bunyi musik Calung tradisional Sunda mengiringi tarian Singa Depok pada Selasa, 28 November 2017 malam mengugah para penonton yang menyaksikan. Calung merupakan alat musik yang terbuat dari bambu dimainkan dengan cara dipukul mengiringi tarian Singa Depok yang di tampilkan Paguyuban Warga Sunda. Serta diiringi sorak sorai penari di pentas mengangkat tandu beserta singa yang disebut Singa Depok. Ada dua ekor singa yang di pragakan sembari menari di Panggung Multikultural Festival Sawahlunto. 

Kemudian Singa Depok merupakan seni tradisi khas Subang Jawa Barat diiringi musik Calung, Gong, Gendang Sunda serta ada pula disi dengan musik angklung. Angklung merupakan alat alat musik yang berbahan bambu, namun dimainkan dengan digoyangkan. Seni tradisi Singa Depok kerap dimainkan untuk penyambutan tamu kebesaran seperti bupati/walikota untuk acara besar. Kemudian tamu tersebut di silakan duduk di punggung Singa Depok untuk di arak keliling sebagai penghormatan pada tamu. 

Selanjutnya, seni tradisi Singa Depok juga di gunakan untuk acara pesta sunatan. Biasanya anak yang akan sunatan tersebut disilakan naik punggung Singa diarak keliling kampung. Paguyuban Warga Sunda yang ada di Sumatera Barat sudah memiliki bermacam-macam kesenian tradisi seperti kesenian Singa Depok, Calung, Angklung, Mapag Kendang, Mapag Penganten dengan menjemput penganten dengan musik dan tarian, kemudian ada Saweran. 

Kemudian, untuk bisa memainkan seni tradisi musik, tari serta Singa Depok tersebut dibutuhkan latihan dan keahlian. Latihan dan keahlian didukung oleh peralatan musik. Ada keahlian tetapi tidak ada alat musik juga tidak bisa latihan untuk melatih seni Tradkak Depok. Sehingga, keinginan bersama agar kesenian tradisional tetap dilestarikan. Kemudian, keinginan untuk melestarikan seni tradisi tersebut bermula dari perkumpulan yang kerap bernyanyi bersama. 

Lalu ada keinginan untuk membuat Calung alat musik dari bambu dan latihan secara bersama sehingga bisa tampil di panggung Multikultural Festival. Kesenian yang ditampilka dari PWS Alahan Panjang Kabupaten Solok dan bergabung dengan Kota Sawahlunto untuk memeriahkan ulang tahun kota Sawahlunto ke 129. PWS pada tahun depan jika ada kesempatan lagi untuk tampil akan ditampilkan bentuk kesenian tradisional lainnya yang ada di Jawa Barat. 

Sebab, kesenian tradisional asal Jawa Barat tidak hanya Calung dan Singa Depok saja, namun masih banyak lagi kesenian tradisi yang perlu diketahui orang banyak. Kemudian melalui Multikultural Festival menjadi momen untuk silaturrahmi antar sesama warga Sunda dan masyarakat Minang. Selanjutnya Multikultural Festival sekaligus wadah untuk membudayakan seni tradisi Sunda setelah dilakukan pembinaan. Sehingga budaya kesenian Sunda tidak hilang meskipun di perantauan. 

Selain itu, budaya agar tidak hilang dan tergerua oleh perkembangan zaman, maka perlu ada perhatian untuk terus menjaga dan dilestarikan. Terkadang dikampung daerah asal sendiri budaya itu lahir justru sudah mulai menghilang. Masahan sebaliknya, justru seni tradisi itu berkembangnya di daerah perantauan. Makanya orang saling mengenal dan saling cinta melalui budaya yang saling mengikat. Sebab, budaya adalah alat perekat bangsa. 

Biasanya di daerah perantauan untuk mempertahankan budaya biasanya lebih gigih meskipun ada anggapan keseniannya kurang menarik. Namun, tetap yakin dan semangat meskipun ada anggapan bahwa kirang menarik tetap dengan tujuan utamanya adalah melestarikan budaya Sunda. Meskipun demikian kesenian tradisi Sunda mendapatkan tempat di Sumatera Barat sehingga Paguyuban Warga Sunda beserta seni budaya di undang tampil pada Ivent peringatan hari jadi kota.

Kesenian Sunda di undang tampil pada peringatan ulang tahun kota, seperti di Solok, Bukittinggi, Padang dan Darmasraya. Kabupaten Dharmasraya sendiri sudah ada Paguyuban dan sudah sering tampil. Artinya setiap ulang tahun kota Paguyuban Warga Sunda ikut andil memeriahkan ulang tahun kota domisili termasuk Sawahlunto yang diundang oleh Dinas Pariwisata. Artinya dimana bumi di pijak di situ langit di junjung dan ikut memeriahkan iven tersebut.

Aji Lukmana, akrab di sapa Kang Aji Lengser, Ketua DPW Paguyuban Warga Sunda Sumatera Barat menyebutkan bahwa Paguyuban Warga Sunda (PWS) sudah ada di 17 Kabupaten/kota se Sumatera Barat dan telah melantik Bupati/walikota sebagai 'Mang' atau orang yang dituakan. 'Mang' tersebut perumpamaannya sama dengan Mamak bagi masyarakat Minang. 

"Sebelumnya Paguyuban Sunda bernama Ikatan Keluarga Jawa Barat, pada tahun 2006 Banten berpisah dengan Jawa Barat. Sehingga di ubah namanya menjadi Paguyuban Warga Sunda (PWS) yang belamat di Jalan Wahidin II nomor 5A Padang," katanya.  

Ia melanjutkan bahwa warga Sunda untuk di Sumatera Barat ada sebanyak 40 ribu Kepala Keluarga (KK) warga Sunda yang tersebar di setiap kabupaten/kota yang masuk pada data bes PWS. Penyebarannya paling banyah berada di Kabupaten Dharmasraya karena kebanyakan transmigrasi sebagai pendatang sebanyak 13 ribu KK.

"Sementara warga Sunda di kota Sawahlunto ada sebanyak 50 KK lebih di Ketua DPD Paguyuban Warga Sunda Sawahlunto, Alit Mardianti. Belum lagi masuk warga Sunda yang musiman ke Sumatera Barat, karena selain bekerja di instansi pemerintahan juga ada sebagai pedagan dan buruh bangunan," tuturnya.*

Thursday, November 30, 2017

Tari Kemilau Songket Group Sanggar Seni Canang Badantiang Tampil Di Panggung Multikultural Festival

Songket tidak hanya menjadi pakaian dalam ke hidupan seharian masyarakat Sawahlunto. Namun, Songket menjadi sumber pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, Songket tidak hanya dikenal sebagai aksesoris dan tata busana saja, namun songket telah berkembang menjadi sebuah tarian yang berjudul 'Tari Kemilau Songket'. Tarian tersebut guna mendukung promosi songket sebagai kekayaan budaya di Sawahlunto. 


Minggu 22 November 2017 malam penonton memfokuskan pandangan ke arah panggung Multikultural Festival. Pandangan penonton seakan terikat oleh pukauan para penari cilik yang dipentas. Penonton ada yang duduk, berdiri dan mulai merapat ke arena panggung menyaksikan pertunjukan tari. Penari cilik tersebut memperagakan 'Tari Kemilau Songket' koreografer Yuliarni, Sanggar Seni Canang Badantiang Sawahlunto. Para penari terlihat lincah dengan gerakan yang terpola setelah mengikuti pembinaan dan latihan selama tiga bulan. 

Penari Cilik tampak percaya diri menari dihadapan penonton. Suasana panggung yang menjadi liar akibat lenggok tubuh penari cilik di pentas serta linghting (tata cahaya panggung) memukau serta memperkuat gerak tubuh penari. Iringan musik seirama dengan gerakan penari serta gemulai tangan-tangan mungil penari mengidentifikasi Songket di atas pentas. Sehingga Songket tidak semata pakaian harian tetapi Songket menjadi lebih hidup dalam tarian ketika di eksplorasi ke dalam sebuah tarian dan karya seni. 

Yuliarni menyebutkan bahwa ide garapan 'Tari Kemilau Songket' diambil dari kepiawaian masyarakat dalam menenun membuat songket. Songket sebagai kearifan lokal dan identitas masyarakat yang membudayakan Songket di Sawahlunto. Kemudian tarian tersebut mengeksplorasi Songket yang telah dikenal oleh masyarakat Sawahlunto. Songket tidak hanya menjadi pakaian dalam ke hidupan seharian masyarakat Sawahlunto. Namun, Songket menjadi sumber pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Maka, untuk mendukung promosi songket tersebut dilahirkan dalam bentuk garapan Tari Kemilau Songket. Sehingga pengenalan songket secara menyeluruh di tengah masyarakat sebagai identitas lokal Sawahlunto. 'Tari Kemilau Songket' merupakan ide garapan dari kepiawaian masyarakat dalam menenun membuat songket sebagai kearifan lokal dan identitas masyarakat yang membudayakan Songket di Sawahlunto. 

Sanggar Canang Badantiang, berdiri sejak 14 April 2015 lalu banyak menggarap tari tradisi, kontemporer dan moderen. Kemudian Sanggar tersebut menggarap tari tradisional dari berbagai etnis Minang, Batak, Jawa, dan Sunda. Sebab, Sawahlunto terdiri dari banyak etnis yang hidup berdampingan dan saling membaur. Sehingga gerakan dasar tarian di ambil dari bentuk lokalitas budaya yang multi etnik di Sawahlunto.

Yuliarni, alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta mengatakan bahwa Sanggar Seni Canang Badantiang tersebut dibentuk untuk menampung aspirasi anak muda serta menyalurkan bakat dibidang seni tradisi. Sanggar tersebut lahir diawali dengan beberapa orang seniman Sawahlunto yang berkumpul, namun memiliki ide dan visi yang sama. Sehingga dibuat wadah tempat berkumpul dan belajar seni atas kesepakatan bersama dibentuklah Sanggar Seni Canang Badantiang. 

Sanggar Seni Caniang Badantiang setiap tarian yang ditampilkan tidak sama dengan gerakan tarian sanggar seni lain. Artinya tari yang dimainkan adalah tari kreasi Canang Badantiang yang tidak dimiliki oleh Sanggar lain dengan Koreografer Yuliarni. Melainkan membuat komposisi dan gerakan sendiri untuk dipentaskan tanpa merobah tarian orang lain. Kemudian gerakan yang diambil adalah pencarian gerak tubuh masyarakat Sawahlunto yang multi etnik. Tarian tersebut diciptakan bertujuan untuk merangsang kreatifitas anggota dan mengasah kepekaan anggota terhadap budaya lokal yang ada di Sawahlunto. 

Sehingga Sanggar Canang Badantiang memiliki tari yang dipentaskan koreografer Yuliarni seperti Tari Kemilau Songket, Indang Bajelo, Semarak Menyongsong Alek, Tari Pasambahan, dan Tari Ronggeng Sayuik. Kelima judul tari tersebut dipentaskan group Sanggar Seni Canang Badantiang pada Multikultural Festival. Tarian tersebut dibawakan oleh Sanggar Seni Canang Badantiang terdiri dari kelas dan kelompok dasar latihan tari. Kelompok Dasar anak umur 5 hingga 7 tahun. 

Kemudian, Sanggar Seni Canang Badantiang terdiri dari kelas Kelompok Pemula A, umur 8 hingga 9 tahun. Kelompok Pemula B berumur 10 hingga 12 tahun. Selanjutnya Kelompok Junior dengan kelompok umur usia SMP-SMA. Kemudian Kelas Senio umur 17 tahun hingga usia dewasa. Kemudian, peserta anggota tari tersebut diberikan pembinaan dan latihan selama tiga bulan untuk diberikan materi. 

Setelah berjalan tiga bulan dan semua materi telah diajarkan maka dilakukan evaluasi materi. Tujuannya adalah sejauh mana kemampuan anak menguasai dan menyerap materi yang diberikan. Evaluasi tersebut diberikan wadah pada anak untuk tampil mementaskan tarian yang telah diberikan sekali dalam tiga bulan dan dipertontonkan. 

"Hasil evaluasi tersebut diberikan sertifikat penghargaan kepada anggota kelompok tari yang teleh menguasai materi. Program yang disiapkan melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap anggota dengan menggali budaya yang ada di Sawahlunto dalam bentuk Tari dan Musik. Artinya Sanggar Seni Caniang Badantiang tidak hanya fokus pada tari tradisional saja tetapi juga menggarap musik," ujar Yuliarni. 

Kemudian, lanjut dia, pada Iven Multikultural Festival dalam rangka ulang tahun kota ke 129 tahun 2017 Sanggar Seni Canang Badantiang diberikan kesempatan tampil dan memiliki jadwal. Maka, kesempatan tersebut menjadi wadah bagi anak Sanggar untuk tampil. Sebab, anak Sanggar juga memiliki hak untuk tampil memeriahkan serta menyemarahkan ulang tahun kota dan difasilitasi.

"Selain menarikan tarian yang diciptakan sendiri, Kita juga menarikan 'Tari Rantak' Koreografer Gusmiati Suid. Tarian ini ditarikan dengan fersi aslinya dan tidak boleh di ubah. Selanjutnya, Kita juga menarikan tarian 'Tari Layuak Batoboh' Koreografer Eri Mefry, tari yang dimiliki pemda Sawahlunto," katanya.

Edi Sartono, Ketua Sanggar Seni Canang Badantiang Sawahlunto didampingi An Mukhtar Wakil Ketua menyebutkan bahwa anggota aktif Sanggar Seni Canang Badantiang lebih dari 100 orang dengan tiga orang pelatih dan seorang koordinator sebagai koreografer tari. Namun, pada Multikultural Festival yang tampil sebanyak 75 orang penari. Sebagian yang lain tidak bisa tampil karena memang ada beberapa yang belum siap untuk tampil. Sanggar Seni Canang Badantiang telah tampil di Padang, Jambi, Pekanbaru, Jakarta. 

"Jadwal latihan rutin sekali seminggu untuk kelompok umur junior dan kelompok umur dasar A dan B, latihan Sabtu sore dan Minggu siang. Kemudian Sanggar Seni Canang Badantiang juga menampilkan tari dengan musik live artinya kita tidak hanya terfokus pada tari saja, tetapi juga menggarap musik etnik. Kemudian untuk ruang gerak serta keberadaan Sanggar Seni Canang Badantiang mendapat suppor dari pemerintah kota baik moril dan materil," katanya.*

Tuesday, November 28, 2017

The Pakwa Kustik Aceh Latihan Melalui Vidio Call Mentas di Panggung Multikultural Festival

"Jarak tidak menjadi kendala untuk bisa latihan menyamai ide dalam bermain musik. Karena kecanggihan teknologi saat ini dapat mempermudah proses latihan bermain musik. Seperti yang dilakukan Group The Pakwa Kustik untuk latihan komposisi musik melalui video call. Sehingga latihan kolektif hanya untuk penghalusan dan penyempurnaan dengan beberapakali pertemuan.


Bunyi musik alat tiup 'Sarune Kale' alat musik asal Aceh memecah kesunyian sebagai cun pembuka pertunjukan musik group The Pakwa Kustik Aceh. Komposisi ruang pemain musik diatas pentas panggung Multikultural Festival 2017 Sawahlunto telah bersiap memainkan alat musik. Posisi siap memainkan alat musik untuk menghibur pengunjung dan penonton yang hadir. 

Senin, 27 November 2017 malam jarum jam menunjukan pukul 20.15 WIB. Penonton masih lengang. Meskipun demikian kegiatan tetap berlangsung sesui dengan jadwal yang telah dirancang. Meskipun tanpa penonton masih lengang pertunjukan musik The Pakwa Kustik Aceh tertap tampil maksimal. The Pakwa Kustik mengonsep 12 lagu yang berangkat dari idegarapan musik etnik. Kemudian, lagu tersebut bercerita tentang peperangan yakni Perang Sabi yang ada di Aceh pada zaman dulukala. Selanjutnya lagu tersebut juga bercerita tentang keindahan budaya dan cerita tentang percintaan. 

The Pakwa Kustik Aceh terbentuk berawal dari beberapa orang anak muda yang bertemu dan berbicara panjang. Kemudian perbincangan tersebut timbul sebuah keinginan agar ada suatu wadah komunitas yang menjaga (Menjadi Benteng) budaya Indonesia khususnya etnik Aceh. Artinya keinginan adanya benteng budaya Nusantara untuk menjaga budaya nusantara akhirnya terwujud. Sehingga atas dasar keinginan menjaga dan mempertahankan budaya tersebut maka terbentuklah The Pakwa Kustik pada 19 Desember 2009 dan lebih terfokus pada musik. 

The Pakwa Kustik saat memainkan musik  beranggotakan tiga orang dan dibantu oleh teman-teman dari Bukittinggi dan Padangpanjang yang berasal dari Aceh. Antara personil berada di Sumatera Barat sebagian personel berada di Jakarta karena Sekretariat The Pakwa Kustik berada di Jakarta berdekatan dengan TMII. Sehingga tidak dimungkinkan untuk latihan kolektif setiap hari. Personil The Pakwa Kustik Muhammad Rizki Dwi Saputra pemain Bass, Teku Mirja alat musik gitar, Rezeki Pinte sebagai Vokal. Sementara itu dibantu oleh teman yang lain, Munir Siron memainkan alat musik perkusi yakni Gendang Rapa'i, Fadlun memainkan alat tiup Sarune Kale dan Angga pemein Gitar Ukulele.

Muhammad Rizki Dwi Saputra, Ketua Group The Pakwa Kustik Aceh menyebutkan bahwa persiapan untuk tampil di panggung Multikultural Festival telah berjalan sejak sebulan belakangan. Meskipun personil group yang bermain secara terpisah, namun latihan tetap berjalan dengan latihan melalui jarak jauh. Pada dasarnya, 12 lagu tersebut telah sering didengar di Aceh sehingga tidak menyulitkan bagi personil untuk berlatih. Apalagi berasal dari Aceh telah mengenal komposisi musiknya. Sehingga tidak terlalu sulit untuk memainkan komposisi tersebut meskipun jarak yang berjauahan latihan tetap berjalan. 

Untuk mensiasati jarak yang berjauahan, maka The Pakwa Kustik metulis partiturnya lagu yang akan pertunjukan. Kemudian, partitur tersebut dikirim agar langsung bisa di baca lalu latihan sendiri-sendiri melodinya dikediaman masing-masing. Jika ada yang kurang serta ada keraguan dalam memainkan melodinya, Maka dapat dilakukan latihan melalui vidio call. Persiapan komposisi musik tersebut telah berlangsung sejak sebulan belakangan. Namun, untuk latihan secara kolektif dan benar benar matang dan klop pada hari minggu. 

Selanjutnya, The Pakwa Kustik sejak perjalanan panjangnya pernah mementaskan karyanya di Bukittinggi, Padangpanjang, Riau, Medan, Mataram, Jakarta. Kemudian, The Pakwa Kustik juga pernah mentas ke Hawai, Korea Selatan, Philipina, Malaysia dan Thailand. Kenegara tersebut The Pakwa Kustik juga membawakan Musik komposisi Etnik atau bisa dikatakan musik yang berjende etnik. Artinya bukan dalam bentuk komposisi musik yang ditampilkan The Pakwa Kustik di Sawahlunto. Meskipun musik pop, tetapi jendre musiknya tetap etnik, bergantung pada keinginan untuk menyanyikan dan membawa lagu tersebut. 

Kemudian alat musik yang dimainkan pun tidak terlepas dari alat musik etnik seperti Gendang Rapa'i dan Sarune Kale dengan musik saman serta tarian. Maka, tepuk tarian tersebutlah yang menjadi ritem dan berkolaborasi dengan komposisi musik (Rapa'i dan Serune Kale) sehingga menjadi komposisi musik yang utuh serta dapat dinikmati oleh penikmat atau masyarakat penonton. 

The Pakwa Kustik tidak membawaka komposisi musik yang pernah di pentaskan di luar negeri tersebut pada penampilan Multikultural Festival Sawahlunto, karena konsep The Pakwa Kustik datang ke Sawahlunto adalah minimalis. Disamping itu pula anggota memiliki kesibukan masing-masing sehingga ada yang aktif dan adapula yang tidak. 

"Makanya pada malam hari ini kita tampil hanya tiga orang dan itu pun anggota baru bergabung di The Pakwa Kustik. Kemudian melihat kondisi teman-teman yang tidak mengganggu kerja dan kegiatannya, barulah kita bisa membuat komposisi musik sehingga bisa tampil di panggung Multikultural Festival," ujar Muhammad Rizki Dwi Saputra. 

Selanjutnya, kata dia, pada bulan Maret 2018 mendatang The Pakwa Kustik akan mentas musik di Jerman dengan konsep eksperimental. Musik eksperimental tersebut ide pengharapannya masih berakar dari seni tradisi. Komposisi musik eksperimental yang akan dipentaskan tersebut 70 persen adalah musik tradisi yang berasal dari budaya lokal yang ada di Aceh. 

"Kita sampai ke Sawahlunto hari Minggu (26/11). Besok (Selasa, red) kita akan berangkat ke Sabang juga menampilkan komposisi musik. Kemudian, hari besoknya kembali lagi ke Jakarta," katanya. 


Menurutnya, The Pakwa Kustik pada saat penampilan, tetap tampil maksimal meskipun penonton lengang tidak mematahkan semangat untuk tampil. Karena disamping jendre musiknya yang berbeda serta berbentuk etnik dan penikmatnya pun akan berbeda cara eforiannya. Mulai dari yang tua sampai anak muda cara mereka menikmati musik juga akan berbeda pula. 

"Meskipun penonton tidak ada kita tetap semangat dan berusaha menyemangati diri sendiri serta teman-teman yang lain. Karena kondisi seperti ini juga pernah mengalami, seperti di Riau, karena dalam jadwal The Pakwa Kustik sebagi penampil terakhir. Sehingga penonton telah pulang ke rumah mereka masing-masing. Kemudian pada akhirnya tetap menyemangati teman-teman, tetap semangat tampil meskipun tidak ada penonto. Meskipun demikian The Pakwa Kustik meyakini bahwa penonton adalah dalam hati masing-masing," tuturnya.*




Sunday, November 26, 2017

Hari Jadi Kota Sawahlunto Gelar Multikultural Festival

Hari Jadi Kota Sawahlunto ke 129 tahun 2017 menggelar Sawahlunto Multikultural Festival. Kegetian tersebut memberikan apresiasi dan ruang serta wadah bagi para pelaku Paguyuban Kota Sawahlunto. Paguyuban tersebut diberikan fasilitas serta wadah untuk mengapresiasi hasil pembinaan dan latihan sepanjang tahun. Malam pembukaan Multikultural Festival dimeriahkan penampilan musik Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Sawahlunto New Ansamble.  

"Kegiatan ini guna memeriahkan hut kota Sawahlunto bahwa kota ini ingin membuktikan sebagi kota iven, sehingga Multikultural yang diselenggarakan. Kemudian seluruh sanggar serta Paguyuban dikota Sawahlunto di undang untuk mengisi kegiatan tersebut," ujar Efriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Jumat, 24 November 2017. 

Ia menyebutkan bahwa hari jadi kota Sawahlunto diperingati pada tanggal 1 Desember setiap tahunnya. Tahun 2017 ini adalah peringatan hari Jadi Kota Sawahlunto ke 129 terhitung sejak tanggal 1 Desember 1888. Kota Sawahlunto dikenal sebagai penghasil batu bara terbaik di Asia yang mulai di ekspoitasi oleh Belanda yang dikomandoi oleh William de Greve sang penemu mutiara hitam. 

"Berbagai kegiatan digelar di Kota Sawahlunto dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota tersebut seperti Multikural Event. Kegiatan dilaksanakan Sabtu 25 November - 1 Desember. Kegitan tersebut akan meriahkan oleh sejumlah Kelompok seni budaya multietnis Sawahlunto dan luar daerah memeriahkan panggung multikultural Event. Kegiatan Multikultural akan digelar dibeberapa tempat pertunjukan yang strategis di Pusat Kota dan juga disebar di Empat Kecamatan yang ada di Kota Sawahlunto," katanya. 


Syukri, Menurut Kepala Seksi Ekonomi Kreatif dan Kegiatan Kepariwisataan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahragga Kota Sawahlunto, mengatakan bahwa kelompok seni multietnis yang akan tampil di panggung Multikultural Event tersebut adalah Kesenian tradisional dari 10 Kenagarian yang ada di Kota Sawahlunto. Peserta Multikultural akan dimeriahkan oleh Group Sanggar Seni dan sekolah, kelompok kesenian dari Paguyuban Etnis seperti Paguyuban Batak, Paguyuban Jawa, Paguyuban Sunda, Etnis Tionghoa dan Paguyuban Etnis Minang. 


"Selain itu juga dilaksanakan kegiatan yang bersifat lomba dalam rangka melestarian kesenian daerah seperti Lomba Festival Lagu Minang Tingkat Umum se- Sumatra Barat dengan tajuk 'Sawahlunto Punyo Carito' dengan total Hadiah 36 Juta Rupiah. Dari luar daerah akan tampil Group Seni dari Sanggar Seni Ragam Budaya Tanggerang Selatan dan The Pakwa Akustik dari Aceh. Orkestra Mahasiswa Jurusan Musik, Flam Perkusi dan Ethnic Percussion dari ISI Padangpanjang serta kelompok musik dari daerah tetangga," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa untuk pembukaan multikultural tersebut akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 25 November 2017 di Garase PT. Ba mulai pukul 20.00 Wib akan dimeriahkan oleh Artist Lawak Nasional asal Kota Pariaman, 'Ajo Buset' serta kelompok musik Sawahlunto New Ensemble serta Kelompok musik dari Kota Padangpanjang. 

"Untuk menunjang kegiatan tersebut juga akan dilaksanakan Sawahlunto Expo guna mengakomodir pelaku ekonomi kreatif dan UKM yang tumbuh di Kota Sawahlunto dengan tujuan utama peningkatan ekonomi kerakyatan. Untuk malam puncak Hiburan Rakyat akan ditampilkan 'Utopia Band' serta Local Band Sawahlunto yang akan digelar pada tanggal 2 Desember 2017 pukul 20.00 Wib di Lapangan Bola Kaki PT.BA Ombilin Kota Sawahlunto," paparnya.

Selain itu, lanjut dia, kegiatan Multikultural Festival di semarakan dengan Makan Bajamba. Makan bajamba dilangsungkan dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan. Makan Bajamba diikuti oleh lebih dari puluhan hingga ribuan orang yang kemudian dibagi dalam beberapa kelompok. Suatu kelompok biasanya terdiri dari 3 sampai 7 orang yang duduk melingkar. Setiap kelompok telah tersedia satu dulang yang di dalamnya terdapat sejumlah piring yang ditumpuk berisikan nasi dan berbagai macam lauk. 

"Makan bajamba biasanya dibuka dengan berbagai kesenian Minang, kemudian diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hingga acara berbalas pantun (Pidato Adat). Makan bajamba tersebut adalah Icon puncak Peringatan Hari Jadi Kota Sawahlunto, pada tanggal 1 Desember 2006 pernah mendapat rekor MURI dengan peserta terbanyak berjumlah 16.332 orang," tuturnya.

Selanjutnya, selain kegiatan hiburan dan seni budaya, kegiatan bersifat hobi dan olahraga tercakup dalam Komunitas Sport Tourism disuguhkan. Seperti Sawahlunto Trail Adventure, Sawahlunto Night Run, Sawahlunto Paradigling Competition, Sawahlunto Mountain Bike, Sepak Bola Wisata, Fun Fly Paradigling, Tabligh Akbar, Sawahlunto Bina Raga dan Body Contes, Festival Burung Berkicau dan Sawahlunto Fun Dog Race atau Pacu Anjing, Pacu Jawi dan Sawahlunto Derby.

"Kegiatan Peringatan hari Jadi Kota Sawhlunto ke 129 tahun 2017 ini memang diharapkan dapat mendorong perkembangan Kota Sawahlunto sebagai kota wisata sejarah dan budaya. Kemudian terciptanya multiplayer effect perekonomian dari pelaksanaan event tersebut seperti di bidang Akomodasi, rumah makan, pedagang jajanan pasar, sektor transportasi, souvenirshop dan lainnya," katanya. 

Selanjutnya, tambah Syukri, diharapkan akan berdampak terhadap perkembangan seni budaya Multietnis, masyarakat Kota Sawahlunto sebagai pendukung kebudayaan tersebut. Dampak lain yang diharapkan adalah semakin dikenali dan diminatinya Sawahlunto sebagai Kota Tujuan Utama Pariwisata di Sumatra Barat dan semakin menguatkan eksistensi Sawahlunto sebagai Kota Warisan Nasional menuju warisan dunia yang diakui UNESCO.

"Banyak hal yang dapat dilakukan di Kota Sawahlunto yang giat dengan berbagai daya dan upaya mencapai Visi Kota Wisata Tambang Berbudaya melalui Event Budaya baik Tingkat Nasional Maupun Internasional sebagai pendukung daya tarik objek Wisata yang mampu dilahirkan melalui transformasi dari sebuah kota bekas tambang yang lumpuh ekonominya menjadi sebuah Kota Tujuan Utama Pariwisata Sumatra Barat," tuturnya.