Tuesday, April 5, 2016

Terinspirsi Dari Suara Pengambilan Nira Grup Musik 'Tangka Ansamble Padangpanjang' Berjudul 'Dilema Dalam Ikatan' mentas di Festival Nan Jombang Tanggal 3

Tribun gedung pertunjukan Manti Manuik Ladang Tari Nan Jombang, Rimbo Tarok Balaibaru, Kecamatan Kuranji di padati penonton yang menyiapkan diri untuk menonton pertunjukan pada Minggu 3 April 2016 malam. Sebelum pertunjukan musik di mulai, penonton disuguhkan sebuah tari tradisi, Tari Tampuruang (Batok Kelapa) dari Sanggar Tari Nanjombang, Balai Baru Kecamatan Kuranji Kota Padang Sumatera Barat


Tangka Ansamble : Terinspirasi dari Musik Mengambil Nira
Tiga penari cilik itu menunjukan kebolehannya tampil didepan puluhan penonton terdiri dari pencinta seni, pengamat musik, pemerhati budaya serta sastrawan. Ada pula penonton pemula yang terdiri dari kalangan mahasiswa serta penggiat seni lainnya. Berbagai ekspresi muncul dari wajah penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut tari tersebut. Tiga orang penari cilik tersebut, Raysha putri delvian,9, Jingga, Almeera, 4, dan Hania Tri Yonata, 9. Mereka menari sangat energik serta gerakan yang terpola dengan rampak rapi.

Saat pertunjukan berlangsung, penonton senyum sumbringah saat melihat gerakan para penari. Ada yang berbisik-bisik membicarakan telatennya para penari cilik tersebut. Tampak dari raut wajahnya cerah serta senyum yang iklas. Ada pula yang mengabadikan foto tari cilik itu menggunakan gadged mereka masing-masing. Ada juga yang menumpang dagu seraya terkagum dengan mata melotot serta ikiran yang melayang-lanyang saat menyaksikan pertunjukan tari tersebut.

Usai pertunjukan tari berlangsung, disambung dengan pertunjukan musik group 'Tangka Ansamble Padangpanjang' berjudul 'Dilema Dalam Ikatan' komposer Rian Saputra. Pertunjukan berdurasi 30 menit itu sarat penyorot perhatian penikmatnya. Penikmat musik yang menonton pertunjukan terlibat langsung mengikuti tingkah serta tempo musik tersebut. Secara sadar penonton menikmati musik tersebut melalui gerakan-gerakan kecil tubuhnya. Selain itu, gerakan kecil pun lahir dari jemari penonton serta hentakan kakinya mengikuti tempo musik saat pertunjukan berlangsung.

Sementara itu, para pemain tampak asyik bermain memainkan alat musik tiup, petik dan perkusi. Para penain yang memakai baju tradisi (dubalang) berwana hitam itu seperti mabuk kepayang saat bermain. Musik tersebut seakan mengilustrasikan, serta kaya makna.

Komposer Rian Saputra, menyebutkan bahwa komposisi musik tersebut di latar belakangi oleh kearifan lokal pengambil Niro ( Nira atau Anau ) untuk membuat gula merah dan Tuak. Pada saat mengambil Niro tersebut ada nyanyian serta musik yang terlahir. Sebab, ketika pengambilan Niro tersebut ada pukulan-pukula pada gagang buah Anau tersebut.

Kemudian, ia mencoba menggarap pukulan dahan pada proses pengambilan anau dikembangkan menjadi komposisi musik. Sebab, pukulan-pukulan tersebut menurutnya memiliki pola yang berubah-ubah. Pola pukulan tersebut jika diiringi dengan tempo yang konstan akan membentuk sebuah pola ritem yang unik, dimana ketukan-ketukan atas ( syncopation/up beat ) akan menjadi ketukan berat ( down beat ).

Selanjutnya, kata dia, pola-pola yang terbentuk dari pukulan dahan batang anau tersebut yang menjadi titik fokus komposer dalam pengembangan materi-materi garapan dalam komposisi ini. Sebab, pola-pola pukulan pada saat mengambil Niro tersebut diistilahkan sebagai 'Taconcong'. Sehingga 'tacongcong' pun hadir sebagai salah satu landasan komposer dalam menggarap komposisi ini.

Ia menjelaskan pada bagian pertama komposisi musik 'Dilema Dalam Ikatan' sebagai seorang komposer, ia menghadirkan pola-pola ritem yang rapat dan mencoba untuk meng-interpretasikan istilah 'taconcong' kedalam bentuk musik. Ia mengaku teknik garapan yang dipakai dalam garapan musik tersebut dengan teknik call and respond, unisono, hacketing, canon, dan interlocking.

Kemudian pada bagian kedua, ia mencoba melakukan eksplosari instrument menjadi pilihan tersendiri bagi komposer untuk memainkan dinamika komposisi secara keseluruhan, namun tetap mempertahankan bentuk 'taconcong' tersebut. Selanjutnya pada bagian ketiga merupakan bagian recapitulation, penggabungan bagian pertama dan kedua teknik tersebut.

Ia menafsirkan penyampaian pesan pada saat pengambil Niro. Komposisi musik yang dipentaskan tersebut, ia menamakannya komposisi musik 'Semi Kontempor ( re-interprestasi ) tradisi mengembangkan penafsiran terhadap bunyi ketukan pengambil niro tersebut.

Tafsiran tersebut ia transpormasikan dengan mencoba mengambil beberapa istrumen alat musik seperti Saluang, (Rian Saputra) M. Mufti ( saluang ), Budi Alexander ( suling ), Tommy Wahyudi ( suling ), Vereki Martiano ( mandolin ), Cikal Pradika ( gitar ), Ryo Rinaldo P. ( guzheng ), Adiba Azkan ( kecapi sunda ), Haniful Chair ( pionika ), Uya Alhafis ( udu ), Erizal ( gong ). Maka, perpaduan dari beberapa alat musik tersebut terjadinya taconcong. Sehingga judul musik tersebut diberinama 'Dilema Dalam Ikatan' untuk menentukan ritme ketukan-ketukan atas ( syncopation/up beat ) akan menjadi ketukan berat (down beat).

Proses kreatif untuk persiapan musik tersebut berlangsung sejak bulan 5 bulan lalu, jelas pemuda ramah yang akrab dipanggil inyiak merupakan jebolan SMK 7 Padang. Ia terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Padangpanjang pada tahun 2011 hingga sekarang. Selama kuliah di ISI ia dann beberapa orang kawan kemudian, membentuk kelompok 'Tangka Ansamble Padangpanjang'. Kelompok kreatif ini terbentuk sejak dua tahun lalu.

Rian mengakui musik yang barusan ditampilkan merupakan karya tugas akhir untuk penyelasikan studi di ISI Padangpanjang. "ditahun 2016 ini  sedang giat menyelesaikan tugas akhirnya dengan kompetensi minat komposisi atau pengkaryaan," aku pria kelahiran Batusankar 10 april 1992 ini.

Ia juga pernah mengikuti beberapa kegiatan diantaranya art sammit pada tahun 2013 lalu. Ia juga aktif dalam berkarya selama di kampus Institut Seni Indonesia (ISI)Padangpanjang untuk memenuhi tuntutan perkuliahan yang ada, diantaranya jenjang mata kuliah komposisi 1 sampai 4. Selain itu, ia juga pernah dinobatkan sebagai penyaji terbaik dalam festival musik karawitan pada tahun 2010.

Ia menyadari bahwa komposisi musik tersebut masih ada yang kurang sebab masih ada yang terganjal dalam fikirannya. "Musik yang dipentaskan ini akan dikembangkan lagi aransemen musiknya. Kemudian akan terus dilakukan pendalaman terhadap musik. komposisi yang terdiri dari tiga bagian  ini ter-inspirasi dari proses pengambilan atau menyodok anau. Kedepan akan menambah aransemen musik Batuang ( bambu ) yang dikenal dengan 'tarangkiak' yang berfungsi untuk penampung dan membawa air niro. Karya penafsiran dan seni tradisi serta tidak menghilangkan bumbu-bumbu tradisi," katanya.

Sementara itu, Muhammad Husni, penikmat seni mengatakan bahwa sebagai pemain pemula, komposisi musik yang ditampilkan nikmat sebagai gabungan dari berbagai alat musik. Meskipun nikmat di dengar, menurutnya seorang komposer perlu memperkaya dengan alat musik gesek seperti viol. Sebab dalam penggarapan musik yang disuguhkan masih ada yang kurang. Menurutnya, pada penggarapan musik tersebut masih ada ruang kosong. Maka, untuk mengisi ruang kosong tersebut, akan menjadi lebih sempurna apabila ruang kosong itu di isi dengan alat musik gesek (viol).

Ia menyebutkan, komposer Rian sebagai seorang yang menggarap musik berakar dari tradisi, meskipun Rian mengangkat Saluang menjadi latar belakang, namun menurutnya saluang yang dimainkan dalam komposisi musik tersebut belum utuh. Jika Saluang dijadikan sebagai musik latar dan dimainkan secara utuh maka akan lebih 'kental rasanya' musik tradisi itu. Maka kekayaan nuansa musik yang ditampilkan akan lebih terasa apa bila salung dimainkan lebih 'serius' lagi.

Komposisi musik yang dihadirkan pada pertunjukan, serta pengayaan terhadap nada menurutnya komposer belum mengeluarkan kemampuannya. Pengayaan terhadap bunyi tersebut menurutnya belum tertuang dalam musik yang ditampilkan oleh komposer. Basis musik (bunyi) saluang tidak hanya sebagai bunyi efek flut semata yang muncul. Tetapi, menurutnya, komposer ini memiliki potensi untuk berkembang dan menyembangkan ide kreatifnya dalam menggarap musik. "Saya melihat anak muda berbakat dan Ia memiliki potensi untuk itu ( berkembang ) musisi profesional," katanya.

Sementara itu, S Metron Masdison, Koordinator Nan Jombang Tanggal 3 menyebutkan bahwa tahun ke-3 Festival nan Jombang Tanggal 3 merupakan tahun special, karena tahun ini nan Jombang telah berusia 33 tahun. Sehingga, ada sedikit pergeseran acara yang dilakukan terutama pada kegiatan festival nan Jombang tangga 3. Karena selama 3 tahun melaksanakan festival nan jombang tanggal 3, serius mengisi dengan muatan seni tradisi. Seluruh penampil merupakan seminan tradisi dan memaikan musik tradisi. Namun tahun ini, juga akan di isi dengan seni kontemporer tetapi akarnya setap pada seni tradisi. Jadi, tahun ini konsep nan Jombang serta konsep komunitas gelombang Minangkabau juga menginginkan penampil tetap berakar pada tradisi.

No comments:

Post a Comment