Showing posts with label Festival Wayang Nusantara 2016. Show all posts
Showing posts with label Festival Wayang Nusantara 2016. Show all posts

Tuesday, November 8, 2016

Group Wayang Kulit Krida Laras Darmasraya Padangtengah, Pentaskan 'Wayang kulit lakon Prabu Sumilih'

Malam semakin larut. Angin berhembus terasa dingin menyentuh kulit akibat embun telah menguap. Jalanan kota pun mulai sepi dari lalu lalang kendaraan. Namun Lapangan segitiga ombilin masih banyak warga berkumpul dibawah tenda menyaksikan pertunjukan seni tradisi wayang kulit rangkaian Festival Wayang Nusantara ke IV 2016, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Kelompok Wayang Kridalaras Dharmasraya Padangtengah ini lahir sejak tahun 1983 dan masih eksis hingga saat ini. Kelompok ini dibentuk untuk mempertahankan seni tradisi jawa yang ada di Darmasraya, Padangtengah. Anggota kelompok ini terdiri dari masyarakat sekitar dilingkungan Padangtengah.

Ki Jumari Guno Carita menyebutkan bahwasanya persiapan menjelang keberangkatan untuk tampil ke kota Sawahlunto pada iven Festival Wayang Nusantara ke IV 2016 telah dilakukan sejalah beberapa bulan belakangan. Persiapan dilakukan berupa latihan-latihan untuk seni wayang itu sendiri.

"Karena beberapa ada anggota baru atau anggota pemula yang ikut latihan. Kalau seni tradisi wayang latihan dua kali dalam seminggu. Kemudian bagi anggota lama latihan rutinitas bersama sebulan sekali," ungkap Ki Jumari Guno Carito pimpinan Group Wayang Kulit Kridoraras Darmasraya Padangtengah, kepada Penulis, Jumat, 4 November 2016 malam.

Ia mengaku anggota kelompok Wayang Kulit Kridoraras Darmasraya Padangtengah saat ini berjumlah lebih dari 30 orang. Namun untuk datang ke kota Sawahlunto melibatkan sebanyak 22 orang pemain wayang. "Kalau kesini tidak membawa alat-alat musik seperti gamelan, gong dan segala macamnya, karena telah disediakan oleh panitia. Kita hanya memainkan beberapa alat musik yang dimainkan, karena tersedia di ats panggung," akunya.

Ia menyebutka bahwa seni tradisi wayang kulit yang dimaikan 'Lakon Prabu Sumilih' yang telah berhasil membunuh raksasa yang turun dari kayangan di Negara Atina. Negara Astina merupakan negaranya Prabu Abdioso menjadi kepercayaan turun-temurun dalam cerita wayang.

"Di Negara Astina, Prabu Duryudana sedang mengadakan pertemuan dengan seluruh Punggawa kerajaan untuk membicarakan tentang keamanan negara. Petemuan itu  dikejutkan oleh kedatangan Prabu Naga Tawingnya dari negara Puser Bumi," ungkapnya.

Ia melanjutkan sejak kelahiran Duryudana hingga Duryudana tumbuh dewasa dan menjadi penguasa ketika itu. Seharusnya Pundawa yang berkuasa, namun karena Pundawa masih kecil sehingga kekuasaan diambil alih oleh Duryudana. Karena kekuasaan diambil Duryudana maka terjadilah peperangan dan berkelanjutan dengan Pundawa setelah Pundawa tumbuh dewasa.

"Sebenarnya Pundawa bermaksud untuk membantu Prabu Duryudana menumpas sampai disirnakannya para Pandawa. Atas kekalahan Pandawa tersebut, berarti Prabu Duryadana beserta kurawanya akan semakin jaya," katanya.

Kemudian, setelah peperangan itu usai, bala tentara Astina yang dipimpin Prabu Naga Tawingnya dan dibantu Pandita Sakti yang bernama Begawan Dewa Pratoto dari Puser Bumi melanjutkan perjalanan untuk menambah daerah kekuasaan setelah melakukan kesepakatan bersama Duryadana.

"Didalam perjalannya bertemu dengan prabu baladewa Raja Madura, bersama Anoman yang sedang mencari Gatot Kaca yang sudah lama pergi dari Pringgadani. Gatot Kaca pergi tanpa pamit," ungkapnya.

Singkat cerita, perjalan Prabu Baladewa dan Anoman di hadang oleh para Kurawa yang dipimpin Prabu Naga Tawingnya. Prabu Baladewa merasa dihina maka terjadi pertempuran kedua belak pihak. Banyak prajurit Kurawa yang menderita kelelahan, prabu Naga Tawingnya pun tidak mampu menandingi Prabu Baladewa dan Anoman.

"Akhirnya Bagawan Dewa Pratoto Metek Aji Gelap Sayuta dihantam kepada Prabu Baladewa dan Anoman. Seketika Prabu Paladewa dan Anoman terlempar jauh dari tempat pertempuran dan segera kembali ke Amarta," sebutnya.

Kemudian, disisi lain di Negara Purwacarito, Pramesti Guru dan Para Dewa serta kedatangan Raden Gatotokaca yang sengaja di panggil oleh Batara Guru. Saat itu Batara Guru ingin menempati janji ketika Raden Gatotkaca berhasil membinasakan Prabu Kala Pracomo Raja Pagarwaja. Raden Gatotkaca telah merusak kayangan akibat peperangan karena lamarannya di tolak, sebab yang ingin menikahi Dewi Supraba.

"Atas kemenangan Raden Gatotkaca di kayangan, maka Batara Guru berjanji akan dinobatkan sebagai Raja Purwacarita. Penobatan Raden Gatotkaca menjadi Raja Purwacerita dengan bergelar Prabu Sumilih. Penobatan itu dihadiri dan disaksikan oleh Harjuna. Kedatangan Raden Harjuna meminta bantuan kepada Prabu Sumilih untuk melawan Prabu Naga Tawingnya dan begawan Dewa Pratolo," ungkapnya.

Singkat cerita, bantuan itu diterima oleh Raden Gatotkaca untuk bersikutu dengan Raden Harjuna untuk melawan Prabu Naga Tawingnya. Terjadilah peperangan sengit antara Prabu Naga Tawingnya dengan Prabu Sumilih, akhirnya keduanya bubar. "Dalam cerita wayang ada sebuah negara yang disebut negara Negara Astina. Karena sejarah wayang itu sendiri berasal dari India masuk ke pulau Jawa, maka cerita wayang itu telah diubah dan disesuaikan dengan Indonesia. Maka, dimana persisnya Negara Astina itu tidak diketahui secara persis," akunya.

Saturday, November 5, 2016

Festival Wayang Nusantara 2016 Indahnya Keberagaman di Sawahlunto



Ali Yusuf Walikota Sawahlunto Membuka Festival Wayang Nusantara

Sawahlunto tak pernah sepi dengan iven guna menarik wisatawan. Usai menggelar peringatan 54 tahun wafatnya pahlawan nasional Mohammad Yamin, Kota Sawahlunto Kembali menggelar Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) ke IV. Fewanusa ini merupakan program pemerintah kota Sawahlunto dalam rangka melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya tradisional kota Sawahlunto. Kegiatan ini diamanahkan pada kegiatan Festival Wayang Nusantara ke IV, kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto.

"Maksud dan tujuan kegiatan adalah dalam rangka melestarian adat istiadat dan budaya jawa tetap tumbuh dan berkembang di Kota Sawahlunto. Serta memberikan apresiasi pemerintah kepada pelaku-pelaku dan peguyuban yang giat melestarikan budaya jawa di kota sawahlunto maupun di luar kota Sawahlunto," ungkap Efriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto, Kamis, 3 November saat menyampaikan pidato pembukaan Fewanusa ke IV.

Ia melanjutkan bahwa Festival Wayang Nusantara juga untuk mempromosikan kota Sawahlunto sebagai destinasi wisata yang dipadukan dalam berbagai iven seperti Festival Wayang Nusantara ke IV. Adanya keinginan kota Sawahlunto, untuk menjadi simpulnya budaya jawa di luar Jawa sendiri. Artinya, kita menginginkan kota Sawahlunto sebagai pusat pengembangan kebudayaan jawa yang ada di Sumatera ini.

"Kegiatan ini dilaksana pada Kamis, 3-5 November 2016 di lapangan Segitiga (Lapseg) Ombilin. Peserta yang hadir pada Festival Wayang Nusantara ini yang berasal dalam provinsi Sumatera Barat, yakni Kota Sawahlunto akan menampilkan dua Dalang dan Peguyuban Wayang nantinya. Kemudian, Kabupaten Darmasraya, Kabupaten Pasaman Barat. Selanjutnya, diluar kota Sumatera Barat yang akan mengisi acara wayang Nusantara adalah dari Provinsi Kota Jogjakarta akan menampilkan wayang orang. Kemudian dari Provinsi Riau dan Provinsi Jambi. Disamping ini acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan kebolehan dari SMA N 1, MAN, Gemelan ISI Padangpanjang, Orkesra Keronjong Buana Lestari, Gamelan Kalimasada Kota Sawahlunto, Gamelan SMPN 13 Tebo, Provinsi Jambi. Selanjutnya pada sore hari juga akan diisi pertunjukan kuda kepang atau Kuda Lumping selama tiga hari berturut-turut," katanya.

Ki Bandung Sriyanto, Kurator Festival Wayang Nusantara menyebutkan bahwa adanya Festival Wayang Nusantara ke IV 2016 untuk mengingatkan kembali sejarah kota Sawahlunto merupakan kota multi etnis sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1855. Ketika itu Eropa mengalami krisis yang sangat luar biasa.  kemudian pada tahun 1862-1935 maka diutuslah peneliti dari Eropa bernama Wiliam Fande Kri, untuk meneliti alam yang ada di kota Sawahlunto.

"Hasil peneliatian tersebut membuat memyebut koto Sawahlunto menghasilan batu bara yang berkualitas terbaik. Namun, ketika itu belanda membuat cara merekrut batu bara ini di bawa ke negara Eropa (Belanda) untuk menutup krisis yang berkepanjangan terjadi ketika itu," katanya.

Ia melanjutkan bahwa untuk menghimpun pekerja paksa dengan mendatangkan dari pulau-pula di seluruh Indonesia termasuk pulau Jawa dan orang rantai pekerja paksa serta tenaga kerja kontrak. Puluhan ribu lebih pekerja ketika itu hadir di kota Sawahlunto. Singkat cerita, para pekerja tersebut agar tetap bertahan maka Belanda mempunyai strategi seperti melalui Seni budaya untuk dihidupkan.

"Agar masyarakat dari berbagai etnis ini tidak pulang dan merasa betah berada di Sawahlunto, untuk kepentinga kompeni ketika itu. Hal ini menjadi konsep merupakan langkah dan dasar pikiran Festival Wayang Nusantara di mulai pada tahun 2013 lalu kepemimpinan Amran Nur (alm). Akhirnya ivent ini menjadi agenda kota Sawahlunto hingga saat ini," katanya.

Ia menyebutkan ivent tersebut bisa berkembang dan bisa berlanjut menjadi aset di kota Sawahlunto sebagai kota Tambang berbudaya. Jika mengandalkan penjualan batu bara saja telah mengalami penurunan, maka dari itu yang menjadi moment untuk ke kembangkan adalah dari sektor kepariwisataan.

"Mudah-mudaha ivent ini memberikan sentuhan dan rasa nilai bebersamaan antara etnis yang satu dengan yang lain selalu kerjasama dan gotong royong. Meningkatkan kesatuan dan persatuan demi terwujudnya Sawahlunto sebagai kota yang menjadi percontohan bagi kota-kota lain," paparnya.

Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto mengebutkan bahwa tadi sudah dillihat bersama-sama anak-anak SMA, MAN, ISI Padangpanjang, yang memperlihatkan kebolehan untuk bermain gamelan. Hal ini merupakan bentuk kerjasama dan serta menjadi binaan yang dilakukan sehingga perlu di tumbuh kembangkan di masa-masa akan datang.

"Anak muda kota Sawahlunto untuk bermain gamelan ini sudah tidak asing lagi. Karena pemerintah kota telah menfasilitasi dengan fullday. Sehingga apa yang diinginkan oleh anak-anak dari kesemua itu di coba untuk melengkapi sarana dan prasarana termasuk budaya ini," katanya.

Ia menjelaskan bahwa budaya ini merupakan salah satu alat untuk pemersatu bangsa. Maka untuk saat sekarang ini jika tidak memiliki ke hati-hatian agar budaya tersebut tidak tergerus oleh zaman. Maka dari itu, perlu menamankan dan menumbuh kembangkan budaya tersebut dimulai dari usia dini. Hal ini bertujuan untuk membentengi diri generasi muda, agar tidak terjerumus dengan budaya asing (barat) yang akan memecah belah bangsa ini.

"Sawahlunto menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan bekas penjajarah Belanda. Kemudian pemerintah kota bertekat untuk mempromosikan budaya dan menjaga budaya," ungkapnya.

Ia melanjutkan pemerintah kota berkomitmen untuk menjalankan roda pemeritahan dengan menjaga nilai-nilai dan pelestarian budaya. Seperti menghidupkan seni budaya dan promosi budaya melalui ivent-iven yang ada di kota Sawahlunto.

"Pemain gamelan barusan berlangsung, pemainnya tidak hanya dari masyarakat jawa saja, tetapi orang Minang dan Batak juga ikut belajar memainkan gamelan musik tradisi Jawa. Begitu pula sebaliknya, masyarakay jawa juga belajar Seni tradisi Minang dan Batak. Mereka saling berbaur satu sama lain sehingga tercipta suasana harmonis di kota muliti kurtural ini," katanya.

Ali Yusuf melanjutkan bahwa semua jenis alat musik yang ada di kota Sawahlunto telah diminati oleh generasi muda. Hal ini merupakan kekayaan yang dimiliki dan harus pertahankan serta dikembangkan sehingga kota Sawahlunto menjadi destinasinya budaya di Sumatera Barat.

"Destinasi Wisata di Sumatera Barat penuh keaslian, baik adat dan budaya serta nilai-nilai budaya tetap terpelihada dan dijaga dengan baik. Maka, seluruh iven yang ada di kabupaten/kota perlu di dukung untuk mempromosikan Sumatera barat," katanya.

Ia mengebutkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mempertahankan budayanya. Maka, dari itu melalui festival wayang nusantara ini, salah satu langkah untuk mempertahankan budaya dan promosi, keberagaman budaya yang ada di kota Sawahlunto. Keberagaman tersebut tetap harmonis dan saling berdampingan ditengah masyarakat serta saling melengkapi satu sama lainnya.

"Kita bangga menjadi warga kota Sawahlunto, beragam budaya tetap terpelihara dengan baik. Hal ini tetap dijaga dan dipelihara serta sepatutnya pemerintah kota menumbuh kembangkannya. Kemudian, mempererat hubungan antar sesama serta menjaga kesatuan dan persatuan demi terwujudnya cita-cita sesuai dengan visi misi kota mewujudkan kota Wisata tambang berbudaya," ungkapnya

Saturday, October 29, 2016

Sejarah Wayang Kulit Kota Sawahlunto, Paguyuban Jawa Tampilkan Wayang

Sabtu 22 Oktober 2016 malam kerlap-kerlip lampu kendaraan melewati kota tua tambang. Ibu-ibu berjalan kaki mengendong anaknya menuju garase pada acara Paguyuban Adikarsa Raharja. Janur-janur pun telah di pasang di gerbang masuk dalam rangka perayaan penyambutan 1 Muharram 1438 Hijriyah sekaligus ulang tahun Paguyuban Adikarsa Raharja. Paguyuban Adikarsa Raharga merupakan perhimpunan masyarakat Jawa di Kota Sawahlunto. Ratusan penyungjung pun hadir menyaksikan paguyuban tersebut. Mereka tidak hanya dari warga Jawa, namun terdiri dari masyarakat kota Sawahlunto.

Kegiatan yang didahului tarian lenong Jawa untuk penyambutan tamu yang hadir Waka Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Nur Afiah, Beserta Ali Yusuf Walikota dan Wakil Waliko Sawahlunto Ismed menunju tempat duduk yang telah disediakan sembari menyaksikan kegiatan keseniaan Jawa, seperti tari, musik keroncong dan Wayang Kulit.

"Wayang merupakan semacam kesenian kebudayaan yang dikembangkan oleh agama Hindu dan Budha. Jadi, makanya di India ada wayang India, Karena penyebarannya melalui agama hindu dan budha di bawa ke Indonesia. Jadi wayang itu perkembangan diperkirakan pada abad ke dua telah Setelah Islam Masuk," ungkap Purwoko, Ketua Umum Paguyuban Adikarsa Raharja Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Sabtu 22 Oktober 2016 usai meberikan kata sambutan.

Ia menyebutkan sejarah perkembangan wayang di kota Sawahlunto sesuai perkembangan kota Sawahlunto. Sebelum Sawahlunto berkembang menjadi kota seperti saat sekarang ini, sebelumnya sepi dan orang tidak ingin tinggal di Sawahlunto. Semenjak Penjajahan Belanda barulah Sawahlunto tersebut mulai dihuni terutama karyawan tambang batubara dan adapula pekerja paksa yang dikenal dengan Orang Rantai. Lama-kelamaan terus berkembang karena banyaknya penduduk sehingga menjadi perkampungan kemudian menjadi kota yang dikenal kota Sawahlunto.

Karyawan batu bara tersebut awalnya didatangkan dari pulau Jawa dan pulau lainnya di Indonesia dalam bentuk tahanan politik, tahan kriminal. Tahanan tersebut 'dibuang' ke Sawahlunto dan dikenal dengan 'orang rantai'. Sebab para tahanan tersebut semua kaki mereka di rantai. Selain tahanan ada pula orang Jawa yang memang harus dipaksakan ke Sawahlunto menjadi buruh.

Semenjak itu, para tahanan tersebut semakin berkembang dan banyak dengan memiliki keturunan, baik anak dari orang rantai itu sendiri maupun orang Jawa yang didatangkan khusus ke Sawahlunto.

Selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda, berfikir bagaimana supaya buruh yang bekerja ke Sawahlunto bisa betah. Sehingga dipakailah sarana budaya dengan artian apa yang enak dan senang bagi karyawan tambang, maka hal itulah yang diberikan pemerintah Kolonial menghidupakan pusat kesenian. Sehingga, disetiap asrama ada Gedung Pertemuan Buruh (GPB), kemudian berobah nama menjadi Gedung Pertemuan Karyawan (GPK).

"Nah, GPK itu lah menjadi pusat menampilkan budaya salah satunya Infobox Lubang Tambang saat ini merupkan bekas GPK. Karyawan tersebut diberikan semacam sarana untuk berkesenian seperti Wayang, Keroncong, Tayub, Kuda Kepang, Reok dan sebagainya. Ada pula sarana-sarana perjudian yang ada di setiap asrama karyawan. Perjuadian tersebut seakan-anak di perbolehkan dengan tujuan bagaimana karyawan tersebut betah tinggal di Sawahlunto," jelasnya.

Purwoko, menyebutkan kesenian tersebut selalu  berkembang sehingga buruh mulai bertahan dan betah tinggal di Sawahlunto. Setelah kemerdekaan RI setelah Kolonial hengkang dari Indonesia bertepatan pada pergerakan G30/S-PKI, maka seluruh pelaku seni atau seniman dilibatkan menjadi anggota PKI. Gerakan PKI tersebut dibubarkan pada tahun 1965, maka, pelaku seni dan seniman tersebut ditahan dan diproses. Selanjutnya ada yang tidak berproses namun telah di cap sebagai PKI. Maka timbulah dari itu timbuhan rasa tidak senang dan rasa sakit hati sehingga dihancurkan segala pelaratan kesenian seperti Gemelan, karena mereka ingin menghilangkan jejak.

"pada tahun 1996-1997 terpanggil mengumpulkan dan menghimpun kembali orang Jawa keturunan serta Jawa Asli tergabung dalam suatu wadah perhimpunan Paguyuban. Ketika itulah mulai menggagas dan membangkitkan kembali seni tradisi," jelasnya singkat.

Selanjutnya, pada tahun 1998 dirinya diangkat dan dipercayakan untuk memimpin Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia Sawahlunto. Maka, mulailah dihidupkan dan dikembangkan kembali kesenian yang ada di Sawahlunto termasuk kesenian Jawa, salah satunya Wayang Kulit.

"Wayang kulit tersebut memiliki banyak tokoh dan bergantung pada cerita yang ingin disampikan ke pada penonton atau penikmat. Karena literatur dalam kesenian wayang tersebut banyak, seperti tokoh Pendawa Lima. Lima orang kakak beradik dan kelimanya laki-laki," katanya.

Wayang Kulit merupakan permainan dan tokoh atau lakon dalam cerita digambarkan dalam bentuk lempengan kulit. Orang yang memaikan wayang kulit atau pencerita disebut Dalang. Dalang tersebut berlaku sebagai sutradara dan sekaligus bercerita. Dalang harus mengerti dan faham karakter siapa yang dimainkan. Kalau misalnya, dalang memegang tokoh begatotkaca, maka dalang mengibaratkan dirinya seperti begatotkaca. kalu dalang memegang Limbung, tokoh perempuan, maka dalam harung mengibaratkan menjadi perempuan. Dalang harus memiliki multi karakter untuk menyampaikan cerita dan harus dikuasainya.

"Sama halnya dengan mendongeng. Maka, di kenal sebagai wayang kulit. Tetapi masing-masing totoh memiliki karakter sesuai dengan cerita atau naskah yang diingin disampaikan," terangnya.

Sementara itu, lanjut dia, jika ditelusuri dari sejarah kesenian wayang kulit dilihat dari alur cerita lebih banyak bercerita (Naskah) atau menyampaikan pesan kerajaan. Kemudian sesuai perkembangan zaman ketika wayang kulit itu dibawa oleh agama hindu maka banyak bercerita tentang hindu dan kerajaannya.

"Setalah Agama Islam masuk kepulau Jawa maka wayang kulit tersebut dimanfaatkan untuk berdakwa. Hal itu dikembangkan oleh Sunan Kalijogo merupakan Walisongo semenjak Islam masuk ke pulau Jawa," akunya.

Selanjutnya untuk memainkan Wayang Kulit tersebut diirigi oleh musik seperti gamelan. Gamelan itu sendiri terdiri dari dua jenis nada, yakni Pelog dan Selendro. Pelog merupakan nada-nada tertentu, tetapi nada dari nada itu tidak ada di nada Selendro. Tidak sama dengan nada musik yang lain mempunyai tangga nada seperti do, re, mi, fa, so, la, si, do. Kalau nada Selendro seperti 1-do, 2-re, 3-fa, 5-la dan 4-so tidak ada dalam Selendro.

"Alat musik yang digunakan dalam wayang kilit barmacam-macam seperti Saron, Kempul, Kendang, Gong, Gender dan seperangkay alat gamelan lainnya," tutupnya.

Sejarah Keberadaan Wayang Kulit di Sawahlunto

Sumiyar, 83, tokoh Pengrawit di Sungai Durian Kota Sawahlunto pada 18 Oktober 2010 lalu, menyebutkan bahwa Wayang Kulit di Sawahlunto pertama kali dipentaskan pada tahun 1901. Pada tahun tersebut eksistensi wayang bersamaan dengan eksisnya penambangan batubara Sawahlunto. Artinya sebelum tahun 1901 tersebut Wayang Kulit telah dikenalkan di kota Sawahlunto untuk menghibur tamu dan pekerja tambang. 

Kemudian, pada perkembangannya pewayangan di Sawahlunto terdapat banyak pelaku seni (Dalang) yang memperkenalkan wayang kepada masyarakat. Dalang Dalang yang pernah eksis dalam pelestarian dan pengembangan wayang kulit di Sawahlunto antara lain pada tahun 1901-1951 adalah Dalang Ki Raden Ardjo Purwoko. 

Kemudian, pada tahun 1951 tersebut untuk mementaskan atau mempertunjukan Wayang Dalang Ki Raden menggunakan perangkat gamelan milik Saniman. Nama gamelan serta Paguyuban tersebut adalah Paguyuban Langen Kridha Utama (LKU) yang pernah eksis di Sawahlunto. Selanjutnya, kegiatan wayang tersebut mentas setiap minggu di Ombilin Sawahlunto. 

Selanjutnya pada tahun 1930-1946, wayang dipentaskan oleh Dalang Ki Jenggot. Kemudian pada tahun 1935-1968 di pentaskan Dalang Ki Sukiman di Kampung Surian. Selanjutnya tahun 1939-1976 dipentaskan Dalang Ki Rono di kampung Surian. Pada tahun 1946-1950 dipentaskan Dalang Ki Suradi di Asrama Durian. Kemudian pada tahun 1966-1994 dipentaskan Dalang Ki Karjo di Sungai Durian. 

Selanjutnya, pada tahun 2005 hingga sekarang dipentaskan oleh Dalang Ki Slamet yang merupakan Paguyuban Bina Laras. Tahun 2008 hingga sekarang dipentaskan oleh Dalang Ki Bandung Sriyanto dari Paguyuban Bina Laras. 

Wayang Kulit kuno ini terdapat di Sungai Durian tempatnya di rumah Sajiman berjumlah 87 buah. Tiga buah Wayang Kulit Sawahlunto dengan tokoh Adipati Karno, Arjuno dan Kresno telah masuk menjadi dokumentasi di Museum Wayang Jakarta. 
Sementara itu, Ali Yusuf Walikota Sawahlunto menyebutkan bangsa yang besar adalah memperhatankan mempertahankan budaya. Sehingga kota Sawahlunto di tahun 2020 akan menjadi kota Tambang wisata dan berbudaya. Paguyuban Adikarsa Raharja berperan dalam hal mendorong pembangunan kota serta eksistensi budaya.

"Kita bangga menjadi orang sawahlunto karena beragam budaya tetap terpelihara dengan baik. Hal ini tetap perlu ditumbuh kembangkan dan menjadi persatuan serta kesatuan kota akan terwujud sesuai dengan apa yang dicita-citakan menjadikan kota Sawahlunto menjadi Kota Tambang Berbudaya," ungkapnya.