Showing posts with label ekonomi. Show all posts
Showing posts with label ekonomi. Show all posts

Thursday, July 20, 2017

Harga Komoditi Kebun dan Rempah Rempah Kembali Membaik

Harga jual komoditi perkebunan dan rempah rempah mengalami kenaikan harga. Saat ini harga jual Pinang seharga Rp13.000 perkilo gram. Sementara harga jual Kakao seharga Rp18.000 perkilo gram. Kenaikan harga terjadi karena berkurangnya produksi hasil perkebunan petani. Selain itu berkurangnya petani yang menjual Pinang dan Kakao di pasaran. 

Salah seorang petani Pinang, Syahrul, 59, warga Jorong Kadang, Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa harga jual Pinang mengalami kenaikan harga. Kenaikan harga jual pinang berkisar Rp1000 perkilogramnya. 

"Harga ini mengalami kenaikan, meskipun harga Pinang sebelumnya mengalami penurunan setelah lebaran mencapai Rp12.000 perkilo. Penurunan harga tersebut di alami sejak masuk bulan ramadhan. Harga jual pinang sebelum ramadhan mencapai Rp14.000 perkilo gram," ujarnya kepada Penulis, Rabu, 19 Juli 2017.

Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga yang terjadi pada saat ini belum termasuk harga normal. Artinya harga jual Pinang sebelum bulan puasa 1438 H berkisar Rp14-15 ribu perkilo gramnya. Harga tersebut terus turun hingga lebaran mencapai Rp12.000 perkilo gram. Namun saat ini harga jual Pinang mencapai Rp13.000 perkilogram. 

"Harga jual Pinang saat ini naik dibandingkan setelah lebaran hanya Rp12.000 perkilo gram. Saat ini harga jual naik Rp1000 perkilo," tuturnya. 

Ia mengataka  bahwa Pinang yang di jual ke pasar pun tidak banyak. Sebab kebun Pinang miliknya hanya beberapa batang sebagai pembatas kebun. Selanjutnya, harga jual Kakao juga mengalami penuruhan harga dibanndingkan harga sebelumnya. 

"Kakao harganya pun turun dibandingkan harga sebebelum bulan puasa. Sebelumnya Harga Kakao berkisar Rp20 ribu hingga Rp21 ribu perkilogram. Namun saat ini harga jual Kakao sebesar Rp18.000 perkilo gram. Meskipun setelah lebaran harga jual mencapai Rp15.000 hingga Rp17.000 perkilo gram. Naik Rp1000 dari harga setelah lebaran," ungkapnya. 

Ia mengaku bahwa saat ini dirinya hanya menjual Pinang sebanyak 10 kilo gram dan lumayan untuk tambahan penghasilan serta dirinya berharap harga jual Pinang terus mengalami peningkatan. Kemudian menjual Kakao sebanyak 7 kilo. Sebab, Kakao banyak yang sakit dan buahnya pun menghitam dan membusuk di batang. 

"Saya berharap ada sosuli dari pemerintah terkait untuk kembali menstabilkan harga jual Kakao dan Pinang, kemudian mencarikan solusi untuk mengatasi penyakit Kakao yang menghitam dan membusuk buahnya dibatang," paparnya. 

Rama As, 55, warga Kampung Teleng, Kelurahan Pasar,  Kecamatan Lemah Segar merupakan pengumpul komoditi perkebunan dan rempah-rempah menyebutkan bahwa harga jual Pinang saat ini mengalami kenaikan harga dibandingkan pekan sebelumnya. Saat ini harga beli Pinang di jual Rp13.000 perkilo gram dan harga jual berkisar Rp13.000 hingga Rp14.000 perkilo gram. 

"Harga beli komoditi perkebunan seperti Pinang saat ini mengalami kenaikan harga dibandingkan dengan pekan sebelumnya hanya Rp17.000 perkilo gram. Naik Rp1000 perkilo gram dari harga biasanya," katanya.

Sementar itu, harga komoditi perkebunan lainnya seperti Kakao dan Kopi berkisar di beli dari petani sebesar Rp18.000 perkilo gram. Sedangkan harga jual Rp18.500 perkilo gramnya. Sedangkan harga Cengkeh juga mengalami kenaikan harga sebesar Rp5000 dari harga sebelumnya sebesar Rp95.000 perkilo gramnya. 

"Saat ini saya membeli Cengkeh dari petani seharga Rp100 ribu perkilo gram. Harga Kakao dan Kopi ini juga mengalami kenaikan dibandingkan dibandingkan Pekan sebelumnya. Kenaikan harga mencapai Rp1000 perkilo gramnya. Kenaikan ini disebabkan oleh berkurangnya produksi hasil kebun petani dan telah menjadi hukum dagang," ujarnya. 

Ia mengaku setiap Pekan hanya mampu mengumpul sebanyak 500 kilo pinang dari petani yang menjual ke pasar. Sedangkan untuk kakao dan kopi berkisar 200 kilo setiap pekannya. "Kalau sedang banyak penen petani, dalam sepekan kita bisa mengumpulkan pinang hingga mencapai 1 ton. Itu pun sangat jarang terjadi dan terpenuhi," katanya.

Thursday, June 8, 2017

Melirik Aktifitas Pengrajin Anyaman Bambu Dusun Batu Kakok

Penjualan Hasil Produksi Kerajinan Bambu Sulit

Anyaman bambu tidak dapat dipandang sebelah mata, karena bisa membantu tambahan pendapatan keluarga dan biaya sekolah anak. Seperti apa ceritanya.


Selasa, 6 Juni 2017 siang langit kota Sawahlunto cerah. Siang itu Penulis menelusuri Desa Tumpuak Tangan Kecamatan Talawi sebagai kampung produktif. Jalanan yang berliku dan menurun dilereng perbukitan. Pemandagan yang indah dengan sawah berjenjang di lereng perbukitan. Hingga sampai di kantor Desa Tumpuak Tangah berjumpa dengan kepala Dusun Batu Kakok.

Perjalanan kembali dilanjutkan menuju kediaman Yanti Murtiningsih, 43, Warga Luak Andengin, Dusun Batu Kakok, Desa Tumpuak Tangah, Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto pengrajin anyaman bambu. Terlihat ibu paruh baya sedang duduk lesehan di pintu masuk rumah. Ibu yang memakai baju kaos hijau tersebut duduk di lantai teras rumah yang belum diplaster. 

Ibu lima orang anak ini sedang meraut bambu sampai menjadi bilah sebagai bahan baku pembuat ayaman. Pisau sirauik ditangan kanannya sedakan tangan sebelah kiri memegang sebilah bambu untuk di iris menjadi "bilah". Sementara sisa-sisa limbah raut berseleweran di sekitar tempat duduknya. Sebab, pekerjaan meraut bambu sedang berlangsung dan belum sempat dibersihkan.

Ibu baya mengenakan kaca mata tersebut sedang menyiapkan pesanan kemasan untuk snack sebanyak 300 buah. Kemasan snack yang dipesan untuk kegiatan Sawahlunto Internasional Songket Carnival (Sisca) mendatang. Pesan ini dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Sawahlunto tempat snack tamu undangan yang hadir.

Ia mengaku mulai belajar menyanyam anyaman bambu pertamakali membuat niru pada tahun 1993. Pada tahun tersebut ia mulai ikut-ikutan menganyam bambu karena orang tua bisa menyanyam bambu tersebut. Pada masa itu, ia telah bisa membuat anyaman bambu untuk membuat niru. Namun, hasil anyaman tersebut tidak untuk di jual karena hanya kepuasan tersendiri bisa menganyam.

Kemudian, pada tahun 2015 barulah mulai aktif membuat anyaman bambu yang siap dipasarkan. Selanjutnya untuk menambah ilmu pengetahuan menganyam bambu ia masuk Sanggar Anyamam Bambu. Disanggar tersebut ia banyak mendapat pengetahuan dan ivovasi baru menganyam bambu. Lebih dari 20 orang anggota sanggar belajar membuat berbagai jenis motif anyaman bambu dipelajari termasuk dirinya sendiri.

Namun pada akhir tahun 2015 lalu sanggar tersebut tidak ada aktif lagi. Sanggar tidak lagi berjalan seperti biasa karena ketua sanggar pindah ke Padang bersama keluarganya. Meskipun demikian anggota sanggar tetap menyanyam di rumah masing-masing hingga pada akhirnya dibentuk kembali kelompok pengrajin bambu. 

"Semenjak tidak ada lagi tempat berlajar di sanggar dan mengandalkan pelatihan dari Desperindag Kota Sawahlunto. Hal itu tidak memungkinkan hanya menunggu momen dan pelatihan saja. Untuk membuat kreasinya dan inovasi lainnya harus berani mencoba-coba yang mendapatkan hasil yang lebih baik," ujarnya seraya meyakinkan dan berhenti sejenak meraut.

Ia mengaku bahwa ketekunan dan keseriusan untuk menganyam bambu serta harus berani mencoba untuk bisa mendapatkan hasil kreasi baru, tanpa harus mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Harus berani mencoba membuat kreasi baru, karena langkah awal menyanyam sudah bisa seperti membuat dasar jalinan bambu. Jadi tidak sulit untuk lebih kreatif untuk mengembangnya menjadi motif apapun yang diingikan sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran. 

"Baru-baru ini saya sedang membuat tas terbuat dari bambu dan tas tersebut bisa dibawa untuk kondangan, karena tas berukuran mini dan terlihat lebih elegan. Untuk membuat anyaman tersebut terasa agak sulit adalah saat melakukan patahan anyaman. Patahan itulah yang akan menjadi motiv sesuai pada gambar yang diinginkan, seperti membuat kemasan snack dan lain sebagainya," sebutnya sembari memperlihatkan produksi aman yang telah dibuatnya dengan berbagai jenis.

Kemudian membuat kemasan songket, sesuai dengan instruksi walikota bahwa setiap pembelian songket diharuskan menggunkan anyaman bambu. Sehingga bisa membantu penjualan pangsa pasar anyaman bambu. Kemudian, kemasan songket terkesan lebih mewah dan lebih elegan. 

Kemudian, produksi anyaman bambu yang telah dibuat dijualan berdasarkan pesanan dan dipasarkan Jawa, Pekanbaru, dan Bukittinggi. Namun karena pesanan tersebut sifatnya tidak berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dari si pemesan barang. Pesanan anyaman bambu ada sebanyak 400 buah, namun pesanan tidak berkelanjutan karena bersifat musiman.

Selanjutnya, terang dia, anyaman bambu tersebut tidak bisa dikatan sebagai sumber pendapatan utama bagi keluarga. Namun, tidak pula bisa dikatakan tidak bisa membantu menambah pendapatan keluarga. Sebab, anyaman bambu tidak bisa dipandang sebelah mata, karena jika ada pesanan dari pembeli maka akan sangat membantu tambahan pendapatan keluarga. 

"Ayaman bambu ini dapat menambah pendapatan suami, karena suami bekerja sebagai buruh tambang. Saya punya 5 orang anak dua orang telah bekerja sebagai sopir, kemudian 3 orang lagi masih sekolah. Hasil penjualan anyaman ini dapat membantu biaya anak sekolah," sebutnya.

Ia menyadari bahwa membuat anyaman bambu tidak membutuhkan banyak modal. Namun, proses pembuatannya memakan waktu lebih lama, di mulai dari penebagan bambu sampai meraut dan mewarnai. Kalaulah untuk menyanyam tidak terlalu lama, karena ada pesanan untuk kemasan snack sebanyak 50 buah bisa di kerjakan selama tiga hari.

"Bahan utama membuat anyaman adalah bambu jenis bambu dikenal dengan bambu Tali. Karena bambu Tali tersebut memiliki ruas yang panjang. Kemudian, tidak mudah patah dan seratnya pun baik dan bagus sehingga mudah menganyamnya. Selanjutnya, membentukannya pun lebih mudah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Kemudian bahan pendukung lainnya yakni Lem kayu untuk perekat dan pewarnaan," sebut ibu yang mudah tersenyum ini.

Sembari bolak balik ruangan untuk mempragakan hasil inovasi anyaman bambu yang dibuatnya, ia menjelaskan tahapan yang dilakukan dalam pembuatan hingga menjadi tempat bungkusan snack. Tahapan pertama di mulai dengan penebangan bambu, dibersihkan dan potong. Kemudian, masuk pada tahap pengolahan seperti meraut bambu hingga halus. Meraut bambu tersebut bertujuan agar sembilu bambu yang tajam dapat dibuang. 

Kemudian bambu tersebut dibelah hingga berikuran 0,5 cm hingga lebih sesuai kebutuhan dan ketebalan hingga 2 mm. Dalam satu batang pohon bambu bisa menghasilkan 3 kilogram bilah bambu. Selanjutnya, usai dibelah maka dilanjutkan dengan proses berikutnya yakni pewarnaan. Bambu yang sudah dibelah-belah atau di sebut juga dengan "Bilah" direbus agar warna tidak mudah luntur. Untuk mendapatkan kualitas warna yang bagus dan menyerap hingga kepori-pori bilah bambu dengan merebus selama 3 jam.

"Ada pewarna khusus tergantung pada pengolahan produk. Proses pembuatan anyaman bambu tersebut tidak banyak memakan waktu. Kemudian, jenis anyama yang dibuat berdasarkan jenias dijual berkisar Rp7000 sampai Rp35.000. Seperti tempat penyimpanan pena di jual seharga Rp7000 perunit. Kemudian, tempat snack di jual Rp10.000 perunit dan pot bunga di jual Rp15.000. Kemudian songkok lampu gantung di jual Rp35.000 perunit. Kemudian, sapu lidi warna warni di jual Rp12.500," lanjutnya.

Ia menyebutkan bahwa bantuan dan pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah belum ada terutama dalam permodahan usaha. Kemudian bantuan modal usaha dari pemerintah belum ada, namun pengajuan proposal sudah pernah dilakukan hingga saat ini belum ada realisasinya. "Kalau mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Disperingkop pernah dua kali. Pelatihan berupa pengolahan bahan baku, penganyaman dan finising anyaman bambu tersebut," akunya.*

Wednesday, June 7, 2017

Sawahlunto Raih WTP Kedua Kalinya

Sawahlunto berhasil raih opini tertinggi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kota Sawahlunto tahun 2016. Opini WTP tersebut diraih setelah BPK-RI melakukan pemeriksaan secara komprehensif terhadap LKPD tahun 2016. Opini WTP ini merupakan yang ke dua kali berturut-turut sejak 2016.  Opini WTP tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Perwakilan Bandan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) Sumatera Barat, Jumat, 2 Juni 2017.

"Laporan keuangan pemerintah kota Sawahlunto dibandingkan tahun lalu sudah bagus. Namun, bukan berarti tidak ada temuan dan harus ditindak lanjuti dengan mekanisme selama 60 hari dan harus ditindak lanjuti dan pemerintah kota pun sudah mengetahui," ujar Dra. Eliza, MM, CA, Ak, Ketua Perwalikan Badan Pemeriksan Keuangan Rebuplik Indonesia (BPK-RI) Provinsi Sumatera Barat, Jumat, 2 Juli 2017.

Ia mengatakan bahwa masukan untuk pemerintah kota Sawahlunto, kelola dengan baik uang negara dan tidak boleh ada yang diselewengkan. Sumatera Barat secara keseluruhan telah memiliki kemajuan dan peningkatan dalam pelaporan keuangan.

"Sawahlunto perlu ada perubahan aset masih ada, tetapi tidak material lagi. Karena BPK sendiri memiliki standar yang harus diikuti dan matrelity harus diikuti yang memiliki batasan, namun semua itu telah dilewati oleh Sawahlunto," katanya.

Ia menyebutkan bahwa pemeriksaan keuangan merupakan tugas konstitusional BPK yang memiliki motto ‘Dengan Kejujuran Berarti Kita Berperan Serta Dalam Meningkatkan Perekonomian Negara’. BPK melakukan pemeriksaaan keuangan secara ketat, yakni dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Opini sendiri, merupakan pernyataan profesional.

“Opini yang diberikan merupakan pernyataan profesional sebagai kesimpulan pemeriksa mengenai tingkat kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dengan beberapa dasar penting. Kita mengapresiasi kabupaten/kota sesuai pertanggungjawab laporan keuangan negara berdasarkan, Pasal 12 nomor 15 tahun 2015. Mulai dari kesesuaian laporan keuangan dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, Kecukupan Informasi Laporan Keuangan, dan Efektifitas Sistem Pengendalian Intern, serta Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundang-undangan," katanya.

Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto, yang mendapat kesempatan memberikan sambutan mewakili Padang Panjang, Pesisir Selatan dan Pasaman Barat menyampaikan, Sawahlunto berhasil mempertahankan opini WTP untuk kedua kalinya, setelah 13 tahun sebelumnya, secara berturut-turut opini terhadap LKPD Sawahlunto, hanya meraih label opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). 

"ini berkah ramadhan dan hasil kerja team work jajaran pemerintah kota. Sawahlunto berterima kasih atas binaan yang diberikan semua pihak, sehingga kembali meraih opini WTP untuk kedua kalinya,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa pencapaian opini WTP yang diraih, menyatakan bahwa pengelolaan keuangan pemerintah tahun 2016 telah sesuai aturan dan peruntukannya. Pengelolaan keuangan pemerintah telah dilakukan sesuai aturan, memang menjadi sebuah prioritas. Pencapaian opini WTP, membuktikan bahwa pemerintah telah mengelola keuangan secara baik.

“Tentunya, kami berharap ke depan akan pengelolaan keuangan pemerintah akan jauh lebih baik. Sehingga, tujuan utama pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, khususnya mensejahterakan masyarakat semakin maksimal. Keberhasilan mempertahankan opini WTP juga mendapatkan ganjaran reward berupa tambahan dana insentif daerah, yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan percepatan pembangunan daerah," katanya.

Ketua DPRD Sawahlunto, Adi Ikhtibar mengatakan bahwa atas nama pimpinan DPRD dan seluruh anggota sangat berbangga apa yang diraih oleh pemerintah daerah dengan meraih opini WTP untuk ke dua kalinya dalam kategori wajar tanpa pengecualian. Apresiasi atas pencapaian prestasi diraihnya opini WTP atas laporan keuangan Kota Sawahlunto tahun 2016 oleh Walikota dan Wakil Walikota.

"Hal tersebut merupakan tanda keseriusan pemerintah daerah dalam menjalankan roda pemerintahan. Prestasi ini wajib kita pertahankan untuk selanjutnya demi kemajuan kota Sawahlunto. Legislatif tentu sangat mengapresiasi atas prestasi yang diraih. Ke depan harus semakin ditingkatkan. Mudah-mudahan dapat berdampak pada peningkatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. DPRD tetap mendukung program pwmerintah selama program tersebut adalah pro terhadap kepentingan masyarakat kota Sawahlunto dan kemajuan ekonomi, sosial-budaya maupun pendidikan yang ada di Sawahlunto ini,” katanya.

Kepala DPKAD Kota Sawahlunto, Buyung Lapau, mengatakan keberhasilan Sawahlunto meraih WTP, diikuti dengan reward berupa penambahan Dana Insentif Daerah (DID), sebesar Rp7,5 miliar dari bonus kinerja pengelolaan keuangan daerah. Tidak hanya sampai disitu, kesempatan untuk mendapatkan reward yang jauh lebih besar senilai Rp30 miliar, juga dimiliki Sawahlunto, jika didukung dengan prestasi Kinerja Pelayanan Publik dan Kinerja Ekonomi dan Kesejahteraan.

“Jika Kinerja Keuangan Daerah didukung dengan Kinerja Pelayanan Publik, Kinerja Ekonomi dan Kesejahteraan, serta memenuhi passing grade 68,33, maka Sawahlunto akan mendapatkan ‘bonus’ anggaran DID sebesar Rp30 miliar. Kinerja Sawahlunto di tahun 2015 lalu, baru pada posisi 67,02, sangat tipis dengan passing grade yang ditetapkan. Insya Allah, mudah-mudahan Kota Sawahlunto dapat mencapai target tambahan Rp30 miliar, karena tinggal sedikit lagi peningkatannya,” katanya.

Tuesday, May 9, 2017

Produksi Kakao Sawahlunto Capai 60 ton Perbulan

Produksi Kakao sejak Januari 2017 mencapai 60 ton tiap bulannya dari 27 Desa dan 10 Kelurahan. 60 ton Kakau perbulan tersebut akan diupayakan me-manage-nya dan meningkatkan hasil produksi, dengan melakukan sambung samping Kakao. Hal ini agar bisa dimanfaatkan sebagai pilot project tiap desa dan kelurahan di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. 

"Produkai tersebut masih jauh dari harapan, karena selama ini adanya penyakit Kakao dan tidak tertutup kemungkinan kesalahan kita yang kurang memperhatikan dan merawat Kakao itu sendiri. Saya telah mencoba sejak tahun 2002 pada 300 batang kakao dengan cara sambung samping. Jika ini berhasil maka dihimbau kepada desa dan kelurahan untuk mengajak masyarakat memakai sambung samping," Ujar Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto, saat pidato pelantikan Kepala Desa Kubang Utara Sikabu, Kecamatan Lembah Segar, Selasa, 9 Mei 2017.

Ia mengatakan bahwa sambung samping Kakau tersebut bisa berhasil maka barulah akan disampaikan pada desa dan kelurahan agar bisa di bantu oleh desa dan kelurahan untuk melakukan penyuluhan terhadap masyarakat agar Kakao dikelola secara baik sehingga produksi kakao bisa ditingkatkan.

"Harga Kakau saat ini bisa berkisar Rp16.000 hingga Rp19.000 perkilo, harga tersebut masih normal. Untuk meningkatkan harga jual, maka karang taruna Lunto Barat dengan Peringkop akan melakukan kerja sama bagaimana memanfaatkan Kakao 60 ton perbulan tersebut dikelola menjadi pasta coklat," katanya.

Maka, lanjut dia, dari itu pemerintah kota di aggaran perubahan anggaran ini akan mencsngkan dana untuk memperbaiki UPTD yang ada di Muara Kalaban yang akan di kelola oleh Karang Taruna untuk membuat pasta yang lebih baik di kota Sawahlunto. "Desa Kubang Utara Sikabu telah pernah mengelola pasta tersebut dan sejatinya digerakan kembali sehingga potensi potensi yang ada bisa dimanfaatkan," paparnya.

Ia menambahkan bahwa untuk percepatan pembangunan dan kemajuan masyarakat sejahtera dengan memanfaatkan potensi yang ada. Hal itu telah dimulai sejak pemerintahan walikota Subari Supardi dengan membentuk pondasi budaya untuk menjadi kota tambang yang berbudaya tahun 2020. Kemudian, dilanjutkan dengan walikota Amran Nur (2008-2013) meletakan pondasi dasar Subari Supardi untuk pembangunan kota Sawahlunto. 

"Amran Nur (Alm) bagaimana ekonomi kerakyatan tersebut bisa dilaksanakan diantaranya dengan menanam kakao dan karet. Maka, tahun 2012 hingga saat ini gonjang ganjing harga karet dan kakao tidak menentu, dan tidak perlu putus asa dengan anjloknya harga karet dan kaku tersebut," tutuknya.

Ali Yusuf menjelaskan bahwa pemerintah kota telah melakukan berbagai kegiatan telah dilaksanakan sebagai langkah antisipasi yang dilakukan. Pada tahun 2013-2015 telah dilaksanakan pembibitan kakao dan karet di kota Sawahlunto. Ada sebanyak 1.250.000 batang bibit Kakao dan 1.500.000 bibit karet. Sementara kota Sawahlunto memiliki luas sebesar 23.345 m persegi, hanya 7 persen untuk lahan pertanian yang bisa di manfaatkan dari luas tanah yang ada.

"Tidak ada lagi lahan untuk menanam karet dan kakau, maka pemerintah kota mengajak dan menghimbau bagaimana mengelola serta memelihara kakao dan karet yang ada dengan baik, guna menambah penghasilan dan pendapatan keluarga dengan terpelihara secara baik," ujarnya.

Thursday, April 13, 2017

Tidak Aktif Dua Tahun 13 Koperasi Sawahlunto Dibubarkan

Sebanyak 13 Koperasi Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dibubarkan oleh kementerian Koperasi karena tidak aktif selama dua tahun. Pembubaran tersebut dilakukan karena koperasi tersebut sudah tidak lagi aktif dan menjalankan programnya. Pembubaran koperasi tersebut bertujuan untuk revitalisasi koperasi yang aktif dan tidak aktif. 

"13 Koperasi yang tidak aktif tersebut dibubarkan karena tidak lagi berjalan programnya dengan baik. Kemudian, pengurusnya pun sudah tidak ada dan tidak ada kabar dan tidak memiliki plang merek koperasi. Pembubaran tersebut dilakukan apabila selama dua tahun tidak berfungsi serta tidak melakukan RAT," ujar Yosrizal, Kabid Koperasi dan UMKM, Dinas Koperasi, Industri UMKM Perindustian Perdagangan Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Senin, 10 April 2017.

Ia menyebutkan bahwa teknik pembubaran koperasi tersebut ada dua cara yakni pembubaran dilakukan oleh pemerintah berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 1994. Kemudian pembubaran tersebut dilakukan oleh anggota Koperasi yang membubarkan. 

"Ada sebanyak 81 Koperasi di Kota Sawahlunto hanya 41 Koperasi yang telah melaksanakan Rapat Akhir Tahun (RAT). Sedangkan koperasi kurang aktif akan di efaluasi akan dilakukan pembinaan. Ada delapan Koperasi yang kurang aktif di Kota Sawahlunto. Delapan koperasi ini tidak tertutup kemungkinan juga akan masuk daftar dibubarkan oleh Kementerian Koperasi," katanya.

Ia melanjutkan bahwa Koperasi yang kurang aktif tersebut dilakukan pembenahan kelembagaan. Kemudian menyelesaikan simpanan yang macet dalam lembaga koperasi tersebut dengan melakukan penagihan kembali. "Koperasi tersebut dibuburkan berdasarkan laporan tri wulan perindagkop dan UMKM pada Kementerian Koperasi," paparnya.

Ia mengungkapkan bahwa Desperindag menargetkan bukan Juni koperasi telah melakukan 80 persen yang telah menjalankan RAT. Target tersebut pada bulan yanh sama tahuan lalu hanya 79 persen. 

"Volume Koperasi Kota Sawahlunto selama tahun 2016 mencapai Rp 113 miliar. Sedangkan koperasi yang masih berjalan baik dengan volume usaha sebesar Rp 1,5 miliar yakni Koperasi Usaha Simpan Pinjam (Kopas) Talawi. Kemudian Koperasi Koperasi Simpan Pinjam Rakyat Silungkang dengan volume usaha sebesar Rp 3,2 miliar. Koperasi Karyawan Sektor Ombilin (KSO) dengan aset sebesar Rp 6 miliar melalui sekotor jasa," sebutnya

Monday, April 3, 2017

Realisasi Anggaran Pendapatan Daerah 2016 Kota Sawahlunto Sebesar 88,18 Persen

Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menyampaikan Anggaran Pendapatan Daerah tahun 2016 sudah dapat direalisasikan sebagaimana mestinya. Secara riil dan objektif kinerja tahun 2016 sudah lebih baik dari tahun sebelumnya yaitu, sebesar 88,18 persen. Walaupun dalam pelaksanaannya masih terdapat beberapa kekurangan dan ketidak sempurnaan.

"Berbagai kemajuan yang telah dicapai melalui pelaksanaan program kerja tersebut diharapkan mempunyai arti dan nilai yang akan memberi pengaruh dan dorongan yang positif terhadap pelaksanaan pembangunan selanjutnya. Sementara kekurangan-kekurangan tersebut merupakan koreksi yang diharapkan dapat mendorong kita untuk memperbaikinya dimasa yang akan datang," Ujar Ali Yusuf saat menyampaikan Pidato Pengantar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Kota Sawahlunto tahun anggaran 2016 pada Rapat Paripurna DPRD Kota Sawahlunto, Senin, 2 April 2017.

Ia menyebutkan bahwa sesuai dengan amanat undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah dan dengan telah berakhirnya tahun anggaran 2016 pada tanggal 31 Desember 2016 yang lalu. Maka kepala daerah wajib menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggunjawaban Kepala Daerah sebagaimana tertuang dalam pasal 69 ayat (1) bahwa Kepala daerah wajib menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban kepada DPRD dan pasal 71 ayat (2) menjelaskan bahwa LKPJ disampaikan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. 

"Pengelolaan belanja daerah rutin dilaksanakan untuk pembiayaan kegiatan rutin maupun pembangunan, realisasi Belanja Daerah tahun 2016 sebesar Rp.602.138.436.500,12 atau 91,28 persen dari alokasi anggaran sebesar Rp.659.684.663.922,00,-" katanya.

Ia melanjutkan bahwa pengelolaan pendapatan daerah, Realisasi Pendapatan Daerah tahun anggaran 2016 sebesar Rp.588.749.048,54 atau sebesar 97,89 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp.601.416.292.738. Sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp.53.399.735.599,54 atau 89,95 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp.59.365.674.458,-.

"Dana Perimbangan sebesar Rp.509.630.596.269 atau sebesar 98,83 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp.515.659.532.700,-. Sementara lain-lain pendapatan yqng sah sebesar Rp.25.719.292.180,- atau 97,45 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp.26.391.085.580,- " ungkapnya.

Wednesday, March 22, 2017

Butuh Modal Usaha Untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan produksi songket

Yulia Fera (Y.F) Songket Pelaku Home Industri
Selasa, 7 Maret 2017 siang langit kota Sawahlunto, Sumatera Barat, cerah. Jalan menuju Desa Lunto Timur, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, menurun dan berkelok. Udara yang sejuk dan pemandangan alam serta perbukitan yang alami menyejukan mata. Desa Lunto Timur, Dusun Koto Tuo melewati pendakian yang curan serta jalanan yang kecil. Maka, untuk melewati jalan tersebut harus ekstra hati-hati menempuh jalan semen berukuran sekitar 80 cm tersebut.

Siang itu, Penulis menjambangi rumah pengrajian Songket Yulia Fera, Dusun Kota Tuo, Desa Lunto Timur, untuk menyaksikan langsung proses pembuatan songket. Sesampai dirumah Yulia, terlihat ia sedang sibuk menyelesaikan songket pesanannya. Ibu muda ini terlihat piawai memintal benang dan merajutnya menjadi motir dari benang emas. 'Turak' yang mondar-mandir dimasukan ke lorong dan bagian benang lantai yang akan menjadi motif.

Ruang produksi songket Yulia Fera (Y.F) terlihat masih sederhana. Ia memanfaatkan flapon rumah bagian belakang yang ditutup kayu seadanya. Dindingnya tidak utuh tertutup kayu dan banyak yang bolong. Sedangkan lantainya masih tanah. Pandangan mengarah pada sawah berjenjang di lereng perbukitan, sebagai bentuk rileksasi mata di celah dinding yang bolong. Ruang Produksi ini pun menyatu dengan kapur yang digunakan untuk memasak.

Yulia Fera belajar pada orang tua membuat songket tahun 2007 silam, sebagai anak tenun. Kemudian pada tahun 2010 barulah mandari menenun songket dengan modal sendiri. Pada tahun 2010 tersebut memiliki satu pelantai songket, kamudian dengan penjualan dan pesanan bisa mempekerjaan satu oranh karyawan anak songket.

Songket yang telah dibuat bermacam motif yang dibuat seperti motif Pucuak Rabuang, Bungo Tulip, Tampuak Manggis, Rankiang, Cantik Manis, Lansek Manih, Itiak Pulang Patang, Menara dan sebagainya. 

"Saat ini saya membuat songket betdasarkan pasanan orang. Mereka menginginkan motifnya seperti apa, maka barulah dibuatkan. Karena saya bisa membuat sesuai dengan motif yang diinginkan. Berkat, pengalaman dan lamanya menenun, maka telah banyak motif yang terlahir, seperti motif manara yang tidak dimiliki penenun lainnya," ujar ibu satu orang putri ini mempragakan rajutan benang yang telah diap dibuat sendiri.

Ia mengaku bahwa untuk memulai menenun dengan membeli peralatan lantai songket seharga Rp3 juta. Berkat ketekunan dan keyakinan menenun telah mampu membuka lapangan pekerjaan baru bagi yang lain. Meskipun, anak tenunnya belum bisa untuk membuat motif sesuai dengan pesanan. 

"Saya yang membuat motif rajutan, Silvia Delvi (anak tenun) karena belum bisa membuat motif sendiri. Sebetulnya untuk motif-motif yang mudah Silvia telah bisa namun masih butuh bimbingan saja. Buktinya Silvia bisa menyelesaikan selembar songket selama dua hari, karena telah bepengalaman menenun selama tiga tahun," akunya sembari mengamati tiap detail benang emas untuk motif.

Ia mengaku bahwa harga perlembar songket Rp350 ribu dengan ukuran sehelai baju atau 2,75 meter. Harga bergantung pada kualitas benang dan tingkat kesulitan dalam pembuatan motif. Kemudian songket untuk Kain Sarung dijual dan Selendang harganya tentu tidaklah sama. Harga relatif berbeda karena berdasarkan tingkat kesulitan dalam pembuatan songket.

"Selama dua hari kita bisa menyelesaikan dua lembar kain songket. Selama seminggu penjulan sebesar Rp600 ribu jual beli Songket, maka sebulan sebesar Rp2,4 juta. Sedangkan modal dalam pembuatan songket untuk 5 kg benang 'Lenan Togak' seharga Rp1,1 juta. Kemudian, semua bahan pokok pembuatan Songket ada di Sikungkang. Dalam 5 kg benang menghasilkan 28 lembar bahan baju, 30 kain sarung dan 30 salendang," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa jika tidak ada pesanan maka menenun tetap dilanjukan. Maka, hasil songket yang tersebut telah ada tempat penampungan yang membeli songket seperti Silungkang. Berapapun produksi songket yang dihasilkan, pengusaha songket Silungkang di beli. Namun tentu harga yang relatif murah dibandingkan penjualan sendiri. "Pengumpul dan pengusaha tentu akan mengambil untung pula deri songket yang kita jual ke padanya," akunya sembari meluruskan posisi duduknya.

Yulia, mengaku belum pernah mengikuti pelatihan dan pembinan dari pemerintah untuk membuat songket. Belum pernah ikut pelatihan, kemudian, tidak ada bantuan dari pemerintah untuk modal. Memulai menenun karena bisa menenun dan memodali untuk membeli lantai tenun sebesar Rp3 juta. 

"Karena seperti jaman sekarang ini tidak melulu mengharapkan pendapatan suami. Karena tidak jamannya dengan kehidupan semakin sulit dan mencari pekerjaan pun susah. Sehingga dengan menenun maka, dapat membantu biaya anak sekolah dan terbantunya biaya hidup rumah tangga. Apalagi seperti saat sekarang ini, suami saya udah sebulan menganggur tidak bekerja. Maka, untuk menanggulangi biaya hidup harian adalah hasil menenun," ungkapnya sembari senyup percayaa diri.

Ia menyebutkan bahwa Desa Lunto Timur adalah produksi terbesar Songket sebagai produksi rumah tangga. Ibu-ibu baya dan muda telah bisa menenun songket dikenal banyak orang sebagai songket Silungkang. Karena, hasil tenunan songket di Desa Lunto Timur tersebut di jual dan dipasarkan di Silungkang.

"Lambat-laun pengrajin songket ini telah banyak mendapat pesanan. Namun, karena kekurangan modal sehingga pesanan dibatasi. Sebab, pesanan dari konsumen harus terjadwal kapan tenunan tersebut disiapkan oleh penenun. Untuk meningkatkan hasil produksi tentu butuh modal, namun saat ini kita tidak memiliki modal. Mayarat disini termasuk saya sendiri berharap ada pihak bank yang dapat memberikan bantua modal. Karena sebelumnya bank yang datang untuk memberikan bantuan pinjaman, namun setelah survei kelapangan pihak bank tidak lagi muncul," katanya

Thursday, March 16, 2017

Pengrajin Kerupuk Singkong Kesulitan Mendapatkan Bahan Baku

Sugini, Pengrajin 'Opak Mak Nik'
Selasa, 14 Maret 2017 langit kota Sawahlunto, Sumatera Barat cerah. Siang itu, Penulis, berjalan menuju Gunuang Timbago, Kelurahan Saringan Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menemui pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pengrajn Kerupuk Ubi Kayu 'Opak Mak Nik'. Jalan berliku dan padatnya rumah menduduk dilereng bukit butuh kehati-hatian melewati gang sempit rumah warga.

Siang itu, kediaman Sugini, 55, Warga Gunuang Timbago, RT 01 RW II, Kelurahan Saringan Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat tampak duduk lesehan di ruang tamu rumah. Sembari memandang kerupuk ubi (Singkong) yang masih basah terjemur di atas 'rigen' terbuat dari bambu. Ibu paruh baya ini tampak lesu duduk lesehan beralaskan tikar di dalam rumah.

Ibu dua orang anak ini baru saja selesai membuat 50 kilo ubi kayu untuk dijadikan kerupuk. Ia mulai star membuat kerupuk sepulang dari pasar Sawahlunto membeli bahan baku ubi kayu. Sesampai di rumah ubi kayu dikupas lalu dicucu dan dibarut. Sampai pada proses mengukusan dan penggilingan hingga di cetak lalu dijemur diatas rigen terbuat dari ayaman bambu. 

Pekerjaan rutin ini dilakoninya setiap hari untun menambah penghasilan keluarga. Ia tampak lelah setelah bekerja sejak pukul 08 pagi hingga waktu zduhur tiba. Ia mampu menyelesaikan kerupuk ubi sebanyak 600-700 biji perhari. Kalau ia tenaga masih kuat dan bekerja seharian bisa selesai 1000 biji ubi sehari. Meskipun keuntungan yang didapatkan pun tidak seberapa, karena harga bahan baku terus naik.

Ia menyebutkan bahwa mengolah ubi kayu menjadi keruouk harus dengan ubi kayu baru yang masih segar. Selanjutnya, ubi yang kupas tersebut di kukus kemudian digiling dan lalu di buang tulang ubi kayu tersebut. Selanjutnya dicampuri bumbu dan dikukus, kemudian masuk pada tahap penggilingan dan dicetak.

"Setelah di cetak, kemudian dilanjutkan dengan proses pengeringan menggunakan sinar matahari. Kalau cuaca cerah maka untuk penjemuran hingga mengering memakan selama dua atau tiga jam. Jika cuca mendung maka memakan waktu selama sehari," ujar nenek enam orang cucu ini.

Ia menyebutkan bahwa membuat kerupuk dibantu oleh suaminya, Partam, 60. Karena ia tidak lagi bekerja sebagai K3 Kota Sawahlunto karena tersangkut umur. Tenaga Partam semakin dimakan usia tidak lagi diperbolehkan bekerja. Sehingga ia membantu istri untuk membuat kerupuk. Jika membuat kerupuk bekerja berdua, maka pekerjaan akan lebih ringan. Kemudian produksinya pun akan bertambah. Jika dikerjakan sendiri, kerupuk bisa dikerjakan 700 biji, namum jika dikerjakan berdua maka dalam sehari bisa diselesaikan 1000 biji lebih kerupuk. Hal itu pun jika dikerjakan sejak pukul 08.00 pagi hingga pukul 16.00 sore.

"Tapi karena bahan baku ubi sulit dan harganya mahal, maka kerjaannya pun menjadi berkurang. Karena tidak dapat membeli ubi banyak karena harganya mahal," ujarnya.

Sembari bersandar didinding rumah, perempuan yang mengenakan baju lengan pendek ini pun melanjutkan ceritanya. Ia mengaku, keberadaan ubi kayu saat ini sangat langka sehingga harga ubi kayu menjadi mahal. Harga ubi kayu saat ini sebesar Rp225 ribu perkarung. Artinya harga ubi kayu Rp5 ribu perkilogram kalau membeli banyak bisa Rp4 ribu perkilogram. Dalam satu karung ubi kayu tersebut bisa memperoleh hingga 1000 biji kerupuk ubi.

Menurutnya, membuat kerupuh ubi tidak lah sulit dan bisa dikerjakan di rumah. Namun yang menjadi kendala saat ini adalah kesulitan mendapatkan ubi kayu. Biasanya pembelian ubi kayu tersebut langsung dari penjual yang menjadi langganannya dari Batu Sanka. Ubi kayu tersebut diantar sampai kerumah. Karena, sulitnya ubi kayu tersebut, saat ini langganannya tidak lagi berjualan. Akibatnya, ia harus kepasar membeli ubi kayu setiap harinya.

"Kalau kita membeli ubi berkarung dipasar dikhawatirkan ubinya kecil-kecil. Kemudian ada pula ubi yang keras dan pahit. Maka, harus datang ke pasar untuk membeli ubi dan memilih ubi yang besar. Kalau ubinya kecil, tentu setelah diparus dan dijadikan kerupuh hasilnya pun sedikit. Akibatnya, yang ditemukan setelah penjualannya hanya balik modal dan tidak ada untungnya kecuali lelahnya saja," tutur ibu yang suka bercanda ini.

Ia menyebutkan bahwa usaha kerupuk ubi "Opak Mak Nik" telah ditekuninya sejak tahun 1992. Usaha kerupuk ini telah mengantsr kedua orang anaknya sampai tamat SMA. Karena suaminya bekerja sebagai K3 dengan gaji yang diterima paspasan. Sehingga ia melajar membuat Kerupuk diberinama Opak Mak Nik. Kerupuk ini telah memiliki sertifikat hal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan BPOM. 

Satu kotak ubi dalam kemasan berisi 50 biji kerupuk dijual Rp20 ribu. Namun, pelanggan banyak yang membeli dengan kemasan plastik. Pelanggan beranggapan dengan kemasan plastik tidak banyak memakai tempat saat membawa. Kemudian, untuk kemasan plastik yang berisi 100 biji kerupuk dijual Rp35 ribu.

"Kalau Opak Mak Nik telah sampai ke Singapura, Sulawesi, Kalimantan pangsa pasarnya. Karena setiap perantau yang pulang kampung kemudia balik lagi, mereka memesan Opak Mak Nik sebagai oleh-oleh," ujarnya.

Meskipun belum ia beluk banyak bekerja sama dengan mini market untuk menitipkan Opak Mak Nik. Pesanan kerupuk ubi dari pelanggannya banyak langsung kerumahnya. Karena kerupuk Opak Mak Nik ini telah banyak dikenal masyarakat. Kemudian pembeli juga ada yang memesan kerupuk secara langsung datang kerumah.

"Setiap hari ada pembeli yang datang untuk membeli kerupuk ubi. Berapa biji pun kerupuk bisa bibuatkan setelah kering pembelinya sudah ada. Kalau, dalam seminggu bisa menyelesaikan 7000 biji kerupuk, semua telah habis terjual. Saat ini produksi ubi kayu berkurang karena kesulitan mendapatkan bahwa baku," katanya.

Selanjutnya, upaya yang dilakukan oleh pemerintah berupa pembinaan dengan memberikan pelatihan, termasuk manajemen pasar dan pembukuan. Namun, setelah pelatihan tersebut diberikan bantuan berupa mesin barut ubi kayu, kukus, bungkus kemasan dan kompor gas. 

"Kemasan yang diberikan oleh pemerintah agar tampilannya menarik dan lebih elegan. Namun, banyak pula pembeli yang memesan kerupuk dengan kemasan plastik karena lebih ringan," ujarnya.