Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, March 3, 2018

Pemerintah Sawahlunto Usulkan 89,7 Hektare Kawasan Cagar Budaya UNESCO

Pemerintah Kota Sawahlunto usulkan 89,7 hektare kawasan cagar budaya UNESCO. Pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO mencangkup peristiwa sejarah yang universal bernilai tinggi. Kemudian 89,7 hektare cagar budaya oleh UNESCO dikenal dengan Deliniasi pemetaan kawasan inti, kawasan penyangga dan kawasan pengembangan. Penyusunan pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO tersebut telah dimulai sejak tahun 2015 lalu. 

"Pada 26 Januari 2018 lalu sudah di finalkan bahawa dokumen pengusulan kawasan cagar budaya tersebut telah diterima oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian pada tanggal 29 Januari 2018 lalu dokumen kawasan cagar budaya sudah final sesuai hasil koreksi oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan," ujar Hendri Thalib Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Penulis Kamis 1 Maret 2018. 

Ia menyebutkan bahwa dokumen tersebut sudah diterima akan dilakukan evaluasi dan pada bulan Maret-April 2018 akan dikabarkan kembali. Usulan kawasan cagar budaya masuk tersebut sudah masuk daftar list sebagai warisan Dunia yang diajukan oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan ke UNESCO. Penyusunan pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO tersebut telah dimulai sejak tahun 2015 lalu

"Selama kurun waktu tiga tahun tersebut dilakukan evaluasi dan perbaikan sesuai dengan permintaan dokumen yang harus dilengkapi. Kemudian didukung dengan kemampuan untuk melengkapi data dan dokumen sesuai dengan kebutuhan. Semua dokumen yang diperlukan telah dikirim kemudian dilakukan evaluasi oleh Pusat. Hasil evaluasi ada dokumen yang dibutuhkan tersebut menjadi acuan yang sudah ditetapkan," katanya. 

Kemudian lanjutkan dia, Jika dokumen tersebut lengkap maka akan dilanjutkan dan apabila dokumen yang kurang maka akan dilengkapi. Selanjutnya jika ada pikiran-pikiran baru dan analisa yang ada pada dokumen tersebut dianggap kurang lengkap maka akan dikembalikan untuk dilengkapi. Selanjutnya pengusulan kawan cagar budaya ke UNESCO seluas 89,7 hektare mencangkup peristiwa sejarah yang universal bernilai tinggi. Kemudian 89,7 hektare cagar budaya ada Deliniasi pemetaan kawasan inti, kawasan penyangga dan kawasan pengembangan.

"Kawasan Desa Salak merupakan kawasan inti karena memiliki makna yang universal dan bernilai tinggi karena produksi batu bara di Sawahlunto. Pada September 2017 lalu diminta kembali untuk melengkapi data dan dokumen yang dibutuhkan. Kemudian pada November 2017 keluar hasil evaluasi untuk melengkapi data dan dokumen yang diperlukan. Untuk melengkapi data rel kereta api dalam gambar foto hingga Teluk Bayur," paparnya. 

Ia mengungkapkan bahwa bambar peta tersebut harus dilengkapi dengan ada tanda atau simbol yang dibutuhkan serta penjabarannya. Seperti tanda kuning menunjukkan perbukitan atau gunung dan tanda hijau adalah daratan pinggir pantai. Tetapi dalam pewarna kurang pas sehingga dikembalikan lagi untuk disempurnakan. Karena peta yang telah dibuat pewarnaanya kurang pas dan tidak bisa di baca untuk memaknai kawasan. Selanjutnya jika ada 10 buah jembatan kereta api tersebut harus terlihat pada gambar dan peta. Jika ada sembilan buah jembatan yang ada maka peta tersebut tidak benar dan harus diperbaiki.

"UNESCO tersebut apa peristiwa sejarah yang universal harus ada dan harus lengkap serta sejelas dokumennya. Kemudian jika peristiwa tersebut bernilai sejarah maka harus dijaga dan dipelihara. Kemudian jika dimungkinkan untuk bisa dikembangkan maka dibolehkan untuk dikembangkan," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa rancangan program yang diusulkan pun sudah disiapkan jika UNESCO menetapkan kota Sawahlunto menjadi cagar budaya. Kemudian setelah ditetapkan siapa yang akan mengelola, sehingga jika telah ditetapkan oleh UNESCO benda bernilai sejarah tetap terpelihara dengan baik. Karena benda tersebut sudah menjadi milik dunia, siapa yang akan melakukan apa dan bagaimana. 

"Maka perencanaan kedepan tetap melakukan koordinasi bangunan dan akan di konservasi sehingga lebih terawat, kemudian bisa menjadi objek wisata, sehingga menjadi nilai tambah. Misalnya lubang tambang Lunto Tuo bahwa ini merupakan bekas penambangan batubara dan akan memperkenalkan ke dunia penambangan batubara serta sejarahnya. Makanya adanya konservasi dan pembenahan dalam aturan cagar budaya merupakan nilai tambah," tambahnya. 

Tuesday, November 8, 2016

Group Wayang Kulit Krida Laras Darmasraya Padangtengah, Pentaskan 'Wayang kulit lakon Prabu Sumilih'

Malam semakin larut. Angin berhembus terasa dingin menyentuh kulit akibat embun telah menguap. Jalanan kota pun mulai sepi dari lalu lalang kendaraan. Namun Lapangan segitiga ombilin masih banyak warga berkumpul dibawah tenda menyaksikan pertunjukan seni tradisi wayang kulit rangkaian Festival Wayang Nusantara ke IV 2016, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Kelompok Wayang Kridalaras Dharmasraya Padangtengah ini lahir sejak tahun 1983 dan masih eksis hingga saat ini. Kelompok ini dibentuk untuk mempertahankan seni tradisi jawa yang ada di Darmasraya, Padangtengah. Anggota kelompok ini terdiri dari masyarakat sekitar dilingkungan Padangtengah.

Ki Jumari Guno Carita menyebutkan bahwasanya persiapan menjelang keberangkatan untuk tampil ke kota Sawahlunto pada iven Festival Wayang Nusantara ke IV 2016 telah dilakukan sejalah beberapa bulan belakangan. Persiapan dilakukan berupa latihan-latihan untuk seni wayang itu sendiri.

"Karena beberapa ada anggota baru atau anggota pemula yang ikut latihan. Kalau seni tradisi wayang latihan dua kali dalam seminggu. Kemudian bagi anggota lama latihan rutinitas bersama sebulan sekali," ungkap Ki Jumari Guno Carito pimpinan Group Wayang Kulit Kridoraras Darmasraya Padangtengah, kepada Penulis, Jumat, 4 November 2016 malam.

Ia mengaku anggota kelompok Wayang Kulit Kridoraras Darmasraya Padangtengah saat ini berjumlah lebih dari 30 orang. Namun untuk datang ke kota Sawahlunto melibatkan sebanyak 22 orang pemain wayang. "Kalau kesini tidak membawa alat-alat musik seperti gamelan, gong dan segala macamnya, karena telah disediakan oleh panitia. Kita hanya memainkan beberapa alat musik yang dimainkan, karena tersedia di ats panggung," akunya.

Ia menyebutka bahwa seni tradisi wayang kulit yang dimaikan 'Lakon Prabu Sumilih' yang telah berhasil membunuh raksasa yang turun dari kayangan di Negara Atina. Negara Astina merupakan negaranya Prabu Abdioso menjadi kepercayaan turun-temurun dalam cerita wayang.

"Di Negara Astina, Prabu Duryudana sedang mengadakan pertemuan dengan seluruh Punggawa kerajaan untuk membicarakan tentang keamanan negara. Petemuan itu  dikejutkan oleh kedatangan Prabu Naga Tawingnya dari negara Puser Bumi," ungkapnya.

Ia melanjutkan sejak kelahiran Duryudana hingga Duryudana tumbuh dewasa dan menjadi penguasa ketika itu. Seharusnya Pundawa yang berkuasa, namun karena Pundawa masih kecil sehingga kekuasaan diambil alih oleh Duryudana. Karena kekuasaan diambil Duryudana maka terjadilah peperangan dan berkelanjutan dengan Pundawa setelah Pundawa tumbuh dewasa.

"Sebenarnya Pundawa bermaksud untuk membantu Prabu Duryudana menumpas sampai disirnakannya para Pandawa. Atas kekalahan Pandawa tersebut, berarti Prabu Duryadana beserta kurawanya akan semakin jaya," katanya.

Kemudian, setelah peperangan itu usai, bala tentara Astina yang dipimpin Prabu Naga Tawingnya dan dibantu Pandita Sakti yang bernama Begawan Dewa Pratoto dari Puser Bumi melanjutkan perjalanan untuk menambah daerah kekuasaan setelah melakukan kesepakatan bersama Duryadana.

"Didalam perjalannya bertemu dengan prabu baladewa Raja Madura, bersama Anoman yang sedang mencari Gatot Kaca yang sudah lama pergi dari Pringgadani. Gatot Kaca pergi tanpa pamit," ungkapnya.

Singkat cerita, perjalan Prabu Baladewa dan Anoman di hadang oleh para Kurawa yang dipimpin Prabu Naga Tawingnya. Prabu Baladewa merasa dihina maka terjadi pertempuran kedua belak pihak. Banyak prajurit Kurawa yang menderita kelelahan, prabu Naga Tawingnya pun tidak mampu menandingi Prabu Baladewa dan Anoman.

"Akhirnya Bagawan Dewa Pratoto Metek Aji Gelap Sayuta dihantam kepada Prabu Baladewa dan Anoman. Seketika Prabu Paladewa dan Anoman terlempar jauh dari tempat pertempuran dan segera kembali ke Amarta," sebutnya.

Kemudian, disisi lain di Negara Purwacarito, Pramesti Guru dan Para Dewa serta kedatangan Raden Gatotokaca yang sengaja di panggil oleh Batara Guru. Saat itu Batara Guru ingin menempati janji ketika Raden Gatotkaca berhasil membinasakan Prabu Kala Pracomo Raja Pagarwaja. Raden Gatotkaca telah merusak kayangan akibat peperangan karena lamarannya di tolak, sebab yang ingin menikahi Dewi Supraba.

"Atas kemenangan Raden Gatotkaca di kayangan, maka Batara Guru berjanji akan dinobatkan sebagai Raja Purwacarita. Penobatan Raden Gatotkaca menjadi Raja Purwacerita dengan bergelar Prabu Sumilih. Penobatan itu dihadiri dan disaksikan oleh Harjuna. Kedatangan Raden Harjuna meminta bantuan kepada Prabu Sumilih untuk melawan Prabu Naga Tawingnya dan begawan Dewa Pratolo," ungkapnya.

Singkat cerita, bantuan itu diterima oleh Raden Gatotkaca untuk bersikutu dengan Raden Harjuna untuk melawan Prabu Naga Tawingnya. Terjadilah peperangan sengit antara Prabu Naga Tawingnya dengan Prabu Sumilih, akhirnya keduanya bubar. "Dalam cerita wayang ada sebuah negara yang disebut negara Negara Astina. Karena sejarah wayang itu sendiri berasal dari India masuk ke pulau Jawa, maka cerita wayang itu telah diubah dan disesuaikan dengan Indonesia. Maka, dimana persisnya Negara Astina itu tidak diketahui secara persis," akunya.

Saturday, October 29, 2016

Sejarah Wayang Kulit Kota Sawahlunto, Paguyuban Jawa Tampilkan Wayang

Sabtu 22 Oktober 2016 malam kerlap-kerlip lampu kendaraan melewati kota tua tambang. Ibu-ibu berjalan kaki mengendong anaknya menuju garase pada acara Paguyuban Adikarsa Raharja. Janur-janur pun telah di pasang di gerbang masuk dalam rangka perayaan penyambutan 1 Muharram 1438 Hijriyah sekaligus ulang tahun Paguyuban Adikarsa Raharja. Paguyuban Adikarsa Raharga merupakan perhimpunan masyarakat Jawa di Kota Sawahlunto. Ratusan penyungjung pun hadir menyaksikan paguyuban tersebut. Mereka tidak hanya dari warga Jawa, namun terdiri dari masyarakat kota Sawahlunto.

Kegiatan yang didahului tarian lenong Jawa untuk penyambutan tamu yang hadir Waka Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Nur Afiah, Beserta Ali Yusuf Walikota dan Wakil Waliko Sawahlunto Ismed menunju tempat duduk yang telah disediakan sembari menyaksikan kegiatan keseniaan Jawa, seperti tari, musik keroncong dan Wayang Kulit.

"Wayang merupakan semacam kesenian kebudayaan yang dikembangkan oleh agama Hindu dan Budha. Jadi, makanya di India ada wayang India, Karena penyebarannya melalui agama hindu dan budha di bawa ke Indonesia. Jadi wayang itu perkembangan diperkirakan pada abad ke dua telah Setelah Islam Masuk," ungkap Purwoko, Ketua Umum Paguyuban Adikarsa Raharja Kota Sawahlunto, kepada Penulis, Sabtu 22 Oktober 2016 usai meberikan kata sambutan.

Ia menyebutkan sejarah perkembangan wayang di kota Sawahlunto sesuai perkembangan kota Sawahlunto. Sebelum Sawahlunto berkembang menjadi kota seperti saat sekarang ini, sebelumnya sepi dan orang tidak ingin tinggal di Sawahlunto. Semenjak Penjajahan Belanda barulah Sawahlunto tersebut mulai dihuni terutama karyawan tambang batubara dan adapula pekerja paksa yang dikenal dengan Orang Rantai. Lama-kelamaan terus berkembang karena banyaknya penduduk sehingga menjadi perkampungan kemudian menjadi kota yang dikenal kota Sawahlunto.

Karyawan batu bara tersebut awalnya didatangkan dari pulau Jawa dan pulau lainnya di Indonesia dalam bentuk tahanan politik, tahan kriminal. Tahanan tersebut 'dibuang' ke Sawahlunto dan dikenal dengan 'orang rantai'. Sebab para tahanan tersebut semua kaki mereka di rantai. Selain tahanan ada pula orang Jawa yang memang harus dipaksakan ke Sawahlunto menjadi buruh.

Semenjak itu, para tahanan tersebut semakin berkembang dan banyak dengan memiliki keturunan, baik anak dari orang rantai itu sendiri maupun orang Jawa yang didatangkan khusus ke Sawahlunto.

Selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda, berfikir bagaimana supaya buruh yang bekerja ke Sawahlunto bisa betah. Sehingga dipakailah sarana budaya dengan artian apa yang enak dan senang bagi karyawan tambang, maka hal itulah yang diberikan pemerintah Kolonial menghidupakan pusat kesenian. Sehingga, disetiap asrama ada Gedung Pertemuan Buruh (GPB), kemudian berobah nama menjadi Gedung Pertemuan Karyawan (GPK).

"Nah, GPK itu lah menjadi pusat menampilkan budaya salah satunya Infobox Lubang Tambang saat ini merupkan bekas GPK. Karyawan tersebut diberikan semacam sarana untuk berkesenian seperti Wayang, Keroncong, Tayub, Kuda Kepang, Reok dan sebagainya. Ada pula sarana-sarana perjudian yang ada di setiap asrama karyawan. Perjuadian tersebut seakan-anak di perbolehkan dengan tujuan bagaimana karyawan tersebut betah tinggal di Sawahlunto," jelasnya.

Purwoko, menyebutkan kesenian tersebut selalu  berkembang sehingga buruh mulai bertahan dan betah tinggal di Sawahlunto. Setelah kemerdekaan RI setelah Kolonial hengkang dari Indonesia bertepatan pada pergerakan G30/S-PKI, maka seluruh pelaku seni atau seniman dilibatkan menjadi anggota PKI. Gerakan PKI tersebut dibubarkan pada tahun 1965, maka, pelaku seni dan seniman tersebut ditahan dan diproses. Selanjutnya ada yang tidak berproses namun telah di cap sebagai PKI. Maka timbulah dari itu timbuhan rasa tidak senang dan rasa sakit hati sehingga dihancurkan segala pelaratan kesenian seperti Gemelan, karena mereka ingin menghilangkan jejak.

"pada tahun 1996-1997 terpanggil mengumpulkan dan menghimpun kembali orang Jawa keturunan serta Jawa Asli tergabung dalam suatu wadah perhimpunan Paguyuban. Ketika itulah mulai menggagas dan membangkitkan kembali seni tradisi," jelasnya singkat.

Selanjutnya, pada tahun 1998 dirinya diangkat dan dipercayakan untuk memimpin Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia Sawahlunto. Maka, mulailah dihidupkan dan dikembangkan kembali kesenian yang ada di Sawahlunto termasuk kesenian Jawa, salah satunya Wayang Kulit.

"Wayang kulit tersebut memiliki banyak tokoh dan bergantung pada cerita yang ingin disampikan ke pada penonton atau penikmat. Karena literatur dalam kesenian wayang tersebut banyak, seperti tokoh Pendawa Lima. Lima orang kakak beradik dan kelimanya laki-laki," katanya.

Wayang Kulit merupakan permainan dan tokoh atau lakon dalam cerita digambarkan dalam bentuk lempengan kulit. Orang yang memaikan wayang kulit atau pencerita disebut Dalang. Dalang tersebut berlaku sebagai sutradara dan sekaligus bercerita. Dalang harus mengerti dan faham karakter siapa yang dimainkan. Kalau misalnya, dalang memegang tokoh begatotkaca, maka dalang mengibaratkan dirinya seperti begatotkaca. kalu dalang memegang Limbung, tokoh perempuan, maka dalam harung mengibaratkan menjadi perempuan. Dalang harus memiliki multi karakter untuk menyampaikan cerita dan harus dikuasainya.

"Sama halnya dengan mendongeng. Maka, di kenal sebagai wayang kulit. Tetapi masing-masing totoh memiliki karakter sesuai dengan cerita atau naskah yang diingin disampaikan," terangnya.

Sementara itu, lanjut dia, jika ditelusuri dari sejarah kesenian wayang kulit dilihat dari alur cerita lebih banyak bercerita (Naskah) atau menyampaikan pesan kerajaan. Kemudian sesuai perkembangan zaman ketika wayang kulit itu dibawa oleh agama hindu maka banyak bercerita tentang hindu dan kerajaannya.

"Setalah Agama Islam masuk kepulau Jawa maka wayang kulit tersebut dimanfaatkan untuk berdakwa. Hal itu dikembangkan oleh Sunan Kalijogo merupakan Walisongo semenjak Islam masuk ke pulau Jawa," akunya.

Selanjutnya untuk memainkan Wayang Kulit tersebut diirigi oleh musik seperti gamelan. Gamelan itu sendiri terdiri dari dua jenis nada, yakni Pelog dan Selendro. Pelog merupakan nada-nada tertentu, tetapi nada dari nada itu tidak ada di nada Selendro. Tidak sama dengan nada musik yang lain mempunyai tangga nada seperti do, re, mi, fa, so, la, si, do. Kalau nada Selendro seperti 1-do, 2-re, 3-fa, 5-la dan 4-so tidak ada dalam Selendro.

"Alat musik yang digunakan dalam wayang kilit barmacam-macam seperti Saron, Kempul, Kendang, Gong, Gender dan seperangkay alat gamelan lainnya," tutupnya.

Sejarah Keberadaan Wayang Kulit di Sawahlunto

Sumiyar, 83, tokoh Pengrawit di Sungai Durian Kota Sawahlunto pada 18 Oktober 2010 lalu, menyebutkan bahwa Wayang Kulit di Sawahlunto pertama kali dipentaskan pada tahun 1901. Pada tahun tersebut eksistensi wayang bersamaan dengan eksisnya penambangan batubara Sawahlunto. Artinya sebelum tahun 1901 tersebut Wayang Kulit telah dikenalkan di kota Sawahlunto untuk menghibur tamu dan pekerja tambang. 

Kemudian, pada perkembangannya pewayangan di Sawahlunto terdapat banyak pelaku seni (Dalang) yang memperkenalkan wayang kepada masyarakat. Dalang Dalang yang pernah eksis dalam pelestarian dan pengembangan wayang kulit di Sawahlunto antara lain pada tahun 1901-1951 adalah Dalang Ki Raden Ardjo Purwoko. 

Kemudian, pada tahun 1951 tersebut untuk mementaskan atau mempertunjukan Wayang Dalang Ki Raden menggunakan perangkat gamelan milik Saniman. Nama gamelan serta Paguyuban tersebut adalah Paguyuban Langen Kridha Utama (LKU) yang pernah eksis di Sawahlunto. Selanjutnya, kegiatan wayang tersebut mentas setiap minggu di Ombilin Sawahlunto. 

Selanjutnya pada tahun 1930-1946, wayang dipentaskan oleh Dalang Ki Jenggot. Kemudian pada tahun 1935-1968 di pentaskan Dalang Ki Sukiman di Kampung Surian. Selanjutnya tahun 1939-1976 dipentaskan Dalang Ki Rono di kampung Surian. Pada tahun 1946-1950 dipentaskan Dalang Ki Suradi di Asrama Durian. Kemudian pada tahun 1966-1994 dipentaskan Dalang Ki Karjo di Sungai Durian. 

Selanjutnya, pada tahun 2005 hingga sekarang dipentaskan oleh Dalang Ki Slamet yang merupakan Paguyuban Bina Laras. Tahun 2008 hingga sekarang dipentaskan oleh Dalang Ki Bandung Sriyanto dari Paguyuban Bina Laras. 

Wayang Kulit kuno ini terdapat di Sungai Durian tempatnya di rumah Sajiman berjumlah 87 buah. Tiga buah Wayang Kulit Sawahlunto dengan tokoh Adipati Karno, Arjuno dan Kresno telah masuk menjadi dokumentasi di Museum Wayang Jakarta. 
Sementara itu, Ali Yusuf Walikota Sawahlunto menyebutkan bangsa yang besar adalah memperhatankan mempertahankan budaya. Sehingga kota Sawahlunto di tahun 2020 akan menjadi kota Tambang wisata dan berbudaya. Paguyuban Adikarsa Raharja berperan dalam hal mendorong pembangunan kota serta eksistensi budaya.

"Kita bangga menjadi orang sawahlunto karena beragam budaya tetap terpelihara dengan baik. Hal ini tetap perlu ditumbuh kembangkan dan menjadi persatuan serta kesatuan kota akan terwujud sesuai dengan apa yang dicita-citakan menjadikan kota Sawahlunto menjadi Kota Tambang Berbudaya," ungkapnya.