Friday, June 12, 2015

Grup Randai Benteng Ombak nan Badabua Perlu Regenerasi Untuk Jaga Eksistensi



Sempat pakum selama 20 tahun, group randai Benteng Ombak nan Badabua masih tetap eksis. Rabu 3 Juni 2015 malam, grup randai yang didirikan Ibrahim pada tahun 1973 ini tampil di FestvalLadang Tari nan Jombang Tanggal 3 dengan menampilkan kisah Magek Manandin, Sadiangbaka Solok, Provinsi Sumatera Barat

Laporan:Julnadi Inderapura, Balaibaru, Padang

Goup Randai Benteng Ombak Nan Badabua
Penonton di gedung pertunjukan Manti Manuik hening. Semua mata fokus ke pentas. Ditengah remang cahaya, 10 orang Anak randai berkencak menampilkan kisah kisah Magek Manandin. Sebuah kisah percintaan khas Minangkabau.

Ceritanya, Magek Manandin yang terbuang di kampung mengadu untung di perantauan. Tiba-tiba, dia mendapat surat dari kampung yang menyuruhnya pulang kampung untuk menikah.

Seiring bunyi saluang dan dendang yang mendayu, anak randai masuk dari pintu belakang panggung di sertai dengan 'tapuak' dan 'gore'. Mereka membentuk formasi per-saf yang terdiri dari dua saf. Kemudian, ada sambah manyambah yang disampaikan memalui dendang. 10 Anak randai mempragakan dengan gerak. Mereka meyusun jari nan sapuluah sarato jo kapalo (memberi hormat, red) kepada penonton yang hadir.

Usai sambah manyambah, 10 orang anak randai melanjutkan dengan formasi melingkar yang disebutkan Randai seraya 'batapuah' di sertai 'gore'. Gerakan yang dimainkan dalam randai tersebut terlihat lebih 'rampak' (kompak, sejajar, dinamis). Gerakan 'dayuang sampan' (mendayung sampan), 'ombak ma hampeh atau ombak nan badabua,' (ombak yang menghempas), yang merupakan cikal bakal dari penamaan Group Randai Benteng Ombak Nan Badabua keberadaannya di pinggir pantai.

Sementara 'dendang' (lagu) yang dimainkan dalam randai tersebut 'dendang dayuang daili, samarantang tinggi dan samarantang randah, kemudian dendang isian (bebas). Ketiga dendang ini merupakan lagu yang wajib ada dalam randai, (Teater Rakyat Sumatera Barat).

Selanjutnya, dendang isian ini merupakan dendang sebagai pengisi atau pelengkap dari cerita. Dendang isian ini sifatnya tidak mengikat. Untuk dendang isian ini ada kebebasan dalam memilih dendang yang akan di pakai saat randai. Sementara gruop randai Benteng Ombak nan Badabua dalam dendang isian memilih mendendangkan 'dengang tambilang, dendang indang karinci, dendang ratok lawang, dan tamani'.

Sementara itu, pantun yang dipakai atau dimainkan dalam dialog randai adalah pantun 4 dan pantun 6 dengan sajak A-B, A-B. Pantun ini, dua baris sampiran dan dua baris lagi merupakan isi atau pesan yang ingin disampaikan.

Seperti pantun ‘karantau madang dihulu,
ba buah babungo balun,
marantau bujang dahulu,
di rumah paguno balun,’

Penyajian pantun ampek ini lebih singkat dan lebih padat. Sementara, pantun 6 ini penyajiannya lebih bertutur. Tiga baris yang merupakan sampiran, tiga barisnya lagi yang berisi pesan.

Seperti 'karanggo di batang kapeh,
Maniti daun silasiah,
Jatuah badarai silaronyo,
Indak bahinggo jo babateh,
Indak basibak jo basisiah,
Dalam lingkuangan sambah kasadonyo,

Mawardi akrab dipanggil dengan sebutan 'Uncu' yang merupakan ketua group randai Benteng Ombak nan Badabua yang juga merupakan pelatih randai mengatakan mengatakan grup randai yang tampil saat ini adalah generasi ke tujuh sejak didirikan pertama kali oleh Ibrahim. "Saat saya masih latihan, anggota randai ke tika itu merupakan generasi ke empat," ujarnya.
Dia menyebutkan, selam grup ini vakum 20 tahun, dia berlatih dan bergabung dengan sanggar lain. Dia mengaku, sebelumnya ada dua sasaran (tempat latihan, red) di Purus 2. "Dimasa saya latihan merupakan Generasi ke tujuah sejak berdirinya sanggar ini. Saat saya sedang latihan dulu merupakan generasi ke empat ketika masih belajar randai. Karena ketuanya belum ada sehingga ada upaya untuk pedilanjutkan kembali," katanya.

Dia menyebutkan group randai Benteng Ombak nan Badabua ini sempat pakum selama 20 tahun. Kemudian selama fakum tersebut dia mencoba latihan randai dan silek (silat) di tempat (sanggar) lain. "Sembari mencari dan belajar di luar, sementara yang lain (anggota randai Benteng Ombak nan Badabuah) masih latihan," sebutnya.

Dia mengaku, sebelumnya ada dua sasaran (gelanggang atau tempat latihan) di Purus 2. "Sasaran pertamakali berdiri berkedatan di mesjid alkamil Purus. Awal mula sasaran atau galanggang tersebut merupakan tempat latihan silek (silat). Disanalah tempat semula anak-anak muda berkumpul untuk latihan silek. Kemudian, karena banyak yang berkumpul latihan, ada muncul ide untuk mengangkat sebuah cerita randai. Maka, naskah yang dimainkan kisah rakyat yang berasal dari daerah Maninjau. Saat ini sasaran randai berada di dekat SD," akunya.

Dia menjelaskan, saat ini ada 25 orang anggota aktif yang latihan produktif. Kemudian rencananya akan dilakukan regenerasi berikutnya. Sebab, saat ini anggota kita telah banyak yang bekerja dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. "Sementara generasi di atas saya mungkin telah banyak yang meninggal, sebab, hingga saat ini generasi di atas saya tersebut tidak lagi muncul atau tampak," jelasnya.

Kemudian, lanjut dia, untuk latihan dua kali dalam seminggu, setiap Senin malam dan Jumat malam. Kendala yang dihadapi sebenarnya komitmen latihan, karena kesibukan di masing-masing anggota dengan aktivitas harian mereka. "Anggota kita terdiri dari umum, pemuda sekitar dan ada pula dari anggota kita yang dari lapai. Anggota kita juga saat ini yang menekuni pendidikan hanya dua orang," lanjutnya.

Kaharuddin akrab di panggil pak 'Man' yang merupakan guru tuo silek (orang dituakan) randai Benteng Ombak nan Badabua mengatakan bahwa langkah yang di ambil dalam randai tersebut merupakan bungo (bunga) dari tari. Sedangkan langkah silek yang dimainkan berasal dari Silek Harimau dari Muara Labuah Pakan Raba a. "Saat ini, tidak lagi melatih silek, karena fisik tidak lagi mengizinkan. Namun hingga saat ini galanggang atau sasaran latihan silek masih berjalan di Muara Labuah. Jika ada yang ingin belajar silek, akan dibawa ke Muara Labuh untuk latihan. Dengan persyaratan yang akan belajar silek melakukan ritual 'mandabiah ayam', siriah jo langkok, di sertakan rokok dan tembakau', sarat letihan silek untuk pertamakali," katanya.

Kemudian, lanjut dia, Kain agak sacabiak, sebilah pisau, merupakan ritual terakhir dalam artian 'mamutuih Kaji', serta membeli satu stel baju randai untuk guru. "Untuk latihan silek, masih dilakukan ritual dan dengan menyembelih ayam. Begitu pula untuk latihan randai, juga dilakukan penyembelihan ayam mendarahi sasaran dengan darah ayam. Gunanya adalah untuk agar terhindar dari bahaya dan cindera dari latihan. Hal tersebut dibarengi dengan doa-doa kepada tuhan," lanjutnya.

Dia mengaku untuk gelanggang latihan randai itu sendiri juga dilakukan ritual penyembelihan ayam untuk mendarahi lapangan. "Selain itu, juga dilakukan doa-doa untuk keselamatan. Selanjutnya randai merupakan milik para leluhur, maka kita juga meminta izin dan meminta kepada leluhur untuk keselamatan. Mendoakan para leluhur diberikan tempat yang layak di sisi tuhan karena telah mewariskan ilmu yang bermanfaat seperti randai ini," akunya.

Eri Mefri, mengatakan bagaimana kegiatan ini tetap berjalan dengan baik. Selain itu, juga kegiatan ini mendapat apresiasi dari dari berbagai pihak dan perhatian dari pemerintah. "Perhatian dari pemerintah tidak hanya membantu dalam bentuk akomodasi saja, namun dengan kehadirannya untuk melihat dan mengamati pertunjukan merupakan bentuk perhatian yang luar biasa dari pemerintah," katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Festival nan Jombang tanggal 3 hanya berjala 10 bulan saja dalam setahu. "Tahun 2015 ini merupakan tahun ke 3 Fetival nan  Jombang tanggal 3. Malam ini hari merupakan bulan ke 5 Festival. Selama bulan puasa Ladang Tari nan Jombang kegiatan Festival nan Jombang tanggal 3 tidak berjalan. Namun selesai Ramadhan Festival tanggal 3 Ladang Tari nan Jombang akan berlanjut," sebutnya.

Dia menyebutkan, sebelumnya di Kota Padang ada 6 grup randai yang aktif. Kemudian setelah dibangun gelanggang di depan dinas pariwisata Kota Padang barulah bermunculan beberapa group randai. "Ibrahim termasuk pendiri dan ikut merancang membuat gelanggang tersebut. Di galanggang tersebut sering dilakukan iven dan festival kebudayaan termasuk randai. Setelah gelanggang itu dibangun barulah bermunculan grup randai. Ada 60 randai di Kota Padang bermunculan. Makanya, saat ini nan Jombang memberikan apresiasi dan kesempatan ke pada sanggar beliau untuk mentas di gedung pertunukan Manti Manuik. Pertunjukan malam ini persembahan kepada Ibrahim (alm)," sebutnya. )*

No comments:

Post a Comment