Showing posts with label Randai. Show all posts
Showing posts with label Randai. Show all posts

Monday, July 24, 2017

Sawahlunto Diharapkan Punya Gedung Pertunjukan Randai

Perlu Inovasi dan Kreasi Baru Kreator Randai

Sawahlunto Randai Festival 2017 berlangsung sejak Kamis-Sabtu, 20-22 Juli 2017,  berjalan sukses dan disambut antusias penonton. Pertunjukan seni tradisi Randai peserta masih banyak kekurangan yang harus dibenahi oleh para pelaku seni tradisi randai. Terutama dalam pengembangan ide kreatif kreator seni tradisi randai yang dipentaskan perlu dikembangkan kreasinya. Karena ada kecenderungan dan kesamaan dalam memilih cerita atau kaba pada festival berlangsung di terminal Talawi, Sawahlunto. Kemudian masing masing kelompok randai tidak berusaha untuk melakukan kreasi baru dalam mementaskan seni pertunjukan randai. 

"Seni pertunjukan randai saat ini telah memperlihatkan eksistensinya. Sehingga ada 50 kelompok randai yang ada di kota Sawahlunto yang di motivasi dan di fasilitasi serta solidaritas yang tinggi dari pemerintah kota pada kesenian tradisi randai, sehingga dari awal pertunjukan berlangsung selalu dihadiri oleh pimpinan. Malahan pemerintah ikut serta bersama sama dengan anak randai untuk memakai pakaian anak randai dipakai secara lengkap," ujar Zulkifli, Pengamat dan Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, saat memberikan sambutan pada penutupan Sawahlunto Randai Festival 2017, Sabtu, 22 Juli 2017. 

Ia menyebutkan bahwa perkembangan seni tradisi randai dari segi kualitas maupun kuantitas sudah cukup baik. Sehingga kedepan perlu ada galanggang randai atau gedung pertunjukan randai di Talawi. Meskipun ada kabar bahwa galanggang randai tersebut sudah ada, namun harus dimanfaatkan dengan baik. Jadi, kalau gedung pertunjukan tersebut sudah ada, maka untuk selanjutnya dimanfaatkan gelanggang tersebut. Sehingga jika di Solo ada gedung pertunjukan Ketoprak, maka di sumatera barat ada gedung pertunjukan randai adalah di Talawi Sawahlunto. 

"Kasihan kita kepada ibu-ibu yang menonton sembari berdiri dibelakang dan saling berdesakan. Kemudian ada pula ibu hamil yang nonton sementara anaknya yang masih kecil ikut dibimbing untuk menonton seni pertunjukan randai. Antusias untuk menonton pertunjukan patut diapresiasi dan sangat istimewa. Penontom dari usia anak-anak hingga orang dewasa ikut berpartisipasi, menonton pertunjukan seni tradisi randai, dalam menumbuh kembangkan seni tradisi randai di kota Sawahlunto sungguh istimewa," katanya.

Selanjutnya, tambah dia, dengan adanya galanggang pertunjukan seni tradisi tersebut juga akan menambah tingkat kunjungan wisata di Sawahlunto. Maka, siapa saja wisatawan yang datang di Sawahlunto ingin menonton seni tradisi randai, wisatawan atau pengunjung tersebut langsung datang ke Talawi dengan catatan bahwa hari hari dan jadwal latihannya harus terisi. Hal tersebut sangat memungkinkan untuk dapat terisi karena ada sebanyak 50 melompok seni tradisi randai di Sawahlunto yang akan mengisi. 

"Jika tidak ada tempat pertunjukan randai dimana pertunjukan tersebut dapat dinikmati oleh wisatawan. Kemudian industri ekonomi kreatif akan bisa dimanfaatkan atau potensi itu bisa diterima oleh masyarakat untuk industri kreatif dibidang seni pertunjukan randai," ujarnya.  

Menurutnya, selama tiga hari pertunjukan seni tradisi randai berlangsung diikuti oleh peserta tinggat SLTP dan Umum terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan yang dilakukan kelompok randai. Karena ada kecenderungan kesamaan dalam memilih cerita atau kaba seperti Lareh Simawang, Jami Jobang, Gambang Alam. 

"Maka seniman tradisi randai kedepan anak randai atau kreator mendapat tantangan agar bisa menggarap dan melatih anak randai dengan cerita yang baru terutama khas yang ada di daerah Sawahlunto. Sebab, di Sawahlunto ada tiga cerita yang berangkat dari foklor Sawahlunto itu sendiri yakni Jami Jobang,  Sari Alam, dan Bunsu Batuah," katanya. 

Ia mengungkapkan bahwa jika Cerita tersebut para kreator seni tradisi randai belum bisa untuk menggarapnya, karena naskah (cerita) belum dibedah agar dapat melakukan pertemuan dan diskusi untuk membedah (Naskah) cerita tersebut secara besama. Sebab, untuk naskah Jami Jobang, Sari Alam, dan Bunsu Batuah tersebut dipercayakan untuk menulisnya. 

Selanjutnya untuk masa masa mendatang kreatifitas penggarapan naskah carita seni tradisi randai harus ditingkatkan. Karena berdasarkan seni pertunjukan randai yang berlangsung beberapa hari belakangan ini banyak terdapat kemiripan dan kesamaan baik gerak, musik, serta cerita. 

"Kita berharap hal ini tidak terjadi lagi di kemudian hari, sehingga para kreator seni tradisi randai untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan kreatifitas diri. Sehingga jangan takut untuk beraktifitas untuk membuka fikiran atau kreatifitas ini sangat mendesak dan saatnya dilakukan pembinaan dan pencerahan," ungkapnya. 

Artinya sebelum festival randai dilakukan, maka diberikan pembekalan terhadap pelaku seni tradisi randai untuk pemadatan materi seni tradisi randai melalui workshop. Mungkin dengan cara tersebut akan meningkatkan kreatifitas dan kreasi dalam menggarap cerita seni tradisi randai.*

Sunday, July 23, 2017

Group Randai Binuang Sati Latihan Tampa Lampu Penerang


Untuk mempertahankan seni tradisi pertunjukan randai, Group Randai Binuang Sati latihan tanpa lampu penerang. Sebab belum ada listrik dan tidak tersedianya ganset saat latihan. 


Para penonton telah memadati galanggang seni pertunjukan randai pada Jumat, 21 Juli 2017 malam di terminal Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat. Seperti biasa penonton berdesakan berdiri menyaksikan pertunjukan randai sedang berlangsung. Pertunjukan berdurasi selama 60 menit itu memikat penonton untuk berdiam diri berdiri berdesakan. Ribuan penonton pun rela berdesakan antara ibu ibu, anak anak dan bapak bapak dengan kepulan asap rokok yang membumbung kelangit. 

Suara dendang diiringi saluang yang mendayu mengiringi gerak langkah anak randai. Tapuak galembong dan silek serta sambah manyambah yang tidak terlupakan menyapa hadirin yang hadir menonton pertunjukan randai. Pertunjukan seni tradisi randai baru saja berlangsung dengan carano yang dilewakan kepada salah seorang juri. Sambah manyambah dengan pidato adat pun berlangsung digalanggang.

Group Randai Binuang Sati, Desa Lumindai Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto berdiri sejak lima bulan belakangan membawa 'Kaba' (cerita) berjudul "Umbuik Bungo". Diusia yang masih muda group tersebut mampu mementaskan kesenian tradisi randai pada ivent Sawahlunto Randai Festival 2017. 

"Group Randai Binuang Sati di Ketuai Ikhsan, dengan anggota berjumlah 30 orang terdiri dari orang dewasa dan anak sekolah. Sementara Guru Tuo Silek bernama Sietek Lembang, dengan gerakan dasar randai diambil dari gerakan silek tradisi bernama "Silek Langkah Ampek". Silek tersebut asli milik orang Lumindai oleh Suku Piliang dan telah diwariskan ke generasi ke delapan," ujar Asman Bagala Sutan Bandaro, 38, pelatih Randai Binuang Sati, Desa Lumindai Kecamatan Barangin, Sawahlunto, kepada Padang Ekspres, saat ditemui usai pertunjukan berlangsung. 

Ia mengaku Group tersebut melakukan persiapan selama lima bulan belakangan dengan jadwa latihan rutin sekali dalam seminggu yakni pada malam Minggu. Sebab, malam Minggu adalah waktu yang pas bagi anak untuk latihan, karena tidak mengganggu aktivitas belajar. Karena meskipun begadang pada malam hari tidak masalah sebab dalam suasana libur di hari Minggu. Lagian pula anak randai kebanyakan masih duduk dibangku sekolah sehingga tidak mengganggu aktivitas yang lain. 

Ia menyebutkan bahwa kendala yang dihadapi saat latihan tidak memiliki lampu penarangan. Latihan hanya mengandalkan cahaya apa adanya mengandalkan biasa cahaya lampu rumah masyarakat. Namun, lebih sering latihan dalam konsi gelap tanpa cahaya lampu karena belum masuk listrik. 

"Syukur kalau cuaca cerah dan terang bulan bisa latihan dengan baik. Sehingga dengan kondisi tersebut diharapkan ada kepedulian pemerintah untuk membatu membelikan ginset. Agar anak randai latihan ada penerangan yang memadai untuk berlatih randai mempertahankan tradisi," katanya. 

Meskipun saat latihan seni tradisi randai tidak ada lampu penerang karena belum ada listrik namun anak tetap semangat untuk latihan. Sebab, anak randai yang mengikuti kegiatan tersebut terdiri dari anak remaja yang masih usia sekolah sehingga mudah menangkap apa yang diajarkan guru dan pelatih. Maka anak tersebut berani tampil di gelanggang dan disaksikan oleh orang banyak. 

"Selain lampu penerangan untuk latihan kita juga belum memiliki tempat sarana latihan yang permanen. Sebab, gelanggang latihan atau sasaran latihan silek dan randai masih menompang di tanah warga. Pemilik tanah bersedia meminjam pakai tanah tersebut untuk latihan randai, namun harus menjaga kebersihan lingkungannya," paparnya. 

Ia mengungkapkan bahwa Group Randai Binuang Sati membawakan kaba "Umbuik Mudo" cerita dari Tanah Datar. Kemudian berkat dukungan dan sokongan pemerintah terutama pemerintah desa memberikan bantuan Rp15 juta kepada group. Bantuan tersebut dipergunakan untuk perlengkapan seperti pakaian, galembong, mikrofon sehingga group bisa tampil pada Sawahlunto Randai Festival 2017.  

"Group Randai Binuang Sati, membawakan cerita Umbuik Mudo yang dipentaskan dengan mendedangkan lagu sebanyak enam lagu yakni, Dendang Dayang Daeni, Dendang Simarantang Randah, Ratok Pariaman, Banda Sapuluah, Indang Payakumbuh, dan Simarantang Tinggi yang merupakan dendang wajib dalam pertunjukan seni tradisi randai," tuturnya. 

Kaba Umbuik Mudo, merupakan hubungan percintaan seorang anak muda mudi akibat dihina. Suatu ketika si Umbuik Mudo sedang berlajar Silek di gelanggang, namun si Umbuik Mudo mendapat cacian, makian dan hinaan dari perempuan bernama si Galang Banyak. Maka, si Umbuik Mudo meminta dicarikan bansi pitunang untuk menerjai (mengguna-gunai) si Galang Banyak. 

Singkat cerita Galang Banyak jatuh sakit. Sakit yang tidak dapat di cegah karena tidak ada obat. Sebab, obat 'pitunang' (guna-guna) yang diminta adalah Umbuik (umbut) sama tinggi dengan Galang Banyak. Hanya dengan umbut setingga Galang Banyak lah yang dapat menyembuhkan penyakit akibat pitunang tersebut. 

"Kaba ini banyak mengandung pesan moral,  sosial dalam kehidupan sehari-hari. Jangan menganggap remeh sesorang dan jangan merendahkan orang lain dengan cara menghina dan mencaci maki. Sebab, boleh jadi orang tersebut lebih baik dibandingkan kita. Agama kita juga melarang hal yang demikian," sambungnya.*

Saturday, July 22, 2017

Pemahaman Nilai Moral dan Adat Istiadat Terhadap Anak Bangsa


"Pertunjukan randai merupakan bentuk pelestarian budaya dan penanaman nilai moral serta adat istiadat kepada generasi muda, dan anak bangsa yang bersifat kedaerahan. Pertunjukan randai bertujuan untuk menjaga budaya yang terbungkus dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia"


Irama musik perkusi talempong pacik, meramaikan suasana, Kamis, 20 Juli 2017 malam. Orang-orang berduyun-duyun mengiringi arak-arakan pawai peserta Sawahlunto Randai Festival 2017 menuju gelanggang di terminal Talawi. Ribuan penonton tampak antusias melihat fetival randai mengelilingi gelanggang. Selang seling penonton berdesakan berdiri menyaksikan pertunjukan randai. 

Semua mata tertuju pada gelanggang sasaran randai. Ada yang menoleh kiri dan kanan sembari kaki di injit karena pandangan tertutup oleh penonton yang berdiri didepan. Sementara anak-anak berlarian kecil di sela-sela penonton mencari posisi yang pas untuk menyaksikan pertunjukan yang berlangsung. Ada pula ibu baya mengendong anaknya untuk menonton pertunjukan di tengah desakan penonto. Tiga orang hakim juri festival randai telah mengambil tempat duduk untuk menyaksikan pertunjukan. 

Ivent tersebut diikuti sebanyal 23 group randai di kota Sawahlunto yakni 11 group tingkat SLTP dan 12 group tingkat umum. Ada empat group yang tampil pada malam tersebut. Peserta ke empat menampilkan pertunjukan randai 'Kaba' (cerita) berjudul "Umbuik Mudo"  dibawakan oleh Group Randai Minang Saiyo. Group tersebut dilatih oleh guru Tuo Mak Irin, Pandeka Sutan. 

"Group Randai Minang Saiyo, berdiri sejak empat tahun silam. Group yang terdiri dari 25 orang anggota ini menampilkan cerita atau kaba "Umbuik Mudo". Kaba ini berasal dari daerah Batu Sankar Tanah Datar menceritakan duo tokoh yakni "Umbuik Mudo" jo "Galang Banyak", ujar Abbas, 64, pelatiha harian Group Randai Minag Saiyo, Desa Sijantang Koto, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat. 

Ia menyebutkan bahwa pada pertunjukan randai berlangsung mendendangkan enam lagu untuk menyampaikan kaba (cerita). Kaba "Umbuik Mudo" merupakan seorang tokoh atau lakon yang ada dalam Kaba (cerita) klasik Minangkabau. Umbuik Mudo adalah seorang pendeka yang gagah berani dan hidup sederha. 

Umbuik Mudo memiliki ilmu batin yang tinggi sehingga dengan izin Tuhannya bisa menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Umbuik Mudo memiliki sejata "Bansi" (alat tiup tradisi Minangkabau) yang dibaluti ula Nago (ular Naga).  

Sementara tokoh "Galang Banyak" adalah seorang putri yang memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Terlihat dari tampilannya yang memakai gelang banyak baik tangan maupun kaki, maka dikenal sebagai "Galang Banyak". Galang Banyak adalah sosok yang angkuh dan sombong, serta bertutur kata kasar. 

"Singkat cerita terjadilah perselisihan antara Umbuik Mudo dengan Galang Banyak pun terjadi. Umbuik Mudo dicaci-maki dan dihina oleh Galang Banyak. Galang Banyak menyebutkan bahwa emas yang dimiliki adalah emas pemberian orang lain. Emas yang engkau punya tidak sebanding dengan gelang kakiku, kata Gelang Banyak. 

Karena tidak terima dicaci dan dihina maka, Umbuik Mudo "mangarajoan" (menguna-guna) Galang Banyak dengan Bansi Pitungan. Alunan bunyi bansi pitungan tersebut perasaan Galang Banyak tidak marasa senang. Rasa gelisah, takut dan camas serta penyesalan pun datang. Kepala pusing serta badan panas dingin karena selalu terbayang-bayang Umbuik Mudo siang dan malam," ujarnya. 

Ia menyebutkan bahwa si Galang Banyak jatuh sakit. Sakit yang tidak dapat di cegah karena tidak ada obat. Sebab, obat 'pitunang' (guna-guna) yang diminta adalah Umbuik (umbut) sama tinggi dengan Galang Banyak. Hanya dengan umbut setingga Galang Banyak lah yang dapat menyembuhkan penyakit akibat pitunang tersebut. Maka, ayah dan mamak Galang Banyak keluar masuk kampung mencari umbut setinggi Galang Banyak dan tidak pernah bertemu sama sekali.  

Maka, mamak Galang Banyak menemui jalan buntu dan akhirnya datang menemui Umbuik Mudo dengan maksud untuk melamar. Karena setelah diketahui hanya Umbuik Mudo lah dimasuksud sebagai obat dari segala obat. 

Selanjutnya, langkah yang diambil Umbuk Mudo adalah "adaik di dunia baleh mambaleh", (adat di dunia balas membalas) sehingga lamaran Galang Banyak pun di tolak. Hingga sakit Galang Banyak pun tidak bisa disembuhkan dan keadaan semakin kritis sampai akhirnya meninggal. 

"Mendengar kabar duka tersebut, Umbuik Mudo terkejut dan tengah malam di gali lah kuburan Galang Banyak dan dilecut dengan 'lidi gilo'. Atas izin tuhannya Galang Banyak dapat hidup kembali dan pinangan pun diterima Umbuik Mudo," paparnya. 

Hendri Thalib, Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Sawahlunto menyebutkan bahwa ada 23 group randai yang mengikuti Sawahlunto Randai Festival 2017 terdiri dari 11 group tingkat SLTP, dan 12 group tingkat umum. Ada Rp 40 juta total hadiah yang diperebutkan pada iven tersebut. 

"Kegitan ini merupakan bentuk pelestarian dan penanaman nilai moral dan adat istiadat kepada generasi muda serta anak bangsa yang bersifat kedaerahan. Pertunjukan randai bertujuan untuk menjaga budaya yang terbungkus dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," katanya. 

Ia menyebutkan bahwa seni randai tidak hanya di nikmati dan dimainkan oleh masyarakat Minang saja tetapi juga dimainkan oleh masyarakat etnis Jawa, Batak, cina yang membaur bersama untuk melestarikan budaya. Karena Sawahlunto merupakan kota multi etnis yang selalu berdampingan dan saling membaur demi ke utuhan NKRI. 

"Sawahlunto Randai Festival 2017 merupakan kegiatan ke II tingkat kota Sawahlunto menjadi program strategis pemerintah kota tahun 2013-2018. Kemudian, kegiatan ini akan diikuti dengan Festival Randai tingkat Sumbar. Maka, group randai terbaik pada ivent tersebut akan mewakili kota untuk ivent festival randai tingkat provinsi," ujarnya.*

Monday, December 19, 2016

Randai Diminati Generasi Muda, Randai Ajarkan Etika dan Estetika




Top Five Festival Randai se Sumatera Barat 2016
Malam nan cerah. Bulan pun tampak di langit kota Sawahlunto. Perlahan menghilang di tutup awan. Orang-orang berduyun-duyun berjalan kaki menuju galanggang. Ibu-ibu baya memakai sendal jepit membimbing anaknya menuju gelanggang. Orang-orang menyiapkan diri menyaksikan pertunjukan randai, di terminal Talawi, Sabtu, 17 Desember 2016 malam.

Orang-orang berkerumun berdiri menyaksikan pertunjukan randai Top Five Festival Randai seSumatera Barat, Kota Sawahlunto. Maka, ditengah kerumunan orang-orang (penonton) randai pun berlangsung (tampil), sehingga penonton dan hadirin yang berhadir 'tapuhunkan sambah manyambah sarato dunsanak, sarato hadirin nan basamo dari pemain Randai.

Ada lima group randai yang tampil pada iven tersebut. Lima group randai tersebut merupakan pemenang festival randai tingkat Provinsi yang dilaksanakan beberapa bulan lalu sehingga melekat dengan tema Top Five Randai Festival se Sumatera Barat, Kota Sawahlunto.

Beragam corak dan warna yang hadir dalam seni tradisi randai tersebut. Pemain membawa cerita kaba minangkabau sarat dengan pesan pesan moral nan menyentuh. Kemudian, pelajaran etika dan estetika serta adat istiadat, bertutur kata santun dan sopan pun diperlihatkan olah pemain randai. Sungguh ini merupakan seni tradisi yang harus dipertahankan.

Maka, Kekayaan makna yang terkandung dalam seni tradisi randai tersebut agar lebih di tertata dengan baik agar tidak keluar dari nilai tradisi randai itu sendiri di minangkabau. Sehingga ada beberapa hal yang harus di persiapkan oleh pelaku seni tradisi randai.

Zulkifli, Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Pandangpanjang mengatakan bahwa dalam Seni tradisi randai ada dialog dan ekting menjadi unsur yang tidak boleh ditinggalkan. Menurutnya, Ada empat unsur dalam seni tradisi yang tidak boleh ditinggalkan. Pertama dialog, Kedua ekting, ada yang menyebutnya 'ma adu kato dan malapehkan kato'. Ketiga, 'gurindam' atau cerita yang dinyanyikan, Keempat tapuak gelombang.

Keempat hal pokok tersebut tidak boleh ditinggalkan atau di-tiada-kan dalam bermain randai dan sangat mungkin untuk dikembangkan. Sehingga pengembangan tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk dinikmati. Kemudian, guru randai akan mempunyai tantangan tersendiri untuk berkreasi dan berinovasi dalam mengonsep gerakan randai.

Selanjutnya, terang dia, cerita (kaba/naskah) randai pada prinsipnya diceritakan dalam dua bentuk, yakni dalam bentuk dialog dan dalam bentuk nyanyian atau dendang (cerita yang dinyanyikan). Maka, nyanyian yang bercerita itulah yang disebut gurindam dalam randai. Oleh sebab itu, kemampuan untuk berdialog dan kemampuan untuk berdendang dan menyampaikan cerita sangat berpengaruh untuk kemulusan apa yang disampaikan oleh si pencerita (pedendang).

Lebih jauh dikatakannya, dalam peristiwa randai akhir-akhir ini dendang (nyanyian yang bercerita) kadang kala agak dikesampingkan atau agak dipinggirkan penompangannya. Malahan banyak yang melakukan dendang itu di luar (lingkaran randai), sehingga tidak kelihatan bagi penonton waktu menyampaikan cerita itu oleh pedendang. Tetapi ada pula yang berdendang menyampikan cerita di dalam (lingkaran randai). Jadi sebetulnya tidak ada larangang apakah pedendang didalam lingkaran atau diluar (lingkaran) meskipun ada yang melalukannya didalam. Namun, tidak ada pula aturan atau perintah yang mengharuskan pedendang untuk didalam lingkaran.

Zulkifli berasumsi kalau seandainya, pedendang atau bercerita dalam bentuk nyanyian itu tidak berada didalam lingkaran, berarti tidak terlihat orangnya (pedendang). Kalau tidak terlihat orangnya (pedengang) pasti ekspresinya akan lemah dibandingkan pedendang yang berada didalam (lingkaran randai) atau ditengah sambil bernyanyi (badendang). "Gurindam atau badendang itu bukan untuk mengiringi gelombang tetapi adalah penyempai cerita dan disertai oleh gerakan," Katanya.

Menurutnya, di Minangkabau ini ada dua jenis Randai. Ada yang disebut Tari Randai. Ada yang di sebut Randai saja. Maka yang disebut dengan tari randai adalah formasi yang melingkar sambil bertepuk tangan tanpa dialog. Tari Randai ini sendiri kurang mendapatkan perhatian oleh pelaku seni tradisi dan pemerintah sehingga pengembangannya pun melambat.

Sebab, selama ini pelaku seni lebih terfokus pada Randai saja. Tari Randai ini sendiri di Minangkabau kurang mendapat pembinaan, akhir-akhir ini karena lebih terfokus pada randai. Keberadaan Tari Randai ini di Saniangbaka dikenal dengan Randai Ilau. Kemudian, Pariaman dikenal dengan Randai Ulu Ambek.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa sewaktu-waktu Kota Sawahlunto melombakan bukan Randai tetapi Tari Randai tanpa cerita, melainkan gerakan-gerakan melingkar disertai oleh nyanyian dan tepuk tangan. Dengan bermacam-macang nyanyian, bermacam-macam gerakan serta bermacam-macam gaya tepuk galembong. Sehingga keberadaan tari randai mendapat tempat dan terpelihara serta akan dikenal banyak orang. Tari Randai tersebut, bisa pula dilakukan oleh kelompok wanita disesuaikan dengan gerakan mereka.

Kemudian, dialog dalam randai mempunyai gaya tersendiri. karena randai ini lahir dilingkungan orang tradisi dan lingkungan orang pesilat, maka gaya dialognya mendekatkan pada gaya berseni tutur kata di minangkabau seperti gaya pasambahan atau dialog lainnya.

Ekting terpengaruh dengan gaya penampilan silek hal ini boleh dilakukan pengembangan, tetapi pada prinsipnya pengembangan itu, atau diistilahkan 'bapisah di lapiak nan salai, bapisah tagak ditanah nan sabingkah'. Masih banyak peluang-peluang cerita randai yang bisa dikembangkan, tapuak galembong yang bisa dikembangkan, gerak randai, dendang dan lain sebagainya.

Menurutnya, Zulkifli yang perlu diperhatikan dalam randai adalah menjaga permainan agar tidak 'menoton' dengan menjaga dinamika dalam bermain. Kemudian, teks naskah dari pertunjukan randai harus ada pengelompokan atau sub bagian, seperti awal randai seperti pasambahan. Selanjutnya, ada permainan dan duduknya anak randai, etika dan estetikanyaa harus jelas.

Kemudian dari segi sastra atau dilalog dalam randai harus diperhitungkan mana sastra yang cocok dan sesuai dengan proporsi tertentu sesuai peranan masing-masing tokoh. Sehingga peranan anak, ayah, ibu, serta kondisi (peristiwa) bagaimana dalam memainkan peran harus jelas terkonsep dan terukur.

Maka banyak ditemukan bahwa sastra dalam randai yang dimainkan bermunculan kata-kata "mano lah". Terkadang pada ayah memakai kata "mano lah ayah kato denai", maka kata "mano lah" dalam kehidupan sehari-hari ke pada orang tua adalah tidak tepat. Agak kasar dan kurang beretika. Maka, penggalian sastra dalam teks naskah atau dialog dalam randai harus diperhitungkan dengan baik.

Gurindam dan dendang disampaikan di tengah dan kebiasaannya tari randai tradisi yang merupakan kekayaan "dendang" (nyanyi) yang disampaikan dengan cara sambung menyambung atau bersahutan. Sehingga dendang tersebut berfariasi. Berbeda dengan dendang saluang yang dilakukan sendiri.

Tetapi dalam Gurindam randai biasanya disampaikan dua atau tiga orang dan bahkan lebih, termasuk musik pendukung. Meskipun musik pendukung iti ada, namun sudah disederhanakan. Seperti Talempong, Gandang Katindik, ada Pupuik Gadang. Padahal ini merupakan satu paket yang paling memberikan kekuatan pada masing-masingnya.

Maka, hal-hal tersebut harus diperhatikan dalam bermain randai. maka, dalam hal ini ada yang latihan dan ada yang kurang latihan. Sehingga ada kelompok yang kualitas bermainnya menurun dibandingkan tahun enam bulan belakangan. maka, penilaian dilakukan adalah terhadap randai tradisional.

Berdasarkan catatan Dewan Juri tersebut maka, diputuskan bahwa Kabupaten Limapuluh Kota pemenang favorit, juara I, Kota Sawahlunto, Juara II, Kota Padang dan Juara III, Kota Padangpanjang. Festival Randai diamati oleh Rizal Tanjung pelaku seni budayawan, Zulkifli dan Ajishar merupakan Akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang.

Ali Yusuf, walikota sawahlunto menyebutkan bahwa saat ini kesenian tradisi randai telah di gemari oleh anak muda sehingga saat ini tercatat group randai di Kota Sawahlunto ada 14 group seni tradisi randai.

Maka dari itu, pada bulan Maret 2017 mendatang akan digelar Festival Randai tingkat SLTP. Sebab, melihat semangat generasi muda yang mulai mencintai budaya dan mempertahankan seni budaya terutama di kota sawahlunto. "Festival Randai akan terus berkelanjutan dilaksanakan di Talawi. Kemudian, Berburu di Kecamatan Lembah Segar, Burung berkicau di Silungkang," katanya saat memberikan sambutan.

Ia menyebutkan Top Five Festival Randai se Sumatera Barat merupakan tingkat lanjutan dari festival randai sebelumnya. Maka, dengan demikian, dengan terpilihnya sebagai peserta lima besar dan masuk ke tingkat lanjut dan mengikuti iven malam ini. Maka, peserta tersebut harus berkomitmen untuk selalu siap tampil ditengah masyarakat. Sebab, karena ada peserta yang tidak hadir tanpa memberikan kabar sebelumnya. "Kita berharap sehingga objektifitas dewan juri di dibutuhkan untuk mempertimbangkan kemampuan peserta menjadi pemenang," ungkapnya.