Monday, September 5, 2016

Adril Janggara, Akrab Disapa Mbah Bud Weiser (Bw), Support Pemerintah Terhadap Seni Minim (2)



Untuk mempertahankan seni peninggalan agar tetap tumbuh dan berkembang di kota Arang butuh perhatian dan support pemerintah. Apa jadinya seni (keroncong) tampa dukungan pemerintah?

Sawahlunto : Julnadi Inderapura

Jumat, 5 Agustus 2016 malam nan dingin itu diwarnai hiruk pukuk suara jangkrik. Malam telah sepi. Ya, warung kopi milik Mbak BW masih ramai anak muda. Mereka adalah pelaku seni, baik seni musik, seni tari, teater dan tarik suara. Disinilah mereka berkumpul seraya minum kopi jika tidak ada program latihan. Mereka pun kerap latihan bersama di depan warung kopi didepan kantor dinas Pariwisata Kota Sawahlunto. Ditempat terbuka itu lah mereka latihan dan duduk lesehan bermain musik.

Sementara itu, pada gerobok warung kopi masih bersandar alat musik kotra bass. Kemudian, diatas gerobok pun terlihat gitar dan cak yang terselib dibawal terpal. Sebab, warung itu tidak permanen hanya ditutupi terpal untuk berlindung dari panas dan hujan. Cerhatan hari Mbah BW pelaku seni terus berjalan.

Adril Janggara, akrab disapa Mbah Bud Weiser (BW), mengatkan bahwa musik keroncong pada zaman dulu dimainkan di tempat pesta perkawinan, penyemangat orang yang mau berjuang, kemudian acara hiburan para buruh dan acara kebesaran lainnya.

"Kalau dulu setelah kemerdekaan musik keroncong juga ditampilkan pada perigatan 17 agustus dan mengheningkan cipta. Sekarang tidak adalagi kegiatan seni khususnya seni musik keroncong. Hal itu bergantung pada kepala daerahnya, jika kepada daerahnya pecinta seni maka perhatian terhadap seni akan lebih banyak," sebutnya seraya duduk bersandar pada kursi panjang yang reok dari kayu bekas itu.

Ia mengaku sejak didirikan musik keroncong tersebut perhatian dari pemerintah diibaratkan seperti 'karet'. Artinya terkadang saat dibutuhkan perhatian dari pemerintah justru molor. Terkadang perhatian terhadap musik keroncong tidak ada sama sekali dan seperti tidak mau tahu akan keberadaan musik keroncong di kota Tambang.

Jika pun ada pertahatian dari pemerintah terhadap musik keroncong, pasti karena ada 'sesuatu'. Kemudian pemerintah memberikan bantuan berdasarkan kepentingan. Kalau untuk kepentingan dan kemajuan wisata daerah atau seni daerah tidak pernah ada melainkan didasari oleh kepentingan politik. Meskipun hal itu tidak terjadi secara terang-terangan dilakukan oleh pelaku politik.

"Misalnya dikumpulkan beberapa orang pemain musik keroncong lalu kemudian diberikan bantuan materil. Namun dibelakangnya ada bisikan berupa tolong pilih nomor sekian," ungkapnya seraya menarik nafas dalam dan tertekun sejenak.

Sementara itu, pemerintah sebetulnya lebih terfokus pada kota wisata dengan berbagai keunikan tersendiri seperti wisata tambang Mbah Suro, Puncak Polan, Puncak Cemara, Danau Biru yang menjadi perbincangan banyak orang akhir-akhir ini. Tentu banyak menyorot perhatian wisatawan baik lokal maupun manca negara.

Berdasarkan ekon yang dimiliki tentu banyak pengunjung datang ke kota tambang ini. Namun apabila wisatawan tersebut jika menginginkan melihat seni tradisi yang ada di kota Sawahlunto ini tentu sangat sulit didapatkan terutama musik keroncong itu sendiri. Suatu kelemahan pula bagi penggiat seni keroncong, karena kelompok seni keroncong hingga kini belum memiliki basecamp untuk tempat berkumpul dengan layak. Sebab, hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah untuk memikirkan nasib para penggiat seni.

"Tanpa ada dukungan dari pemerintah, seni tidak bakalan hidup dan mati suri. Kemudian, kota wisata menjadi kurang menarik tanpa di lengkapi dengan seni. Jika daya tarik tidak ada, wisatawan malas berkunjung. Kalau demikian adanya, wisata jalan di tempat," tuturnya.

Seharusnya pemerintah memikirkan bentuk dan format atau pormula yang baik bagi penggiat seni tradisi yang ada di kota Arang ini. Pemerintah seharusnya memikirkan atau menyediakan tempat yang layak atau semacam galeri (kios) bagi penggiat seni. Agar kelak para wisatawan yang datang ke kota Sawahlunto dapat melihat dan menyaksikan secara langsung musik keroncong atau seni tradisi lainnya yang ada di kota tua ini. Karena telah ada tempat khusus yang disediakan untuk penggiat seni, sehingga wisatawan pun bisa berkunjung untuk menikmati atau pun hanya sekedar bertanya terkait musik keroncong atau pun seni tradisi lainnya.

Selain itu, alat-alat musik pun masih kurang dan seadanya saja. Mendaur ulang alat musik yang lama agar bisa dimanfaatkan kembali. Sementara untuk kebutuhan alat musik tersebut juga tidak tahu harus kemana diajukan proposal agar bisa dibantu peralatan alat musik tersebut. Kemudian, jaringan untuk ke luar pun tidak punya sehingga bergerak sendiri, butuh alat musik berusaha sendiri.

Jika pun ada perhatian dari pemerintah tergantung pada orang yang bisa 'dekat'. Bukan perhatian menyeluruh kepada pengembang seni tradisi itu sendiri. Perhatian yang diberikan jangan hanya berdasarkan 'dekat'. Kemudian, berdasarkan 'kedekatan' sehingga hanya kelompok tertentu yang akan beruntung dan sering diikut sertakan untuk tampil pada ivent tertentu.

Padahal untuk menampilkan 'sesuatu' (musik keroncong) diperuntukkan untuk orang luar (wisatawan) tentu dengan tampilan yang bagus dan melalui persiapan yang matang serta proses latihan berkelanjutan. Tapi sekarang hal itu seolah-olah ditinggalkan begitu saja. Tampil dengan apa adanya. Asal ada.

"Makanya terkadang aku malu ketika mengikuti acara atau ivent. Aduh, kok kayak gini yang ditampilin. Mereka sadar, apa yang aku bilang salah saat bermain. Karena mereka bisa tampil berdasarkan pendekatan itu tadi. Sebab yang membackup mereka adalah pejabat. Jadi, yang salah dalam bermain tersebut tetap dilanjutkan saja. Tetap saja menarik menurut mereka," aku lelaki berambut grondrong ini.

Keroncong Buana Lestari, karena umurnya masih muda tentu sipak terjangnya belum seberapa. Pentas terjauhnya adalah Bukittinggi dan Padang, mengisi festival lagu keroncong di Kejari Sumbar. Keroncong Buana Lestari sebagai musisiknya. Saat bermain tersebut yang mengundang sangat puas dengan tampilan Keroncong Buana Lestari. Kalaulah moment tersebut tidak ada Time Limitnya, mungkin diajak main keroncong sampai pagi, karena mereka puas dengan tampilan musik keroncong yang disuguhkan tersebut. Jika dibandingkan, di Kota Sawahlunto ini suportnya yang kurang terhadap seni.

Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan seni, tidak hanya seni keroncong saja, tetapi seni tradisi lainnya yang ada di kota wisata ini. Kalau kota wisata, apa-pun yang dibutuhkan oleh wisatawan sebetulnya lebih cepat tersaji dengan baik. Haruskah orang ingin menikmati musik keroncong harus menunggu moment terlebih dahulu. Hal itu menurutnya sesuatu yang tidak mungkin kota arang ini akan banyak dikunjungi wisatawan.

Maka, jika tempat kumpul atau basecampnya telah ada, wisatawan akan mudah untuk mecari dan menikmati musik keroncong, demi mendukung pariwisata Kota Sawahlunto. Orang tidak hanya mengenal bangunan tua peninggalan Belanda saja, tetapi juga mengenal budaya dan kearifan lokal serta seni musik yang ada di kota Sawahlunto.

Sebab, seni peninggalan pada jaman penjajahan dan peperangan ada Randai, kuda lumping, keroncong, ludruk, wayang, ketoprak. Semua jenis seni berkembang pesat di kota ini dan cukup di segani oleh orang luar. Namun sekarang tinggal hanya namanya saja, sebab dukungan dari pihak pemerintah dan dukungan dari dinas terkait pun kurang saat ini.

Karena ada yang beranggapan bahwa seni ini merupakan ladangnya pekerjaan dan ada penghasilan diharapkan. Namun ada pula yang berkesenian ini dengan ikhlas dan tulus melakukannya. Ada pula berbuat kesenian berharap ini dan itu. Kalau pemerintah mendukung percepatan dan berkembangan wisata yang lebih baik maka perhatian yang diberikan jangan serba tanggung.

"Karena kurangnya perhatian dari sehingga seni tradisi tertua yang ada di kota Sawahlunto hilang di telan zaman seperti Tradisi Barzanji. Mengaji dan mengkaji kebersihan daerah dari wabah. Membaca doa-doa untuk membuang tolak bala. Apakah seni lainnya akan bernasib sama seperti barzanji," tutupnya. *

No comments:

Post a Comment