Showing posts with label Halal Tourism. Show all posts
Showing posts with label Halal Tourism. Show all posts

Thursday, May 25, 2017

The Indonesian Day Belanda, Ali Yusuf jadi Keynote Speaker Satu-satunya

Sukses sebagai penerus transformasi Kota Sawahlunto yang sebelumnya Kota Tambang Batubara menjadi Kota Pariwisata, Ali yusuf, Walikota Sawahlunto menjadi perhatian Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda. 

Ali Yusuf  menjadi satu-satunya Keynote Speaker pada event Indonesian Day yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Gronigen, Belanda, Sabtu, 20 Mei 2017.

Acara dihadiri oleh Dubes RI di Belanda, I Gusti Agung Waseka Puja dan President of University og Gronigen tersebut, berlangsung prestisius dan kemampuan Walikota Sawahlunto dalam menyampaikan materi mengundang decak kagum dari peserta yang hadir.

Dalam kesempatan tersebut, Ali Yusuf mempromosikan Songket Silungkang dengan menyerahkan songket silungkang sebagai cendramata kepada President of University og Gronigen, Prof. S. Popperma dan Dubes RI di Belanda, I Gusti Agung Waseka Puja.

Merupakan sebuah kesempatan emas dan kebanggaan Walikota Sawahlunto di undang selaku pembicara dalam acara Indonesian-International Student Culture Festival (I-ICSF)  Indonesian Day  2017 di Groningen Belanda, 20 Mei 2017.

Dalam kesempatan tersebut Walikota Sawahlunto memaparkan tentang upaya dan keberhasilan Sawahlunto bertransformasi  dari Kota Tambang menjadi Kota Pariwisata dg mengandalkan bangunanan dan lahan bekas tambang batubara,  potensi alam dan daya tarik kreativitas, kerajinan masyarakat seperti songket,  kopi, batubara. 

Sementara Duta Besar Indonesia untuk Belanda menyambut baik dan mengapresiasi langkah Walikota Sawahlunto yang komit dan konsisten dalam memajukan Pariwisata dan mempromosikannya ke dunia internasional. 

Acara yang dihelat dari siang hingga malam tersebut, dihadiri tidak kurang dari 500 orang peserta dan tami yang terdiri dari seluruh Mahasiswa Indonesia di Belanda, mahasiswa delegasi Negara Asing,  Kedutaan besar RI untuk Belanda. Presiden Univesrsity of Groningen, Pemerintah Kota Groningen dan warga Indonesia yang ada di  Belanda khusunya Groningen.

Ketua Panitia yang merupakan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen Amak M Yaqoub mengatakan bahwa terpelihnya Walikota Sawahlunto selaku pembicara karna melihat dan mengamati komitmen yang tinggi dan keberhasilan Sawahlunto bertransformasi dari Kota Tambang menjadi Kota Pariwisata.

Amak menyampaikan apresiasi dan berkomitmen beserta seluruh anggota utk berperan aktif dalam mempromosikan Pariwisata Sawahlunto dan akan membantu dalam upaya Sawahlunto menjalin kerjasama dengan beberapa Kota  di Belanda.

Pada kesempatan yang sama, Dubes RI untuk Belanda mengapresiasi dan memuji langkah Walikota dan siap membantu promosi dan upaya Point penting yg didapatkan dari kunjungan walikota tersebut adalah kesempatan utk mempromosikan pariwisata Sawahlunto, menjajaki kerja sama dengan pemerintah kota  Groningen dan kota lain di Belanda, menyusur jejak sejarah sawahlunto, dan mencari peluang untuk beasiswa pelajar sawahlunto agar bisa menyambung pendidikan di Negeri Kincir Angin tersebut. 

Walikota Sawahlunto yg didampingi Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga selain menjadi pembicara juga mengagendakan kunjungan ke Univwesity of Leiden dan ke Kedutaan Besar Belanda di Den Haag Belanda. 

Sunday, April 16, 2017

Target 1 Juta Pengunjung ke Objek Wisata Sawahlunto

Ali Yusuf Walikota Sawahlunto foto bersama Asita Sumbar
Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat menargetkan kunjungan wisata kota Sawahlunto tahun 2017 mencapai 1 juta pengunjung. Tingkat kunjungan wisata kota Sawahlunto terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pemerintah kota komit untuk melakukan perkembangan wisata bersama travel agent dan saling berkomunikasi meningkatkan kunjungan wisata melibatkan Association of indonesia tours and travel agencies (Asita), Association of sales travel Indonesia (Asati) dan Asosiasi perencanaan indonesia (Aspi).

Sumatera Barat memiliki potensi wisata alam yang masih alami dan memiliki ciri khas kedaerahan masing-masing. Sawahlunto merupakan kota tua yang banyak menyimpan sejarah peninggalan Kolonial Belanda. Sawahlunto dengan jarak tempuh 90 km dari pusat kota Sumatera Barat terdiri dari empat Kecamatan, 27 Desa dan 10 Lurah serta 107 dusun banyak potensi Wisata yang dikembangkan seperti waterbom berkas pemandian noni-noni zaman Belanda. Waterbom yang pertama di Sumatera Barat yang pernah ada dan mempunyai sejarah.

Kemudian, objek wisata Puncak Cemara, Gudang Ransum, Museum Kereta Api, Taman Buah Kandih, Keping Ground, Taman Satwa Kandih dan Lubang Tambang Mbah Soero, yang tidak dimikili daerah lain. Maka, sarang dan masukan dari Asita, Asati dan Aspi menyebutkan perlunya sarana pendukung terutama dalam hal kuliner. Kuliner tersebut yang mengutamakan kebersihan dan kualitas rasa dengan makan enak, bersih dan kakulator tidak rusak. Karena perkembangan wisata Sawahlunto sangat pesat maka sinergitas antara pemerintah kota sangat dibutuhkan dalam hal promosi wiasata.

Ali Yusuf Walikota  Sawahlunto paparkan potensi wisata
dan objek wisata Sawahlunto beserta sarana pendukungnya
dihadapan travel agent, Axana Hotel, Rabu 12/4/2017
"Ajakan gathering bersama dengan gathering yang ada di kota Sawahlunto walau pun restouran yang besar yang representatif belum ada di kota Sawahlunto. Tetapi, travel egend bisa membawa karering bisa di bawa ke Kota Sawahlunto untuk bisa di bawa ke Puncak Cemara, Gudang Ransum, Museum Kereta Api, Taman Buah Kandih, Waterbom, ajakan tersebut bisa dilakukan," ujar Ali Yusuf Walikota Sawahlunto kepada Penulis, Rabu, 12 April 2017 usai "Shering Informasi dan Promosi Pariwisata Kota Sawahlunto Bersama Pelaku Aktif se-Sumatera Barat di Axana Hotel.

Ia menyebutkan bahwa hal ini merupakan hikmah yang dapat di ambil dalam pertemuan tersebut dan pelajaran yang diambil berkaitan dengan kuliner. Kemudian, Infrastruktur pendukung yang akan diperbaiki pada tahun ini telah dibangun seperti pembanguan gerbang atau gapura daerah selatan, Kecamatan Silungkang pembangunannya sedang berlangsung.

"Wisata Puncak Cemara yang dipersiapkan, menyelesaikan arela parkir dan belebaran jalan dikerjakan tahun ini dan sedang berjalan. Maka, semua saran dan masukan dari travel egen yang disampaikan ASITA, ASATI dan ASPI sudah diakomodir, kemudian menjadi nyaman berkunjung di kota Sawahlunto," katanya.

Maka, lanjut dia,  malalui OPD terkait secara inten agar melakukan pertemuan dengan travel agen di Sumatera Barat. Agar target gubernur ke Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, maka target 1 juta pengunjung terealisasi 2017. Karena target 1 juta pengunjung tersebut dikatakan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo pada bulan Juli 2016 lalu di Jambi saat berjabat tangan dengan presiden. 

"Kunjungan wisata sawahlunto tahun 2016 mencapai 858 ribu pengunjung, 810 ribu pengunjung 2015 dan 787 ribu pengunjung 2014. Maka, dengan keterbatasan anggaran yang ada tercukupi dengan cara melibatkan OPD terkait dianggarkan 13,9 persen," paparnya.

Kemudian, untuk mendukung Sumatera Barat sebagai wisata halal, maka Pemerintah kota Sawahlunto melibatkan 10 nagari yang ada untuk ikut serta berpartisipasi memberkenalkan produk makanan khas yabg ada di setiap nagari masing masing untuk diperkenalkan sebagai produk makanan halal di kota Sawahlunto.

"Maka, tahun 2016 lalu kita telah melaksanakan Makan Bajamba sebagai ikon kota dan telah melaunching sebagai salah satu produk wisata halal, karena Sawahlunto bagian dari Sumatera Barat yang akan menjadi kebanggaan bersama," ungkapnya.

Monday, September 26, 2016

Menelusuri Danau Biru di Sawahlunto Bikin Penasaran, Keluhkan Pungutan

Danau Biru Kota Tambang Sawahlunto
Lewat postingan di media sosial (medsos) objek wisata Danau Biru di kawasan Parambahan, Kecamatan Talawi, Sawahlunto jadi booming. Kini objek wisata tersebunyi ini menjadi incaran wisatawan lokal maupun luar daerah. Bagaimana kondisinya?

Jalan menuju Danau Biru yang terjal dan berbukitan serta berliku-liku. Jalan tanah kuning yang berdebu dengan jarak tempuh dari Simpang Napa, Desa Tumpuak Tangah Kecamatan Talawi menuju Danau Biru memakan waktu sekitar 30 menit. Jalan yang berbatuan itu merupakan jalan mobil fuso mengangkut batu bara. Akibatnya rumput dan pepohonan yang ada disepanjang jalan telah menguning di baluti debu.

Danau Biru telah menjadi incaran dari masyarakat, baik kota maupun di luar kota Sawahlunto. Meskipun jalan menuju danau biru tersebut melewati pendakian dan bebatuan serta licin, apalagi saat musim hujan jalan akan menjadi becek tentunya.

Meskupun untuk masuk ke lokasi Danau Biru, terdapat tiga kali pungutan diantaranya pada pintu satu ada pungutan berupa sumbangan dari pemuda setempat. Kemudian, pintu dua retribusi dengan tiket per orang dikenakan Rp5000. Selanjutnya, sesampai dilokasi, pengunjung juga akan dikenakan biaya parkir kendaraan roda dua sebanayak Rp5000, kendaraan roda empat Rp10.000 tampa karcis.

Hal itu akan tergantikan jika sampai di puncak bukit timbunan penambang. Sementara, dibawah lereng bukit pengunjung dapat melihat danau berwarna biru. Pengunjung bisa melihat secara keseluruhan danau biru tersebut. Untuk sampai ke bibir danai buru, pengunjung harus menuruni anak tangga yang yang dipagar dengan kayu seadanya untuk bergantungan. Sebab, untuk sampai ke bibir danau pengunjung turun sejauh 50 mebawah.

Asrul, 45, pengunjung asal Solok mengatakan bahwa dirinya sengaja datang dari Solok untuk datang, melihat objek bisata danau biru yang banyak diperbincangkan orang. "Saya penasaran saja dengan danau biru ini. Saya mengetahui danau biru ini melalui media sosial. Kemudian, anak-anak juga mengajak datang menyaksikan langsung danau biru ini, karena mereka telah mengetahui lebih duluan tentang danau biru melalui medsos. Karena jarak Solok dengan Sawahlunto dekat, maka kita datang kesini rame-rame beserta anak dan istri," katanya.

Ia menyebutkan bahwa, objek wisata yang bagus tersebut masih terdapat kekurangan seperti kamar kecil. Selain itu tidak adanya perhatian dari pemerintah baik tata kelola objek wisata danau biru, termasuk malah tiket masuk dan pengelola parkir. "Akses jalan menuju kesini pun juga tidak mendukung, karena berkabut. Kemudian, parkir tidak ada karcis. Bibir danau biru yang curam dan tidak ada pembatas juga sangat mengancam keselamatan. Jika ini dikelola dengan baik tentu harapannya dapat dinikmati oleh semua kalangan. Karena saat ini kesannya hanya di nikmati oleh muda-mudi dan remaja. Kemudian yang hibby atventur dan tantangan saja," ungkapnya.

Sementara itu, ungkapan senada juga disampaikan oleh Deswi, 23, Asal Darmasraya mengatakan bahwa datang bersama tiga temannya yang lain karena penasaran dengan danau biru. "Saya penasaran aja dengan danau biru karena banyak di perbincangkan orang baik yang telah pernah datang ke sini, maupun mereka yang hanya mendapatkan informasi dari sosmed seperti facebook, twiter dan lainnya," katanya.

Ia menyebutkan bahwa pemandangan yang indah dan alamnya sejuh karena berada diketinggian sehingga dapat menikmati hembusan angin yang kecang. "Danaunya indah dan bagus. Cocok untuk selfi bersama teman-teman. Tapi, saya kapok. Saya tidak ingin lagi datang ke sini, karena jalannya yang jauh dan terjal, berliku-liku serta berkelok. Bebatuan yang besar sehingga mengocok perut. Makanya, moment ini harus di abadikan. Masuk, kesini banyak pula pungutan," ungkapnya.

Pedagang dikawasan Tambang, Tika, 23, warga Desa Tumpuk Tangah, Dusun Bukik obang, mengatakan bahwa ia berjualan di lokasi danau biru orang menyebutnya Batu Taye, sejak sembilan bulan lalu. Galian tambang ini telah berlangsung sejak tahun 1984 dan sampai tahun 1998 dan telah dihentikan penggalian. Sebab, meskipun batu bara masih banyak terdapat di penggalian tersebut namun penggalian tidak dapat dilanjutkan karena ada mata air. Sehingga air tidak dapat di kendalikan, kemudian penggalian ditinggalkan.

"Sebetulnya dulu danau galian tambang ini sangat luas, namun sebagian telah ditimbun untuk membangun jalan. Karena galian melanjutkan galian disebelahnya, maka danau ini menjadi lebih kecil," ungkap Tika Pedagang dilokasi Danau Biru kepada penulis, Sabtu, 17 September 2016.

Ia menyebutkan bahwa Danau Biru telah menjadi incaran dari masyarakat, baik kota maupun di luar kota Sawahlunto. "Banyak pengunjung yang datang dari luar kota dan bahkan di luar Sumatera barat. Pengunjung datang ke danau biru karena mereka penasaran dan ingin melihat secara langsung danau biru tersebut," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pengunjung banyak datang pada saat libur kerja dan akhir pekan. Sabtu dan minggu banyak pengunjung yang datang dari dalam dan luar kota untuk menikmati keindahan danau biru. "Kalau hari lebaran bisa jual beli per hari mencapai Rp 900 ribu, kalau hari biasa sabtu minggu berkisar Rp500 ribu perhari. Jadi, sejak berjualan ditempat ini bisa menambah penghasilan keluarga. Yang berjualan disini sebetulnya mama, saya cuma membantu," ungkapnya.

Ia mengaku berjualan dilokasi danau biru tersebut tidak ada larangan dari pihak pengelola tambang. Namun ada batas-batas tertentu yang tidak dibolehkan oleh pihak PT seperti membawa kendaraan melewati jalan menuju bibir danau. Karena kendaraan penambang melewati jalan tersebut. Kecuali dengan berjalan kaki.

"Hingga saat ini belum ada larangan dari pihak PT untuk berjualan di sekitaran danau biru. Berjualan di kawasan ini pula tidak ada pungutan biaya dari pengelola tambang. Karena lokasi ini merupakan tanah ulayat masyarakat," katanya.

Zulkifli, Kepada Desa Tumpuk Tangah Kecamatan Talawi mengatakan bahwa saat ini danau biru merupakan suatu obejek wisata baru. Lokasi Danau Biru bekas galian tambang tersebut merupakan isin usaha pertambangan PT AIied Indo Coal (AIC) Jaya. "Karena masih dalam IUP PT AIC pemda tidak bisa mengelola danau biru tersebut menjadi objek wisata baru di Kota Sawahlunto. Kemudian, jika ada pungutan untuk masuk kelokasi wisata tambang tersebut merupakan pungutan ilegal," katanya.

Ia menyebutkan bahwa danau tersebut terbentuk karena bekas galian tambang batu bara dan telah ditinggalkan pada tahun 1998 lalu. "Berdasarkan informasi yang kita terima IUP PT AIC telah diperpanjang hingga tahun 2021. Jadi pemda tidak bisa mengelola danau biru tersebut menjadi objek wisata. Disamping itu, tanah tersebut merupakan tanah kehutanan. Jadi apabila IUP PT tersebut habis tanah tersebut kembali kekehutanan. Belum bisa langsung di kelola oleh pemda, baru dari kehutanan kepada pemda. Masih jauh prosesnya lagi, jika pemda ingin mengelola danau biru tersebut menjadi obejek wisata," terangnya.

Bekas galian tambang batubara PT AIC Jaya berubah menjadi danau berwarna biru. Bekas tambang batubara tersebut saat ini masih dalam lingkup IUP PT AIC yang telah ditinggalkan karena tidak lagi memproduksi batubara di kawasan tersebut.

Termpisah Jepri, Pimpinan PT AIC Jaya saat dihubungi Selasa, 20 September 2016 mengatakan bahwa pihaknya telah memasang batas-batas dan pelarangan untuk tidak masuk ke lokasi tambang. "Pengunjung diperbolehkan melihat lokasi danau biru, namun tidak dibenarkan masuk ke areal tambang khususnya danau biru. Maka dari itu, pihaknya telah memasang plang larangan untuk tidak masuk ke areal tambang," ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa pengunjung sebetulnya tidak dibenarkan masuk ke areal tambang khususnya danau biru. "Karena banyak pengunjung yang membandel dan masuk ke areal tambang makanya plang pemberitahuan dipasang disekitaran lokasi. Kerena, areal tambang tersebut juga membahayakan bagi keselamatan pengunjung," katanya.

Selanjutnya, untuk pengembangan dan revitalisasi tambang tersebut menjadi objek wisata, kebijakannya langsung dari pusat. "Kita tidak berani untuk melakukan revitalisasi danau biru tersebut menjadi tempat wisata. Jika pemerintah daerah ingin mengelola danau biru tersebut untuk direvitalisasi maka, pengurusannya langsung ke pusat," katanya.

Ia mengaku belum mengetahui secara untuk detail bekastambang tersebut. Karena keberadaannya di kota Sawahlunto baru, sehingga belum mengetahui berapa luas dan kedalaman danau bekas tambang tersebut. "Lokasi danau biru memang masih dalam IUP PT AIC Jaya sebagian. Tetapi untuk revitalisasi kita belum mengetahui, karena bergantung pada kebijakan pusat," katanya.

Sementara itu, Meddy Azhar Manager ADM, mengatakan bahwa danau Biru yang menjadi incaran banyak wisatawan baik dalam maupun luar kota. "danau biru yang disebut masyarakat, sebenarnya kami menamakan Kolam. Nah, kolam ini sendiri telah ada sejak bekerja. Namum yang lebih mengetahui diteilnya adalah Kepala Teknis Tambang (KTT)," akunya.

Galian Tambang Batubara PT AIC Jaya, menjadi danau karena galian tersebut dipenuhi air saat hujan sehingga berbentuk danau. Karena pengaruh endapan air saat hujan dan kadar asam air yang tinggi, sehingga berpengaruh pada cahaya pantulan matahari terhadap warna danau tersebut berubah menjadi biru. Sehingga masyarakat sekitar menyebutnya sebagai danau biru.

"Danau biru tersebut saat ini telah menjadi ikon dan obejek wisata bagi kota Sawahlunto. Wisata danau biru tersebut telah menjadi incaran masyarakat kota Sawahlunto dan bahkan di luar sumatera barat untuk datang berkunjung ke objek wisata baru tersebut. Meskipun demikian, obejek wisata baru tersebut tidak didukung sepenuhnya oleh pemerintah kota Sawahlunto karena sekaitan dengan izin IUP pertambangan PT AIC," ungkap Rovanly Abdam, Sekda Kota Sawahlunto.

Ia menjelaskan bahwa untuk revitalisasi dan upaya pendukungan pemerintah untuk menjadikan wisata baru danau biru dikembangkan menjadi wisata yang representataif dan potensial. Pemerintah sebetulnya ingin mengembangkan objek wisata danau biru tersebut, namun lokasi danau biru tersebut berada dalam wilayah izin pertambangan PT AIC. Sehingga pemerintah kota tidak menyembangkan objek wisata danau biru tersebut karena masih dalam IUP PT AIC. Maka, untuk melakukan revitalisasi terhadap danau biru tersebut maka IUP PT AIC harus dilepaskan terlebih dahulu.

Meskipun saat dikawasan Danau Biru tersebut tidak ada lagi aktifitas menambang, namum secara hukum danau biru tersebut berada dalam IUP PT AIC. Jadi, tentu pemda belum bisa mengembangkan lansung kawasan wisata Danau Biru tersebut. Walaupun manyak masyarakat yang datang berkunjung menyaksikan langsung danau biru tersebut.

Meskipun demikian, kedepan pemerintah kota akan menciutkan wilayah pertambangan tersebut khususnya dilokasi Danau Biru untuk direvitalisasi. Hal itu bergantung pada kapan masa berlaku dan habis masa izin PT AIC tersebut. Maka, untuk perizinan pertambangan saat ini dikeluarkan langsung dari provinsi sehingga pemko belum mengetahui kapan izin PT AIC tersebut habis.

"Untuk dilakukan revitalisasi tersebut terkendala izin usaha pertambangan PT AIC. Karena danau biru tersebut berada di wilayah izin PT AIC tersebut," terangnya.

Sementara itu, sejak izin PT AIC dikeluarkan maka kawasan tersebut menjadi wilayah PT AIC tersebut. Namun, saat ini barangkali ditinggalkan atau justru tidak dipakai lagi, sehingga terjadi tumpukan air dan terlihat eseperti danau. Tetapi jika diciutkan izinnya nanti tentu pemko bisa melakukan perbaikan dan pembenahan terhadap lokasi wisata danau biru tersebut.

Saat ini telah banyak masyarakat yang berdatangan ke danau biru tersebut untuk berwisata, meskipun jalannya berdebu namun pengunjung tetap saja ramai. Jalan menuju lokasi danau biru tersebut dibangun oleh PT AIC untuk pengangkut batu bara dimuali dari Simpang Bukit Bual sampai Bukit Napa dengan jalur yang besar.

Kemudian, jalan tersaat ini dilakukan pembenahan dan pengaspalan oleh Pemprov, karena jalan tersebut merupakan jalan Provinsi. Maka, saat ini jalan tersebut akan di aspal sampai ke Bukit Bual Tanjung Palu Sijunjung.


"Makanya, pemda belum bisa mengekpos wisata baru Danau Biru tersebut karena masih dalam kawasan izin usaha pertambangan PT AIC. Jika, masyarakat yang datang berwisata maka ke danau biru tersebut adanya punyutan dan segalamacamnya akan menjadi tanggung jawab PT AIC. Jika wisata datang berkunjung, maka adalah ilegal yang dilakukan karena masih dalam izin PT tersebut," katanya. 

Wednesday, August 31, 2016

Wisata Halal : Wujudkan Minang Hahal Tourism

Komunitas Sosial Media (SosMed) Kota Padang, Sumatera Barat mendukung program dan konsep wisata 'Minang Halal Tourism' di Sumatera Barat. Komunitas Sosmed tersebut disiapkan untuk membumingkan wisata hahal tersebut. Hal itu disepakati dalam diskusi loloskan Minang ditingkat Nasional, kemudian Nasional yang akan memprosikan Minang Halal Tourism ke Dunia.

Didit P. Suntoso Kapala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Barata mengatakan bahwa reposisi Sumatera Barat pengembangan potensi wisata menjadi sebuah gerakan yang perlu diperkuat promosinya. Sehingga melibatkan puluhan komunitas sosial media yang akan membatu mempromosikan wisata Minang Halal Tourism di dunia maya. Hal itu mengingat potensi anak muda dalam membangun jejaring sosial untuk membantu menggerakan wisata SumateraBarat di Sosial Media.

Kemudian lanjut dia, potensi pasar wisata muslim dunia begitu tinggi brandingnya. Selanjutnya, untuk mencapai minang menjadi wisata Minang Halal Tourism dengan menggaet pasar wisata muslim dunia, maka di sumatera barat sendiri tidak perlu memodivikasi denastivisata. Sebab di Minang, Sumatera Barat sendiri kekayaan alam, laut, air terjun, gunung dan wisata bawah laut telah memberikan warna dan keindahan tersendiri.

Apabila Minang Halal Tourism yang menjadi brand dan di kenal di Dunia maka pangsa pasar wisata muslim dunia bisa datang ke Sumatera Barat. Jika konsep wisata Minang Halal Tourism ini telah disiapkan dan maka masyarat akan mendapatkan manfaat. Minang akan lebih dahsyat lagi pertumbuhan ekonomi sumbar dan akan berdampak pada ekonomi masyarakat. Selanjutnya, pendapatan daerah pun juga akan meningkat, sebab, wisata muslim di dunia terutama negara-negara kaya minyak saat berkunjung suka berbelanja. Sehingga masyarakat minang bisa menjual di berbagai prodak khas minang itu sendiri.

Yopi Nursan, Latifa Consultan (halal tourism dan lifestyle) menurutnya untuk meningkatkan pangsa pasar Minang Halal tourism tersebut di Sumatera Barat sangatlah cocok dan telah sesuai dengan pilihan konsep wisata selama ini. Sebab, sebelum isu halal tourism di perkenalkan di tingkat dunia dan pangsa pasarnya terus mengalami peningkatan sehingga, sepatutunya Minang Sumatera Barat mengambil kesempatan itu. "Maka reposisi Sumbar mengembangkan potensi wisata, menjadi sebuah gerakan yang melibatkan anak muda dan komunitas sosial media untuk membumingkan 'Minang Halal Tourism'," ungkap saat diskusi di HW Hotel, Senin, 27 Juni 2016.

Kemudian, lanjut dia, di Sumbar tidak perlu memodivikasi untuk kesiapan wisata halal tersebut. Sebab, ada beberapa alasan kenapa sumatera barat atau minang telah siap menjadi pariwisata halal. Salah satu bukti minang halal turizem tersebut kesiapan masyarakatnya, hanya beberapa meter saja telah ada masjid, sehingga tempat ibadah dan res area perlu disiapkan. Selanjutnya sekmen pasar di sumatera barat juga tidak lebih kalah jika dibangkan Lombok menjadi wisata hahal, maka, posisi strategi sumbar dalam hal ini adalah wisata hahal.

Sementara itu, wisata hahal tersebut dapat didevinisikan lebih luas dan lebih sederhana serta mudah di pahami. Halal dengan artian yang di perluas seperti halal lagi baik dan boleh di perbuat atau sesuatu yang boleh dilakukan dan boleh dinikmati. Sebab selama ini hal yang paling di tunggu oleh masyarakat sumbar adalah konsep wisata yang pas. Sebab, di minang sendiri telah menganut 'adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah'. Artinya, untuk mengonsep wisata halal tersebut semua kalangan bisa terlibat dan berperan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan depatemen Agama dapat dilibatkan untuk mendiskusikan wisata halal tersebut.

Kemudian, standar halal di sumatera barat pada dasarnya apa-pun yang dimakan makanan biasa. Namun, hal itu tidak bercampur baur dengan yang tidak halal. Maka dengan sendirinya, standar halal tersebut pun dapat dijelaskan. Selanjutnya, untuk mendukung wisata halal di sumbar pada sektor sejarah minang juga dapat di jual dan budaya. Sehingga minang tidak akan kalah penting untuk di perhitungkan mengonsep wisata hahal. Sementara itu, wisata hahal tersebut adalah untuk menservis travelir turis muslim.


Sebenarnya wisata halal tersebut telah lama di mulai dan menjadi isu pangsa pasar dunia melalui wisata halal. Berbicara mengenai wisata turis muslim Asia Tenggara, singapura telah memulai, thailan, cina dengan petumbuhan turis muslim di dunia untuk wisata halal tersebut. Selanjutnya di Eropa, Prancis, Rusia, Timur Tengah adalah turis muslim terbanyak berkunjung ke wisata halal. Kemudian, ada tiga karakter turis muslim tersebut adalah, jika berkunjung ketempat disata dan negara yang dikunjungi memakan waktu selama 3 mingga sampai 3 bulan. Selanjutnya, turus muslim tersebut suka berbelanja dan jika turis muslim tersebut datang dengan jumlah yang banyak atau bergroup