Saturday, August 20, 2016

Mahdalena, 35, pengrajin dan pengusaha songket motif “cantik Manis” Sempat dicemooh, kini tembus pasar Singapura

Mahdalena Membuat Songket Motif Cantik Manis
Senin, 15 Agustus 2016 siang Pasar Baru Blok B lantai II Kota Sawahlunto tampak sepi dari pengunjung. Toko-toko berukuran kurang lebih 4x3 meter di lantai II banyak yang tutup. Namun pada pojok kanan lantai II tersebut ada toko yang buka. Seorang perempuan baya yang sedang duduk di depan peralatan songket sedang menenun. Sementara dibelangnya berbagai jenis songket warna warni yang berjejer di dining dan dalam lemari dengan berbagai macam motif.

Mahdalena, 35, akrap disapa Ellen warga Lunto Timur Dusun Guguk Palam Kecamatan Lembah Segar adalah pengrajin dan pengusaha Songket yang memiliki toko Ellen Songket, Pasar Baru Blok B lanti II nomor 1 Kota Sawahlunto. Ia tampak piawai menenun, serlihat dari caranya memainkan racut benang berwarna merah pada benang lantai yang terbentang. Benang rajut tersebut berfungsu untuk pembentukan motif kain songkat yang telah di pola. Benang rajut tersebut merupakan cara terbaru untuk membuat motif. Pengalaman rajut benang untuk motif tersebut ia dapatkan dari Palembang saat mengikuti pelatihan membuat songket tahun 2000.

Semenjak itu, pembuatan motif songket tersebut pengerjaannya lebih mudah. Karena sebelumnya masing menggunakan cara yang manual di kota Sawahlunto. Kemudian ilmu yang ia dapatkan itu diajarkan ke pada pengrajin lainnya. Karena ia seing menjadi instruktur dalam pelatihan pembuatan songket di Kota Sawahlunto. Sehingga dengan cara merajut benang tersebut pembuatan motif songkot lebih mudah dan bisa memproduksi lebih banyak.

"Yang sulit hanya awalnya saja, ketika merancang motif yang akan di buat dengan merajut benang. Namun, setelah semua benang lantai ini usai di rajut maka kita hanya mengikuti benang rajut itu saja. Maka, motif yang telah dirancang tersebut akan jadi sesuai rencana," sebut ibu muda tiga orang anak ini.

Ia mengaku belajar menenun sejak kelas III SD umur 9 tahun. Ia belajar menenun dari Ibu, karena waktu itu ibu menerima upah menenun dari Silungkang. Karena peralatan songket ada dirumah saat ibu menenun maka, setiap hari pula ia melihat ibu menenun dan sering bermain di peralatan songket tersebut.

"ibu saya belajar menenun dari nenek (ibunya ibu) dan meneripa upah menenun di Silungkang. Saya merupakan generasi ketiga menenun. Saya sendiri juga pernah meneripa upah menenun dari Silungkang sebesar Rp15 ribu. Kemudian sejak SMP telah bisa menjadi tulang punggung keluarga dan membatu ibu, karena ibu sering sakit lifer yang dialiminnya," ungkapnya.

Selanjutnya, di tahun 2000 hingga 2007 ia pernah menerima upah dari Silungkang. Kemudian sejak tahun 2007 hingga saat ini telah memulai usaha sendiri dan menenum sendiri. Semula menjual songket dengan berjojo ke kantor-kantor dinas dan kantor wali kota. Kemudian ia pernah mendapat comoohan dari orang-orang karena produk songket yang ia jual tampa kemasan bagus.

Kemudian, berkat kegigihannya akhirnya ia mendapat pinjaman modal sebesar Rp20 juta dari Bank. Semenjak itu, usahanya terus mengalami perkembangan dan telah memiliki anak tenun 8 orang. Selain itu ia juga membeli atau pengumpul 30 orang pengrajin lainnya. Saat ini produksi Ellen songket "cantik manis" telah memenuhi pasar Pekanbaru, Padang, dan Singapure. "Saat ini omset yang kita miliki sebesa Rp60-75 juta perbulan, setelah dikeluarkan biaya anak 8 tenun," katanya.

"Orang bisa kenapa kita tidak" hal itulah motifasi yang masih tertanam dalam lubuk hati ibu tiga orang anak ini. Sehingga ungkapan tersebut pernah terlontar dari mulutnya beberapa kali. Motifasi tersebut yang mengantarkannya untuk membuka cabang di usaha songket di kota Solok. Ia menyebutkan Jenis motif songket yang dimiliki adalah movif Pucuak Rabuang, Bungo Tulip, Motif Anggur, Padi Baserak dan Batang Vinus.

"Motif tersulit adalah Burung Dalam Rimbo dan motif Burung Merak. Kesulitan dalam pembuatan motif tersebut dapat menghabiskan waktu selama satu bulan lamanya membuat satu helai kain. Satu helai kain memiliki panjang 2 m dan lebar 1 meter dengan harga Rp 3 juta perhelainya. Harga tergantung tingkat kesulitan pembuatannya songket dan harga relatif berbeda-beda. Baik itu dari segi motifnya maupun dari segi bahan baku yang digunakan," ungkapnya sembari memperlihatkan berbagai jenis songket yang dimiliki.

Namun motif yang menjadi ciri khas batik miliknya adalah "Motif Cantik Manis". Motif tersebut tidak terlalu ramai sehingga kain tidak menjadi berat dan bisa dibuatkan baju. Motif cantik manis ini memiliki banyak warna. Songket Cantik Manis di jual Rp500- Rp600 ribu perhelai. Kemudian kecepatan pembuatan songket pun dalam seminggu bisa menyelesaikan 3 helai kain songket. Kemudian untuk pembuatan.

"Harga jual songket kain biasa untuk ukuran baju dijual seharga Rp300 ribu hingga Rp450 ribu. Sementara bahan dari semi sutra atau Sutra dijual seharga Rp300 ribu hingga Rp700 ribu perhelai. Kemudian, untuk upah pembuatan yang diberikan kepada pengrajin sebesar Rp125 ribu untuk kain songket. Sal dibayar Rp100 ribu, dan upah pembuatan dasi Rp10 ribu perhelai," katanya.

Sementara itu, untuk bahan baku seperti benang gulung kain di beli Rp3,5 juta. Satu gulung benang tersebut bisa menghasilkan 30 helai kain. Kemudian Benang Lusi di beli Rp1,1 juta perhelai yang digunakan untuk motif. "Sebetulnya saya disini hanya toko. Namun dari pada duduk bermenung sendiri menunggu toko, makanya peralatan songket di bawa ke toko. Sembari menunggu pembeli di asur juga pembuatan songket. Kan lumayan juga menambah produksi dan untuk menjadi tulang punggung keluarga," akunya.

Selanjutnya, bentuk dukungan pemerintah masih kurang. Ia pernah dilibatkan dan diundang untuk menjadi pemateri hingga kini belum dibayar. Ia menjadi instruk sebanyak 6 kelompok pengrajin songket yang diberikan sejak tahun 2013-2014. Ia hanya dijanjikan saja, namun sampai saat ini masih belum bayar. Ia pernah melatih selama satu bulan bolak-balik menjadi instruktur pelatihan dan bimbingan.

"Untuk bantuan bana maupun bantuan bahan baku tidak ada sama sekali. Meskipun demikian, Alhamdullah dengan perhatian pemerintah membawa suppor untuk Ellen bisa lebih berkembang lagi dengan diikutkan berbagai ifen iven seperti pameran dan pelatihan," ungkap pemenang Desain Songket tingkat Sumatera Barat 2011.


No comments:

Post a Comment