Monday, September 5, 2016

Sawahlunto Kota Tua Terbaik Indonesia

Kota Sawahlunto adalah salah satu kota Provinsi Sumatera Barat, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kota yang terletak 95 km sebelah laut kota Padang ini diapit oleh tiga Kabupaten di Sumatera Barat yakni Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kabupaten Sijunjung.
 
Kota Sawahlunto memiliki luas 273,45 km² yang terdiri dari empat kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 56.000 jiwa. Pada masa pemerintah Hindia Belanda, kota Sawalunto dikenal sebagai kota tambang batu bara. Kota ini sempat mati, setelah penambangan batu bara dihentikan.

Pada masa Pemerintah Hindia Belanda, kota Sawahlunto dikenal sebagai kota tambang batu-bara. Saat ini kota Sawahlunto berkembang menjadi Kota Wisata Tua yang multi etnik sehingga menjadi salah satu kota tua terbaik di Indonesia. Kota yang didirikan tahun 1888 ini banyak berdiri bangunan-bangunan tua peninggalan Kolonial Belanda. Sebagian bangunan tua tersebut telah ditetapkan sebagai cakar budaya oleh pemerintah setempat dalam rangka mendorong pariwisata dan mencanangkan Sawahlunto sebagai "Kota Wisata Tambang Berbudaya".

Selain bangunan tua, Wisata tambang memang trade maraknya kota Sawahlunto. Lubang tambang tersebut mulai digali pada tahun 1898 oleh orang rantai dan pekerja tambang. Lobang tambang Mbah Soero merupakan lobang tambang pertama dipatahan Soegar, ditutup sebelum tahun 1930, kemudian dibuka kembali tahun 2007 dan dijadikan objek wisata dengan nama Lobang Tambang Mbah Soero lengkap dengan Gedung Galeri Info Box yang berisi foto sejarah tambang di Sawahlunto.

Kemudia, dikota Wisata Tambang tersebut juga terdapat museum Goedang Ransoem merupakan dapur untuk memasak makan para pekerja. Goedang Ransoem ini dihadirkan untuk mempragakan menyajikan koleksi peralatan masak dengan ukuran raksasa. Sebab Goedang Ransoem ini pernah digunakan sebagai Dapur Umum yang dibangun pada tahun 1918, Mueum Gudang Ransoem merupakan cerminan sejarah masa lalu yang direpresentasikan melalui beberapa geleri, diantaranya galeri etnigrafi, galeri foto tempo dulu, iptek center dan galeri malaka sebagai bentuk kerjsama Kota Sawahlunto dengan Negeri Malaka (twin city).

Bangunan yang dulunya merupakan Stasiun Kereta Api dibangun pada tahun 1912. Namun sejak Desember 2003 ketika pengangkutan batu-bara ke Padang tidak lagi menggunakan kereta api maka stasiun kereta apai ini tidak lagi difungsikan dan pada tanggal 17 Desember 2005 bangunan ini diresmikan sebagai Museum Kereta Api. Kembalinya kereta uap E 1060 "mak itam" yang diresmikan tanggal 21 Februari 2009, akan menambah lengkapnya keleksi museum dengan nuasa nostalgia yang kental.

Museum Tambang, menyadari potensi dan dalam rangka menyongsong satu abad gedung kantor unit pertambangan Ombilin. PT. Bukit Asam melalui unit tambang batu-bara membuka Museum Tambang sebagai pusata dokumentasi serta arsip di kota Sawahlunto. Tersedia berbagai dokumentasi dan material serta alat pertambangan yang telah dipergunakan satu seperempat abad lebih dari masa pemerintahan era Belanda sebagai himpunan kekayaan nusantara untuk kehidupan hari ini dan masa depan.

Jika melihat sejarah, pasca revolusi tahun 1952 pada bekas bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap itu, dibangun tempat peribadatan umat muslim, mesjid Agung Nurul Imam Kota Sawahlunto. Sedangkan bekas menara cerobong asap Pembangkit Listrik Tenaga Uapnya yang berketinggian lebih dari 75 meter ini dijadikan menara masjid.

Hotel Ombilin merupakan penginapan yang disediakan untuk para ahli tambang didatangkan oleh pemerintah kolonial Belanda, dengan nuasa arsitektur bagunan yang masih kental. Hotel tersebut dibangun pada tahun 1918, berada persis didepan gedung societeit. Wisma ini pernah menjadi camp tentara Belanda pada masa revolusi 1945-1947.

Pemerintah Hindia Belanda juga menyiapkan sarana pendidikan untuk kecerdasan anak-anak Belanda yang tinggal di kota Sawahlunto. Pemerintah Hindia Belanda membangun Sekolah Santa Lucia dipusat kota berdampingan dengan rumah ibadah bagi umat Kristiani, Gereja Santa Barbara.

Selain hotel, pendidikan, tempat ibadah, pemerintah Hindia pun membangun sarana hiburan Rumah Pek Sin Kek pada tahun 1906. Rumah Pek Sin Kek dipergunakan sebagai Gedung Teater, tempat perhimpunan masyarakat Melayu dan sebagi pabrik es. Setelah direvitalisasi tahun 2005-2006, bangunan khas berarsitektur cina ini menjadi salah satu kekayaan warisan masa lampau.

Selanjutnya, Gedung Pusat Kebudayaan lebih dikenal dengan Gedung Societeit atau Gluck Auf ini dibangun pada tahun 1910. Gedung ini disebut juga Rumah Bola karena merupakan tempat bermain Bowling dan Billiard oleh para pejabat Belanda di Sawahlunto. Setelah dilakukan revitalisasi pada 1 Desember 2006 gedung ini difungsikan sebagai Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

Gedung Koperasi Ombilin dibagun tahun 1920-an dengan nama Koperasi Ons Belang. Koperasi ini dibuat untuk memenuhi melayani kebutuhan orang-orang Belanda dan Indo-Belanda yang ada di Sawahlunto. Hingga saat ini masih menjadi gedung koperasi Ombilin Kota Sawahlunto.

Silo merupakan tempat penyimpanan batu-bara. Bangunan yang berbentuk tiga buah tabung raksasa ini masih berdiri dengan kokoh seolah ingin menyimbolkan kejayaan masa lalu dan sekaligus menjadi Landmark Kota Sawahlunto.

Bangunan Kantor PT Bukit Asam, bangunan dengan arsitektur Belanda ini dibangun pada tahun 1916. Gedung yang terletak di jantung Kota Sawahlunto ini berdiri dengan megah sebagai sebuah Landmark kota. Gedung ini berfungsi sebagai sebuah kantor perusahaan tambang Bukit Asam unit Penambangan Ombilin.

No comments:

Post a Comment