Saturday, September 16, 2017

Samsimar Buruh Dusun Siambalau Upah Rp50 Ribu Sehari Untuk Memenuhi Kebutuhan Keluarga

"Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, perempuan di usia senja masih bekerja banting tulang dibawah terik matahari menjemurkan punggungnya demi mencukupi kebutuhan harian mendapatkan upak harian. Samsimar buruh tani, mendapat upah Rp50 ribu sehari,"


Rabu, 13 September 2017 siang langit kota Sawahlunto tampak cerah. Hamparan sawah petani Dusun Siambalau Dasa Talawi Hilir Kecamatan Talawi tampak hijau. Jalan beton yang buntu membedah memdah bidang sawah petani. Jalan beton tersebut terputus karena ada petani yang tidak bersedian memberikan tanahnya untuk membangun jalan. Jalan tersebut merupakan akses transportasi mengangkut padi hasil panen petani. 

Siang itu pula Penulis menghampiri dua orang buruh tani yang berteduh sejenak di bawah pondok tengah sawah. Mereka baru saja selesai menyiangi sawah Munir dan membersihkan kakinya serta tangan pada genangan air di pinggir pematang sawah. Mereka berkemas-kemas untuk pulang kerumah. Suara mengaji di mesjid pun telah terdengan dari kejauah. 

Samsimar, 65, yang telah berusia senja itu masih bekerja ke sawah orang untuk mendapatkan upah. Ia bekerja masuk sawah untuk menyiangi padi pukul 07.00 pagi dan keluar waktu zuhur. Ia mendapatkan upah Rp50 ribu perhari, meskipun upah tersebut terbilang rendah. Namun, karena tidak ada pilihan lain untuk menambah penghasilan keluarga. 

"Jika dibandingkan dengan tahun-tahuh lalu, enak sekarang. Tahun-tahun lalu, masuk dari padi pukul 08.00 keluar dari sawah pukul 17.00 menuju pulang kerumah. Seperti hari ini, saya hanya menyiangi rumput sawah milik Munir untuk mendapatkan upah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pukul 12.00 udah keluar dari sawah," ujarnya sembari duduk lesehan di pondok tampa dinding itu. 

Ia menyebutkan bahwa tahun ini dirinya tidak memanam sawah, sebab sawah yang dulu diagarap tidak lagi bisa di garap. Sebab, sawah tersebut merupakan sawah milik keluarnya sehingga untuk menggarap sawah tersebut secara bergantian. "Talun lalu memang saya yang menggarap sawah tersebut. Namun saat ini digarap oleh saudara yang lain secara bergantian," ujar ibu lima orang anak ini. 

Ia menyebutkan bahwa sawah tidak memanfaatkan pompa air melainkam kincir air untuk mengaliri air di sawah. Sebab, pompa air tersebut akan memakan biaya tinggi saat operasionalnya. Sementara kincir air hanya mengandalkan air arus air untuk memompa air untuk di alirkan ke sawah. 

"Kincir air tersebut milik pribadi. Kemudian untuk iyuran air tersebut dibayar usai panen dan dibayar dengan padi atau disebut padi aia. Kalai udah panen kita panggil orang yang kincir untuk menjemput padi aia. Bisanya besaran padi aia itu diberikan berdasarkan jumlah hasil panen padi. Jika hasil panen 10 karung maka satu karung untuk padi aia," ujar perempuan yang jemari tangannya masih basah nan keriput itu. 

Ia mengaku padi yang disiangi di serang penyakit mati muda atau patah kuduak. Padi yang telah berumur 40 hari tersebut juga diserang hama seperti 'kapindiang' pada umbi padi. Belum ada bantuan dari pemerintah untuk menangani hama tersebut. "Disamping menyiangi rumput, saya juga pilih padi yang mati untuk dibersihkan," ujarnya. 

Kemudian lanjut dia, biaya yang dibutubkan sejak awal membajak sawah hingga panen sangat besar. Untuk upah bajak sawah saja dengan luas sawah satu gantang benih seharga Rp35 ribu dan uapahnya pun dibayar setelah selesai membajak sawah. Setelah sawah dibajak barulah 'dilindi' atau sikek padi menggunakan kerbau guna untuk mendatarkan sawah dan juga mengeluarkan biaya. Kalau sawah tidak datar sebelum di taman maka akan padi akan di serang hama 'keong' atau siput. 

"Kalau umur padi masih dibawah 20 hari sesudah tanam akan diserang hama keong. Sehingga padi yang telah ditanam dimakan keong, sehingga perlu disisip ulang untuk menggantikan padi yang telah mati tersebut. Hama keong ini sulit dimusnahkan sehingga harus di pilih. Kalau padi telah besar seperti saat ini tidak bakalan habis di makan keong, seban batang padi sudah mengeras," tambahnya. 

Selanjutnya, kata dia, menyiang sawah juga membutuhkan biaya untuk mengupah orang. Belum lagi mempelian pupuk yang susah meskipun telah menandatangani surat. Sehingga banyak petani yang membeli pupuk di Padanggantiang Kabupaten Tanahdatar. 

"Ukuran sawah seluas satu gantang benih, akan menghabiskan pupuk satu karung untuk tiga kali penyemaian pupuk padi. Saya tidak masuk anggota kelompok tani, sehingga membeli pupuk di Padanggantiang Kabupaten Tanahdatar. Bisaya hasil panen padi dengan enam gantang nenih, mendapat hasil padi sebesar 25 karung," sebutnya. 

Asnida,53, pun membenarkan apanyang disampikan Samsimar bahwa petani banyak membeli pupuk di luar kota Sawahlunto. Sementara untuk upah angkut padi usai panen menggunakan ojek. Untuk satu karung padi dibayar upah ojek sebesar Rp7 ribu untuk sampai ke rumah. 

"Kalau padi saat ini dinamakan padi benih 77 usia lebih pendek dibandingkan jenis padi yang lain. Usia padi ini hanya 95 hari siap di di panen, sementara padi padang rumpun umurnya jauj lebih panjang. Sehingga tidak ada petani yang menam benih padi Gadang Rumpun tersebut," katanya sebari berkemas-kemas pulang.*

No comments:

Post a Comment