Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

Sunday, March 5, 2017

Lima Rumah Terkena Dampak Banjir

Gotong Royong Bersama-sama
Membersihkan Lumpur dan Bebatuan Menutup Jalan
dan Rumah Warga Terkena Dampak Banjir 
Hujan deras mengguyur kota Sawahlunto, Sumatera Barat, mengakibatkan fasilutas umum Taman Silo tergenang air. Selain itu, hujan yang berlangsung selama dua jam juga menggenangi rumah warga. Akibanya 5 unit rumah warga terkena dampak banjir akibat tersumbatnya polongan limbah pembuangan batu bara bantingan. 

Pantauan Penulis Minggu 5 Maret 2017 pukul 17.15 wib, terlihat fasilitas umum Tanam Silo tergenang air. Air menggenangi Taman Silo hingga mencapai betis orang dewasa. Karena revitalisasi Taman Silo tidak dilengkapi dengan dreinase. Selain itu, hujan teras juga mengakibatkan banjir yang menghantam rumah warga di Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Kesbangpol Penanggulangan Bencana Daerah (PBD) Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, bersama warga gotong royong membersihkan lumpur yang terbawa air. Kemudian, satu unit mobil Pemadam Kebakaran pun diturunkan untuk melakulakukan pembersihan dengan menyiram lumpur dalam rumah warga akibat banjir.

"Hujan yang mengguyur selama satu jam, mengakibatkan banjir dan menghantam rumah warga. Akibatnya, satu unit rumah rusak parah, satu unit rumah rusak sedang dan tiga unit urmah rusak ringan. Banjir terjadi setelah shalat ashar. Hujan deras mengakibatkan ronsornya Bantingan tempat pembuangan limbah batu bara. Sehingga longsor tersebut masuk ke dreinase yang dan terjadi penyumbatan pada polongan," ujar Sudiono, Ketua Rukun Tetangga (RT) 2, Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Taman Silo Tergenang Air Karena tidak dilengkapi Drainase
Ia menyebutkan bahwa hujan yang mengguyur kota Sawahlunto mengakibatkan timbunan tempat pembuangan limbah batu bara pada jaman Kolonial Balanda, longsor tergerus air. Karena tergerusnya limbah tersebut air banyak membawa pasir, lumpur dan sisa batu bara masuk kerumah warga.

"Timbunan pembuangan limbah batu bara jaman Belanda tersebut sebelumnya pernah lonsor. Satu unit rumah warga rusak berat, akibat longsor dan hantaman air. Sehingga timbunan tersebut di pasang batuan rajut untuk membendung timbunan agar tidak terjadi lagi longsor. Namun, kali ini kembali terjadi longsor untuk kedua kali dan merusak rumah warga, karena gabion yang telah dipasang tidak mampu membendung air sehingga terjadi longsor," katanya.

Ia menyebutkan bahwa kerusakan terjadi pada lima unit rumah warga karena meluapnya dreinase akibat tersumbat. Longsoran air dan bebatuan menimbun drainase akibatnya polongan tersumbat. "Dreinase tersumbat karena banyak pasir dan tanah liat disertai sisa-sisa batu bara menyumbat polongan. Akibatnya, air meluap dan merusak rumah warga," ujarnya.

Senada disampaikan Kholid, 67, Ketua RW 2 Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa banjir meluap akibat tanah timbunan pembuangan limbah batubara longsor dan masuk ke drainase pembuangan air. Akibatnya, dreinase tersumbat dan air meluap sampai kerumah raga mengakibatkan 5 unit rumah terkena dampak banjir.

"Kita bersama warga dan Kesbangpol PBD mengeruk drainase yang tertimbun lonsor akibat hujan deras. Warga bersama dengan warga membersihkan sisa banjir menggunakam peralatan seadanya. Kemudian, bersama sama masyarakat kita membersihkan lumpur bercampur pasir yang menimbun akses jalan menggunakan peralatan seadanya. Pasir dan bebatuan menutup jalan warga dengan ketebalan hingga 15 cm," katanya.

Sementara itu, Meldi Hidayah Marta, Sekretaris Kesbangpol PBD Kota Sawahlunto, Sawahlunto, menyebutkan bahwa satu unit rumah warga rusak ringan akiban banjir disertai lonsor. Rumah tersebut mengalami kerusakan pada bagian dapur dan pagar, kemudian, barang-barang elekronik milik warga yang terndam banjir dan lumpur.

Memakai Peralatan Seadanya
"Kita telah melakukan pengerukan dreinase untuk memperlancar arus air menggunakan peralatan seadanya. Kita melakukan pengerukan drenase bersama warga dan menurunkan 5 tim Penanggulangan Bendaca Daerah (PBD) Kota Sawahlunto dan Sosial. Serta satu unit mobil pemadam kebakaran diturunkan untuk membersihkan lumpur yang masuk kerumah warga," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, pemerintah kota telah merencanakan untuk melakukan penggalian dengan membuat saluran drainase baru dengan menutup drainase yang ada. Galian drainase ini membutuhkan alat berat dan harus dikerjakan dengan segera. 

"Kita telah melakukan peminjaman eskapator mini ke Solok untuk melakukan penggalian dreinase yang baru. Karena Dinas Pekerjaan Umum Kota Sawahlunto hanya memiliki eskapator ukuran besar, maka sulit memasuki lokasi karena ukurannya besar, sementara medannya sulit dan kecil," katanya.

Thursday, March 2, 2017

Revitalisasi Taman Silo Belum Dilengkapi Drenase

Weldison Wakil Ketua I DPRD dan Deri Asta Ketua Komisi III DPRD 
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sawahlunto, Sumatera Barat, tinjau lokasi pembangunan revitalisasi Taman Silo yang tergenang air. Hujan yang megguyur kota Sawahlunto selama kurang lebih 5 jam mengakibatkan Taman Silo tergenang air. Genangan air terjadi karena revitalisasi taman silo tidak dilengkapi dengan drenase. Pimpinan beserta komisi III DPRD Sawahlunto proyek revitalisasi taman silo.

"Harus dibuatkan drenase karena tevitalisasi pembangunan taman silo belum ada drenasenya, akibatnya hujan taman ini akan tergenang air. Jika, pembangunan drenase tidak disegerakan, maka setiap kali hujan akan terjadi genangan air. Maka perencanaannya revitalisasi tidak matang," Ujar Hasjoni, Wakil Ketua DPRD Sawahlunto, saat kunjungan kerja proyek pembangunan revitalisasi taman silo, Selasa, 28 Februari 2017

Hasjoni menilai, merawat saja tidak pandai, karena belanda telah mendesain sedemikian rupa sehingga pembangunannya silo dilengkapi dengan drenasi. Namun saat ini drenase terset tertimbun dan tidak berfungsi. Makanya, solusi yang harus dilakukan pemko adalah membangun drenase agar apabila hujan tidak ada genangan air.

"Kalau genangan air ini menyusutnya lama, maka bunga taman akan mati, karena akar tumbuhan yang ada di Taman Silo ini akan membusuk. Ini sangat disayangkan sekali kalau diantisipasi dengan cepat. Sebab, drenase salurannya sampai ke kantor PTBA, namun sekarang saluran tersebut tidak ada lagi, apakah tertimbun kita belum tahu," tambahnya. 

Sementara itu, Deri Asta, Ketua komisi III DPRD Sawahlunto menyebutkan bahwa pembangunan tersebut mesti dilengkapi dengan drenase. Pekerjaan revitalisasi tersebut harus di barengi dengan drenase sehingga tidak ada lagi genangan air. 

"Semalam hujan mengguyur kota Sawahlunyo selama kurang lebih selama lima jam. Sementara air hujan menggenangi taman silo karena perencanaan tidak matang. Kita mendapatkan laporan dari masyarakat kalau taman silo tergenang air. Makanya kita tinjau ke lokasi kebenarannya, ternyata air masih terlihat menggenangi taman," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa informasi yang terima dan langsung kelapangan secara mendadak meninjau ke lapangan melihat kondisi di lapangan. Berdasarkan pantauan dilapangan dengan kondisi lapangan sangat memprihatinkan, karena air masih bergenang dan tidak berlumpur. 

"harus di sikapi dengan cepat, taman silo ini karena pembangunan belum di lengkapi dengan drenase. Kemudian, bantingan tempat pembuangsn air tidak di temukan, karena kebetulan langsung dari BNPB dilapangan, dan dikatakan tidak ditemukan sumber air tersebut. Maka, alternatifnya harus dibangun kembali riol," katanya.

Adi Ikhtibar, Ketua DPRD Sawahlunto menyebutkan bahwa harus disikapi dengan cepat tersebut maka dewan akan melakukan rapat internal akan duduk bersama anggota dan melakukan pembahasan terlebih dahulu. 

"Besok kita rapat internal, setelah itu kedepan barulah disiapakan rapat dengan pimpinan DPRD bersama dengan Organisasi Perangkat Daerah Terkait. Senin, 6 Maret 2017 depan kita akan rapat beserta OPD terkait sekaitan dengan pembangunan revitalisasi silo dan Bantingan," ujarnya.

Meldi Hidayah Marta, Sekretaris Kesbangpol BPBD Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa Bantingan yang merupakan ampas pembuangan batu baru pada masa kolonial belanda kerap terjadi longsor karena air yang bersumber dari bawah. Setelah di pelajari sumber air tersebut tidak diketahui, sehingga saat hujan air kembali membesar. 

"Harus ada riol baru yang akan dibangun dan menutup sumber air. riol baru ini akan dibanguan dengan memotong jalur air. Pembanguan riol tersebut sepanjang 140 meter, akan dibangun dengan dana rutin senilai Rp300 juta," ujarnya.

Indra, Kabid Pencegahan, Kesiapsiagaan, Kedaruratan, Logistik Kesbangpol BPBD Kota Sawahlunyo menyebutkan bahwa Bantingan pembuangan ampas cuci bara kolonial belanda ini akan mengancap pemukiman penduduk. Ada 24 Kepala keluarga yang berada dibawah sumber air, 11 KK dalam posisi rawan Kelurahan Saringan.

"Kita telah menelurusi rumber air, apakah bersumber pada drenase tetapi tidak ditemukan sumber airnya, karena saluran lama tidak ketemu. Maka, alternatifnya adalah akan dibangun riol baru, dan sumber saluran ari yang lama ditutup mati. Pada sumber air akan ditutup mati dengan memotong sumber air dari koto gadang sampai air dingin," katanya 

Nova Erizon, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa walikota sebelumnya telah meninjau lokasi taman silo. Maka, sebagai langkah percepatan pemerintah kota akan melakukan pembanguan drenase taman silo. 

"Kita akan membangun drenase taman silo menggunakan dana rutin. Saat ini sedang menghitung berapa anggaran yang disiapkan untuk membanguj drenase tersebut setelah peninjauan tersebut. Saat ini kita sedang rapat membahas membicarakan pembangunan drenase tersebut," katanya

Tuesday, January 31, 2017

DBD Serang Sawahlunto

Sebanyak 16 anak di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, positif terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak sepekan terakhir. Sebaran kasus positif DBD menyebar di empat kecamatan seperti Kecamatan Talawi 8 kasus, Kecamatan Barangin 5 kasus, Kecamatan Silungkang 2 kasus dan Kecamatan Lembah Segar 1 kasus.

"Saat ini pasien DBD telah mendapatkan perawatan secara intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Sawahlunto. Kepastian pasien DBD tersebut diperoleh dari hasil uji klinis yang dilakukan tim medis RSUD, setelah sebelumnya pasien juga mendapatkan perawatan di Puskesmas terdekat," ujar dr. Lusi Dewina, Kepala Bidang Pelayanan RSUD Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, kepada Penulis, Senin, 30 Januari 2017.

Ia menyebutkan bahwa jumlah korban terserang DBD ada kemungkinan untuk bertambah, karena jenis penyakit ini termasuk pada penyakit pasmodium, yang dikenal memiliki kemampuan penyebaran yang cepat. "Selain memberikan penanganan kepada pasien terjangkit DBD, kami juga melakukan edukasi klinis kepada orang tua pasien, seperti meminta mereka untuk memberikan minum yang cukup kepada pasien," katanya. 

Ia mengungkapkan bahwa dilihat dari trend DBD terjadi pada akhir bulan karena pergeseran cuaca, awal akhir tahun hujan kemudian musim kemarau. Kemudian, tahun sebelum pada bulan Januari hampir sama dengan tahun sebelumnya.

"Untuk pemeriksaan secara berkala, maka diperlukan adanya edukasi pada keluarga pasien. Karena penanganannya diperlukan terutama mengatasi demannya terlebih dahulu. Namun, untuk kendala penanganan masih membutuhkan ruangan perawatan dirumah sakit karena ruangan terbatas," ujarnya.

dr. Ambun Kadri, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Sawahlunto mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan upaya penanggulangan peningkatkan pengjangkitan DBD dengan pengasapan di daerah-daerah endemis DBD. 

"Dalam sepekan terakhir, kami telah melakukan pengasapan di Desa Talawi Mudik dan Sungai Durian Kelurahan Durian II. Meskipun pengasapan telah dilakukan tidaklah cukup, karena proses tersebut hanya dapat membunuh nyamuk-nyamuk dewasa. Sedangkan untuk membasmi jentiknya, hanya dapat dilakukan dengan menguras, menutup dan mengubur (3M) tempat-tempat genangan air yang memungkinkan nyamuk akan bertelur," ujarnya. 

Ia menjelaskannya bahwa penyakit demam berdarah ditularkan lewat gigitan nyamuk aedes aegypti atau aedes albopictus dengan jenis kelamin betina. Nyamuk dengan ciri khas warna kaki belang-belang putih tersebut aktif dan beroperasi mencari mangsanya pada siang hari. Sedangkan sarang nyamuk tersebut memang berada dekat dengan manusia yaitu genangan air yang bersih, seperti tempat penampungan air dan bak mandi.

"Maka, sangat disarankan untuk mencegah penyakit demam berdarah dengan melakukan pembersihan berbagai wadah yang bisa menjadi genangan air, atau melakukan pembersihan dan pengurasan minimal seminggu sekali. Jika harus atau terpaksa membiarkan air berada dalam tempat penyimpanan dalam waktu yang lama, maka sebaiknya tutup wadah atau tempat air tersebut. Tutup dengan rapat tempat penampungan air, bak mandi dan berbagai jenis wadah air lainnya," lanjutnya. 

Selanjutnya, kata dia, jika ada barang-barang yang memungkinkan untuk menimbulkan genangan air maka sebaiknya kuburkan barang tersebut atau balik-balikkan saja supaya tidak ada air yang menggenang disitu. "Langkah-langkah tersebut merupakan cara mencegah penyakit demam berdarah yang sederhana namun terbukti ampuh dan efektif," ujarnya. 

Tuesday, January 24, 2017

Bunga Bangkai Incaran Wisatawan Untuk Selfy

Bunga Bangkai Suweg Raksasa atau Batang Krebuit dikenal juga dengan Amorphophallus Titanium merupakan tubuhan dari suku talas-talas, ditemukan warga di kawasan puncak cemara Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Bunga Bangkai sejenis talas itu sejak ditemukan pada Kamis, 5 Januari 2017 lalu menyebar dari mulut ke mulut bahan perbincangan, sehingga tempat tumbuh bunga bangkai tersebut ramai diperbincangkan di kota Arang dan menjadi objek wisata baru.

Bunga bangkai tersebut awalnya ditemukan oleh Riko Satrawan dan bersama rekannya saat memperbaiki pipa air pada sumber mata air di puncak Bukit Cemara. Riko menceritakan awal mula ditemukannya bunga bangkai tersebut. Beberapa hari lalu air ledeng dari pipa Puncak Cemara telah mengecil dan tidak mengalir ke ledeng untuk di alirkan kerumah warga. Karena air mengecil keluar dari pipa air tidak mencukupi kebutuhan harian seperti mandi dan menyuci. 

Kemudian, Riko bersama rekannya pergi menjenguk pipa air yang menjadi sumber mata air ke puncak bukit dengan menelusuri pipa air tersebut. Dari ketinggian 80 meter di lereng bukit ditemukannya bunga bangkai berukuran kecil dan kuncup berdekatan dengan pipa air ledeng. Kemudian, perjalanan kembali dilanjutkan, sekitar 10 meter mendaki ditemukan kembali jenis bunga bangkai. Bunga tersebut masih menguncup berukuran raksasa melonjong. Bunga bangkai tersebut dengan ketingian sekitar 180 cm. 

Awalnya, Riko memprediksi bunga bangkai tersebut akan mengembang selama empat hari kedepan sejak ditemukannya. "Senin 9 Januari 2017 kemarin saya masih monitor perkembangan bunga tersebut namum belum mengembang. kemudian tadi pagi saya kembali melihat bunga ternyata sudah mengembang," Ungkap Riko Satrawan, warga Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, kepada Penulis, Rabu 11 Januari 2017.

Ia mengaku bunga bangkai tersebut tumbuh dikawasan puncak cemara merupakan keduakalinya semenjak tahun 1997 silam. Berdasarkan pengalaman pada belasan tahun silam, umur bunga bangkai tersebut berkisar sampai 12 hari setelah mengembang. 

"Bunga bangkai ini merupakan bunga langka dan sulit untuk ditemukan. Kita berharap jenis bunga langka ini dapat dibudidayakan oleh instansi terkait untuk kelestariannya. Penakaran bunga bangakai langka ini diharapkan bisa mendorong wisata di kota Sawahlunto," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa jika ada masyarakat penasaran dengan bentuk bunga bangkai nan langka serta berumur pendek tersebut silahkan datang puncak cemara. Berdasarkan nama bunga tersebut yakni bunga bangkai, karena baunnya yang menyengat. Bau bunga yang mengenyat tersebut mengundang benyak binatang jenis serangga, seperti lalat, bilalang.

"kita siap antarkan pengunjung yang ingin mengabadikan bunga bangkai sembari selfy. Tentunya, pengunjung harus siap dengan kondisi fisik yang fit dan harus sefti. Karena jalan yang mendaki dengan kemiringan 80 derajat dan pengunjung pun bisa merangkak untuk mendaki dengan bergantung pada akar. Ini merupakan wisata yang sangat menantang dan bernyali serta eksrim," paparnya.

Thursday, January 19, 2017

Produksi Sampah Meningkat Lima Ton Pertahun



Oktarimus, Kabid Kebersihan Badan Lingkungan Hidup
Produksi sampah Kota Sawahlunto terus mengalami peningkatan tiap tahunya. Hal itu disebabkan banyaknya perumahan baru sehingga menambah kapasitas sampah. Produksi sampah tahun 2015 sebesar 35 ton pertahun meningkat menjadi 40 ton di tahun 2016.

"Peningkatan produksi sampah tersebut terjadi meningkatnya produksi sampah rumah tangga. Selain itu, peningkatan produksi sampah terjadi karena bertambahnya pemukinan perumahan warga. Maka, secara tidak langsung produksi sampah rumah tangga terus mengalami peningkatan," ungkap Oktorimus, Kabid Kebersihan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Sawahlunto, Sumatera Barat kepada Penulis, Senin, 19 Desember 2016.

Ia menyebutkan bahwa produksi sampah meningkat 5 ton dari tahun 2016. Maka, perlu peningkatan pelayanan sampah terhadap masyarat. "Untuk meningkatkan pelayanan sampah, maka perlu memaksimalkan pelayanan. Untuk pelayanan dalam hal pembuangan sampah kita memiliki 12 unit becak motor (bentor) sampah," katanya.

Ia menjelaskan bahwa, 12 unit bentor yang di operasikan untuk mengumpul sampah rumah tangga tersebar di kecamatan. Tiga unit bentor di Kecamatan Talawi, empat unit di Kecamatan Lembah Segar dan tiga unit di kecamatan Silungkang. "Bentor dioperasikan mengumpulkan sampah rumah tangga untuk di buah ke kontainer sampah sebagai transit Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kemudian diangut dan dibuah ke Tempat Pembungan Akhir (TPA) berlokasi di Desa Kayu Gadang," ujarnya.

Oktorimus mengatakan, kota Sawahlunto memiliki Kontainer TPS sebanyak 15 buah yang tersebar di beberapa titik, yakni Pasar Talawi, Pasar Silungkang dan Pasah Sawahlunto. "Untuk satu unit kontainer menampung sekubik sampah dalam sehari. Kemudian, truk yang dioperasikan tujuh unit sehari dengan biaya produksi 25 liter miyak perunit, kemudian bentor sehari 7 liter perunitnya. Dalam sehari kita mengangkut sampah dua kali dalam sehari, pukul 08.00 pagi dan pukul 15.00 sore," katanya.

Lebih lanjut, terang dia, mekanisme yang digunakan untuk pembuangan sampah di TPA setelah dilakukan pembuangan dan dilakukan pemilahan sampah organik non organik. "Setelah dipilah, kemudian dilakukan pemimbunan dengan tanah untuk mempercepat pembusukan. Kita masih beruntung, tanah yang dipergunakan untuk penimbunan tidak membayar," sebutnya.

Ia mengaku, kesadaran masyarakat akan sampah masih kurang dan masih banyak masyarakat yang membuang sampah di banda atau sungai, kemudian membuang sampah dalam riol. Selanjutnya, pembuangan sampah telah diatur mulai pukul 18.00 sore sampai pukul 07.00 pagi. 

"Jika hari hujan, maka sampah tersebut akan menumpuk, banda dan riol akan tersumbat. Sehingga air akan meluap kejalan. Dampak yang akan muncul adalah terjadi kerusakan infrastruktur, jalan dan bangunan riuol itu sendiri akibat air," ungkapnya.

Ia menjelaskan, untuk sampah telah diatur dalam Peraturan Daerah nomor 13 tahun 2011, bahwasanya sanksi yang pelanggar dengan Denda 5 juta dan kurungan 3 bulan. "Kita berkomitmen akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang telah di sediakan. Kemudian, kita juga menginformasikan pelarangan pembuangan sampah di tempat umum, Sungai, riol, di jalan utama, Sekolah, dan fasilitas umum lainnya," katanya


Saturday, August 27, 2016

Bonsai Seharga 4,5 Miliar

Rabu, 5 Maret 2015 siang itu tampa direncana berkenalan sengan Komunitas Persatuan Pecinta dan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Sumatera Barat. Nonon kabarnya Komunitas PPBI ini telah ada sejat tahun 1990-an. Komunitas tersebut di gagas oleh Maman dari Pelindo dan lurah parak gadang. Semudian sejak berdiri komunitas tersebut sempat pakum.

Kemudian pada tahun 2003 komunitas PPBI Sumbar kembali eksis yang di pelopori oleh Warzinto Wadanlanut. Tak berapa kalama Warzinto, pindah tugas ke Jakarta, secara omomatis wakil ketua yang mengurus eksistensi komunitas PPBI yakni Efrizon.

Saat itu, penulis duduk santai di kedai kopi. Tanpa sengaja bertemu langsung dengan ketua komunitas PPBI. Efrizon lahir pada tahun 59 yang akrap di panggil Jhon yang berupakan ketua PPBI Sumbar. Komunitas PPBI Sumbar ini juga merupakan peserta yang ikut dalam meramaikan kemilau 16 tahun penulis yang jatuh pada 25 januari lalu.

Siang itu, Jhon bercerita banyak tentang pengalamannya mengenai kecintaannya terhadap bonsai. Selain itu, dia juga meluangkan waktunya untuk mengurus komunitas PPBI Sumbar. Selain sebagai ketua PPBI Jhon juga memiliki usaha Sibinuang Sati Bonsai Art Galery di jalan Adinegoro Kampung Lubuk Sejahtera Lestari Lubuk buaya tepatnya di depan kantor camat Koto Tangah Padang, Sumatera Barat.

Dia menceritakan proses pembuatan bonsai sesuai dengan Imajinasi gaya yang dibutuhkan. "Untuk gaya yang dibutuhkan dalam memperindah bentuk bonsai sesuai dengan disain yang di butuhkan. Atau  di sesuaikan ke inginan, apakah posisinya miring, melandai terserah kreasi masing-masing," katanya sebari memegang pipa rokok yang dimiliknya.

Dia melanjutkan, Untuk ketegori bonsai yang dapat berbumur panjang adalah dengan ciri-ciri berbatang keras. Pohon yang berbatang keras tersebut  dapat berumur panjang dan daunnya bisa mengecil. "Untuk umur pohon yang di jandikan bonsai tersebut tergantung cara kita merawatnya, apakah kita sabar dan peduli terhadap bonsai tersebut serta pasokan gizi yang cukup kemudian air yang cukup pula," lelaki yang mengenakan topi itu.

Jhon kemudia menyebutkan Bonsai timbulnya dari alam kemudian perilaku petani. Jika bonsai tersebut terjadi dengan sendirinya dalam artikata dari alam, maka kita hanya melakukan pemindahan saja kedalam pot. "Kalau di Sumbar ke biasaan petani kita, untuk merambah pohon dengan memancungnya. Kemudian pohon tersebut tumbuh kembali lalu di potong lagi. Nah, pohon tersebut setelah berulang-ulang di potong dengan sendirinya telah terbentuk menjadi monsai, sehingga kita hanya memindahkan ke dalam pot," sebutnya.

Tidak hanya proses pembentukan bonsai saja yang di ceritakan oleh Jhon namun sepintas asal muasal bonsai pun di sebutnya. Dia mengatakan Semula bonsai ini berasal dari Cina yang di kenal dengan Pen Ying artinya  pen (alam) Ying (pot)  'Alam dalam pot' atau yang dikenal saat ini Bonsai.

Seiring perkembangan zaman saat cina di jajah oleh jepang, ke kaisaran jepang merasa tertarik dengan bonsai. Sehingga kaisar jepang menginginkan bonsai tersebut. Sehingga lahirlah kata 'bonsai' berasal dari bahasa jepang. Bon (pohon) Sai (pot) artinya bohon dalam pot.

Pecinta bonsai memiliki filosofi 'semakin tega memperlakukannya, semakin berterimakasih bonsai terhadap kita' karena kodratnya alam itu adalah ke indahan. Maka bertambah cantik dan lebih elegan jika di jadi kan bonsai. Sebat tidak ada penyiksaan terhadap pohon karena di kerdilkan.

Kemudian, untuk pembeli bonsai itu sendiri kita sangat selektif. Karena untuk memiliki bonsai harus terlebih dahulu mencintai bonsai. "Jika tidak demikian maka, kita akan berfikir menjualnya," katanya sembari memaikan gesture tangannya yang lincah itu.

Keunikan bonsai tersebut dapat memambah pergaulan. Sebab hobi yang komplit di sertai dengan kesabaran. Karena untuk melatih kesabaran cintai lah bonsai terlebih dahulu. "Selain hobi bonsai juga bisa menghasilkan, sebab kisaran harga bonsai saat ini di atas Rp5 jutaan," katanya.


Selain itu, harga bonsai tertinggi dalam pameran di Jepang pada tahun 2013 terjual Rp 4,5 milliar. Sementara jenis yang dimiliki komonitas bonsai Sumbar sangat beragam. Diantaranya beringin, wahong, halaban, jeruk kingkit, hokianti, meten, strip plus, anting putri, gamai-gamai dan lain sebagainya