Showing posts with label Feature Budaya. Show all posts
Showing posts with label Feature Budaya. Show all posts

Thursday, November 30, 2017

Tari Kemilau Songket Group Sanggar Seni Canang Badantiang Tampil Di Panggung Multikultural Festival

Songket tidak hanya menjadi pakaian dalam ke hidupan seharian masyarakat Sawahlunto. Namun, Songket menjadi sumber pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, Songket tidak hanya dikenal sebagai aksesoris dan tata busana saja, namun songket telah berkembang menjadi sebuah tarian yang berjudul 'Tari Kemilau Songket'. Tarian tersebut guna mendukung promosi songket sebagai kekayaan budaya di Sawahlunto. 


Minggu 22 November 2017 malam penonton memfokuskan pandangan ke arah panggung Multikultural Festival. Pandangan penonton seakan terikat oleh pukauan para penari cilik yang dipentas. Penonton ada yang duduk, berdiri dan mulai merapat ke arena panggung menyaksikan pertunjukan tari. Penari cilik tersebut memperagakan 'Tari Kemilau Songket' koreografer Yuliarni, Sanggar Seni Canang Badantiang Sawahlunto. Para penari terlihat lincah dengan gerakan yang terpola setelah mengikuti pembinaan dan latihan selama tiga bulan. 

Penari Cilik tampak percaya diri menari dihadapan penonton. Suasana panggung yang menjadi liar akibat lenggok tubuh penari cilik di pentas serta linghting (tata cahaya panggung) memukau serta memperkuat gerak tubuh penari. Iringan musik seirama dengan gerakan penari serta gemulai tangan-tangan mungil penari mengidentifikasi Songket di atas pentas. Sehingga Songket tidak semata pakaian harian tetapi Songket menjadi lebih hidup dalam tarian ketika di eksplorasi ke dalam sebuah tarian dan karya seni. 

Yuliarni menyebutkan bahwa ide garapan 'Tari Kemilau Songket' diambil dari kepiawaian masyarakat dalam menenun membuat songket. Songket sebagai kearifan lokal dan identitas masyarakat yang membudayakan Songket di Sawahlunto. Kemudian tarian tersebut mengeksplorasi Songket yang telah dikenal oleh masyarakat Sawahlunto. Songket tidak hanya menjadi pakaian dalam ke hidupan seharian masyarakat Sawahlunto. Namun, Songket menjadi sumber pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 

Maka, untuk mendukung promosi songket tersebut dilahirkan dalam bentuk garapan Tari Kemilau Songket. Sehingga pengenalan songket secara menyeluruh di tengah masyarakat sebagai identitas lokal Sawahlunto. 'Tari Kemilau Songket' merupakan ide garapan dari kepiawaian masyarakat dalam menenun membuat songket sebagai kearifan lokal dan identitas masyarakat yang membudayakan Songket di Sawahlunto. 

Sanggar Canang Badantiang, berdiri sejak 14 April 2015 lalu banyak menggarap tari tradisi, kontemporer dan moderen. Kemudian Sanggar tersebut menggarap tari tradisional dari berbagai etnis Minang, Batak, Jawa, dan Sunda. Sebab, Sawahlunto terdiri dari banyak etnis yang hidup berdampingan dan saling membaur. Sehingga gerakan dasar tarian di ambil dari bentuk lokalitas budaya yang multi etnik di Sawahlunto.

Yuliarni, alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta mengatakan bahwa Sanggar Seni Canang Badantiang tersebut dibentuk untuk menampung aspirasi anak muda serta menyalurkan bakat dibidang seni tradisi. Sanggar tersebut lahir diawali dengan beberapa orang seniman Sawahlunto yang berkumpul, namun memiliki ide dan visi yang sama. Sehingga dibuat wadah tempat berkumpul dan belajar seni atas kesepakatan bersama dibentuklah Sanggar Seni Canang Badantiang. 

Sanggar Seni Caniang Badantiang setiap tarian yang ditampilkan tidak sama dengan gerakan tarian sanggar seni lain. Artinya tari yang dimainkan adalah tari kreasi Canang Badantiang yang tidak dimiliki oleh Sanggar lain dengan Koreografer Yuliarni. Melainkan membuat komposisi dan gerakan sendiri untuk dipentaskan tanpa merobah tarian orang lain. Kemudian gerakan yang diambil adalah pencarian gerak tubuh masyarakat Sawahlunto yang multi etnik. Tarian tersebut diciptakan bertujuan untuk merangsang kreatifitas anggota dan mengasah kepekaan anggota terhadap budaya lokal yang ada di Sawahlunto. 

Sehingga Sanggar Canang Badantiang memiliki tari yang dipentaskan koreografer Yuliarni seperti Tari Kemilau Songket, Indang Bajelo, Semarak Menyongsong Alek, Tari Pasambahan, dan Tari Ronggeng Sayuik. Kelima judul tari tersebut dipentaskan group Sanggar Seni Canang Badantiang pada Multikultural Festival. Tarian tersebut dibawakan oleh Sanggar Seni Canang Badantiang terdiri dari kelas dan kelompok dasar latihan tari. Kelompok Dasar anak umur 5 hingga 7 tahun. 

Kemudian, Sanggar Seni Canang Badantiang terdiri dari kelas Kelompok Pemula A, umur 8 hingga 9 tahun. Kelompok Pemula B berumur 10 hingga 12 tahun. Selanjutnya Kelompok Junior dengan kelompok umur usia SMP-SMA. Kemudian Kelas Senio umur 17 tahun hingga usia dewasa. Kemudian, peserta anggota tari tersebut diberikan pembinaan dan latihan selama tiga bulan untuk diberikan materi. 

Setelah berjalan tiga bulan dan semua materi telah diajarkan maka dilakukan evaluasi materi. Tujuannya adalah sejauh mana kemampuan anak menguasai dan menyerap materi yang diberikan. Evaluasi tersebut diberikan wadah pada anak untuk tampil mementaskan tarian yang telah diberikan sekali dalam tiga bulan dan dipertontonkan. 

"Hasil evaluasi tersebut diberikan sertifikat penghargaan kepada anggota kelompok tari yang teleh menguasai materi. Program yang disiapkan melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap anggota dengan menggali budaya yang ada di Sawahlunto dalam bentuk Tari dan Musik. Artinya Sanggar Seni Caniang Badantiang tidak hanya fokus pada tari tradisional saja tetapi juga menggarap musik," ujar Yuliarni. 

Kemudian, lanjut dia, pada Iven Multikultural Festival dalam rangka ulang tahun kota ke 129 tahun 2017 Sanggar Seni Canang Badantiang diberikan kesempatan tampil dan memiliki jadwal. Maka, kesempatan tersebut menjadi wadah bagi anak Sanggar untuk tampil. Sebab, anak Sanggar juga memiliki hak untuk tampil memeriahkan serta menyemarahkan ulang tahun kota dan difasilitasi.

"Selain menarikan tarian yang diciptakan sendiri, Kita juga menarikan 'Tari Rantak' Koreografer Gusmiati Suid. Tarian ini ditarikan dengan fersi aslinya dan tidak boleh di ubah. Selanjutnya, Kita juga menarikan tarian 'Tari Layuak Batoboh' Koreografer Eri Mefry, tari yang dimiliki pemda Sawahlunto," katanya.

Edi Sartono, Ketua Sanggar Seni Canang Badantiang Sawahlunto didampingi An Mukhtar Wakil Ketua menyebutkan bahwa anggota aktif Sanggar Seni Canang Badantiang lebih dari 100 orang dengan tiga orang pelatih dan seorang koordinator sebagai koreografer tari. Namun, pada Multikultural Festival yang tampil sebanyak 75 orang penari. Sebagian yang lain tidak bisa tampil karena memang ada beberapa yang belum siap untuk tampil. Sanggar Seni Canang Badantiang telah tampil di Padang, Jambi, Pekanbaru, Jakarta. 

"Jadwal latihan rutin sekali seminggu untuk kelompok umur junior dan kelompok umur dasar A dan B, latihan Sabtu sore dan Minggu siang. Kemudian Sanggar Seni Canang Badantiang juga menampilkan tari dengan musik live artinya kita tidak hanya terfokus pada tari saja, tetapi juga menggarap musik etnik. Kemudian untuk ruang gerak serta keberadaan Sanggar Seni Canang Badantiang mendapat suppor dari pemerintah kota baik moril dan materil," katanya.*

Wednesday, December 21, 2016

Dog Rase Iven Langka dan Unik, Pertahankan Budaya Lokal


Dog Rase

Huk.. huk.. anjing pemburu menggonggong saat terpaut menunggu giliran pacu. Matahari telah mulai tergelincir, Selasa, 6 Desember 2016 pukul 16.20 sore. Pengunjung telah mulai memadai Lapangan Ombilin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, memadati waring (pagar) rase. Lapangan yang riuh dengan gonggongan anjing yang saling bersahutan. Bak berburu hama babi ditengah hutan.

Pemilik anjing tampak sibuk mengurus peliharaanya yang agresif. Anjing-anjing itu ada yang terbuat pada tiang tiang, sembari menggigit tali agar bisa terlepas. Ada pula yang menggotong anjing peliharaannya dengan susah payah, karena anjingnya berjingkrak kesana kemari. Sehingga pemiliknya terlihat sempoyongan karena diderat oleh anjingnya sendiri yang agresif, sementara talinya masih dipegang.

Anjing buruan itu telah terbiasa dengan mencium bau hama babi. Sebab, satu ekor babi disiapkan Rase sebagai pemancing agar ajing lebih agresif untuk lari mengejar Babi tersebut. Dog Rase, berpacu mencari nomor 1 dengan sistem gugur. Untuk sekali rase, sebanyak sepuluh ekor anjing berada pada kotak garis star. Kemudian pemenang diambil dua, sebagai babak penyisihan. Jarak pacu dari garis star hingga finis 110 meter, maka dua ekor anjing tercepat akan masuk pada perempat final.

Mawardi akrap disapa Ujang, Ketua Persatuan Olah Raga Buru Babi (Porbbi) menyebutkan bahwa Dog Rase ini merupakan kegiatan tahunan yang telah dilakukan sejak puluhan tahun belakangan. "Kegiatan ini terlaksana dan diikuti oleh pecinta Buru Babi yang ada di Sumatera barat. Namun, setiap kegiatan yang dilakukan terselenggara kami selalu kesulitan mencari dana," katanya.

Ia melanjutkan bahwa rutinitas kegiatan Dog rase dilakukan maka, pemerintah kota menjadikan kegiatan ini menjadi agenda kota. "Dog rase ini sejak dua tahun terakhir telah menjadi agenda kota. Maka dalam kegiatan ini para pecinta Buru Babi, ikut berpartisipasi untuk terlibat menyengsarakan Iven ini," ungkapnya.

Ia mengaku keikut sertaan pemerintah dengan mengagendakan Iven Dog Rase ini Porbbi kota Sawahlunto merasa sedikit lega. Sebab, Hadiah telah dianggarkan oleh pemerintah kota. "Dulu untuk mengadakan Iven pacu anjing ini kami kesulitan mencari dana untuk hadiah. Namun sekarang telah ringan karena ada piala walikota yang akan di perebutkan. Kemudian ditambah bonus uang tunai dengan total hadiah Rp10 juta," ujarnya.

Ia menyebutkan Dog rase ini merupakan budaya lokal, tidak hanya di kota Sawahlunto dan bahkan di daerah lain khususnya Sumatera barat. Namun yang rutin setiap tahun mengadakan adalah di kota Sawahlunto. "Budaya ini harus dijaga dan diselamatkan agar tidak hilang ditengah tengah masyarakat. Makanya, Iven ini tetap dilaksanakan setiap tahun di kota Sawahlunto dalam rangka hari jadi Kota Sawahlunto," ungkapnya.

Zuhirman, Ketua Pelaksana mengatakan bahwa iven ini dalam rangka peringatan hari jadi kota Sawahlunto ke 128. Kegiatan ini dengan mengundang komunitas dan pecinta Buru Babi di Sumatera Barat untuk ikut berpartisipasi untuk bertanding. "Peserta hari ini yang hadir dari Solok, Batusangkar Payakumbuh dan Padang. Kemudian, kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari 6-8 Desember," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa Dog Rase ini berlangsung dengan sistem gugur. Setiap satu rase di ambil dua pemenang dengan sekali Rase 10 ekor sebagai babak penyisihan. "Pemenang akan masuk babak selanjutnya dan pemenang akan masuk pada perempat final, semi final dan final. Akan ada enam pemenang pada Iven Dog rase ini, pemenang I, II, III, dan Pemenang harapan I, II dan III," ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa hari ini ada 7 Rase, sekitar 50 hingga 60 peserta. Sebab, saat rase ada yang delapan peserta yang ikut star. "Hingga saat ini belum dapat dipastikan peserta yang ikut dalam Dog Rase ini. Karena masih banyak beserta yang belum ikut bertanding hari ini. Kemudian, biasanya pada hari ketiga akan lebih banyak lagi peserta dan pengunjung pun akan lebih ramai dari ini," ungkapnya.

Selanjutnya, lanjut dia, penyerahan hadiah akan ditutup dengan malam hiburan 'bagamaik' hingga pagi. "Penyerahan Hadian berupa tropi dan Tabanas akan serahkan langsung oleh walikota. Tahun lalu yang menjadi pemenang dari Payakumbuh. Namun tahun ini belum bisa di pastikan siapa yang akan menjadi pemenang," ujarnya.

Ia berharap kedepan Iven Dog rase ini akan lebih meriah lagi dengan dengan perebutan hadiah yang lebih besar di bandingkan tahun ini agar lebih semarak. "Kita akan mengusulkan ke pemko bahwa kegiatan ini lebih terencana dan terkonsep dengan hadiah yang lebih meriah. Kita siap sebagai penyelanggara kegiatan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan antar komunitas dan pecinta Buru Babi. Sekaligus menjadi Iven wisata yang menjadi sorotan bagi masyarakat. Sebab, Dog rase ini termasuk Iven langka dan unik," ujarnya.

Monday, December 19, 2016

Randai Diminati Generasi Muda, Randai Ajarkan Etika dan Estetika




Top Five Festival Randai se Sumatera Barat 2016
Malam nan cerah. Bulan pun tampak di langit kota Sawahlunto. Perlahan menghilang di tutup awan. Orang-orang berduyun-duyun berjalan kaki menuju galanggang. Ibu-ibu baya memakai sendal jepit membimbing anaknya menuju gelanggang. Orang-orang menyiapkan diri menyaksikan pertunjukan randai, di terminal Talawi, Sabtu, 17 Desember 2016 malam.

Orang-orang berkerumun berdiri menyaksikan pertunjukan randai Top Five Festival Randai seSumatera Barat, Kota Sawahlunto. Maka, ditengah kerumunan orang-orang (penonton) randai pun berlangsung (tampil), sehingga penonton dan hadirin yang berhadir 'tapuhunkan sambah manyambah sarato dunsanak, sarato hadirin nan basamo dari pemain Randai.

Ada lima group randai yang tampil pada iven tersebut. Lima group randai tersebut merupakan pemenang festival randai tingkat Provinsi yang dilaksanakan beberapa bulan lalu sehingga melekat dengan tema Top Five Randai Festival se Sumatera Barat, Kota Sawahlunto.

Beragam corak dan warna yang hadir dalam seni tradisi randai tersebut. Pemain membawa cerita kaba minangkabau sarat dengan pesan pesan moral nan menyentuh. Kemudian, pelajaran etika dan estetika serta adat istiadat, bertutur kata santun dan sopan pun diperlihatkan olah pemain randai. Sungguh ini merupakan seni tradisi yang harus dipertahankan.

Maka, Kekayaan makna yang terkandung dalam seni tradisi randai tersebut agar lebih di tertata dengan baik agar tidak keluar dari nilai tradisi randai itu sendiri di minangkabau. Sehingga ada beberapa hal yang harus di persiapkan oleh pelaku seni tradisi randai.

Zulkifli, Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Pandangpanjang mengatakan bahwa dalam Seni tradisi randai ada dialog dan ekting menjadi unsur yang tidak boleh ditinggalkan. Menurutnya, Ada empat unsur dalam seni tradisi yang tidak boleh ditinggalkan. Pertama dialog, Kedua ekting, ada yang menyebutnya 'ma adu kato dan malapehkan kato'. Ketiga, 'gurindam' atau cerita yang dinyanyikan, Keempat tapuak gelombang.

Keempat hal pokok tersebut tidak boleh ditinggalkan atau di-tiada-kan dalam bermain randai dan sangat mungkin untuk dikembangkan. Sehingga pengembangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati. Kemudian, guru randai akan mempunyai tantangan tersendiri untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengonsep gerakan randai.

Selanjutnya, terang dia, cerita (kaba/naskah) randai pada prinsipnya diceritakan dalam dua bentuk, yakni dalam bentuk dialog dan dalam bentuk nyanyian atau dendang (cerita yang dinyanyikan). Maka, nyanyian yang bercerita itulah yang disebut gurindam dalam randai. Oleh sebab itu, kemampuan untuk berdialog dan kemampuan untuk berdendang dan menyampaikan cerita sangat berpengaruh untuk kemulusan apa yang disampaikan oleh si pencerita (pedendang).

Lebih jauh dikatakannya, dalam peristiwa randai akhir-akhir ini dendang (nyanyian yang bercerita) kadang kala agak dikesampingkan atau agak dipinggirkan penompangannya. Malahan banyak yang melakukan dendang itu di luar (lingkaran randai), sehingga tidak kelihatan bagi penonton waktu menyampaikan cerita itu oleh pedendang. Tetapi ada pula yang berdendang menyampikan cerita di dalam (lingkaran randai). Jadi sebetulnya tidak ada larangang apakah pedendang didalam lingkaran atau diluar (lingkaran) meskipun ada yang melalukannya didalam. Namun, tidak ada pula aturan atau perintah yang mengharuskan pedendang untuk didalam lingkaran.

Zulkifli berasumsi kalau seandainya, pedendang atau bercerita dalam bentuk nyanyian itu tidak berada didalam lingkaran, berarti tidak terlihat orangnya (pedendang). Kalau tidak terlihat orangnya (pedengang) pasti ekspresinya akan lemah dibandingkan pedendang yang berada didalam (lingkaran randai) atau ditengah sambil bernyanyi (badendang). "Gurindam atau badendang itu bukan untuk mengiringi gelombang tetapi adalah penyempai cerita dan disertai oleh gerakan," Katanya.

Menurutnya, di Minangkabau ini ada dua jenis Randai. Ada yang disebut Tari Randai. Ada yang di sebut Randai saja. Maka yang disebut dengan tari randai adalah formasi yang melingkar sambil bertepuk tangan tanpa dialog. Tari Randai ini sendiri kurang mendapatkan perhatian oleh pelaku seni tradisi dan pemerintah sehingga pengembangannya pun melambat.

Sebab, selama ini pelaku seni lebih terfokus pada Randai saja. Tari Randai ini sendiri di Minangkabau kurang mendapat pembinaan, akhir-akhir ini karena lebih terfokus pada randai. Keberadaan Tari Randai ini di Saniangbaka dikenal dengan Randai Ilau. Kemudian, Pariaman dikenal dengan Randai Ulu Ambek.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa sewaktu-waktu Kota Sawahlunto melombakan bukan Randai tetapi Tari Randai tanpa cerita, melainkan gerakan-gerakan melingkar disertai oleh nyanyian dan tepuk tangan. Dengan bermacam-macang nyanyian, bermacam-macam gerakan serta bermacam-macam gaya tepuk galembong. Sehingga keberadaan tari randai mendapat tempat dan terpelihara serta akan dikenal banyak orang. Tari Randai tersebut, bisa pula dilakukan oleh kelompok wanita disesuaikan dengan gerakan mereka.

Kemudian, dialog dalam randai mempunyai gaya tersendiri. karena randai ini lahir dilingkungan orang tradisi dan lingkungan orang pesilat, maka gaya dialognya mendekatkan pada gaya berseni tutur kata di minangkabau seperti gaya pasambahan atau dialog lainnya.

Ekting terpengaruh dengan gaya penampilan silek hal ini boleh dilakukan pengembangan, tetapi pada prinsipnya pengembangan itu, atau diistilahkan 'bapisah di lapiak nan salai, bapisah tagak ditanah nan sabingkah'. Masih banyak peluang-peluang cerita randai yang bisa dikembangkan, tapuak galembong yang bisa dikembangkan, gerak randai, dendang dan lain sebagainya.

Menurutnya, Zulkifli yang perlu diperhatikan dalam randai adalah menjaga permainan agar tidak 'menoton' dengan menjaga dinamika dalam bermain. Kemudian, teks naskah dari pertunjukan randai harus ada pengelompokan atau sub bagian, seperti awal randai seperti pasambahan. Selanjutnya, ada permainan dan duduknya anak randai, etika dan estetikanyaa harus jelas.

Kemudian dari segi sastra atau dilalog dalam randai harus diperhitungkan mana sastra yang cocok dan sesuai dengan proporsi tertentu sesuai peranan masing-masing tokoh. Sehingga peranan anak, ayah, ibu, serta kondisi (peristiwa) bagaimana dalam memainkan peran harus jelas terkonsep dan terukur.

Maka banyak ditemukan bahwa sastra dalam randai yang dimainkan bermunculan kata-kata "mano lah". Terkadang pada ayah memakai kata "mano lah ayah kato denai", maka kata "mano lah" dalam kehidupan sehari-hari ke pada orang tua adalah tidak tepat. Agak kasar dan kurang beretika. Maka, penggalian sastra dalam teks naskah atau dialog dalam randai harus diperhitungkan dengan baik.

Gurindam dan dendang disampaikan di tengah dan kebiasaannya tari randai tradisi yang merupakan kekayaan "dendang" (nyanyi) yang disampaikan dengan cara sambung menyambung atau bersahutan. Sehingga dendang tersebut berfariasi. Berbeda dengan dendang saluang yang dilakukan sendiri.

Tetapi dalam Gurindam randai biasanya disampaikan dua atau tiga orang dan bahkan lebih, termasuk musik pendukung. Meskipun musik pendukung iti ada, namun sudah disederhanakan. Seperti Talempong, Gandang Katindik, ada Pupuik Gadang. Padahal ini merupakan satu paket yang paling memberikan kekuatan pada masing-masingnya.

Maka, hal-hal tersebut harus diperhatikan dalam bermain randai. maka, dalam hal ini ada yang latihan dan ada yang kurang latihan. Sehingga ada kelompok yang kualitas bermainnya menurun dibandingkan tahun enam bulan belakangan. maka, penilaian dilakukan adalah terhadap randai tradisional.

Berdasarkan catatan Dewan Juri tersebut maka, diputuskan bahwa Kabupaten Limapuluh Kota pemenang favorit, juara I, Kota Sawahlunto, Juara II, Kota Padang dan Juara III, Kota Padangpanjang. Festival Randai diamati oleh Rizal Tanjung pelaku seni budayawan, Zulkifli dan Ajishar merupakan Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.

Ali Yusuf, walikota sawahlunto menyebutkan bahwa saat ini kesenian tradisi randai telah di gemari oleh anak muda sehingga saat ini tercatat group randai di Kota Sawahlunto ada 14 group seni tradisi randai.

Maka dari itu, pada bulan Maret 2017 mendatang akan digelar Festival Randai tingkat SLTP. Sebab, melihat semangat generasi muda yang mulai mencintai budaya dan mempertahankan seni budaya terutama di kota sawahlunto. "Festival Randai akan terus berkelanjutan dilaksanakan di Talawi. Kemudian, Berburu di Kecamatan Lembah Segar, Burung berkicau di Silungkang," katanya saat memberikan sambutan.

Ia menyebutkan Top Five Festival Randai se Sumatera Barat merupakan tingkat lanjutan dari festival randai sebelumnya. Maka, dengan demikian, dengan terpilihnya sebagai peserta lima besar dan masuk ke tingkat lanjut dan mengikuti iven malam ini. Maka, peserta tersebut harus berkomitmen untuk selalu siap tampil ditengah masyarakat. Sebab, karena ada peserta yang tidak hadir tanpa memberikan kabar sebelumnya. "Kita berharap sehingga objektifitas dewan juri di dibutuhkan untuk mempertimbangkan kemampuan peserta menjadi pemenang," ungkapnya.

Thursday, December 8, 2016

Melirik Pelayanan Kesehatan Dusun Guguak Bungo Desa Lumindai Poskesdes Pembatu Bidan Ada Sekali Seminggu


Poskesdes Dusun Guguak Bungo Desa Lumindai

"miris kita apabila ada warga yang mendapat musibah, atau sakit tengah malam dan ibu hamil yang mau melahirkan. Kemana kami mengadu, sementara jarak rumah yang satu dengan lainya berjauhan. Tambah pula tidak adanya kendaraan dan transportasi massa di Dusun Guguak Bungo Desa Lumindai, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Dengan apa masyarakat di antar ke pusdes, pembantu, " ungkap Idir Gindo Malin, warga Dusun Guguak Bungo dengan suara serak, Kepada Penulis beberapa waktu lalu menjelang tengah hari. 

Raut wajahnya berubah seketika. Matanya berkedip-kedip karena membendung airmata. Canda dan guraunya pun redup. Tubuhnya letoi. Sejenak ia berdiam diri sebelum berkisah tentang kehidupan dikampung kelahirannya. 

Idir Gindo Malin
"dulu, kampung kami ini sulit di jangkau karena jalanan yang buruk, licin, becek, mendaki dan menurun serta terjal. Tidak ada ada transportasi dan belum ada yang punya. Kami berjalan kaki hingga belasan kilo meter, pergi kepasar menjual hasil tani dengan dipikul dan junjung," ungkapnya dengan mata sayu, pak tua itu mengenang. 

Meskipun saat ini kampung kelahirannya telah mempunyai jalan beton sebagian dan bisa dilewati kendaraan roda empat. Ia pun punya mimpi agar disediakan mobil untuk fasilitas umum oleh pemerintah seperti ambulan yang selalu stanby di pusdes pembantu. Agar kelak suatu saat ada warga yang terdesak dan membutuhkan dapat pertolongan segera. 

"suatu yang tidak mungkin bagi kami mengantarkan orang sakit dengan motor pergi berobat. Itu pun bagi yang punya motor dan harus berbonceng tiga untuk memegang dan melindungi yang sakit. Sementara jalanan terjal dan curam serta berkelok-kelok di lereng bukit, tentu mempunyai resiko yang cukup besar," kata pria yang berbaju lusuh. 

Belum lagi, pusdes pembantu hanya ada seorang bidan saja dan tidak ada pelayanan jumat, sabtu, minggu, lanjut dia. "sakit dan musibah tidak kenal waktu kapan akan datang dan tidak dapat di ulur. Baru baru ini, ada warga yang mendapat musibah kebakaran rumahnya dan pemiliknya terjebak di dalam rumah sehingga mengalami luka bakar serius. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 malam. Namun, korban bernama Subai, baru mendapat pertolongan pukul 04.00 dini hari," ungkapnya. 

Ia melanjutkan bahwa korban setelah di efakuasi dari rumahnya oleh warga setempat, karena rumah di lakuak. Nyawa korban masih tertolong, namun untuk membawa kerumah sakit tidak ada mobil. Sehingga warga pergi kepasar tradisional yang berjarak 3 meter dengan jalan yang berliku,  buruk dan curam. 

"waktu itu kita dapat mobil untuk membantu membawa korban, mobil pengangkut pasir. Namum sopir tidak ada. Kemudian malam itu pula mencari sopir. Korban, di alas dengan daun pisang dan dilarikan RSUD Sawahlunto, dan dirujuk ke Padang dan meniggal di Padang," katanya. 

Hal serupa juga disampaikan oleh Muhammad Nasir, 56, warga Dusun Guguak Bungo keluhkan hal serupa. "kita berharap ada mobil ambulan yang stanby di Dusun Guguak Bungo, Desa Lumindai, Kecamatan Barangin. Atau paling tidak ada mobil transportasi masal yang di manfaatkan oleh masyarakat, bisa mengangkut anak sekolah. Kemudian bisa di manfaatkan untuk mengantarkan orang sakit, " Katanya kepada Penulis, Rabu, 30 November 2016.

Ia menyebutkan, di Dusun Guguak Bungo ada Poskesdes pembantu dan satu orang bidan. Namun, bidan tersebut tidak stanby dan datang sekali dalam seminggu. Sehingga warga berobat ke Pusdes pembantu di pasar Desa Lumindai. 

"kita berharap puskes pembantu ini memang menjadi pusat pertolongan pertama untuk berobat. Kalau masyarakt sakit parah dan harua berobat ke puskesmas, butuh ongkos ojek Rp25 ribu karena jauh. Kalau yang memiliki motor mereka bisa berobat kerumah sakit, kalau yang tidak memiliki motor tentu berjalan kaki lakau mampu," ungkapnya. 

Ali, 64, warga Dusun Guguak Bungo pun membenarkan bahwa disamping sarana kesehatan yang masih jauh dari harapan, jalan juga tidak mendukung karena licin dan becek. Untuk sampai ke pasar Lumindai berobat ke pusdes pembantu butuh 3 kilo meter dalam kondisi jalan berkelok-kelok dan dari tanah. Meskipun ada sebagai jalan semen beton coran, kondisinya pun telah banyak yang rusak. 

"kalau bidan tidak datang kemana masyarakat akan berobat. Andai kata, saat ini ada warga yang terluka sedang bekerja,  'tacatuak' kakinya kemana warga berobat. Karena tidak ada bidan tempat berobat. Kami berharap, pemerintah dapat membatu masyarakt dalam hal kesehatan. Kemudian, ambulan sangat di perlukan sekali sebagai transpor wagi barga yang pergi berobat," katanya. 

Farmudia Siswiyani, Bidan Pembantu Pusdes Pasar Lumindai mengatakan bahwa,  di sini ada dua orang bidan dan sato orang perawat. "hari ini cuma saya sendiri, karena yang lain ada kesibukan," katanya saat di temui di Poskesdes Pembantu Lumindai, Rabu, 30 November 2016.

Ia menyebutkan bahwa saat ini Poskesdes fasilitas yang di miliki alat tensi, oksigen, sterilisasi. Selain itu jika obat obatan kurang, diminta ke puskesmas Barangin, sebab disana ada gudang obat-obatan. "disini rata-rata masyarakat yang beribat di poskesdes sebanyak 175 hingga 200 pasien tiap bulannya. Khusus di poskesdes ini saja, tidak termasuk poskesdes Dusun Guguak Bungo. Sementara itu,  saat ini ibu hamil sebanyak sembilan orang," katanya. 

Ambun Kadri, Dinas Kesehatan Sosial, Kota Sawahlunto mengatakan bahwa tahun 2017 telah dianggarankan untuk itu. Kemudian, Desa Lumindai ada Poskesdes Guguak Bungo dan Poskesdes Lumindai. "kita akan optimalkan kembali kinerja bidan yang telah ditempatkan di tempat tersebut. Bidan yang ditempatkan di Guguak Bungo telah mengatakan kesediannya. Maka akan di tagih," katanya. 

Selain itu, ungkap dia, terkait fasilitas poskesdes tersebut akan dilakukan pengecekan ulang. Terkait usulan masyarakat adanya ambulan yang stanby akan diusulkan anggaran tahun 2017. "kalau stranspor umum seperti ambulan sebetulannya bisa dari dana desa untuk pemberdayaan masyarakat. Dana desa bisa dianggarkan untuk menyewa ambulan tersebut," jelasnya.