Showing posts with label Kampung Produktif. Show all posts
Showing posts with label Kampung Produktif. Show all posts

Thursday, June 8, 2017

Geliat Kerajinan Bambu Desa Tumpuak Tangah, Promosi Pasar Melalui Ivent Kota

Dusun Batu Kakok, Desa Tumpuak Tangah, Kecamatan Talawi memiliki 125 KK. Dusun Batu Kakok salah satu dusun yang tergabung dalam kampung produktif mempunyai satu kelompok pengrajin anyaman bambu. Dalam kelompok tersebut terdiri dari 10 orang pengrajin bambu untuk membuat anyaman sesuai dengan pesanan. 

"Tahun 2012 lalu di Dusun Batu Kakok memiliki Pusat Pelatihan Anyaman berupa Sanggar Anyaman Bambu. Namun, sanggar tersebut tidal lagi berjalan sebagaimana seharusnya, karena ketua sanggar tidak lagi berada di tempat. Ketua sanggar pindah ke Padang bersama keluarga sehingga Sanggar Anyaman Bambu tidak lagi jalan," ujar Damris Mantari Nyalo, Kepala Dusun Batu Kakok, Desa Tumpuak Tangah, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Selasa, 6 Juni 2017.

Ia melanjutkan bahwa keberadaan sanggar tersebut pada masa kejayaannya telah banyak membina dan melatih kader dengan baik. Berbagai produk anyaman bambu pun dipelajari dan dikembangkan kepada masyarakat. Sampai pada tingkat kesulitan pun bisa dilakoni seperti membuat rantang yang bertingkat. 

"Sanggar tersebut fakum sejak tahun 2014 silam karena ketua sanggar pindah ke Padang. Semenjak itu, tidak ada lagi aktifitas di sanggar tersebut untuk memdapatkan ilmu anyaman baru. Namun, anggota sanggar masih ada dan membuat anyaman bambu di rumah masing-masing. Kemudian, pengrajin membuat rantang bungkusan nasi yang dibuat oleh masyarakat," katanya.

Rantang untuk mengantarkan nasi pun bisa di buat oleh anak sanggar. Semuanya berbahan bambu termasuk bahan penjinjing rantang tersebut dibuat menggunakan bahan yang terbuat dari bambu," sebutnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa saat ini anggota sanggar masih tetap memproduksi produk anyaman bambu di rumah masing-masing. Kemudian didusun Batu Kakok ada sekolompok pengrajin anyaman bambu. Kelompok tersebut ada memproduksi anyaman bambu secara bersama dan ada pula sendiri-sendiri.

"Namun yang menjadi keluhan bagi pengrajin saat ini adalah sulitnya pangsa pasar produk anyaman. Karena tidak ada pangsa pasar tempat bembuangan produk anyaman bambu sehingga produksi berkurang. Hanya saja memproduksi anyaman bambu sesuai dengan permintaan konsumen. Karena sebelumnya dibuat semuanya jenis jerajinan bambu, seperti bakul, niru, sapu lidi warna warni dan sebagainya," akunya.

Syahruni, Sekretaris Desa Tumpuak Tangah Kecamatan Talawi mengatakan bahwa Desa Tumpuak Tangah memiliki 596 KK terdiri dari 6 Dusun. Desa Tumpuak Tangah merupakan kampung produktif anyaman bambu. Ada sebanyak 25 KK terdiri dari dua kelompok pengrajin anyaman bambu. Dalam kelompok tersebut ada 10 orang anggota dan ada yang 15 orang anggota dalam kelompok. 

 "Untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan, sebagai kampung produktif Desa Tumpuak Tangan memprogramkan pelatihan kepada pelaku dan pengrajin anyaman bambu. Pelatihan tersebut guna untuk meningkatkan kualitas produksi anyaman bambu yang siap bersaing di pasar," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa untuk permodalan bagi pelaku usaha dan pengrajin anyaman bambu diberikan bantuan modal dari Baznas. Namun, untuk pangsa pasar penjualan hanya dilakukan pada masyakat sekitar. "Untuk pasar khusus penjualan anyaman bambu yang terencana belum ada karena tidak ada tempat dan lokasi khususnya di Desa Tumpuak Tangah," katanya.

Sementara itu, Badan Usaha Milik Desa (BumDes) juga belum berjalan maksimal karena belum memiliki kantor yang representatif. Sebab, BumDes tersebut diharapkan mampu menjual dan membeli produk kerajinan tangan. Maka, produk tersebut tentu akan disimpan kator BumDes, sedangkan BumDes belum ada kantor. "Ini menjadi suatu kendala bagi kita untuk menjalankan BumDes. Selain hasil kerajinan tangan BumDes juga akan mencanangkan pembelian produk pertanian masyarakat seperti Kakao dan Pinang berkerja sama dengan pihak ke tiga," paparnya.

Kemudia, lanjut dia, selain kerajinan bambu di Desa Tumpuak Tangah juga terdapat home industri (industri rumah tangga) lainnya seperti bertenun songket, Pupuak Kompos, menjahit gorden, Minyak Tanak Kelapa, dan Kue Pesanan. "Sehingga untuk menambah penghasilan keluarga banyak lahir home industri maka diresmikan oleh pemerintah kota sebagai kampung produktif," katanya.

Asril Hasan, Camat Talawi mengatakan bahwa Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto terdiri dari sebelas desa yang memiliki potensi dan keunggulan masing-masing. Ada dua desa yang telah dicanangkan penjadi kampung produktif, yakni Desa Sikalang dan Desa Tumpuak Tangah. Kedua desa ini telah diresmikan menjadi kampung produktif oleh pemerintah kota dan akan mengikuti desa-desa lainnya.

"Pemerintah kota mencanangkan kampung produktif dengan satu desa memiliki satu prodak dan keunggulan. Kampung produktif ini untuk peningkatan ekonomi kerakyatan dan kesejahteraan masyarakat," Ujarnya. 

Ia menyebutkan bahwa potensi yang dimiliki oleh Desa Sikalang adalah kelompok pembuat tempe dan kelompok membuat kerupuk Belinjo (Baguak). Kemudian, kelompok pemuda pembuat sablon dikenal dengan nama kelompok Asika.

"Kalau Desa Tumpuak Tangah potensinya adalah kerajinan Bambu sebagai industri rumah tangga (home industri). Kerajinan "songgen" pembuat berbagai kerajinan berbahan bambu seperti membuat Niru. Membuat pot bunga, renteng tempat meletakan air mimun, membuat tempat tissu dan lain sebagainya," katanya.

Ia menjelaskan bahwa kerajinan tangan berbahan bambu tersebut terus dilakukan pengembangan dan inovasi agar pangsa pasarnya lebih terarah. Pengrajin tidak hanya sekedar membuat Bakul dan Katidiang saja, namun telah mampu berinovasi. Seperti saat ini, pengrajin telah mulai membuat kotak untuk pembuatan tempat penyimpanan songket.

"Jadi, saat ini jika pembelian songket tersebut telah dibungkus dengan kotak yang terbuat dari anyaman bambu. Kemasan songket tersebut dibuat dengan tujuan agar songket terlihat lebih elegan dan lebih mewah," sebutnya.

Kemudian, lanjut dia, pangsa pasar yang telah disiapkan adalah penjadikan momen dan kegiatan kota untuk ajang promosi prodak unggulan seperti kerajinan "Songgen", Pembuat Tempe Olahan dan Sablon. "Kerajinan bambu ini masih dalam bentuk kelompok tidak berdasarkan individi. Ada empat kelompok pengrajin bambu di Desa Tumpuak Tangah. Masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang untuk meningkatkan hasil produksi anyaman bambu," paparnya.

Asril mengatakan bahwa selain kerajinan bambu kemasan songket ada pula kejarianan bambu yang untuk membuat Payuang Kote Desa Bukit Gadang Dusun Tobak Jayo. Satu prodak dan satu keunggulan di setiap Desa akan diikuti oleh desa yang lain. Kemudian, untuk pemasarannya akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang ada di masing-masing desa.

"Pencanangan setiap desa memiliki satu prodak dan keunggulan sedang dilakukan terutama dibidang perkebunan seperti Desa Talawi Mudiak, keunggulannya adalah Kelengkeng, Desa Talawi Hilir keunggulannya buah Naga dan Nangka Mini. Maka, pemasarannya masih dalam lingkup kecil, jika ada kegiatan di kantor pemerintahan seperti di Kecamatan Talawi ini," katanya. 

Deswanda, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa pemerintah kota Sawahlunto telah mencangkan kampung produktif. Ada lima kampung produktif yang diresmikan seperti Dusun Luak Badai memiliko kerajinan songket, Dusun Kayu Gadang produksi sepatu, Desa Sikalang memproduksi Konfeksi, Desa Rantiah kerajinan tangan dan Desa Tumpuak Tangah produksi anyaman bambu. Pemerintah Kota Sawahlunto menargetkan 8 Kampung produktif hingga tahun 2018 mendatang.

"Kampung Produktif bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Produksi kerajinan tangan seperti kerajinan bambu yang ada di Desa Tumpuak Tangah sebagai pendapatan tambahan bagi keluarga," ujarnya.

Ia mengatakan bahwa untuk peningkatan pasar produksi kerajinan bambu terus dilakukan terutama dalam internal kota Sawahlunto. Pengarajin di Desa Tumpuak Tangah Kecamatan Talawi memiliki tiga kelompok pengrajin bambu. Pembuatannya ada dilakukan secara berkelompok dengan ditempatkan pada suatu tempat untuk dipasarkan.

"Upaya pemerintah kota melakukan pembinaan terus dilakukan terutama memberikan pelatihan terharap pengrajin anyaman bambu. Pengrajin tersebut diberikan pelatihan membuat motif berbagai bentuk anyaman bambu yang diberikan kepada masyarakat pengrajin anyaman bambu. Karena selama ini pengrajin hanya membuat bakul, katidiang dan niru saja serta belum ada inovasi. Maka dari itu diperilah pelatihan kepada pengrajin anyam bambu membuat motif yang lebih menarik," katanya.

Selanjutnya, untuk pemasaran anyaman bambu pemerintah kota berusaha melakukan pengembangan dengan mengadakan pameran. Memang saat ini pemasan anyaman bambu tersebut dilakukan tingakat internal dalam kota. Artinya, pemasaran anyaman bambu tersebut hanya dilakukan tingkat kota Sawahlunto. 

"Upaya pemerintah kota melakukan pemasaran dengan cara setiap kegitan formal seperti rapat, telah membeli bungkusan snack yang terbuat dari anyaman bambu. Sehingga produksi anyam bambu berupa kemasan snack tetap terpasarkan dikalangan pemerintahan. Hal ini sebagai langkah awal untuk pangsa pasar produksi anyaman bambu yang ada di kota ini. Namun, untuk jangka panjang tentu promosi terus dilakukan yang berkaitan dengan ivent kota, baik itu berskala nasional maupun internasional," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya masyarakat pengrajin bambu hanya membuat bakul dan niru saja yang di jual kepasaran tradisional. Namun, belum banyak masyarakat, khususnya pengrajin yang berinovasi untuk membuat motif anyaman lainnya seperti tempat, penyimpanan pensil, tempat menyimpan tisu dan lain sebagainya. Maka, dari itu pemerintah kota memberikan pelatihan kepada pengrajin agar bisa membuat anyaman bambu yang lebih kreatif dan menarik.

"Kita tetap menghimbau masyarakat yang sebelumnya membuat kerajinan bambu berupa niru, Ketidiang, Bakul dan terus ditingkatkan. Namun, inovasi terus dilakukan seperti membuat tempat pensil. Kalau tempat pensil pangsa pasarnya di sekolah, memudian tempat tisu di pengsa pasarnya di perkantoran pemerintah. Dekranasda Sawahlunto juga membantu pemasarannya untuk dipromosikan produk kerajinan bambu khususnya kampung produktif Desa Tumpuak Tangah," paparnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah kota juga telah memberikan bantuan kepada kelompok pelaku kerajinan bambu. Dua kelompok pengrajin anyaman bambu tersebut untuk biaya modal usaha telah disalurkan kepada pengrajin. Kelompok pengrajin bantuan permodalan dibantu oleh Baznas Kota Sawahlunto. "Untuk kelompok pengrajin lainnya memang belum mendapatkan bantuan modal usaha. Namun, proposal bantuan modal usaha industri kreatif telah masuk hanya saja tinggal menunggu transfer dana dari Kementerian Industri Ekonomi Kecil Menengah. Jadi, tidak ada kelompok yang tidak dibantu permodalannya. Perbantuan modal dari kementerian sebesar Rp12 juta untuk kelompok," lanjutnya.

Bantuan lainnya dari pemerintah kota berupa stiker pelengkap yang dipasang pada kemasan snack. Stiker tersebut disebarkan sebanyak 100 lembar kepada pengrajin kemasan snack. Kemudian, untuk kemasan songket yang terbuat dari bambu belum menemukan bentuk kemasan yang pas. Sehingga belum bisa dijadikan sebagai bentuk kamasan bisa dikomersilkan. "Kita terus melakukan inovasi untuk kemasan Songket Silungkang sehingga terlihat lebih menarik dan lebih elegan. Kita dorong terus pengrajin agar selalu berkarya lebih kreatif sehingga hasil anyaman bambu tersebut bisa bersaing dan bisa menambah pendapatan keluarga," paparnya.

Melirik Aktifitas Pengrajin Anyaman Bambu Dusun Batu Kakok

Penjualan Hasil Produksi Kerajinan Bambu Sulit

Anyaman bambu tidak dapat dipandang sebelah mata, karena bisa membantu tambahan pendapatan keluarga dan biaya sekolah anak. Seperti apa ceritanya.


Selasa, 6 Juni 2017 siang langit kota Sawahlunto cerah. Siang itu Penulis menelusuri Desa Tumpuak Tangan Kecamatan Talawi sebagai kampung produktif. Jalanan yang berliku dan menurun dilereng perbukitan. Pemandagan yang indah dengan sawah berjenjang di lereng perbukitan. Hingga sampai di kantor Desa Tumpuak Tangah berjumpa dengan kepala Dusun Batu Kakok.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju kediaman Yanti Murtiningsih, 43, Warga Luak Andengin, Dusun Batu Kakok, Desa Tumpuak Tangah, Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto pengrajin anyaman bambu. Terlihat ibu paruh baya sedang duduk lesehan di pintu masuk rumah. Ibu yang memakai baju kaos hijau tersebut duduk di lantai teras rumah yang belum diplaster. 

Ibu lima orang anak ini sedang meraut bambu sampai menjadi bilah sebagai bahan baku pembuat ayaman. Pisau sirauik ditangan kanannya sedakan tangan sebelah kiri memegang sebilah bambu untuk di iris menjadi "bilah". Sementara sisa-sisa limbah raut berseleweran di sekitar tempat duduknya. Sebab, pekerjaan meraut bambu sedang berlangsung dan belum sempat dibersihkan.

Ibu baya mengenakan kaca mata tersebut sedang menyiapkan pesanan kemasan untuk snack sebanyak 300 buah. Kemasan snack yang dipesan untuk kegiatan Sawahlunto Internasional Songket Carnival (Sisca) mendatang. Pesan ini dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto tempat snack tamu undangan yang hadir.

Ia mengaku mulai belajar menyanyam anyaman bambu pertamakali membuat niru pada tahun 1993. Pada tahun tersebut ia mulai ikut-ikutan menganyam bambu karena orang tua bisa menyanyam bambu tersebut. Pada masa itu, ia telah bisa membuat anyaman bambu untuk membuat niru. Namun, hasil anyaman tersebut tidak untuk di jual karena hanya kepuasan tersendiri bisa menganyam.

Kemudian, pada tahun 2015 barulah mulai aktif membuat anyaman bambu yang siap dipasarkan. Selanjutnya untuk menambah ilmu pengetahuan menganyam bambu ia masuk Sanggar Anyamam Bambu. Disanggar tersebut ia banyak mendapat pengetahuan dan ivovasi baru menganyam bambu. Lebih dari 20 orang anggota sanggar belajar membuat berbagai jenis motif anyaman bambu dipelajari termasuk dirinya sendiri.

Namun pada akhir tahun 2015 lalu sanggar tersebut tidak ada aktif lagi. Sanggar tidak lagi berjalan seperti biasa karena ketua sanggar pindah ke Padang bersama keluarganya. Meskipun demikian anggota sanggar tetap menyanyam di rumah masing-masing hingga pada akhirnya dibentuk kembali kelompok pengrajin bambu. 

"Semenjak tidak ada lagi tempat berlajar di sanggar dan mengandalkan pelatihan dari Desperindag Kota Sawahlunto. Hal itu tidak memungkinkan hanya menunggu momen dan pelatihan saja. Untuk membuat kreasinya dan inovasi lainnya harus berani mencoba-coba yang mendapatkan hasil yang lebih baik," ujarnya seraya meyakinkan dan berhenti sejenak meraut.

Ia mengaku bahwa ketekunan dan keseriusan untuk menganyam bambu serta harus berani mencoba untuk bisa mendapatkan hasil kreasi baru, tanpa harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Harus berani mencoba membuat kreasi baru, karena langkah awal menyanyam sudah bisa seperti membuat dasar jalinan bambu. Jadi tidak sulit untuk lebih kreatif untuk mengembangnya menjadi motif apapun yang diingikan sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran. 

"Baru-baru ini saya sedang membuat tas terbuat dari bambu dan tas tersebut bisa dibawa untuk kondangan, karena tas berukuran mini dan terlihat lebih elegan. Untuk membuat anyaman tersebut terasa agak sulit adalah saat melakukan patahan anyaman. Patahan itulah yang akan menjadi motiv sesuai pada gambar yang diinginkan, seperti membuat kemasan snack dan lain sebagainya," sebutnya sembari memperlihatkan produksi aman yang telah dibuatnya dengan berbagai jenis.

Kemudian membuat kemasan songket, sesuai dengan instruksi walikota bahwa setiap pembelian songket diharuskan menggunkan anyaman bambu. Sehingga bisa membantu penjualan pangsa pasar anyaman bambu. Kemudian, kemasan songket terkesan lebih mewah dan lebih elegan. 

Kemudian, produksi anyaman bambu yang telah dibuat dijualan berdasarkan pesanan dan dipasarkan Jawa, Pekanbaru, dan Bukittinggi. Namun karena pesanan tersebut sifatnya tidak berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dari si pemesan barang. Pesanan anyaman bambu ada sebanyak 400 buah, namun pesanan tidak berkelanjutan karena bersifat musiman.

Selanjutnya, terang dia, anyaman bambu tersebut tidak bisa dikatan sebagai sumber pendapatan utama bagi keluarga. Namun, tidak pula bisa dikatakan tidak bisa membantu menambah pendapatan keluarga. Sebab, anyaman bambu tidak bisa dipandang sebelah mata, karena jika ada pesanan dari pembeli maka akan sangat membantu tambahan pendapatan keluarga. 

"Ayaman bambu ini dapat menambah pendapatan suami, karena suami bekerja sebagai buruh tambang. Saya punya 5 orang anak dua orang telah bekerja sebagai sopir, kemudian 3 orang lagi masih sekolah. Hasil penjualan anyaman ini dapat membantu biaya anak sekolah," sebutnya.

Ia menyadari bahwa membuat anyaman bambu tidak membutuhkan banyak modal. Namun, proses pembuatannya memakan waktu lebih lama, di mulai dari penebagan bambu sampai meraut dan mewarnai. Kalaulah untuk menyanyam tidak terlalu lama, karena ada pesanan untuk kemasan snack sebanyak 50 buah bisa di kerjakan selama tiga hari.

"Bahan utama membuat anyaman adalah bambu jenis bambu dikenal dengan bambu Tali. Karena bambu Tali tersebut memiliki ruas yang panjang. Kemudian, tidak mudah patah dan seratnya pun baik dan bagus sehingga mudah menganyamnya. Selanjutnya, membentukannya pun lebih mudah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kemudian bahan pendukung lainnya yakni Lem kayu untuk perekat dan pewarnaan," sebut ibu yang mudah tersenyum ini.

Sembari bolak balik ruangan untuk mempragakan hasil inovasi anyaman bambu yang dibuatnya, ia menjelaskan tahapan yang dilakukan dalam pembuatan hingga menjadi tempat bungkusan snack. Tahapan pertama di mulai dengan penebangan bambu, dibersihkan dan potong. Kemudian, masuk pada tahap pengolahan seperti meraut bambu hingga halus. Meraut bambu tersebut bertujuan agar sembilu bambu yang tajam dapat dibuang. 

Kemudian bambu tersebut dibelah hingga berikuran 0,5 cm hingga lebih sesuai kebutuhan dan ketebalan hingga 2 mm. Dalam satu batang pohon bambu bisa menghasilkan 3 kilogram bilah bambu. Selanjutnya, usai dibelah maka dilanjutkan dengan proses berikutnya yakni pewarnaan. Bambu yang sudah dibelah-belah atau di sebut juga dengan "Bilah" direbus agar warna tidak mudah luntur. Untuk mendapatkan kualitas warna yang bagus dan menyerap hingga kepori-pori bilah bambu dengan merebus selama 3 jam.

"Ada pewarna khusus tergantung pada pengolahan produk. Proses pembuatan anyaman bambu tersebut tidak banyak memakan waktu. Kemudian, jenis anyama yang dibuat berdasarkan jenias dijual berkisar Rp7000 sampai Rp35.000. Seperti tempat penyimpanan pena di jual seharga Rp7000 perunit. Kemudian, tempat snack di jual Rp10.000 perunit dan pot bunga di jual Rp15.000. Kemudian songkok lampu gantung di jual Rp35.000 perunit. Kemudian, sapu lidi warna warni di jual Rp12.500," lanjutnya.

Ia menyebutkan bahwa bantuan dan pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah belum ada terutama dalam permodahan usaha. Kemudian bantuan modal usaha dari pemerintah belum ada, namun pengajuan proposal sudah pernah dilakukan hingga saat ini belum ada realisasinya. "Kalau mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Disperingkop pernah dua kali. Pelatihan berupa pengolahan bahan baku, penganyaman dan finising anyaman bambu tersebut," akunya.*

Sunday, April 2, 2017

Home Industri Menggeliat di Kota Sawahlunto

Walikota Sawahlunto Ali Yusuf dan Wakil Walikota Sawahlunto, Ismed
bersama Danramil 01 Sawahlunto May. Inf. Zulfansas
Mengunjungi stan home industri
Payung Kertas dan Gorden
Mencanangan Kampung Produktif dalam mewujudkan visi kota yang tertuang dalam RPJMD 2013-2018 terwujudnya masyarakat kota Sawahlunto yang produktif, mandiri, religius, sejahtera dan pemerintah yang melayani. Maka, pemerintah kota tahun 2017 memprioritaskan pembangunan yang tertuang dalam RKPD yakni pengembangan Ekonomi Kerakyatan yang berbasis pada pengembangan ekonomi kreatif, mandiri dan daya saing.

Ada lima kampung produktif yang diresmikan seperti di Dusun Luak badai memikili kerajinan songket, Dusun Kayu Gadang produksinya sepatu, Desa Sikalang memprodusi Konfeksi, Desa Rantiah kerajinan tangan, dan Desa Tumpuah Tangah kampung produktif yang telah memproduksi ayaman bambu.

Pemerintah kota Sawahlunto menargetkan 8 Kampung Produktif hingga tahun 2018 mendatang sebagai bentuk pengembangan ekonomi kreatif. Maka, semester I tahun ini kembali diresmikan kampung produktif Desa tumpuak tangan yang terletak di Kecamatan Kota Sawahlunto terdiri dari enam dusun dengan 2050 jiwa penduduk dan 590 kepala keluarga. 

Mata pencarian masyarakat dominan adalah sebagai karyawan di perusahaan swasta 160 kepala keluarga karena desa ini dekat dengan perusahaan tambang batu bara. Desa Tumpuah Tangah ini dijadikan sebagai salah satu kampunh produktif kareba mempunyao potensi terutama bidang pertanian seperti karet seluas 260 ha dengan jumlah produksi 5 ton perminggu.

Kerajinan Bambu Home Industri Desa Tumpuak Tangah
Perkebunan kelapa seluas 50 ha dengan jumlah produksi 4000 butir/bula, dengsn daerah pemasaran sumbar dan riau. Kemudian, perkebunan cokelat seluas 5 ha. Selain perkebunan, bidang pariwisata desa ini juga memiliki potensi wisata seperti Bukit Puncak Sula, Kawasan Rumah Pohon dan Kawasan Danau Biru. Kemudian, bidang industri kerajinan anyaman hias dan kerajinan anyaman ketidiang dan niru.

Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto menyebutkan Potensi yang ada dijadikan dasar dalam mengembangkan kampung produktif di desa Tumpuak Tangah, sehingga sangat diharapkan kerjasama dari semua pihak terkait dalam pengembangan potensi yang ada. Kemudian pada pencanangan ini juga sekaligus pemerintah desa tumpuak tangah diresmikan Kampung Produktif.

Kampung produktif bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat terutama dalam hal home idustri. Sehingga hal ini akan bersentuhan langsung dengan perempuan. Maka, 5 kampung produktif yang telah ditetapkan telah berjalan dan telah memproduksi kerajinan seperti songket. Ada 850 penjaring songket dan telah mampu menyelasaikan 2 pis selama seminggu.

Produksi Songket home industri Kota Sawahlunto ada sebanyak 796 pengrajin. Sebanyak 70224 lembar produksi Songket pertahun dengan daya jual sebesar Rp19,9 miliar selama 2016. Sementara biaya produksi yang dikeluarkan menenun songket sebesar Rp8,9 miliar dengan upah atau laba sebesar Rp11 miliar.

Ada sebanyak 23 pengumpul dan Pengusaha songket di kota Sawahlunto dan akan menempati Pasar Songket Silungkang yang ada di Muara Kalaban. Pengumpul ini membeli semua songket yang diproduksi oleh anak songket sebagai tempat penampungan songket.

Adanya pengumpul dan pengusaha yang akan membeli produk songket, masyarakat akan lebih terbantu. Maka dengan adanya home industri songket maka pendapatan masyarakat bertambah dan pertumbuhan ekonomi pun meningkat sehingga kesejahteraan masyarakat mengalami peningkatan.

Maka, songket tersebut akan terus dilakupan pengembangan dan meningkatkan pertumbuhan pengrajin songket dengan melakukan pembinaan kepada masysrakat. Bentuk pembinaan yang diberikan adalah berupa pelatihan untuk menambah generasi penerus dan pengrajin songket dengan mengumpulkan generasi muda yang memiliki kemauan dan bakat untuk menenun.

Pembinaan yang dikakukan ada sebanyak 50 orang pengrajin songket baru setiap tahun. Pembinaan yang diberikan dengan anggaran APBD, maka setelah pelatihan diberikan pelantai songket. Karena bantuan yang diberikan tidak berupa dana segar melainkan dengan memberikan peralatan songket.

Pelatihan tersebut diharapkan akan terus ada sehingga regenerasi penenun songket terus ada. Maka, dengan adanya pembinaan yang dilakukan oleh Penyuluh Industri bertujuan untuk melatih generasi baru dan home industri baru terus bermunculan.

Pemerintah dalam hal ini sangat mensupor untuk dapat memberikan pelatihan dan pembinaan home industri dan pemula. Maka, untuk pembinaan dan pelatihan tersebut tidak hanya mengandalkan APBD saja, melainkan pembinaan dapat dilakukan ditingkat Desa.

Dana Desa diharapkan bisa membantu biaya pelatihan songket kepada masyarakat. Sehingga Dana Desa tersebut peruntukannya tidak hanya berupa bentuk bangunan fisik saja, tetapi juga membantu meningkatan ekonomi kerakyatan seperti pembinaan songket yang dianggarkan melalui APBDes. Hal ini telah disampaikan pada Musrembang Desa dan walikota mendukung upaya peningkatan ekonomi kerakyatan tersebut menggunakan APBDes.

Kemudian, untuk pemasaran songket tersebut pemerintah kota terus melakukan promosi melalui Koperasi Industri Kerajinan Rakyat (Kopinkra). Selain promosi, kopinkra juga menyediakan penjualan peralatan songket. Promosi dilakukan ditingkat Kota dan Nasional melalui pameran-pameran. Kemudia, promosi juga dilakukan melalui ivent kota, seperti Sawahlunto Internasional Songket Carnaval (Sisca) dan Hari Jadi Kota Sawahlunto.

Untuk meningkatkan daya jual songket masyarakat, maka pemerintah kota menjual ke Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memakai songket dalam kedinasan. Maka, langkah ini diharapkan akan membatu bagi masyarakat menambah pendapatan mereka. Kemudian, pengusaha dan pengumpul juga ikut serta mempromosikan kongket Silungkang melalui relasi dan perantau yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kemudian, disamping meningkatkan ekonomi masyarakat maka didukung dengan masyarakat yang religius. Maka, pemerintah telah dicanangkan maghrib mengaji dan satu jam tanpa menyalakan televisi, kemudian gerakan subuh berjamaah.

Magrib mengaji dan subuh berjamaah ini telah dilakukan serta diminati masyarakat, maka upaya ini terus ditingkatkan sehingga 7,7 persen masyarakat kota sawahlunto yang melaksanakan terdiri dari 48 mesjid dengan jemaah rata-rata sebanyak 50 orang, kemudian, 176 mushalla dengan jemaah rata-rata 10 jemaah yang melaksanakan shalat Subuh.

Untuk menjalankan program shalat subuh berjemaah tersebut di mulai dari pemerintah kota beserta Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Program tersebut bertujuan untuk menyiapkan diri sebagai pribadi memiliki pendirian dan iman yang kuat.

Pemerintah Kota mengajak masyarakat untuk shalat subuh berjemaah di masjid. Maka, pemerintah kota telah menjalankan program ini untuk berkeliling melaksanakan shalat shubuh ke masjid-masjid yang ada di kota Sawahlunto. Hari ini merupakan subuh yang kesembilan kali shalat subuh berjemaah di masjid bersama dengan jemaah masjid. Langkah yang dilakukan Pemerintah kota dengan mendatangi masjid-masjid untuk mengikuti shalat subuh berjamaah, dengan cara menggilirkan masjid yang kunjungi untuk melihat shalat subuh berjamaah.

Sunday, February 26, 2017

Kampung Produktif Tingkatkan Ekonomi Masyarakat

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto
 Serahkan Pencanangan Kampung Produktif
kepada Kepala Desa
Mencanangan kampung produktif dalam mewujudkan visi kota yang tertuang dalam RPJMD 2013-2018 terwujudnya masyarakat kota Sawahlunto yang produktif, mandiri, religius, sejahtera dan pemerintah yang melayani. Maka, pemerintah kota Sawahlunto, Sumatera Barat, tahun 2017 memprioritaskan pembangunan yang tertuang dalam RKPD yakni pengembangan Ekonomi Kerakyatan yang berbasis pada pengembangan ekonomi kreatif, mandiri dan daya saing.

"Ada 5 kampung produktif yang diresmikan seperti di Dusun Luak badai memikili kerajinan songket, Dusun Kayu Gadang produksinya sepatu, Desa Sikalang memprodusi Konfeksi, Desa Rantiah kerajinan tangan, dan Desa Tumpuah Tangah kampung produktif yang telah memproduksi anyaman bambu," Ungkap Andy Rastika, Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Sawahlunto, Kamis, 23 Februari 2017.

Hasir Kerajinan Bambu Siap Dipasarkan
Ia menyebutkan bahwa pemerintah kota menargetkan 8 Kampung Produktif hingga tahun 2018 mendatang sebagai bentuk pengembangan ekonomi kreatif. Maka, semester I tahun ini kembali diresmikan kampung produktif Desa tumpuak tangan yang terletak di Kecamatan Kota Sawahlunto terdiri dari enam dusun dengan 2050 jiwa penduduk dan 590 kepala keluarga. 

"Mata pencarian masyarakat dominan adalah sebagai karyawan di perusahaan swasta 160 kepala keluarga karena desa ini dekat dengan perusahaan tambang batu bara. Desa Tumpuah Tangah ini dijadikan sebagai salah satu kampung produktif karet mempunyai potensi terutama bidang pertanian seperti karet seluas 260 ha dengan jumlah produksi 5 ton perminggu," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, perkebunan kelapa seluas 50 ha dengan jumlah produksi 4000 butir perbulan, dengan daerah pemasaran Sumatera Barat dan Riau. Kemudian, perkebunan cokelat seluas 5 ha. "Selain perkebunan, bidang pariwisata desa ini juga memiliki potensi wisata seperti Bukit Puncak Sula, Kawasan Rumah Pohon dan Kawasan Danau Biru. Kemudian, bidang industri kerajinan anyaman hias dan kerajinan anyaman ketidiang dan niru," ungkapnya.

Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto menyebutkan Potensi yang ada dijadikan dasar dalam mengembangkan kampung produktif di desa Tumpuak Tangah, sehingga sangat diharapkan kerjasama dari semua pihak terkait dalam pengembangan potensi yang ada. Kemudian pada pencanangan ini juga sekaligus pemerintah desa tumpuak tangah diresmikan Kampung Produktif.

"Kampung produktif bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat terutama dalam hal home idustri. Sehingga hal ini akan bersentuhan langsung dengan perempuan. Maka, 5 kampung produktif yang telah ditetapkan telah berjalan dan telah memproduksi kerajinan seperti songket. Ada 850 penjaring songket dan telah mampu menyelasaikan 2 pis selama seminggu," ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, disamping meningkatkan ekonomi masyarakat maka didukung dengan masyarakat yang religius. Maka, pemerintah telah dicanangkan maghrib mengaji dan satu jam tanpa menyalakan televisi, kemudian gerakan subuh berjamaah. 

"Magrib mengaji dan subuh berjamaah ini telah dilakukan serta diminati masyarakat, maka upaya ini terus ditingkatkan sehingga 7,7 persen masyarakat kota sawahlunto yang melaksanakan terdiri dari 48 mesjid dengan jemaah rata-rata sebanyak 50 orang, kemudian, 176 mushalla dengan jemaah rata-rata 10 jemaah yang melaksanakan shalat Subuh," katanya.

Saturday, October 15, 2016

Pabrik Sepatu Home Industri Desa Santur Terkendala Bahan Baku



Pabrik Sepatu Desa Santur Dusun Kayugadang

Desa Santur Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, sebelumnya memiliki kelompok industri Sepatu bertempat di Dusun Kayugadang. Kelompok tersebut beranggotakan masyarakat Dusun Kayugadang menjadi program pemerintah kota. Sehingga Desa Santur dijadikan Desa produktif kerajinan sepatu yang diberi nama Sepatu Kayugadang.

Kerajinan sepatu ini akan dimasukan pada Anggaran Pendapatan Dan Belanja Desa (APBDes) 2016, ternyata dana yang dibutuhkan cukup besar. Sehingga penjarin sepatu tersebut dimasukan pada pengganggaran kota ke Dinas Perindusterian, Perdagangan, koperasi dan tenagakerja (Dinasperindagkopnaker) Kota Sawahlunto. "Pelaku usaha sepatu Kayugadang terkendala oleh bahan baku. Jadi, pada tahun 2017 akan terealisasi dari dana kota pengelola oleh Dinasperindagkop," ungkap Zulfa, Sekretaris Desa Santur, kepada penulis, Rabu, 12 Oktober 2016.

Ia mengatakan kelompok pelaku usaha home industri dengan mengajukan pengganggaran sebesar Rp200 juta. Tatapi Badan Usaha Milik Desa (BumDes) tidak bisa mengganggaran sebanyak itu. Kemudian, APBDes yang diutamakan swakelola pembinaan masyarat.

"Desa Santur memiliki program peningkatan ekonomi masyarakat, yakni kesenia kuda kepang mahar budaya karang anyar, kelompok jahir dan bordir kurang anyar, penakaran burung birt berkicau. Tiga program ini telah mulai berjalan dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat berdasarkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki," katanya.

Zulfa mengatakan bahwa selain itu, Desa Santur telah dibentuk BumDes yakni citra Santur Mandiri yang bergerak dibidang jasa. Citra Santur Mandiri ini terbentuk sejak bulan Maret, lalu memiliki molen yang berfungsi untuk aduk semen. "Desa Santur mempunyai lima dusun dengan jumlah penduduk sebanyak 3704 jiwa dengan 891 Kepala keluarga," katanya.

Delzifajri Tenaga Ahli  Program Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Sawahlunto mengatakan bahwa produksi sepatu Dusun Kayu Gadang Desa Santur yang perlu dibenahi adalah manajemen pengelola, baik dari segi kualitas dan kuantitas produksi harus mampu memenuhi permintaan. Jika, manejemannya bagus maka akan terjadi persaingan yang sehat, baik itu antar sesama anggota kelompok untuk memperlihatkan kinerjanya, termasuk persaingan terhadap pendistribuasian hasil produk baik disain.

Selain itu, jika managemannya baik tentu masing-masing memiliki daya saing dan target yang ingin di capai. Berapa jumlah produksi, kemudian pangsa pasar prodak yang harus di jual. Kemudian memasok barang ke distribotor daerah lain atau menjual langsung sampai kedaerah. Manajemen yang baik akan membentuk strategi yang baik pula termasuk stragegi pemasaran prodak yang dimiliki.

Kayu Gadang sebetulnya memiliki pengalaman bekerja di salah satu pabrik sepatu, kemudian pulang kampung dan berusaha untuk membuat produk sepatu. Sehingga terbentuklah home industri. Tetapi pelaku home industri tidak membanyangkan pangsa pasar, siapa yang akan harus membeli. Kemudian dari segi kualitas bahan atau barang serta desain yang dirancang sehingga tampilannya pun menarik. Bagaiman memasarkannya tidak hanya dilokal tetapi masuk ke daerah lain pemesarannya.

"Hal itu tidak dilakukan dengan baik, termasuk konsep yang matang oleh pelaku industri. Tentunya hal itu tidak terlepas dari manajemen, bagaimana prodak yang ditamiliki bisa tembus pangsa pasar. Bicara pangsa pasar tentu harus siap untuk bersaing dengan pasang pasar tersebut. Agar prodak yang dimiliki home industri tersebut harus diketahui banyak orang, tentu dengan cara pomosi," katanya.

Selanjutnya, untuk memikirkan pangsa pasar tentu harus mempunyai Sumber Daya Manusia (SDM) yang bagus, manajemen yang baik serta konsep yang terencana. Jika hal itu telah terpenuhi maka home industri sepatu kayu gadang bisa bersaing di pangsa pasar karena telah memiliki brand dan merk. Padahal Kayu Gadang telah memiliki brand, maka hal itu perlu di evaluasi.

"Harus ada manajemen, ada perusahaan oleh desa yang dimanfaarkan oleh karyawan desa. Agar bisa berfikir lebih maju. Tetapi selama ini yang terjadi adalah dengan mengharapkan bantuan. Setelah bantuan itu habis maka produksi pun berhenti. Sebab, pelaku industri hanya memikirkan sekedar untuk mendapatkan "makan" saja tempa memikirkan kesejahteraan," ungkapnya.

Ia menyebutkan bahwa setelah terbentuk home Industri Sepatu dan dikelola secara kelompok, kemudian pada akhir tahun 2015 lalu tidak lagi memproduksi. Untuk memulai kembali membutuhkan biaya dan memulai kembali dari nol. Maka, untuk langkah lanjutan, maka bisa dijadikan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dengan penganggarannya dari APBDes dengan mengikuti aturan main yang ada.

"belajar dari kegagalan sebelumnya, kenapa dulu pernah ada produksi sepatu, namun sekarang tidak lagi muncul dan hilang. Maka, untuk memulai kembali harus ada manajeman yang baik dan bagan struktur organisasi yang jelas. Kalaulah yang menjadi kendala adalah dana, bisa di tanggunali dengan dana desa, tetapi harus mengikuti aturan main. Jika tidak, maka bisa sampai ke ranah hukum," ungkapnya.