Sunday, September 4, 2016

Pasar Songket Mendunia Pelangi Songket Persatu Bangsa Untuk Peradaban Dunia



Sebanyak 1500 orang terdiri dari 110 group dan 80 peserta perorangan mengikuti iven Sawahlunto Internasional Songket Carnaval (SISca) 2016. Berbagai jenis disain dan rancangan busana berbahan baku songket pawai dari di sepanjang jalan A Yani kota Sawahlunto. Peserta pawai carnaval star dimulai dari masjid Agung Nurul Islam menuju panggung utama Lapangan Segi tiga (lapseg).
Para poto grafer amatir dan profesional pun ikut memburu momen pawai desain songket tersebut dari berbagai corak budaya asli Indonesia. Karena keunikan dan warna warni pakaian peserta yang dirangcang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Peserta tidak hanya diikuti oleh orang dewasa saja namun juga terdiri dari anak-anak.

Carnaval diawali dengan iringan pembawa songket sepanjang 30 meter, Carnaval yang mengangkat tema "Pelangi Songket Persatu Bangsa Untuk Peradaban Dunia," dipenuhi peserta dengan beragam  berbusana Songket Silungkang dengan beragam corak dan kreasi memenuhi jalan utama, yang membelah pusat kota atau lebih dikenal dengan kota lama.

Sorak sorai pengunjung pun, berhimpitan dengan gendang tabuik dan talempong. Hiruk pikuk pengunjung yang memadati badan jalan menyaksikan langsung pawai dibawah terik mata hari, Kamis, 25 Agustus 2016. Para pedagang asongan pun mondar-mandir mencari rezki disela karamaian iven SISca 2016 tersebut. Semua mendapat tempat dan semua mendapat bagian pada iven mencari rezki, termasuk ponjual main seperti balon.

Iringan peserta carnaval dilepas Sekretaris Daerah Kota Sawahlunto Rovanly Abdams di depan Masjid Agung Nurul Islam. Sekdako, usai melepas peserta pawai, ikut bergabung dengan barisan carnaval. Rombongan Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf dengan Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pemasaran Sutriono Edi, Forum Pimpinan Daerah (Fopimda), Duta Besar Ekuador Gonzalo Vega M, menunggu di panggung kehormatan di Lapangan Segitiga.

Iringan carnaval yang diikuti SKPD Provinsi Sumbar, SKPD Kabupaten dan Kota Sumbar, sanggar modelling, instansi vertikal, BUMN, BUMD, perusahaan swasta, lembaga pendidikan, organisasi sosial, komunitas budaya dan kelompok masyarakat Kota Sawahlunto itu, disaksikan ribuan pengunjung.

Carnaval yang diperlombakan itu terdiri dari katagori beregu umum luar Kota Sawahlunto dan dalam Kota Sawahlunto, perorangan siswa SLTP dan SLTA dan perorangan anak-anak TK dan SD se Kota Sawahlunto.

Walikota Sawahlunto Ali Yusuf mengatakan, songket diharapkan bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat dalam mengetaskan kemiskinan di Sawahlunto. Usaha tenun menjadi lapangan usaha bagi masyarakat di kota ini. 

"Usaha tenun songket tidak lagi hanya di Silungkang saja, tetapi sudah berkembang di kecamatan lainnya di Sawahlunto, " ungkapnya.

Ia menyebutkan, dengan carnaval ini songket bisa semakin mendunia dan sebagai nilai budaya yang harus dilestarikan. Selain usaha pertenunan songket mampu menekan angka kemiskinan, juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Sawahlunto 6,8 persen. 

"Kalau, pada  SISCa 2015  peserta hanya diikuti Sawahlunto saja, SISCa 2016 diikuti peserta dari kabupaten dan kota di Sumatra Barat. SISCa 2017, kita kembangkan pesertanya dari seluruh provinsi di Sumatra, " katanya.

Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Pemasaran, Sutriono Edi menyebutkan karena sejarah songket mengakibatkan harga songket mahal karena nilai historisnya. Jadi, diharapkan Sawahlunto International Songket Carnaval songket bisa memberi enerji terhadap ekonomi masyarakat kota ini, selain nilai budaya,  promosi dan pariwisata. 

"potensi industri ekonomi kreatif perlu dikembangkan dan tingkatkan lagi dimasa-masa mendatang untuk mengejar pasar global," katanya.

Sementara itu, Duta Besar Ekuador, Gonzalo Vega M, juga memberi apresiasi terhadap iven SISCa 2016 ini. Menurut Gonzalo, carnaval songket adalah bentuk apresiasi masyarakat kota ini untuk melestarikan dan mengembangkan budayanya. Bahkan, peluang songket untuk mendunia sangat memungkinkan. 

"Di tengah berkembangnya industri teknologi, songket sudah pasti mendapat tempat tersendiri di masyarakat dunia. Karena mereka punya cara tersendiri dalam menghargai karya tenunan songket. Ibu, saya juga pernah mendapat kiriman songket, yang kemudian dijadikan sebagai bahan untuk dijadikan baju, " sebutnya

No comments:

Post a Comment