Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Sunday, November 12, 2017

Paguyuban Kridalaras Kabupaten Dharmasraya Tampilkan Wayang Kulit Cerita Pondowo Songo

Melalui Wayang Pertahankan Bhineka Tunggal Ika

"Kita hidup dari latar belakang adat budaya yang berbeda namun tetap membangun semangat kebersamaan dalam Bhineka Tunggal Ika. Kisa ini disampaikan dalam cerita Wayang Kulit Pondowo Songo, seperti apa kisahnya,"



Jumat, 10 November 2017 malam lapangan segitiga Sawahlunto mulai ramai dikunjungi penonton. Ibu-ibu membimbing anaknya menuju kursi duduk yang telah disediakan. Ada pula rombongan yang datang dengan penuh basa basi mencari tempat duduk. Ada pula yang sengaja datang sendiri menyaksikan pertunjukan wayang. 

Seperti biasa, setiap kegiatan dan iven dikota tua ini selalu ramai pengunjung yang menonton. Kegiatan dilaksanakan taman bermain lapangan segitiga selalu menyorot perhatian pengunjung kota, sebab, saban sebentar iven kota dilaksanakan di Lapangan Segitiga, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.  

Paguyuban Kridalaras, Kabupaten Dharmasraya, Alat Blok A, Desa Koto Laweh Kecamatan Koto Besar Kabupaten Dharmasraya tampil dalam iven Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) 2017 ke V Kota Sawahlunto. Group yang terbentuk sejak lama ini menampilkan Wayang Kulit dengan cerita 'Pondowo Songo' atau Pandawa Sembilan dengan Dalang Jumari, 67.

Jumari menyebutkan bahwa kisah 'Pondowo Songo' tersebut seharusnya Pondowo itu ada lima. Sementara 'Songo' artinya sembilan. Jadi, dalam lakonnya cerita Pondowo Songo itu dengan ditambah 'Anoman, Molodewa, Semar, dan Kresno. Tambahkan empat tokoh wayang tersebut menjadi sembilan atau dikenal dengan Pondowo Songo. 

Cerita 'Pondowo Songo' lebih memfokuskan pada persatuan dan kesatuan. Jadi, dalam kisah tersebut ada sematam konflik dan perseteruan sehingga berujung pada dendam. Sehingga, Semar dan Molodewa, kemudian antara Anoman dan Molodewa yang berselisih sehingga ancaman bahwa Anoman akan dibunuh. 

Adanya ancaman pembunuhan Anoman terasbut maka Sang Yang Wenang adalah 'Dewa Alang-alang Komiter' datang untuk menyatukan yang berselisih paham dan bermusuhan. Jangan sampai permusuhan terjadi hingga berlarut larut hingga perujung pada peperangan dan pembunuhan. Maka, Perselisihan tersebut didamaikan dan tidak adalagi dendam sehingga tetap menjaga kesatuan dan persatuan. 

Sehingga Lima Pendowo Lima itu ditambah empat (Anoman, Molodewa, Seman dan Kreano) menjadi sembilan tersebut harus menyatu. Jangan sampai berpecah belah. Karena Padowo Songo itu terdiri dari latar belakang adat budaya yang berbeda, artinya lebih menekankan pada Bhineka Tunggal Ika.

Sementara itu, lanjut Jumari, Sejarah Perkembangan Wayang di Kabupaten Dharmasraya telah ada sejak lama meskipun asal muasal Wayang berasal dari pulau Jawa. Wayang sebelumnya berkembang di pulau Jawa kemudian masuk ke Kabupaten Dharmasraya melalui Tran dan penyebarannya ke Sumatera, seperti Padang, Pekanbaru, Palembang, dan Provinsi Jambi, dan sudah dikenal luas oleh masyarakat. 

Kemudian di Dharmasraya sendiri, seni Wayang ditampilkan untuk mengisi acara tahunan pada bulan Suro. Selain itu, Wayang juga ditampilkan pada acara pesta pernikahan. Namun saat ini peminat sudah mulai berkurang untuk mengisi acara pesta pernikahan, karena jemputan yang terlalu besar. Sebab, untuk jemputan Wayang di Dharmasraya sebesar Rp15 hingga Rp20 juta. Meskipun demikian jemput ini relatif murah di bandingkan dengan daerah lain dijemput hingga Rp40 juta. 

Selanjutnya, untuk mempertahankan seni budaya tersebut dukungan dari pemerintah daerah masih kurang dan boleh dikatakan tidak ada sama sekali. Meskipun tidak ada bantuan pemerintah, Pedalang Wayang itu ada perkumpulan yang dinamakan dengan Pepadi Indonesia, untuk wilayah Sumbar diketua oleh Sriyanto. Pepadi Indonesia sudah berusaha bagaimana Wayang tetap eksis dan dilestarikan serta menyenangkan penonton karena Wayang banyak diminati oleh masyarakat. 

Untuk dukungan pembelian peralatan dan biaya latihan dari pemerintah hampir tidak ada sama sekali. Meskipun demikian dengan tekat kuat tetap menjaga budaya dan melestarikannya. Tetap semangat berlatih seni budaya terutama Wayang. Kemudian peralatan yang dimiliki seperti Wayang sudah ada, namun alat musik yang telah mulai rusak seperti Gamelan. 

Sehingga biaya latihan dan pembelian alat dari dana pribadi serta swadaya, sebab, biaya latihan tidak terlalu mahal. Hanya saja yang membutuhkan biaya besar tersebut seperti mengadakan pagelaran dan pengadaan peralatan musik. Sebab, soal latihan tentu tidak mengeluarkan biaya banyak, hanya sekadar membeli minum dan snack dan tidak terlalu berat. 

Harapan kedepan Wayang merupakan seni budaya peninggalan nenek moyang dan UNESCO pun sudah menetapkan bahwa sebagai warisan budaya dunia. Sebagai budaya leluhur dan tertua, seharusnya dilestarikan. Maka, untuk mengapresiasi penetapan kesenian wayang sebagai warisan dunia oleh UNESCO PBB perlu dilestarikan agar tidak menjadi sejarah. Sehingga Hari Wayang Dunia yang diperingati tanggal 7 November setiap tahunnya. Kemudian, tentu ada wadah untuk pagelaran yang diadakan untuk mempertahankan seni wayang, seperti Festival Wayang Nusantara di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Sawahlunto sangat luar biasa dengan adanya Fewanusa ini sehingga orang menjadi tahu dan mengenal Wayang. Hanya saja Wayang masih memakai bahasa Jawa dan hanya dimengerti oleh sebagaian orang saja. Mestinya Pedalang harus membahasakan dengan bahasa Indonesia sebahagian agar mudah dimengerti orang. Tetapi, untuk membahasakan ke bahasa Indonesia tingkat kesulitan sangat tinggi dan susah untuk mengartikannya kedalam bahasa Indonesia. Tetapi orang lain harus tahu bahwa Wayang itu apa dan seharusnya disampaikan meski pun dalam bahasa Jawa.

Selain itu, untuk melestarikan seni budaya tersebut group Wayang Kabupaten Dharmasraya berencana akan membeli Gamelan di Jawa untuk mengembangkan Wayang. Kemudian, menyiapkan generasi muda untuk mencintai budaya melalui Wayang. Sehingga tahun ikut kegiatan ini tampil para pemainnya adalah anak anak. Namun, pada Fewanusa tahun tidak menapilkan anak-anak karena waktu yang mendesak. Jika kegiatan ini tidak mendesak maka anak anak juga yang akan dilibatkan bermain Wayang. Namun, karena waktu yang mendesak, terpaksa pemainnya orang dewasa.

"Malam ini sebagai Perawita (Pemukul) alat perkusi musik Gamelan ada 15 orang dan Sinden dua orang. Saya sendiri menjadi Dalang sejak umur 22 tahun dan masih bujangan. Sekarang umur saya telah 67 tahun," katanya. 





Friday, November 10, 2017

Festival Wayang Nusantara 2017 Meningkatkan Wisata dan Sektor Ekonomi

Festival Wayang Nusantara (Fewanusa) 2017 ke V Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, merupakan kota tujuan utama pariwisata di Provinsi Sumatera Barat sehingga tercapai visi 'Sawahlunto Tahun 2020 menjadi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya'. Salah satu upaya peningkatan kunjungan wisata ke Kota Sawahlunto serta sebagai bentuk pengembangan dan pelestarian warisan budaya Kota Sawahlunto adalah menggelar iven. 

"Pelaksanaan Festival Wayang Nusantara ini dilaksanakan satu kali setahun yang juga bertujuan mengapresiasi penetapan kesenian wayang sebagai warisan  dunia oleh UNESCO PBB serta untuk memeriahkan Hari Wayang Dunia yang diperingati tanggal 7 November setiap tahunnya," ujar Hendri Thalib, Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, pada Penulis usia Pembukaan Festival Wayang Nusantara 2017 ke V dialun-alun taman Lapangan Segitiga Sawahlunto, Kamis, 9 November 2017. 

Ia menyebutkan bahwa Fewanusa ke V bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata RI Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. Pada kegiatan tersebut ditampilkan berbagai pertunjukan wayang kulit dan wayang golek dari beberapa daerah diantaranya adalah Wayang Ajen dari Kementerian Pariwisata RI dengan dalangnya Ki DR. 

"Kegiatan ini akan tampil gamelan sri Kandi dari kota Sawahlunto, Paguyuban Tri Laras Irama dari Provinsi Riau, Paguyuban Krida Laras dari Kabupaten Dharmasraya dan Paguyuban Margo Laras dari Kabupaten Pasaman Barat. Wawan Gunawan, Dalang Cilik Perempuan Kanastren Nereswara Darmanasti dari Kota Surakarta (Solo) serta delegasi wayang kulit Paguyuban Sari Budaya dan SMAN Tebo Provinsi Jambi," tuturnya. 

Kemudian, lanjut dia, dari dalam kota Sawahlunto juga akan mempersembahkan pertunjukan wayang kulit khas Kota Sawhlunto dengan dalang Ki Bandung Sriyanto yang didukung oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang dan Paguyuban Bina Laras Kota Sawahlunto. 

"Kegiatan ini juga tampil pertunjukan dan atraksi budaya dari dalam dan luar kota Sawahlunto seperti, Musik Gamelan, Musik Campur Sari, musik Keroncong, Kuda Kepang, dan lain sebagainya. Kegitan ini dilaksankan tiga hari kepepan mulai pada malam ini (Kamis, red)," tambahnya.

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto mengatakan bahwa untuk meningkatkan rasa nasionalisme sebagai alat perekat bangsa, budaya adalah indikator utama semangat nasionalisme itu lahir. Salah satunya budaya dikembangkan serta difasilitasi oleh pemerintah dan banyak dilaksanakan langsung oleh masyarakat. Kegiatan ini bertujuan agar bagaimana budaya yang ada melekat disanubari warga Sawahlunto yang berbagai suku bangsa ada ada Sawahlunto. 

"Maka, pemerintah kota memfasilitasinya diantaranya dilaksanakan Festival Wayang Nusantara 2017 ke V. Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat sendi sendi nasionalisme, sehingga rasa memiliki dengan budaya yang ada ini terus menjadikan suatu harapan dimasa mendatang. Maka pelaksanaannya di support oleh Kementrian Pariwisata, sehingga warga Sawahlunto diharapkan termotivasi dan berinovasi dimasa mendatang," katanya. 

Sementara itu, Tri Susanto, Kasubid Promosi Wisata, Sejarah dan Religi Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mengatakan bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor produk perekonomian di Indonesia. Untuk itu, pariwisata membutuhkan sinergitas pentohodik pariwisata dengan akademisi, pemerintah, pelaku bisnis media dan membilitas masyarakat. 

"Untuk itu, dibutuhkan sinergitas ini untuk mendukung kepariwisataan pada umumnya di Indonesia. Demikian pula untuk di Sawahlunto ini, potensi wisata yang ada untuk dapat dikembangkan sehingga diharapkan tempat wisata yang ada dapat dijadikan kesejahteraan bagi masyarakat Sawahlunto," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa untuk dalam pengembangan destinasi wisata, pemerintah juga mengembangkan atraksi pariwisata diantaranya Festival Wayang Nusantara 2017 ke V ini sebagai bentuak wisata. Selain itu perlu mempertimbangkan dan memperhatikan ameritas, akomudasi dan lainnya. 

"Perlu aksebilitas untuk ke Sawahlunto ini untuk menikmati semua destinasi wisata yang ada di kota Sawahlunto ini. Sehingga potensi yang ada di Sawahlunto dapat dinikmati secara bersama oleh wisatawan dab masyarakat sekitar," tuturnya.

Friday, September 22, 2017

Prosesi Penyucian Buah-buahan Persiapan Festival Muharram dan Grebeg Suro

Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Sawahlunto 

Grebeg Suro adalah acara tradisi kultural masyarakat Jawa yang dilaksanakan pada tanggal 1 Muharram atau 1 Suro pada tahun Jawa. Sejarah diadakan Grebeg suro adalah adanya kebiasaan masyarakat Jawa pada malam 1 suro mengadakan 'tirakatan' semalam dengan mengelili kota dan berhenti di alun-alun kota. 

Laporan : Julnadi Inderapura, Sawahlunto 

Rabu, 20 September 2017 malam kota Sawahlunto tampak ramai anak muda yang nongkrong warung kakilima. Sementara jalan menuju Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Sawahlunto masih jauh untuk ditempuh. Melewati pendakian dilereng bukit Polan dan jalan yang berliku serta licin akibat bekas sisa lonsoran. Malam yang gelap dan lembab dilereng kaki bukit puncak Polan riuh ruasa jangkrik. 

Anggota Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Sawahlunto telah berkumpul memakai baju putih. Terpal berwarna biru telah terbentang dihalaman sekret dan setumpukan buah-buahan berjejer diterpal. Mereka bersiap melakukan penebangan bambu kuning yang telah dipilih lalu diikat dengan kain merah dan dijaga selama 90 hari. 

Bambu kuning tersebut akan menjadi poros untuk menyangga gunungan buah-buahan pada Festival Muharram dan Grebeg Suro. Penebangan bambu dilakukan secara sakral dihaluhui doa dengan penerangan seadanya. Pemebangan tahap awal dilakukan secara bergantian dengan tigakali hingga batangnya potong. Bambu tersebut tidak boleh dilangkahi agar tetap terjaga sakralnya. 

Setelah penebangan batang bambu tersebut dilajukan dengan pemasangan poros tandu gunungan buah-buahan. Usai dipasang dilanjutkan dengan prosesi pencucian buah-buahan didahului dengan doa, dzikir dan tahlil ditutup dengan mengumandangkan adzan. 

Malam prosesi pencucian buah dan pemasangan gunungan buah-buahan didahului dengan Penebangan bambu kuning yang telah diikat dengan kain merah dan dijaga selama 90 hari yang setelah dipilih sebelumnya. Selanjutnya dilanjutkan pencucian buah-buahan dengan tujuh air masijid. Prosesi pencucian buah didahului dengan pencucian buah nanas terlebih dahulu yang telah didzikirkan dan doa ditutup tahlil sebanyak 1000 kali. 

Buah nanas tersebut lambang kebesaran tuhan Yang Maha Esa, sehingga buah Nanas, berada pada puncak tertinggi. Buah nanas tersebut ditancapkan pada ujung bambu kuning sebagai poros didahului dengan kamat. Kemudian dilanjutkan dengan pencucian buah tomat yang menyimbolkan darah manusia. Artinya sesama manusia saling berbagi antar sesama. Selanjutnya buah terong dan Timun melambangkan tulang manusia. 

Artinya, gunungan buah-buahan terdiri dari 40 macam tersebut jadi kekuatan yang akan disumbangkan kepada masyarakat kurang mampu. Pencucian buah-buahan bersamaan dengan pencucian benda pusaka dengan mandi kembang dari air terjun masjid. Biasanya sebelum malam 1 suro orang-orang memiliki benda pusaka akan menyucikan benda busakanya dengan air tujuh masjid. 


Selain gunungan buah-buahan dilanjutkan ritual gununga Apam dan benda Pusaka dilakukan pada malam pergantian tahun dengan air terjun masjid dengan prosesi ritual. Sejarah Apam itu sendiri bemula sejak perjalanan Ki Ajeng Gribik melakukan perjalanan ke Makkah menjemput kebaikan. Perjalan pulang dan pergi mamakan waktu selama 1000 hari dan membawa bekal satu hari satu Apam. 



Sesampai di Makkah, Ki Ajeng Gribik diberikan makan Affan (Apam), oleh seorang syeh berjumlah 1000 buah hingga menuju pulang Apam tersebut tidak berkurang jumlahnya meskipun telah dimakan. Orang Makkah menyebutkan Affan orang Jawa menyebut Apam atau kue Panukuik. Apam itu sendiri terbuat dari beras dan kelapa. Beras tersebut dicuci dengan air pancuran tujuh masjid dan didzikirkan.

Agus Iwan Darmawan, Ketua Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Sawahlunto menyebutkan bahwa Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto, berdiri sejak 1 Juli 2010 terus rutin melaksanakan kegiatan Grebek Suro yang menjadi agenda tahunan. Sapu Jagat beranggotakan 71 orang. 

"Besok (Kamis, red) kegiatan Festival Muharram dan Grebek Suro akan dimeriahkan dengan pawai bersama. Pawai akan di mulai pukul 13.30 di halaman masjid Agung Kota dan berakhir di lapangan segitiga. Pawai akan di ikuti oleh Walikota dan wakil walikota. Sesampai di Lapangan Segitiga dialanjutkan dengan perebutan gunungan buah bersama masyarakat," tuturnya.* 

Monday, September 18, 2017

Melirik Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto

Grebek Suro Menjadi Tontonan dan Tuntunan Masyarakat Sawahlunto


Kelompok Seni Sapu Jagat multi etnik tergabung masyarakat Jawa, Minangkabau, Batak dan menganut kepercayaan yang berbeda-beda namun saling berbaur. Sebab, kelompok seni Ki Sapu Jagat memiliki motto "membina akhlak melalui seni dan budaya" dengan tidak membedakan suku, agama dan ras seseorang tetap bersatu dalam satu paguyuban kesenian Sapu Jagat.




Selasa, 12 September 2017 sore langit kota Sawahlunto terlihat mendung. Sore itu pula di kaki bukit puncak Polan, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Penulis, menjambangi sekret Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto. Dilaman sekret tampak berselempangan sisa-sisa potongan kayu dan rautan bambu pembuatan tandu yang digunakan untuk gunungan buah-buahan. 

Gunungan buah-buahan tersebut dirakit untuk persiapan kegiatan Grebek Suro peringatan tahun baru Islam yang jatuh pada 21 September bertepatan 1 Muharram 1439 Hijriyah. Anggota Paguyuban tampak sibuk mempersiapan tandu gunungan buah-buahan dan Apam. 

Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto, berdiri sejak 1 Juli 2010 terus rutin melaksanakan kegiatan Grebek Suro yang menjadi agenda tahunan. Sapu Jagat beranggotakan 71 orang dengan penasehat, Ismed, Tukino, Zainal, Saiman, dan Zainal Arifin Dt Bandaro Putiah. Paguyuban tersebut fokus pada kegiatan yang dilaksanakan berupa kegiatan pesta ramadhan, Grebek Suro, Band, Keroncong, Kuda Kepang, Teater dan Film.

Kelompok Seni Sapu Jagat multi etnik tergabung masyarakat Jawa, Minangkabau, Batak dan menganut kepercayaan yang berbeda-beda namun saling berbaur. Sebab, kelompok seni Ki Sapu Jagat memiliki motto "membina akhlak melalui seni dan budaya" dengan tidak membedakan suku, agama dan ras seseorang tetap bersatu dalam satu paguyuban kesenian Sapu Jagat.

Agus Iwan Darmawan, Ketua Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Sawahlunto menyebutkan bahwa proses pembuatan gunungan buah terbuat dari bahan bambu dengan ketinggian 2,5 meter hingga 3 meter. Tahapan yang dilalui saat pembuatan gaunungan buah tersebut dimuai dengan penebangan bambu. Bambu tersebut telah dikebat atau diikat dengan kain merah dan telah dijaga selama 90 hari sebelum ditebang. Kemudian, tandu tersebut dilengkapi bambu kuning untuk ditengah gunungan sebagai poros. Bambu yang dikebat dengan kain merah tersebut di dzikirkan dan didoakan agar ada berkatnya, artinya sebatang bambu tersebut telah "dijaga" atau disakralkan. 



Proses pembuatan tandu gunungan buah-buahan akan menghabiskan waktu selama satu minggu. Jadi, ada dua buah gunungan yang akan akan disiapka pada peringatan 1 Muharam yang ditandai dengan Grebek Suro, yakni Gunungan Buah-buahan dan Gunungan Apam. Gunungan buah tersebut syarat dengan makna pengucapan rasa syukur dan saling berbagi. Berbagi orang yang "berlebih" atau orang kaya kepada orang yang tidak "punya" atau miskin. Sehingga gunungan tersebut menjadi rebutan oleh masyarakat. 

Ada 40 jenis buah-buahan dengan berat 150 kilogram untuk gunungan buah. Gunungan tersebut akan diangkat oleh sepuluh orang sanggar. Untuk satu gunungan menhabiskan biaya sebesar Rp8 juta. Selanjutnya, prosesi berikutnya adalah pencucian buah-buahan dengan air terjun masjid. Kemudian di dzikirkan bersama dengan tokoh agama dan masyarakat, setelah itu barulah di pasang buah-buahan tersebut ketandu yang telah disiapkan berdasarkan urutan tertinggi buah-buahan. 

Artinya buah tersebut ada pengelompokannya, seperti buah Nanas, Tomat, Apel. Buah Nanas melambangkan kejayaan, sedangkan Tomat disimbolkan darah, terong dan Timun melambangkan tulang manusia. Artinya, gunungan buah-buahan tersebut jadi kekuatan yang akan disumbangkan kepada masyarakat yang kurang mampu. 

Pencucian buah-buahan bersamaan dengan pencucian benda pusaka dengan mandi kembang dari air terjun masjid. Pencucian buah-buahan Apam dan benda Pusaka dilakukan pada malam pergantian tahun dengan air terjun masjid dengan prosesi ritual. Kemudian di sakralkan dengan membaca dzikir dan doa-doa malam hari di halaman sekret Paguyuban. 

Buah-buahan tersebut seluruhnya sudah di sakralkan, sehingga memiliki karomah tersendiri karena di dzikirkan. Grebek Suro di Sawahlunto tidak ada kaitannya, hanya saja sejarah budaya yang dibawakan oleh nenek moyang dulu. Karena Sawahlunto multi etnik, maka kita mengadopsi apa yang menjadi kebiasaan dan budaya nenek moyang dari Klaten tanah Jawa.

Berbeda dengan proses Apam, yang merupakan perjalanan Ki Ajeng Gribik melakukan perjalanan ke Makkah pulang dan pergi mamakan waktu selama 1000 hari dan membawa bekal satu hari satu Apam. Untuk 1000 apam, karena mengikuti perjalanan Ki Ajeng Gribik yang melakukan perjalanan haji selama 1000 hari untuk menjemput kebaikan di Makkah. 

Sesampai di Makkah diberikan makan Affan (Apam), oleh seorang syeh berjumlah seribu buah hingga menuju pulang Apam tersebut tidak berkurang jumlahnya meskipun telah dimakan. Orang Makkah menyebutkan Affan orang Jawa menyebut Apam atau kue Panukuik. Apam itu sendiri terbuat dari beras dan kelapa. Beras tersebut dicuci dengan air pancuran tujuh masjid dan didzikirkan.

Ada lima warna Apam, warna tersebut terkolaborasi membentuk kalimat Allah dan Muhammad. Warna tersebut mengijuti jadwal waktu shalat sebanyak 17 rakaat di mulai dari Isya emapat rakaat shalat ditandai dengan warna Merah, Subuh dua rakaat diwarnai dengan warna hijau, Dzuhur empat rakaat ditandai dengan warna cokelat, Ashar empat rakaat shalat ditandai dengan warna putih dan Maghrib ditandai dengan warna hitam.

Grebek Suro ada sejak jaman kerajaan Maja Pahit dibawah kekuasaan Protu Wijaya V diadakannya Grebek Suro. Karena suatu daerah kekeringan sehingga gagal panen, ada suatu kampung yang di naungi oleh Ki Ajeng Gribik yang merupakan tokoh ulama di Maja Pahit,tidak mengalami kekeringan, justru hasil panen mereka sangat berlimpah ruah. 

Ki Ajeng Gribik memerintahkan kepada masyarakat untuk saling berbagi kepada yang tidak "memiliki" (kampung sebelah yang gagal panen) sehingga tradisi Grebek Suro di tanah Jawa tetap dilaksanakan, saling berbagi dan rebutan bagi masyarakat terhadap gunungan buah-buahan. Jadi yang memiliki (kaya) dibagi kepada masyarakat yang tidak memiliki (miskin). Jadi, Grebek Suro merupakan bentuk mengenang Ki Ajeng Gribik pada tahun suro. 

Saling berbagi tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al quran surat Alkahfi ayat 30-47 tentang kemakmuran masyarakat yang saling berbagi antar sesama. 

Tradisi Grebek Suro hanya diadakan pada tahun baru Islam tidak dilakukan pada hari lain. Kecuali Grebek Sawal diisi dengan ketupat, Grebek Maulid isi dengan sayur-sayuran dari hasil panen, artinya Grebek Suro hanya diadakan pada peringatan hari besar Islam. 

Acara puncak Grebek Suro pada tangga 1 Muharram, gunungan buah-buahan dan Apam akan diarak ke sekeliling kota diawali dengan pembacaan doa dan pemotongan Tumpeng. Selanjutnya, gunungan buah-buahan dan Apam di rebut oleh masyarakat di alun-alun kota dan berakhir di Goedang Ransoem. 

Kemudian di Sawahlunto sendiri Grebek Suro menjadi destinasi wisata religius sebagai contoh bagi masyarakat. Grebek Suro tersebut pada prosesinya sama dengan yang diadakan di Jawa, sehingga berbagi bersama memperebutkan gunungan buah-buahan dan Apam. Grebek Suro tersebut merupakan tahun ke 7 dilaksanakan di kota Sawahlunto oleh Paguyuban Kesenian Ki Sapu Jagat Kota Sawahlunto.

Untuk pelaksanaan kegiatan Grebek Suro, Agus Iwan Darmawan mengaku mencari sponsor keluar, sebab tidak ada bantuan dari pemerintah kota terutama dalam hal pembinaan. Kegiatan yang lakukan hanya bersifat swudaya dan hanya hargai dengan tepuk tangan penonton. Sebab, Paguyuban Ki Sapu Jagat berbuat tidak hanya sebagai tontonan namun juga menjadi tuntunan bagi masyarakat khususnya di Kota Sawahlunto.*

Sunday, August 13, 2017

Estimasi Perputaran Uang SISCa Capai Rp10 Miliar

dok. humas Sawahlunto 
Sawahlunto menggelar iven tahunan Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) 2017. Iven tersebut berlangsung diperkirakan estimasi perputaran uang selama proses kegiatan Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) tahun 2017 mencapai angka Rp10 miliar lebih. Hal tersebut meliputi peredaran uang kalangan pengusaha songket, kuliner, penginapan, cenderamata dan lainnya.

"Perkiraan tersebut dimulai sejak para calon peserta membeli songket pada pengusaha Kota Sawahlunto sebagai salah satu syarat pendaftaran. Untuk mendaftar sebagai peserta karnaval, peserta harus memperlihatkan bukti pembelian songket Kota Sawahlunto, minimal 6 pcs," ujar Deswanda, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto, kepada Penulis Jumat, 11 Agustus 2017. 

Ia menyebutkan bahwa apabila peserta yang ikut Carnival tersebut diperkirakan ada sebanyak 300 kelompok, maka ada sekitar 1800 pcs songket yang terjual. Maka dari penjualan tersebut diperkirakan uang yang beredar dipengusaha songket sekitar Rp4 miliar. 

"Kemudian, di hari pelaksanaan SISCa untuk selama tiga hari pelaksanaan dimulai 25 sampai 27 Agustus mendatang, diperkiran sekitar Rp6 miliar. Peredaran uang tersebut berasal dari penjualan cenderamata, kuliner, penginapan dan lain sebagainya," ujarnya. 

dok. humas Sawahlunto 
Ia melanjutkan Pemerintah Kota Sawahlunto, kembali menggelar kegiatan SISCa tahun 2017 pada 25 sampai 27 Agustus mendatang, dengan rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan dan pameran songket (25-27/8), konverensi songket (26/8) dan kegiatan puncak, karnaval songket (27/8). 

"Kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan wisata Kota Sawahlunto sejak beberapa tahun terakhir," ujarnya. 

Ia menjelaskan bahwa kegiatan SISCa tersebut bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Multieffeknya diperuntukan bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kota Sawahlunto melalui bidang-bidang usaha oleh masyarakat sekitar. 

"kegiatan SISCa penyelenggaraannya hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp140 juta dari APBD Kota Sawahlunto tahun 2017. Kita telah bisa mengusahakan perputaran uang miliran rupiah di kota ini. Sehingga dapat memebrikan dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat setempat," tuturnya. 

Ia mengaku bahwa persiapan pelaksanaan SISCa pihaknya telah menyebarkan undangan baik didalam kota mauapun diluar Kota Sawahlunto. Selain itu, pihaknya juga telah menyebarkan edaran Walikota kepada komunitas dan kelompok-kelompok yang ada di Kota Sawahlunto untuk ikut meramaikan dan berpartisipasi dalam kegiatan SISCa 2017.  

"Kami telah menyampaikan undangan kepada seluruh Bupati dan Walikota yang ada di Sumatera Barat dan kepada Walikota dan Bupati daerah penghasil songket di Indonesia, untuk hadir dalam kegiatan SISCa 2017. Salah satu daerah yang telah menyatakan keikutsertaannya adalah Kabupaten Batu Bara yang akan mengutus sekitar 50 orang," ungkapnya