Thursday, September 29, 2016

Jamur Tiram Angkat Ekonomi Masyarakat



Jamur Tiram menjadi salah satu jenis jamur yang banyak dikonsumsi dan diolah oleh masyarakat Indonesia. Sehingga banyak dijumpai pemasarannya di tengah masyarakat. Untuk itu, Kota Sawahlunto tepatnya di Desa Kolok Nantuo Kecamatan Barangin kembali kembangkan Jamur Tiram. Meskipun sebelumnya pernah dikembangkan dengan mengemas berbagai pengolahan jamur Tiram tersebut.

Adeks Rossyie Mukri, Kepala Desa Kolok Nantuo Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, saat ditemui Rabu, 28 September 2016 mengatakan bahwa pada tahun 2009 hingga 2013 pernah dibudidayakan Jamur Tiram tersebut. Namun karena masih sulitnya untuk dipasarkan sehingga petani Jamur Tiram tidak lagi memproduksi Jamur.

"Masyarakat kita sebelumnya hanya bisa menanam, kemudian memanen jamur tersebut. Tetapi untuk olahan dan pemasaran mereka belum bisa. Akibatnya, saat ini tidak ada lagi masyarakt yang membudidayakan jamur tersebut," ungkapnya.

Ia melanjutkan bahwa karena Jamur Tiram sebelumnya pernah ada di Desa Kolok Nantuo maka pemerintah desa kembali dorong budidaya jamur tiram dari petani dengan membektuk kelompok. Program ini bertujuan untuk dikembangkan dengan memperluas pangsa pasar, seperti perhotelan di Bukittinggi, Batam dan Pakanbaru. "Kita telah menyiapkan pangsa pasar tersebut, namun harus menyiapkan produksi jamur 1 ton dalam seminggu. Maka, untuk menyiapkan hal tersebut maka diperlukan pelatihan," ungkapnya.

Kemudian, terang dia, sosialisasi tersebut berupa pelatihan teknis terhadap bududaya Jamur. Pelatihan akan diberikan oleh UPTD Balai Penyuluhan Pertanian (UPTD-BPP). Selanjutnya, masing-masing kelompok juga akan diberbantukan permodalan dengan Alokasi Dana Desa (ADD). Untuk tahap awal masing-masing kelompok akan diberikan modal Rp10 juta. Namun, jika prospeknya bagus dan terus mengalami perkembangan serta bahan olahan home idustri berupa sanara dan prasarana maka diberbantukan hingga Rp100 juta dari ADD.

"Saat ini ada dua kelompok yang telah bersedia untuk membudidayakan Jamur Tiram tersebut. Masing-masing kelompok beranggota sepuluh orang. Maka, pengembangan budidaya Jamur Tiram ini akan dilalukan sosialisasi kepada kelompok. Sosialisasi akan dilakukan pada minggu pertama di bulan Oktober," tuturnya.

Selanjutnya, kata dia, Jamur Tiram ini sebelumnya pernah  dibangun oleh industri rumah tangga (home industri) yang mengatasnamakan koperasi. "Koperasai tersebut beranggotakan keluarga artinya pribadi. Maka, koperasi tersebut bergerak sendiri dan jalan sendiri sampai mencari pangsa pasarnya. Lama kelamaan tutup dan tidak lagi berproduksi dibarengi dengan pangsa pasar yang sulit," sebutnya.

Ia melanjutkan, meskipun Jamur Tiram tersebut pernah dipasarkan di swalayan di Padang dengan kemasannya masih standar berbungkus plastik. Jamur Tiram tersebut di jual berupa jamur olahan seperti krispi, seperti makan kering. Namun, hingga saat ini petani Jamur Tiram tidak lagi memproduksi jamur tersebut karena sulitnya memasarkan Jamur Tiram setelah panen.

"Maka, potensi tersebut perlu dikembangkan kembali menjadi home industi bagi masyarakat untuk meningkatkan hasil pendapatan. Potensi tersebut perlu didukung dengan memberikan sosialisasi kepada masyarakat," ungkapnya

No comments:

Post a Comment