Saturday, August 20, 2016

Jemaah Masjid Babussalam Lubang Pajang Budayakan Maghrib Mengaji

Jemaah Masjid Babussalam budayakan Maghrib mengaji
Rabu, 17 Agustus 2016 senja itu merah jingga langit mulai lenyap dari pandangan mata. Imam shalat baru saja usai membaca salam shalat bagrib di Masjid Babussalam Lubang Panjang Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto. Usai dzikir dan doa serta melaksanakan shalat sunnat dua rakaat, sebagian jemaah mesjid pulang menuju tempat masing-masing.

Masjid didirikan tahun 1982 tersebut berpas-pasan dengan kantor balai kota dan tepi jalan raya. Posisi yang sangat stategis itu dapat mengundang kaumuslimin lainnya yang sedang melakukan perjalanan untuk singgah di masjid melaksanakan shalat magrib berjamaah. Kemudian setelah itu melanjutkan perjalanan menujut tempat masing-masing usai shatat berjamaah.

Hanya tinggal beberapa orang jemaah saja untuk tetap bertahan di masjid. Jemaah tersebut bertahan di masjid menunggu waktu shatat isya' masuk dan untuk shalat secara berjamaah. Lagian pula mereka merupakan jemaah tetap masjid di selingkungan masjig atau jiran masjid. Menjelang masuk waktu shatat isya' jemaah masjid mulai mengambil alquran di dalam rakrak. Jemaah masjid tersebut mulai duduk melingkar pada shaf perempuan bagian belakang dibalik mahrab. 

Mereka terdiri dari kaum bapak dan ibu-ubu, lalu kemudian membaca alquran. Mereka membaca alquran beserta artinya dengan cara bergeliran. Semua mendapat bagian membaca ayat suci alquran beserta artinya. Mereka saling menyimak bacaan quran dan saling menegur jika ada kesalahan membaca untuk membanarkan pembacaan quran. Meskipun terdiri dari kaum bapak dan ibu-ibu membaca alquran, namun membaca ayat suci alquran tersebut boleh bagi siapa saja yang ingin bergabung membaca alquran bersama.

Suara ibu-ibu mengaji dengan merdu, menggema dalam ruangan masjid berukuran kurang lebih 15 meter x 15 itu. Tanpa pengeras suara bacaan ayat suci alquran terdengar jelas dalam ruangan. Bulu kuduk mulai mendiring, hati bergetaran.

Maghrib mengaji. Inilah yang menjadi kebiasaan rutinitas di Masjid Babussalam hingga kini masih terpelihara dengan baik. Budaya megrib mejadi yang telah lama berlangsung itu, kemudian menjadi program walikota. Sehingga pada waktu magrib tidak diperbolehkan menyalakan TV sampai usai melaksanakan shalat isya'. Ada sekitar belasan orang jemaah yang iktu serta mengaji di masjid tersebut.

"Kami menamakan magrib mengaji. Jadi setelah shalat magrib jemaah tidak pulang kerumah tepi mereka mengaji terlebih dahulu di masjid sampai wakti shalat Isya' masuk. Budaya maghrib mengaji di masjid ini telah berjalan sejak tahun 2000, khusus memaah saja," ungkap H. Jamaran, 73, Ketua Pengurus Masjid Babussalam, warga RT4 RW 2 Kelurahan Lubang Panjang.

Ia mengatakan bahwa masjid Babussalam maghrib mengaji tersebut berawal dari beberapa orang jemaah yang membaca alquraan usai shalat magrib. Kemudian hal itu menjadi terus-terusan pada akhirnya diikuti oleh para jemaah masjid. "Tidak ada rencana khusus untuk membudayakan maghrib mengaji di masjid ini. Ini awalnya dilakukan beberapa orang jemaah, kemudian ada yang mengikuti dan terus bertambah banyak bergabung membaca ayat suci alquran hingga berlangsung sampai saat ini," ungkapnya.

Ia mengebutkan bahwa saat ini jemaah membaca ayat suci alquran beserta artinya dengan tujuan agar lebih memahami apa yang dibaca serta maksud dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. "Kegiatan maghrib mengaji ini disamping membaca terjemahan ayat yang dibaca, namun tidak secara mendalam hanya sebatas terjemahan saja," tuturnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa untuk di masjid Babussalan ini untuk mengajian lebih mendalam yakni wirud mingguan setiap malam Senin dan Kamis. Wirid pada Senin malam disampaing menbaca ayat suci alquran juga dilengkapi dengan tafsir ayat beserta asbabunnuzul ayat. "Wirid pada hari Senin malam itu, ada pembahasan khususnya yakni tentang Tauhid atau ketuhanan oleh buya Mahya Khatib Makuto. Sementara pada hari Kamis, pembahasannya khusus tafsir oleh buya H. Khairunnas Datuak Pito Sirajo," lanjut Jamaran.

Sementara itu, Kemudian pada hari Selasa ba'da Ashar ada pengajian majelis taklim. Kegiatan majlis taklim ini merupakan program pengurus masjid. Kemudian, pada hari Jumat, Yasinan. Sedangkan pada hari Minggu dua kali dalam sebut ada program Pondok Tahfiz. "Pondok takhfiz ini merupakan hafalan Alquran khusus untuk remaja. Program ini merupakan program yang baru dengan target akan mencetak penghafal alquran," sebut Arfizon, 46, Seksi Bidang Ibadah Masjid Babussalam.

Ia melanjutkan bahwa untuk pembinaan dan pelatihan shalat jenazah juga ada namun hal itu tidak menjadi rutinitas dan hanya sewaktu-waktu saja. Jemaah diberikan pengetahuan dan pelatihan menyelenggaraan shalat jenazah.

"Prestasi yang didapatkan jemaah masjid Babussalam ini berupa lomba hafalan Yasin mendapat juara II tingkat kota. Kemudian mendapat juara I kategori K3 selama dua kali berturut-turut tahun 2014 dan 2015 se Kota Sawahlunto. Namun, sebelumnya juga mendapat juara tetapi juara II dan III. Kemudian lomba Mushabaqah Tilawatil Quran (MTQ) jemaah kita juga pernah mendapat juara," sambungnya.

Selain dari pada Magrib Mengaji, wirid Senin-Kamis, Pondok Tahfiz, Taman Kanak-kanak RA dikelola masjid, Majlis taklim juga malukan kegiatan peringatan hari besar islam dengan tabligh akbar. Ceramah agama dengan mengundang buya untuk memberikan tausiah. "Masjid ini sediri ada empat bidang Ibadah, Bidang Sosial, bidang pendidikan dan Bidang pembangunan," ungkapnya.