Monday, September 5, 2016

Adril Janggara, akrab disapa Mbah Bud Weiser (BW), ajarkan Musik Keroncong pada generasi muda (1)



Mbah BW pencinta seni dan budaya bertekat untuk tetap mempertahankan musik keroncong agar tidak mati di telan zaman. Meskipun musik keroncong kurang di minati generasi muda, namun tetap mengajarkan pada generasi muda. Bagaimana kisahnya?
 
Sawahlunto : Julnadi Inderapura

Adril Janggara abrab disapa Mbah Bud Weiser
Malam mulai sepi. Lampu jalan tampak redup dari kejauhan. Sayup-sayup mata memandang di ujung jalan Kota Sawahlunto. Sementara lampu-lampu teras rumah penduduk tampak kerlap-kerlip dibalik dedauanan ditiup angin sepoi-sepoi. Sebab, kota nan hijau oleh pepohonan itu yang menutup cahaya lampu. Malam nan dingin itu, hanya sesekali kendaraan melintasi jalan.

Ada banyak nama yang diberikan oleh masyarakat untuk kota bersejarah ini. Kota Sawahlunto ini disebut juga kota Tambang peninggalan Belanda. Kota ini pun dinamakan pula Kota Arang, karena banyak mem- produksi batu bara dari tahun 1809 hingga saat ini. Selanjutnya, kota ini pun disebut kota Kuali karena berbentuk kuali yang di kelilingi bukit, terutama dikelilingi puncak Polan dan Puncak Cemara yang menjadi objek wisata banyak diperbincangkan karena keindahan pemandangan serta dapat melihat seluruh kota Sawahlunto yang mungil dan unik serta multi etnis itu.

Kota Wisata Tambang Berbudaya tersebut terdiri dari empat Kecamatan, 27 Desa dan 10 kelurahan dengan luas 275 Km2 persegi dengan ketinggian 362 dari permukaan air laut. Di kota ini pula, ada seorang tokoh pengembang musik keroncong yang masih eksis hingga saat ini. Adril Janggara, akrab disapa Mbah Bud Weiser (BW) kelahiran tahun 1961, istrinya bernama Yusnita dan dikaruniai dua orang anak.

Mbah BW pencinta seni dan budaya bertekat untuk tetap mempertahankan musik keroncong agar tidak mati di telan zaman. Musik keroncong yang memadukan berbagai jenis alat musik seperti alat musik Selo, Kontra Bass, Flute, biola, gitar, ukulele dan cak. Untuk mendapatkan alat musik tersebut baginya tidaklah mudah dan harus dibuat sendiri seperti ukulele, kontrabass dan celo. Meskipun alat musik kontrabas dan celo tersebut merupakan peninggalan masa penjajahan Belanda, seperti kontrabas dan celo. Namun, alat musik kortabas dan celo yang tersisa hanya tangkainya saja karena tak terawat dan dimakan usia karena umurnya telah puluhan tahun. Kemudian dari tangkai tersebut baru dibuatkan body kontrabas agar bisa dimainkan.

Pembuatan alat musik kontra bass itu hanya meniru yang telah ada, sebab contoh kontra bass dari luar telah ada berdasarkan gambar, tatapi bukan dengan diameter yang pas, karena ukurannya memperkirakan saja. Makanya, kontra bass yang di pakai pun tidak sama besar dengan ukuran alat musik kontrabass yang aslinya. Alat musik kontra bass itu sendiri, berbeda-beda jenis dan ukuran bergantung pada steman alat musik untuk memainkannya.

Meskipun demikian, untuk pembuatan body kontrabas dan cello tersebut tetap memakai rumus, seperti ukuran lebar, ketebalan body, sebab ruang resonansinya harus di pertimbangkan untuk menentukan kualias bunyi. Sementara itu, steman alat musik cello saat memainkan musik keroncong dengan senar I- D, senar II-G senar III-D. Kemudian kontra bassnya juga demikian, D-G-D.

Ia menceritakan alat musik Kontra bass yang dimainkan dimasa penjajahan Belanda ada benang khususnya, yakni tali (senar) aslinya terbuat dari kulit sapi. Cara pembuatannya kulit tersebut direndam atau direbus terlebih dahulu kemudian di jalin. Namun, saat ini senar alat musik kontra bass yang dimainkan terbuat dari benang. Sebab, senar alat musik kontra Bass yang asli peninggalan zaman Belanda dulu terbuat dari kulit tersebut telah habis dimakan tikus, karena alat tersebut tidak terawat dengan baik. Makanya ia bertekat untuk melestarikan alat musik keconcong tersebut agar musik keroncong tetap tumbuh dan berkembang di kota tua itu.

Ia mengaku belajar musik keroncong secara otodidak dengan melihat secara langsung orang memainkan musik keroncong lalu mencoba. kemudian mendengar musik lalu mempraktekkannya dengan menyamakan bunyi tersebut. Karena rasa ingin tahu yang tinggi akhirnya sehingga ia banyak bertanya pada orang yang memainkan musik keroncong lalu mencobanya.

Meskipun belajar musik keroncong secara otodidak, namum banyak komunitas keroncong yang telah dibuat agar di kota Tua musik keroncong tetap ada dan tidak mati. Ada beberapa kolompok telah dirintisnya, seperti keroncong Pak Mo dari Tansi, 2015, keroncong Tanjung Sari 2013, Keroncong Oka Lapangan Segi Tiga (Lapseg) 2012, kemudian Keroncong Sapu Jagat, 2015. Ia mengaku setelah keroncong didirikan, lalu ditinggalkan dengan tujuan agar keroncong tersebut lebih mandiri dan berkembang, sehingga musik keroncong ini tetap tumbuh dan berkembang.

Setelah itu, Mbah BW mendirikan kembali group Keroncong Buana Lestari 24 November 2014 dan telah berbadan hukum. Sejak berdiri group tersebut banyak diminati generasi muda. Sementara, ketika musik keroncong tersebut telah berdiri lalu ditinggalkan, namun keroncong tersebut mati. Sangat disayangkan bahwa musik kerongcong yang telah dibangun tersebut harus di monitoring terus. Jika tidak demikian, maka koroncong tersebut akan mati sama halnya dengan sebelumnya. Terpenting mereka mau bermain saja dan mempertahankan musik keroncong itu lebih baik.

Kalau group Buana Lestari yang dipimpinya itu tidak memakai alat musik gendang, karena mempertahankan keaslian musik keroncong itu sendiri. Berangkat dari asal-muasal musik keroncong itu berasal dari Fortugis yang dibawa ke Indonesia dimasa penjajahan dan semula musik keroncong berkembang di Ambon. Kemudian musik keroncong tersebut berkembang di pulau Jawa, lalu menyebar di seluruh Indonesia termasuk Kota Tambang ini.

"Makanya musik keroncong ini tetap dihidupkan kembali dan dipertahankan dengan cara mengajarkan musik keroncong ke generasi muda untuk bermain musik keroncong. Ada beberapa generasi muda yang telah bisa bermain musik keroncong, terutama anak Komunitas Kuali, namun belum begitu menjiwai musik keroncong tersebut. Sebab, anak muda saat ini terpengaruh sengan band, sehingga belum menjiwai musik keroncong tersebut," ungkapnya saat ditemui di kedai kopi miliknya Jumat, 5 Agustus 2016 di depan kantor Dinas Pariwisata.

Ia menyebutkan bahwa musik keroncong itu sendiri telah ada di Kota Sawahlunto sejak tahun 1930-an pada masa penjajahan Belanda, meskupun telah pernah hilang dan fakum kemudian dihidupkan kembali. Kemudian di era tahun 1960-an ada satu group musik keroncong Kenari. Musik kerencong ini merupakan musik keroncong tertua yang pernah ada di kota Arang ini. Selanjutnya, pada tahun 1970-an muncul musik keroncong Peta dan musik Keroncong Anak Desa Sikalang.

"Saat ini generasi mudah hanya beberapa orang saja yang telah menjiwai musik keroncong seperti Riano Firaniko, Jesi Prima, dan Bara.  Sedangkan yang lain masih meraba-raba. Musik keroncong ini hingga kini digemari dari semua kalangan untuk melestarikan budaya lama sejak masa penjajahan. Maksudnya budaya peninggalan, sebab musik keroncong ini dibawa pada masa penjajahan Belanda," sebut lekali berkumis tebar ini.

Ia juga mengajarkan pakem-pakem musik keroncong ke pada generasi muda. Sebab, musik keroncong tersebut terdiri dari beberapa pakem (bagan) seperti part atau bagian yang harus dilalui dalam bermain musik keroncong. Seperti memperkenalkan bermain keroncong setelah intro lute dengan memaikan musik dengan tempo cepat. Sebagai pembeda pekem keroncong tersebut misalnya, satu bait harus ada intro putar. Kemudian untuk bait kedua mutar dan habis intro putar kembali ke musik awal. Seperti masuk dengan diawali alat musik Flute, viol, gitar, semuanya bergantian.

Ada beberapa jenis musik keroncong, seperti langgam, stambul, dan keroncong dolanan jenis musik keroncong hiburan atau musik keroncong jenaka dengan artian lebih banyak menyanyikan lagu-lagu gembira. Hanya saja, masuk musik tersebut bisa diawali dengan ukulele. Namum pakem-pakem musik tersebut banyak yang tidak dikuasai oleh kelompok musik keroncong tersebut.

"Kalau langgam, intro musik diberengi langsung dengan lagu sepenggal perbait. Langgam keroncong ini hampir sama dengan dengan musik pop. Berbeda dengan stambul di dahului dengan suara kemudian masuk lagu kemudian disambut musik. Artinya lagu dulu baru musik," akunya.

No comments:

Post a Comment