Wednesday, August 24, 2016

Sawah Tadah Hujan Kering, Petani Merugi



Kurangnya curah hujan sejak bulan puasa hingga kini mengakibatkan sawah petani di empat desa Kecamatan Talawi kekeringan. Dimusim kemarau ini sawah petani kekeringan dengan kondisi tanah yang retak-retak. Karena sawah penati tersebut merupakan sawah tadah yang merupakan lumbung padi Kota Sawahlunto.

Kondisi ini sering dialami oleh warga di empat desa kecamatan Talawi karena kekeringan, sehingga petani merugi hingga jutaan rupiah. Warga berharap pemerintah dapat mencarikan solusi agar kondisi ini tidak menjadi langganan setipa tahunnya.

"Kita berharap ada kedepan pemerintah dapat mencarikan selusi, bagaimana agar bisa mengalirkan air. Areal sawah petani bisa mendapatkan air tanpa meskipun di musim kemarau," sebut Darwin, 65, warga Dewa Bukit Godang, Kecamatan Talawi, kepada penulis, Jumat 29 Juli 2016.

Ia mengatakan bahwa hujan tak kunjung turun sejak bulan puasa. Akbitnya, sawah petani kekeringan dengan kondisi tanah yang rengkah dan berlubang hingga lima centimeter. "Padi saya saat ini sedang mulai berbuah, namun karena tidak ada hujan maka daunnya telah mati dan 'masiak'. Sehingga tidak ada lagi harapan untuk panen, sebab telah banyak yang mati dan sebagian layu karena musim kemarau," katanya.

Warga masyarakat Bukit Godang ini kebanyakan bekerja sebagai petani sawah, karet ada pula tambang. "Kalau sawah tentunya tidak akan berhasil dan pasti merugi, sehingga hingga kini sawah tidak lagi dikunjungi. Kalau memotong karet di kebut saat ini getahnya tidak ada. Sebab, pohon karet saat ini musim gugur dan tidak berdaun. Biasanya kalau musim kemarau getah karet saat memotong banyak, tapi saat ini tidak justru tidak ada getahnya," akunya.

Ia menjelaskan, untuk turun kesawah dari awah membajak hingga sampai menanam bisa menghabiskan uang juataan rupiah berdasarkan banyak benih yang disemai. Belum termasuk waktu panen dan menyabit padi jika panen, juga mengeluarkan upah yang cukup besar. "Saat ini saja upah tanam padi untuk satu gantang benih sebesar Rp 75 sehari laki-laki. Sedangkan upah menanam utuk perempuan upah Rp 50 ribu perhari, begitu pula upah menyabit padi," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa saat ini ia membiliki sawah seluas 20 gantang benih, dengan penghasilan 50 karung padi. Namun, saat ini sawah telah banyak yang mati karena tidak mendapatkan air di musim kemarau ini. "Saya berharap ada seolusi dari pemerintah bagaimana agar kedepan sawah petani tidak lagi kekeringan, tentunya dengan mengalirkan air ke sawah warga," harapnya.

Senada yang disampaikan Bahema, 64, warga Dusun Salingkung, Desa Bukit Gadang Kecematan Talawi mengatakan bahwa kering-sejak sawah petani telah terjadi sejak bulan puasa. Sawah petani menjadi kering dimusim kemarau ini karena rata-rata sawah petani merupakan sawah tadah hujan. "Kekeringan ini terjadi setiap tahun. Saat ini sawah tidak mendapatkan hasil karena musim kemarau sehingga tanah sawah rangkah-rengkah karena tidak ada air," akunya. 

Ia sendiri saat ini memiliki 8 gantang padi benih dengan penghasilan saat panen 20 karung padi. Petani pada umumnya banyak pasrah karena musim kemarau ini. "Kalau untuk upah membajak sawah saat ini, satu gantang benih dengan upah Rp 35-40 ribu, belum lagi menanam," katanya.

Camat Talawi, Asril Hasan mengatakan bahwa saat ini pihaknya telah melakukan survei sebagai sumber air yang dimungkinkan untuk dialirkan sumber air dan cadangan air yang akan dialirkan ke arela tani. Ada dua alternatif sumber air, yakni Danau Biru dan mata air Cupak Tangah Lurah Batuang. "Hasil survei kita ini akan diajukan proposalnya untuk membuatan bendungan untuk cadangan air. Agar pentani tidak merugi pada saat musim kemarau. Selain itu, di Kecamatan Tawali ini merupakan salah satu sumber penghasil pada terbesai di Sawahlunto. Untuk itu, rencana pembangunan bendungan semoga segera terwujud," katanya.

Ia menyebutkan bahwa jiak bendungan tersebut dibangun, makan menjadi tempat cadangan air kemudian dialirkan ke areal sawah warga. Cadangan air ini akan di suplay ke empat desa yang menjadi areal sawah petani, yakni Desa Cupak Tangah, Desa Batu Tanjuang, Desa Umbayau dan Desa Bukit Gadang. "Masyarakat petani yang bertaman dengan perhitungan bahwa setelah padi ditanam aka hujan akan terus turun. Namun, ternyata setelah padi di tanam musim kemarau datang, dan bahwa ada petani yang belum sempat bertanah. Dalam hal ini biasanya pemerintah ada melakukan upaya untuk membatu masyarakat tani yang gagal panen karena musim kemarau," katanya

Dijelaskannya, Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto dengan Luas Kecamatan 99,39 km2 yang merupakan penghasil padi terbesar dengan Luas Sawah 995,07 ha. Namun sebahagian besar sawah petani merupakan sawah tadah hujan. Akibatnya, setiap tahun petani mengalami kekeringan air sehingga banyak petani merugi.
Camat Talawi, Asril Hasan menyebutkan bahwa dari 999,07 ha sawah tersebut yang terbagi di Batu Tanjung dengan jumlah sawah Tadah hujan 96,2 ha. Sementara itu, sawah dengan  irigasi seluas 93 ha. Sementara itu, Tumpuak Tangah sawah tadah hujan seluas 32 ha, sedangkan sawah yang dialiri irigasi seluas 95,3 ha. Sementara Datar Mansiang, sawah irigasi seluas 15,5 ha, kemudian sawah tadah hujan seluas 6,3 ha dan Kumbayau sawah tadah hujan seluas 80,5 ha.

"Luas sawah petani di Talawi Mudik sawah yang di irigasi seluas 62,5 ha sedangkan sawah tadah hujan seluas 102,5 ha. Selanjutnya di Desa Talawi hilir sawah tadah hujan seluas 70,45 ha sedangkan 74,18 sedangkan Desa Bukik Gadang sawah tadah hujan seluas 119,5 ha. Sementara itu, di desa  Kumbayau sawah datah hujan seluas 80,5 ha dan desa Talawi Tangah sawah irigasi seluas 32 ha dan sawah tadah hujan seluas 95,31 ha," sebutnya.

Ia melanjutkan, dibeberapa desa lainnya seperti desa Datar Mansiang dengan luas sawah irigasi seluas 15,55 ha. Sementara sawah tadah hujan seluas 6,3 ha. Kemudian desa Batu Tanjung sawah irigasi seluas  93,01 ha dengan luas tadah hujan seluas 96,02 ha. Sedangkan di desa  Sijantang sawah irigasi seluas 29 ha sedangkan tadah hujan seluas  23 ha. Desa salak sawah irigasi seluas 22,8 ha sedangkan sawah tadah hujan seluas 19,5 ha. Selanjutnya di desa Rantih sawah irigasi seluas 33 ha dan sawah tadah hujan seluas 20 ha. "Berdasarkan data yang kita meliki, Kita berupaya mencarikan solusi agar petani tidak merugi. Survei terhadap sumber air sedang berjalan, diharapkan ini akan menjadi sumber air yang bisa mengaliri sawah petani," katanya.

Sementara itu, Dinas Pertanian Kota Sawahlunto, Hilmed mengatakan bahwa untuk menanggulangi kekeringan sawah di Kecamatan Talawi pemerintah kota Sawahlunto telah melakukan upaya pengaliran air seperti Kincir dan Pompa. Kemudian, terowongan di Ujuang tanjuang dan bukit Godang yang mampu mensulpai air ke areal persawahan petani sekitar 75 ha sawah. "Namun, saat ini terowongan tersebut telah runtuh dan tidak lagi bisa di manfaatkan. Kemudian untuk dilakukan pembenahan dan perbaikan tidak lagi menungkinkan karena kondisi yang sangat rusak," katanya.

Ia melanjutkan saat ini ada 37 pompa air berskala kecil sedang diajukan ke kementerian Pertanian untuk diberbantukan kepada petani untuk pengaliran sumbar air sawah petani. "Pompa air tersebut nantinya akan digunakan untuk memompa air dan dibangun grafitasi air dari sungai, kemudian dialirkan ke areal pertanian," katanya.

Ia menjelaskan, dinas pertanian, dinas pekerjaan umum dan PDAM sedang mencoba merumuskan dan melakukan pengkajian sumbar air dilaboratorium. Pihaknya telah memantau sumber-sumbar air yang dimungkinkan untuk dijadikan sumber air, seperti sungai dan danau biru. "Kita masih melakukan penelitian dari mana sumber air danau biru tersebut, apakah memungkinkan untuk dialirkan. Karena dikhawatirkan setelah dialirkan air danau biru tersebut, justru air danau menjadi kering dan tidak dapat dimanfaatkan lagi. Kemudian, air danau biru tersebut layak atau tidak, baik dari segi kualitas air dan apakah cocok untuk pertanian," katanya.

Ia mengaku, selain danau biru juga ada sungai Lurah batuang batu tanjuang, apakah sungai tersebut dapat menyuplai air. "Jika memungkinkan alternatif sumber air tersebut, maka akan di bangun Embo. Kemudian bisa dialirkan ke areal sawah warga. Maka, untuk penganggarannya akan diusulkan pada tahun 2017," katanya.

Sementara itu, Wakil Tetua Komisi II DPRD Kota Sawahlunto, Reflizal mengatakan bahwa Kecamatan Talawi merupakan lumbung padi terbesar bagi kota Sawahlunto yang perlu diperhatikan. "Demi masyakat Kita akan mendukung perencanaan pemko untuk melakukan pembangunan irigasi yang akan dialirkan ke areal pertanian dan sawah petani. Jika pemko menganggarkan serta merancang pembangunan pembangunan tersebut dengan keterangan yang masuk akal kita akan dukung," katanya.

Ia menekankan jangan sampai masyarakat petani merugi karena sawah mereka tidak mendapatkan air. Sebab, sebagian dari sawah petani merupakan tadah hujan. "Saya melihat selama ini, di Kecamatan Talawi tersebut telah ada irigasi yang di ambil dari air batang Ombilin. Namun belum semuanya bisa terjangkau dan dapat dialirkan. Jadi, jika pemko melakukan pengkajian dalam hal sumber air yang dimungkinkan bisa dijadikan bendungan, embo, kita akan mendukung, apalagi kita di komisi II ini," tutupnya

No comments:

Post a Comment