Showing posts with label Pertambangan. Show all posts
Showing posts with label Pertambangan. Show all posts

Friday, April 7, 2017

Bukit Asam Jadikan Tambang Batubara Bawah Tanah UPO Objek Wisata

PT Bukit Asam-Unit Pertambangan Ombilin (PTBA-UPO), Sawahlunto, Sumatera Barat, jadikan Tambang Batubara Bawah Tanah Sawahluwung menjadi objek wisata dan tempat pendidikan bagi perguruan tinggi. Objek wisata tambang dicangkan Semester II di 2017 sudah dapat direalisasi. Objek wisata Tambang disiapkan tanpa menghambat proses penambangan batu bara dilakukan pihak perusahaan. Sehingga pengunjung bisa secara langsung mencoba proses penambangan batu bawah tanah. 

"Kami tengah menata lobang tambah bawah tanah Sawahluwung untuk menjadi objek wisata, museum sekaligus tempat pendidikan perguruan tinggi. Pengunjung bisa secara langsung melakukan penambangan dengan langsung. Karena wisata tambang tidak hanya sekedar melihat lokasi penambangan saja, tapi pengunjung bisa mencoba langsung dengan memakai atribut dan peralatan penambangan yang ada," ujar General Manajer (GM) PT Bukit Asam-Unit Pertambangan Ombilin (PTBA-UPO) Eko Budi Saputro kepada Penulis, Kamis, 6 April 2017.

Ia mengatakan bahwa dijadikan Tambang Bawah Tanah Sawahluwung menjadi objek wisata dan museum serta tempat pendidikan tanpa menghambat proses penambangan batubara yang dilakukan perusahaan. Perusahaan sudah merancang, aktifitas penambangan tetap dilaksanakan di hari kerja Senin hingga Kamis. Sedangkan Jumat, Sabtu dan Minggu dibuka untuk wisatawan dan pendidikan.

"Tidak hanya ilmu teori saja yang didapatkan pengunjung untuk datang ke objek wisata tambang. Tetapi pengunjung bisa melakukan aktifitas penambangan layaknya pekerja tambang. Sehingga pengunjung bisa menikmati wisata mengetahui cara menambang bati bara. Kemudian, mengetahui sefti penambangan batu bara dalam lubang tambang," ujarnya.

Dikemukakan General Manajer PTBA-UPO, perusahaan menjadikan lobang tambang sepanjang 1,5 kilometer untuk tempat berwisata dan sebagai tempat pendidikan akan dikelola oleh Yayasan. "Wisatawan dapat merasakan langsung menjadi penambang batubara di tambang bawah tanah. Direncanakan Smester II di 2017 sudah dapat direalisasi," paparnya.

Ia menyebutkan bahwa nantinya juga akan ditata areal lobang tambang bawah tanah di Sawahluwung tempat berjualan souvenir. Souvenir unik, kerajinan ukiran dari batubara. Pengelolaan sebagai objek wisata dan museum serta tempat pendidikan diserahkan pada yayasan.

"Sebagai tempat pendidikan, PT Bukit Asam juga sudah menjalin kerjasama dengan Universitas Andalas (Unand) Padang. Bahkan, saat ini mahasiswa fakultas teknik perguruan tinggi dari luar Sumatera Barat pun sudah ada yang menjadikan Tambang Bawah Tanah PTBA-UPO sebagai tempat pendidikan," tutupnya.

Thursday, March 30, 2017

Belum Diketahui Penyebab Kecelakaan Tambang BMK 34

Kapolres Sawahlunto, AKBP Riyadi Nugroho
Ledakan tambang dalam batu bara CV Bara Mitra Kencana (BMK) 34 Sawahlunto, Rabu 29 Maret 2017 pukul 09.20 di Parambahan Kecamatan Talawi dilakukan investigasi. Kecelakaam tambang tersebut diduga disebabkan Air Blast merupakan suatu ruang tidak ada pergantian udara sehingga menimbulkan panas dilakukan penyelidikan dari Direktoran Pengamanan Proyek Tambang, Provinsi Sumatera Barat. 

Tim yang melakukan investigasi dan penyelidikan penyebab ledakan tambang CV BMK 34 Ada sebanyak 7 orang. Tim yang diturunkan tersebut untuk melakukan investigasi penyebab kecelakaan tambang tersebut. Tim investihasi dari Derektorat Intelkam Polda Sumbar, Diserse Krimsus, Direktorat Pengamanan Proyek Pertambangan dan Didampingi Kepala Teknis Tambang CV BMK.

Polres Sawahlunto, AKBP Riyadi Nugroho menyebutkan bahwa ada sebanyak 7 orang tim yang melakukan penyelidikan dan investigasi ke lokasi kejadian tambang dalam CV BMK 34. Namun, belum ada hasil penyebab kecelakaan tambang tersebut.

"Kita hanya melakukam pengamanan terhadap lokasi kejadian untuk kepentingsn penyidikan. Kemudian, yang berhak untuk memasuki areal tambang dalam adalah dari Direktorat tambang. Maka, setelah ada hasil dari direktorst tambang yang membolehkan kita untuk masuk lobang tambang dalam, barulah kota masuk dan bisa melakukan penyelidikan," Ujar Kapolres Sawahlunto AKBP Riyadi Nugroho, kepada Penulis Kamis, 30 Maret 2017.

Karyawan Tambang CV BMK meninjau lokasi kejadian
Ia menyebutkan bahwa untuk penyelidikan telah dilakukan pemeriksaan terhadap 7 orang saksi. Kemudian, pemeriksaan saksi dilakukan secara maraton terhadap ke 20 orang saksi tersebut. Namun, saksi utamannya adalah korban yang mengalami luka bakar.

"Kita juga akan memintai keterangan saksi kedua korban yang mengalami luka bakar tersebut. Karena mereka lebih mengetahui kejadian tersebut, apakah memang disebabkan ledakan tambang atau tidak. Namun, berdasarkan keterangan saksi korban mengalami luka bakar," katanya

Ia melanjutkan bahwa selain memintai keterangan saksi juga dilakukan pembersihan lokasi lobang tambang. Kemduan, barang bukti yang ada dalam belum bisa di ambil karena menyangkut dengan keselamatan. 

"Sewaktu dilakukan pengujian menggunakan detektor oksigen dalam lubang berkurang. Sewaktu membersihkan material dalam lobang dua orang anggota kita mengalami kekurangan oksigen," katanya. 

Ia melanjutkan, hingga saat ini masih dilakukan penyelidikan penyebab kecelakaan tambang tersebut dan belum bisa dipastikan sampai kapan. Karena berbicaha hukum adalah berbicara kepastian untuk menyetahui penyebab kecelakaan tambang tersebut. Karena dua orang korban tersebut bernama Ridwan, 38, warga Desa Lunto Barat Kecamatan Lembah Segar dan Yusrizal 37 warga Desa Kumbayau Kecamatan Talawi membuat lobang baru sedalam 20 meter dari cabang lubang utama.  

"Jadi, dari mulut lobang sampai ke persimpanagan lubang sedalam 140 meter. Kemudian cabang sekitar 20 meter yang menyebabkan kecelakaan tambamg itu terjadi. Maka, kita terus melakukam memeriksaan terhadap saksi, apakan memang terjadi ledakan," ungkapnya.

Seorang Pekerja Tambang Tertimpa Napar 

Disisi lain, seorang pekerja tambang batu bara tertimpa Napar lobang batu bara di lokasi perusahaan tambang PT Alied Indo Coal (AIC) Jaya Sawahlunto. Korban dilarikan ke IGD RSUD Kota Sawahlunto, Kamis, 30 Maret 2017 pukul 15.30 dalam kondisi kritis. Korban akhirnya meninggal dunia pukul 16.00 setelah mendapat perawatan medis dari rumah sakit.

Sore itu, RSUD Sawahlunto ramai pengunjung yang menyaksikan korban kecelakaan tambang. Sementara, di lorong bagian samping kiri IGD Sawahlunto, terlihat rekan kerja korban duduk berkumpul dengan menunggu proses lanjutan dari pihak rumah sakit. Rekan kerja korban tampak tertutup dan tidak seorang pun rekan kerja korban yang bersedia memberikan keterangan, terkait kejadian kecelakaan tambang tersebut. 

"Korban tertimpa benda keras pada bagian kepala yang mengakibatkan kondisi korban kritis. Korban mengalami luka pada bagian tengkorak kepala bagian belakang, sehingga nyawa korban tidak tertolong," Ungkap dr. Lusi Dewina Kabid Pelayanan, RSUD Kota Sawahlunto, kepada Penulis. 

Ia menyebutkan bahwa korban bernama Ruslan, 28, tinggal di Talawi asal Nias dilarikan ke IGD Sawahlunto dengan mobil operasional tambang. "Korban mengalami trauma kepala sehingga nyawa korban tidak tertolong," katanya. 

Kapolres Sawahlunto, AKBP Riyadi Nugroho menyebutkan bahwa tim Reskrim telah berada di lokasi kejadian untuk melakukan pengamanan lokasi kejadian lokasi PT Alied Indo Coal (AIC) Sawahlunto. Namun, belum diketahui penyebab pasti kejadian tersebut. Berdasarkan keterangan dari dokter, korban meninggal karena mengalami trouma di kepala. 

"Berdasarksn informasi yang diterima saya langsung RSUD Sawahlunto karena tidak berada jauh dari rumah. Kita akan kelokasi untuk melakukan penyelidikan ke dilokasi kejadian di areal tambang PT AIC," ujarnya.


Tuesday, February 28, 2017

Menteri BUMN Tinjau Lokasi Pasca Tambang Terbuka

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto
Paparkan Lokasi Pasca Tambang Terbuka
Kepada Menteri Rini Soemarno
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia, Rini Soemarno Mendukung pembangunan Pariwisata Kota Sawahlunto. Perhatian tersebut telah ditunggu pemerintah kota sejak tiga tahun kedatangan Menteri BUMN, Rini Soemarno terjawab sudah. Sebab, Pengembangan Sawahlunto, Sumatera Barat, sangat berkaitan erat dengan beberapa perusahaan plat merah yakni PT. KAI dan PT. Bukit Asam. Hal itu diharapkan dapat didukung oleh BUMN dalam menjadikan Sawahlunto lebih maju dari yang sekarang.

Agenda Mentri BUMN menjelajah kota Sawahlunto selama satu jam saja, namun semangat Walikota dalam memperkenalkan Sawahlunto lebih dalam sehingga tingkat penasaran, mentri mengubah jadwalnya menjadi tiga jam di kota Sawahlunto.

Taman Satwa Kandih menjadikan langkah pertama Rini Soemarno menginjakkan kaki di Kota Wisata Tambang. Setelah berjabat tangan, Ali Yusuf langsung mengalungkan kain songket asli tenun Silungkang sembari memperkenalkan songket yang telah dipakai beberapa orang pemuka Indonesia.

"Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla juga pernah memakai kain songket ini buk. Sekarang kami bangga sekali ibu bersedia memakainya juga," sebut Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto, Sabtu, 25 Februari 2017.

Rini Soemarno, Menteri BUMN
Menuju Lubang Mbah Soero Objek Wisata Tambang Dalam
Begitu keluar dari Taman Satwa, Rini Sumarno mengitari areal Camping Ground yang dapat menampung kegiatan di alam terbuka dengan ratusan tenda, Lapangan Pacuan Kuda Kandi yang kini menjadi pacuan terbesar di Indonesia.

Begitu juga dengan Kebun Buah, kawasan yang dulunya bekas tambang dengan hamparan cadas, kini justru hijau dengan pohon buah. Rini juga melihat langsung arena Road Race yang menjadi tempat kaum muda melepaskan hobi belapan kuda besi.

Usai menikmati kawasan kandis, memperlihatkan kawasan bekas tambang tersebut, danau kandis, lapangan pacu kuda, arena road race, camping ground dan taman buah, Rini Soemarno beserta rombongan bertolak ke Puncak Cemara.

Beranjak ke Pusat Kota, rini yang didampingi Ali Yusuf beralih menuju lubang tambang mbah suro dengan memakai peralatan lengkap tambang. Selain museum dan kantor PT.BA uga disempatkan Rini untuk menyaksikan.

Selain itu Rini Soemarno juga memberikan pernyataan kepada Walikota untuk mencarikan sponsorship dalam pembangunan hotel sekelas Hotel Indonesia dan The Hill, serta pemanfaatan bekas kantor PT. BA.

Rini Soemarno menyebutkan bahwa Walikota sawahlunto sangat bersemangat menghidupkan kembali kota tambang menjadi satu sentra ekonomi yang dulunya tambang, namun sekarang tambangnya sudah tidak ada lagi. Tetapi bagaimana betul-betul kota ini bisa berkembang dan memberikan kemakmuran kepada rakyatnya.

“saya sangat senak pak wali itu sangat kreatif dan bersemangat utuk mencari jalan-jalan bagaimana memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Saya rasa ini sangat penting dan kami sangat mendukung bagaimana ini betul betul menjadi salah satu objek wisata untuk di Sumbar, karena sejarahnya itu sangat mendalam, dalam artian sejarah pertambangan dari masa penjajahan Belanda hingga sekarang. Hal ini bagus menjadi pembelajaran kita untu kedepan sehingga anak cucu kita mengetahui sejarah nenek moyang,” katanya.

Pengetahuan sejarah tersebut maka, diharapkan anak cucu kita kelak akan melindungi negarannya, jangan sampai hal hal seperti ini terulang kembali. Sebagaimana ini betul betul menjaga kekayaan indonesia dan untuk indonesia tentunya.

“saya berharap bahwa kota sawahlunto ini dan BMUN sebagaimana bisa bersinergi dan bisa membantu sawahlunto ini sehingga betul betul bisa menjadi kota percontohan untuk bekas daerah pertambangan yang dapat hidup kembali,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa banyak negara, kalau kota tambang jika tambangnya sudah habis, maka kota tersebut menjadi mati, orangnya ikut mati semua.

“Nah, saya rasa ini merupakan percontohan yang sangat bagus dan kita juga, ternyata kota tambang yang sudah mati masih bisa hidup kembali. Saya ingin membantu pak wali. Insya allah dengan tujuan kota ini untuk menjadikan kota sawahlunto dengan tujuan yang cukup baik. Komitmen saya membantu pak wali, Sinergi BUMN untuk merevitalisasi silo menjadi salah satu sentra wisata,” paparnya.

Monday, September 26, 2016

Menelusuri Danau Biru di Sawahlunto Bikin Penasaran, Keluhkan Pungutan

Danau Biru Kota Tambang Sawahlunto
Lewat postingan di media sosial (medsos) objek wisata Danau Biru di kawasan Parambahan, Kecamatan Talawi, Sawahlunto jadi booming. Kini objek wisata tersebunyi ini menjadi incaran wisatawan lokal maupun luar daerah. Bagaimana kondisinya?

Jalan menuju Danau Biru yang terjal dan berbukitan serta berliku-liku. Jalan tanah kuning yang berdebu dengan jarak tempuh dari Simpang Napa, Desa Tumpuak Tangah Kecamatan Talawi menuju Danau Biru memakan waktu sekitar 30 menit. Jalan yang berbatuan itu merupakan jalan mobil fuso mengangkut batu bara. Akibatnya rumput dan pepohonan yang ada disepanjang jalan telah menguning di baluti debu.

Danau Biru telah menjadi incaran dari masyarakat, baik kota maupun di luar kota Sawahlunto. Meskipun jalan menuju danau biru tersebut melewati pendakian dan bebatuan serta licin, apalagi saat musim hujan jalan akan menjadi becek tentunya.

Meskupun untuk masuk ke lokasi Danau Biru, terdapat tiga kali pungutan diantaranya pada pintu satu ada pungutan berupa sumbangan dari pemuda setempat. Kemudian, pintu dua retribusi dengan tiket per orang dikenakan Rp5000. Selanjutnya, sesampai dilokasi, pengunjung juga akan dikenakan biaya parkir kendaraan roda dua sebanayak Rp5000, kendaraan roda empat Rp10.000 tampa karcis.

Hal itu akan tergantikan jika sampai di puncak bukit timbunan penambang. Sementara, dibawah lereng bukit pengunjung dapat melihat danau berwarna biru. Pengunjung bisa melihat secara keseluruhan danau biru tersebut. Untuk sampai ke bibir danai buru, pengunjung harus menuruni anak tangga yang yang dipagar dengan kayu seadanya untuk bergantungan. Sebab, untuk sampai ke bibir danau pengunjung turun sejauh 50 mebawah.

Asrul, 45, pengunjung asal Solok mengatakan bahwa dirinya sengaja datang dari Solok untuk datang, melihat objek bisata danau biru yang banyak diperbincangkan orang. "Saya penasaran saja dengan danau biru ini. Saya mengetahui danau biru ini melalui media sosial. Kemudian, anak-anak juga mengajak datang menyaksikan langsung danau biru ini, karena mereka telah mengetahui lebih duluan tentang danau biru melalui medsos. Karena jarak Solok dengan Sawahlunto dekat, maka kita datang kesini rame-rame beserta anak dan istri," katanya.

Ia menyebutkan bahwa, objek wisata yang bagus tersebut masih terdapat kekurangan seperti kamar kecil. Selain itu tidak adanya perhatian dari pemerintah baik tata kelola objek wisata danau biru, termasuk malah tiket masuk dan pengelola parkir. "Akses jalan menuju kesini pun juga tidak mendukung, karena berkabut. Kemudian, parkir tidak ada karcis. Bibir danau biru yang curam dan tidak ada pembatas juga sangat mengancam keselamatan. Jika ini dikelola dengan baik tentu harapannya dapat dinikmati oleh semua kalangan. Karena saat ini kesannya hanya di nikmati oleh muda-mudi dan remaja. Kemudian yang hibby atventur dan tantangan saja," ungkapnya.

Sementara itu, ungkapan senada juga disampaikan oleh Deswi, 23, Asal Darmasraya mengatakan bahwa datang bersama tiga temannya yang lain karena penasaran dengan danau biru. "Saya penasaran aja dengan danau biru karena banyak di perbincangkan orang baik yang telah pernah datang ke sini, maupun mereka yang hanya mendapatkan informasi dari sosmed seperti facebook, twiter dan lainnya," katanya.

Ia menyebutkan bahwa pemandangan yang indah dan alamnya sejuh karena berada diketinggian sehingga dapat menikmati hembusan angin yang kecang. "Danaunya indah dan bagus. Cocok untuk selfi bersama teman-teman. Tapi, saya kapok. Saya tidak ingin lagi datang ke sini, karena jalannya yang jauh dan terjal, berliku-liku serta berkelok. Bebatuan yang besar sehingga mengocok perut. Makanya, moment ini harus di abadikan. Masuk, kesini banyak pula pungutan," ungkapnya.

Pedagang dikawasan Tambang, Tika, 23, warga Desa Tumpuk Tangah, Dusun Bukik obang, mengatakan bahwa ia berjualan di lokasi danau biru orang menyebutnya Batu Taye, sejak sembilan bulan lalu. Galian tambang ini telah berlangsung sejak tahun 1984 dan sampai tahun 1998 dan telah dihentikan penggalian. Sebab, meskipun batu bara masih banyak terdapat di penggalian tersebut namun penggalian tidak dapat dilanjutkan karena ada mata air. Sehingga air tidak dapat di kendalikan, kemudian penggalian ditinggalkan.

"Sebetulnya dulu danau galian tambang ini sangat luas, namun sebagian telah ditimbun untuk membangun jalan. Karena galian melanjutkan galian disebelahnya, maka danau ini menjadi lebih kecil," ungkap Tika Pedagang dilokasi Danau Biru kepada penulis, Sabtu, 17 September 2016.

Ia menyebutkan bahwa Danau Biru telah menjadi incaran dari masyarakat, baik kota maupun di luar kota Sawahlunto. "Banyak pengunjung yang datang dari luar kota dan bahkan di luar Sumatera barat. Pengunjung datang ke danau biru karena mereka penasaran dan ingin melihat secara langsung danau biru tersebut," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pengunjung banyak datang pada saat libur kerja dan akhir pekan. Sabtu dan minggu banyak pengunjung yang datang dari dalam dan luar kota untuk menikmati keindahan danau biru. "Kalau hari lebaran bisa jual beli per hari mencapai Rp 900 ribu, kalau hari biasa sabtu minggu berkisar Rp500 ribu perhari. Jadi, sejak berjualan ditempat ini bisa menambah penghasilan keluarga. Yang berjualan disini sebetulnya mama, saya cuma membantu," ungkapnya.

Ia mengaku berjualan dilokasi danau biru tersebut tidak ada larangan dari pihak pengelola tambang. Namun ada batas-batas tertentu yang tidak dibolehkan oleh pihak PT seperti membawa kendaraan melewati jalan menuju bibir danau. Karena kendaraan penambang melewati jalan tersebut. Kecuali dengan berjalan kaki.

"Hingga saat ini belum ada larangan dari pihak PT untuk berjualan di sekitaran danau biru. Berjualan di kawasan ini pula tidak ada pungutan biaya dari pengelola tambang. Karena lokasi ini merupakan tanah ulayat masyarakat," katanya.

Zulkifli, Kepada Desa Tumpuk Tangah Kecamatan Talawi mengatakan bahwa saat ini danau biru merupakan suatu obejek wisata baru. Lokasi Danau Biru bekas galian tambang tersebut merupakan isin usaha pertambangan PT AIied Indo Coal (AIC) Jaya. "Karena masih dalam IUP PT AIC pemda tidak bisa mengelola danau biru tersebut menjadi objek wisata baru di Kota Sawahlunto. Kemudian, jika ada pungutan untuk masuk kelokasi wisata tambang tersebut merupakan pungutan ilegal," katanya.

Ia menyebutkan bahwa danau tersebut terbentuk karena bekas galian tambang batu bara dan telah ditinggalkan pada tahun 1998 lalu. "Berdasarkan informasi yang kita terima IUP PT AIC telah diperpanjang hingga tahun 2021. Jadi pemda tidak bisa mengelola danau biru tersebut menjadi objek wisata. Disamping itu, tanah tersebut merupakan tanah kehutanan. Jadi apabila IUP PT tersebut habis tanah tersebut kembali kekehutanan. Belum bisa langsung di kelola oleh pemda, baru dari kehutanan kepada pemda. Masih jauh prosesnya lagi, jika pemda ingin mengelola danau biru tersebut menjadi obejek wisata," terangnya.

Bekas galian tambang batubara PT AIC Jaya berubah menjadi danau berwarna biru. Bekas tambang batubara tersebut saat ini masih dalam lingkup IUP PT AIC yang telah ditinggalkan karena tidak lagi memproduksi batubara di kawasan tersebut.

Termpisah Jepri, Pimpinan PT AIC Jaya saat dihubungi Selasa, 20 September 2016 mengatakan bahwa pihaknya telah memasang batas-batas dan pelarangan untuk tidak masuk ke lokasi tambang. "Pengunjung diperbolehkan melihat lokasi danau biru, namun tidak dibenarkan masuk ke areal tambang khususnya danau biru. Maka dari itu, pihaknya telah memasang plang larangan untuk tidak masuk ke areal tambang," ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa pengunjung sebetulnya tidak dibenarkan masuk ke areal tambang khususnya danau biru. "Karena banyak pengunjung yang membandel dan masuk ke areal tambang makanya plang pemberitahuan dipasang disekitaran lokasi. Kerena, areal tambang tersebut juga membahayakan bagi keselamatan pengunjung," katanya.

Selanjutnya, untuk pengembangan dan revitalisasi tambang tersebut menjadi objek wisata, kebijakannya langsung dari pusat. "Kita tidak berani untuk melakukan revitalisasi danau biru tersebut menjadi tempat wisata. Jika pemerintah daerah ingin mengelola danau biru tersebut untuk direvitalisasi maka, pengurusannya langsung ke pusat," katanya.

Ia mengaku belum mengetahui secara untuk detail bekastambang tersebut. Karena keberadaannya di kota Sawahlunto baru, sehingga belum mengetahui berapa luas dan kedalaman danau bekas tambang tersebut. "Lokasi danau biru memang masih dalam IUP PT AIC Jaya sebagian. Tetapi untuk revitalisasi kita belum mengetahui, karena bergantung pada kebijakan pusat," katanya.

Sementara itu, Meddy Azhar Manager ADM, mengatakan bahwa danau Biru yang menjadi incaran banyak wisatawan baik dalam maupun luar kota. "danau biru yang disebut masyarakat, sebenarnya kami menamakan Kolam. Nah, kolam ini sendiri telah ada sejak bekerja. Namum yang lebih mengetahui diteilnya adalah Kepala Teknis Tambang (KTT)," akunya.

Galian Tambang Batubara PT AIC Jaya, menjadi danau karena galian tersebut dipenuhi air saat hujan sehingga berbentuk danau. Karena pengaruh endapan air saat hujan dan kadar asam air yang tinggi, sehingga berpengaruh pada cahaya pantulan matahari terhadap warna danau tersebut berubah menjadi biru. Sehingga masyarakat sekitar menyebutnya sebagai danau biru.

"Danau biru tersebut saat ini telah menjadi ikon dan obejek wisata bagi kota Sawahlunto. Wisata danau biru tersebut telah menjadi incaran masyarakat kota Sawahlunto dan bahkan di luar sumatera barat untuk datang berkunjung ke objek wisata baru tersebut. Meskipun demikian, obejek wisata baru tersebut tidak didukung sepenuhnya oleh pemerintah kota Sawahlunto karena sekaitan dengan izin IUP pertambangan PT AIC," ungkap Rovanly Abdam, Sekda Kota Sawahlunto.

Ia menjelaskan bahwa untuk revitalisasi dan upaya pendukungan pemerintah untuk menjadikan wisata baru danau biru dikembangkan menjadi wisata yang representataif dan potensial. Pemerintah sebetulnya ingin mengembangkan objek wisata danau biru tersebut, namun lokasi danau biru tersebut berada dalam wilayah izin pertambangan PT AIC. Sehingga pemerintah kota tidak menyembangkan objek wisata danau biru tersebut karena masih dalam IUP PT AIC. Maka, untuk melakukan revitalisasi terhadap danau biru tersebut maka IUP PT AIC harus dilepaskan terlebih dahulu.

Meskipun saat dikawasan Danau Biru tersebut tidak ada lagi aktifitas menambang, namum secara hukum danau biru tersebut berada dalam IUP PT AIC. Jadi, tentu pemda belum bisa mengembangkan lansung kawasan wisata Danau Biru tersebut. Walaupun manyak masyarakat yang datang berkunjung menyaksikan langsung danau biru tersebut.

Meskipun demikian, kedepan pemerintah kota akan menciutkan wilayah pertambangan tersebut khususnya dilokasi Danau Biru untuk direvitalisasi. Hal itu bergantung pada kapan masa berlaku dan habis masa izin PT AIC tersebut. Maka, untuk perizinan pertambangan saat ini dikeluarkan langsung dari provinsi sehingga pemko belum mengetahui kapan izin PT AIC tersebut habis.

"Untuk dilakukan revitalisasi tersebut terkendala izin usaha pertambangan PT AIC. Karena danau biru tersebut berada di wilayah izin PT AIC tersebut," terangnya.

Sementara itu, sejak izin PT AIC dikeluarkan maka kawasan tersebut menjadi wilayah PT AIC tersebut. Namun, saat ini barangkali ditinggalkan atau justru tidak dipakai lagi, sehingga terjadi tumpukan air dan terlihat eseperti danau. Tetapi jika diciutkan izinnya nanti tentu pemko bisa melakukan perbaikan dan pembenahan terhadap lokasi wisata danau biru tersebut.

Saat ini telah banyak masyarakat yang berdatangan ke danau biru tersebut untuk berwisata, meskipun jalannya berdebu namun pengunjung tetap saja ramai. Jalan menuju lokasi danau biru tersebut dibangun oleh PT AIC untuk pengangkut batu bara dimuali dari Simpang Bukit Bual sampai Bukit Napa dengan jalur yang besar.

Kemudian, jalan tersaat ini dilakukan pembenahan dan pengaspalan oleh Pemprov, karena jalan tersebut merupakan jalan Provinsi. Maka, saat ini jalan tersebut akan di aspal sampai ke Bukit Bual Tanjung Palu Sijunjung.


"Makanya, pemda belum bisa mengekpos wisata baru Danau Biru tersebut karena masih dalam kawasan izin usaha pertambangan PT AIC. Jika, masyarakat yang datang berwisata maka ke danau biru tersebut adanya punyutan dan segalamacamnya akan menjadi tanggung jawab PT AIC. Jika wisata datang berkunjung, maka adalah ilegal yang dilakukan karena masih dalam izin PT tersebut," katanya.