Kurangnya curah hujan sejak bulan
puasa hingga kini mengakibatkan sawah petani di empat desa Kecamatan Talawi
kekeringan. Dimusim kemarau ini sawah petani kekeringan dengan kondisi tanah
yang retak-retak. Karena sawah penati tersebut merupakan sawah tadah yang
merupakan lumbung padi Kota Sawahlunto.
Kondisi ini sering dialami oleh
warga di empat desa kecamatan Talawi karena kekeringan, sehingga petani merugi
hingga jutaan rupiah. Warga berharap pemerintah dapat mencarikan solusi agar
kondisi ini tidak menjadi langganan setipa tahunnya.
"Kita berharap ada kedepan
pemerintah dapat mencarikan selusi, bagaimana agar bisa mengalirkan air. Areal
sawah petani bisa mendapatkan air tanpa meskipun di musim kemarau," sebut
Darwin, 65, warga Dewa Bukit Godang, Kecamatan Talawi, kepada penulis, Jumat 29
Juli 2016.
Ia mengatakan bahwa hujan tak
kunjung turun sejak bulan puasa. Akbitnya, sawah petani kekeringan dengan
kondisi tanah yang rengkah dan berlubang hingga lima centimeter. "Padi
saya saat ini sedang mulai berbuah, namun karena tidak ada hujan maka daunnya
telah mati dan 'masiak'. Sehingga tidak ada lagi harapan untuk panen, sebab
telah banyak yang mati dan sebagian layu karena musim kemarau," katanya.
Warga masyarakat Bukit Godang ini
kebanyakan bekerja sebagai petani sawah, karet ada pula tambang. "Kalau
sawah tentunya tidak akan berhasil dan pasti merugi, sehingga hingga kini sawah
tidak lagi dikunjungi. Kalau memotong karet di kebut saat ini getahnya tidak
ada. Sebab, pohon karet saat ini musim gugur dan tidak berdaun. Biasanya kalau
musim kemarau getah karet saat memotong banyak, tapi saat ini tidak justru
tidak ada getahnya," akunya.
Ia menjelaskan, untuk turun
kesawah dari awah membajak hingga sampai menanam bisa menghabiskan uang juataan
rupiah berdasarkan banyak benih yang disemai. Belum termasuk waktu panen dan
menyabit padi jika panen, juga mengeluarkan upah yang cukup besar. "Saat
ini saja upah tanam padi untuk satu gantang benih sebesar Rp 75 sehari
laki-laki. Sedangkan upah menanam utuk perempuan upah Rp 50 ribu perhari,
begitu pula upah menyabit padi," jelasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa
saat ini ia membiliki sawah seluas 20 gantang benih, dengan penghasilan 50
karung padi. Namun, saat ini sawah telah banyak yang mati karena tidak
mendapatkan air di musim kemarau ini. "Saya berharap ada seolusi dari
pemerintah bagaimana agar kedepan sawah petani tidak lagi kekeringan, tentunya
dengan mengalirkan air ke sawah warga," harapnya.
Senada yang disampaikan Bahema,
64, warga Dusun Salingkung, Desa Bukit Gadang Kecematan Talawi mengatakan bahwa
kering-sejak sawah petani telah terjadi sejak bulan puasa. Sawah petani menjadi
kering dimusim kemarau ini karena rata-rata sawah petani merupakan sawah tadah
hujan. "Kekeringan ini terjadi setiap tahun. Saat ini sawah tidak
mendapatkan hasil karena musim kemarau sehingga tanah sawah rangkah-rengkah karena
tidak ada air," akunya.
Ia sendiri saat ini memiliki 8
gantang padi benih dengan penghasilan saat panen 20 karung padi. Petani pada
umumnya banyak pasrah karena musim kemarau ini. "Kalau untuk upah membajak
sawah saat ini, satu gantang benih dengan upah Rp 35-40 ribu, belum lagi menanam,"
katanya.
Camat Talawi, Asril Hasan
mengatakan bahwa saat ini pihaknya telah melakukan survei sebagai sumber air
yang dimungkinkan untuk dialirkan sumber air dan cadangan air yang akan
dialirkan ke arela tani. Ada dua alternatif sumber air, yakni Danau Biru dan mata
air Cupak Tangah Lurah Batuang. "Hasil survei kita ini akan diajukan
proposalnya untuk membuatan bendungan untuk cadangan air. Agar pentani tidak
merugi pada saat musim kemarau. Selain itu, di Kecamatan Tawali ini merupakan
salah satu sumber penghasil pada terbesai di Sawahlunto. Untuk itu, rencana
pembangunan bendungan semoga segera terwujud," katanya.
Ia menyebutkan bahwa jiak
bendungan tersebut dibangun, makan menjadi tempat cadangan air kemudian
dialirkan ke areal sawah warga. Cadangan air ini akan di suplay ke empat desa
yang menjadi areal sawah petani, yakni Desa Cupak Tangah, Desa Batu Tanjuang,
Desa Umbayau dan Desa Bukit Gadang. "Masyarakat petani yang bertaman
dengan perhitungan bahwa setelah padi ditanam aka hujan akan terus turun.
Namun, ternyata setelah padi di tanam musim kemarau datang, dan bahwa ada
petani yang belum sempat bertanah. Dalam hal ini biasanya pemerintah ada
melakukan upaya untuk membatu masyarakat tani yang gagal panen karena musim
kemarau," katanya
Dijelaskannya, Kecamatan Talawi
Kota Sawahlunto dengan Luas Kecamatan 99,39 km2 yang merupakan penghasil padi
terbesar dengan Luas Sawah 995,07 ha. Namun sebahagian besar sawah petani
merupakan sawah tadah hujan. Akibatnya, setiap tahun petani mengalami
kekeringan air sehingga banyak petani merugi.
Camat Talawi, Asril Hasan
menyebutkan bahwa dari 999,07 ha sawah tersebut yang terbagi di Batu Tanjung
dengan jumlah sawah Tadah hujan 96,2 ha. Sementara itu, sawah dengan
irigasi seluas 93 ha. Sementara itu, Tumpuak Tangah sawah tadah hujan seluas 32
ha, sedangkan sawah yang dialiri irigasi seluas 95,3 ha. Sementara Datar
Mansiang, sawah irigasi seluas 15,5 ha, kemudian sawah tadah hujan seluas 6,3
ha dan Kumbayau sawah tadah hujan seluas 80,5 ha.
"Luas sawah petani di Talawi
Mudik sawah yang di irigasi seluas 62,5 ha sedangkan sawah tadah hujan seluas
102,5 ha. Selanjutnya di Desa Talawi hilir sawah tadah hujan seluas 70,45 ha
sedangkan 74,18 sedangkan Desa Bukik Gadang sawah tadah hujan seluas 119,5 ha.
Sementara itu, di desa Kumbayau sawah datah hujan seluas 80,5 ha dan desa
Talawi Tangah sawah irigasi seluas 32 ha dan sawah tadah hujan seluas 95,31
ha," sebutnya.
Ia melanjutkan, dibeberapa desa
lainnya seperti desa Datar Mansiang dengan luas sawah irigasi seluas 15,55 ha.
Sementara sawah tadah hujan seluas 6,3 ha. Kemudian desa Batu Tanjung sawah
irigasi seluas 93,01 ha dengan luas tadah hujan seluas 96,02 ha.
Sedangkan di desa Sijantang sawah irigasi seluas 29 ha sedangkan tadah
hujan seluas 23 ha. Desa salak sawah irigasi seluas 22,8 ha sedangkan
sawah tadah hujan seluas 19,5 ha. Selanjutnya di desa Rantih sawah irigasi
seluas 33 ha dan sawah tadah hujan seluas 20 ha. "Berdasarkan data yang
kita meliki, Kita berupaya mencarikan solusi agar petani tidak merugi. Survei
terhadap sumber air sedang berjalan, diharapkan ini akan menjadi sumber air
yang bisa mengaliri sawah petani," katanya.
Sementara itu, Dinas Pertanian
Kota Sawahlunto, Hilmed mengatakan bahwa untuk menanggulangi kekeringan sawah
di Kecamatan Talawi pemerintah kota Sawahlunto telah melakukan upaya pengaliran
air seperti Kincir dan Pompa. Kemudian, terowongan di Ujuang tanjuang dan bukit
Godang yang mampu mensulpai air ke areal persawahan petani sekitar 75 ha sawah.
"Namun, saat ini terowongan tersebut telah runtuh dan tidak lagi bisa di
manfaatkan. Kemudian untuk dilakukan pembenahan dan perbaikan tidak lagi
menungkinkan karena kondisi yang sangat rusak," katanya.
Ia melanjutkan saat ini ada 37
pompa air berskala kecil sedang diajukan ke kementerian Pertanian untuk
diberbantukan kepada petani untuk pengaliran sumbar air sawah petani.
"Pompa air tersebut nantinya akan digunakan untuk memompa air dan dibangun
grafitasi air dari sungai, kemudian dialirkan ke areal pertanian,"
katanya.
Ia menjelaskan, dinas pertanian,
dinas pekerjaan umum dan PDAM sedang mencoba merumuskan dan melakukan
pengkajian sumbar air dilaboratorium. Pihaknya telah memantau sumber-sumbar air
yang dimungkinkan untuk dijadikan sumber air, seperti sungai dan danau biru.
"Kita masih melakukan penelitian dari mana sumber air danau biru tersebut,
apakah memungkinkan untuk dialirkan. Karena dikhawatirkan setelah dialirkan air
danau biru tersebut, justru air danau menjadi kering dan tidak dapat
dimanfaatkan lagi. Kemudian, air danau biru tersebut layak atau tidak, baik
dari segi kualitas air dan apakah cocok untuk pertanian," katanya.
Ia mengaku, selain danau biru
juga ada sungai Lurah batuang batu tanjuang, apakah sungai tersebut dapat
menyuplai air. "Jika memungkinkan alternatif sumber air tersebut, maka
akan di bangun Embo. Kemudian bisa dialirkan ke areal sawah warga. Maka, untuk
penganggarannya akan diusulkan pada tahun 2017," katanya.
Sementara itu, Wakil Tetua Komisi
II DPRD Kota Sawahlunto, Reflizal mengatakan bahwa Kecamatan Talawi merupakan
lumbung padi terbesar bagi kota Sawahlunto yang perlu diperhatikan. "Demi
masyakat Kita akan mendukung perencanaan pemko untuk melakukan pembangunan
irigasi yang akan dialirkan ke areal pertanian dan sawah petani. Jika pemko menganggarkan
serta merancang pembangunan pembangunan tersebut dengan keterangan yang masuk
akal kita akan dukung," katanya.
Ia menekankan jangan sampai
masyarakat petani merugi karena sawah mereka tidak mendapatkan air. Sebab,
sebagian dari sawah petani merupakan tadah hujan. "Saya melihat selama
ini, di Kecamatan Talawi tersebut telah ada irigasi yang di ambil dari air
batang Ombilin. Namun belum semuanya bisa terjangkau dan dapat dialirkan. Jadi,
jika pemko melakukan pengkajian dalam hal sumber air yang dimungkinkan bisa
dijadikan bendungan, embo, kita akan mendukung, apalagi kita di komisi II
ini," tutupnya
No comments:
Post a Comment