Tuesday, April 5, 2016

Proses Kreatif Darman Moenir 'Tuhan Ciptakan Kapas: Manusia Ciptakan Kain

Darman Moenir pada diskusi akhir bulan seniman bicara pada Kamis 31 Maret 2016 pukul 20.00 malam gedung pertunjukan Manti Manuik Ladang Tari nanJombang, Rimbo Tarok Balai Baru Kecamatan Kuranji, mengurai Proses Kreatif : Menulis Sesuatu, Mengkonkretkan yang Abstrak. 


Darman Moenir
Ia menggambarkan dalam pemaparannya tentang proses kreatif menulis sesuatu, mengkonkritkan yang abstrak. Kemudian, menjabaran sesuatu yang aksrak itu menjadi sesuatu "seolah-olah menjadi ada dan sebenarnya terjadi. Ia justru menganalogikan 'Tuhan Ciptakan Kapas: Manusia Ciptakan Kain'. Sesuatu yang telah ada dan diciptkan tuhan, maka seorang perupa, kereator seni, sastrawan, musisi untuk mengelaborasikan menjadi sebuah karya.

Untuk mencapai hal itu, ungkapnya, maka seorang kreator, musisi, penggiat teater, perupa dan sastrawan yang memulai proses kreatifnya harus mendahului dengan niat. Berniat untuk memulai sebuah proses kreatif (menulis), kemudian untuk apa proses kreatif itu, tujuan serta manfaat dari proses kreatif. Tanpa adanya niat, maka proses kreatif itu tidak akan terlaksana.

Sesuatu yang diciptakan tuhan sedemikian rupa banyaknya, namun banyak yang belum tergarap oleh seniman, kreator, perupa, musisi dan sastrawan. Bagaimana seorang kreator, seniman, perupa, musisi dan sastrawan untuk menggarapnya menjadi sebuah karya bergatung pada sudut pandang serta proporsinya masing-masing. Jika ia seorang sastrawan, bagaimana seorang penulis memulai proses kreatifnya untuk menulis dari sudut pandangnya melihat sesuatu (benda) yang diciptakan tuhan.

Ia menilai bahwa saat ini banyak keindahan alam Minangkabau yang dimiliki dan sebuah karunia tuhan, namun semuanya belum tergarap dalam sebuah proses kreatif (digarap) atau ditulis seniman dan sastrawan. Misalnya ke indahan Danau Maninjau, atau kelok 44 dan dibawahnya membentang danau maninjau. Keindahan itu telah diciptakan tuhan, namun tidak banyak yang mampu menulis keindahan itu sesungguhnya menlalui proses kreatif itu sendiri melalui sebuah karya sastra, musik, tari, perupa dan teater.

Menurutnya, seorang Leonardo Da Vinci misalnya, ia melukis Monalisa dengan bentuk paras wajah yang cantik sembari tersenyum. Pelukis ini mampu melukis seorang wanita yang tersenyum dan kecantikan Monalisa yang abadi sepanjang masa. Hal itu, telah digambarkan oleh penulis bahwa manis dan senyum seperti yang telah digambarkan dalam lukisannya. Leonardo Da Vinci berhasil menggabarkan perempuan cantik sesungguhnya, hingga saat ini masih dikenal banyak orang. 

Kemudian, lanjutnya, novel Siti Nubaya dikarang oleh Marah Rusli merupakan sebuah karya fiksi yang membicarakan kehidupan seorang perempuan Minang seolah menjadi kehidupan nyata oleh masyarakat pembacanya. Bahkan, sosok Siti Nurbaya yang di kubur di gunung Padang pun semua pembacanya juga meyakini bahwa Siti Nurbaya meninggal dan di kubur di gunung Padang. Seorang penulis mampu menggabarkan sosok tokoh dan seperti apa sosok Siti Nurbaya, seolah menjadi cerita sebernarnya terjadi. Maka, kejaran seorang penulis atau sastrawan untuk menulisnya menjadi sebuah harus memahami semua pokok persoalan, sehingga cerita itu menjadi hidup dan nyata adanya.

AA Navis dalam proses kreatifnya menulis cerpen 'Robahnya Surau Kami' menurutnya merupakah cerpenis islami dan termasyhur di Indonesia. Sesuai dengan pembacaanya terhadap karya sastra, hingga saat ini belum ada yang mempu menulis karya sastra islami seperti AA Navis. Menurutnya, proses kreatif yang didalami AA Navis tidak jauh berbeda dengan proses kratif penulis lainnya seperti Wisran Hadi, Abdul Muis, dan termasuk penulis lainnya.

Selanjutnya, proses kratif itu juga menuntuk seorang seniman (musisi, pelukis, penari, penggiat teater) untuk memicu semangat membaca. Seorang seniman harus banyak membaca buku-buku sastra sebagai bahan acuan. Tanpa membaca, seorang seniman tidak akan mampu menulis kalimat-kalimat yang diinginkan untuk sesuah karya sastra. Selain itu, seorang seniman juga dituntut mempertimbangkan memperhatikan masalah bahasa. Baik itu, berupa titik, koma dan sebagai tanda berhenti dalam artikata harus mengerti tata baca EYD-nya harus jelas.

Muhammad Husni, dosen UNP dan penikmat seni mengatakan bahwa seniman (musisi, pelukis, penari, penggiat teater) mereka merupakan akar, bagainama untuk melahirkan seorang yang lebih kreatif. Sebuah adememisi tidak akan mempu melahirkan seorang lulusannya yang lebih kreatif. Menurutnya, untuk membangkitkan atau melahirkan seorang yang kreatif, dimulai dari keluarga.

Saat ini, jelas dia, seorang anak tidak diberikan ruang yang bebasa untuk berkreatifitas. Selalu ada ruang lain yang menjadi pembatas bagi anak, sehingga anak takut berbuat yang lebih kreatif. Pendirikan dalam lingkup rumah tangga atau keluarga bagi anak, justru yang terjadi pada anak hanya pelarangan-pelarangan terhadap anak. Padahal untuk perkembangan proses kreatif anak adalah memberikan ruanga yang bebas kepada anak dalam keluarga.

Sementara itu, dunia pendidikan (sekolah) juga tidak memberikan ruang berbeda terhadap anak yang kreatif. Sebab, menurutnya dikatakan 'kreatif' adalah tampil beda. Jika ada anak yang berbeda dengan anak yang lain, sekolah justru melarang dan banyak tidak memperbolahkan sikap anak yang tampil beda. Maka, untuk menciptakan anak yang kreatif dimulai dari keluarga dan ruang pendidikan yang lebih bebas. Keluarga melatih ruang gerak terhadap anak untuk kebih peka, agar menjadi kreatif.

Rizal Tanjung penggiat Teater mengatakan bahwa keativitas merupakan prosesi dan bukan persolan pendidikan. Seorang yang kreatif dan melihat aspek kebudayaan dalam sebuah proses kreatif bagi seniman. Ia menyebutkan seorang yang kreatif itu mampu mengadopsi sebuah benda dengan kreatif serta pikiran yang cerdas, maka akan menghasilkan kreativitas yang cerdas pula. Baginya, sebuah kreativitas itu harus terukur dan tidak semerta-merta menghilangkan nailai atau norma yang ada. Kemudian, kreatif (menulis) juga merupakan sebuah kebebasan berbicaya dengan cara cerdas. Inilah yang dikatakan kreatif dan berpikir cerdas.

Musral Dahrizal alias Mak Katik Budayawan ini bersepakat, untuk memulai seseorang agar lebih kratif dimulai dari pendidikan keluarga. Bagaimana pendidik anak dalam keluarga agar anak lebih kreatif.

Ia menilai bahwa proses kreatif yang disampaikan oleh Darman Moenir menurutnya merupakan pendekatan tasauf. Sebab, dari yang tidak ada menjadi ada, berdasarkan ungkapan Tuhan Ciptakan Kapas : Manusia Ciptakan Kain. Ia menyebutkan bahwa proses kreatif Darman Moenir tersebut jelas dasar pikirannya. Hijrah dari pikiran yang tidak ada menjadi ada, menurutnya inilah yang dikatakan proses kreatif.

Irvan Dosen Sastra berpandangan bahwa proses kreatif itu sendiri harus memiliki kebebasan. Selanjutnya dalam proses kreatif perlu meningkatkan kesadaran dan kebebasan serta cara perpikir cerdas. Keceradasan itu harus didukung dengan banyak membaca buku agar. Ada banyak teori tentang jenis keceradasan secara sikolog. Iklim serta potensi anak harus dikembangkan untuk meningkatkan kreativitasnya. Kreativitas AA Navis sendiri muncul ketika banyak ruang diskusi sehingga yang terjadi di Bukittinggi. Selanjutnya, kecenderungan kreativitas berdiskusi itulah AA Navis tumbuh.

Selanjutnya, saat ini tidak adanya ruang gerak kritikus dengan gerak yang lebih terarah. Maka, perlu adanya ruang diskusi dan iven-iven seperti yang dilakukan oleh Nan Jombang. Ada ruang diskusi dengan program diskusi akhir bulan seniman bicara. Respon terhadap iven tersebut dan soal ruang kerjasama dalam hal kreativitas. Seniman saat ini banyak yang merasa tidak merasa hebat apabila ada kerja sama. Seniman (sastrawan) merasa puas dan merasa hebat sendiri, tanpa adanya kerjasa dalam bentuk ruang diskusi memecahkan persolan. 

No comments:

Post a Comment