Thursday, October 20, 2016

Sawah Tadah Hujan Gagal Panen Petani Dapat Asuransi Usaha Tani Padi



Jumat, 19 Agustus 2016 pagi langit Kota Sawahlunto cerah. Terik matahari terasa panas dan kerongkongan kering karena dahaga. Jalan menuju Kecamatan Talawi bergelombang dan retak karena struktur tanah yang bergerak sehingga mengocok perut. Ada sekitar 27 kilometer jarak tempuh dari pusat kota menuju Dusun Panjaringan Desa Batu Tanjuang Kecamatan Talawi.
Petani Sedang Panen Padi Gadang Rumpun


Siang itu Penulis berkunjung Kecamatan Talawi Kota Sawah Lunto dengan Luas Kecamatan 99,39 km2 yang merupakan penghasil padi terbesar dengan Luas Sawah 995,07 ha. Namun sebahagian besar sawah petani merupakan sawah tadah hujan. Akibatnya, setiap tahun petani mengalami kekeringan air sehingga banyak petani merugi. Meskipun telah dibangun embung untuk penampung air hujan, lalu kemudian dialirkan ke sawah petani.

Jalanan yang berluku melewati pendakian dan penurunan. Sawah-sawah petani yang menguning dan telah ada yang memanen sebagian. Sebab, sawah tersebut berdekatan dengan sungai sehingga air bisa alirkan dengan kincir air dan pompa. Sehingga padi petani tampak mengunik dan berjengjang dari lereng perbukitan. Berbeda dengan sawahpetani di Desa Susun Panjaringa dan Desa Bukit Godang dan sebagian sawah petani lainnya gagal panen dilanda kemarau panjang. Sebab sebagian besar sawah petani tersebut sawah tadah hujan.

Gusna, 61, petani warga Dusun Panjaringan Desa Batu Tanjung Kecamatan Talawi sedang memasak gorengan di depan rumahnya. Saat ini padi miliknya tidak berbuah karena sejak dan mati. "Terpaksa disabit muda padi tersebut meskipun ada yang berbuah tapi telah layu. Sehingga padi tersebut dimanfaatkan untuk membuat bubur saja. Kemudian padi sisanya untuk makanan sapi dan kerbau, sebab sejak padi ditanam tidak hujan dan tidak mendapat air," sebutnya sembari mengaduk gorengan.

Ia mengaku menanam padi sebelum bulan puasa. Namun usai tanam padi selama bulan ramadhan hujan turun dua kali hingga saat ini hujan tak kunjung turun. Akibatnya sawah petani menjadi kering. "Jika padinya bagus dan curah hujan cukup maka sekali panen memdapat 800 gantang padi dengan 10 gantang benih. Namun saat ini tidak bisa panen karena padi banyak yang mati. Jika pun ada yang berbuah, telah layu dan buah padi tersebut menghitam karena tidak dapat air," akunya.

Hal senada disampaikan Darwin, 65, warga Desa Bukit Godang mengaku pasrah dengan kondisi saat ini. Ia menyebutkan setelah memanam padi hujan tidak lagi turun sehingga sawah menjadi kering. "Pada umumya sawah di bukit godang ini merupakan sawah tadah hujan. Jika hujan maka petani akan turun kesawah, namun bila tidak hujan petani tidak kesawah. Tetika turun ke sawah hujan masih turun dan air mencukupi untuk menanam padi. Namun, ketika benih di semai, hujan mulai berkurang. Takut karena tidak mendapatkan air sehingga diusahakan untuk segera memindahkan benih dengan menaman. Namun setelah padi ditanam hujan tidak turun-turun hingga saat ini," katanya.

Ia menyebutkan bahwa ada pula petani yang belum sempat memindahkan benih dengan menan karena sawah telah kering. Sehingga benih yang disemaipun tidak sempat ditanam dan benih tersebut dibiarkan begitu saja. Namun jika dipaksakan menanam akan kerugian akan lebih besar lagi, sebab mengupah orang untuk menanam. "Ada pula yang berusaha menam padi namun tidak semuanya yang bisa ditanam. Sebab air telah mengering dan keras sehingga tidak bisa ditanam. Karena padi membutuhkan air yang banyak," sebuntya.

Ia menyebutkan tidak bergabung dalam kelompok tani. Sehingga tidak ada bantuan dari pemerintah. "Kita terima saja kondisi yang ada saat ini. Apa boleh buat, hujan bukan kuasa kita. Makanya kita hanya bisa berharap ada upaya yang baik dari pemerintah untuk dapat membantu petani gagal panen," katanya.

Ida Suarni, Kepala Urusan (Kaur) Desa Batu Tanjung mengatakan bahwa di Desa Batu Tanjuang ini memiliki lusas 96,02 ha Sawah tadah hujan, sedangkan 93,01 ha sawah irigasi. Semetara itu, produktifitas perhentar 5,5 ha. "Udah ada bantuan dari pemerintah kepada kelompok tani. Itupun yang mendaftar di Koperasi, namun yang tidak mendapatkan bantuan," katanya.

Kemudian, lanjut dia, sawah di Desa Batu Tanjung ini merupakan sawah tadah hujan. "Embung untuk menampung air tersebut bisa mengaliri air ke sawah namun hanya dapat digunakan untuk lahan satu dusun saja. Jika musim penghujan hasil panen petani meningkat. Namun tahun ini hanya panen hanya mencampai 50 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 95 persen," ungkapnya.

Hilmed, Dinas Pertanian Kota Sawahlunto menyebutkan bahwa jika petani gagal panen  ada bantuan dari pemerintah, yakni melalui Asuransi Usaha Tani Padi. Asuransi tersebut telah ditawarkan kepada masyarakat petani untuk membayar 1 ha sawah sebesar Rp180 ribu permusim. Namum petani membayar hanya Rp36 ribu saja, kemudian sisanya Rp 144 lagi pemerintah yang membayar. Hal itu merupakan langkah atau antisipasi dari pemerintah untuk petani, yang gagal panen seperti banjir, kekeringan, hama penyakit.

"Untuk saat ini, 83 ha sawah di sawah lunto yang mengikuti program asuransi usaha tani padi tersebut, jika terjadi banjir, kekeringan dan hama penyakit tanaman. Mendapatkan Rp6 juta per ha. Jadi, dengan membayar Rp36 dan Rp144 ribu dari pemerintah jika terjadi gagal panen sesuai dengan persyaratan akan di ganti," katanya.

Ia mengaku telah mengajak kelompok tani untuk ikut serta dalam Asuransi Usaha Tani Padi. Namun, sebagian petani ada yang percaya dan ada pula yang berkilah sehingga enggan membayar. "Saat ini kita sedang usulkan 348 ha sawah petani yang masuk asuransi. Inilah yang akan menjadi jaminan apabila petani gagal panen," sebutnya.

Sementara itu, lanjut dia, tahun sebelumnya juga mengalami kekeringan yang sama dan selah didata di mana saja irigasi yang perlu diperbaiki. Setelah itu sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan kebutuhan suasembada pangan terlah diusulkan untuk perbaikan irigasi sebanyak 200 ha sawah dari pertanian untuk irigasi tersier.

Kemudian dari Pekerjaan Umum (PU) sendiri telah ada program irigasi telah diusulkan. Namun yang menjadi kendala adalah kesulitan dalam hal sumber air. Selanjutnya untuk menanggulangi kekeringan pemerintah juga telah mengajukan pompa air ke pusat. "Pompa tersebut diberikan tentu bagi sawah petani yang berdekatan dengan sumber air saja bisa mengalirkan air ke sawah. Sementara petani yang tidak berdekatan dengan bimber air maka tetap saja tidak mendapatkan air.

Ia mengukapkan bahwa kelopok tani yang telah menerima klaim adalah kelompok tani sungai ngie, kelompok tani Padang data Tawali Hilia. Kelompok tani sungai ngie Desa Batu Tanjuang sedang di proses untuk dicairkan dana asuransinya. "Pemerima adalah bagi petani yang masuk asuransi usaha tani padi, namun ada yang menolak. Tapi saat ini tahap pertama ada sebanyak 83 ha sawah telah masuk asuransi. Kemudian saat ini ada sebanyak 348 ha petani yang ikut asuransi karena sebagian petani telah mengetahui manfaat dari asuransi tersebut. 348 ha sawah petani tersebut telah diusulkan di pusat," tuturnya.

No comments:

Post a Comment