Thursday, February 12, 2015

Indonesian Performance Art Market (IPAM) Ajang Pertemuan Antar Seniman

Oleh: Julnadi Inderapura
Seniman Sumatera Bararat terus berusaha agar Sumbar dipercaya menjadi tuan rumah Indonesian Performance Art Market (IPAM), yaitu ajang berkumpulnya para event organizer, produser, kurator seni dari berbagai negara di dunia. Untuk menjadi tuan rumah, harus ada dukungan dari Pemprov Sumbar. Gubernur Sumbar sudah menyatakan dukungan secara lisan, namun belum ditindaklanjuti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Barata. Hal di atas terungkap diskusi yang diselenggarakan seniman Sumbar bersama anggota DPRD Sumbar di Ladang Tari nan Jombang, Rimbo Tarok, Kuranji, Padang, pada tanggal 4 Juli 2014.

Bermula dari diskusi bersama beberapa seniman mengenai Indonesian Performance Art Market (IPAM ) mesti diadakan di Sumatera Barat. Karena IPAM merupakan wadah bagi Bayers yang didatangkan dari luar negri untuk mengangkat beberapa kelompok seni yang mampu bersaing di Dunia Internasional. Sehingga para seniman Sumatera Barat akan terangkat kredibilitasnya di mata Dunia.

Namun hal tersebut tidaklah akan terselenggara jika tidak ada dukungan dari berbagai pihak, karena beberapa persoalan kesenian telah mencuat di tengah-tengah masyarakat. Persoalan tersebut terjangkit dikalangan birokrat pemerintah sehingga terjadi kemandekan.

Dia mengatakan IPAM sendiri merupakan ajang bagi seniman untuk memperlihatkan karya-karya seni pertunjukan kepada para korator atau bayers, sehingga jika hal tersebut terlaksana akan berdampak terhadap daya saing dan daya jual karya-karya seniman Sumatera Barat. Selain itu IPAM merupakan ajang pertemuan antara seniman dan kelompok kesenian dengan para pihak yang mewakili pembeli produk-produk kesenian di sejumlah negara.

Menurut Eri Mefri pengyelenggaan IPAM sendiri telah berjalan semenjak tahun 2003 dan 2004 diselenggarakan di Bali. Pada tahun 2009-2010 acara tersebut terselenggara di Solo, kemudian pada tahun 2013 di gelar di Jakarta. Acara ini di selenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan akan mendatangkan produser dan bayers seni pertunjukan (tari, musik dan teater).

Selain itu, produktifitas IPAM juga berupaya membangkitkan dan mengangkat seni pertunjukan di Sumbar dari permukaan yang selama ini masih berjalan di tempat. Sehingga kekayaan kreatif seni pertunjukan Indonesia khususnya di Sumbar yang bertolak pada seni-seni yang berbasis tradisi dan modrn bisa menembus pasar dunia. Namun, hal itu tidak akan terwujud jika tidak ada dukungan dari semu pihak.

Eri Mefri mengatakan, bahwa IPAM sudah saatnya diadakaan di Sumatera Barat tahun 2015 mendatang. Hal tersebut telah mendapat respon dari Gubernur Sumatera Barat, kemudian gubernur dilimpakan kepada Kadisbudpar Sumbar. Namun, saat ini telah berjan 15 hari yang lalu, ternyata belum di respon oleh Kadisbudpar untuk duduk bersama membicarakan IPAM ini dengan serius. “untuk menyelenggaraan IPAM di Sumbar kita mesti jemput bola, sendiri terselenggara kita mesti menjemput bola. Ternyata sampai saat ini saya belum di temui atau paling tidak dipanggil kekantaor kalau tidak ingin menemui saya.” Katanya.

Karena belum mendapat respon dari kadisbudpar Eri Mefri mempertanyakan, apa maunya seni pertunjukan oleh Kadisbudpar. Namun, jika IPAM bisa dialihkan ke Sumbar makan 30 penari bisa di datangkan di sumbar dan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bisa di lobi, karena penyelenggaraan IPAM Eri Mefri sebagai curator.

Dia melanjutkan, Kadisbudpar merupakan ujung tombak bagi para seniman dan kelompok seni lainnya untuk bekerja sama mengusung IPAM tersebut samapai saat ini belum juga mendapat respon. Hal ini sangat disayangkan oleh Eri Mefri seniman Sumbar, karena belum mendapat respon dari pihak terkait untuk duduk bersama dalam membahas Pogram kesenian melalui IPAM tersebut.

Karnalis Kamarudin Sekretaris Kadisbudpar  mengatakan, Dia mengaku tidak tahun akan IPAM tersebut, kemudian dia mengaku tidak bisa memberikan keterangan dan konfirmasi mengenai IPAM, sehingga dia melimpakkan kepada kepala bidang pariwisata yang lebih paham dan lebih mengerti. “saya tidak tahu mengenai IPAM tersebut dan saya tahu hanya saat ini.” Katanya.

Hal serupa juga disampaikan Buya kepala bidang seni dan budaya mengatakan, dia belum mengetahui IPAM tersebut, sehingga belum bisa memberikan kewenangan untuk itu, artinya belum bisa memberikan jawaban karena beritanya belum sampai kepadanya.

No comments:

Post a Comment