Showing posts with label Perkebunan. Show all posts
Showing posts with label Perkebunan. Show all posts

Thursday, July 20, 2017

Harga Komoditi Kebun dan Rempah Rempah Kembali Membaik

Harga jual komoditi perkebunan dan rempah rempah mengalami kenaikan harga. Saat ini harga jual Pinang seharga Rp13.000 perkilo gram. Sementara harga jual Kakao seharga Rp18.000 perkilo gram. Kenaikan harga terjadi karena berkurangnya produksi hasil perkebunan petani. Selain itu berkurangnya petani yang menjual Pinang dan Kakao di pasaran. 

Salah seorang petani Pinang, Syahrul, 59, warga Jorong Kadang, Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa harga jual Pinang mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga jual pinang berkisar Rp1000 perkilogramnya. 

"Harga ini mengalami kenaikan, meskipun harga Pinang sebelumnya mengalami penurunan setelah lebaran mencapai Rp12.000 perkilo. Penurunan harga tersebut di alami sejak masuk bulan ramadhan. Harga jual pinang sebelum ramadhan mencapai Rp14.000 perkilo gram," ujarnya kepada Penulis, Rabu, 19 Juli 2017.

Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga yang terjadi pada saat ini belum termasuk harga normal. Artinya harga jual Pinang sebelum bulan puasa 1438 H berkisar Rp14-15 ribu perkilo gramnya. Harga tersebut terus turun hingga lebaran mencapai Rp12.000 perkilo gram. Namun saat ini harga jual Pinang mencapai Rp13.000 perkilogram. 

"Harga jual Pinang saat ini naik dibandingkan setelah lebaran hanya Rp12.000 perkilo gram. Saat ini harga jual naik Rp1000 perkilo," tuturnya. 

Ia mengataka  bahwa Pinang yang di jual ke pasar pun tidak banyak. Sebab kebun Pinang miliknya hanya beberapa batang sebagai pembatas kebun. Selanjutnya, harga jual Kakao juga mengalami penuruhan harga dibanndingkan harga sebelumnya. 

"Kakao harganya pun turun dibandingkan harga sebebelum bulan puasa. Sebelumnya Harga Kakao berkisar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu perkilogram. Namun saat ini harga jual Kakao sebesar Rp18.000 perkilo gram. Meskipun setelah lebaran harga jual mencapai Rp15.000 hingga Rp17.000 perkilo gram. Naik Rp1000 dari harga setelah lebaran," ungkapnya. 

Ia mengaku bahwa saat ini dirinya hanya menjual Pinang sebanyak 10 kilo gram dan lumayan untuk tambahan penghasilan serta dirinya berharap harga jual Pinang terus mengalami peningkatan. Kemudian menjual Kakao sebanyak 7 kilo. Sebab, Kakao banyak yang sakit dan buahnya pun menghitam dan membusuk di batang. 

"Saya berharap ada sosuli dari pemerintah terkait untuk kembali menstabilkan harga jual Kakao dan Pinang, kemudian mencarikan solusi untuk mengatasi penyakit Kakao yang menghitam dan membusuk buahnya dibatang," paparnya. 

Rama As, 55, warga Kampung Teleng, Kelurahan Pasar,  Kecamatan Lemah Segar merupakan pengumpul komoditi perkebunan dan rempah-rempah menyebutkan bahwa harga jual Pinang saat ini mengalami kenaikan harga dibandingkan pekan sebelumnya. Saat ini harga beli Pinang di jual Rp13.000 perkilo gram dan harga jual berkisar Rp13.000 hingga Rp14.000 perkilo gram. 

"Harga beli komoditi perkebunan seperti Pinang saat ini mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan pekan sebelumnya hanya Rp17.000 perkilo gram. Naik Rp1000 perkilo gram dari harga biasanya," katanya.

Sementar itu, harga komoditi perkebunan lainnya seperti Kakao dan Kopi berkisar di beli dari petani sebesar Rp18.000 perkilo gram. Sedangkan harga jual Rp18.500 perkilo gramnya. Sedangkan harga Cengkeh juga mengalami kenaikan harga sebesar Rp5000 dari harga sebelumnya sebesar Rp95.000 perkilo gramnya. 

"Saat ini saya membeli Cengkeh dari petani seharga Rp100 ribu perkilo gram. Harga Kakao dan Kopi ini juga mengalami kenaikan dibandingkan dibandingkan Pekan sebelumnya. Kenaikan harga mencapai Rp1000 perkilo gramnya. Kenaikan ini disebabkan oleh berkurangnya produksi hasil kebun petani dan telah menjadi hukum dagang," ujarnya. 

Ia mengaku setiap Pekan hanya mampu mengumpul sebanyak 500 kilo pinang dari petani yang menjual ke pasar. Sedangkan untuk kakao dan kopi berkisar 200 kilo setiap pekannya. "Kalau sedang banyak penen petani, dalam sepekan kita bisa mengumpulkan pinang hingga mencapai 1 ton. Itu pun sangat jarang terjadi dan terpenuhi," katanya.

Tuesday, May 9, 2017

Produksi Kakao Sawahlunto Capai 60 ton Perbulan

Produksi Kakao sejak Januari 2017 mencapai 60 ton tiap bulannya dari 27 Desa dan 10 Kelurahan. 60 ton Kakau perbulan tersebut akan diupayakan me-manage-nya dan meningkatkan hasil produksi, dengan melakukan sambung samping Kakao. Hal ini agar bisa dimanfaatkan sebagai pilot project tiap desa dan kelurahan di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. 

"Produkai tersebut masih jauh dari harapan, karena selama ini adanya penyakit Kakao dan tidak tertutup kemungkinan kesalahan kita yang kurang memperhatikan dan merawat Kakao itu sendiri. Saya telah mencoba sejak tahun 2002 pada 300 batang kakao dengan cara sambung samping. Jika ini berhasil maka dihimbau kepada desa dan kelurahan untuk mengajak masyarakat memakai sambung samping," Ujar Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto, saat pidato pelantikan Kepala Desa Kubang Utara Sikabu, Kecamatan Lembah Segar, Selasa, 9 Mei 2017.

Ia mengatakan bahwa sambung samping Kakau tersebut bisa berhasil maka barulah akan disampaikan pada desa dan kelurahan agar bisa di bantu oleh desa dan kelurahan untuk melakukan penyuluhan terhadap masyarakat agar Kakao dikelola secara baik sehingga produksi kakao bisa ditingkatkan.

"Harga Kakau saat ini bisa berkisar Rp16.000 hingga Rp19.000 perkilo, harga tersebut masih normal. Untuk meningkatkan harga jual, maka karang taruna Lunto Barat dengan Peringkop akan melakukan kerja sama bagaimana memanfaatkan Kakao 60 ton perbulan tersebut dikelola menjadi pasta coklat," katanya.

Maka, lanjut dia, dari itu pemerintah kota di aggaran perubahan anggaran ini akan mencsngkan dana untuk memperbaiki UPTD yang ada di Muara Kalaban yang akan di kelola oleh Karang Taruna untuk membuat pasta yang lebih baik di kota Sawahlunto. "Desa Kubang Utara Sikabu telah pernah mengelola pasta tersebut dan sejatinya digerakan kembali sehingga potensi potensi yang ada bisa dimanfaatkan," paparnya.

Ia menambahkan bahwa untuk percepatan pembangunan dan kemajuan masyarakat sejahtera dengan memanfaatkan potensi yang ada. Hal itu telah dimulai sejak pemerintahan walikota Subari Supardi dengan membentuk pondasi budaya untuk menjadi kota tambang yang berbudaya tahun 2020. Kemudian, dilanjutkan dengan walikota Amran Nur (2008-2013) meletakan pondasi dasar Subari Supardi untuk pembangunan kota Sawahlunto. 

"Amran Nur (Alm) bagaimana ekonomi kerakyatan tersebut bisa dilaksanakan diantaranya dengan menanam kakao dan karet. Maka, tahun 2012 hingga saat ini gonjang ganjing harga karet dan kakao tidak menentu, dan tidak perlu putus asa dengan anjloknya harga karet dan kaku tersebut," tutuknya.

Ali Yusuf menjelaskan bahwa pemerintah kota telah melakukan berbagai kegiatan telah dilaksanakan sebagai langkah antisipasi yang dilakukan. Pada tahun 2013-2015 telah dilaksanakan pembibitan kakao dan karet di kota Sawahlunto. Ada sebanyak 1.250.000 batang bibit Kakao dan 1.500.000 bibit karet. Sementara kota Sawahlunto memiliki luas sebesar 23.345 m persegi, hanya 7 persen untuk lahan pertanian yang bisa di manfaatkan dari luas tanah yang ada.

"Tidak ada lagi lahan untuk menanam karet dan kakau, maka pemerintah kota mengajak dan menghimbau bagaimana mengelola serta memelihara kakao dan karet yang ada dengan baik, guna menambah penghasilan dan pendapatan keluarga dengan terpelihara secara baik," ujarnya.

Thursday, March 2, 2017

Ubi Kayu Sulit Didapatkan, Produksi Kerupuk Kubang Terganggu

Desa Pasar Kubang Kecamatan Lembah Segar Kota Sawahlunto, Sumatera Barat memiliki potensi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) home industri kerupuk. Ada sebanyak 80 Kepala Keluarga yang memproduksi kerupuk ubi dikenal Kerupuk Kubang. Namun, saat ini masyarat terkendala dengan bahan baku ubi yang sulit didapatkan.

"Saat ini untuk mendapatkan ubi kayu tersebut sulit, karena tingginya permintaan konsumen terhadap kerupuk kubang. Sebab, selama ini masyarakat yang memproduksi kerupuk kubang, mereka menanam sendiri ubu kayu tersebut di kebun. Kemudian, di panen dan diolah sendiri menjadi kerupuk," ujar Burhanuddin Muhammad Rani, Kepala Desa Pasar Kubang, Kecamatan Lembah Segar, kepada Penulis Rabu, 1 Maret 2017.

Ia menyebutkan kekurangan lahan perkebunan untuk menanam ubi kayu mengakibatkan produksi kerupuk menurun. Sehingga pendapatan masyarakat pun menjadi berkurang. "Saat ini banyak permintaan pasar terhadap kerupuk kubang. Namun, saat ini masyarakat yang memproduksi banyak dikalangan yang memiliki kebun ubi kayu dan bisa di panen sendiri. Sehingga tidak perlu lagi membeli ubi kayu yang menambah biaya produksi," katanya.

Kemudian lanjut dia, bagi masyarakat yang tidak memiliki kebun sendiri harus membeli ubi untuk di oleh menjadi kerupuk. Harga untuk saru karung ubi kayu sebesar Rp150 ribu. Sementara, untuk 50 kilo gram ubi kayu setelah di olah menjadi kerupuk hasilnya menjadi 18 kilogram. 

"Untuk satu kilo kerupuk di jual kepada pengumpul sebesar seharga Rp13 ribu perkilogram. Kemudian, kerupuk yang telah ada kemasannya Rp25 ribu perkilo gram. Jadi tidak seberapa untung penjualan kerupuk jika bahan baku ubi kayu di beli di pasaran. Kebanyakan masyarakat menam ubi kayu dan mengolah sendiri sehingga menambah pendapatan keluarga," ujarnya.

BM Rani menyebutkan bahwa untuk mengolah ubi kayu menjadi kerupuk membutuhkan waktu selama dua hari. Karena proses pembuatan kerupuk tersebut harus ubi kayu baru yang masih segar. Kemudian, di kupas dan diendapkan selama semalam dengan tujuan untuk menghilangkan getah ubi. Selanjutnya, ubi yang kupas tersebut di kukus kemudian digiling dan lalu di buang tulang ubi kayu tersebut dan masuk pada tahap menggilingan dan dicetak.

"Setelah di cetak, maka masuk pada proses pengeringan menggunakan sinar matahari. Kalau cuaca cerah maka untuk penjemuran hingga mengering memakan waktu sehari. Jika cuca mending maka membutuhkan waktu penjemuran memakan waktu selama dua hari. Karena kerupuk yang di jual kiloan ukurannya lebih tebal sehingga keringnya pun lama," katanya.

Kemudian, lanjut dia, untuk mengurangi biaya produksi yang lebih mahal maka berkebun di ladanya sendiri bagi yang memiliki kebun dan lahan. Selanjutnya, jika yang tidak memiliki lahan untuk berkebun ubi, maka masyarakat menyewa kebun nagari sebelah.

"Lahan kita tidak ada lagi untuk bercocok tanam untuk berkebun menam ubi kayu. Kemudian, lahan perkebunan petani telah dibati oleh kawasan hutan lindung. Maka, tidak boleh dijadikan lahan pertania oleh masyarakat," katanya.

Ia mengaku saat ini masyarakat sebagian menyewa tanah perkebunan warga masyarakat Pianggu Kabupaten Solok, karena berbatasan dengan Kabupaten Solok. Sementara itu, desa kubang ini memiliki tiga dusun dengan jumlah Kepala keluarga 281 terdiri dari 1031 jiwa.

"Masyarakat berkebun ke nagari Pianggu untuk bercocok tanam, karena desa pasar kubang tidak memiliki lahan perkebunan yang cukup. Karena kondisi alam yang berbukit dan sehingga tidak banyak lahan untuk berkebun dan sebagian lahan juga telah menjadi sawah," sebutnya.

Thursday, February 9, 2017

Jeruk Nipis Membusuk Dibatang, Harga Anjlok

Anasrin, 60, Petani Jeruk Nipis
Petani Jeruk Nipis Dusun Pulai, Desa Kolok Nantuo, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, keluhkan harga jual yang kian anjlok dipasaran. Akibatnya, petani jeruk nipis tidak lagi memanen jeruk nipis untuk dijual karena tidak ada yang membeli. Sehingga jeruk nipis tersebut dibiarkan menguning dan membusuk di batang.


"Jeruk Nipis ini merupakan sumber penghasilan petani untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Nanun saat ini jeruk nipis tidak ada yang mau membeli, sehingga jeruk nipis tidak di panen dan dibiarkan mengining serta membusuk dibatang," ungkap Anasrin, 60, warga Dusun Pulai, Desa Kolok Nantuo, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, kepada Penulis, Rabu, 8 Februari 2017.

Ia menyebutkan bahwa alasan kenapa pengumpul tidak ingin membeli jeruk nipis, karena sebelumnya jeruk nipis ini dijual ke pulau Jawa pengumpul. Namun, saat ini harga jual jeruk nipia murah ditambah pula dengan pasokan jeruk nipis dari Surabaya. Sehingga, pengumpul disini tidak sanggup membeli dan lebih mahal biaya produksinya. 

"makanya pengumpul tidak ada yang membeli jeruk nipis. Meskipun ada yang membeli, tapi dengan takaran yang terbatas, hanya dua karung. Sebab, pasarnya hanya untuk lokal di pasar-pasar tradisional yang ada di kota Sawahlunto termasuk kota Padang dan untuk kebutuhan rumah tangga," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya harga jeruk nipis ini dijual Rp1200 perkilo gram. Kemudian, tidak ada lagi pengumpul yang ingin membeli jeruk nipis tersebut dan dibuarkan menguning serta membusuk di batang. Kemudian, ada juga yang membeli Rp700 perkilo gram namun tidak membeli banyak. 

"Yang berkebun jeruk nipis tidak hanya saya sendiri dan banyak lagi yang lain. Rata-rata setiap rumah memiliki batang jeruk nipis, minimal mereka menanam di belakang rumahnya dengan jumlah yang banyak. Kalau pengumpul membeli banyak maka diusahakan juga untuk memanen buahnya dari pada busuk dibatang. Kalau tidak diambil maka, batang jeruk nipis tersebut akan mati," katanya.

Ia mengaku kondisi anjloknya harga tersebut telah berlangsung selama sebulan. Sebab, sebelumnya jeruk nipis bisa menembus harga Rp12-13 ribu perkilo gram. Sehingga, banyak masyarakat yang menanam jeruk nipis dan bahkan mereka rela menebang pohon karet mereka dan menggantikannya dengan menanam jeruk nipis.

"Karena ketika itu harga jeruk nipin sangat menjanjikan pada pertengahan tahun 2015 lalu. Kemudian, harga mulai menurun hingga sampai pada harga Rp5000 perkilo gram pada pertengahan tahun 2016 lalu. Meskipin demikian, harga Rp5000 perkilo gram tersebut termasuk harga yang standar. Ketika harga jeruk nipis Rp5000 perkilo gram, petani masih bisa mengupah pekerja Rp1000 perkilo gram untuk memanen jeruk nipis," paparnya.

Anasrin menyebutkan saat ini kebun miliknya seluas 2 ha dengan kapasitas 900 batang jeruk nipis dengan jatak tanam 5x5 meter dibiarkan menguning dan membusuk dibatang karena tidak ada yang mau membeli. Jeruk nipis ditanam sejak tahun 2000 dan baru kali ini tidak yang mau membeli. 

"Hasil panen jeruk nipis saya selama setahun untuk 1 ha mencapai 30 ton pertahun. Sebab, jeruk nipis ini tidak pernah berhenti berbuah, namun ada kalanya buahnya banyak dan ada kalanya berbuah sedang. Namun, selalu berbuah dan bisa dipanen kapan pun. Ketika jeruk nipis tersebut sedang berbuah banyak dalam satu batang bisa mencapai 80 kilo gram," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa selama ini belum ada perhatian pemerintah dalam hal pembinaan terhadap petani jeruk nipis. Sebelumnya pernah dilakukan pengajuan kepada pemerintah dalam hal untuk pembibitan jeruk nipis disampaikan pada waktu musrembang, namun, tidak pernah ditanggapi. 

Hal itu, dilakukan sewaktu harga jeruk nipis masih mahal. Karena semakin mahalnya jarga jeruk nipis ketika itu, banyak pula yang kehilangan jeruk nipis diladang, akibatnya masyarakat pun ronda dan berhasil menangkap pelaku yang mencuri jeruk nipis menggunakan senter hp.

"Jadi, masyarakat yang menanam jeruk nipis ini merupakan swadaya dari masyarakat itu sendiri dengan cara membeli sendiri bibit untuk ditanam di kebun muliknya termasuk lahan kosong dibelakang rumah," akunya.

Ia berharap kondisi seperti ini, dengan anjloknya harga jual jeruk nipis tidak terlalu berlarut-larut. Pemerintah dapat dengan sigap mencarikan solusi agar harga jeruk nipis kembali stabil seperti biasa. 

"Kalaulah di kota Sawahlunto telah ada pabrik mengolah jeruk nipis tentu harga anak stabil. Masyarakat petani pun tidak kewalahan tidak untuk menjual, karena telah ada yang menampung," harapnya.

Adeks Rossyie Mukri
Adeks Rossyie Mukri, Kepala Desa Kolok Nantuo, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, menyebutkan Desa Kolok Nantuo Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto memiliki potensi pertanian khusus kebun jeruk nipis. Namun, harga jeruk nipis tidak sebanding dengan upah memanen karena harga jeruk nipis jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga biasanya. Saat ini harga jeruk nipis dijual Rp400 perkilo gram dari harga sebelumnya mencapai Rp10000 perkilo gram.

"Saat ini banyak masyarakat kita yang mengeluh dengan anjloknya harga jual jeruk nipis. Kita juga menerima laporan dari masyarakat bahwa mereka telah terbelit hutang kepada rentenir. Ketika jeruk nipis sedang berbunga, rentenir telah menghargai jeruk nipis dengan harga Rp10 ribu perkilo gram. Sehingga banyak masyarakat yang meminjam, namun karena kondisi saat ini harga jeruk nipis anjlok, sehingga masyarakt tidak mampu membayar," ungkap 

Ia melanjutkan bahwa dengan harga Rp10 ribu per maka masyarakat petani terhutang sebesar Rp9600 kepada rentenir setiap kilonya. Maka, saat untuk mengantisipasi dan memecahkan masalah dari masyarakat tersebut, pemerintah desa telah mengusulkan anggaran APBDes untuk membeli mesin pengolah jeruk nipis sebesar Rp600 juta. Namun, usulan tersebut ditolak, menjadi Rp500 juta untuk produksi rumah tangga dan hingga saat ini belum ditanggapi. 

"Untuk membuat produk olahan jeruk nipis menjadi menjadi 'Jeruk Nipis Perah Kolok Nantuo' (Jeniperkol) membutuhkan biaya Rp400 juta untuk membeli mesin olahan tersebut. Kita telah melakukan konsultasi untuk membeli mesin olahan tersebut di Medan Rp140 juta belum termasuk ongkos kirim. Namun, kita meminta garansi untuk memberikan pelatihan kepada operasional mesin tersebut, mereka belum bersedia," ujarnya.

Selanjutnya, terang dia, konsultasi pemesanan mesin olahan jeruk nipis tersebut juga dilakukan ke LIPI senilai Rp170 juta, belum termasuk ongkos kirim. Namun, saat ditanyakan garansi dengan memberikan pelatihan tenaga operasional penggunaan mesin tersebut LIPI bersedia untuk memberikan pelatihan tenaga operasional selama 6 bulan. 

"Hal ini dilakukan untuk meningkatkan harga jual dan produksi masyarakat petani jeruk nipis. Jeruk nipis olahan ini juga bermanfaat sebagai minuman untuk meningkatkan stamina. Karena telah berbentuk olahan dengan kemasan yang bagus. Sehingga masyarakat nantinya tidak bergantung pada rentenir, maka desa melalui BUMDes bisa membeli hasil kebun masyarakat. Sebab, di Desa Kolok Nantuo ada 75 ha kebun jeruk nipis," katanya.

Kemudian, lanjut dia, alternatif lain, untuk pemesanan mesin tersebut juga telah dilakukan dengan SMK2 Kota Sawahlunto untuk membuatan mesin tersebut jika anggaran yang dianggarkan melalui APBDes dibawah Rp400 juta. 

"Karena kita menginginkan mesin ini yang multi gunan, tidak hanya untuk produk kemasan. Disamping bisa digunakan untuk jeruk nipis perahan dan juga bisa membuat produk kemasan. Sebab, di Desa Kolok Nantuo telah memulai produksi jamur tiram yang di kelola BUMDes. Maka, produksi jamur olahan ini nantinya juga bisa memanfaatkan mesin tersebut untuk pembuatan kemasannya lebih elegan," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa jika hal itu dilakukan untuk menciptakan jeruk nipis olahan dengan menjadi jeruk nipis perahan maka, harga tentuk akan lebih mahal. Karena sebelumnya, jeruk nipis ini dijual ke Jawa ke perusahan dengan mitra Australia untuk dijadikan sabut. Tapi, dengan dengan persyarat harus menyuplay 150 ton setiap perminggu. 

"Hasil produksi panen jeruk nipis kita hanya 40 ton perminggu. Jadi, permintaan tersebut tidak terpenuhi sehingga biaya operasional lebih bahal dan tidak seimbang. Karena perusahaan menginginkan 15 truk perminggu perminggu. Makanya, jeruk nipis kita kalah dibandingkan surabanya karena jaraknya dekat dan biaya operasionalnya pun lebih sedikit," paparnya.

Ia berharap rancangan dalam APBDes tersebut bisa di terima olah pemerintah kota agar bisa terealisasi. Tidak ada yang membeli jeruk nipis dan butuh 400 juta untuk membangun produksi rumah tangga. "Hanya inilah yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat petani jeruk nipis. Semoga hal ini dirahapkan dapat meningkatkan produktifitas masyarakat," ujarnya.

Sunday, January 29, 2017

Kemiri Olahan Manual Masih Murah


Desa Taratak Bancah, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat memiliki potensi hasil perkebunan yang menjanjikan terutama Kemiri. Namun hasil kebun petani belum bisa mendongkrak harga jual, karena masih diolah manual. Petani berharap Kemiri bisa diolah dengan baik dengan teknologi.

"Hasil produksi perkebunan di Desa Taratak Bancah ini sekali panen bisa mengeluarkan 30 ton Kemiri. Namun, untuk pasar Kemiri tersebut di jual di Solok. Petani menjual Kemiri belum diolah dan beserta cakangnya," ujar Sudirman Kepala Desa Taratak Bancah, Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Rabu, 25 Januari 2017.

Ia menyebutkan bahwa di Desa Taratak Bancah memiliki tiga dusun dengan jumlah penduduk sebanyak 674 jiwa dan 204 kk. Dusun Koto Tingga jumlah penduduk 174 jiwa dan 60 KK, Dusun Balai-Balai jumlah penduduk 186 jiwa, 56 kk, dan Dusun Limau Kambing berjumlah 87 kk penduduk 314 jiwa. Rata-rata sumber mata pencarian masyarakat Desa Taratak Bancah berkebun, Karet, Kakau dan Kemiri.

"Disini ada sepuluh orang pengumpul Kemiri yang mengambil langsung hasil produksi kebun petani kemiri. Seminggu pegumpul bisa kumpulkan 4 ton kemiri selama seminggu pada saat musim panen. Kemudian, pengumpul menjual kembali ke Solok dengan harga yang relatif murah," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa untuk meningkatkan harga jual maka diperlukan inovasi dengan pengembangan pengolahan Kemiri. Untuk meningkatkan harga jual tentu dengan mengolah kemiri dengan teknologi seperti mengolah bahan baku menjadi minyak. Jika minyak telah menjadi minyak yang di jual tentu harganya akan lebih mahal. Maka, untuk mengolah Kemiri menjadi minyak tentu membutuhkan pabrik untuk mengolahnya.

"Kita belum memiliki produksi olahan kerimri yang representatif. Untuk mendongkrak harga jual kemiri tentu harus diolah lagi dengan membangun pabrik untuk penyulingan minyak kemiri. Kalau lah minyaknya kita jual tentu harganya akan lebih mahal dibandingkan dengan menjual bahan baku yang belum di olah," ujarnya.

Sebelumnya, lanjut dia, untuk membangun pabrik olahan minyak kemiri tersebut tentu membutuhkan biaya yang cukup besar dan melibatkan pihak ketiga. "Kalau dana Desa dipergunakan untuk itu tidak bisa. Karena dana desa penggunaannya terbatas, sementara untuk membangun pabrik itu anggarannya besar dan melibatkan pihak ketiga," paparnya.

Senada disampaikan, Arifno, Kepala Dusun Koto Tingga, Desa Tarantak Bancah Kecamatan Silungkang, Kota Sawahlunto, menyebutkan bahwa saat ini harga jual kemiri kepada pengumpul Rp5.500 perkilo. Harga tersebut masih standar, karena masyarakat petani menjual kemiri beserta kulitnya. 

"Kemiri dengan kualitas super dijual seharga Rp22 ribu ke pada pengumpul. Kemiri kualitas super tersebut telah dibuka kulitnya. Maka, untuk membuka kulit tersebut mengeluarkan biaya dengan upah Rp2 ribu perkilo," katanya.

Ia menjelaskan sebelumnya ada bantuan mesim pembuka kulit kemiri. Namun, karena membuka dengan mesin, kemirinya banyak yang pecah sehingga harganya pun turun. Akibatnya, masyarakat tidak lagi memakai mesin untuk membuka kulit kemiri. 

"Saat ini masyarakat masih membuka kulit kemiri dengan cara manual, sehingga memakan waktu cukup lama untuk membuka kulit kemiri. Tetapi ada baiknya, dengan membuka kulit kemiri dengan manual, tentu akan menambah penghasilan baru bagi masyarakat sekitar dengan memanfaatkan upah membuka kulit kemiri. Kemudian, kulit kemiri tersebut pun dapat dimanfaatkan dan dijual untuk retoran menjadi bahan bakar. Harganya tentu relatif murah," katanya.

Jusmi Hartini, pengumpul menyebutkan bahwa harga kemiri turun dari beberapa hari belakangan. Sebelumnya, harga kemiri dengan kualitas super di jual Rp24-26 ribu perkilo. "kita menjual kemiri ke kota Solok. Untuk panen beberapa bulan kemarin, kita mengumpulkan sebanyak 12 ton. Belum lagi pengumpul yang lain, ada yang 15 ton terkumpul untuk di jual di pasaran. Jadi, hasil produksi kemiri di desa ini sangat potensial," ujarnya.

Tuesday, January 24, 2017

Bunga Bangkai Incaran Wisatawan Untuk Selfy

Bunga Bangkai Suweg Raksasa atau Batang Krebuit dikenal juga dengan Amorphophallus Titanium merupakan tubuhan dari suku talas-talas, ditemukan warga di kawasan puncak cemara Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Bunga Bangkai sejenis talas itu sejak ditemukan pada Kamis, 5 Januari 2017 lalu menyebar dari mulut ke mulut bahan perbincangan, sehingga tempat tumbuh bunga bangkai tersebut ramai diperbincangkan di kota Arang dan menjadi objek wisata baru.

Bunga bangkai tersebut awalnya ditemukan oleh Riko Satrawan dan bersama rekannya saat memperbaiki pipa air pada sumber mata air di puncak Bukit Cemara. Riko menceritakan awal mula ditemukannya bunga bangkai tersebut. Beberapa hari lalu air ledeng dari pipa Puncak Cemara telah mengecil dan tidak mengalir ke ledeng untuk di alirkan kerumah warga. Karena air mengecil keluar dari pipa air tidak mencukupi kebutuhan harian seperti mandi dan menyuci. 

Kemudian, Riko bersama rekannya pergi menjenguk pipa air yang menjadi sumber mata air ke puncak bukit dengan menelusuri pipa air tersebut. Dari ketinggian 80 meter di lereng bukit ditemukannya bunga bangkai berukuran kecil dan kuncup berdekatan dengan pipa air ledeng. Kemudian, perjalanan kembali dilanjutkan, sekitar 10 meter mendaki ditemukan kembali jenis bunga bangkai. Bunga tersebut masih menguncup berukuran raksasa melonjong. Bunga bangkai tersebut dengan ketingian sekitar 180 cm. 

Awalnya, Riko memprediksi bunga bangkai tersebut akan mengembang selama empat hari kedepan sejak ditemukannya. "Senin 9 Januari 2017 kemarin saya masih monitor perkembangan bunga tersebut namum belum mengembang. kemudian tadi pagi saya kembali melihat bunga ternyata sudah mengembang," Ungkap Riko Satrawan, warga Kelurahan Saringan, Kecamatan Barangin, kepada Penulis, Rabu 11 Januari 2017.

Ia mengaku bunga bangkai tersebut tumbuh dikawasan puncak cemara merupakan keduakalinya semenjak tahun 1997 silam. Berdasarkan pengalaman pada belasan tahun silam, umur bunga bangkai tersebut berkisar sampai 12 hari setelah mengembang. 

"Bunga bangkai ini merupakan bunga langka dan sulit untuk ditemukan. Kita berharap jenis bunga langka ini dapat dibudidayakan oleh instansi terkait untuk kelestariannya. Penakaran bunga bangakai langka ini diharapkan bisa mendorong wisata di kota Sawahlunto," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa jika ada masyarakat penasaran dengan bentuk bunga bangkai nan langka serta berumur pendek tersebut silahkan datang puncak cemara. Berdasarkan nama bunga tersebut yakni bunga bangkai, karena baunnya yang menyengat. Bau bunga yang mengenyat tersebut mengundang benyak binatang jenis serangga, seperti lalat, bilalang.

"kita siap antarkan pengunjung yang ingin mengabadikan bunga bangkai sembari selfy. Tentunya, pengunjung harus siap dengan kondisi fisik yang fit dan harus sefti. Karena jalan yang mendaki dengan kemiringan 80 derajat dan pengunjung pun bisa merangkak untuk mendaki dengan bergantung pada akar. Ini merupakan wisata yang sangat menantang dan bernyali serta eksrim," paparnya.

Friday, November 25, 2016

Tembakau Lumindai Diolah Manual



Idir Gindo Malin

Selasa, 22 November 2016 pagi menjelang siang udara masih sejuk karena matahari belumlah tinggi. Sehingga sengatan cahaya matahari belum terasa dikulit. Sementara butiran-butiran embun yang menempel di dedaunan sepanjang jalan menuju Desa Lumindai, Kecamatan Barangin, kota Sawahlunto, Sumatera Barat belumlah kering benar. Embun tersebut masih menggelembung bak bola kristal menempel di daun.

Jalanan yang kecil dan berkelok-kelok serta dan berlobang serta becek di lereng bukit itu sangatlah curam. Sepanjang jalan berada di pinggang bukit dengan pemandangan di atas ketinggian bukit 800 meter hingga 1200 meter diatas permukaan laut itu udaranya sejuk dan hijau. Diatas perbukitan itu pula dengan kemiringan mencapai 45 derajat terlihat sawah petani yang berjenjang dilereng buki yang memanjakan mata. Kemudia beberapa rumah penduduk yang terselip di balik pepohonan di lereng bukit.

Perjalanan masih jauh untuk sampai ke tujuan yakni Dusun Guguak Bungu Desa Lumindai bertemu dengan Idir Gindo Malin, petani tembakau. Siang itu pak Idir sedang tidak dirumah melainkan bekerja sebagai buruh bangunan. Siang itu pula Penulis bertemu dengan pak Idir di Sekolah Dasar (SD) N 29 Desa Lumindai yang berdiri di atas punggung bukit tanpa ada lapangan sekolah dan pagar. Sekolah yang di batasi jalan ini bersebelahan dengan jurang sedalam puluhan meter. Di sekolah itulah pebicaraan tentang tembakau pernah dikenal di Sumatera dimulai.

Idir Gindo Malin mengaku telah menekuni tani tembakau sejak tahun 1966 yang telah turun-temurun dari otangtua. Pada tahun 1966 tersebut dirinya telah pandai "manyaik" tembakau dengan halus. Suatu kebanggaan untuk bisa "manyaik" atau "maracik" tembakau dengan halus. Sebab tidak semua orang bisa "manyaik" tambakau dan tidak semua orang yang pandai "manyaik" tembakau rasanya enak. Hikmatnya rasa tembakau tersebut tergandung dinginnyan tangan seseorang yang menyaik sehingga rasanya begitu nikmat.

Idir Gindo Malin terkenal dengan kepiawaiannya manyaik tembakau dan rasanya enak. Di Dusun Guguak Bungo tersebut hanya ada empat orang yang bisa manyaik tembakau. Meskipun saat ini telah ada anak muda yang bisa menyaik tembakau namun rasanya masik keras dan menyengat saat di hisap.

"Untuk mendapatkan kualitas manyaik tembakau baik dibutuhkan keahlian dan kelihaian serta pengalaman lamanya manyaik tembakau. Jika orang yang telah mahir manyaik tembakau sembari terkantuk saja bisa mayaik tembakau dengan pisau tajam. Hasil manyaik itu pun halus tanpa melukai tangan," ungkap Ayah tiga orang anak ini.

Ia menyebutkan bahwa manyaik tembakau masih dilakukan secara manual dengan menggunakan pisau khusus yang tajam. Sehingga tembakau menjadi halus setelah di racik agar bisa di hisap. "Untuk mendapatkan tembakau berkualitas tinggi bergantung pada iklim dan cuaca. Tembakau ditaman pada ketinggian diatas 800 meter di atas permukaan laut. Kemudian tembakau ditanam sesuai dengan cuaca panas, karena tembakau tidak suka musim penghujan," ungkapnya sembari menggulung tembakau olahannya.

Idir menyebutkan bahwa jika menanam tembakau di musim hujan maka kualitas tembakau tidak bagus dan terasa kelat dan pahit karena getah yang di kandung pada daun tembakau berkurang. Berbeda dengan menanam di musim panas tembakau akan menjadi lembut dan halus saat di hisap.

"Menanam tembakau adalah perkerjaan yang mudah dan tidak sulit. Setelah lahan dibersihkan kemudian disemai bibit setelah itu ditanam kedalam dulubang yang telah disiapkan. Selanjutnya setelah berumur 20 hari barulah tembakau diberikan pupuk kandang, jika itu memungkinkan karena tidak diharuskan pula," ungkap pria yang berbaju lusuh dan sobek pada bagian bahu kanannya.

Ia mengungkapkan bahwa setelah tembakau berumur dua bulan pucuk tembakau tersebut di potong. Hal itu bertujuan untuk mendapatkan kualitas tembakau yang baik karena akan tumbuh tunas yang baru hingga menunggu sampai pada saat waktu panen tiba.

"Tembakau itu bisa di panen tiga kali dan sampai batangnya mati. Untuk memanen daun tembakau tersebut harua menunggu daunnya berubah warna membayang kuning dan diracik," sebut Idir ketua kelompok tani Tembakau Mandiri. 

Ia menyebutkan bawa tembakau tersebut setelah diracik di jual Rp4500 perlempeng dijual kepada toke. Kemudian tembakau Lumindai dalam 100 lempeng tersebut seberat 3,5 kilogram. Selanjutnya produksi tembakau di desa lumindai dalam setahun yang terkumpul oleh lima orang toke sebesar Rp0,5 miliar pertahun.

"Belum lagi toke-toke kecil yang membeli tembakau tersebut. Saya sendiri dengan bertani tembakau bisa menyekolahkan anak dan menguliahkan sampai sarjana. Anak saya sekarang menjadi guru honorer di SD. Hal itu 50 persennya dari hasil tembakau. Meskipun tembakau bukanlah sumber pendapatan utama atau andalan bagi masyarakat melainkan pekerjaan sampingan, termasuk saya sendiri. Saya juga kesawah bertani, bertanam cabe untuk menambah pedapatan keluarga," ungkap pria yang punya selera humoris ini.

Ia menyebutkan bahwa yang menjadi kendala saat ini bagi petani tembakau adalah pemasaran tembakau yang sulit. Sebab, saat pemasaran tembakau masih dalam lingkup pasar tradisional saja. Belum mampu menembus pangsa pasar industri di Jawa dan Medan. "Tembakau ini di jual di pasar Silungkang, Sei Lasih, Simarambang, Pasar Ganting dan Balai Selasa. Karena yang menggunakan tembakau masih di dominasi oleh orang tua 50-an tahun saja. Kemudian pelanggannya pun terbatas," ungkapnya.

Ia berharap pemerintah dapat mencarikan langkah dan solusi untuk petani tembakau agar pangsa pasarnya meningkat dan bisa bersaing dengan tembakau di daerah lain. Jika pangsa pasarnya tembakau tersebut telah ada dan bisa menjanjikan maka petani tembakau jumlahnya akan terus bertambah.

"Sewaktu saya mengikuti pelatihan di provinsi saya telah mengusulkan bagaimana produksi tembakau di Sumbar bisa di kenal ditingkat nasional. Sebab kualitasnya pun tidak kalah dengan jenis tembakau yang ada di pulau Jawa dan Medan. Di pulau jawa dan medan petani di untungkan dengan adanya pabrik yang dapat menampung tembakau petani. Sementara di sumbar khususunya di lumindai di kelola oleh toke dan di pasarkan ke pasar tradisional. Sehingga tembakau tersebut tidak di kenal oleh masyarakat luas. Tentunya perlu dukungan pemerintah dan suport untuk membantu mempromosikan tembakau," harapnya.

Ia mengaku di dusun guguak bungo mempunyai kelompok tani tembakau mandiri beranggotakan 20 orang. Kelompok tani tembakau di bantu oleh pemerintah berupa beacukai yang diganti dalam bentuk ternak sapi. "Bantuan ini diberikan pada zaman Ali Amran, namun saat ini tidak ada lagi bantuan diberikan. Solusi yang diberikan pemerintah ini pun telah bisa dimanfaatkan. Saat ini sapi ternak tersebut telah beranak dan berkembang," ungkapnya.

Idir mengaku bahwa dirinya tembakau tersebut telah ada jauh sebelum dirinya mengenel tembakau. Sebab tembakau itu telah ada sejak zaman Belanda menjajah sekitar tahun 1835-an. Namun secara detailnya ia sendiri tidak mengetahui sejarah tembakau tersebut siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau tersebut. "Entah orang belanda yang membawa tembakau ke sini, atau karena disini ada tembakau kemudian di olah dan di perkenalkan pada masyarakat. kita tidak tau," ungkapnya dengan gelagat yang lucu.