Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts

Friday, January 5, 2018

Wisata Pulau Berdampak Pada Perubahan Ekonomi Masyarakat

Kota Padang kaya akan keindahan alam semesta. Ada wisata alam hingga wisata bahari dengan keindahan pulau-pulau yang menawan. Wisata pulau yang dimiliki Kota Bingkuang mulai marak dikunjungi dalam kurun waktu tiga tahun belakangan. Ramainya kunjungan wisatawan ke pulau-pulau, membuat perubahan dalam kehidupan masyarakat sekitaran pulau di Kelurahan Sungai Pisang, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat. 

Ali Muslim, 71, akrab disapa Ayah Ali, dulu bekerja sebagai nelayan saat ini beralih profesi menjadi pengantar wisatawan ke pulau-pulau. Hingga memiliki, tiga buah boat. Seperti Apa? 

Laporan : Julnadi Inderapura, Padang

Bagi sebagian kalangan yang hobi berwisata ke pulau, apalagi para mahasiswa sudah dipastikan tidak asing lagi dengan nama Ayah Ali. Ayah Ali adalah satu dari puluhan masyarakat di Kelurahan Sungai Pisang memiliki boat atau perahu bermesin untuk mengantarkan masyarakat yang ingin menikmati keindahan pulau. 

Kamis, 4 Januari 2018, Penulis mengunjungi tempat Ayah Ali melihat langsung keakraban para wisatawan dengan bapak delapan orang anak ini. Ayah Ali memulai pekerjaannya mengantar para wisatawan bermulai semenjak tahun 2012 lalu. Ketika itu ada dua mahasiswa Universitas Andalas (Unand) Padang yang datang mengunjunginya. Kedua mahasiswa tersebut minta diantarkan ke Pulau Pasumpahan. Ayah Ali hanya bekerja sebagai nelayan di Sungai Pisang untuk menghidupi keluarganya tetap mengantarkannya ke Pulau.  

"Saat itu biaya untuk ke pulau belum ada tarifnya, jadi berapa di kasih saja dan dua mahasiswa itu memberikan biaya Rp 30 ribu," kata Ayah Ali. 

Ayah Ali melanjutkan usai mengantarkan dua mahasiswa Unand tersebut, beberapa waktu kemudian mereka kembali lagi membawa teman-teman dan dosennya. Mulai saat itulah wisata ke pulau mulai trend di kalangan para mahasiswa. Untuk biaya, karena saat itu ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh Pemerintah sehingga harga ke pulau dinaikan sebesar Rp5 ribu menjadi Rp35 ribu. 

"hingga saat ini tarif ke Pulau Pasumpahan dari Sungai Pisang sebesar Rp 35 ribu," ujar kakek 18 orang cucu ini. 

Ayah Ali menyebutkan bahwa, dulu pada awalnya ia mengantarkan para wisatawan ke pulau dengan kapal "Cadiak mesin robin" atau mesin rawut kelapa. Kemudian, dengan kapal tersebut, ia hanya bisa mengantarkan wisatawan berkunjung ke pulau. Namun, kapal Cadiak tersebut hanya bisa mengangkut empat orang penumpang. 

Seiring berjalannya waktu, wisata pulau semakin banyak peminatnya. Bisa dipastikan setiap akhir minggu, pulau-pulau ramai dikunjungi wisatawan sehingga Ayah Ali banyak mendapatkan tamu.

Ayah Ali, mengaku awalnya hanya memiliki satu kapal kecil pada 2013 telah dapat mengganti kapalnya bahkan menjadi tiga kapal boat bermesin 15 PK. Saat ini tiga kapal tersebut diberi nama 'Ridho Ilahi'. 

"Sekarang sudah ada tiga kapal satu kapal besar muatannya 40 orang dan dua yang kecil muatannya bisa untuk 25 orang," sebutnya. 

Ayah Ali tak menapik, apa yang diperolehnya saat ini tak terlepas dari bantuan para mahasiswa yang sering pergi ke pulau. Sehingga, pelayanan yang diberikan Ayah Ali kepada setiap pengunjung yang menggunakan jasanya selalu diberikan satu galon air isi ulang. Air galon tersebut diberikan secara gratis, karena melihat untuk mendapatkan air bersih di pulau cukup susah.

Tidak hanya itu, bagi pengunjung yang membawa kendaraan baik sepeda motor atau mobil dapat langsung memarkirkan kendaraan mereka di tempat Ayah Ali tanpa adanya pungutan biaya parkir. 

Ayah Ali didampingi istrinya Sudirma, 68, menjelaskan bahwa kunjungan wisata ke pulau tak menentu. Kadang ramai dan kadang sepi disaat musim hujan atau badai. Ramai kunjungan biasanya setiap akhir pekan atau akhir tahun merayakan pergantian tahun di pulau. Seperti pergantian tahun 2017, kemarin yang pergi ke pulau dengan menggunakan boat Ayah Ali mencapai ratusan orang.

"Tahun baru kemarin saja disini ada terparkir sebanyak 400 motor dan 38 mobil. Para pengunjung tersebut berasal dari semua kalangan dan daerah.  Tidak hanya dari Padang saja, tetapi juga ada dari Pekanbaru, Jambi, Bengkulu bahkan juga ada dari Papua," katanya
Ia mengatakan bahwa untuk pengantaran ke pulau tergantung cuaca. Kalau cuaca bagus kapanpun waktunya akan tetap diantarkan meskipun itu pada malam hari. Hal itu terbukti saat beberapa waktu lalu, Penulis, pernah melakukan perjalanan ke Pulau Pasumpahan pada malam hari dan Ayah Ali bersedia mengantarkan karena saat itu cuaca bagus. 

"Kalau cuaca bagus pasti diantarkan, tapi kalau badai tidak mungkin karena itu bahaya. Meskipun jarak dari Sungai Pisang ke Pasumpahan dekat," papar Sudirma yang akarab disapa Amak oleh tetamu.  

Amak melanjutkan wisata ke pulau sangat marak dikunjungi pada tahun 2014 lalu. Untuk saat ini diakuinya wisata ke pulau sudah semakin menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun begitu, ia optimis wisata ke pulau akan kembali membaik. Apalagi saat ini jalan di Sungai Pisang telah diaspal, sehingga dapat memudahkan para wisatawan yang ingin ke pulau.

Pengelolaan kapal, Ayah Ali dibantu langsung oleh anak-anak dan istrinya. Kemudian, boat Ayah Ali dapat mengantarkan masyarakat yang ingin berwisata ke pulau seperti Pulau Pasumpahan dengan biaya pulang pergi Rp 35 ribu per orang. Suarnadwipa, Sironjong dan Sirandah Rp 50 ribu perorang. Sedangkan untuk ke Pulau Pagang, Pamutusan biaya Rp 70 ribu perorang. Kemudian, bagi wisatawan yang ingin keliling pulau dikenakan biaya sebesar Rp 150 ribu per orang. 

"Bagi yang ingin keliling pulau bisa biaya Rp 150 ribu tetapi minimal harus delapan orang, " ucapnya. 

Tuesday, December 26, 2017

Goedang Ransoem Diminati Wisatawan Menjadi Bukti Sejarah Perkembangan Sawahlunto

Masa libur panjang menjelang akhir tahun selama empat hari, Objek wisata Kota Sawahlunto banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah kota Sawahlunto dan luar Sumatera Barat. Libur panjang dimanfaatkan pengunjung untuk mengunjungi objek wisata yang ada di kota Sawahlunto pusaka seperti Museum Goedang Ransoem. Pengunjung memburu situs bersejarah kota tua Sawahlunto seperti Goedang Ransoem menikmati situs sejarah peninggalan Belanda. Sembari menikmati arsitektur bangunan tua peninggalan Kolonial Belanda, pengunjung juga dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan menggali informasi tentang dapur umum pekerja buruh tambang. 

Sebab, Museum Gudang Ransoem menyajikan koleksi peralatan memasak berukuran besar yang pernah digunakan Dapur Umum untuk memasak makanan pekerja tambang dibangun pada tahun 1918. Museum Goedang merupakan cerminan sejarah masa lalu yang direpresentasikan melalui beberapa galeri. Diantaranya galeri etnografi, galeri foto tempo dulu, iptek center dan galeri Malaka sebagai bentu kerjasama kota Sawahlunto dengan negeri Malaka (twin city) 

Selain itu, pengunjung dapat menikmati bentuk ukuran raksasa bejana tempat memasak yang ada didapur umum. Tidak hanya itu, saja pengunjung juga dapat menikmati objek wisata lubang tambang Mbah Soero yang berdekatan dengan Museum Goedang Ransoem. Lubang Tambang Mbah Soero merupakan tambang dalam penggalian batu bara adalah trande marknya kota Sawahlunto. Lubang tambang tersebut mulai digali pada tahun 1898 oleh orang rantai dan pekerja tambang. 

Lobang Tambang Mbah Soero merupakan tambang pertama di patahan Soegar, ditutup sebelum tahun 1930, kemudian dibuka kembali pada tahun 2007 dan dijadikan objek wisata dengan nama Lubang Tambang Mbah Soero yang dilengkapi dengan gedung info box yang berisi foro sejarah tambang di Sawahlunto. 

Martin Noval, Staf Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, kepada Penulis Senin 25 Desember 2017 menyebutkan bahwa pengunjung yang menikmati situs bersejarah yang ada di komplek Goedang Ransoem dikenakan tarif masuk Rp4000 untuk orang Dewasa dan anak-anak Rp 2000. Sedangkan untuk parkir kendaraan pengunjung tidak dipungut biaya. Pengunjung telah mulai meramaikan objek wisata terutama Museum Goedang Ransoem sejak tiga hari lalu. 

"Pengunjung yang datang berkunjung ke Goedang Ransoem berasal dari Pakanbaru dan Jambi. Ada pula pengunjung lokal dari Sawahlunto dan diluar Sawahlunto seperti pengunjung dari Kabupaten Solok, Sijunjung, Darmasraya dan daerah Sanka serta Sumbar pada umumnya berkunjung menikmati pesona kota tua Sawahlunto, termasuk Goedang Ransoem," ujarnya. 

Ia menyebutkan tingkat kunjungan pada masa libur panjang tersebut mengalami peningkatan kunjungan dibandingkan dengan hari biasa. Kunjungan wisatawan bertambah dua kali lipat dibandingkan hari biasa. Pada hari ini kunjungan wisatawan yang hadir mencapai 135 orang kunjungan. Kunjungan wisatawan ke objek wisata Goedang Ransoem peminatnya adalah peminat khusus. Sebab, wisatawan yang hadir berkunjung untuk ke Goedang Ransoem untuk mengetahui lebih banyak tentang sejarah kota Sawahlunto. 

"Pengunjung ingin mencari informasi tentang orang rantai dan pekerja tambang. Kemudian mereka juga melihat situs bersejarah banguan tua pada masa Kolonial Belanda. Kemudian melihat secara langsung bentuk peralatan memasak yang digunakan untuk dapur umum untuk para bekerja tambang. Maka, untuk mendapatkan informasi tersebut pengunjung akan didampingi oleh gaet, sehingga pengunjung atau wisatawan bisa langsung bertanya untuk menjawab rasa penasaran," katanya. 

Sementara itu, Asyifa Laura, 29,wisatawan asal Pakanbaru mengatakan bahwa dirinya baru pertama kali datang ke Kota Sawahlunto. Baginya berkunjung ke Sawahlunto dalam rangka menikmati masa libur panjang dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Meskipun kedua orang tuanya berasal dari Sumatera Barat namun dirinya dibesarkan di Pekanbaru. 

"Barukali ini datang ke kota Sawahlunto, kotanya unik dan kecil serta banyak bangunan tua peninggalan sejarah Kolonial Belanda. Bangunan tua tersebut adalah bukti kota Sawahlunto pernah dikuasai oleh penjajah dan mengambil kekayaan yang ada terutama batu bara," katanya. 

Ia mengungkapkan bahwa bangunan tua yang ada tersebut agar dapat dipertahankan keaslian dan dijaga dengan baik. Karena bangunan tua tersebut adalah situs bersejarah dan sumber informasi yang dapat dijadikan sebuah kajian ilmu pengetahuan. Meskipun ada beberapa bangunanan peninggalan Belanda yang telah ada ditambah panguananya, sehingga telah keluar dari bentuk banguan aslinya. 

"Bangunan yang ada masih tetap terawat dengan baik sehingga bangunan peninggalan tersebut dapat dimanfaatkan. Saya merasa senang bisa menyaksikan secara langsung bangunan kota tua Sawahlunto. Terutama saya bisa melihat dapur umum dengan peralatan masak berukuran raksasa," tuturnya. 

Senada disampaikan, Riski dan Mella Amanda, wisatawan asal Jambi, menyebutkan bahwa kota Sawahlunto merupakan kota yang memiliki sejarah masa lalu yang memilukan. Meskipun demikian kota Sawahlunto memiliki kekayaan alam yang berlimpah sehingga dimasanya Sawahlunto adalah kota berkembang dan sangat maju. Hal itu terlihat dari bentuk bangunan bangunan tua yang masih berdiri kokoh, salah satunya Goedang Ransoem termasuk peralatan dapur umum. 

"Pada masa penjajahan Kolonial Belanda kota Sawahlunto telah maju dibandingkan kota lain. Sebab, kota Sawahlunto telah mengenal teknologi uap, salah satunya kereta angkut batu bara. Kemudian dapur umum untuk memasak makanan menggunakan teknologi uap. Melalui tungku pembakaran batu bara kemudian dialirkan melalui pipa bawah tanah. Hal ini adalah salah satu bukti kemajuan kota Sawahlunto di masa penjajahan Kolonial Belanda," katanya.

Sunday, December 17, 2017

Pesona Sawahlunto Puncak Cemara Sungguhkan Keindahan Kota Dari Ketinggian

Sabtu, 16 Desember 2017 siang menjelang sore kota Sawahlunto mulai mendung. Tak lama hujan pun mengguyur sehingga jalan menuju puncak cemara yang semberaut menjadi basah dan licin. Pengunjung diharapkan harus hati-hati melintasi jalan menuju puncak cemara. Sebab, jalan menuju puncak cemara sedang dalam perbaikan dan pelebaran jalan. Sehingga jalan yang tutupi tanah mengakibatkan jalan menjadi licin. Kemudian, banyaknya tumpukan tanah timbunan yang menumpuk di bibir jalan. 

Puncak cemara mengunjung akan dimanjakan dengan keindahan melihat kota tua Sawahlunto dari atas ketinggian. Selain itu, di puncak cemara lanskap memandagan melihat tulisan Kota Sawahlunto yang berhadapan dengan puncak cemara. Masing-masing memperlihatkan keindahan panorama kota Sawahlunto dari ketinggian. Kemudian, biasanya pada ketinggian tersebut pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan kota Sawahlunto akan ditutupi awan usai hujan mengguyur kota tersebut. 

Kota Sawahlunto memiliki objek unggulan yang tidak lari dari korp kota sebagai Kota Lama dengan berbagai museum yang ada. Sebab, Sawahlunto disiapkan menjadi sebagai 'Kota Seribu Museum' kerana banyak koleksi yang dapat dilihat oleh pengunjung. Kemudian, kawasan kota tua kota Sawahlunto peminatnya adalah peminant khusus, jadi semuanya harus dilengkapi. Ada tiga museum melengkapi kawasan kota tua yakni Museum Tari, Museum Lukisan dan Etnologi Kayu, Museum Alat Musik Tradisional juga sebagai objek wisata unggulan yang memiliki berbagai koleksi. 


Kemudian, tidak kalah penting dengan objek-objek yang lain seperti Puncak Cemara, Water Boom, Taman Satwa Kandih tetap menjadi objek wisata unggulan Sawahlunto. Karena konsep wisata atau selera dan sekmen pasar wisata adalah cenderung ke fun atau menyenangkan yang membuat pengunjung enjoy sekeluarga untuk berwisata, hal itu ada di water boom, taman satwa Kandih.

Oleh Karena itu, konsep wisata yang ada di Sawahlunto adalah wisata asyik bebas macet. Ketika dibeberapa daerah di landa dengan kemacetan seperti kota berkembang Sumatera Barat, sehingga untuk datang ke sana dengan kondisi jalan yang macet. Untuk itu, berlibur dan bermalam di Sawahlunto segala sesuatu disiapkan, seperti kuliner dilapangan Segitiga sehingga bisa dinikmati oleh pengunjung pada saat malam hari. 

Kemudian, kota Sawahlunto juga menyiapkan berbagai penampilan seni budaya karena kota yang memiliki tag-line 'Sawahlunto Pusaka' menjadi agenda serta iven kota. Hal ini untuk menampilkan seni budaya di Sawahlunto, baik seni tradisi maupun seni modrn. Sehingga Kunjungan Wisata Sawahlunto pada Agustus 2017 mencapai 400 ribu kunjungan. Kunjungan tersebut tersebar di seluruh objek wisata di Sawahlunto terutama kunjunga wisata puncak cemara mencapai 51.090 orang pengunjunga di bulan Agustus. Sementara itu, kunjungan puncak cemara (puncer) pada bulan yang sama Agustus 2016 relatif sama. 

"Kita masih optimis kunjungan wisatawan terus bertambah karena iven-iven besar terus dilangsung. Maka, akumulasi kunjungan akan terus bertambah dan tersebar di seluruh objek yang ada. Total kunjungan wisata Sawahlunto pada tahun 2017 belum terhitung," ujar Efriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Sabtu, 16 Desember 2017.  

Kemudian, tingkat kunjungan wisata Sawahlunto berdasarkan RPJMD tahun 2017 berkisar 850 ribu hingga 900 ribu kunjungan. Namun melihat potensi kunjungan di Sawahlunto menunjukkan akumulasi yang baik dengan adanya iven-iven, maka Kementerian Pariwisata menergetkan kunjungan mencapai 1 juta kunjungan. 

Banyaknya penyelenggaraan iven berskala Nasional dan International di Sawahlunto hingga akhir Desember tentunya akan menambah kunjungan. Sebab, akumulasi kunjungan hingga Agustus berjumlah 400 ribu. Maka, dengan banyaknya iven diselenggarakan akan mendongkrak jumlah kunjungan dan kita optimis akan mencapai 1 juta kunjungan. Iven yang diselenggarakan tentu ada pembenahan terhadap objek wisata seperti puncak cemara. Sehingga memiliki daya tarik bagi pengunjung untuk datang ke tempat objek wisata. 

Puncak cemara sedang dilakukan pembenahan dan tambahan arena bermain. Karena punca cemara tersebut adalah wahana bermain remaja, namun saat ini ditambah puncak cemara tersebut dibagi menjadi dua level. level bawah untuk tambahan arena bermain anak berupa arena outbond dan air mancur. Sehingga anak-anak dapat beraktifitas dan bermain air. Penambahan objek wisata tersebut menggunakan anggaran APBD 2017 mencapai Rp1 miliar. 

Adanya arena bermain anak-anak tersebut maka, maka puncak cemara tidak hanya menjadi wadah untuk berfoto selfi dengan lanskep view kota tua dari atas puncak cemara, namun akan menjadi daya tarik sendiri bagi orang tua untuk mengajak anak-anak berlibur dan bermain di puncak cemara sembari melihat pemancakan kota tua dari ketinggian.

Akses bukitas menuju puncak cemara pun saat ini sedang dilakukan pelebaran jalan oleh Dinas Pekerjaan Umum dengan dana APBD. Kemudian, arena parkir yang telah disiapkan dan mampu menampung kendaraan roda dua sekitar 50 unit. Ini sebagai langkah untuk terus meningkatkan kunjungan wisata di Sawahlunto dengan harapan pengunjung merasa nyaman dengan fasilitas yang ada. 






Sunday, December 3, 2017

Pacu Jawi Kekayaan Budaya Ajang Mendapatkan Keuntungan dan Memperbanyak Saudara

"Pacu Jawi, merupakan kekayaan budaya yang dipertontonkan, tetapi pacuan Jawi juga wadah untuk saling mengenal satu sama lain. Pacu Jawi memperbanyak saudara dikenal dengan istilah "Mampagadang pariuak, mampabanyak dunsanak, Kamudian harogo Jawi labiah kandua dari ukuran data,"




dok. Humas Sawahlunto
Jalan menuju Desa Sijantang Koto, Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto yang sempit. Para pengunjung berduyun-duyun masuk ke areal sawah tempat pacuan Jawi. Ribuan penonton telah memadati jalan bandes membedah sawah sebagai jalan penghubung rumah warga. Penonton berdasarkan berdiri di sepanjang jalan beton yang dipagari dengan bilah bambu agar penonton lebih aman dari amukan Jawi saat balapan. 

Sorak-sorai serta tepuk tangan penonton riuh seketikan melihat Joki terhenyak jatuh ke lumpur sawah. Sementara Jawi tetap melaju kencang bersama pasangannya yang telah di pasang 'Tali Bajak' yang terbuat dari bambu. Pada tali bajak tersebut Joki berdiri sembari memegang ekor Jawi kemudian menggigitnya agar lari Jawi bertambah kencang. Hingga bercak lumpur pun melumuri seluruh tubuh Joki akibat percikan lumpur terjangan kaki Jawi. 

dok. Humas Sawahlunto
Rabu, 29 November 2017 siang lagit kota Sawahlunto cerah. Penonton masih setia berkerumun berdesakan disepanjang pagar arena pacu jawi dibawah terik matahari. Penjual jajanan asongan menyelip-nyelip ditengah desakan penonton meskipun telah disediakan tempat untuk berjualan. Pedagang asongan tersebut sesekali perhatiannya mengarah ke arena melihat pacu Jawi. Belum lagi para pejalan kaki yang mondar mandir ditengah keruman penonton mencari posisi yang pas untuk menonton. 

Ali Amran, 63, Joki asal Kabupaten Tanah Datar menyebutkan bahwa Pacu Jawi (Balapan Sapi) sebelumnya dimulai dari cara petani menjalin hubungan silaturrahmi antar sesama teman di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar. Setiap tahun, Pacu Jawi diselenggarakan secara bergiliran selama empat minggu di empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum, dan Kecamatan Sungai Tarab.

dok. Humas Sawahlunto
Pacuan Jawi sebagai wadah saling mengenal satu sama lain atau memperbanyak saudara dikenal dengan istilah "Mampagadang pariuak, mampabanyak dunsanak, Kamudian harogo Jawi labiah kandua dari ukuran data,". Artinya pacu Jawi tidak hanya hiburan semata tetapi juga mendapatkan keuntungan karena harga Jawi menjadi lebih tinggi. Kemudian melalui pacu jawi juga akan memperbanyak saudara karena terjalin silaturahmi, baik sesama hobi, dengan masyarakat dan pemerintah. 

Maksudnya, kalau 'Jawi Aduan' (pacuan) tersebut di pasar harganya akan lebih mahal dibandingkan dengan Jawi biasa yang bukan Jawi aduan. Artinya harga satu ekor Jawi Aduan bisa mencapai Rp60 juta perekornya. Kalau harga pasaran Jawi jika dilihat dari jumlah daging berkisar Rp10 juta hingga Rp20 juta untuk Jawi potong. Tetapi kalau Jawi tersebut sudah masuk sawah atau Jawi Aduan maka harganya akan lebih mahal dari harga umumnya.

Ali Amran mengatakan ada sebanyak 500 ekor Jawi Aduan yang sudah menjadi atau sudah siap untuk berpacu. Ada pula yang baru belajar artinya belum menjadi masih belajar arena pacua karena baru berumur satu hingga tiga tahun pacuan. Kemudian, dia sendiri membawa delapan ekor Jawi (empat pasang) yang diikutkan pada pacuan Jawi di sawah Sijantang, Kecamatan Talawi Sawahlunto. Sepasang Jawi Aduan miliknya telah bertanding selama 12 tahun dan belum 'Suak' atau masih bisa dipakai dan ikut bertanding di arena. 

Ali Amran sejak umur 13 tahun telah masuk ke sawah menjadi Joki pacu Jawi hingga saat ini meskipun diusianya yang telah tua, masih pawai dan kuat menjadi Joki. Sejak menjadi Joki tidak terhitung berapa kali memenangkan pacuan Jawi. Kemudian telah banyak pula, jawi aduan miliknya dijual kepada Joki lainnya dengan harga mahal. Artinya, Jawi pacuan tersebut didapatkan dari perpindahan tangan Joki yang satu ke yang lainnya. Jawi pacuan tersebut dibeli dari kawan (Joki) malampaui (lebih mahal) dari harga sebelumnya. 


Ali Amran menjelaskan bahwa Pacu Jawi berasal dari Kabupaten Tanah Datar yang sudah ada sejak dulu, namun di Sawahlunto merupakan pacu yang kedua kalinya sejak tiga bulan belakangan. Karena pacu Jawi merupakan pacuan yang baik, unik serta tradisi yang kuat dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Maka pemerintah kota Sawahlunto meminta agar pacu Jawi diadakan di Kota Sawahlunto agar menjadi destinasi wisata baru bagi Sawahlunto dan pemerintah kota menyediakan tempat pacuan Jawi. 

Senada disampaikan, Khairul Fahmi, 67, Ketua Persatuan Pacu Jawi Kabupaten Tanah Datar menyebutkan bahwa asal mula Pacu Jawi (Balapan Sapi) terjadi adalah dari petani di sawah. Petani mengadu atau berpacu antara Jawi yang satu dengan lainnya sehingga menjadi satu pasang. Maka petani memasang tali bajak (bajak sawah terbuat dari bambu) terhadap kedua Jawi (berpasangan) untuk berpacu di sawah.

Ada lima cara penilaian Pacu Jawi, yakni pertama ditentukan oleh kencangnya lari Jawi berpacu yang telah dipasang 'Tali Bajak' hingga memutus pita finish. Kedua, saat Jawi pacuan berpasangan yang sudah di pasang tali bajak tersebut lari Jawi harus lurus atau 'Dahulu Sakapalo. cara ke tiga kepala Jawi harus tegak atau mendongak ke atas saat berlari pacuan hingga finish. 

Keempat, Jawi tidak 'mendek' ke kiri dan kanan atau Jawi tersebut tidak menoleh kekiri dan kekanan, (berpisah dengan pasangannya) sehingga lari lurus sampai ke finish. Kelima, meskipun Jawi tersebut berdirinya di pinggir arena pacuan atau ditengah arena tetapi penilaian tetap berdasarkan lurusnya lari Jawi yang ditunggangi Joki.

Selanjutnya, ada dua kategori 'Aduan' atau pacu Jawi. Pertama, pacu Jawi dilakukan secara bersama-sama artinya lebih dari satu pasangan yang 'beradu' (berpacu) di arena. Namun sistem penilaiannya tetap melihat siapa yang duluan memutus pita. Kemudian, pacu Jawi dilakukan secara sendiri (hanya sepasang) tetapi tetap mengacu pada kategori penilaian. Joki yang menunggangi Pacu Jawi di arena boleh dilakukan berulang-ulang sampai pada sempurna atau sesuai dengan kategori penilaian yang telah ditetapkan.

Sementara, filosofi Jawi 'Aduan' (Pacu Jawi) adalah diharapkan pemimpin itu seperti Jawi pacuan yang berlari lurus demi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Pemimpin yang tidak memandang sebelah mata masyarakat kecil dan berkeadilan. Pemimpin yang bisa membimbing kawan atau masyarakat, itulah yang dikatakan Joki. Kemudian, meskipun badannya kotor dan berlumpur namun hatinya tetap bersih karena silaturrahmi. 

Artinya seluruh peserta yang datang berasal dari empat kecamatan di Kabupaten Tanah Datar, namun tetap kompak. Karena pacu Jawi adalah mempererat silaturrahmi antar sesama tetap terjaga dengan baik. Meskipun pacuan berada di Desa Batu Tanjuang Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto namun bisa bersilaturrahmi dengan masyarakat sekitar. Ada sebanyak 180 peserta pacu Jawi yang hadir untuk bertanding di Desa Batu Tanjuang, Sawahlunto. Semua peserta pacu Jawi berasal dari empat kecamatan yang ada di Kabupaten Tanah Datar.

Kemudian alasan tradisi pacu Jawi berasal dari Kabupaten Tanah Datar dibawakan ke Kota Sawahlunto adalah untuk bersilaturrahmi. Artinya datang untuk bersilaturrahmi memperbanyak dunsanak (Saudara). Sebab, di Kabupaten Tanah Datar sendiri hanya ada empat kecamatan yang memiliki iven pacu Jawi. Meskipun demikian, pacuan Jawi tersebut pesertanya tetap berasal dari empat kecematan di Kabupaten Tanah Datar namun berpacu di Sawahlunto. Karena di Kota Sawahlunto belum ada joki untuk berpacu melainkan hanya sebagai menyediakan erena berpacu Jawi. 

Selanjutnya alasan membawakan pacuan Jawi di Sawahlunto adalah dilihat dari dasar air sawah apakah mencukupi. Kemudian, areal sawah apakah memadai untuk dijadikan arena pacu sesuai dengan yang diharapkan. Kemudian dilihat pula kedalaman lumpur Sawah terset, karena kalau lumpurnya dalam tidak bisa dijadikan arena pacuan Jawi.

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto mengatakan bahwa Pacu Jawi Sawahlunto merupakan rangkaian kegiatan hari jadi kota Sawahlunto ke 129 tahun. Pacu Jawi diharapkan akan menambah detinasi wisata baru bagi kota Sawahlunto. Kemudian melalui kegiatan Pacu Jawi akan memberikan multiplayer effect terhadap masyarakat sekitar untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. 

Melalui iven pacu jawi pengunjung akan ramai menyaksikan menonton langsung pacu jawi. Maka, pengunjung yang datang tersebut pasti akan berbelanja sehingga masyarakat mendapatkan manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan. Kemudian, persatuan pacu jawi Kabupaten Tanah Datar pun bersedia untuk berpacu di Desa Sijantang Koto Kecamatan Talawi memeriahkan hari jadi kota ke 129 tahun 2017.

Pacu jawi bukanlah tradisi permainan anak nagari Kota Sawahlunto. Permainan tersebut merupakan tradisi anak nagari Luhak Nan Tuo Kabupaten Tanah Datar. Pacu Jawi dilaksanakan berkat komunikasi yang baik Pemko Sawahlunto dengan pihak komunitas dan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar maka Pacu Jawi menjadi kalender kepariwisataan Kota Sawahlunto. *

Thursday, November 23, 2017

Tour de Singkarak 2017, Daniel Whitehouse Menang Etape 2

Pebalap Inggris, Daniel Whitehouse, memenangi etape dua Tour de Singkarak 2017 menempuh jarak 155,9 kilometer. Star dimulai dari Pantai Cerocok Painan, Pesisir Selatan menuju finis di Lapangan Segitiga di Sawahlunto, Sumatera Barat, diselesaikan Daniel Whitehouse dengan catatan waktu 4 jam, 3 menit, 3 detik. Daniel Whitehouse yang memperkuat tim negaranya, CCN Cycling, baru pertama kali mengikuti Tour de Singkarak (TdS), Minggu, 19 November 2017. 

Setelah Daniel Whitehouse di urutan pertama, pembalap lainnya yang naik podium adalah pembalap Iran, Khalil Khorshid dan Ghader Mizbani Iranagh dari tim Tabriz Shahrdary, yang menempati urutan kedua dan ketiga. Selain itu, klasifikasi individual direbut pembalap Indonesia, Aiman Cahyadi urutan ketujuh dan Ali Sahbana Agung, urutan delapan. 

Sedangkan, Jamal Hibatullah, pebalap unggulan Indonesia mencatatkan waktu 6 jam, 43 menit, 36 detik sebagai pebalap Indonesia, tercepat sehingga berhak atas Jersey Merah Putih. Balapan diikuti 101 pebalap yang terbagi menjadi 20 tim yang berasal dari 13 Negara. Selain memberikan penghargaan kepada kemampuan individu, TdS juga melombakan klasifikasi tim Indonesia terbaik.

TdS juga memberikan gelar merah putih untuk pembalap Indonesia terbaik, Jersey hijau untuk pembalap terbaik di lintasan datar, jersey polka dot untuk raja tanjakan, serta klasifikasi umum. Pada etape kedua, jersey hijau diraih Daniel Whitehouse dengan 20 poin dan jersey polkadot diraih Khalil Khorshid dengan 15 poin.

Rute etape 2 pada event Sport Tourism Tour De Singkarak 2017 start dimulai pukul 10.00 WIB di Pantai Carocok Painan, Kabupaten Pesisir Selatan dan finish diKota Sawahlunto. Pebalap melewati berbagai rintangan di lintasan sepanjang 155.9 kilometer.

Di Etape 2 tersebut, pembalap melintasi sejumlah titik yakni, start Pantai Carocok Painan - Jalan Ilyas Yakub - Jalan Sutan Syahrir - Jalan M Hatta - Jalan Imam Bonjol - Rumah Dinas Bupati - Salido - Tarusan - Barung Barung Balantai - Bungus - Bukit Lampu - Bandar Buat - Taman Hutan Raya Bung Hatta - Air Sirah - Pertigaan Cupak - Koto Baru - Selayo - Perempatan Simpang Rumbio - Terminal Bareh Solok - Jalan Lubuk Sikarah - Batas Kota Sawahlunto - Simpang Muaro Kalaban - dan finis di Lapangan Segitiga Kota Sawahlunto.

Pada Etape 2 tersebut terdapat tiga titik Sprint dan tiga titik King Of Mountain (KOM) atau dikenal dengan istilah Raja Tanjakan. Untuk titik Sprint I berada di Tarusan, Sprint II di Bandar Buat dan Sprint III di Selayo. Sementara untuk KOM I berada di Bungus, KOM II di Bukit Lamu dan KOM III di Air Sirah.

Ada tiga titik King of Mountain (KOM)  di etape kedua ini. Pertama di kawasan Bungus dengan level empat, tepatnya di kilometer 46,6. Kedua, KOM level empat di kilometer 61, tepatnya di kawasan Bukik Lampu. Kemudian KOM level satu di kilometer 94,7 atau di Air Sirah Kota Padang.

Pembalap juga merebut poin sprint di tiga titik. Pertama di kilometer 19,1 atau di Terusan Pesisir Selatan. Kedua di kilometer 76,9, tepatnya di Bandar Buat Kota Padang. Terakhir di kilometer 122,8 atau di Salayo Kabupaten Solok.

Rute pada Etape 2 tersebut merupakan salah satu rute extreme yang dimiliki Tour De Singkarak 2017. Terutama saat masuk dikawasan Pendakian Sitinjau Lauik. Seluruh Pembalap bakal dihadapi dengan pendakian ekstrem dan paling panjang dari seluruh rute pendakian yang ada pada etape lainnya. Pebalap yang tampil, tidak hanya akan menjadi yang tercepat dan finish terdepan, namun juga akan berlomba untuk menjajaki raja tanjakan.

Selain menaklu rintangan yang bervariasi di sepanjang lintasan Etape 2 tersebut, seluruh pembalap juga bakal menikmati panorama sepanjang ture yang dilewati. Pebalab menikmati suasana pantai Painan, Bungus, Panorama Sitinjau Lauik dan Kota Tambang Tua Sawahlunto.

Wednesday, October 18, 2017

Tour De Singkarak 2017 Sawahlunto Etape 2 House Finish

Persiapan Tour de Singkarak (TDS) 2017 berdasarkan rapat panitia pusan dan daerah, disepakati akan diselenggarakan pada tanggal 18-26 November 2017 mendatang. Grand star akan di mulai dari Kabupaten Tanah Datar dan finish di Kota Bukittinggi merupakan etape pertama. Ada sebanyak sembilan etape yang akan dilewati oleh pebalab sepeda Internasional. Kemudian 18 Kabupaten/kota ikut serta berpartisipasi dalam ajang balab sepeda klas internasional kecuali Mentawai. 

"Tour de Singkarak 2017 ini akan menempuh jarah lebih dari 1000 Kilometer dan melewati 18 Kabupaten/kota se Sumatera Barat kecuali Mentawai. Penyelenggaraan Tour de Singkarak 2017 ini, Kota Sawahlunto merupakan etape 2 dengan star di Kabupaten Pesisir Selatan, akan melewati kota Padang, Kabupaten Solok, Kota Solok dan Sawahlunto dengan jarah tempuh 160 Kilometer," ujar Efriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto kepada Penulis Selasa, 17 Oktober 2017. 

Ia menyebutkan bahwa Balap Sepeda Internasional dalam ajang Tour de Singkarak 2017 sebagai House Finish etape 2 tersebut di pusat kota taman lapangan Segitiga Kota Sawahlunto. Finish etape 2 tersebut pada tangga 19 November 2017 mendatang diikuti oleh 13 negara yang telah konfirmasi hingga saat ini. 

"House Finish etape 2 TDS di taman Segitiga untuk mengekplor kota tua yang ada di Sawahlunto. Sehingga kota tua Sawahlunto dapat di nikmati pesonanya oleh pengunjung yang menghadiri House Finish etape 2," katanya. 

Ia mengatakan bahwa untuk jalur infrastruktur yang akan dilewati pembalap Sawahlunto telah redi mencapai 90 persen. Sebab, jalur yang dilewati pebalap merupakan jalan nasional. 

"Saat ini yang menjadi kendala adalah penyelesaian gerbang di Muara Kalaban yang dilewati pebalap. Namun, pada kegiatan TDS mendatang semuanya telah redi dan selesai sehingga dapat dilewati pebalap," tuturnya. 

Ia mengaku bahwa penyelenggaraan TDS 2017 tersebut terus mengalami kemajuan. Sebab, TDS kali ini melewati 18 Kabupaten/kota se Sumatera Barat dengan sembilan etape. Sehingga etape yang ditempuh pun bertambah dari tahun sebelumnya. 

"Kemudian pebalap akan menginap di hotel dan home sty yang ada di kota Sawahlunto. Kemudian pada malam harinya akan diadakan hiburan rakyat untuk semaraknya TDS," tambahnya. 

Efriyanto mengungkapkan bahwa penyelenggaraan TDS 2017 ini akan menghabiskan anggaran sebesar Rp600 juta dari dana Anggaran Pendapatan Belanda Daerah (APBD) kota Sawahlunto. 

"Anggaran tersebut peruntukannya untuk kontribusi hadiah, pastisipasi konsumsi dan stransportasi kegiatan TDS 2017. Kemudian kegiatan ini diharapkan akan memberikan multiplayer effect kepada masyarakat yang dilewati pebalap termasuk kota Sawahlunto," katanya