Showing posts with label Artikel Seni Rupa. Show all posts
Showing posts with label Artikel Seni Rupa. Show all posts

Saturday, December 30, 2017

Perkenalkan Karya Seni Rupa Kepada Masyarakat 60 Karya Lukisan Seniman Se Sumatera Barat Dipamerkan

Sebanyak 60 karya seni rupa, seniman perupa Sumatera Barat pamerkan karya seni rupa, mural, tiga dimensi, disain, video art, di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Sawahlunto, Sumatera Barat. Karya seni rupa tersebut terdiri dari karya kelompok seniman rupa yang ada di Sumatera Barat. Pameran seni rupa tersebut sebagai wujud kreatifitas penggiat seni rupa kelompok seni rupa di Kabupaten/kota se Sumatera Barat. Karya seni rupa yang dipamerkan merupakan karya seni mengeksplorasi dan mengekspresikan ide melalui media visual art.

"Kegiatan pameran seni rupa yang mengangkat tema Berantai diselenggarakan oleh Kelompok Seni Rantai Sawahlunto. Pameran karya seni rupa tersebut bertujuan untuk memperkenalkan seni rupa ke pada masyarakat luas, khususnya Kota Sawahlunto. Pemikiran untuk mengelenggaraan event pameran di daerah yang notabene masyarakatnya belum mengerti apa itu seni rupa atau masyarakatnya belum mempu mengapresiasi dan menafsirkank karya-karya seni rupa dengan baik," ujar Fadlan Fahrozi, Kurator Pameran Serupa Berantai, kepada Penulis, Jumat, 29 Desember 2017 di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Kota Sawahlunto. 

Ia mengatakan bahwa Kreatifitas merupakan sebuah upaya untuk melahirkan hal-hal baru berupa pemikiran untuk menciptakan karya-karya segar melalui kemahiran yang kemudian disepakati oleh kelompoknya. Seorang yang kreatif biasanya mampu melakukan inovasi dan terobosan-terobosan untuk menciptakan haI-hal baru di lingkungannya berupa karya seni. Desain terlahir dari kolaborasi pemikiran dan ide, maka hal ini dapat dikatakan saling berkaitan satu sama lain seperti halnya antara komukator dan komunitas juga media yang akan menyampaikan. 

Menurutnya, semua unsur yang terdapat dalam dunia desain saling berantai satu sama lain. Semua elemen dalam seni rupa pada pameran yang berlangsung sejak Jumat-Sabtu, 29-30 Desember 2017 dapat dikatakan karya yang masuk dalam pameran berantai ini telah mengalami berbagai kolaborasi ide dan pemikiran. Sebab, desain tidak terjadi begitu saja namun ada berbagai tahapan yang berantai. 

Ia mengungkapkan bahwa dari pengamatan sosial dan budaya hingga masuk pada tahapan riset untuk melahirkan suatu komunikasi yang akan disampaikan oleh seorang desainer yang merupakan solusi dari suatu permasalahan. Sawahlunto merupakan kota yang aktif dalam menyelenggarakan event secara nasional maupun internasional. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian pemerintah terhadap kreatifitas masyarakatnya. 

Maka dari itu, kelompok seni Rantai juga tidak mau melepaskan perannya untuk ikut serta dalam melengkapi kebutuhan kota Wisata Tambang Berbudaya. Sehingga terbentuklah ide untuk menyelenggarakan event pameran seni rupa sebagai catatan akhir tahun. Sebagai kelompok yang masih segar tumbuh dengan pemikiran cemerlang dan berpijak pada filosofi rantai. 

Maka kelompok seni rantai yang berdomisili di kota Sawahlunto kembali memainkan perannya sebagai kelompok yang aktif dan ikut membangun apresiasi seni didaerahnya seperti seni rupa. Sehingga, nama "Rantai" diambil dari karakter dan kultur masyarakat yang berkembang di daerah sema penjajahan Kolonial Belanda. 

Menurutnya, cerita orang rantai yang menjadi history daerah Sawahlunto, meskipun demikian nama rantai tersebut tidak semata-mata mengembangkan cerita tersebut melainkan mengambil filosofi 'Rantai' itu sendiri. Persatuan yang kokoh antara mata rantai satu dengan mata rantai yang saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan. 

Ia berharap bahwa dengan diselenggarakannya event pameran seni rupa di Sawahlunto dapat menambah dan menumbuh kembangkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni rupa. Kemudian dapat menimbulkan berbagai kolaborasi ide lainnya diantara berbagai pemikiran dan profesi dan desainer. Selanjutnya, terjalin hubungan yang baik antara elemen masyarakat yang membangun kearifan kota Sawahlunto sehingga seni rupa tidak lagi menjadi ambigu di tengah masyarakat, khususnya di kota Sawahlunto. 

Sementara itu, Hendri Thalib Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa pemaren seni rupa rantai merupakan bentuk apresiasi pemerintah mendukung komunitas seni yang ada di Sawahlunto. Untuk mendukung seni rupa tersebut maka pemerintah kota menyiapkan museum lukisan. Lukisan yang di Pajang diantaranya adalah hasil karya pelukis maistro terkenal, Baisuki Abdullah dan Marya Cui. 

"Museum ini berisikan benda-benda yang sangat jarang kita temukan sehari-hari, bahkan di Indonesia sendiri, diyakini tempat ini akan menambah pengalaman dan pengetahuan wisatawan. Seperti berbagai alat musik tradisional. Mulai dari Australia, Afrika, Prancis hingga ke China. Benda benda unik bersejarah beserta lukisan oleh pelukis terkenalpun akan segera disajikan," katanya.

Irzam, Asisten III Administrasi Umum Pemerintah Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa generasi muda yang di tepong oleh sesepuh seniman kota Sawahlunto dan bentuk inovasi positif untuk pembangunan serta perkembangan kota Sawahlunto sehingga terwujudnya kota wisata tambang Berbudaya. Maka, kegiatan pameran seni rupa didukung dan disupport pemerintah kota Sawahlunto. 

Seblumnya, kata dia, pemerintah kota Sawahlunto menggabungkan kebudayaan di gabung dengan pendidikan, kemudian kebudayaan bergabung dengan pariwisata. Namun sejak awal tahun 2017 maka kebudayaan berdiri sendiri untuk lebih serius menata dan mewujudkan kota wisata tambang berbudaya. 

"jika ada persoalan yang bersentuhan dengan kebudayaan maka bisa secara langsung untuk melakukan koordinasi dengan instansi terkait demi mewujudkan visi kota wisata tambang berbudaya ditahun 2020. Artinya keseriusan pemerintah kota Sawahlunto untuk memperhatikan seni budaya sehingga ada perpanjangan tangan dari pemerintah untuk melalui OPD terkait dinas Permuseuman," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa Sawahlunto multi etnis yang berdiri dari berbagai etnis suku bangsa. jika berbicara tentang Sawahlunto maka tidak asing lagi mendengar seni budaya Batak, Jawa, Sunda, cina dan Minangkabau. Sebab, di kota Sawahlunto yang multi etnis yang hidup berdampingan. 

"Pameran seni rupa ini merupakan bentuk memberikan ruang kepada pelaku seni terutama Kelompok Seni Rantai. Memberikan ruang untuk berkreasi dan beraktivitas mengembangkan ide dan gagasan terhadap pembangunan kota melalui seni rupa," katanya. 

Tuesday, June 20, 2017

Objek Wisata Baru Tiga Museum Sawahlunto Kota Seribu Museum

Berisi Benda Sejarah Lukisan, Alat Musik, Etnografi Kayu

Perintah kota Sawahlunto siapkan objek wisata baru lebaran Idul Fitri 1438 H. Objek wisata tersebut merupakan objek wisata pengetahuan seni dan sejarah. Tiga gedung museum disiapkan untuk pengunjung yang datang ke kota Sawahlunto sebagai objek wisata baru. Tiga gedung museum siap dijadikan tujuan wisata tersebut dilengkapi dengan koleksi alat musik tradisi nasional dan internasional, lukisan, emografi kayu, Tari dan pakaian kesenian beserta benda-benda sejarah.

"Perencanaan musiem ini dilakukan sebelum bulan ramadhan, sehingga tiga gedung museum koleksi memilik seorang kolektor akan menambah objek wisata yang ada di kota Sawahlunto," ujar Hendri Thalib, Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, kepada Penulis, Minggu, 18 Juni 2017.

Ia menyebutkan bahwa museum lukisan pengunjung dapat menikmati karya seni lukis seniman mancanegara dan intenasional. Kemudian peralatan alat Musik tradisional juga akan menampilkan berbagai jenis alat musik tradisi dunia.

"Maka, liburan ke Sawahlunto, pengunjung melihat akan melihat destinasi baru gedung museum Lukisan, Tari, Alat musik tradional dan Entografi kayu. Selain menikmati keindahan alam dan bangunan kunonyo, Sawahlunto kini menyajikan berbagai barang yang jarang ditemukan sehari-hari," katanya.

Ia menyebutkan bahwa destinasi wisata baru gedung permuseuman ditargetkan sebelum lebaran, 3 museum tersebut telah siap dinikmati wisatawan. Maka, dengan adanya gedung museum tersebut akan menambah alasan mengapa harus ke Sawahlunto.

"Museum ini berisikan benda-benda yang sangat jarang kita temukan sehari-hari, bahkan di Indonesia sendiri, diyakini tempat ini akan menambah pengalaman dan pengetahuan wisatawan. Seperti berbagai alat musik tradisional. Mulai dari Australia, Afrika, Prancis hingga ke China. Benda benda unik bersejarah beserta lukisan oleh pelukis terkenalpun akan segera disajikan," ujarnya.

Amitri, Bagian Koleksi dan Konservasi Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, menyebutkan bahwa lukisan yang di Pajang diantaranya adalah hasil karya pelukis maistro terkenal, Baisuki Abdullah dan Marya Cui.

"Semoga dengan adanya museum di kawasan lapangan segitiga ini dapat menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berulang kali ke Kota Arang. Sementara, untuk soft launching museum tersebut baru akan dilaksanakan pada 21 Juni mendatang, dengan menghadirkan beberapa orang kolektor barang unik tersebut," katanya.

Wednesday, June 1, 2016

Pameran Seni Rupa : Karya Bernilai Ratusan Juta Rupiah

Perupa Asal Sumbar Pamer Karya di Gallery UPTD Taman BudayaProvinsi Sumatera Barat. Ada 19 orang seniman rupa yang ikut Pameran Seni Rupa Kampuang Sakato pada 23-30 Mei 2016. Bangsan yang beradab adalah bangsa yang menghargai budayannya. Kalau bangsa itu belum menghargai budayannya, bisa dikatakan bahwa bangsa tersebut belum beradab. Kemudian, keberadaban tersebut dicirikan oleh kegiatan-kegiatan budaya termasuk seni rupa, hal itu disampaikan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyar Republik Indonesia ( DPR RI ) Fadli Zon pada acara pembukaan Pameran Seni Rupa Kampuang Sakato, Senin 23 Mei 2016 pukul 20.00 WIB malam.

Ia mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat harus mendukung penuh apa yang talah dilakukan oleh perupa yang berasal dari sumbar, karena mereka telah memberikan energi baru bagi kesenian di Sumbar. Ada sebanyak 19 orang perupa yang mengikuti pameran 'Tambo Rupa' yang tergabung dalam "Kampuang Sakato".

"Saya merasa terhormat bisa datang untuk pembukaan pameran seni rupa ini. Kali ini merupakan kehadiran yang kedua kali untuk membuka dan mengapresiasi karya seni rupa. Termasuk gubernur provinsi sumbar yang ikut serta mendukung pameran ini. Jangan hanya janji-janji, Pemprov harus memberikan ruang yang lebih bagi para perupa di sumbar, saya punya usul istana bung hatta juga bisa digunakan sebagai pameran seni nantinya," kata Padli Zon sembari menayakan kepada Gubernur Sumatera Barat saat itu.

Para perupa yang telah mendapatkan pendidikan dan pengalaman secara akademis, baik itu melukis atau pun seni patung serta kegiatan seni lain yang ada di Jogjakarta, kemudian kembali ke Sumatera Barat dan berkiprah. Tuah sakato ini sering melakukan iven pameran seni rupa yang merupakan iven tahunan.

"Pamerannya selalu banyak dan cukup dominan di Jogjakarta kawan-kawan seni rupa dari Sumatera Barat, yang belajar di Jogjakarta. Kemudian kembali ke Sumatera Barat untuk berkiprah pada saat ini menurut saya seuatu energi baru, semangat baru yang berkolaborasi dengan seniman dan budayawan yang sudah berkiprah di Sumater Barat," katanya.

Menurut ia, sangat dan energi baru ini merupakan suatu kolaborasi yang sangat konstruktif. Hanya dukungan termasuk dari lingkungan pemerintah provinsi Sumbar, Kabupaten/kota perlu menunjukan, karena karya para seniman ini merupakan karya yang sangat baik. Sebab, karya-karya 19 seniman rupa bisa nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Pencapaiannya pun juga sangat baik untuk mencapai proses artistik tertentu apalagi para seniman telah merantau dan kembali keranah minang tentu membawa karya yang sangat baik. Saya yakin karya perupa yang dipamerkan ini ada karya yang bisa membanggakan," katanya.

Menurut Padli Zon, bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai kebudayaannya sendiri. Untuk itu Sumatera Barat harus memulai terlebih dahulu. Kita juga harus berkaca kepada negara luar yang menjadikan karya seni sebagai karya nasional. Jika kita melihat pada negara-negara yang perdabannya telah maju, terutama di Eropa, karya seni rupa tersebut disupor oleh pemerintah. Lukisan dan karya pelukis ini adalah kebanggaan nasional mereka. Kita memang masih belum mencapai pada suatu tingkat peradaban itu. Kita menghargai karya-karya seni yang pencapaian artistiknya yang tinggi, namun diakui bahwa kita belum sampai ke arah itu. Tapi kita harus menunuju ke arah peradaban tersebut.

Suatu hari di Indonesia termasuk Sumatera Barat diharapkan ada musium-musium seni rupa yang repsentatif dengan hasil karya-karya terbaik yang akan di pampang di musium tersebut. Hal itu tidak hanya menjadi kebanggaan provinsi dan kebanggaan nasional. Bahkan sejumlah perupa dari Sumbar dari Jogja juga dikoleksi oleh kolektor dunia. Mereka juga mempunyi waorkshop, musium dan jika mereka di undang untuk menghadiri pameran seni rupa ini, akan memberikan energi dan kegairahan bagi seniman rupa di Sumatera Barat.

Sumatera Barat merupakan provinsi yang sangat maju untuk para perupa, pelukis dan pematung dan dari dulu telah berkiprah di level nasional. Namun pada hari ini jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dulu. Melalui 'Kampuang Sakato' ini tidak hanya menjadi pameran yang pertama dan yang terakhir. Tetapi harus menjadi iven yang terus menerus, mungkin yang diperlukan adalah ruang untuk pameran dan tidak hanya di taman budaya saja.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno pada kesempatan itu mengatakan, Pemerintahan Provinsi berjanji akan mengakomodir seniman yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat Sumbar, hal diwujudkan dalam bentuk diprioritaskannya masalah kesenian dalam bahasan RPJM Provinsi. "kita juga berikan Fasilitas gedung gratis bagi seniman yang ada di Sumbar untuk menampilkan hasil karya mereka," sebutnya. 

Menurut Gubernur Banyak akar budaya di Sumatera Barat yang bisa diekspresikan dalam bentuk lukisan yang akan menghasilkan daya jual dan nilai seni yang tinggi.

Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat Muasri mengatakan, Pemaran seni rupa diikuti oleh 19 Orang perupa asal Sumbar jebolan kampus ternama diluar daerah yang sudah malang melintang di dunia seni rupa. Pergelaran kali ini bertujuan sebagai pembanding bagi perupa lokal dari segi hasil karya. "ini juga sebagai salah satu strategi pemerintah daerah dibidang kesenian untuk merangkul seniman yang menuntut ilmu diluar daerah untuk pulang kampung," sebut Muasri usai acara pembukaan pergelaran pemeran seni rupa di Gedung Gallery Taman Budaya Sumatera Barat, Senin, 23 Mei 2016.

Muasri menjelaskan, Pergelaran seni rupa di aktori oleh Komunitas Kampuang Sakato bekerjasama dengan UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, dengan mengangkat tema tambo rupa. Tambo rupa mengangkat konsep kontemporer, dalam hasil karya tetap mempertimbangkan etika yang dianut budaya lokal. "dalam konsep kontemporer tidak hanya mengedapankan estetika tatapi juga etika dalam menghasilkan karya," katanya.

Lebihlanjut kata Muasri saat ini Sumatera Barat punya sekitar 200 seniman aktif dibidang senirupa, potensi itu akan dikembangkan agar mereka eksis dengan cara memberi ruang untuk berkarya.

Sementara itu, kurator Ibrahim mengatakan bahwa Tambo bagi masyarakat Minangkabau merupakan sumber informasi yang bercerita tentang Alam Minangkabau (Tambo Alam) maupun adat Minangkabau (Tambo Adat). Tambo tersebut menggambarkan atau mengisahkan kepada masyarakat minang itu sendiri tentang sejarah, adat istiadat dan masalah kepemimpinan serta prana sosial di tengah-tengah masyarakat.

Tambo tidaklah sesuatu yang dipandang ekslusif, karena Tambo tersebut digunakan sangat fleksibel oleh masyarakatnya baik falam pemakaian kata 'Tambo' maupun saat menjelaskan kisah di dalam Tambo tersebut. Sebab cerita yang ada di dalam tambo itu sendiri akan menjadi konstruktif atau improfit bergantung pada orang yang mengabarkannya. Hal itu bisa saja terjadi karena penyesuaian terhadap kondisi dan situasi saat terjadinya komunikasi antara orang yang mengabarkan kepada masyarakat.

Pikiran tersebut dituangkan oleh Ibrahim Kurator 'Tambo Rupa' visual art axhibition Pameran Seni Rupa Kampuang Sakato di Gallery UPTD Taman Budaya Provinsi Sumatera Barat, 23-30 Mei 2016. Ia menghubungkan Tambo Minangkabau untuk dikonversikan menjadi 'Tambo Rupa' menyampaikan pesar atau kabar sejarah, adat istiadat dan mesalah kepemimpinan serta prana sosial melalui karya Seni Rupa.

Ia mengatakan bahwa seni rupa di Ranah Minang tergolong unik dan terkadang rumit untuk dipahami. Sebab, ada pemahaman yang dibangun dari realitas kesenian berbeda antara 'Tambo dan Seni Rupa', namun bersumber dari masyarakat ( pelaku ) seni yang sama. Ia berpandangan persoalan klasik yang dihadapi adalah terjadinya perbedaan eksistensi dan pemahaman antara seniman di Ranah Minang ( lokal ) dengan seniman Minang yang ada di perantauan.

Ia menunjukan fakta dilapangan bahwa seniman Minang di perantauan lebih memiliki mobilitas yang tergolong tinggi karena banyaknya ruang-ruang mediasi serta iklim kesenian yang kompetitif. Sementara itu, seniman Minang ( lokal ) dinilai masih berada pada taraf membangun pondasi, tetapi wujud akhirnya tidak dapat ditebak. Maka, turunan dari realitas ini melahirkan "perbedaan" dalam menjaring pemahaman pemikiran yang dibawa oleh perantau ke Ranah Minang ( saat kembali ke kampung halaman ). Sehingga terjadi perlambatan akslerasi dan eksekusi gagasan akibat terkukung dalam wacana yang sulit di "bumika" dengan kondisi di Ranah Minang.

Ibrahim menyebutkan bahwa untuk berkarya lebih maju diharapkan terus berupaya menggelar dan memodifikasi aksi agar semakin semarak seni rupa di Ranah Minang ( lokal ) dengan cara berbeda dari sebelumnya. Maka, kerja yang dilakukan selama ini butuh sentuhan langsung serta pengorganisasian petensi 'rang rantau' agar mampu menambah kekuatan pergerakan kesenian di Ranah Minang

Thursday, February 12, 2015

PAMERAN SENI RUPA "DUO DATUAK" TANDA POPULER DARI PRODUKSI URBAN

oleh: Julnadi Inderapura
Puluhan Seniman Sumatera Barat menghadiri pembukaan pameran seni rupa  “Duo Datuak” di Galeri Rumah Ada Seni  (RAS) jalan Parupuak No 48 Tabing. Pameran “Duo Datuak”  tersebut dibuka oleh Yan Pratawijaya dosen Politeknik Negeri Padang. Puluhan karya seniman Sumbar dipamerkan di RAS yang berskala Nasional. Karya-karya tersebut berasal dari Bali, Bandung, Jogja dan Sumatera Barat. Dalam pameran tersebut hanya satu karya yang mampu menginggung visi dari pameran “Duo Datuak” menurut Ibrahim curator Seni Rupa pada Senin, 27 Oktober 2014.

Dia mengatakan, salah satu karya yang bisa dikatakan mampu menyinggung visi dari pameran “Duo Datuak” adalah karya Nesa berjudul “Calm Under Pressure”. Berangkat dari tanda dan symbol yang dihadirkan di dalam jam tampak memberi gambar bagaimana sebuah tekanan datang dari wilayah yang cukup dominan. “Substansinya jelas jelas bisa ditarik kemana saja meskipun digiring kedalam wilayah kreatif berdasarkan uraian sebelumnya jelas memiliki visi yang terkait dengan “duo  Datuak” kendati Karya ini tidak berada pada “ciri pembeda” yang telah diasosiasikan dalam “Duo Datuak”  Meskipun seniman yang lain belum tentu sependapat dengan ulasan saya,” katanya.

Dia melanjutkan, Menyoroti persoalan bagaimana sosok seorang datuak maupun persoalan penganugerahan gelar datuak di Ranah Minang. Kemudian menggeser pola seniman untuk lebih mengeksplorasi tanda-tanda ataupun simbol-simbol lokalitas.

“Duo Datuak” sebuah elaborasi dari seniman dengan cara yang lebih cerdas dan kreatif dalam menyikapi perkembangan dan perubahan pemahaman terhadap kebudayaan Minangkabau. Melalui karya yang disuguhkan akan tampak bagaimanan sosok seorang datuak di mata anak kemanakan dan bagaimana memaklumi sebuah kebijakan yang diambil oleh masyarakat tradisi dalam memberikan gelar datuak.” Sebutnya.

Karya serta  gagasan “Duo Datuak”  menurut Ibrahim curator seni rupa, para seniman perlu melakukan pendekan dalam menangkap dan merepresentasikan ide masing-masing seniman. Ulasan di ambil beberapa buah karya untuk diurai sedekat mungkin, sehingga usaha untuk tetap berada pada jalur “Duo Datuak” diperlihatkan beberapa seniman dalam pameran ini. seperti karya yang berjudul “Fixed Price” karya Septiman Girsal, karya Aldo We berjudul “Narsis,” karya Dwi Rahma Dona berjudul “Sumpah Biso Kawi” dan karya Erlangga dengan judul “Untitled”.

Kemudian kata Ibrahim, karya Pendri Wandi dengan judul “Pre Order” dan Nasrul berjudul “Big Sale, Big Share,” dua karya tersebut mencoba menangkap sipirit dari sosok Datuak itu sendiri yang tampak menonjol adalah pada tataran disposisi gelar Datuak dan dinamika dari kebijakan seorang Datuak dalam mengelola Nagari. Karya tersebut tampak mengkonvensikan gagasan menjadi tanda-tanda popular dari reproduksi urban. “karya Niluh Pangestu berjudul “Me in The Chair”, Yusuf Fadly Aser dengan judul “Between” dan karya Roni Kurniawan dengan Judul “3 Kursi Berjarangan” cenderung tampak konvensional. Mereka melihat persoalan “Duo Datuak” dengan cara umum sebagai sosok pemimpin sehingga yang tampak adalah sebuah “simbol“ kekuasaan tanpa memberikan tanda khusus yang menuju pada teritorial sang datuak,” jelasnya.

Bagi curator, karya Agung Budiman dengan judul “Terlena” dibutuhkan narasi dalam menemukan kecocokan dengan gagasan pameran, sebab karya tersebut berupa potret yang tidak memberikan tanda bahwa karya tersebut sedang berbicara “Duo Datuak”.

“Dalam karya mereka terdapat usaha untuk mengelaborasi gagasan datuak dan kelengkapannya menjadi bagian yang dieksplorasi demi menghadirkan tanda mengkrucut pada konsekuensi mistikal dalam menjalankan amanah sebagai datuak, sehingga praktek distorsi dalam bahasa yang cukup personal sermasuk simbolisasi tradisional, Kemudian berangkat dari tanda atau simbol yang dihadirkan dalam karya seni tersebut bukan untuk mempersempit wilayah anlisis public menginterpretasikan secara tepat sesuai dengan apa yang diinginkan public terhadap karya yang dipamerkan,” Katanya.